Sebenarnya menjawab masalah di atas gampang-gampang susah, banyak faktor yang perlu dipertimbangkan selulus S1 apakah sebaiknya langsung kerja, nerusin sekolah S2/S3, atau kerja sambil sekolah : 1. Berapa IPK anda ? 2. Apakah anda harus membiayai hidup orang tua atau adik2 anda ? 3. Apakah anda sudah mempersiapkan diri melanjutkan sekolah S2/S3 ? 4. Apakah anda punya pacar yang ngajak nikah segera ? 5. Apakah anda sudah survey tentang beasiswa sekolah di LN atau mengontak seorang professor di department universitas yang anda tuju ? 6. Apakah anda sudah survey tentang beasiswa sambil kerja di LN ?
Dan satu lagi yang perlu diingat, “Opportunity rarely knocks twice”..
Pertama, jika anda lulus S1 dengan IPK yang bagus misalnya > 3.00 apalagi kalau > 3.50 maka sebaiknya anda memutuskan sekolah lagi minimal ke S2. Jika anda punya IPK > 3.50 (cum laude atau honor) mestinya andapun layak langsung sekolah ke S3 tanpa melalui S2..Sayang sekali kalau IPK anda bagus anda langsung kerja.. Langsung kerja mestinya cocok bagi seseorang yang IPK-nya < 3.00 karena bagi golongan orang ini melanjutkan sekolah justru tidak masuk akal dan yang lebih masuk akal adalah bekerja dulu 1-2 tahun baru melanjutkan ke S2..
Kedua, jika anda harus membiayai hidup orangtua atau adik2 anda selepas lulus S1, maka langsung bekerja adalah pilihan yang masuk akal. Jika anda harus sekolah S2 dulu, maka resource yang anda punya sudah habis untuk membiayai keluarga, kecuali anda memperoleh beasiswa termasuk uang saku (stipend) yang besar..
Ketiga, jika anda sudah mempersiapkan diri untuk melanjutkan sekolah ke S2/S3 seperti nilai TPA yang bagus, nilai TOEFL >= 600 (atau IELTS >= 7.5), nilai GRE >= 1800 maka anda sudah membuktikan diri bahwa anda siang sekolah lagi, tidak hanya di DN tapi juga di LN..
Keempat, jika anda sudah punya pacar yang mau ngajak nikah segera dan pacar anda kebelet nikah begitupun anda, maka lebih baik anda menikah dulu dan untuk membiayai keluarga baru anda sebaiknya anda memutuskan langsung bekerja dan menunda keinginan melanjutkan ke S2/S3..
Kelima, kalau anda sudah mengontak seorang professor di department universitas yang anda tuju dan dia memberikan tanggapan dan harapan yang besar, apalagi jika dia menginformasikan disediakan beasiswa pula, maka sebaiknya anda melanjutkan ke S2/S3 dan melupakan bekerja mengingat ini kesempatan jarang (..ingat opportunity rarely knocks twice…)
Keenam, jika anda sudah survey mengenai melanjutkan Master’s atau Ph.D. ke luar negeri sambil bekerja (anda mendapat loan untuk kuliah tapi untuk membayar loan tersebut anda harus sambil bekerja), maka sebaiknya pilihan ini yang diambil karena pilihan keenam ini menjawab semua masalah yaitu bekerja ya melanjutkan studi ya..
Kebetulan saya mempunyai tiga orang keponakan, sebut saja namanya A, L, dan N yang masing-masing menempuh jalannya masing-masing dan saat ini sudah happy dengan pilihannya :
Si A adalah lulusan S1 bidang IT dari PTN ternama di Jawa dengan IPK > 3.00 tapi masih di bawah < 3.5, sehingga A akhirnya memutuskan langsung bekerja mungkin karena langsung bekerja itu pilihan terbaik menurut pendapat A. Saat ini A sudah bekerja selama 3 tahun, mempunyai career path yang mantap, sudah menikah dan kelihatannya mulai settle dengan keluarga yang mantap.
Si L adalah lulusan IT juga dari sebuah PTN ternama di Jawa, dengan IPK > 3.00 tapi masih < 3.50. L selepas lulus langsung bekerja sebagai software developer selama 2 tahun, tapi ketika ada tawaran untuk mengambil program Master’s di suatu universitas di negara yang sangat maju dengan biaya pinjaman dan harus bekerja untuk mengembalikan pinjaman itu, L memutuskan untuk mengambil kesempatan ini karena sejak awal L sudah bercita-cita untuk melanjutkan sekolah di negara maju ini. Saat ini L sudah bekerja di salah satu kota besar di negara maju tersebut sambil menyelesaikan kuliahnya yang tinggal 10 bulan lagi.
Si N adalah lulusan EE dari institut ternama di Jawa dengan IPK > 3.7, selepas wisuda S1 beberapa bulan yang lalu N ditawari beasiswa untuk melanjutkan S2 di institut tempat ia kuliah S1 dulu. Saat ini N sedang menempuh kuliah semester pertama dari program 2 tahun untuk menyelesaikan S2.
Siapakah saat ini (Nopember 2007) di antara A, L dan N yang paling mantap dengan pilihannya ? Mestinya kalau pilihan apakah langsung bekerja, meneruskan sekolah, atau meneruskan sekolah sambil bekerja itu dijalani dengan sepenuh hati dan penuh keyakinan, tentulah masing-masing mereka merasa mantap dengan pilihannya..
Siapakah 5 tahun lagi (Nopember 2012) di antara A, L dan N yang paling bahagia dengan pilihan yang dipilihnya 5 tahun yang lalu (Nopember 2007) ?
I can not tell for sure….tergantung kepada masing-masing untuk memahami bahwa apa yang dipilihnya pada hari ini adalah yang terbaik..
“Opportunitu rarely knocks twice”.. yang namanya kesempatan itu tidak pernah datang dua kali. Jadi, baik A, L atau N bila ketemu kesempatan yang baik sebaiknya langsung diambil saja karena kalau sekarang tidak diambil siapa tahu kesempatan itu tidak pernah datang lagi.. Sekarang tergantung dengan apa yang didefinisikan dengan “kesempatan” itu ?
Semua orang punya cita-cita, seperti misalnya cita-cita saya adalah “muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga”. Maka untuk mengejar cita-cita saya tersebut sewaktu muda saya harus bekerja keras (sehingga bisa foya-foya), mulai mengambil pendidikan lanjutan (S2/S3) dan barangkali memulai bisnis ataupun berinvestasi (agar tua bisa kaya raya), dan tentunya juga mengingat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi kita kehidupan, rezeki, berkah, dan rahmah, sehingga sayapun perlu sering-sering “menghadap”Nya dalam bentuk sembahyang, dzikir, puasa, dan sedekah (sehingga mati nanti bisa masuk surga)..
That’s my two cents… (inilah nasihat saya yang barangkali ada gunanya bagi Anda).
Ciao..!
22 responses so far ↓
edratna // November 7, 2007 at 7:41 am |
Alternatif yang bagus….kalau saya pilih lanjut sekolah. Mengapa saya dulu harus bekerja setelah lulus? Karena ayah ibu sudah tua, masih ada dua adik yang menunggu dibiayai dan saat itu sedang kuliah di PTN…jadi akhirnya bagaimana memilih bekerja yang bisa saving, dan sedikit-sedikit meringankan beban orangtua.
tridjoko // November 7, 2007 at 8:55 am |
Pengalaman pribadi saya dulu malahan harus memutuskan apakah setelah bekerja mau ngambil Master’s dulu atau menikah dulu, maklum udah tunangan. Kalau sekolah dulu kasihan tunangan ditinggal selama 2 tahun, tapi kalau menikah dulu kesempatan sekolah bisa tertunda.
Eeee..di tengah-tengah pusing ternyata boss saya, Pak Billy Joedono, pindah tugas dan tidak menjadi boss saya lagi. Padahal beliau yang nyuruh-nyuruh saya sekolah lagi. Akhirnya solusi ketemu, dan saya menikah dulu, sekolah bisa dilakukan belakangan (ternyata 4 tahun setelah saya menikah saya akhirnya berangkat ke AS, setelah saya mempunyai 2 puteri yang cantik-cantik)…
Nino Menova // November 8, 2007 at 9:06 am |
Pagi pak,
maaf nga tau mau naruh comment dimana, ini alamat weblog saya pak ninomenova.wordpress.com
Terima kasih ya pak..
liswari // November 14, 2007 at 11:13 am |
wah Om kok jadi kayak race gitu ya ..hehehe, gak denk justru motivasi sebenarnya…:-p
Mmhh kalau kebahagiaan kayaknya berbanding lurus dengan rasa bersyukur kali ya. Pilihan apapun yang sudah dan akan dibuat asal di tekuni dan dijalani dengan sungguh2, pasti akan membuahkan hasil sendiri.
Semoga 5 tahun lagi (Nov 2012) A, L ataupun N sama2 bahagia dengan pilihannya.
tridjoko // November 14, 2007 at 5:16 pm |
Ya mbak Lis, sebenarnya pilihan yang dibuat oleh A, L atau N sama bagus.
Pilihan tersebut tidak bisa dibalik atau ditawar begitu saja karena itulah kesempatan (opportunity) yang ada di depan mata.
Ingat teknik “hill climbing” di Artificial Intelligence ? Pilihan terbaik adalah yang terbaik dari berbagai pilihan yang ada di depan mata. Dan pilihan terbaik di depan mata itulah yang harus diambil..
Selama A, L dan N tidak mengeluh, bersyukur, dan merasa mantap dengan pilihannya, saya pikir masa depan A, L dan N akan sama baiknya.
One way or another. Isn’t it ?
liswari // November 14, 2007 at 10:07 pm |
Om kalau si L yang katanya sedang kuliah sambil bekerja di negara maju mendapat tawaran untuk bekerja tetap di perusahaan tempatnya bekerja sekarang (di sponsori visa kerja H1B), menurut om apa yang L harus lakukan?
irfani // December 6, 2007 at 2:00 am |
tulisan yg bagus, bwt saya.
sebagai pertimbangan rencana masa depan.
btw, punya info beasiswa ke gulf ga pak? syarat, lowongan
tridjoko // December 7, 2007 at 12:42 am |
Hallo Irfani : thanks komentarnya.
Beasiswa ke Gulf sangat jarang untuk CS atau engineering, kebanyakan untuk pendalaman Al Quran, jadi yang eligible kebanyakan anak-anak lulusan pesantren macam Gontrol (untuk S1 di Saudi Arabia, misalnya), atau untuk lulusan UIN Jakarta (untuk S2 atau S3)..
Itu yang saya ketahui lho. Kalau dari Gulf, kebanyakan malahan tawaran kerja. Itupun kebanyakan bagi Chem. Engineer, Geologists, dan Geophysicists, kebanyakan ke Qatar atau Abu Dhabi..
Sekali lagi, itu yang saya tahu loh..
Resi Bismo // January 10, 2008 at 12:20 am |
judul yang mantaf nih, sesuai dengan dilema yang saya hadapi.
Saya sedang menimbang2 apa lanjut s3, sebab projeknya lanjut nih atau pulang ke indo mencari kerja, sebab boring man nungguin experimen di lab.
Ada saran tidak?
salam
Mohammad // August 18, 2008 at 10:36 am |
Terimakasih Ca’ atas infonya, doain kita2 agar bisa lancar segala usahanya ( yang terpenting mudah-mudahan tetep semangatz terus)..
tridjoko // August 18, 2008 at 3:25 pm |
–> Mohammad :
Terima kasih kembali…
Irwan // September 7, 2008 at 1:32 am |
Salam kenal pak saya Irwan…meskipun terlambat menemukan blog bapak, terima kasih banyak atas semua cerita bapak, menggugah sekali.
hingga detik ini saya selalu bercita-cita menjadi dosen pak, hanya saja mengingat biaya S2 ga ada yang murah, saya pending dulu deh cita-citanya he5x… btw untuk point 2&3 saya safe pak(saya bungsu dan alhamdulilah keluarga saya sehat, lalu saya belum menemukan calon pendamping yang cocok hahahaha…) saya baru lulus sastra Jepang unikom bandung dengan ipk 3.00(jauh dari kategori ‘sexy’ ya pak?), kegiatan saya sekarang bagi-bagi ilmu dengan mengajar privat bahasa jepang beberapa anak sma dan Japanese lovers, menurut bapak apa yang sebaiknya saya lakukan untuk beberapa waktu ke depan?(mengingat hasrat untuk meneruskan cita-cita masih tinggi pak). seandainya saya membidik beasiswa S2 ke luar negeri, ilmu apa yang sebaiknya saya ambil selain bahasa jepang(karena susah sekali mencari full scholarship di jepang).
oiya pak, sebenarnya pengaruh enggak sih faktor gender professor yang kita kontak?
Terima kasih ya Pak
tridjoko // September 7, 2008 at 7:28 am |
–> Irwan :
Hallo mas Irwan, salam kenal juga… Sebenarnya kalau anda lulusan Sastra Jepang, tidak harus lho anda ngambil S2 Sastra Jepang dan nantinya S3 Sastra Jepang juga…
Anda harus pandai-pandai “bermimpi” dan bayangkan nantinya anda akan jadi apa ? Menurut saya anda bisa kok melanjutkan ke hubungan internasional kajian Jepang, atau bahkan ke Computer Science seperti saya (teman saya di Indiana Univ dulu ada Ph.D student yang S1-nya adalah Sastra Jerman, dia orang Korea dan sudah lulus Ph.D dan sekarang ngajar di Korea, satu teman lagi cewek Taiwan dia dulu S1nya Sejarah !!!)…
Jadi, perbanyak mimpi anda. Buat Plan A, Plan B, Plan C, Plan D dan Plan E. Hubungi professor di universitas yang anda taksir, kirimi dia email dan nyatakan keinginan anda untuk melanjutkan studi di sana…
Gender professor nggak ngaruh, tapi MINAT PENELITIAN professor harus match dengan minat anda. Kalau saya boleh memilih, saya akan memilih professor laki-laki daripada perempuan..mungkin karena saya “alergi” terhadap wanita….hahahaha….
Irwan // September 9, 2008 at 1:52 am |
wah, terimakasih sekali masukannya pak… awalnya saya kira jurusan saya(sastra) ya cuma mentok disitu-disitu aja,maklum kurang gaul pak, bertahun-tahun maennya ama kamus kanji melulu hahaha…
seandainya saya ikut jejak bapak ke computer science, adaptasinya bakalan susah enggak pak? sewaktu kuliah di unikom saya sempet diajarin ilmu komputer juga sih, tapi karena jurusannya sastra jepang, jadi ya cuma pengenalan-pengenalannya aja yang saya dapat(ga terlalu mendalam gt pak)…oiya pak, kira-kira klo di computer science bagusnya saya mengkaji apa?(mohon petunjuknya ya pak he5x)
mengenai gender jadi ceritanya gini pak, saya sempat nyobain ngontak beberapa professor di sana, meskipun lamaa banget dapet replynya alhamdulilah akhirnya ada juga satu dua professor yang reply, dan beliau-beliau ini menganjurkan saya untuk mencoba bersaing dulu di monbukagakusho… setelah saya sadari koq yang reply tuh professor wanita semua sih he5x
jangan-jangan “alergi” bapak ada sejarahnya juga nih ^^
thanks a lot sir
tridjoko // September 9, 2008 at 3:40 pm |
–> Irwan :
Yah..kalau anda ingin “pindah jalur” dari Sastra Jerman ke Computer Science yang anda bisa ambil Spesialisasi Artificial Intelligence dengan sub spesialisasi Natural Language Processing..
Mengenai gender professor, itu yang namanya kebetulan alias coincidence alias serendipity…
Irwan // September 10, 2008 at 9:03 pm |
ooo jd gt ya…
sekali lagi terimakasih banyak untuk sarannya ya pak ^^
Agung // September 15, 2008 at 2:55 pm |
Pak,
numpang tanya lg.
pd saat mengontak profesor di univ dan department yg kita tuju,
apa aja yg hrs dikatakan yah??
dan kpn wkt yg tepat buat mengontak profesor itu??
wkt semester akhir??
ato setelah lulus??
ato sekarang jg??
terima kasih sebelumnya..!!
tridjoko // September 19, 2008 at 7:57 am |
–> Agung ;
Wah..pertanyaan yang sulit….. ;-(
Sebenarnya ada yang lebih penting dari ngontak professor, yaitu membuat IPK anda semakin “sexy”, begitu juga TOEFL dan GRE anda juga harus “sexy”…
Pertanyaannya, buat apa ngontak professor in the first place ? Apa point-nya ngontak professor ? What for ?
Ngontak professor perlu bila :
a) Anda compete untuk mendapatkan scholarship sehingga anda harus melakukan “beauty contest” di depan pemberi scholarship (university, lembaga donor, dsb)
b) Anda mau melanjutkan ke Ph.D
Nah, kalau anda :
a) Belajar melanjutkan sekolah di sono dengan BIAYA SENDIRI
b) Cuman ngambil Master
ya nggak perlu ngontak professor di sono, cukup professor di sini aja…alias Pak Tri Djoko…
Hahahaha….
p.s. : Professor itu jabatan akademis yang penting sekali, jangan ganggu beliau-beliau itu dengan hal-hal remeh-temeh, kecuali memenuhi syarat a) dan b) di atas. Hal-hal tetek bengek (nitty gritty) cukup ditanyakan ke Director of Admission dari setiap School/Faculty…
Agung // September 19, 2008 at 6:50 pm |
OOOOOOoooooo….!!!!
yayayayayaya…!!
mengerti Pak.
hahahahahhaa…!!
tridjoko // September 20, 2008 at 9:51 pm |
–> Agung :
Setelah saya pikir-pikir jawaban saya ke anda di atas salah lho…
Anda kenal Nathanael kan ? (Coba baca posting saya “Stanford atau Yale, Pak ?”). Dia bimbingan skripsi saya semester ini dan anak TI-STAT. Dia mau melanjutkan Master/Ph.D ke AS dengan topik disertasi “Behavioral Psychology” atau “Cognitive Science”. Saya tahu ia telah diskusi dengan seorang professor di U. Penn dan saya telah ditunjukkan jawaban Prof di sana yang sudah mengarah ke proposal disertasi gitu….
Hehehe…cuman saya nggak tahu apakah anda seserius Nathanael, Gung ?
Soalnya lagi, yang anda akan ambil di S2 kan MBA kan ? Ilmunya terlalu umum dan mungkin sulit untuk berkomunikasi dengan prof di sana kecuali anda tertarik dengan bidang tertentu di program MBA anda nanti…
alris // February 2, 2009 at 8:41 pm |
Otak saya sekarang udah gak mudeng buat sekolah lagi, gak tau kalo ada miracle. Eh, kata temen miracle harus diciptakan, betul gak pak?
Tul…
ika // February 20, 2009 at 2:33 pm |
salam kenal pak…
sungguh ini berita yg sangat bagus skali sehingga membuat saya lebih semangat dan ingin menggapai cita” setinggi mungkin.
saya putri pertama dari lima bersaudara,hidup dalam keluarga yg sederhana dan sedang kuliah di salah satu universitas di jawa.
sering kali saya merasa bingung dan putus asa…
sebagai anak sulung saya ingin bisa meringankan beban biaya ortu….
oleh kerena itu saya ingin bekerja,tapi saya belum bisa membagi waktu antara aktifitas kuliah yang padat dan keinginan untuk bekerja..
saya anak yg pemalu & saya sangat merasa bersalah terhadap ortu karena blm bs membantu financial beliau..
mhon bantuan solusinya,terima kasih
Ika,
Jika anda berasal dari keluarga sederhana dan anda anak pertama dari 5 bersaudara, sebaiknya setelah percepat kelulusan anda. Semakin cepat lulus semakin baik. Setelah itu cepat cari kerjaan dan bantu orang tua (minimal meringankan beban beliau)..
Sebaiknya anda nanti juga menikah dengan anak bungsu, yang tidak punya adik, sehingga pasangan anda juga bisa membantu keluarga anda..
Masalah lanjut sekolah ke S2 atau S3 bisa dipikirkan sambil jalan. Nanti pasti ada jalannya. When there is a will, there is a way…