Manakah salah satu tempat yang paling berkesan di masa kecil saya di kota kecil Madiun ? Pasar Kawak adalah jawabnya. Pasar kawak adalah istilah bahasa Jawa untuk “pasar loak” atau “flea market”, yaitu sejenis pasar yang menjual barang-barang bekas dari tool kit bekas (obeng +, obeng -, palu, kunci inggris, dsb) sampai buku-buku bekas (majalah “back issues”, komik-komik, sampai primbon).
Di Madiun tahun 1970-an dulu, Pasar Kawak terletak di Jalan Haji Agus Salim persis di sebelah SMP saya yaitu SMP Negeri 2. Pasar yang selalu ramai di sebelah tembok sekolah SMP saya itu kalau siang ramainya mencapai puncak dari suara ibu-ibu dan bapak-bapak yang saling tawar menawar barang bekas sampai ramainya nyanyian “kenyo wandu” (banci alias bencong) yang ngamen pakai kotak sabun yang diberi 4 senar terbuat dari karet yang kalau dibetot bunyinya bakalan seperti ini…cetak dendang dung…cetak dendang dung…Lagu yang paling popular dinyanyikan pengamen kenyo wandu waktu itu antara lain “Hitam Manis”.
“Hitam manis…hitam manis…pandang tak jemu…pandaaaang tak jemuuuu….cetak dendang dung…cetak dendang dung..”.
Mungkin tidak ada di antara pembaca yang seberuntung saya waktu sekolah SMP, yaitu selama saya sekolah 3 tahun di SMP Negeri 2 Madiun, guru saya tua muda laki atau perempuan, semuanya tidak pernah marah sewaktu mengajar. Bagaimana mau marah ? Ada Pak Sugijanto guru ilmu ukur yang pada suatu hari mau marah dan mau menempeleng dua orang temen sekelas karena ngobrol melulu…e…e…pada waktu tangan sudah mau menempeleng, tiba-tiba terdengar suara “Hitam manis..hitam manis…cetak dendang dung..cetak dendang dung….“. Akhirnya Pak Sugijanto bukannya marah tapi malahan ikut nyanyi….Hopo tumon ?
Begitu pula guru yang paling killer dan ditakuti oleh seantero murid SMP Negeri 2 bernama Pak Probo yang mengajar Sejarah Dunia akhirnya tidak pernah marah, walaupun suara semakin meninggi dan meninggi….pada akhirnya merendah lagi karena ada suara “cetak..dendang dung…cetak dendang dung….“
Uniknya yang terjadi di Madiun pada sekitar tahun 1970 itu, Pasar Kawak ada dua versi. Pasar Kawak siang bertempat di dekat Proliman Jalan Haji Agus Salim, yaitu di dalam pasar yang memang sudah disediakan oleh pemerintah. Tapi Pasar Kawak malam berpindah ke jalan di depan pasar, saya lupa namanya, tapi yang jelas namanya nama sebuah sungai (apakah Jalan Brantas ? kayaknya sih bukan).
Hobbi saya waktu itu adalah mengunjungi Pasar Kawak malam ini. Dengan naik sepeda dari rumah saya yang berjarak sekitar 3 km, biasanya sendiri, di suatu hari saya menyusur Pasar Kawak malam ini dari ujung jalan yang satu menuju ujung jalan yang lain sepanjang kira-kira 300 meter. Yang paling saya buru adalah komik-komik bekas yang pada waktu itu sangat digandrungi oleh anak SD, SMP dan SMA di seluruh kota, yaitu komik barat karangan Yan Mintaraga (“Sebuah Noda Hitam“ dsb) sampai komik silat klasik karangan Ganes Th. (“Si Buta dari Gua Hantu“, “Si Pitung“, “Nilam dan Kesuma“, dsb), komik silat “agak jorok“ karangan Jair Warniponakanda (“Jaka Sembung“ dsb yang banyak menggambarkan secara vulgar prajurit Jepang memerkosa wanita pribumi), sampai komik Wiro si anak rimba (cerita anak rimba yang berkawan dengan seekor monyet yang mengembara dari Sumatera sampai Irian Jaya, tapi saya kira komik ini bukan karangan orang Indonesia)…
Tujuan saya waktu itu berburu komik bekas di Pasar Kawak tidak lain tidak bukan adalah untuk mengkoleksi secara lengkap karya-karya komik dari Ganes Th, Jair Warniponakanda, dan Yan Mintaraga…yang akhirnya setelah berburu selama 1 tahun penuh, maka lemari saya penuh dengan buku komik bekas yang setiap bukunya waktu itu kalau tidak salah harganya Rp 10 sampai Rp 50 (sekitar Rp 1000 sampai Rp 5000 kalau pakai uang sekarang tahun 2007). Saya ingat uang yang diberikan ayah saya waktu saya SMP sebulan adalah sekitar Rp 500 (sekitar Rp 50.000 setara uang tahun 2007)..
Ternyata 16 tahun kemudian yaitu pada tahun 1986, sewaktu saya tinggal selama 2 bulan di Kampus Bay Vista dari Florida International University di Miami, Florida untuk kursus bahasa Inggris di EF, kegiatan mengunjungi pasar kawak yang di Amrik disebut “Flea Market“ itu ternyata masih tetap berlangsung. Malahan piknik ke Flea Market ini dijadikan acara andalan oleh EF selain mengunjungi pantai Miami Beach, mengunjungi gedung-gedung Art Deco, mengunjungi Art Copo Deco Disco, sampai nonton 99-cent movie. Bedanya dengan pasar kawak di Madiun, flea market di Miami ini selain menjual barang-barang bekas juga menjual barang-barang baru berharga murah. Misalnya seorang teman membeli raket tennis baru merk Bard seharga $ 25 saja, sedangkan kalau di toko mungkin harganya dua kali lipat…
Cerita sedihnya, seorang teman yaitu Jajang Hasyim pernah “hilang“ di flea market yang berlokasi di kota Fort Lauderdale ini selama berjam-jam mungkin saking asyiknya menawar barang dan karena luasnya flea market yang ada. Dari hilang jam 1 pm dan baru kembali ke Bay Vista yang jaraknya sekitar 10 km pada jam 11 pm !!
Kedudukan Flea Market bagi orang Amerika tidak bisa disepelekan. Tidak hanya orang tidak punya, orang berkantong tebalpun banyak berburu barang bekas di flea market. Tidak kurang dari seniman perupa kondang Andy Warhol, sukanya mengumpulkan barang-barang antik murah dari flea market ini (kalau anda tinggal di Jakarta, mungkin jenis barang yang ditawarkan persis seperti yang ditawarkan oleh pasar barang bekas di Jalan Surabaya, Jakarta)..
Ternyata 31 tahun kemudian yaitu di tahun 2001 waktu saya dan 42 teman lainnya dari BPPT, LIPI, BATAN dan LAPAN berkesempatan mengunjungi Seoul, kegiatan mengunjungi pasar loak ini tetap berlangsung..walau tanpa sengaja pada awalnya…
Sesuai standar pegawai negeri, jika kita pergi ke luar negeri seperti Korea, maka setiap hari kita akan menerima uang lumpsum sebesar US $ 150,- yang nantinya sebagian besar dibayarkan biaya hotel dan sisanya masih dapat dibelikan oleh-oleh. Pada minggu-minggu pertama kita masih agak gede rasa dan memborong jaket-jaket wind breaker hitam atau biru tua bermerk Ossi atau Prada dengan kisaran harga 120.000 Won sampai 200.000 Won (Rp 840.000 sampai Rp 1,4 juta). Itupun di mal-mal besar seperti Samseong Mall atau setidaknya di toko-toko turis terkenal di kawasan Itaewon..
Tapi apa yang terjadi pada minggu keempat ? Beberapa di antara kita yang berbakat jadi intel ternyata telah menemukan pasar loak yang menjual barang-barang berharga murah, antara 5.000 Won sampai 10.000 Won (Rp 35.000 sampai Rp 70.000)..
Karena suka memborong barang-barang serba murah dari baju sampai tas keren tapi dengan harga 5.000 Won saja dan kata “lima ribu” di bahasa Hang-Guk (bahasa Korea) adalah “O-con”, maka kelompok kita yang berjumlah 43 orang ini menamakan diri “Kelompok Ocon”…
Ocon…ocon…ocon…
Bedanya pasar loak di Amrik dan Korea tidak pakai “cetak…dendang dung…cetak dendang dung….”…seperti di Pasar Kawak Madiun dulu…
Recent Comments