Kuliner masa kecil : mbug-mbug, laron, katimumul, walang

Ada saat-saat seluruh Indonesia menderita kekurangan pangan, begitu pula kota masa kecilku Madiun di sekitar tahun 1964-1965. Beras begitu mahal dan nyaris tak terbeli oleh orang kebanyakan, sehingga sebagian besar rumah tangga terpaksa mengonsumsi beras yang dicampur dengan jagung atau singkong. Bahkan bagi sebagian besar rumah tangga di kotaku, bukan rahasia lagi mereka tidak lagi mampu membeli beras dan hanya makan jagung atau singkong yang diberi parutan kelapa dan garam.

 

 

Bagi yang paling menderita, terpaksa makan dengan sejenis ”jagung jali” atau sorgum (mestinya makanan ternak !), atau beras TEKAD (butiran “beras” yang terbuat singkong)…

 

Untungnya keluargaku masih bisa makan beras. Ayah dan ibuku yang keduanya bekerja sebagai guru yang notabene pegawai negeri, masih bisa menerima jatah beras mungkin sebulan masing-masing pegawai negeri menerima 10 kg beras pada saat itu. Tapi keluarga kami beserta saudara-saudara yang ikut di rumah mungkin terlalu banyak, sehingga jatah beras akan habis pada tanggal 20an, dan sisanya terpaksa makan jagung… 

Itulah alasan mengapa saya sekarang senang menonton acara TV yang memperlihatkan anak-anak daerah, terutama di Indonesia Timur, yang mencari makan apa saja dari hasil laut seperti ikan, kerang dan bintang laut, sampai dengan hasil darat seperti tikus ! Misalnya ”Surat dari Sahabat” yang ditayangkan TRANS-TV, saya dan keluarga saya sangat menikmatinya, seolah tayangan itu disengaja oleh stasiun TV bersangkutan untuk menggugah masa lalu kami yang ”kelam” tapi sekaligus ”menggembirakan”… 

”Nature is a supermarket”, kata Brad Friedl, seorang ranger Australia yang konon belajar hidup di alam liar dari orang-orang Aborigin, dalam tayangan kalau nggak salah namanya ”Animal Planet” yang ditayangkan berulang-ulang kalau tidak salah (!!) oleh Lativi… 

Tayangan ”Animal Planet” yang bintangnya selain Brad Friedl adalah Steve Irwin ini sangat disukai juga oleh keluarga kami, sebelum akhirnya tayangan itu untuk sementara dihentikan barangkali untuk menghormati kematian Steve Irwin karena tertusuk duri beracun ikan pari yang “dibelainya” saat menyelam dalam rangka pengambilan gambar di Gold Coast… 

Kalau almarhum Steve Irwin kayaknya mahir dalam menangkap binatang melata besar seperti ular dan buaya, maka Brad Friedl kelihatannya lebih jago dalam ”jungle survival” dengan makan apa saja yang ada di alam liar, baik hutan, gurun, rawa ataupun laut, dan sangat tahu bagaimana caranya harus menangkap binatang buruannya itu… 

Ada satu tayangan yang saya teramat suka melihatnya mengingat kata Brad Friedl ”Nature is supermarket” itu. Tayangan itu berulang kali diputar oleh TV, tapi saya terus-terusan nonton dan tidak pernah bosan. Yaitu ketika Brad Friedl ingin ”berpesta besar” dengan memanggang ikan, tikus hutan, kepiting, dan membuat semacam sosis dari usus binatang yang diisi dengan berbagai jenis seafood (sayangnya di Indonesia, adegan ”makan tikus” itu kelihatannya disensor..).. 

Sebenarnya masa kecil saya di Madiun tahun 1960an dulu persis masa kecilnya Brad Friedl. Bedanya, kalau Brad Friedl belajar berburu dan jungle survival dari temannya orang-orang Aborigen di Australia, maka saya belajar berburu dan jungle survival dari teman-teman kampung saya di Madiun.  

Jika di tahun 1960an para orangtua kebingungan bagaimana caranya memberi makan kepada keluarganya, maka kami anak-anak kecil sama sekali tidak merasa sedih dan berusaha untuk mencari makanan atau “snack” kami sendiri yang tersedia secara gratis dari alam sekitar…

Seperti anda tahu, di tahun 1960an alam Indonesia masih asli, asri, dan terpelihara sepenuhnya oleh pemerintah. Madiun masih dikelilingi hutan jati yang sangat lebat di sebelah barat yaitu di Ngawi dan di sebelah timur yaitu di Saradan. Modal asing seperti dari Jepang, Eropa dan Amerika belum masuk, sehingga namanya “intensifikasi pertanian” yang menggunakan banyak pupuk dan pestisidapun belum ada.. 

Pak De saya di Desa Pintu, kecamatan Pagotan, Madiun, masih suka mengail ikan di sungai. Jika kami keponakannya pada datang ke rumah beliau di Pagotan, Pak De akan bilang “Sebentar ya, Pak De mau mancing ikan dulu”. Maka 20-30 menit kemudian, Pak De sudah pulang dengan membawa satu renteng hasil memancing berbagai macam ikan : lele, gabus, sepat, sili, dan wader yang diikat dengan tali “tutus” (tali dari bambu).. 

Itu di desa Pak De yang jaraknya sekitar 10 km di sebelah selatan kota Madiun. Di desa saya di Madiun, kami anak-anak SD waktu itu, mudah sekali mencari “mbug-mbug” di sela-sela akar pohon turi. Mbug-mbug adalah sejenis ulat yang senang sekali sembunyi di akar pohon turi (pohon turi juga penghasil “kembang turi” yang amat sangat sedap dibuat sayur campuran pecel). Warnanya merah muda dan sebesar jempol anak kecil, kira-kira diameter 1 cm dan panjangnya 8 cm. Ulat itu penuh dengan protein, sehingga cara memakannya cukup kami bakar dengan kayu bakar yang kami dapatkan dari sisa-sisa pohon yang mengering, atau dibawa pulang dan menyuruh Ibu kita menggorengnya. Rasanya, mirip kalau tidak lebih enak daripada udang !!!..Gratis dari alam !!!

Karena pestisida belum banyak digunakan pada waktu itu, maka mbug-mbug dengan leluasanya beranak-pinak di akar pohon turi, ikan-ikan masih berseliweran di sungai-sungai yang masih rimbun atau di sawah-sawah, dan “ulat jati” banyak terdapat di dekat akar pohon-pohon jati di Ngawi.

Makanya jika kita naik mobil dari arah Madiun ke Solo atau sebaliknya, di sepanjang hutan jati Ngawi akan banyak ditawarkan di pinggir jalan “ulat jati” yang dibungkus dengan daun jati.. Di alam liar atau kalau di Australia disebut “bushes” (dibaca “bus sis”), orang-orang “outback” (orang pedalaman yang jauh dari kota) sangat suka makan ulat-ulat yang banyak terdapat di alam liar Australia. Jenis dan besarnya ulat-ulat ini persis dengan mbug-mbug yang saya tangkap di Madiun.

Bahkan saya ingat, ketika di tahun 1980an waktu Jakarta Fair masih di silang Monas Jakarta, pada stand Australia setiap malam didemokan orang bule outback Australia yang makan ulat yang biasa terdapat di bushes ! Luar biasa, mestinya teman-teman saya di Madiunpun bisa mendemokan hal yang sama..! 

Sebenarnya makanan yang enak tidak hanya mbug-mbug yang merupakan ulat pohon turi. Ada lagi sejenis kumbang kecil yang banyak terdapat di lapangan-lapangan yang ada di kota Madiun yang disebut “katimumul” (pada tahun 1960an, di sebelah barat dan selatan SMA 1 Madiun masih banyak terdapat lapangan). Ukuran katimumul ini lebar 4 mm dan panjang 1 cm. Biasanya kalau malam hari katimumul keluar dari lubangnya dan kita tinggal membawa tampah (nampan) untuk menangkapnya. Biasanya satu orang teman sekali berburu di malam hari akan mendapat sekitar 1 ons katimumul, yang bila digoreng rasanya ehm…ehmm…sangat lezat karena banyak protein yang dikandungnya !…

Di hari-hari pertama musim hujan di Madiun tahun 1960an, banyak rayap yang bermetamorfosis menjadi “laron” dan laron ini akan terbang mencari cahaya, sehingga setiap lampu yang ada di malam hari akan diserbu oleh ribuan laron.

Tapi saya rasa laron yang ada di masa lalu sangat gemuk-gemuk. Dugaan saya, karena di masa itu belum banyak digunakan pestisida sehingga rayap yang ada di bawah tanah bisa berkembang dengan pesat dan metamorfosisnya berupa laronpun akan gemuk-gemuk.

Cara menangkap laron adalah dengan mengambil tampah yang diletakkan di lantai dan di tengah-tengah tampah akan diletakkan lampu minyak (di tahun 1960an, seringkali lampu listrik mati dan kalaupun tidak, 1 rumah tangga hanya dijatah 150 Watt saja). Di dekat lampu minyak itu bisa diletakkan rantang yang diberi air.

Di malam dimana banyak laron berkeliaran, maka banyak pula laron yang tertarik mendekati lampu dan akhirnya tercebur di rantang yang berisi air. Maka kita tinggal menanggalkan sayap-sayap laron dan mengumpulkan badan laron yang gemuk-gemuk ini. Satu malam kadang-kadang akan tertangkap 2 ons laron, lalu biasanya kita goreng dan rasanya ehm…ehm…sangat gurih karena banyak protein ! Malah kadang-kadang ada tetangga yang sangat pintar menangkap laron besoknya mengirim makanan berupa peyek laron !!!…

Di acara TV “Extreme Kuliner” yang ditayangkan Global TV, pada satu episode ada penyiar ceweknya yang membeli satu renteng “walang” (belalang) seharga Rp 15 ribu. Belalang itu kemudian dibawanya ke seorang ibu tukang masak belalang, yang kalau nggak salah lokasinya di Bantul-Yogya. Setelah dibumbui, belalang itu lalu digoreng. Setelah masak, dirasakan oleh penyiarnya ehm..ehm…sangat gurih…

Sayapun waktu kecil banyak makan walang alias belalang ini. Sekali lagi, karena pestisida belum banyak digunakan oleh petani pada masa 1960an, maka populasi belalang berkembang amat sangat pesat sehingga pada suatu waktu banyak belalang yang hinggap di pohon turi, pohon pisang dan pohon mangga yang ada di kebun sekitar rumah saya.

Sehingga kitapun mudah menangkapnya dan saking banyaknya, kitapun coba menggorengnya dan ternyata sangat enak…walaupun rasanya ada rasa sangit sedikit…

Bila di antara keempat makanan masa kecil saya itu diurutkan dari rasanya yang paling enak atau gurih, urutannya adalah : 1) mbug-mbug, 2) laron, 3) katimumul, dan 4) walang…

Dengan digencarkannya penggunaan pestisida oleh pemerintah Orde Baru di tahun 1967-1969, maka produksi padi petani meningkat pesat berkat program intensifikasi yang kebanyakan dibantu oleh Mitsui, Jepang dan Ciba, Swiss. Tapi akibatnya bagi alam, ikan-ikan semakin jarang di sungai dan di sawah-sawah, serta binatang lain seperti mbug-mbug, katimumul dan walangpun semakin jarang. Laron masih tetap survive dengan adanya pestisida, tapi ukurannya mengkerut menjadi ¼ aslinya..

Dan sayapun kehilangan sumber makanan masa kecil, kecuali yang bisa saya lihat di daerah pedalaman di luar Jawa yang jauh dari kota, seperti yang ditayangkan oleh acara “Surat dari Sahabat” di TRANS-TV yang saya sebutkan tadi…

15 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Nov 12, 2007 @ 07:01:46

    Pengalaman masa kecil, membuatku melatih anak-anak bisa makan apa saja, tidak harus nasi. Apalagi saat Indonesia krisis ekonomi, di kepala sudah terbayang situasi kayak saat masih kecil, jadi saya selalu bilang, kita harus bisa bersyukur jika masih ada yang dimakan, dan bisa dari berbagai sumber, entah nabati atau hewani.

    Cuma sampai sekarang, saya nggak doyan laron, rumah tawon dll..karena geli melihat dan membayangkan binatangnya…

    Reply

  2. tridjoko
    Nov 12, 2007 @ 20:52:51

    Yach kita masih beruntung punya anak-anak yang tidak pernah complain tentang apapun. Saya punya teman asal Nganjuk, yang kalau ngajak anaknya pergi ke rumah kakek-neneknya pasti nggak bisa ke belakang, karena WCnya bergaya “jumbleng” alias “plung lap”..

    Alhamdulillah, kedua anak saya tidak pernah complain dengan hal-hal semacam itu dan dengan santainya nginep di Madiun atau Caruban..

    Nggak doyan laron dan bothok rumah tawon ? Wait until you taste “baked chicken” and “had dog fish”. “Baked chicken” adalah ayam yang direbus tanpa bumbu apapun, bahkan garampun tidak, dan kata orang Amerika, itu makanan yang paling sehat (yuccckkkk…..)..

    “Had dog fish” adalah ikan yang rasa dagingnya persis rasa minyak ikan yang biasa kita telan waktu kecil….(ouuuuch…I wanna vomit….)..

    Reply

  3. angeli_pop
    Nov 13, 2007 @ 17:11:37

    hehehe…makanan kecil om sangat menyeramkan :))
    cuma 1 aja yg saya kenal dari “keempat makanan masa kecil om yon”, yaitu peyek laron…cuma saya tidak pernah memakan laronnya krn geli :D
    jadi sebelum makan peyek laronnya, laronnya dibuang dulu….hehehe…renyah dan gurih meski tanpa laron ;p

    Reply

  4. tridjoko
    Nov 13, 2007 @ 19:17:22

    Mbak Poppy, rasa laron sangat khas. Gurih, lezat, mungkin rasanya antara udang dan cumi-cumi..(he..he..ngarang)..

    Wah, kalau laron yang kecil aja nggak doyan gimana berani makan mbug-mbug atau ulat pohon turi atau ulat jati ?

    Sebagai lulusan Sastra Inggris, bagaimana nanti kalau ada orang outback Aussie ngajak kawin dan diajak hidup di pedalaman Aussie yang makannya mbug-mbug setiap hari ?

    Makanya, mending yang EL ITB itu aja, makannya jelas, yaitu nasi…hi..hi..

    Reply

  5. Edyprayitno
    Jan 31, 2008 @ 10:20:43

    Cerito katimumul, laron goreng & ulan turi (dudu embug-embug) bakar ndadekno eling wektu jaman nggragas biyen..rasane yo mak nyus..he he. Suwun

    Reply

  6. tridjoko
    Jan 31, 2008 @ 13:22:52

    Hallo Mas Edyprayitno : wah…njenengan kangen uga karo kuliner masa kecil sing mak nyus amarga nggragas yo mas ?

    Eh..apa ini Mas Edy teman saya waktu SMA ya yang sekarang di Bank DKI ? Aku rada ragu soalnya temenku itu ada “Su”-nya.

    Namanya Edy Suprayitno, kadang-kadang kita panggil “Edy Supra” atau “Edy Supo”, dan sebenarnya tetangga saya di Madiun selisih 2 rumah..

    Reply

  7. simbah
    Mar 22, 2008 @ 17:18:28

    Ketemu, . . Katimumul lagi . . makan laron memang “keri” di lidah, karena kakinya kecil-2. Lebih enak di buat “peyek laron”. Tapi lebih sehat daripada makan chiki zaman sekarang.
    Benar dik Yon, . .setelah disemprot oleh montor mabur kepunyaan Ziba itu dulu yg suka landing di belakang rumah Anda. Sekarang di Mediyun tidak ada lagi ‘Gareng-PUNG’ yg suka ngower2 bila mangsa rendeng habis dan masuk mangsa ketiga. Gareng-Pung, wujudnya seperti laler tapi extra besar dan diperjual belikan di sekolah2 SD.
    Mas Edy Suprayitno, itu apa tetangga anda dan di wajahnya punya andeng2….? kalo benar, gimana kabarnya mBak Herma…?

    Reply

  8. tridjoko
    Mar 24, 2008 @ 09:06:53

    –> Simbah : iya mas…peyek laron itu ennaaak tennaaan lho…mak nyus !!! Apalagi laron versi jaman dulu yang gemuk-gemuk…

    Gareng Pung (Tonggeret) punah dari Madiun mungkin selain karena banyaknya semprotan pestisida di sana sini, juga mungkin karena pohon-pohon asem dan mahoni yang ada di pinggir-pinggir jalan sudah nggak ada lagi…

    Malahan, di dekat rumah saya di Pondok Gede masih suka terdengar lho mas Gareng Pung lagi “Cieeerr…cieeeerrr…cieeerrr…” di pohon belimbing dekat rumah…

    Mas Eddy Suprayitno memang tetangga saya yang punya andeng2 dan kelas 3IPA1 SMA 1 tahun 1975 dulu mas, tapi kayaknya bukan Mas Edy yang memberi komentar barusan…

    Terus mbak Herma itu siapa mas ? Mbaknya Mas Eddy ? Mbaknya namanya mbak Retno..

    Reply

  9. simbah
    Mar 24, 2008 @ 09:37:40

    Iya, . . dik Yon, . .pernah saya ketemu terakhir dgn mas Edy Prayitno th 1982 di Komplex Pertamina kalo gak salah di Jl. Pemuda, salah satu rumah mBakyunya. Waktu itu beliau sedang ‘ngengleng’ . . ditinggal pacarnya. . .ssttt. . jgn keras-2. . .berhubung gak ada pesan, trus di ‘batok’ lampu depan spd motor bebeknya ditulis dgn huruf indah “comeback to me Herma” . .ha . .ha.. wajahnya kelihatan culun . . .’love’ is ‘edan’ ya. . .
    Mudah2 an beliau sudah ‘waras’ sekarang, . . .

    Reply

  10. tridjoko
    Mar 24, 2008 @ 15:18:20

    –> Simbah : Ooo..kayak gitu ya ceritanya. Sejak 1975 saya belum pernah ketemu lagi dengan Dik Eddy walaupun rumah di Madiun cuman selisih 2 rumah dari rumah saya. Kabarnya dia kerja di Bank DKI dan kapan itu pernah melewati rumah saya di PG tapi nggak mampir. Dia tinggal di Kompleks Pekayon dan saya pernah lewat depan rumahnya yang dekat mesjid, tapi karena siang juga nggak mampir. Kalau sama-sama ke Madiun pasti selisiban, karena saya kebanyakan di rumah mertua…

    Reply

  11. simbah
    Mar 24, 2008 @ 16:24:28

    Wah, . .betapa senangnya kalau bisa komunakasi dgn teman2 lama ya. . . maklumlah kesibukan masing2, mungkin kalo sudah pada jadi Pensiunan bisa lebih intens. Di Mediyun ada lho Dik Yon, kumpulan para pensiunan yg saya tahu purnawirawan ABRI ada wadahnya, malah di lingkungan saya ada kumpulan Lansia yg tiap Sabtu, senam kemudian jalan2 antar RT habis itu makan sarapan sego pecel bareng2. Kadang2 saya terharu melihat beliau2 itu, sambil ‘ngebayangin’ kalau nanti saya bisa mencapai lansia apa seperti mereka?

    Reply

  12. tridjoko
    Mar 25, 2008 @ 07:05:05

    –> Simbah : ya mas, Madiun terkenal sebagai “kota pensiunan” karena yang mau tinggal di kota ini cuman orang pensiunan doang, anak mudanya lebih memilih kota yang vibrant, gaul dan harum seperti Jakarta atau Surabaya !

    Madiun mengingatkan saya akan kota-kota di negara bagian Florida (Miami, Fort Lauderdale, dsb) yang merupakan kota pensiunan bagi penduduk AS. Makanya dulu ada sinetron “Golden Girls” tentang nelly (“nenek lincah”) yang dimuat di stasiun TV RCTI seminggu sekali..

    Wah, kasihan sekali ya mas ABRI-nya cepat pensiun. Sekarang sudah ada UU baru, yaitu bagi anggota TNI yang lahirnya setelah 1 Januari 1951, usia pensiun bagi PERWIRA adalah 58 tahun (mundur 3 tahun, dulunya 55 tahun) dan bagi BINTARA tetap 48 tahun. Jadi isteri saya pensiunnya masih luaaammmaaa mas, sekitar 9 tahun lagi !

    Kalo bagi dosen seperti saya ini, kayaknya saya bakal ngajar sampai umur 60-65 tahun, karena itu hal biasa bagi dosen-dosen Binus yang ngajar bahkan sampai usia 72 tahun (beliau mengundurkan diri karena “tidak tahan” dengan tuntutan di Binus bahwa dosen harus ngajar pakai komputer + infocus)…

    Reply

  13. simbah
    Mar 29, 2008 @ 23:10:27

    Saya setuju kalau Dosen jangan cepat2 pensiun, biar ilmunya ditularkan. Saya pernah membaca di Kompas, bahwa Korea Selatan punya ‘Doktor’ S-3? berjumlah tidak kurang dari 150,000 orang (maaf kalau salah kutip), sehingga bisa maju nututi Jepun. Sedang di Indonesia 500 orang saja nggak genep, jadi jgn harap kita bisa nututi Korea dalam waktu dekat. Benarkah Dik Yon, statemen seperti itu ?

    Reply

  14. tridjoko
    Mar 29, 2008 @ 23:33:07

    –> Simbah : memang mas, dosen itu pensiunnya rata-rata 60 tahun, tapi kalau professor pensiunannya 65 tahun. Saya di BPPT bakal pensiun 55 tahun karena cost dari rumah ke BPPT pp jauh lebih besar daripada gajinya. Jadi lebih ekonomis kalau pensiun. Sedang di Binus, insya Allah sekuatnya sampai berapa umur ini bisa membawa badan ini…

    Emang mas, Korea Selatan maju pesat. Saya percaya jumlah Ph.D mereka sekitar 150.000 orang, soalnya dimana-mana ada orang bergelar Ph.D. Istilahnya, kalau kita melempar sandal ke sembarang tempat, pasti sandal itu akan mendarat di kepala orang yang bergelar Ph.D.

    Mengapa begitu ? Karena pembangunan Korea Selatan sejak jaman Presiden Park Chung He sangat well-planned. Banyak universitas dengan program Ph.D. Banyak anak Korea yang sekolah di Amerika, dulu teman2 saya sekelas hampir seperlimanya orang Korea !

    Jumlah Doktor di Indonesia juga sudah banyak sih mas, nggak cuman 500 seperti yang anda bilang itu. Di BPPT aja ada sekitar 800 orang bergelar doktor, di LIPI ada 1200 orang, di BATAN mungkin 200 orang, di BPS 100 orang, di LAPAN mungkin 200 orang, di UI mungkin 2000 orang. Jadi di Jakarta saja sudah sekitar 5000 orang doktor. Belum yang di Bandung, Yogya, Surabaya, Medan dan Makassar.

    Korea Selatan bisa nututi Jepang karena pernah 35 tahun dijajah Jepang, jadi budaya Jepang sudah terserap habis, ditambah tekad “tidak mau No.2 setelah Jepang” membuat Korea Selatan maju pesat..

    Reply

  15. simbah
    Mar 30, 2008 @ 00:30:33

    Makasih, sudah ter-updated. Iseng2 pernah minta sama Bu Edratna:” Pulang kampung Bu, Mediyun perlu figur2 seperti Ibu!”. Saya sedikit banyak pernah mbaca postingan Bu Edratna. Justru saya nemuin blog-nya Bu Edratna duluan, kemudian baru ketemu blog anda, Dik Yon (Saya gak tahu kalo Bu Edratna itu mBak Enny, mBakyunda). Setelah mbaca2 postingan Bu Edratna, saya punya prakiraan wah Ibu yg satu ini ruarr… biasaa… wawasan manajerialnya mumpuni..(maaf sok suka menilai, kayak orang pinter aja….aku) gimana kalo nyalon jadi Gubernur Jatim? Kenapa tidak, Gubernur Banten, Perempuan juga. Kenyataan di Madiun, setelah Walikotanya wong asli Madiun. Kemajuannya terlihat nyata, bahkan menimbulkan rasa iri bagi pegawai pemkot kota tetangganya. Salah satu contoh, pegawai honorer dilingkungan pemkot Madiun honornya lancar2 saja. Yg jelas kesejahteraan mereka tercukupi, kawasan kota juga terlihat lebih rapi.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 326 other followers

%d bloggers like this: