Lulus S1 langsung kerja, ngambil S2, atau kerja sambil sekolah

Sebenarnya menjawab masalah di atas gampang-gampang susah, banyak faktor yang perlu dipertimbangkan selulus S1 apakah sebaiknya langsung kerja, nerusin sekolah S2/S3, atau kerja sambil sekolah : 1. Berapa IPK anda ? 2. Apakah anda harus membiayai hidup orang tua atau adik2 anda ? 3. Apakah anda sudah mempersiapkan diri melanjutkan sekolah S2/S3 ? 4. Apakah anda punya pacar yang ngajak nikah segera ? 5. Apakah anda sudah survey tentang beasiswa sekolah di LN atau mengontak seorang professor di department universitas yang anda tuju ? 6. Apakah anda sudah survey tentang beasiswa sambil kerja di LN ?

Dan satu lagi yang perlu diingat, “Opportunity rarely knocks twice”..

Pertama, jika anda lulus S1 dengan IPK yang bagus misalnya > 3.00 apalagi kalau > 3.50 maka sebaiknya anda memutuskan sekolah lagi minimal ke S2. Jika anda punya IPK > 3.50 (cum laude atau honor) mestinya andapun layak langsung sekolah ke S3 tanpa melalui S2..Sayang sekali kalau IPK anda bagus anda langsung kerja.. Langsung kerja mestinya cocok bagi seseorang yang IPK-nya < 3.00 karena bagi golongan orang ini melanjutkan sekolah justru tidak masuk akal dan yang lebih masuk akal adalah bekerja dulu 1-2 tahun baru melanjutkan ke S2..

Kedua, jika anda harus membiayai hidup orangtua atau adik2 anda selepas lulus S1, maka langsung bekerja adalah pilihan yang masuk akal. Jika anda harus sekolah S2 dulu, maka resource yang anda punya sudah habis untuk membiayai keluarga, kecuali anda memperoleh beasiswa termasuk uang saku (stipend) yang besar..

Ketiga, jika anda sudah mempersiapkan diri untuk melanjutkan sekolah ke S2/S3 seperti nilai TPA yang bagus, nilai TOEFL >= 600 (atau IELTS >= 7.5), nilai GRE >= 1800 maka anda sudah membuktikan diri bahwa anda siang sekolah lagi, tidak hanya di DN tapi juga di LN..

Keempat, jika anda sudah punya pacar yang mau ngajak nikah segera dan pacar anda kebelet nikah begitupun anda, maka lebih baik anda menikah dulu dan untuk membiayai keluarga baru anda sebaiknya anda memutuskan langsung bekerja dan menunda keinginan melanjutkan ke S2/S3..

Kelima, kalau anda sudah mengontak seorang professor di department universitas yang anda tuju dan dia memberikan tanggapan dan harapan yang besar, apalagi jika dia menginformasikan disediakan beasiswa pula, maka sebaiknya anda melanjutkan ke S2/S3 dan melupakan bekerja mengingat ini kesempatan jarang (..ingat opportunity rarely knocks twice…)

Keenam, jika anda sudah survey mengenai melanjutkan Master’s atau Ph.D. ke luar negeri sambil bekerja (anda mendapat loan untuk kuliah tapi untuk membayar loan tersebut anda harus sambil bekerja), maka sebaiknya pilihan ini yang diambil karena pilihan keenam ini menjawab semua masalah yaitu bekerja ya melanjutkan studi ya..

Kebetulan saya mempunyai tiga orang keponakan, sebut saja namanya A, L, dan N yang masing-masing menempuh jalannya masing-masing dan saat ini sudah happy dengan pilihannya :

Si A adalah lulusan S1 bidang IT dari PTN ternama di Jawa dengan IPK > 3.00 tapi masih di bawah < 3.5, sehingga A akhirnya memutuskan langsung bekerja mungkin karena langsung bekerja itu pilihan terbaik menurut pendapat A. Saat ini A sudah bekerja selama 3 tahun, mempunyai career path yang mantap, sudah menikah dan kelihatannya mulai settle dengan keluarga yang mantap.

Si L adalah lulusan IT juga dari sebuah PTN ternama di Jawa, dengan IPK > 3.00 tapi masih < 3.50. L selepas lulus langsung bekerja sebagai software developer selama 2 tahun, tapi ketika ada tawaran untuk mengambil program Master’s di suatu universitas di negara yang sangat maju dengan biaya pinjaman dan harus bekerja untuk mengembalikan pinjaman itu, L memutuskan untuk mengambil kesempatan ini karena sejak awal L sudah bercita-cita untuk melanjutkan sekolah di negara maju ini. Saat ini L sudah bekerja di salah satu kota besar di negara maju tersebut sambil menyelesaikan kuliahnya yang tinggal 10 bulan lagi.

Si N adalah lulusan EE dari institut ternama di Jawa dengan IPK > 3.7, selepas wisuda S1 beberapa bulan yang lalu N ditawari beasiswa untuk melanjutkan S2 di institut tempat ia kuliah S1 dulu. Saat ini N sedang menempuh kuliah semester pertama dari program 2 tahun untuk menyelesaikan S2.

Siapakah saat ini (Nopember 2007) di antara A, L dan N yang paling mantap dengan pilihannya ? Mestinya kalau pilihan apakah langsung bekerja, meneruskan sekolah, atau meneruskan sekolah sambil bekerja itu dijalani dengan sepenuh hati dan penuh keyakinan, tentulah masing-masing mereka merasa mantap dengan pilihannya..

Siapakah 5 tahun lagi (Nopember 2012) di antara A, L dan N yang paling bahagia dengan pilihan yang dipilihnya 5 tahun yang lalu (Nopember 2007) ?

I can not tell for sure….tergantung kepada masing-masing untuk memahami bahwa apa yang dipilihnya pada hari ini adalah yang terbaik..

“Opportunitu rarely knocks twice”.. yang namanya kesempatan itu tidak pernah datang dua kali. Jadi, baik A, L atau N bila ketemu kesempatan yang baik sebaiknya langsung diambil saja karena kalau sekarang tidak diambil siapa tahu kesempatan itu tidak pernah datang lagi.. Sekarang tergantung dengan apa yang didefinisikan dengan “kesempatan” itu ?

Semua orang punya cita-cita, seperti misalnya cita-cita saya adalah “muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga”. Maka untuk mengejar cita-cita saya tersebut sewaktu muda saya harus bekerja keras (sehingga bisa foya-foya), mulai mengambil pendidikan lanjutan (S2/S3) dan barangkali memulai bisnis ataupun berinvestasi (agar tua bisa kaya raya), dan tentunya juga mengingat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi kita kehidupan, rezeki, berkah, dan rahmah, sehingga sayapun perlu sering-sering “menghadap”Nya dalam bentuk sembahyang, dzikir, puasa, dan sedekah (sehingga mati nanti bisa masuk surga)..

That’s my two cents… (inilah nasihat saya yang barangkali ada gunanya bagi Anda).

Ciao..!

61 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Nov 07, 2007 @ 07:41:19

    Alternatif yang bagus….kalau saya pilih lanjut sekolah. Mengapa saya dulu harus bekerja setelah lulus? Karena ayah ibu sudah tua, masih ada dua adik yang menunggu dibiayai dan saat itu sedang kuliah di PTN…jadi akhirnya bagaimana memilih bekerja yang bisa saving, dan sedikit-sedikit meringankan beban orangtua.

    Reply

  2. tridjoko
    Nov 07, 2007 @ 08:55:11

    Pengalaman pribadi saya dulu malahan harus memutuskan apakah setelah bekerja mau ngambil Master’s dulu atau menikah dulu, maklum udah tunangan. Kalau sekolah dulu kasihan tunangan ditinggal selama 2 tahun, tapi kalau menikah dulu kesempatan sekolah bisa tertunda.

    Eeee..di tengah-tengah pusing ternyata boss saya, Pak Billy Joedono, pindah tugas dan tidak menjadi boss saya lagi. Padahal beliau yang nyuruh-nyuruh saya sekolah lagi. Akhirnya solusi ketemu, dan saya menikah dulu, sekolah bisa dilakukan belakangan (ternyata 4 tahun setelah saya menikah saya akhirnya berangkat ke AS, setelah saya mempunyai 2 puteri yang cantik-cantik)…

    Reply

  3. Nino Menova
    Nov 08, 2007 @ 09:06:59

    Pagi pak,
    maaf nga tau mau naruh comment dimana, ini alamat weblog saya pak ninomenova.wordpress.com

    Terima kasih ya pak..

    Reply

  4. liswari
    Nov 14, 2007 @ 11:13:14

    wah Om kok jadi kayak race gitu ya ..hehehe, gak denk justru motivasi sebenarnya…:-p
    Mmhh kalau kebahagiaan kayaknya berbanding lurus dengan rasa bersyukur kali ya. Pilihan apapun yang sudah dan akan dibuat asal di tekuni dan dijalani dengan sungguh2, pasti akan membuahkan hasil sendiri.
    Semoga 5 tahun lagi (Nov 2012) A, L ataupun N sama2 bahagia dengan pilihannya.

    Reply

  5. tridjoko
    Nov 14, 2007 @ 17:16:00

    Ya mbak Lis, sebenarnya pilihan yang dibuat oleh A, L atau N sama bagus.

    Pilihan tersebut tidak bisa dibalik atau ditawar begitu saja karena itulah kesempatan (opportunity) yang ada di depan mata.

    Ingat teknik “hill climbing” di Artificial Intelligence ? Pilihan terbaik adalah yang terbaik dari berbagai pilihan yang ada di depan mata. Dan pilihan terbaik di depan mata itulah yang harus diambil..

    Selama A, L dan N tidak mengeluh, bersyukur, dan merasa mantap dengan pilihannya, saya pikir masa depan A, L dan N akan sama baiknya.

    One way or another. Isn’t it ?

    Reply

  6. liswari
    Nov 14, 2007 @ 22:07:19

    Om kalau si L yang katanya sedang kuliah sambil bekerja di negara maju mendapat tawaran untuk bekerja tetap di perusahaan tempatnya bekerja sekarang (di sponsori visa kerja H1B), menurut om apa yang L harus lakukan?

    Reply

  7. irfani
    Dec 06, 2007 @ 02:00:08

    tulisan yg bagus, bwt saya.

    sebagai pertimbangan rencana masa depan.

    btw, punya info beasiswa ke gulf ga pak? syarat, lowongan

    Reply

  8. tridjoko
    Dec 07, 2007 @ 00:42:13

    Hallo Irfani : thanks komentarnya.

    Beasiswa ke Gulf sangat jarang untuk CS atau engineering, kebanyakan untuk pendalaman Al Quran, jadi yang eligible kebanyakan anak-anak lulusan pesantren macam Gontrol (untuk S1 di Saudi Arabia, misalnya), atau untuk lulusan UIN Jakarta (untuk S2 atau S3)..

    Itu yang saya ketahui lho. Kalau dari Gulf, kebanyakan malahan tawaran kerja. Itupun kebanyakan bagi Chem. Engineer, Geologists, dan Geophysicists, kebanyakan ke Qatar atau Abu Dhabi..

    Sekali lagi, itu yang saya tahu loh..

    Reply

  9. Resi Bismo
    Jan 10, 2008 @ 00:20:57

    judul yang mantaf nih, sesuai dengan dilema yang saya hadapi.
    Saya sedang menimbang2 apa lanjut s3, sebab projeknya lanjut nih atau pulang ke indo mencari kerja, sebab boring man nungguin experimen di lab.

    Ada saran tidak?

    salam

    Reply

  10. Mohammad
    Aug 18, 2008 @ 10:36:31

    Terimakasih Ca’ atas infonya, doain kita2 agar bisa lancar segala usahanya ( yang terpenting mudah-mudahan tetep semangatz terus)..

    Reply

  11. tridjoko
    Aug 18, 2008 @ 15:25:42

    –> Mohammad :

    Terima kasih kembali…

    Reply

  12. Irwan
    Sep 07, 2008 @ 01:32:41

    Salam kenal pak saya Irwan…meskipun terlambat menemukan blog bapak, terima kasih banyak atas semua cerita bapak, menggugah sekali.
    hingga detik ini saya selalu bercita-cita menjadi dosen pak, hanya saja mengingat biaya S2 ga ada yang murah, saya pending dulu deh cita-citanya he5x… btw untuk point 2&3 saya safe pak(saya bungsu dan alhamdulilah keluarga saya sehat, lalu saya belum menemukan calon pendamping yang cocok hahahaha…) saya baru lulus sastra Jepang unikom bandung dengan ipk 3.00(jauh dari kategori ‘sexy’ ya pak?), kegiatan saya sekarang bagi-bagi ilmu dengan mengajar privat bahasa jepang beberapa anak sma dan Japanese lovers, menurut bapak apa yang sebaiknya saya lakukan untuk beberapa waktu ke depan?(mengingat hasrat untuk meneruskan cita-cita masih tinggi pak). seandainya saya membidik beasiswa S2 ke luar negeri, ilmu apa yang sebaiknya saya ambil selain bahasa jepang(karena susah sekali mencari full scholarship di jepang).
    oiya pak, sebenarnya pengaruh enggak sih faktor gender professor yang kita kontak?
    Terima kasih ya Pak 

    Reply

  13. tridjoko
    Sep 07, 2008 @ 07:28:57

    –> Irwan :

    Hallo mas Irwan, salam kenal juga… Sebenarnya kalau anda lulusan Sastra Jepang, tidak harus lho anda ngambil S2 Sastra Jepang dan nantinya S3 Sastra Jepang juga…

    Anda harus pandai-pandai “bermimpi” dan bayangkan nantinya anda akan jadi apa ? Menurut saya anda bisa kok melanjutkan ke hubungan internasional kajian Jepang, atau bahkan ke Computer Science seperti saya (teman saya di Indiana Univ dulu ada Ph.D student yang S1-nya adalah Sastra Jerman, dia orang Korea dan sudah lulus Ph.D dan sekarang ngajar di Korea, satu teman lagi cewek Taiwan dia dulu S1nya Sejarah !!!)…

    Jadi, perbanyak mimpi anda. Buat Plan A, Plan B, Plan C, Plan D dan Plan E. Hubungi professor di universitas yang anda taksir, kirimi dia email dan nyatakan keinginan anda untuk melanjutkan studi di sana…

    Gender professor nggak ngaruh, tapi MINAT PENELITIAN professor harus match dengan minat anda. Kalau saya boleh memilih, saya akan memilih professor laki-laki daripada perempuan..mungkin karena saya “alergi” terhadap wanita….hahahaha….

    Reply

  14. Irwan
    Sep 09, 2008 @ 01:52:26

    wah, terimakasih sekali masukannya pak… awalnya saya kira jurusan saya(sastra) ya cuma mentok disitu-disitu aja,maklum kurang gaul pak, bertahun-tahun maennya ama kamus kanji melulu hahaha…
    seandainya saya ikut jejak bapak ke computer science, adaptasinya bakalan susah enggak pak? sewaktu kuliah di unikom saya sempet diajarin ilmu komputer juga sih, tapi karena jurusannya sastra jepang, jadi ya cuma pengenalan-pengenalannya aja yang saya dapat(ga terlalu mendalam gt pak)…oiya pak, kira-kira klo di computer science bagusnya saya mengkaji apa?(mohon petunjuknya ya pak he5x)
    mengenai gender jadi ceritanya gini pak, saya sempat nyobain ngontak beberapa professor di sana, meskipun lamaa banget dapet replynya alhamdulilah akhirnya ada juga satu dua professor yang reply, dan beliau-beliau ini menganjurkan saya untuk mencoba bersaing dulu di monbukagakusho… setelah saya sadari koq yang reply tuh professor wanita semua sih he5x
    jangan-jangan “alergi” bapak ada sejarahnya juga nih ^^

    thanks a lot sir

    Reply

  15. tridjoko
    Sep 09, 2008 @ 15:40:07

    –> Irwan :

    Yah..kalau anda ingin “pindah jalur” dari Sastra Jerman ke Computer Science yang anda bisa ambil Spesialisasi Artificial Intelligence dengan sub spesialisasi Natural Language Processing..

    Mengenai gender professor, itu yang namanya kebetulan alias coincidence alias serendipity…

    Reply

  16. Irwan
    Sep 10, 2008 @ 21:03:09

    ooo jd gt ya…

    sekali lagi terimakasih banyak untuk sarannya ya pak ^^

    Reply

  17. Agung
    Sep 15, 2008 @ 14:55:40

    Pak,
    numpang tanya lg.
    pd saat mengontak profesor di univ dan department yg kita tuju,
    apa aja yg hrs dikatakan yah??
    dan kpn wkt yg tepat buat mengontak profesor itu??
    wkt semester akhir??
    ato setelah lulus??
    ato sekarang jg??
    terima kasih sebelumnya..!!

    Reply

  18. tridjoko
    Sep 19, 2008 @ 07:57:41

    –> Agung ;

    Wah..pertanyaan yang sulit….. ;-(

    Sebenarnya ada yang lebih penting dari ngontak professor, yaitu membuat IPK anda semakin “sexy”, begitu juga TOEFL dan GRE anda juga harus “sexy”…

    Pertanyaannya, buat apa ngontak professor in the first place ? Apa point-nya ngontak professor ? What for ?

    Ngontak professor perlu bila :
    a) Anda compete untuk mendapatkan scholarship sehingga anda harus melakukan “beauty contest” di depan pemberi scholarship (university, lembaga donor, dsb)
    b) Anda mau melanjutkan ke Ph.D

    Nah, kalau anda :
    a) Belajar melanjutkan sekolah di sono dengan BIAYA SENDIRI
    b) Cuman ngambil Master

    ya nggak perlu ngontak professor di sono, cukup professor di sini aja…alias Pak Tri Djoko…

    Hahahaha….

    p.s. : Professor itu jabatan akademis yang penting sekali, jangan ganggu beliau-beliau itu dengan hal-hal remeh-temeh, kecuali memenuhi syarat a) dan b) di atas. Hal-hal tetek bengek (nitty gritty) cukup ditanyakan ke Director of Admission dari setiap School/Faculty…

    Reply

  19. Agung
    Sep 19, 2008 @ 18:50:30

    OOOOOOoooooo….!!!!
    yayayayayaya…!!
    mengerti Pak.
    hahahahahhaa…!!

    Reply

  20. tridjoko
    Sep 20, 2008 @ 21:51:23

    –> Agung :

    Setelah saya pikir-pikir jawaban saya ke anda di atas salah lho…

    Anda kenal Nathanael kan ? (Coba baca posting saya “Stanford atau Yale, Pak ?”). Dia bimbingan skripsi saya semester ini dan anak TI-STAT. Dia mau melanjutkan Master/Ph.D ke AS dengan topik disertasi “Behavioral Psychology” atau “Cognitive Science”. Saya tahu ia telah diskusi dengan seorang professor di U. Penn dan saya telah ditunjukkan jawaban Prof di sana yang sudah mengarah ke proposal disertasi gitu….

    Hehehe…cuman saya nggak tahu apakah anda seserius Nathanael, Gung ?

    Soalnya lagi, yang anda akan ambil di S2 kan MBA kan ? Ilmunya terlalu umum dan mungkin sulit untuk berkomunikasi dengan prof di sana kecuali anda tertarik dengan bidang tertentu di program MBA anda nanti…

    Reply

  21. alris
    Feb 02, 2009 @ 20:41:15

    Otak saya sekarang udah gak mudeng buat sekolah lagi, gak tau kalo ada miracle. Eh, kata temen miracle harus diciptakan, betul gak pak?

    Tul… ;-)

    Reply

  22. ika
    Feb 20, 2009 @ 14:33:21

    salam kenal pak…
    sungguh ini berita yg sangat bagus skali sehingga membuat saya lebih semangat dan ingin menggapai cita” setinggi mungkin.
    saya putri pertama dari lima bersaudara,hidup dalam keluarga yg sederhana dan sedang kuliah di salah satu universitas di jawa.
    sering kali saya merasa bingung dan putus asa…
    sebagai anak sulung saya ingin bisa meringankan beban biaya ortu….
    oleh kerena itu saya ingin bekerja,tapi saya belum bisa membagi waktu antara aktifitas kuliah yang padat dan keinginan untuk bekerja..
    saya anak yg pemalu & saya sangat merasa bersalah terhadap ortu karena blm bs membantu financial beliau..
    mhon bantuan solusinya,terima kasih

    Ika,
    Jika anda berasal dari keluarga sederhana dan anda anak pertama dari 5 bersaudara, sebaiknya setelah percepat kelulusan anda. Semakin cepat lulus semakin baik. Setelah itu cepat cari kerjaan dan bantu orang tua (minimal meringankan beban beliau)..

    Sebaiknya anda nanti juga menikah dengan anak bungsu, yang tidak punya adik, sehingga pasangan anda juga bisa membantu keluarga anda..

    Masalah lanjut sekolah ke S2 atau S3 bisa dipikirkan sambil jalan. Nanti pasti ada jalannya. When there is a will, there is a way…

    Reply

  23. Levenspiel
    May 28, 2010 @ 21:10:41

    Salam kenal pak

    Saya ingin meminta saran.
    Saat ini saya sedang mengambil S-1 semester 2.
    Katakanlah saya tamat S-1 kira2 pada usia 22-23 thn. Kemudian saya dihadapkan pada pilihan :
    sambung S-2 dulukah atau kerja terlebih dahulu?
    Bila saya menyambung S-2 dulu, kira2 skitar 2 thn, baru saya melamar kerja, pengalaman kerja saya masih belum ada alias mulai dari nol.
    Tetapi bila saya kerja terlebih dahulu, maka S-2 saya mungkin bisa tertunda dan saya sendiri punya target, usia 25-26 thn setidaknya saya sudah S-2. Tetapi kalau S-2 saya betul2 tertunda?? Otomatis target saya juga tidak tercapai
    Nah, bisakah bapak memberi saran, bagaimana cara terbaik untuk mengatasi masalah ini.

    Terima Kasih

    Levenspiel,
    Sebenarnya kata kuncinya, apakah orangtua anda yang membiayai kuliah S1 anda cukup kuat secara ekonomis ? Kalau ya, berarti perlu ditanya lagi apakah orangtua anda cukup kuat secara ekonomis membiayai kuliah S2 anda ? Kalau ya, berarti selepas S1 anda bisa langsung masuk program S2 karena kalau orangtua anda kuat ekonominya berarti anda tidak perlu khawatir apakah bekerja atau sekolah…

    Kalau anda lulus S1 umur 23 tahun misalnya, dan 1,5 tahun kemudian anda lulus S2 (di Binus), maka anda akan lulus S2 waktu umur anda 24,5 tahun…

    Jadi masih tersisa waktu 1,5 tahun bagi anda untuk bekerja atau mencari pekerjaan, dengan demikian target anda supaya dapat S2 pada umur 26 tahun pasti tercapai….

    Reply

  24. baros
    Oct 27, 2010 @ 08:30:55

    Pak, ane bingung neh mow lanjut S2 apa kerja terlebih dahulu.. Umur saya 25th bru lulus S1 kmrn ipk <3.00 menurut bapa apakah yg saya lakukan?? Kerja dulu atau lgsg lanjut se? Trims

    Baros,
    Saya pakai ilmu logika aja ya menjawabnya….karena IPK anda 3.00, syukur-syukur IPK > 3.50

    Reply

  25. a girl..
    Jan 19, 2011 @ 21:18:40

    Pa, sy numpang tanya..
    Emang IPK pengaruh ya ke pilihan ngelanjutin S2 ato kerja?
    kebetulan IPK saya >3,9 tp skrg sy masih dilema mau melanjutkan S2 atau tidak..mengingat tahun ini sy segera lulus S1..
    Sy ada minat mengambil bid studi yg amat jarang di Indo..cuam ada di Oz..tp juga masih ragu akan prospeknya..
    Bgmn ya Pak?

    Chimel,
    Logikanya…iya dong…IPK ngaruh tentang decision mau terus S2 atau langsung kerja. Kalau IPKnya cukup “sexy” seperti Chimel punya yaitu 3.9….wah…wah…wah…sayang banget kalau langsung kerja. Mestinya di US atau OZ sana, kalau seseorang punya IPK 3.9 (apalagi dari PTN sekelas ITB atau UI) tentu sudah “graduated with Honor” tuh…alias lulus dengan predikat cum laude….yang kalau di US sepengetahuan saya….seseorang yang “graduated with Honor” jangankan melanjutkan ke S2….melanjutkan ke S3 (Ph.D program) langsung juga hayuk…..

    Masalah bidang studi yang masih jarang di Indonesia yang akan anda ambil di OZ….you’d be careful….soalnya anda harus perhitungkan nanti setelah lulus mau kerja di mana: OZ atau ID ? Kalau kerja di OZ sih gpp bidang studi jarang di Indonesia…..tapi kalau anda mau kerja di Indonesia setelah lulus….ya sebaiknya ambil jurusan yang paling “hot” di Indonesia saat ini seperti : Commerce, Accounting, Business Administration, ataupun Computer Science….

    Gitu lho Chi !

    Reply

  26. Edi
    May 19, 2011 @ 23:15:51

    Sebelumnya terima kasih atas penjelasannya Pak Joko,

    Setelah saya browsing2 kesana-kemari akhirnya menemukan pencerahaan terhadap pilihan ini,

    Saya adalah tamatan S1 Arsitektur dengan IPK <3.00 kebetulan sesuai dengan anjuran Pak Joko untuk langsung bekerja 1-2 tahun, dan alhamdulillah saya dapat pengalaman sekitar 1,5 tahun di perusahaan konsultan arsitektur (perencanaan) dan 1 tahun pengalaman bekerja secara mandiri (masih di bidang arsitektur juga)

    dan pada saat ini saya merencanakan untuk melanjutkan S2 dalam bidang ini juga, untuk memantapkan ilmu yang telah saya capai, karena dulunya saya berprinsip, bekerja dulu baru mengambil S2 adalah solusi untuk menyingkronkan ilmu di akademis dan ilmu lapangan, dan memang benar, dengan bekerja, teori2 yang diberikan di perkuliahan dulu lebih teraplikasikan dengan baik…

    Namun saya cukup bimbang, karna sewaktu bekerja dulu proyek2 yang ditangani hanya berskala kecil, kemudian belakangan ini saya cukup tertarik untuk masuk di perusahan konsultan dengan skala proyek yang lebih besar dengan tujuan untuk mendapatkan pengalaman di proyek tersebut,

    Pertanyaannya, manakah jalan yang tebaik menurut Pak Joko, mencoba untuk bekerja di perusahaan besar (dengan tujuan mencari pengalaman yang lebih besar) atau mengambil S2 ?? Mohon Pencerahaannya… :)

    Thanks Anyway…

    Reply

  27. ayu
    Sep 15, 2011 @ 09:29:44

    saya mahasiswa fresh graduate yang bingung antara cari kerja atu lanjut S2..IPK saya >3,6 dan lebih dari 3.5
    saya bercita-cita ingin jadi dosen akan tetapi saya merasa kemampuan saya kurang dengan IPK hanya segitu.
    saya masih mempunyai seorang adik yang sedang kuliah.mohon saran nya apa yang harus saya lakukan?

    Ayu,
    Sebenarnya “rule of thumb” (patokan kasar) kalau IPK anda segitu, adalah anda segera melanjutkan ke S2 malahan kalao perlu nanti terus ke S3, mumpung masih muda, belum punya pacar, dan tidak ada pacar yang buru2 mau ngajak kawin… Benarkah ? Walaupun info tentang adik anda kurang jelas, tapi info tentang ortu anda kurang jelas : apakah PNS, swasta, dsb, jadi sulit bagi saya memberi saran yang pas buat anda….

    Saya sarankan minimal anda bisa melamar beasiswa ke NUS atau NTU Singapore (cek website mereka ke Google, dan cari pengumuman tentang beasiswa Master). Nah nanti sambil menyelesaikan S2, anda juga bisa mulai “shopping” tentang Program S3 di Singapore atau ke negara lainnya…

    Saran ini dengan asumsi, ortu anda tinggal membiayai penyelesaian kuliah adik anda yang tinggal seorang, dan ortu anda tidak lagi membiayai pengeluaran anda. Biasanya beasiswa ke Singapore (kalau “full scholarship”) semuanya sudah ditanggung, kalaupun ada pengeluaran paling gak sampai Rp 5 jt – Rp 10 jt, sehingga anda masih ada kesempatan pinjem ke Saudara yang mempunyainya..

    Demikian saran saya Yu…..good luck selalu…

    Reply

  28. Fareez
    Feb 01, 2012 @ 06:19:17

    Salam super buat prof. tridjoko,
    Pak, saya adalah mahasiswa PTN jurusan Ilmu administrasi negara semester 4 dg IP >3,5 , saya adalah anak bungsu dari 3 bersaudara ayah saya guru swasta, saya ingin sekali meneruskan studi S2 dibidang yg sama atau setidaknya yg ada hubungannnya krn saya ingin sekali menjadi dosen. namun ada beberapa kendala yg saya temui:
    1. jika saya lanjut S2 bagaimana dg pengalaman kerja saya pak? krn biasanya utk mendapat pekerjaan min. memiliki pengalaman kerja..
    2. melihat dari jurusan saya yang sgt minim jika dilihat dr segi lapangan pekerjaan, saran bapak apakah saya lanjut S2 dalam jurusan yg sejenis (konsentrasi) atau memilih jurusan lain? apa tidak sulit nantinya jika saya pindah jurusan lain?
    3. apa bisa lulusan S1 langsung lanjut ke S3 tanpa S2?

    Fareez,
    Saya belum Prof(essor)….tapi sudah Prov(okator)…hehehe

    Wah…kenapa anda milih Administrasi Negara dulunya ? Soalnya Administrasi Negara itu kan mestinya kerja sebagai PNS, baik di LAN ataupun di Kemendagri. Tapi kayaknya lulusan Administrasi Negara kalau mau kerja di swasta ya gimana ya….mungkin bisa, tapi ilmu Administrasi Negara-nya mungkin tidak terpakai..

    Ini jawaban dari pertanyaan anda :

    1. jika saya lanjut S2 bagaimana dg pengalaman kerja saya pak? krn biasanya utk mendapat pekerjaan min. memiliki pengalaman kerja..
    Jawab : biasanya hanya PTN yang mensyaratkan ada pengalaman kerja setelah lulus S1 dan sebelum memulai S2, kalau anda milih S2 nya di PTS, biasanya persyaratan itu tidak ada. Malah di PTS banyak yang menawarkan YPP = Young Professional Program jadi lulus S1 langsung ngambil S2. Di luar negeri juga tidak ada persyaratan pengalaman kerja bagi lulusan S1 sebelum masuk S2.

    2. melihat dari jurusan saya yang sgt minim jika dilihat dr segi lapangan pekerjaan, saran bapak apakah saya lanjut S2 dalam jurusan yg sejenis (konsentrasi) atau memilih jurusan lain? apa tidak sulit nantinya jika saya pindah jurusan lain?
    Jawab : Sebaiknya anda melamar kerja dulu dengan bekal S1 bidang Administrasi Negara, dari melamar kerja (minimal pengalaman diwawancarai oleh Manajer HRD di perusahaan)…dan cari tahu apa kesan mereka tentang lulusan S1 Administrasi Negara….terus kalau S2 sebaiknya bidang apa….bisa didapat kesimpulan dari wawancara ini (sebagai contoh, S1 saya Statistika tapi saya ngambil S2 Computer Science karena waktu itu saya ngajar di Binus yang kuat bidang Computer Science-nya)…

    3. apa bisa lulusan S1 langsung lanjut ke S3 tanpa S2?
    Jawab : Kalau di universitas luar negeri, biasanya yang lulus S1 nya dengan predikat “Honor” (mungkin setara “cum laude” di Indonesia), dapat melanjutkan S3 langsung tanpa S2. Tapi di universitas2 di Indonesia saya belum pernah dengar lulusan S1 langsung loncat ke S3 tanpa S2. Jadi jawabannya, tergantung….anda mau terus ke universitas di luar negeri atau di Indonesia…

    Reply

  29. Fareez
    Feb 01, 2012 @ 08:40:02

    Hehe..
    saya dulu minat prodi Admministrasi negara krn saya tertarik dg studi tentang Manajemen dan analisis kebijakan prov.
    selain itu saya ingin skali lanjut S2 tentang Human resource…
    ada saran prov?
    Oya Prov kalo misalnya saya nanti lanjut S2 lalu untuk melamar kerja apa kira2 perusahaan tidak berpikir dua kali ya untuk merekrut lulusan S2 mengingat (mungkin) honor/gaji yg diterima harus lebih besar dr lulusan S1?
    Terima kasih ya prov… :)

    Fareez,
    Boleh kok S1 nya Administrasi Negara ngambil S2 bidang Human Resources Management.
    Kalau anda nanti sudah dapat S2 dan melamar kerja, jangan khawatir….semua pelamar di perusahaan tersebut akan punya ijazah S2 dan hanya beberapa saja yang hanya berijazah S1. Itu pengalaman saya sendiri seperti itu….

    Jadi sudah dapat S2, jangan merasa “lebih” karena semua orang yang melamar di perusahaan itu sudah bergelar S2….

    Reply

  30. icha
    Sep 26, 2012 @ 16:22:17

    hallo pa salam kenal. senang bisa nemu dan baca blog ini.

    pa saya mau nanya dan sebelumnya saya mungkin curcol dikit hehe

    saya adalah mahasiswa sastra jepang semester 9 dan sebentar lg lulus diprediksikan ipk saya >3,3 tapi entah kenapa saya kurang percaya diri untuk langsung bekerja apalagi di perusahaan jepang, karna kemampuan bahasa jepang saya minim sekali ditambah lagi bahasa inggris saya pun minim juga jadi saya berpikir sepertinya saya lebih cocok ngambil S2 secara dulu saya masuk sastra jepang karna salah jurusan bukan minat saya jadi saya ingin sekali mengejar cita cita saya yg tertunda cuma rasanya tidak mungkin karna minat saya itu adalah bidang kesehatan.saya harus gimana pak sedangkan saya adalah anak sulung dari 4 bersodara adik pertama saya sekarang kuliah dan 2tahun mendatang adik kedua saya kuliah juga. untuk nikah saya belum siap selain belum punya calon juga. saya
    u minta sarannya apa yang harus sa

    ya lakukan untuk ikut beasiswa S2 saya pun ga pede karna saya tdk punya kemampuan bahasa inggris yg bagus

    terimakasih

    Reply

  31. Ruslimin
    Nov 02, 2012 @ 07:45:34

    salam kenal aja pak…………………….
    saya baru saja lulus dari salah satu PTN dengan ipk 3,84 dengan predikat cumlaude pada jurusan pendidikan matematika. saya bercita cita menjadi seorang dosen, tp untuk menjadi dosen pendidikan minimalnya kan harus s2 terlebih dahuluh. saya sangt mnginginkan lanjut s2, akan tetapi saya dihdapkan dengan masalah biaya. kalau saya lanjut s2 dengan biaya sendiri rasanya nda munkin.saya suda lama mencari beasiswa s2, tp sampai skrg belum dpt2.olehnya itu saya sangt menghrapkan solusi dari bapak terhadap masalh yang saya hadapi sekarang.
    sekedar informasi saya adalah anak bugsu terus belum ada wanita yg segera mau dinikahi.hehehe.

    Reply

  32. tita
    Apr 04, 2013 @ 21:17:37

    Malam Pak, saat ini saya sedang sangat membutuhkan saran.Saya lulus s1 pendidikan matematika dengan ipk >3,8 diusia 23 tahun. Saya sedang bingung untuk melanjutkan s2 pend. matematika atau tidak. Saya juga sudah berusaha mencari beasiswa dalam negeri. Akan tetapi info beasiswa yang saya dapat mengharuskan saya diterima di pascasarjana dan saya harus membayar biaya regristrasi sekitar 15jt( plus biaya semester 1)
    Yang membuat saya ragu adalah biaya yang harus di.bayarkan dan melihat ekonomi keluarga yang saya tidak tega untuk meminta
    uang sebesar. Saya sudah konsultasi dgn ortu dan mereka memang kesulitan Mencarikan uang. sehingga saya ragu untuk melanjutkan s2. Dimana prospek s2 setelah saya lulus juga masih belum saya kethui jelas. mohon sarannya.

    Reply

  33. Lia
    May 03, 2013 @ 09:42:21

    salam..
    (senang rasanya bisa menemukan blog ini :) Terimakasih utk membahas masalah tersebut)
    saya sedang dilema pak
    saya mahsiswi jurusan hukum S1 yang lulus dgn IPK 3.51, hampir sama dengan masalah2 di atas, saya dilema antara kerja dulu atau S2 dulu dengan biaya sendiri atau (kebetulan dibuka) beasiswa utk calon dosen sedangkan saya sedikit meragukan kemampuan saya menjadi dosen (belum terpupuk saya rasa). Jika mengenai biaya sendiri, sejujurnya juga lumayan berat. Saya juga tidak begitu mengerti S2 nanti apakah juga ada jurusan2 seperti S1 dan kebetulan saya Jurusan H. Pidana, kemudian S2 nanti saya harus mengambil jurusan apa..hal tsb membingungkan saya. Dan jika saya bekerja, harapan saya ingin bekerja di suatu perusahaan yang berhubungan dengan bidang saya tetapi saya belum memiliki pengalaman bekerja dan kira2 diperusahaan apa yang menerima S1 Hukum? Keinginan terbesar saya dapat bekerja sekaligus membiayai kuliah S2 saya.
    saya anak terakhir dan sodara2 saya lainnya sudah bekerja. Saat ini juga belum ada calon yg mengajak saya menikah segera.
    mohon sarannya pak.
    (maaf jika bahasa saya yang acak adut karena kondisi saya yang hampir galau ini pak :D Terimakasih.)

    Lia,
    Wah…berat juga menjawab pertanyaan anda, karena anda sendiri juga sedang bingung…hehe…
    Saran saya, setelah lulus lebih baik bekerja dahulu, mungkin bisa sebagai Legal Staff, atau sebagai HRD Staff. Karena anak saya lulusan H. Pidana dulu pekerjaan pertamanya juga di Asuransi sebagai Complaint Staff, lalu pindah ke perusahaan perdagangan sebagai Legal Staff, baru pindah lagi ke perusahaan Asuransi lainnya lagi sebagai HRD Staff.

    Mengambil S2 itu biasanya kalau tujuannya sebagai Dosen, kalau anda tidak berminat menjadi Dosen ada kemungkinan S2 anda akan sia-sia saja. Makanya pertama yang harus ditanya adalah diri anda sendiri, apakah anda mau jadi dosen atau bekerja di perusahaan lain ?

    Saya belum menemukan Sertifikasi Hukum, kecuali Notaris (gelar profesi : CN, Certified Notary). Nah, kalau tidak mau jadi dosen, cobalah sekolah Profesi Notariat di UI atau dimana saja anda mau…
    Sekian Lia, mudah-mudahan sudah tidak galau lagi…

    Reply

  34. Mei
    Jun 26, 2013 @ 15:06:09

    Wah membaca comment2 diatas saya jadi merasa punya banyak teman dengan kegalauan yang sama…
    pak saya juga mau minta nasihat,, saya lulusan sastra Inggris UGM, IPK nya 3,5… sekarang saya bingung mau melanjutkan S2 atau bekerja.. saya anak bungsu, saya pengennya jadi dosen tapi untuk S2 saya kasihan juga sama orang tua, kan biaya s2 tidak murah, saya pengen lanjut dengan mencri beasiswa ke LN tapi orang tua tidak membolehkan.. nah pertanyaannya, jika saya tetap ingin menjadi dosen jurusan apa yang perlu saya ambil untuk S2 saya, saya juga mohon diberikan informasi mengenai jenis2 beasiswa dalam negeri untuk S2 agar saya tetap bisa menjadi dosen sesuai cita2 saya tapi saya juga tidak perlu keluar negeri sesuai dengan yang diinginkan orang tua saya… terimakasih…

    Mei,
    Kayaknya ini masalah lingkaran yang susah dijelaskan ya…hehe
    Begini, kalau anda ingin S2 di dalam negeri, sebaiknya yang linear dengan gelar S1 anda, ya berarti S2 Sastra Inggris.
    Nah beasiswa untuk di dalam negeri, itu namanya BPPS, yang mengeluarkan Kemendikbud. Salah satu syaratnya, anda harus sudah menjadi dosen, baik di PTN ataupun PTS.
    Nah, biasanya menjadi Dosen kalau cuman modal S1 kan susah, maka harus S2 dulu. Sedangkan kalau S2 dulu, anda tidak punya biaya (kasihan orang tua, saya setuju), terus mencari beasiswa ke luar negeri (yang mestinya lebih mudah didapat), orang tua tidak setuju.
    Jadi ya susah, karena anda menghadapi 3 hambatan sekaligus : 1) tidak punya biaya S2, 2) belum terdaftar sebagai dosen PTN atau PTS, 3) orang tua tidak setuju.

    Solusinya menurut saya, anda nikah dulu, dapat suami yang baik dan bisa membiayai S2 sambil anda mengasuh baby. Baru melamar ke PTN atau PTS.
    Atau solusinya, melamar ke PTN atau PTS dengan ijazah S1 anda.

    Ini yang disebut “Against All Odds“….seperti judul film….:)

    Reply

  35. ideashoper
    Jun 28, 2013 @ 09:52:49

    Wah terimakasih pak, sebuah pencerahan yang sangat berarti.
    hehe,.. bapak lucu sekali..
    masa saya harus marriage in purpose begitu.. tapi ya nggak apa- apa sebenarnya kalau dapatnya sesuai dengan tujuan tersebut. Tapi mungkin saya akan nekad mengaplikasikan solusi kedua bapak..
    Kalau beasiswa swasta dalam negeri jarang sekali ya pak? atau malah tidak ada? hehe…

    Mei,
    Beasiswa swasta dalam negeri bukannya nggak ada lho. Setahu saya di universitas tempat saya ngajar, dosennya bisa sekolah ke LN dengan biaya PTS, begitu juga di PTS saingan kami stafnya juga banyak disekolahin ke LN. Cuman ikatannya 2n+1 kalau sekolah ke LN, dan 2n kalau sekolah di DN.
    Nggak tahu ya di PTS lainnya, tapi di PTS besar pasti ada beasiswa dari intern.

    Reply

  36. ideashoper
    Jun 28, 2013 @ 19:16:00

    oh gitu, berarti PTS nya harus besar… masuk PTS besar dengan modal ijazah S1 wow sekali ya… hehe…
    maaf pak saya tanya sekali lagi, menurut bapak saya lebih baik melanjutkan S2 Sastra Inggris lagi (Linguistik) atau Pendidikan Bahasa Inggris? Ibu saya guru pak,jadi maunya saya pindah jurusan ke pendidikan untuk S2. Apa tidak apa- apa ya pak nantinya? terimakasih pak sebelumnya…

    Ashi,
    Wah…saya tidak berkompeten menjawab nih, karena itu secara langsung bukan bidang saya.
    Kalau Ashi S1-nya Sastra Inggris (English Literature), ya idealnya S2-nya tetap Sastra Inggris, supaya tetap “linier”.
    Lha kalau mau pindah S2 Linguistik (Linguistics) atau Pendidikan Bahasa Inggris (TESL/English Education), ya silahkan saja, dengan resikonya masing-masing lho.
    Sebenarnya yang perlu Ashi selidiki adalah dari ke-3 jurusan S2 itu (Literature, Lingustics, TESL), mana yang paling banyak menawarkan pekerjaan….itulah kemana masa depan Ashi harus diarahkan….

    Reply

  37. ideashoper
    Jun 29, 2013 @ 09:47:14

    oh iya, saya mengerti sekarang pak… (nodding)
    terimakasih banyak ya pak, atas bantuannya sejauh ini.. :)

    Reply

  38. lia
    Jul 07, 2013 @ 06:14:25

    Senang sekali menemukan tukidan bpk ini. Saya dilanda kegalauan juga pak. Smoga bpk bsa mmberi saran kpda saya. Umur saya udah 28 alhmdulillh sudah bekerja. Saya sbnrnya pengen lanjut S2 dan akhirnya saya beranikan diri mengontak dosen di salah satu univ. di malaysia, beliau merespon baik. Di univ trsbt qt bekerja utk dosen tsbt jadi S2 qt gratis dan ada uang bulanan pula. Yg sya bingungkan ibu saya minta saya utk mnikah (blom ada calon juga sih pa hehehe) mengingat umur saya. Tapi knapa yaaa keinginan saya lanjut s2 lbh kuat dr mnikah. saya bnr2 bingung dngn kputusan yg harus saya ambil pa. Mohon saran dan pendapatnya.

    Lia,
    Senang sekali juga Lia bertanya masalah ini, biar memperkaya postingan saya ini dan komentar-komentarnya.

    Sebenarnya maksud pendidikan S2 kan – menurut pemerintah – memperpanjang antrian agar lulusan perguruan tinggi tidak segera masuk dunia kerja, karena kadang-kadang jumlah pekerjaan yang ada bagi lulusan baru perguruan tinggi sangat terbatas. Maka didirikanlah pendidikan S2. Itu beberapa tahun lalu.

    Tahun-tahun sekarang ini ekonomi Indonesia sudah agak maju jadi menemukan pekerjaan lebih mudah, nah berarti apa sekarang gunanya pendidikan S2 ? Yaitu untuk memperkuat landasan keilmuan kita, walaupun kita sudah menjadi pegawai. Makanya, alumni S1 yang mengambil S2 semakin banyak. Kalau trend-nya untuk universitas tempat saya mengajar S2 : mahasiswa yang baru lulus S1 akan mengambil program S2 reguler yang pertemuannya setiap hari (di universitas ini memang belum ada program S2 eksekutif), sedang mahasiswa yang sudah lama lulus S1 dan sudah mantap pangkatnya di bidang pekerjaan, akan cenderung mengambil program S2 Online, yang kuliahnya cukup membuka website dan menjawab pertanyaan dan menyerahkan pertanyaan tersebut sebelum “due date”-nya…

    Masalah S2 atau menikah ? Memang saya mengamati, posisi perempuan di Indonesia agak sulit mendapatkan calon suami. Pertama, di Indonesia perempuan “pamali” (ora ilok, tabu) “menembak” lelaki duluan. Kedua, kadang si perempuan sudah berani “menembak” lelaki, tetapi si perempuan jadi mikir-mikir karena punya orangtua yang punya 1000 kriteria buat sang calon suami nanti. Jadi masalahnya tidak segampang itu.

    Tapi message di posting ini Lia, kalau anda sudah lulus S1 dan sudah bekerja, tetapi belum ada rencana buat menikah segera, maka sebaiknya anda segera mengambil S2. Tidak perlu menunggu apa-apa, langsung mendaftar S2 saja. Apakah S2 di dalam negeri atau S2 di luar negeri, tergantung situasi keluarga (orang tua). Kalau keluarga membolehkan, ya ambil S2 di luar negeri adalah pilihan yang patut dipertimbangkan dengan serius. Kalau Lia sudah menghubungi universitas di Malaysia, wah itu bagus. Bisa juga ditambah menghubungi NUS (http://www.nus.edu.sg/admissions/graduate-studies/scholarships.php) atau NTU (klik di sini : http://admissions.ntu.edu.sg/graduate/scholarships/Pages/default.aspx).

    Begitu Lia, saran saya. Semakin cepat Lia mengambil S2, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, semakin baik. Selamat mencoba dan semoga sukses…

    Reply

  39. santi
    Jul 17, 2013 @ 11:57:41

    selamat siang pak..
    saya baru lulus SMA nih.. saya mau melanjutkan kuliah di PTS.. karena daftar di PTN ngga lolos..saya bingung antara mengambil sastra inggris atau akuntansi.. karena nantinya saya akan melanjutkan s2 . saya mau nanya s2 apa yang diambil jika saya lulusan sastra inggris atau akuntansi..
    terima kasih

    Santi,
    Sastra Inggris atau Akuntansi, keduanya sama baiknya, asalkan anda nanti kuliah dengan serius, pasti karier anda akan meningkat.
    Tentang Sastra Inggris, biasanya ada 3 bidang peminatan : a. Literature, b. Lingustics, dan c. English Education (di Amerika disebut TESL). Anda bisa memilih salah satu bidang yang anda paling minati. Begitu juga nantinya anda bisa ngambil S2 meneruskan bidang yang ada.
    Tentang Akuntansi, ini juga sangat menarik. Saran saya nanti anda ngambil lagi S2 Akuntansi, terus ngambil Sertifikasi lanjutan seperti : CIA (Certified Internal Auditor) atau CISA (Certified Information System Auditor). Saya sendiri pernah ngambil CISA.

    Reply

  40. Fina
    Jul 17, 2013 @ 13:49:34

    Terimakasi atas infonya pak .
    Saya juga dilanda masalah ini pak, mohon sarannya.
    Saya mahasiswi teknik elektro bidang telekomunikasi semester 8, kemungkinan lulus september 2013 dengan ipk >3.5. Saya masih bingung antara melanjutkan kuliah S2 atau langsung bekerja. Saya memiliki mimpi untuk bisa melanjutkan S2 di LN dengan jalur beasiswa setelah itu bekerja di perusahaan telekomunikasi disana (walaupun kemungkinan mendapatkan beasiswa ini cukup sulit saya pikir karena saat ini saya masi belum menyiapkan semuanya termasuk menghubungi professor atau mencoba apply beasiswa). Tapi orangtua berbeda pendapat dan menyarankan saya untuk langsung bekerja, karena menurut beliau mendapatkan kerja sekarang ini bukan hal yang mudah, dan takutnya lulusan S2 tetap susah mendapatkan pekerjaan.
    Berdasarkan peluang, lebih baik saya S2 sesuai mimpi saya atau mengikuti saran orang tua untuk bekerja?
    Mohon pencerahannya, terimakasih sebelumnya. :)

    Fina,
    Saya mempunyai jalan kompromi yang membahagiakan diri anda sendiri, maupun membahagiakan orang tua anda. Saya dalam memberi saran ini seolah-olah Fina adalah putri saya sendiri, jadi saya akan mencoba mencari solusi yang maksimal.
    Sebaiknya Fina melamar ke Nanyang Technological University (NTU) di Singapore, mungkin perlu menyurati mereka dari sekarang. Fina nanti bisa mendapatkan “full scholarship” dari mereka : membayar tuition fees, health insurance, travel expense (tiket pesawat pp), dan stipend (uang saku bulanan), mungkin book allowance juga. Setelah lulus S2 dari NTU yang memerlukan waktu 2-2,5 tahun, anda akan diminta bekerja lebih dulu di Singapore selama 2n (mis beasiswa 2 tahun, ya anda harus bekerja 4 tahun), jadi ini optimal sekali : anda bisa lulus S2 dari Singapore, dan dapat pekerjaan di Singapore pula.
    Karena IPK anda di atas 3.5, saya yakin anda akan bisa dengan mudah diterima di NTU, yang penting anda punya tekad kuat dan bulat, didukung oleh restu orangtua.
    Singapore itu dekat, cukup 2 jam perjalanan juga sudah sampai. Ortu kalau mau nengok anda di sana juga cuman berbekal passport, karena masuk Singapore kan tidak perlu Visa, Visanya adalah Visa On Arrival.
    Semoga sukses dan Salam…

    Reply

  41. siska
    Jul 24, 2013 @ 18:21:35

    Selamat malam pak..
    Akhirnya saia nemu juga topik yang sesuai dengan kegalauan saia saat ini..

    Saia lulusan Sistem Informasi dri universitas swasta di manado dgn IPK 3.80 pada Mei 2012.. Kmudian saia lanjut kerja proyek (freelance) d manado selama 5 bulan.. Awal tahun 2013 saia kembali ke kota saia di Ambon dan berencana untuk mengikuti seleksi CPNS yang akan diadakan bulan September ini.. Jadi dari awal tahun sampai saat ini saia belum bekerja.
    Tiba2 bbrp hari yang lalu saia ditawari oleh ibu saia untuk melanjutkan S2 d Jogja. Saia bingung karena saat ini saia sudah memantapkan hati saia dan mempersiapkan diri dgn bljr untuk mengikuti seleksi CPNS. Kedua orang tua saia bekerja sbg PNS (tapi ibu saia memiliki jabatan yang ckp menjanjikan di kantor), dan adik saia masih kuliah semester 7.

    Apakah saia harus menerima tawaran ibu saia untuk lanjut S2, atau tetap mengikuti seleksi CPNS sesuai dengan rencana awal saia??
    Dan jika saia lanjut S2, sebaiknya jurusan apa yang saia ambil? Saia tipe orang yang suka kerja kantoran.

    Terima kasih sebelumnya :)

    Siska,
    Selamat pagi Siska…
    Hmmmm….yang jadi dilema bagi Siska adalah waktunya bersamaan, antara melanjutkan S2 atau ikut test CPNS, ya berarti Siska harus pilih salah satu. Kalau saya jadi Siska, saya akan mendahulukan kesempatan ngambil S2, toh menjadi CPNS bisa sampai umur 35 tahun, jadi masih banyak waktu untuk Siska. Nanti pas sudah S2, melamar CPNS pasti lebih mudah daripada hanya bermodal S1.
    Kenapa Yogya, kok bukan Jakarta saja ? Kalau UGM mungkin ok, dan jurusan yang cocok dengan Siska biar “linear” ya ngambil MMSI (Magister Manajemen Sistem Informasi). Kalau benar MMSI, universitas tempat saya mengajar sekarang juga menawarkan program MMSI, bahkan bisa Online alias studi jarak jauh. Jadi kalau MMSI Online yang diambil, Siskapun sebenarnya bisa ikut test CPNS di Ambon/Manado…
    Begitu Siska, saran saya…

    Catatan : saat ini saya membimbing Thesis S2 MMSI Online, dari peserta di seluruh Indonesia

    Reply

  42. siska
    Jul 29, 2013 @ 12:28:44

    Terima kasih pak untuk sarannya.. Sangat membantu saia untuk memikirkan pilihan mengambil S2 dengan lebih serius..

    Saia masih punya beberapa pertanyaan, pak..
    1. Apakah jurusan MMSI ini banyak berhubungan dengan coding? Maaf saia menanyakan ini karena jujur saia tidak terlalu tertarik dengan coding dan memang agak lemah dalam mata kuliah tersebut. :(
    2. Saia sudah mencari info tentang kuliah MMSI online dari universitas bapak, dan dari website resminya ditulis bahwa pendaftarannya sampai tgl 22 Agustus 2013 (Gelombang 4).
    Jika seandainya saia terlambat mendaftar, kapan pendaftaran gelombang ke 5 akan dibuka? Apakah pendaftaran S2 online dibuka setiap jangka waktu 6 bulan? atau kurang dari itu?
    3. Koneksi internet di kota Ambon sendiri masih jauh dari memuaskan. Menurut bapak, jika saia jadi mengambil program S2 online, apakah saia bisa tetap belajar online mengandalkan koneksi modem seperti saat ini ataukah lebih baik saia mulai menggunakan jaringan internet LAN dari Telkom ( Telkom Speedy misalnya )?

    Terima kasih sebelumnya..
    Maaf jika saia banyak bertanya..

    Siska,
    1. Tidak kok, MMSI jauh dari masalah coding, apalagi di S2 sudah tidak ada coding lagi.
    Yang dibahas kebanyakan yang strategis saja.
    2. Justru kalau Siska dari Ambon mau ikut MMSI Online dari Binus, kita pengin tahu seberapa
    buruk sih, kalau memang bener buruk, koneksi internet ke Ambon ? Coba pilih sambungan
    internet yang tercepat, misalnya Speedy. Kalau masih lambat, nanti kita cari solusinya
    misalnya memberi bahan kuliah melalui Pos atau Tiki ? Nanti kan Siska punya banyak teman
    sekelas, dari seluruh Indonesia, bahkan beberapa dari luar negeri (walaupun masih orang
    Indonesia juga)…

    Reply

  43. Fian
    Aug 20, 2013 @ 13:29:44

    selamat siang pak..
    sebelumnya terimakasih atas postingan bpk karena membantu mencerahkan pikiran saya..

    perkenalkan saya fian, saya lg bingung dan butuh saran dari bpk jika bersedia..

    begini pak permasalahan saya.. saya berkeinginan melanjutkan s2 di luar negeri tp saya bingung dengan jurusan yg akan saya ambil.. sebelumnya saya lulus s1 hukum perdata (perburuhan) dan sekarang bekerja di bidang Event Organizer ( tidak berhub. dengan kuliah yg saya tempuh =) )

    pertanyaan saya :
    1. saya pengen kuliah s2 yg teori 30% dan selebihnya praktek jd setelah lulus saya sdh mempunyai keahlian, maka dari itu saya membutuhkan beberapa pencerahan dari bpk mengenai beberapa jurusan s2 diluar negeri yang nantinya saya dipermudah untuk mendapatkan pekerjaan atau langsung kerja di luar negeri ( disamping nilai kuliah saya nanti )

    2. negara mana atau universitas mana yg bisa menampung keinginan saya diatas ?

    3. menurut bpk, cara pemikiran saya benar atau tidak ?

    sekian pak pertanyaan dari saya.. terimakasih sebelumnya.. cheerss =)

    Reply

  44. mei
    Sep 15, 2013 @ 09:54:10

    Assalamu’alaikum
    Pak, mau nanya..Saya lulusan dari S1 Pendidikan Bahasa Daerah. Saya mempunyai keinginan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri (Kalau ada beasiswa), tapi saya masih bingung dalam memilih bidang study S2-nya (Karena saya tidak memiliki minat pada bidang bahasa dan sastra, tapi masih ada minat dalam bidang pendidikan). Menurut bapa, bidang study S2 yang bisa saya ambil apa aja yaa?? Oh iya, saya juga senang dg pelajaran matematika, karena keinginan orang tua saya jadi masuk jurusan bahasa daerah karena dianggap prospektif, tapi saya merasa kurang enjoy menjalaninya, apakah saya bisa kuliah di LN, tapi bidang study S1 tidak linier dg S2..Mohon saran dan pencerahannaya, terima kasih.

    Mei,
    Waduuuuh….Pendidikan Bahasa Daerah, dan ingin melanjutkan S2, kalau bisa di luar negeri ?
    Saya masih belum melihat keterkaitannya, dan kalau saya melihat keterkaitannya nanti tidak linier anda S1 dan S2-nya.
    Saran saya jangan nyeberang ke Matematika, karena belajar Matematika di luar negeri juga susah. Lebih baik mengambil Studi Kawasan Asia Tenggara (South East Asian Studies, atau South East Asian Languages).
    Coba deh lihat di National University of Singapore (NUS) di http://www.nus.edu.sg…..siapa tahu mereka menyediakan beasiswa, atau minimal partial scholarship…
    Tetap semangat dan maju terus Mei….

    Reply

  45. mei
    Sep 17, 2013 @ 03:34:27

    Iya nih Pak, sekarang lagi semangat nyari beasiswa. Biarpun ngga di luar negeri minimal ya di dalam negeri, tapi maunya sih nyobain sekolah ke luar negeri..hehe. Oh iya, kata dosen saya sih bisa ikutan beasiswa ke Leiden university di Belanda, tapi ikutan program asian studies. Kalau menurut bapa, jika saya ngambil study manajemen pendidikan atau teknologi pendidikan misalnya bisa ngga ya?, atau mungkin bapa punya saran lain, mohon pencerahannya lagi Pak, terima kasih atas responnya.

    Reply

  46. Anja Arowana
    Jan 18, 2014 @ 15:24:22

    iya bener banget ni tulisannya. aku mahasiswa udah semester lima, kadang masih terbersit perasaan ragu2 mau jadi apa. tapi aku pingin banget jadi rektor universitas. rektor muda kalo bisa.

    btw mampir diblog ane :)

    Destria a.k.a. Anja,
    Wah…cita-cita yang bagus….bisa dikejar terus tuh Des….hehe..
    Saya doa’kan selalu untuk kesuksesan Destria…

    Reply

    • saka
      Jan 28, 2014 @ 07:10:56

      Lumayan memberi pencerhan :)
      Kalo permsalahn aku ya pak, aku perempuan lulus s1 pendidikan geografi tahun 2013, ipk >3,00 tdinya aku ibgin lgsg lanjut s2 ttpi krn blm bs kmrn sy bkerja dlu mjd guru geografi.stelah sy geluti keinginan sy utk lnjut s2 mlah mkin mjdi. Krn sy ingin bkerja dsebuah badan yg berhubungan dg geografi.shingga sy ingin memilih s2 ny geografi murni yg d ui. Ttpi ortu memikirkan biaya hdp dsna dan jg kberatan ms sy dr pendidikan lriny k murni.sdkn sya mrsa kurang sreg utk mjdi guru. Mhon saran y pak terima kasih.

      Saka,
      Kalau saya jadi kakaknya Saka atau bapaknya Saka, tentu saya akan sarankan supaya Saka mengambil S2 Geografi di UI, biar tetap mendalami bidang Geografi murni, dan biar bisa linear nanti ilmunya.
      Cuman yang menjadi masalah kan sekarang biaya sekolah S2 di UI. Tetapi yang penting biaya awal saja kok, tentang biaya kuliah, saya dengar di Dikti ada beasiswa khusus untuk non-dosen, saya lupa namanya, tetapi bunyinya mirip “DKPP”, “SKPP” atau sejenis itu. Saya juga belum nemu websitenya. Tapi intinya, siapapun yang diterima sebagai mahasiswa S2 dan sudah masuk program, biaya kuliahnya bisa diganti dengan program beasiswa dari Dikti ini.

      Tetapi saya juga saran, kalau bisa mengambil S2 masih disambi kerja Saka, entah jadi Guru atau Dosen atau kerja apa saja, biar tetap ada pemasukan, sekalian sambil memberi sinyal kepada orangtua bahwa Saka tidak berminat membebani sepenuhnya ke orangtua.

      Salam dan good luck !

      Reply

      • saka
        Jan 30, 2014 @ 15:22:28

        Terimakasih pak saranya:) kalau sudah ad info beasiswanya mhn info ya pak..sy jg skrg sembari mncri info beasiswa.

        Saka,
        Ini ada info beasiswa, saya kirim japri via email

  47. steffani
    Feb 12, 2014 @ 09:31:22

    Mau tanya.. kan saya lulusan S1 Administrasi Negara, kalau mau ambil S2 Manajemen bisakah? Kalau tidak bisa, kira2 ambil apa ya? Karena saya berencana ambil beasiswa S2 di luar negeri. Terima kasih

    Steffani,
    Kalau Steffani mau jadi dosen, sebaiknya jurusan Steffani di S1 dan S2 “linear” alias sama atau mirip. Kalau S1 Steffani Administrasi Negara dan S2 Steffani Management, tentu menjadi tidak linear.

    Saya sarankan Steffani ambil aja Master’s in Public Policy atau Public Affairs, itu masih dipandang linear dengan Administrasi Negara. Nanti Steffani bisa bekerja di Pemerintah, BUMN atau menjadi Dosen.

    Mengambil Master’s in Management, tentunya bisa juga. Cuman Steffani akan kehilangan kesempatan menjadi dosen, yang menurut peraturan di Indonesia (SK Mendikbud) mempersyaratkan adanya “linearitas” jurusan S1 dan S2.

    Demikian my two cents, Steff…..good luck !!!

    Reply

  48. Arlex
    Feb 15, 2014 @ 02:48:27

    i n s p i r i ng

    Reply

  49. April
    Feb 21, 2014 @ 13:54:33

    Saya mahasiswa S1 jurusan pendidikan matematika yang InsyaAllah lulus mei 2014 dg IPK >3,5. Saya ingin melanjutkan studi ke S2, tapi saya masih bingung nih pak, sebaiknya saya ambil jurusan yang sama atau jurusan lainnya ya? saya sih lebih suka ke komputer2 gitu. Saya mohon saran dari Bapak jurusan yang sebaiknya saya ambil dan prospek ke depannya. Kalo bisa universitas yang recommended sekalian ya pak, hhehe. Terima kasih sebelumnya pak

    April,
    Sebenarnya tergantung anda nanti mau meniti karier di bidang apa ?
    Kalau anda mau jadi dosen, maka latar belakang pendidikan anda harus “linier” jadi kalau S1-nya Pendidikan Matematika ya S2-nya harus Pendidikan Matematika juga. Universitasnya bisa di UNJ atau UPI kalau anda tinggal di Indonesia. Atau kalau nilai Toefl anda tinggi anda bisa mencoba bersaing untuk mendapatkan beasiswa AMINEF, dan pilihkan Indiana University at Bloomington, Department of Mathematical Education….hehe…
    Tapi kalau anda mau meniti karier di bidang yang lainnya, tentu S2-nya tidak harus “linier” terhadap S1 anda dan anda boleh mengambil bidang S2 seperti “Magister Teknik Informatika” di Binus ataupun “Magister Manajemen” di universitas-universitas lainnya…

    Reply

  50. Haekal
    Apr 10, 2014 @ 08:46:56

    Hallo pak, saya adalah mahasiswa yang baru lulus dari jurusan jurnalistik, Unpad Jatinangor dan baru lulus setelah 14 semester, karena sempat banyak disibukkan dengan berbagai macam hal sehingga saya terpaksa lulus dengan IPK 2,80. Saya masih bingung antara langsung bekerja, atau S2 terlebih dahulu, tapi kebanyakan orang di sekitar saya menyarankan untuk langsung S2. Sayangnya, beberapa jurusan di beberapa kampus yang ingin saya tuju justru hanya menerima mahasiswa dengan IPK > 3,30 sehingga saya semakin bingung. Hehehe.
    Yang ingin saya tanyakan, apakah masih memungkinkan untuk melanjutkan studi S2? Dan bagaimana peluang saya mendapatkan scholarship untuk misal melanjutkan studi di luar negeri?
    Terima kasih sebelumnya, pak. Saya iseng-iseng saja sebelumnya sedang blog walking, tiba-tiba menemukan pencerahan melalui blog bapak,

    Haekal,
    Berarti masalah anda sama dengan saya dulu waktu mau melanjutkan studi S2 di dalam negeri karena IPK S1 saya hanya 2,59. Akhirnya saya belajar Toefl, GRE dan sebagainya dan bisa melanjutkan studi ke US. Jadi saran saya, gak perlu nunggu lagi, ambil aja beasiswa di Singapore, Australia, Nederlands, even US (tapi sudah telat, due date 15 April kemarin)..

    Reply

    • Ayu
      Jun 06, 2014 @ 12:39:34

      saya barusan lulus dengan ipk 3,71 jurusan hukum. saya ingin melanjutkan studi diluar negeri tapi yg ada hubungannya dengan notaris. menurut bapak, apa ada universitas luar negeri yg cocok dengan jurusan hukum perdata kenotariatan? terimakasih.

      Reply

  51. elliza
    May 24, 2014 @ 21:54:11

    assalamualaikum pak. saya lulusan administrasi negara di PTN dengan ipk 3,01 saya mau minta solusi pak, suami saya mau menetap dimalaysia karena sudah kerja disana dengan otomatis saya harus ikut suami,tp saya minder dengan kemampuan saya, bagaimana peluang kerja disana dengan jurusan saya?apa saya harus melanjutkan kuliah s2 dlu disana agar mendaptkan pekerjaan?

    Reply

  52. wildan
    Jun 01, 2014 @ 18:27:03

    sebelumnya perkenalkan nama saya wildan……
    saya mau bertanya, apakah klau kita melnjutkan S2 harus sesuai prodi S1 kita… saya bener2 bingung, biar kelak kemudian saya nggak mexesal….. soalnya tahun ni saya mau masuk kuliah

    Reply

  53. irwanda wirasaputra
    Jul 03, 2014 @ 08:25:23

    Assalamualikum,,

    Mohon bantuan dan sarannya, saya kuliah S1 di ISTN teknik elektro telekomunikasi Jakarta kelas karyawan. Dulunya D3 di universitas Telkom system information. Saya berencana melanjutkan kuliah s2 di LN (eropa) melalui jalur beasiswa. Cuman saat ini kebingungan untuk jurusan yang akan dipilih, mengingat kebanyakan syarat jurusan yang harus di ambil sejalur atau setidaknya mendekati jurusan pada saat S1.

    Apakah ada saran perihal jurusan jurusan yang bisa saya lanjutkan, apakah memungkinkan untuk melanjutkan dibidang management IT?

    Terima kasih sebelumnya :)
    Wassalaam

    Reply

    • irwanda wirasaputra
      Jul 03, 2014 @ 08:27:45

      Menambah lagi informasi ..
      Dan saat ini saya sudah memiliki pengalam kerja disalah satu perusahaan telekomunikasi international di Jakarta, kurang lebih saya sudah memiliki pengalaman hampir 2 tahun dan alhamdulillah telah memiliki sertifikasi international yang berhubungan dengan telekomunikasi..
      :)

      Reply

  54. faizah
    Aug 16, 2014 @ 12:48:11

    berada di website ini serasa minder banget.. boro-boro s2 …
    s1 pun saya belom. hanya lulusan sma. yang punya cita cita setinggi langit.
    tanpa tahu bahwa diri saya dari keluarga sederhana. bekerja untuk kuliah? sama saja dg tidak membantu beban mereka.
    bagaimana pak.?? saya harus bekerja untuk kuliah? atau mengubur cita cita saya. dan hanya membantu orang tua?
    mengingat prestasi saya mulai dari sekolah dasar hingga SMA ini cukup membanggakan bagi saya. ..saya selalu menjadi wakil sekolah atau kkm untuk mengikuti olimpiade. da.saya salah satu murid kebanggaan di sekolah2 saya.
    dan sekarang sudah setahun saya lulus dari sekolah menengah atas.
    galau harus memilih menerima kenyataan atau mngejar mimpi. .

    Reply

  55. andi
    Aug 20, 2014 @ 01:47:29

    Senang bisa nemu blog ini sangat bermanfaat skali,😀 nama saya Angga saya sedang kuliah di PTS trisakti smt 3 mengambil jurusan akun , Saya sedang galau banget Pak :” saya smt 1 memiliki ip 3.6 dan smt 2 mendadak anjlok krn ingin coba tes ptn lg al hasil ip saya smt 2 nya 1.9 :” (ptn ga dapet ) yg ingin saya tanyakan :

    1.kesempatan saya lulus 3.5thn masih bisa tp ipk mentoknya 3.7 sedangkan kalau lulus 4 thn ipk saya bisa 3.9 ,menurut bapak gimana? Mohon jawabanya pak saya sangat galau :”

    2.CV yg dilirik oleh perusahaan” ternama semacam unilever , nestle dll seperti apa sih pak ,khususnya bagi lulusan pts ,krn jujur saya takut dengan pesaing” dr ptn” favorit semcam ui pak jd apa yg harus saya lakukan

    3.terakhir apakah setelah lulus nanti sebaiknya saya melanjutkan ke s2 di PTN/LN agar lebih dilihat oleh perusahaan

    terima kasih pak , mohon jawabanya yah pak saya sedang butuh masukan biar ga galau mulu :”

    Reply

  56. Angga
    Aug 20, 2014 @ 02:24:17

    Assalamu’alaikum pak senang skali bisa menemukan blog ini , nama saya angga, saya sedang kuliah di PTS trisakti smt 3 jurusan akun , saya memiliki masalah pak :” yaitu saat smt 1 ip saya 3.6 akan tetapi saat smt 2 saya fokus untuk test ptn lg tp ga ketrima akibatnya ip saya jd 1.9 :”( yg ingin saya tanyakan

    1. Saya masih berpeluang lulus 3.5 thn tapi ipk saya max cuma bisa 3,7 tapi kalau 4thn ipk saya bisa 3, 9 menurut bapak gimana?berhubung lulusan PTS kan katanya musti ipk nya tinggi biar pas ngelamar dilihat

    2.Saya butuh bgt masukan pak , CV yg seperti apa kah yg dilihat oleh perusahaan” ternama seperti UNILEV** dan NEST** berhubung saya ingin skali kerja disitu , CV seperti apa agar saya bisa bersaing dng lulusan PTN” ternama

    3. Apakah saat lulus nanti sebaiknya saya melanjutkan ke s2 di ptn agar lebih di lihat perusahaan”? Akan tetapi saya memiliki adik yg menjadi tanggungan saya pak

    mohon jawabanya yah pak saya sangat butuh masukan :” terima kasih pak wassalamualaikum

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 324 other followers

%d bloggers like this: