Ceritaku Ceritamu Ceritakita

Cara berLogika Mario Teguh

October 15, 2007 · 21 Comments

Sebagai sesama alumni Indiana University at Bloomington, saya dan Mario Teguh bergabung di milis alumni Indiana di Indonesia. Melalui milis itu, saya sering ditawari untuk hadir di seminar-seminar Business Art by Mario Teguh. Dengan alasan kesibukan saya sehari-hari sebagai pengajar dan juga peneliti, saya tidak pernah hadir di seminar yang ditawarkan tersebut, yang biasanya tiket tanda masuknya cukup tinggi untuk ukuran kantong saya (dan cukup rendah guna dan relevansinya dengan kerjaan saya sebagai dosen ilmu komputer).

Pada suatu hari di tengah-tengah acara berbagai stasiun televisi yang hampir semuanya menayangkan sinetron, saya memindahkan channel ke O-Channel, the Jakarta’s own channel (sorry bagi rekan-rekan pembaca yang bukan bertempat tinggal di Jabodetabek – Jakarta Greater Area – mungkin tidak bisa menangkap saluran ini).

Acaranya adalah “Business Art by Mario Teguh”. Pembawa acaranya adalah Shahnaz Haque dan kemudian diganti dengan Hilbram. Pembicara utamanya tentu saja Bung yang satu ini, Mario Teguh. Waktu acara dipandu oleh Shahnaz Haque, entah kenapa saya belum terlalu suka dengan acara yang ditayangkan O Channel setiap hari Kamis jam 20.30 ini (tayangan ulang Minggu jam 11.30). Mungkin Shahnaz kurang bisa memancing pertanyaan kepada Mario Teguh secara bernas dan “chantas” (bhs Jawa). Walau di acara yang lain seperti Digital LG Prima yang dipandu Shahnaz dan Isur, saya sangat menyukainya (antara lain karena anak saya sempat memenangkan Kuis Digital LG Prima babak pertama dan menerima USD 300 prize money dari Indosiar). Tapi Hilbram lain, dia bisa menanyakan kepada Mario Teguh pertanyaan2 yang bisa menggugah minat pemirsa seperti saya, yaitu pertanyaan yang bernas dan “chantas” (my daughter, Dessa, seems doesn’t agree with me in this matter…)..

Kelebihan Mario Teguh mungkin jam terbangnya yang cukup tinggi sehingga pertanyaan apapun dari pemirsa dan hadirin di studio O Channel dapat dijawabnya dengan excellent. Tapi kelebihan yang lain, dia bisa menjawab pertanyaan to the point, dalam waktu yang cepat, dan dengan lugas (apa bisa disebut menjawab dengan “concise”, saya kira kata2 ini kurang tepat). Tapi kekurangan Mario Teguh (apa malah juga kelebihannya ?) adalah dia menjawab dengan “logika Amerika” yang bagi pemirsa kadang tidak langsung dapat mengerti apa yang dia maksud, tapi dia sendiri tersenyum, tanda mengerti. Di jagad Indonesia, “bahasa logika” semacam ini cuman ada dua yang pakai, yang pertama adalah Pak Andi Hakim Nasoetion (alm) kala mengajar matematika dan statistika di IPB, dan yang kedua, ya Mario Teguh ini. Bila anda ngambil kelas Pak Andi, maka setiap 15 menit sekali Pak Andi pasti melucu (Ronald Reaganpun sama !!), biasanya mahasiswa akan ketawa dua kali. Tawa pertama adalah bagi mahasiswa yang langsung mengerti apa lucunya dari joke-joke Pak Andi tersebut (the quick witted) dan tawa kedua bagi mahasiswa yang nanya ke mahasiswa sebelahnya apa sih yang lucu (the slow witted). Mario Teguh sama ! Itu yang membuat saya menyukai acara “The Business Art with Mario Teguh” di O Channel. Belakangan isteri saya yang hobbynya membaca berbagai koran tabloid memberitahu saya bahwa Mario Teguh sejak kecil sekolah di Amerika, makanya bahasanya adalah “bahasa logika” Amerika yang secara intrinsic sudah built-in di bahasa Inggris. Lain dengan bahasa Jawa yang njelimet dan “beating around the bush” (misalnya “besok” di bahasa Jawa bisa berarti besok pagi, tahun depan, atau sepuluh tahun kemudian; “ya” bisa berarti “tidak” dan sebaliknya “tidak” bisa berarti “ya”) atau bahasa Indonesia yang tak berlogika (mungkin awalnya bahasa Indonesia lebih untuk keperluan sastra).

Ini cerita saya di depan mahasiswa Teknik Informatika Binus ketika saya mengajar di depan kelas (sorry Pak Mario Teguh, saya ambil kata-kata anda) : “Sebagai dosen yang telah mengajar 25 tahun di Binus gaji saya per bulan adalah 8 koma sampai 10 koma”. “Wah, banyak ya pak ?”, tanya seorang mahasiswa, beberapa di antaranya bertepuk tangan dan bersuit-suit karena menganggap gaji saya cukup besar.

“Iya, setelah tanggal 10, saya koma. Itu artinya 10 koma”, kata saya.

Dan mahasiswapun tertawa terpingkal-pingkal, dan untuk sementara waktu saya tidak bisa melanjutkan mengajar sambil nunggu ketawa mereka mereda.

(Thanks Pak Mario Teguh dan O Channel atas acaranya yang bagus. Dengan menonton TV, saya tidak perlu bayar Rp 2 juta sekali seminar…he…he….)

Categories: Uncategorized

21 responses so far ↓

  • edratna // October 18, 2007 at 10:57 am

    Wahh…apakah acara Mario Teguh ada lagi? Boleh dicontoh tuh cara melucunya…maklum kalau jadi pengajar harus pandai2 agar siswa tak ngantuk…dan jika nilai evaluasi kurang, nggak akan dipakai lagi sebagai pengajar.

  • rosti // October 29, 2007 at 10:02 am

    sejak jatuh cinta pada acara motivasinya Mario Teguh (MT) di O’channel sekitar 3 bulan yang lalu, sekarang hampir tiada kamis malam tanpa acara itu.

  • tridjoko // October 29, 2007 at 4:48 pm

    Hallo Edratna dan Rosti, terima kasih telah mampir di blog saya. Wah, kita-kita ini berutung bisa nonton Mario Teguh di O Channel gratis, soalnya kalau harus bayar, 1 sesi bayarnya Rp 2 juta..

    Sayang rekan-rekan lain yang tinggal jauh dari Jabodetabek yang tidak bisa nangkap siaran O channel tidak bisa menyaksikannya..

    Sayangnya lagi, saluran TV besar (RCTI, TransTV, SCTV, Indosiar, Trans7) lebih asyik menayangkan sinetron yang kurang bermutu daripada menayangkan pendidikan bangsa lewat Pak Mario Teguh ini. Alasannya, klise, yaitu mengejar rating…

  • retno devil // December 17, 2007 at 4:49 pm

    Saya pernah juga nonton Mario Teguh di O Channel. Btw kl saya sih mau Naz atau Hibram, tetap sama menariknya, karena point of interest pasti jatuh ke MT.. he he. Dan buat saya acara ini inspiring bgt, dan sering tepat dengan situasi dan kondisi yang dialami pada umumnya. Tapi sayangnya saya sekarang di SoLO, jdi susah juga gimana bisa nonton Mario Teguh ya? Koq ya TV Nasional yg lain lebih tertarik untuk menayangkan yang lain..

  • tridjoko // December 18, 2007 at 9:47 am

    Hallo Mbak Retno: yah siapapun pendamping Pak Mario Teguh, apa Naz atau Hilbram, sama bagusnya sih, tapi saya lebih suka waktu Hilbram dibanding Naz. Naz lebih cocok untuk acara semacam “Digital LG Prima” yang legendaris itu..

    Mario Teguh kalau di Jakarta ditayangin O Channel sampai 3 kali seminggu : Kamis 21.00 (live), Sabtu 21.00 (recorded), dan Minggu 13.0 (recorded). Kalau nggak salah di radio juga ada, apa Trijaya FM ?

    Kalau mbak ada di Solo, rugi ya nggak bisa dengerin MT. Sebenarnya kalau pakai streaming di Windows Media Player juga bisa (streaming radio juga bisa), cuman masalahnya streaming di Indonesia lewat Telkomnet misalnya, masih sangat luaaambaat..

    Sebenarnya nggak ada ruginya merekam acara MT langsung dari TV, tapi saya nggak tahu teknologinya yang jaman sekarang. Kalau jaman dulu, dari TV bisa direkam langsung ke pita VHS atau Beta. Kalau sekarang ? Saya nggak tahu caranya…

  • rangga diyarto // January 4, 2008 at 12:22 am

    yang saya lihat dan amati dari poin-poin, analogi, dan cara berpikir pak mario, akan dapat sedikit demi sedikit tersingkap keunggulan logika beliau. tentu saja di luar fitur utamanya yang menalikan studi kasus dan data base analogi dengan kecepatan luar biasa secara outstanding.tapi sesuai keyakinan saya terhadap adanya level-level kesadaran seseorang dalam pencapaian logikanya terhadap sosiologi dan [tentu saja pada pak mario terhadap bussiness art juga]..dengan sangat bahagia saya mensyukuri kehadiran beliau, dalam artian, betapa beruntungnya kita, level logika berpikir seperti itu dimiliki orang cerkas seperti pak mario..alangkah betapa mungkinnya kemampuan itu malah mubazir dimiliki orang yang terbatas dalam posisi dan kondisi yang membuat useful sharing itu malah tidak terjadi sama sekali.

  • Tri Djoko // January 4, 2008 at 5:18 pm

    Bung Rangga : terima kasih telah mampir di blog saya dan kasih comment. Wah si Bung ini architect turn to be illustrator ya ? Wah, suatu kehidupan yang pernah saya bayangkan dulu waktu muda.

    Sayang Des 1975 saya “belum berhasil” masuk Arsitektur ITB dan UGM (sigh… ;) dan rupanya “garis tangan” saya di bidang Ilmu Komputer.

    Waktu muda saya sering bikin komik, “guru” saya secara “maya” adalah Yan Mintaraga karena saya suka baca komiknya semacam “Sebuah Noda Hitam” dan meniru gaya menggambarnya yang agak kebule-bulean (orang Jawa digambar tinggi, putih, hidung mancung seperti bule..hi..hi…geli… ;)

    Yah, kelebihan bisa menggambar waktu muda : dikagumi teman-teman cowok sekaligus menarik perhatian gadis-gadis…hi..hi..

    Kembali ke Pak Mario Teguh, lho bukannya anda melanglang buana dari satu sudut Indonesia ke sudut lainnya, bagaimana bisa nonton O Channel yang cuman ada di Jakarta ?

    Tapi yang jelas, Pak Mario Teguh telah memberi banyak “enlightment” bagi kita-kita ini apapun profesinya: dari guru, dosen, bakul jamu sampai warung tenda…Mudah-mudahan seri Pak Mario di O Channel berlangsung lama dan ada tv yang skalanya nasional bisa “menarik” beliau sehingga kemanfaatan beliau bisa dirasakan secara nasional, nggak seperti sekarang yang skalanya cuman lokal Jabodetabek saja. Amien..

    Mudah-mudahan ada “wong sugih” di sebelah sana (raja minyak, raja rokok, dan raja telpon) yang mau menyeponsori beliau untuk tampil di TV nasional (TransinetronTV, Rajawali Cinetron TV, Sinetron Citra TV, IndoSinetronAR, Transinetron 7 TV, dsb… ;)

  • rangga diyarto // January 15, 2008 at 4:40 pm

    wah..sempet referensi ke jan mintaraga juga toh pak! saya waktu kecil banget dibeliin bokap seri ramayana n mahabharata yang digambar beliau, sampai sekarang saya rasa, gambarnya masih yang paling neat dan proporsional, detil dan warnanya juga rajin..ga seperti ilustrator komik wayang dan konseptual lainnya.

    saya karena dari kecil kelebihannya menggambar ya, seakan punya contract sama Tuhan untuk terus dan terus menggambar, makanya trus masuk arsitektur, eh tetep aja jadi ilustrator, enak sih pak, dibayar per lembar, kerja di rumah, salary beberapa kali lipat temen2 fresh graduate hehe..

    soal pak MT, memang keberadaannya dan pemunculan beliau di O’ch sudah mengubah pandangan banyak orang soal motivator dan motivasi2nya..saya waktu kuliah juga menganggap hal2 kayak gitu cuma digeluti organization freaks dan orang kikuk bersosialisasi, tapi ternyata memang teduh dan tajam dengerin coaching dari pak MT…jadi ya begitulah sekarang saya malah ga sabar untuk dengerin coaching beliau.

    iya betul pak, mudah2an stasiun sinetron eh televisi kita yang lain dalam waktu dekat ada yang nayangin acara beliau. tapi seminarnya aja 2 jt per orang (apa bener pak) berapa untuk nyeponsori beliau yah?

  • purwoko // February 23, 2008 at 2:32 pm

    Saya pernah dapat kesempatan untuk mengikuti tayangannya kamis malam 21 feb’08, luar biasa memang, jawabannya cerdas dan to the point . . habis itu mikir sendiri deh . . .sampe kebawa mimpi . . .cuman kenapa motivator2 tsb baru belakang ini saya kenal, coba kalau 20 tahun lalu, bisa jadi saya bukan seperti sekarang ini, tapi anyway . . apapun yg terjadi saya harus mensyukuri apapun yg sudah kudapat . . .Benar gak Dik Yono . . ??

  • Tri Djoko // February 23, 2008 at 5:57 pm

    Mas Purwoko : Benar mas…

    Tapi ngomong-ngomong, acara Mario Teguh kan hanya ditayangkan di TV lokal Jakarta yaitu O Channel..

    Bagaimana njenengan yang tinggal di Madiun bisa mengikuti acara di O Channel tersebut ?

    Yang jelas, bila ada kesempatan saya dan seluruh anggota keluarga selalu mengikuti acara Mario Teguh..

    Tapi akhir-akhir ini kudu dipertimbangkan dengan acara lainnya yang tidak kalah menarik, yaitu American Idol di Global TV yang tayang pada jam tayang yang sama…

  • simbah // February 24, 2008 at 2:21 pm

    Ya, . .waktu itu kan giliran mau naik ke anjungan. Jadi hari rabu sore berangkat dari Mediyoen, kamis pagi sampai Jatinegara trus nginep deh semalam di Alia Matraman ya nonton pak MT malam itu, baru Jumat pagi jam setengah lima ke HalimPK langsung ke Pulo Matak/Natuna pake pesawat charteran, yg bayar company . . he . . .he . .enaknya kerja 2 on 2 off
    meski gaji gak seberapa, tapi mana ada orang kerja kok cuman 2 minggu trus libur 2 minggu, saya tau pak MT juga dari anda dik Yon. . .di blog ini. . thanks . . .

  • Lukman Febrianto // February 27, 2008 at 8:32 pm

    Salam untuk semuanya…

    Dari informasi yang saya dapatkan dari teman-teman komunitas Mario Teguh Super Club (www.mtsuperclub.com), dalam perkembangan terakhir, acara Pak Mario sudah dapat rating no. 1 untuk hari dan jam pada saat acara tersebut ditayangkan.

    O’Channel dimiliki oleh konglomerat yang sama dengan yang memiliki SCTV, yakni Keluarga Satriaatmaja (yang lebih dikenal adalah CEO-nya yakni Bpk. Fofo Satriaatmaja), dan saat comment ini ditulis, mungkin O’Channel telah selesai pindah kantor dari Gedung Sarinah ke SCTV Tower.

    Harapan saya, semoga acara Business Art with Mario Teguh bisa di-relay oleh SCTV sehingga dapat disiarkan secara LIVE ke seluruh Indonesia.

  • Tri Djoko // February 27, 2008 at 9:26 pm

    Lukman : Thanks berat atas infonya yang kategori A1 (artinya, wajib ditayangkan segera sebagai STOP PRESS)..

    Saya juga berharap, acara Business Art with Mario Teguh segera tayang di TV nasional, tidak hanya sekelas O Channel yang cuman bisa dinikmati oleh pemirsa se Jabodetabek saja..

    Masak kita kalah sama TV-TV Korea yang banyak menayangkan acara-acara dosen ngajar sesuatu, antara lain mengajarkan Automata & Formal Grammars untuk mahasiswa Computer Science se Korea…

    [jelek-jelek Pak Mario itu Hoosiers juga, sama dengan saya...]

    [Hoosiers = julukan untuk Indiana University]

  • dame tB // March 3, 2008 at 2:32 pm

    hm….saya sangat kecewa sebenarnya kalau melihat acara di stasiun tv indonesia….tapi setelah saya mengikuti acara bisnis art with MT, saya sangat senang sekali….kenapa? karena acara ini sangat memberikan banyak masukan positif bagi saya…

    saya percaya, acara ini juga sangat memberikan banyak masukan positif bagi bangsa indonesia yang bisa menerima siaran O Channel…

    saya selalu berusaha menyisakan waktu untuk acara itu. Thanks bapak Mario Teguh…

    God bless!

    dame tB

  • tridjoko // March 4, 2008 at 8:17 pm

    -> Dame : wah senang acara Pak Mario Teguh juga ya ?

    Sayang sampai hari ini acara Business Art with Mario Teguh cuman ditayangkan TV lokal yaitu O Channel…

  • martinus // March 13, 2008 at 9:51 am

    hallo salam kenal,saya tertarik dengan perkataan dari MT krn perkataannya mengena ato to the point menuju sasaran n jawaban yang diberikan simpel………maju terus MT n utk mahasiswa2 harus nonton acara ini karena pasti menambah wawasan n target future dapat diarahkan.terimakasih.

  • tridjoko // March 13, 2008 at 3:34 pm

    –> Hallo Martinus : salam kenal juga..

    Setuju banget, tidak hanya mahasiswa tapi semua orang yang masih berpikiran waras dan ingin maju dan menginginkan motivasi mestinya nonton acara Mario Teguh..

    Kecuali jika harta sudah cukup untuk 7 turunan macam Bill Gates dan Warren Buffet…he..he..

  • Sigit // April 9, 2008 at 6:22 am

    Karena kesibukan saya, saya jarang sekali nonton tv, pernah 2 -3 kali nonton acara Mario Teguh di O channel, habis itu lupa lagi. Bagus mungkin dibuat dalam format VCD, jadi kapan pun kita bisa memutarnya. Salam!

  • tridjoko // April 9, 2008 at 11:08 am

    –> Mas Sigit : ya mas saya setuju sekali ceramah Mario Teguh ditaruh di VCD. Atau youtube lah biar orang Indonesia di seluruh dunia bisa melihat Mario Teguh…

    The sad story is, as of yesterday, Pemerintah Indonesia c.q. Menkominfo telah mem-BLOK situs http://www.youtube.com dan http://www.multiply.com entah apapun alasannya tindakan “pembodohan” semacam itu patut disayangkan !

  • pkab // May 8, 2008 at 5:01 pm

    nice joke. Bisa jadi setelah BBM bakalan naik 30% gajinya bisa jadi 0 koma. artinya gaji diterima udah abis untuk bayaran hutang bulan-bulan lalu. hiks…. :((

  • tridjoko // May 9, 2008 at 1:37 pm

    –> Pak Sur :

    He…he…he…bisa jadi pak kalau Pemerintah kita “nekad” menaikkan harga BBM yang sebelumnya sudah naik “gila-gilaan” dua kali….

Leave a Comment