Ceritaku Ceritamu Ceritakita

Pasar Kawak

October 30, 2007 · 23 Comments

Manakah salah satu tempat yang paling berkesan di masa kecil saya di kota kecil Madiun ? Pasar Kawak adalah jawabnya. Pasar kawak adalah istilah bahasa Jawa untuk “pasar loak” atau “flea market”, yaitu sejenis pasar yang menjual barang-barang bekas dari tool kit bekas (obeng +, obeng -, palu, kunci inggris, dsb) sampai buku-buku bekas (majalah “back issues”, komik-komik, sampai primbon). 

Di Madiun tahun 1970-an dulu, Pasar Kawak terletak di Jalan Haji Agus Salim persis di sebelah SMP saya yaitu SMP Negeri 2. Pasar yang selalu ramai di sebelah tembok sekolah SMP saya itu kalau siang ramainya mencapai puncak dari suara ibu-ibu dan bapak-bapak yang saling tawar menawar barang bekas sampai ramainya nyanyian “kenyo wandu” (banci alias bencong) yang ngamen pakai kotak sabun yang diberi 4 senar terbuat dari karet yang kalau dibetot bunyinya bakalan seperti ini…cetak dendang dung…cetak dendang dung…Lagu yang paling popular dinyanyikan pengamen kenyo wandu waktu itu antara lain “Hitam Manis”.  

“Hitam manis…hitam manis…pandang tak jemu…pandaaaang tak jemuuuu….cetak dendang dung…cetak dendang dung..”. 

Mungkin tidak ada di antara pembaca yang seberuntung saya waktu sekolah SMP, yaitu selama saya sekolah 3 tahun di SMP Negeri 2 Madiun, guru saya tua muda laki atau perempuan, semuanya tidak pernah marah sewaktu mengajar. Bagaimana mau marah ? Ada Pak Sugijanto guru ilmu ukur yang pada suatu hari mau marah dan mau menempeleng dua orang temen sekelas karena ngobrol melulu…e…e…pada waktu tangan sudah mau menempeleng, tiba-tiba terdengar suara “Hitam manis..hitam manis…cetak dendang dung..cetak dendang dung….“. Akhirnya Pak Sugijanto bukannya marah tapi malahan ikut nyanyi….Hopo tumon ? 

Begitu pula guru yang paling killer dan ditakuti oleh seantero murid SMP Negeri 2 bernama Pak Probo yang mengajar Sejarah Dunia akhirnya tidak pernah marah, walaupun suara semakin meninggi dan meninggi….pada akhirnya merendah lagi karena ada suara “cetak..dendang dung…cetak dendang dung….“ 

Uniknya yang terjadi di Madiun pada sekitar tahun 1970 itu, Pasar Kawak ada dua versi. Pasar Kawak siang bertempat di dekat Proliman Jalan Haji Agus Salim, yaitu di dalam pasar yang memang sudah disediakan oleh pemerintah. Tapi Pasar Kawak malam berpindah ke jalan di depan pasar, saya lupa namanya, tapi yang jelas namanya nama sebuah sungai (apakah Jalan Brantas ? kayaknya sih bukan). 

Hobbi saya waktu itu adalah mengunjungi Pasar Kawak malam ini. Dengan naik sepeda dari rumah saya yang berjarak sekitar 3 km, biasanya sendiri, di suatu hari saya menyusur Pasar Kawak malam ini dari ujung jalan yang satu menuju ujung jalan yang lain sepanjang kira-kira 300 meter. Yang paling saya buru adalah komik-komik bekas yang pada waktu itu sangat digandrungi oleh anak SD, SMP dan SMA di seluruh kota, yaitu komik barat karangan Yan Mintaraga (“Sebuah Noda Hitam“ dsb) sampai komik silat klasik karangan Ganes Th. (“Si Buta dari Gua Hantu“, “Si Pitung“, “Nilam dan Kesuma“, dsb), komik silat “agak jorok“ karangan Jair Warniponakanda (“Jaka Sembung“ dsb yang banyak menggambarkan secara vulgar prajurit Jepang memerkosa wanita pribumi), sampai komik Wiro si anak rimba (cerita anak rimba yang berkawan dengan seekor monyet yang mengembara dari Sumatera sampai Irian Jaya, tapi saya kira komik ini bukan karangan orang Indonesia)… 

Tujuan saya waktu itu berburu komik bekas di Pasar Kawak tidak lain tidak bukan adalah untuk mengkoleksi secara lengkap karya-karya komik dari Ganes Th, Jair Warniponakanda, dan Yan Mintaraga…yang akhirnya setelah berburu selama 1 tahun penuh, maka lemari saya penuh dengan buku komik bekas yang setiap bukunya waktu itu kalau tidak salah harganya Rp 10 sampai Rp 50 (sekitar Rp 1000 sampai Rp 5000 kalau pakai uang sekarang tahun 2007). Saya ingat uang yang diberikan ayah saya waktu saya SMP sebulan adalah sekitar Rp 500 (sekitar Rp 50.000 setara uang tahun 2007).. 

Ternyata 16 tahun kemudian yaitu pada tahun 1986, sewaktu saya tinggal selama 2 bulan di Kampus Bay Vista dari Florida International University di Miami, Florida untuk kursus bahasa Inggris di EF, kegiatan mengunjungi pasar kawak yang di Amrik disebut “Flea Market“ itu ternyata masih tetap berlangsung. Malahan piknik ke Flea Market ini dijadikan acara andalan oleh EF selain mengunjungi pantai Miami Beach, mengunjungi gedung-gedung Art Deco, mengunjungi Art Copo Deco Disco, sampai nonton 99-cent movie. Bedanya dengan pasar kawak di Madiun, flea market di Miami ini selain menjual barang-barang bekas juga menjual barang-barang baru berharga murah. Misalnya seorang teman membeli raket tennis baru merk Bard seharga $ 25 saja, sedangkan kalau di toko mungkin harganya dua kali lipat… 

Cerita sedihnya, seorang teman yaitu Jajang Hasyim pernah “hilang“ di flea market yang berlokasi di kota Fort Lauderdale ini selama berjam-jam mungkin saking asyiknya menawar barang dan karena luasnya flea market yang ada. Dari hilang jam 1 pm dan baru kembali ke Bay Vista yang jaraknya sekitar 10 km pada jam 11 pm !! 

Kedudukan Flea Market bagi orang Amerika tidak bisa disepelekan. Tidak hanya orang tidak punya, orang berkantong tebalpun banyak berburu barang bekas di flea market. Tidak kurang dari seniman perupa kondang Andy Warhol, sukanya mengumpulkan barang-barang antik murah dari flea market ini (kalau anda tinggal di Jakarta, mungkin jenis barang yang ditawarkan persis seperti yang ditawarkan oleh pasar barang bekas di Jalan Surabaya, Jakarta)..  

Ternyata 31 tahun kemudian yaitu di tahun 2001 waktu saya dan 42 teman lainnya dari BPPT, LIPI, BATAN dan LAPAN berkesempatan mengunjungi Seoul, kegiatan mengunjungi pasar loak ini tetap berlangsung..walau tanpa sengaja pada awalnya… 

Sesuai standar pegawai negeri, jika kita pergi ke luar negeri seperti Korea, maka setiap hari kita akan menerima uang lumpsum sebesar US $ 150,- yang nantinya sebagian besar dibayarkan biaya hotel dan sisanya masih dapat dibelikan oleh-oleh. Pada minggu-minggu pertama kita masih agak gede rasa dan memborong jaket-jaket wind breaker hitam atau biru tua bermerk Ossi atau Prada dengan kisaran harga 120.000 Won sampai 200.000 Won (Rp 840.000 sampai Rp 1,4 juta). Itupun di mal-mal besar seperti Samseong Mall atau setidaknya di toko-toko turis terkenal di kawasan Itaewon.. 

Tapi apa yang terjadi pada minggu keempat ? Beberapa di antara kita yang berbakat jadi intel ternyata telah menemukan pasar loak yang menjual barang-barang berharga murah, antara 5.000 Won sampai 10.000 Won (Rp 35.000 sampai Rp 70.000).. 

Karena suka memborong barang-barang serba murah dari baju sampai tas keren tapi dengan harga 5.000 Won saja dan kata “lima ribu” di bahasa Hang-Guk (bahasa Korea) adalah “O-con”, maka kelompok kita yang berjumlah 43 orang ini menamakan diri “Kelompok Ocon”… 

Ocon…ocon…ocon… 

Bedanya pasar loak di Amrik dan Korea tidak pakai “cetak…dendang dung…cetak dendang dung….”…seperti di Pasar Kawak Madiun dulu… 

Categories: Uncategorized

23 responses so far ↓

  • edratna // October 31, 2007 at 6:12 am

    Pasar kawak Madiun, jika pagi atau sore hari, banyak penjual sayur segar dan harganya cukup bersaing dibanding Pasar Besar.

    Benar, kita-kita nih kalau ke LN senengannya memang mengunjungi pasar loak atau flee market, karena memang harganya miring. Jadi kalau melihat-lihat toko, ya cuma lihat-lihat…ujung-ujungnya belinya di tempat lain. Maklum rp kita dibanding dolar dan valas lain sangat rendah nilainya.

  • tridjoko // November 1, 2007 at 1:00 pm

    Lokasi dan kelengkapan Pasar Kawak Madiun dari tahun ke tahun selalui berubah. Pernah ada yang jual sayur, setelah dipindah ke lokasi lain yang ada malah pedagang kaki lima. Saya nggak tahu di tahun 2007 ini lokasinya pindah kemana lagi..

    Sebagai pegawai, dan bukan pengusaha kaya, kalau mendapat kesempatan ke LN pasti kita harus pintar-pintar ngirit uang saku supaya orang-orang di rumah juga kebagian. Karena itu, ke Flea Market adalah solusi yang cerdas..he..he..

  • I Made Predanggapati Juana // November 1, 2007 at 3:35 pm

    waa pak ..
    bole tuh qta jalan2 ke madiun .. hehe ..
    qta harus cri tau lagii letaknya dimana pak .. hehe ..

    eh, koleksi komiknya masii ada gak pak ??
    hhehehe .. pengen liat komik tempoe doeloe .. hehe ..

    plis visit frayalltime.blogspot.com ..
    blog pertama saya pak ..

  • tridjoko // November 2, 2007 at 6:34 pm

    Hallo Made, waktu saya masih sekolah di Bogor (1979), komik-komik itu semua masih ada di lemari buku saya. Tapi setelah ayah dan ibu telah tiada, saya nggak tahu kemana lagi larinya komik-komik itu.

    Yang jelas, komik-komik wayang sampai saya di Cimanggis (1993) masih tetap ada. Kalau komik silat, gak tahu tuh kemana perginya..

  • simbah // February 29, 2008 at 11:35 pm

    Pasar Kawak yg sekarang masih tetap ada, tapi bukak hanya dipagi hari, . . isinya kalo di Jkt mungkin setara Hero super ngampret, kwalitasnya bagus2 hanya saja tempatnya masih tradisional . . makanya harga relatif lebih mahal, tapi dijamin. Pemilik restoran di Madiun suka belanja di sini . . .

  • Tri Djoko // March 1, 2008 at 9:18 am

    -> simbah : Ooo..gitu ya perkembangannya, tapi sebenarnya maksud saya dengan “Pasar Kawak” adalah “Pasar Loak” yang ngejual barang-barang bekas dari obeng, kunci inggris, kunci pas, palu, sampai komik-komik bekas, majalah bekas, dan sebagainya…

    Kalau itu yang saya maksud, bukankah pindah ke Jalan Merpati sebelah barat rumahnya Gembes dulu dan sudah hampir mepet ke Kali Madiun ?

    Yen sudah kayak Hero Super Kampret ya..dimana-mana juga ada mas…ha..ha…

  • simbah // March 1, 2008 at 10:54 pm

    Woo . . kalo pasar loak, sekarang pindah ke nJoyo, . .itu ujung Jl.Diponegoro sebelah timur, samping terminal Bus lama prapatan trus ngetan, wah . . sekarang tambah gede dan lengkap. Lagian di sana banyak komplex perumahan baru.
    Cuman buku2 bekas kayak di Kwitang, Jkt. Saya belum menemukan.

  • Tri Djoko // March 2, 2008 at 12:12 am

    -> Simbah : wah..saya sudah ketinggalan sepur ini dengan kabar mutakhir tentang kota tercinta Madiun.

    Terima kasih update-nya ya mas !

  • judi kasturi // June 16, 2008 at 3:05 am

    Yang dimaksud Pasar Kawak itu sekarang namanya Punthuk

  • judi kasturi // June 16, 2008 at 3:23 am

    Mungkin, hobi bapak membeli buku - buku bekas itu memang sangat menyenangkan. Dua tiga tahun terakhir ini, hampir tiap bulan sekali, saya membeli buku - buku bekas. Karena di Madiun sudah ada banyak perguruan tinggi, saya malah mendapatkan buku - buku bermutu.Bermula dari iseng, memang, karena sudah lama menganggur. Pengangguran sok intelektual. he3x. Bapak yang menyebutkan Pasar Kawak pindah ke Njoyo tadi, ada benarnya. Tapi di Njoyo, adalah alat - alat kendaraan bermotor bekas atau las - las. Lebih merupakan pasar kawak perkakas. Yang paling tepat seperti disebut Pak Tri joko, adalah gang Punthuk. Sebuah gang di belakang Pasar Besar. Disana, banyak buku bekas, obeng - obeng ataupun catut bahkan cetak de dang dung masih terdapat. Pakai celana pendek, walau saya sudah berumur, tidaka ada yang ngaru oro di gang Punthuk itu. Akan halnya, Pasar Kawak yang di sampign SMP 2 Madiun, tetap tempatnya. Banyak pedagang makanan dan buah dan boleh dibilang, tempat belanja kalangan elit Madiun. Setidaknya, sebelum mal marak di Madiun, orang elit belanjanya di Pasar kawak. Sedang tukang loaknya, sudah tidak begitu nampak. Mereka menggelar dagangannya di gang Punthuk. Tentu tak banyak berubah, pemandangan di dalam Pasar Kawak samping SMP 2 itu. Banyak yang menjual makanan mateng, termasuk onde - onde dan utri. Kenapa nggak berubah? Pada awal - awal tahun 70 an, saya tukang menjat pagar SMP 2 dan mendongakkan kepala untuk beli utri. Banyak kawan - kawanku, terutama yang cewek, memakai jasaku untuk membelikan utri. dan aku pun dapat upah. kegiatan begini, juga harus hati - hati, sebab kalau sampai ketahuan Pak Marmo, yang suka pakai halo - halo dengan crongnya itu, saya bisa di gojlok habis. SMP 2 dan Pasar kawak memang bergandengan sampai sekarang. Gak banyak berubah. Sekolah hebat. Dua pakar politik Indonesia berasal dari sekolah itu. Beliau adalah Sukardi Rinakit, Phd dan Prof Dr Hermawan Sulistyo. Hidup Pak Marmo !

  • tridjoko // June 16, 2008 at 9:20 am

    –> Mas Judi Kasturi :

    Wah..terima kasih infonya kalau Pasar Kawak Madiun khusus buku-buku sekarang pindah ke Jalan Punthuk..Kalau dulu sih saya juga pergi ke Jalan Punthuk buat ngeloakin koran Kompas langganan saya dan juga buat jual….rambut ibu saya !!! Waktu itu 1 kg rambut dihargai mahal sekali, mungkin sekitar Rp 100.000 uang sekarang di tahun 2008…

    hahahahaha…

    Ya..di SMP 2 dulu yang paling ditakuti memang Pak Marmo, soalnya kalau kita telat atau kita gondrong dan “ketangkep” Pak Marmo, wah..pasti kita disuruh nyapu ruang guru selama seminggu… Mana tahan !!!

    O ya Kikiek alias Hermawan Sulistyo dulu juga kapok kalau ketemu Pak Marmo, kalau bisa malah menghindar ketemu. Soalnya Kikiek selalu diledek Pak Marmo, “Wah..kamu ini cucunya orang Widodaren, Ngawi, apa yang kamu bisa ?? Orang Widodaren itu payah semua…”. Mungkin Pak Marmo hanya gemes lihat Kikiek yang nakal dan tidak sekalem Haryo, kakaknya…

    Ngomong-ngomong Kikiek dulu sejak kelas 1 sampai kelas 3 SMA 1 Madiun kost di rumah saya. Awalnya dia maksa masuk rumah saya, dan diusir berkali-kali, dengan bahasa halus maupun kasar, tidak mau pulang. Ya sudah, akhirnya kamar yang lebih mirip “kandang ayam” itu lalu dicat dan diberi tempat tidur untuk tidurnya Kikiek..

    Kalau Mas Judi Kasturi tuh angkatan tahun berapa ? Saya dan Kikiek masuk SMP 2 tahun 1970 dan lulus tahun 1972..

    Dan kalau Mas Sukardi Rinakit itu angkatan berapa ? Pantas bahasa dia kalau di kolom Kompas mengalir bagai air..

    Banyak lho orang2 Madiun yang pinter nulis, seperti Pak Slamet Suseno (Intisari) dan Pak Sjamsoeoed Sadjad (Kompas). Beliau berdua juga orang Madiun lho…

    Hidup Pak Marmo ? Emang beliau masih sugeng ? Kurang lebih 3 tahun yang lalu kakak saya Endang (SMP 2 tahun 1968-1970) reuni dengan guru-guru SMP 2. Kalau nggak salah Pak Narso dan Bu Suyatmi masih sugeng lan sehat wal afiat…

  • simbah // June 16, 2008 at 10:34 am

    Dik Yon,…pak Marmo dan pak Yoto (kakak beradik)…dua-duanya sudah meninggal Rumahnya di Jl. Dr. Soetomo samping rumah dr. Wiranto suwung brung..nggak ada yang menempati. Halamannya malah dipakai dagang warung makan…kalau malam. Konon dua-2 tidak menikah..
    Pak Tabrizi juga Bu Yono (Guru Menggambar) juga sudah berpulang….

  • tridjoko // June 16, 2008 at 3:23 pm

    –> Simbah :

    Terima kasih mas, atas informasi updatenya…

    Makanya saya bilang menurut kakak saya, Pak Narso dan Bu Biyatmi masih sugeng…wah kasihan ya kakak-adik Pak Yoto dan Pak Marmo sudah berpulang semua dan tidak mempunyai keturunan…

    Pak Tab, Bu Yono dan Bu …. siapa yang meninggal waktu itu yang mas Didiek ceritakan gara-gara mikir putranya itu ?

  • judi kasturi // June 17, 2008 at 2:17 pm

    Mas Kiki, hampir sama seperti dulu, ceplas ceplos dan blak - blakan. Dia orang jujur dan cenderung nyeniman. Dia sering ke rumahku di Taman, Madiun. Mungkin dia kasihan sama aku yang luntang lantung. kalau Kardi, kelahiran 1962. habis SMP 2, masuk SMA 2, FISIP UI dan terus ngambil S2 dan S3 di singapore. ekarang ini, beliau termasuk kebanggaan kita. Anak nambangan, omahe mlebu gang, jadi kolumnis tetap kompas, halaman 1 pula he 3x kardi orang bersahaja. Seneng nulis politik dari sudut yang mbudayani. Mungkin frame dia,melihat elite politik dari persepsi wong cilik Madiun. kALAU 1999 - 2004, tentang analisa politik, Mas Kiki, juaranya, sejak tahun 2004, orang mendengar Kardi. Weladalah, Mas, kita melu seneng. He3x Aq tamat SMP 2 tahun 1975, terus masuk STM Siang Madiun. Dgn mas kiki dan Mas Kardi, aq sangat dekat, Mas. Ke mereka, tanda undanganpun, aq berani masuk ke kantor pribadinya. Kardi sekarang jadi direktuir eksekuif Sugeng Saryadi Syandicate. kalau mas Kiki, jangan tanya,banyak aktifitasnya. Tentang Madiun, aq mbantu anak muda berbakat dari jalan Kuweni. Masih umuran 35 sudah jadi eksekutif produser. Produknya kalau jenengan mirsani Euro Cup, ditayangkan terus. yakni Iklan Fren, Sindo dan Hepi 3x

  • judi kasturi // June 18, 2008 at 9:49 am

    Pagi, Mas. Semalem aku nginep atau tepatnya, “nunut turu” di kantor Mas Kikiek. Sempat ketemu beliau dan tak sampaikan cerita panjenengan, dia langsung menjawab: “…itu pasti Tridjoko..”. Mbak I ing menimpali; “..ia, itu pasti dia he3x.Waktu aku pacaran sama mas Kikiek, yang pertama ribut ya Tridjoko”. Btw ketika panjenengan membahas Pasar kawak dan SMP 2, tentu yang tak kalah menarik adalah sepur grong dan stasiun kereta di depan SMP 2, jl Agus salim.Tentunya juga, kaom boeroeh linting yang sering ndeprok leren di per ko dan tukang becak yang nyetel radio RRI transistor. Terdengar sayup :”..murah sandang pangan, seger kuwarasan..”. Lalu suara grong - grong, ejes - ejes - ejes, kereta lewat dari arah stasiun ngarep pasar…

  • tridjoko // June 18, 2008 at 10:16 am

    –> Judi Kasturi :

    Wah…ketemu Kikiek sama Iing ya..hahahaha…seru dong !

    Gimana nggak ribut Kikiek pacaran sama Iing, lha wong nggak bilang-bilang ! Masnya Kikiek yang namanya Mas Herdi yang Kedokteran Unair itu datang ke rumahku mau nukar sepeda motor sama Kikiek. Jebul Kikiek ditunggu sampai jam 23.30 malam nggak pulang-pulang. Biasanya dia nggak begitu. Dikirain nongkrong di Jalan Jawa, nggak taunya nongkrong di tempat pacarnya yang baru…..Huhuhuhu…

    Jadi ceritanya, mereka itu pacaran ala backstreet karena dulu “ada yang punya” jadi teman-teman tahu Kikiek jadian sama Iing ya waktu sudah hampir lulus SMA…

    Yang repot saya, soalnya kalau kakaknya atau Bapak-Ibunya Kikiek datang ke rumah dan nanya kemana Kikiek saya kamisosolen nggak bisa ngejawab. Sudah itu, kakak atau Bapak-Ibunya nunggu lamaaaaa sekali di rumah, jadi saya kan nggak enak (maklum, jaman itu belum ada handphone…he..he..)…

    I ya mas, jaman dulu walaupun buruh panggul, kelihatannya hidupnya enak dan nggak banyak ngeluh…malahan sehari-hari mereka nyanyi terus..termasuk yang dekat SMP 2 itu…

    Coba deh, baca posting saya “Tape Mambu” di Blog ini…

  • simbah // June 20, 2008 at 5:45 pm

    Iya,..dik Yon, yang meninggal nyemplung sumur itu bu Naryo…
    Woo.. mas Sukardi Rinakit, masih sepantaran Barack Obama ya…tulisannya bagus, saya suka membacanya…coba-2 dik Yon, anda nulis di Surat Kabar…kurang lebih sama lho.. ! Kalo anda mau,…makanya saya cari-2 di google ‘Sukardi Rinakit’ yang katanya orang Madiun, baru tahu dari mas Judi Kasturi, alumni SMP-2 rupanya….yah ikut bersyukur lah…orang Madiun tulisannya diterima Kompas..ngomong-2 saya dulu coba-2 ngirim artikel ke Kompas tidak pernah dapat…ada saja kekurangannya….

  • tridjoko // June 20, 2008 at 9:39 pm

    –> Simbah :

    Di antara teman2 kita yang bisa masuk koran tulisannya ya cuman Kikiek doang. Sejak SMA kan pemikirannya sudah nyeleneh, makanya sering berbalas debat dengan Remy Silado di Majalah Aktuil tahun 1974-1975 dulu..

    Saya sudah puluhan kali ngirim tulisan ke berbagai koran atau majalah, pernah sih ditulis di suatu majalah, soalnya redaksinya ya…..Kikiek !! Siapa lagi ?

    Pernah juga tulisan dimuat di majalah Komputer di Jakarta, tapi lama-lama bosen juga nulis soalnya honornya leutik pisan…euy…

    Enakan nulis di Blog seperti sekarang ini : nulis sendiri, dibaca sendiri, ketawa sendiri kalau lucu…hehehehe.. ditambah komentar2 seperti dari sampeyan itu, wah jan berguna banget, dan membuat happy banget daripada tulisan kita dimuat di koran…hehehe…(dasar orang nggak bakat !)…

    Ayo mas, ikut nulis juga di Kompas, atau bikin blog mas….

  • judi kasturi // July 1, 2008 at 2:34 am

    Ee, nulis di Kompas mah, susah diterima. Dulu pernah nyoba nulis, ditolak lalu kapok lombok ha3x. Kalau Kardi emang lain. Dia cerdas dan tulisannya mbudayani. Tak heran kalau tiap selasa, 2 minggu sekali, tulisannya nongol di hal 1 Kompas. Apalagi kalau nggak tulisan tentang politik dengan bahasa madiunan he3x Tentang Blok, kulo gaptek Mas, tapi beberapa saat lalu, saya bikin koran Cross media Minggu, cuma 3 kali terbit, sekarang macet. Macet lagi 2x mungkin gara - gara Si Komo lewat. Koran itu beredar di 3 propinsi. Pemred merangkap red pel serta penulis, tak pegang sendiri. Makanya semplok. Ini lagi tata - tata lagi, Mas. Salah dua rubriknya, di isi oleh pengasuh yayasan filsafat dan tani di Purwokerto dan mas Totok mardikanto, Phd (dari IPB?), ngisi rubrik OBAT PEGEL : obrolan singkat tentang pemberdayaan golongan ekonomi lemah.

  • tridjoko // July 1, 2008 at 6:30 am

    –> Judi Kasturi :

    Hehe..benar mas, yang penting usaha..ha..ha..

    Saya kayak pernah dengar nama Totok Mardikanto , Ph.D tapi lupa dia angkatan berapa ya di IPB-nya ? Maksudnya, luwih tuwa tinimbang aku apa luwih enom ?

    Soale neng IPB aku angkatan 13 (1976), wis termasuk tuwa. Ning angkatan luwih tuwa sing isih seneng kumpul-kumpul ya akeh, misale angkatane mbakyuku angkatan 07 dan 11…

    Secara umum, media cetak akan mudah tiwas mas. Ini gejala tidak hanya di Jakarta tapi juga di seluruh dunia. Makanya sebelum Kompas mengubah wajah dan “mengecilkan diri” dia undang konsultan koran dari Amerika yang sudah menasehati banyak koran di dunia ini dari Jerman, Spanyol sampai Amerika…

    Makanya, sehari saya langganan 6 koran (Kompas, Republika, Media Indonesia, Warta Kota, TopSkor, IndoPos, kadang-kadang beli Rakyat Merdeka) tapi kalau nggak ada “berita rame” yang saya baca kembali ke Detikcom atau Kompascom (edisi online-nya). Atau blog-blog banyak orang itu…

    Saran saya ke Mas Judi Kasturi, cobalah bikin blog yang njawani ora nyleneh lan membuat bisnis dari situ. Saya sudah ketemu banyak orang di Jakarta dan Bandung, kebanyakan orang IT, yang hidup dan kehidupannya dari bikin tulisan di website…

    Dan kayaknya, hidup mereka gampang dan nyaman lho mas, arep tuku mobil kari lunga neng nggone diler-e…yen kene, nggolek utangan sik…..hehehehe….

  • judi kasturi // July 2, 2008 at 2:15 am

    Mas Totok, rupanya S1 nya dari Gajah mada. Baru S3 di IPB. Beliau sekarang direktur program pasca di UNS. Kalau ke Jakarta, sering ngajak saya, ngobrol ngalor ngidul tentang pertanian yang saya sendiri nggak begitu ngeh. Beliau sering matur,kalau cerdik cendekia kita itu kaya logika tapi miskin logistik. Dia konsen dengan pemberdayaan dan pengin ngentaskan kaum sarjana yang menganggur. Inipun mungkin sekedar nyindir saya ha 3x. Sedang Ashoka yang pernah tak sebut, juga agak nyeleneh, beliau pengin petani kita bekerja dengan pikiran dan kesadaran. Petani yang punya konsep. Makanya dia bikin padepokan filsafat dan tani. Dia papras bukit di Baturaden. Areal 7 ha dia bikin asrama untuk pelatihan. 70 orang mampu ia tampung. Kalau saya pribadi, karena baru 2 tahun terakhir di Jakarta dan mbolak mbalik Madiun, ketemu orang pintar dan nyeleneh cukup kagum. Mungkin karena saya kagum hingga menjadi dekat. Begitu juga dengan Kardi dan Mas Kikiek, saya kagum juga. Terakhir saya juga kagum dengan jenengan. Agak nyeleneh, menurut saya. Kalau saya pribadi, yang menarik memang pasar kawak. karena sebelum ke Jakarta, saya mengais rejeki dari mencari barang kawak di seantero Madiun he 7x. Tentang blog, saya belum begitu tahu cara bikinnya, saya tahu komputer baru akhir - akhir ini saja. Mungkin karena kerja - di lingkungan perusahaannya bos Hari Tanu - saya dicepaki komputer berikut outlooks untuk email me ngimail. Kari ndudul saja. Kemarin, senior2 di media, sempat mau ngajak bikin Clenik@Com. Mungkin ya blog itulah kamsudnya tapi saya ini masih seneng clurat clurut, kadang pada hari dan jam kerja malah tenguk2 di warung kopi punthuk, Madiun atau duduk jigang di warung kopi di water torn, dengan bercelana pendek. Nikmatnya, luar biasa. Kalau lagi bersepede di jalan, kadang kawan menegor: “orip..?”. Tak jawab;..”wah angel, ngeblasgong terus…” Madiun memang kota yang indah ketika kita merasa bukan siapa - siapa. Ketika kita punya niat mau mengejar pas ada layangan putus. Ketika kita duduk di beranda, ada mbok - mbok lewat menggendong rinjing dan nanya:”kagungan rosok, mas ?” Ha ha ha ha ha

  • tridjoko // July 3, 2008 at 12:15 pm

    –> Judi Kasturi :

    He..he..kayaknya njenengan juga cukup nyeleneh. Kalau masih “waras”, masak mau bergaul dengan kita-kita ini yang nyeleneh..hehehehe…

    Memang Madiun itu seolah “sorga yang terlupakan”. Persis kata njenengan, kalau kita pas jalan-jalan di kota Madiun naik sepeda, lalu nongkrong makan
    pisang goreng dan minum secangkir kopi kental sambing jigang, wah…juannn enaaak tenan…. karena kita menjadi orang yang merdeka : merdeka berpikir, merdeka berbuat, dan merdeka segalanya. Bukankah itu yang kita cari di dunia kita ini ?

    Makanya waktu di Blog teman saya dibahas mana kota yang paling pantas
    jadi kota orang pensiunan ? Madiun memperoleh skor tertinggi kedua setelah Malang. Alasannya, hidup enak, makanan masih murah, dan tekanan sutriss juga masih minimal…

    Dan banyak nuansa kehidupan seperti mbok yang mencari rosok tadi yang sulit dicari di kota lain selain Madiun…hahaha…

  • judi kasturi // July 4, 2008 at 12:29 pm

    Injih,Bos. di Madiun makanan relatif masih murah. Kenapa tak bilang relatif, ada juga restoran2 di Madiun, pasang harga unda undi dengan Restoran Tan Goey, di Menteng. Apalagi kalau dahar nasi pecel yang waktu malam bertebaran di Madiun. Harganya unda undi dengan harga gado - gado di bilangan mampang. Apalagi tentang per martabakan.malah mahal di Madiun ketimbang di Jakarta. Maka yang nikmat adalah di warung - warung kopi, yang mereba seperti jamur. kopi cingkir cilik masih kisaran 750 rupiah, rokok samsu sak util 750 perak dan sego jotos 1500 perak, jadi 3 ribu sudah kompli pakai telor ha ha ha ha itupun masih dapat bonus; uneg2 dari kadang madiun. Dari masalah BBM, Beaya sekolah sampai masalah pil2an, dari pilkate (pilihan ketua RT hingga pilpres (pilihan presiden). Sudah murah, warung kopi seperti layaknya koran lisan saja ha ha ha

Leave a Comment