Flunk !

I just got a call up from an old friend of mine, a widow and a pensioner. She thought that I was “such a highly important person” in the university I taught for so long, that’s the reason why she called me up..

She thought so, but I din’t.. I am just an ordinary lame weak uninspired ole lecturer who teach only for a spoon of rice (not a kg of diamond !)..

That friend of mine once called me up some months ago. She told me that her child (to disguise the child, I don’t mention the gender) had a lot of difficulty in finishing the study at the School of Computing. So, I asked indirectly to an important person in the school why it’s that so. The important person explained to me ..bla..bla..bla.. and I understood the reason..

But this time the mom called me up because the child flunked the final project comprehensive examination several days ago. And she told me that the child was so scared to death to repeat the comprehensive examination. So, she asked for help if I can do something..

I wish I could help the mom, and the child..

Flunk the test is not a shame. But to see someone who has difficulty academically as well as economically flunked the test is different. There is an urgency to help from the depth of my heart, no matter whether I can help it or not..

I heard that some lecturers who examined the students were not in line with the background of the students. I called it “legally wrong, morally wrong”..

If you know CoBIT standard and you are a member of ISACA (www.isaca.org), you are easily aware that in every organization there is a normative organizational structure with a very strict responsibility and authority in order to maintain netrality and avoid conflict of interests..

Let me give you an easy example. If you are a “silat” student of “Persaudaraan Setia Hati Terate” (silat = an original Indonesian martial art, close to Kong Fu) and you have studied the silat at SH Terate for 4 years, and you are about to graduate as a “pendekar” (warrior), and then suddenly in the final examination you are examined by the “pendekar” who is not from SH Terate branch, but instead he or she is from Cimande branch (for example), then the examination can be called “legally wrong, and morally wrong”..

Legally wrong, because the general assumption is that the examiner know nothing about the “jurus” ( a set of movement) of SH Terate branch, and morally wrong because the examiner continue examine the silat student although he/she know that he/she lacks of knowledge in SH Terate branch of “jurus”. Worse still, if someone who oversees or sanctions the examination do nothing about it..

The year of 2008 is the year of the risk. A lot of industries demand “risk management certificate” from all of the employees, especially in banking industries, a highly-regulated industries. If something gone wrong, the bank will incur a lot of losses in money, and also in trust and name. That’s why Sarbanne-Oxley (SoX) standard and also Basel II standard is observed carefully in the banking industries..

This university ? I think it’s time to observe the risk also. If the students flunked the final project comprehensive examination by some lecturers who the public know it as “legally wrong and morally wrong” activity, in the end of the day the university name will be tarnished..

And it’s the responsibility of the management of the said university to avoid that from happening…

In case of the student’s next examination, I can’t do anything to help, but to pray…

May God gives the student success…

Amen..

[Disclaimer : this story is about a hypothetical university in my dream and nothing to do with any university in Indonesia]

Guide

Ada pemandangan yang menarik di kampus Indiana University at Bloomington sekitar bulan-bulan Februari sampai dengan bulan Juni setiap tahunnya. Yaitu banyaknya calon orangtua mahasiswa yang mengunjungi kampus sekedar merasakan “hawa”, “bau” dan “suasana” kampus tempat anaknya kelak akan mengambil program undergraduate selama 3-4 tahun lamanya..

Biasanya guide atau pemandu wisatanya berjalan mundur ! Jadi, menurut pandangan mata saya, sangat menarik sekali melihat mahasiswa atau mahasiswi dengan rambut blonde bermata biru memandu wisata dengan berjalan mundur. Saya hanya berandai-andai, bagaimana kalau di belakangnya ada kolam ikan..ha..ha..

Hal yang serupa tidak pernah terjadi di Kampus Binus University selama 18 tahun terakhir. Saya lihat beberapa pengunjung kampus kebanyakan adalah pejabat dari kampus lain, baik yang berdomisili di Jakarta maupun dari luar Jakarta, kadang-kadang malahan dari Sumatera atau Sulawesi. Guide-nyapun bukan mahasiswa, tapi pejabat kampus Binus. Yang dikunjungipun kebanyakan bukan outdoor, tapi indoor..

Bagi saya salah satu guide yang mengesankan adalah guide Singapura. Ketika saya tinggal di sana sekitar tahun 1992-1993 lalu, setiap Sabtu atau Minggu pasti kita diajak keliling pakai bus. Sudah gratis, ada guidenya, dan diakhiri dengan makan (yang juga gratis) pula. Thanks to MFA (Ministry of Foreign Affairs) official for that !

Salah seorang guide, ketika kita yang semuanya bukan orang Singapura ini pada melototi jemuran pakaian di rumah-rumah susun, tiba-tiba saja ia berkomentar lucu, “That’s the flags of the United Nations”. Ha..ha..padahal banyak jemuran yang warna-warni itu di antaranya adalah CD..;-(

Si Guide yang sama, ketika bus kami melewati monumen pertempuran di Singapura tahun 1942 yaitu ketika Singapura yang dipertahankan mati-matian oleh tentara Inggris dan Australia jatuh ke tangan Jepang yang memakan korban yang tidak sedikit, ia berkomentar ringan, “That’s chopstick monument !”..

(tentang kejatuhan Singapura ke tentara Jepang di PD II, saya punya novelnya “Sinister Twilight” yang saya dapatkan karena memenangkan undian dari guru bahasa Inggris saya di ALT 1986 dulu yaitu Steve Kupper-Herr dan Beth Kupper-Herr)..

Ketika saya masih pejabat struktural di Binus tahun 2000 lalu dan sekitar 30 orang pejabat Binus mendapatkan pelatihan Outbound di Tawang Mangu, kami diantar oleh tuan rumah kami UII Yogya untuk berkeliling Yogya dengan disertai oleh seorang guide Ibu-ibu. Itu pertama kali saya memutari Yogya dengan guide.

Si Ibu guide cerita banyak hal yang menarik tentang Yogya, bahwa orang Yogya itu cenderung hidup secara sederhana. Apa yang ada di hari itu, ya dimakan. Kalau nggak ada, ya cuman makan nasi sama sayur bayam saja. Tidak masalah…

Cerita yang menarik lagi di atas bus yang memutari Yogya, si Ibu guide cerita tentang perilaku mahasiswa kost di Yogya. Kebanyakan Ibu-ibu yang buka warung di Yogya sudah hapal dengan perilaku mahasiswa seperti ini. Ketika mahasiswa menyatakan ia sudah selesai makan dan ditanya, “Makan apa saja nak ?”. Banyak mahasiswa yang menjawab begini, “Anu Bu…nasi satu, sayur asem satu, tempe goreng dua, tahu goreng dua”. “O ya nak, semuanya Rp 4.500″, kata si Ibu walaupun si Ibu tahu yang dimakan si mahasiswa adalah 4 tempe goreng (ngakunya 2) dan 5 tahu goreng (ngakunya 2)..

Kata si Ibu guide selanjutnya, untuk mahasiswa yang terpaksa “curang” seperti itu karena merasa lapar tapi kiriman uang belum datang, biasanya beberapa tahun kemudian ketika si mahasiswa telah menjelma jadi orang sukses dan kaya, maka si mahasiswa akan mulai menyadari kesalahannya..

Solusinya ada 2, yaitu pertama: mengawini anak si Ibu yang empunya warung. Kedua: membayar si Ibu dengan uang Rp 10-15 juta berlipat-lipat dibandingkan dengan jumlah uang yang “ditilep” si mahasiswa dulu karena kelaparan dan terpaksa mbayar semampunya…

How come ? 

Guide..oh guide..

Si Putih : half cat, half human

When picking up my sister and her daughter from Semarang in Gambir train station some weeks ago, I warned them, “You can stay overnight in my house. But please don’t comment on anything. Anything ! Since there are a lot of unusual things in my house. A pile of newspapers of two-meter high, a half cat-half human who think she is human, and so on”.

They agreed, and I started to crank my car’s engine, home-bound…

Welcome in Pondok Gede !

Si putih, the female cat, thinks she is half cat and half human. I found her being left by her mother cat about two years ago. The mother cat left her besides my car in the garage, in a noodle box hidden from one’s view. At first, I didn’t realize that the kitten was left there. I happened to wash my car one day and hearing a very soft “meoowww”. Very very soft that I thought it was nothing. The meoww began harder and harder, and here I was, picking a cute female kitten colored white. I called her “Si Putih” (something like “snow white” lah !)..

My younger daughter Ditta was so impressed with this 3-month old little kitten. She roared as a lion, jumped as a deer, and knelt as a crocodile or a komodo dragon ! She was very active in seeking food or milk. At first I was a little bit confused how can I fed this kitten with Friskies. Soon I found the direction in the Friskies box and I started fed her with Friskies mixed with some water..

The kitten lived outside our house, that is, in the garage. Comfortable place to live though. But when we, my whole family, missed her so much, my younger daughter just picked her from outside my house and placed her in front of our television set in our family room. Every single move she made, made all of us laugh as hell ! Very entertaining…

At 8-month old she was pregnant. A while later she delivered three kittens. Short-lived though, as si Putih was constantly moving the kittens from here to there, from there to here, back and forth.

The second generation kittens of si Putih were long lived. Two male kittens we named it Kimi (from Kimi Raikonnen, the world champion pranching horse Ferrari driver of F1 car) and Ringo (from Ringo Agus Rahman, the cute film star that we all love). The other was a female kitten (she didn’t die, just disappeared, we don’t know why). The reason why they were long lived is because I changed their diet from combination of fish-rice-friskies, to friskies only. I call Kimi and Ringo “a celebration of life”..

The third generation kittens of Si Putih was so troublesome. They pooed (?) a lot, and the peed (?) a lot too. I was trying to send them “to school” but only successful with one kitten, and not the other kitten..

Now si Putih is having four kittens as her fourth-generation kittens. And the trouble begins. Si Putih keeps moving their kittens from the locker room to family room, to garage, back to locker room…

And no wonder I warned my sister not commenting on something that unusual in my house…

Kittens used to make my life happier. But maybe, not now dear. For me now, too much kittens means too much trouble..

Sulit mencari topik skripsi Informatika & Matematika ?

Ada enquiry masuk ke blog saya, kelihatannya dari seseorang di seberang sana yang dalam kondisi “desperate” atau “desperado” (kesulitan, ngebet, putus asa). Dia bilang sulit mencari topik skripsi Matematika. Seseorang yang lain bilang, sulit mencari topik skripsi Informatika..

Mereka bilang sulit, saya bilang tidak. Bagaimana bisa ?

Saya ingat kata-kata alm. Prof. Andi Hakim Nasoetion, dosen saya dulu di Statistika IPB sekitar tahun 1977-1979 tapi persisnya kapan saya lupa. Beliau bilang, “Dari 1 judul Disertasi bisa dikembangkan menjadi sekitar 5 judul Thesis Master/Magister, dan dari 1 judul Thesis Magister dapat dikembangkan ke sekitar 5 judul topik skripsi“..

Kata-kata beliau seolah merupakan “Theorem” buatku, walau tidak ada proof-nya (mungkin nunggu seseorang untuk voluntarily melakukan proof seperti yang dilakukan oleh Matt Damon dalam film “Good Will Hunting”)..

Saya ingat topik Skripsi S1 saya sebenarnya adalah pengembangan dari topik Thesis Magister yang ada di IPB. Kalau sang Magister itu (sekarang pejabat eselon I di Deptan) menulis “organoleptik test terhadap ubur-ubur”, maka metode yang sama saya terapkan tetapi dalam “domain” yang berbeda, yaitu “organoleptik test terhadap nasi sorghum”..

Jika Skripsi saya meneruskan studi yang dilakukan oleh seseorang yang menulis Thesis Magister, maka sebagian besar hal tidak perlu saya temukan sendiri (“don’t reinvent the wheel”, kata the Egyptian). Saya hanya perlu menambahkan hal-hal yang penting lainnya…

Akhirnya skripsi saya sukses, dengan tata bahasa Indonesia yang aduhai. Setelah hampir 30 tahun yang lalu saya menulis skripsi, saya masih terkagum-kagum dengan bahasa Indonesia yang saya pilih dan pergunakan di skripsi saya dulu. Maklum, ada sisa-sisa “kehebatan” bahasa Indonesia bekas bimbingan Pak Andi Hakim..

Theorem tersebut saya pegang terus, dan saya percayai. Oleh karena itu, saya masih tetap di bisnis membimbing skripsi sampai hari ini, kira-kira 18 tahun setelah saya lulus Master of Science in Computer Science..

Seringkali, di depan mahasiswa Binus jurusan Teknik Informatika yang menemui saya untuk mencari topik skripsi saya katakan, bahwa yang penting adalah “metode” (ibarat “pisau“) dan “domain” (ibarat “buah” yang mau dikupas oleh pisau) yang ditulis di dalam skripsi.

Kita harus menemukan metode yang tepat untuk menggarap domain yang tepat. Misalnya gunakan metode Algoritma Genetik untuk melakukan Optimisasi, bukan untuk pattern-matching misalnya (walaupun juga bisa, namun effort-nya bakalan sulit)..

Semester ganjil 2007/2008 kemarin ini saya membimbing skripsi 31 mahasiswa di dalam kelas Teknik Informatika, dan membimbing 4 mahasiswa jurusan Ganda Teknik Informatika-Matematika di Binus. Dari bimbingan kelas, IPK mereka sangat beragam yaitu dari 2.01 sampai 3.60, tetapi bimbingan saya yang jurusan Ganda TI-Mat adalah “kelas berat” dari segi IPK karena 1 orang ber-IPK 3.70 dan 3 orang ber-IPK 3.95 !!

Apa yang terjadi dalam ujian Pendadaran ? Mahasiswa skripsi kelas saya banyak yang “ketemu batu” alias belum bisa lulus di ujian pertama, tidak tanggung-tanggung yaitu 3 kelompok dari 11 kelompok “belum lulus”, kejadian pertama sepanjang hidup saya !

Mahasiswa saya yang jurusan Ganda, hampir semuanya mendapat nilai A kecuali 1 orang. Itupun sebenarnya sangat predictable, dilihat dari kekuatan topik skripsinya dan keaktifan mereka dalam bimbingan..

Ilmu Matematika dan Teknik Informatika sebenarnya “dekat”dan sekeluarga dengan ilmu-ilmu Teknik Industri, Operations Research, dan Systems Analysis. Ternyata bila saya amati, mahasiswa saya yang mendapatkan nilai A dalam skripsinya mengambil topik skripsinya dari tulisan mahasiswa Ph.D di sebuah jurnal bergengsi di luar negeri sana !

Pantas saja mereka dapat A !

Tapi bagi saya yang membimbing mereka, saya sudah empot-empotan dari awal, mengingat rata-rata mahasiswa Binus lemah di bahasa Inggris, not to mention bagaimana melakukan atau menelusuri : konsepsi -> abstraksi -> realisasi dalam membuat program komputernya..

Ada masa-masa saya tidak sabar dengan kemajuan tulisan skripsi mereka. If they want a third-party’s help (sesama mahasiswa yang lebih pintar programming), it’s fine with me. As long as mereka mempertanggungjawabkan sendiri semua kerja keras dan kerja besar mereka..

Selamat kepada Irene, Milka dan Irwan yang skripsinya dapat A. Untuk yang masih dapat B, nggak apa-apa, teruskan saja kerja keras kalian. Catatan kehidupan saya sudah banyak ketemu banyak tipe orang yang S1-nya lulus dengan nilai pas-pasan, misalnya 2.22, tapi ia berhasil meneruskan program Ph.D dengan sukses dan sekarang telah menjadi Profesor di universitas bergengsi..

That’s life !

Face it !

p.s. : Jadi kalau anda ingin mencari topik skripsi Matematika, misalnya, mulailah dengan search di Internet atau Perpus Digital kampus anda. Lihatlah apa yang ditulis jurnal-jurnal bergengsi bidang Matematika. Bagi anda yang mencari topik skripsi Informatika anda bisa mulai dengan “Communications of the ACM”, “Computing Survey”, “IEEE Transactions on Man, Systems, and Cybernetics”, “IEEE Transactions on Computer”, “IEEE Transactions on Database”, dan sebagainya. Good luck !

Google Earth dan Priyayi Ciamis yang Njawani

Beberapa tahun yang lalu, mungkin sekitar tahun 1995, saya melihat-lihat website teman saya waktu mahasiswa di Indiana University at Bloomington. Wow…saya terkagum-kagum dibuatnya. Ia berasal dari sebuah kota kecil di negara bagian Iowa. Namun di website-nya itu juga ada “peta udara” (sky view) dari lingkungan rumahnya secara lengkap. Jadi, terlihat jalan, sunga, kebun, kolam renang tetangga, dan tentu saja rumah dia..

Padahal di tahun 1995 dulu Google belum ada, apalagi Google Earth. Kalau di tahun 2008 sekarang ini Google Earth sudah menjadi rahasia umum sebagai provider yang bisa memberikan gambaran peta rumah kita, dimanapun kita berada bahkan di sudut bumi yang paling terpencil sekalipun, asal kita tahu koordinat lintang dan bujurnya…

Nah, kurang lebih dua minggu yang lalu di mailing-list IPB Angkatan 13 Tahun 1976 yang saya ikuti, saya mengomentari tulisan seorang teman dengan disertai pesan, “Hey kawan, kalau ada waktu lihat dong blog saya yang alamatnya triwahjono.wordpress.com”..

Beberapa hari kemudian, muncul postingan seorang teman seangkatan di IPB, orang Ciamis yang bernama Lisman Sumardjani. Dia bilang, “Djoko saya sudah mengunjungi blog anda lho, wah..ternyata anda orang Madiun ya ? Saya baru ngerti. Padahal saya waktu SD dulu kalau liburan selalu tinggal di rumah Bu De saya di Jalan Waluyo Supadmo”.

Terus saya jawab, “Wow..Jalan Waluyo Supadmo ? No kidding, itu selemparan sandal dari rumah saya di Madiun. Bagaimana bisa anda yang priyayi Ciamis 100% tulen kok bisa mempunyai Bu De yang tinggal di Madiun”..

Di mail berikutnya Lisman bercerita, “Waktu jaman DI/TII di kampung saya Cigugur di selatan Ciamis ada beberapa tentara dari Divisi Brawijaya (=Jawa Timur) yang tinggal di sana. Salah seorang di antaranya akhirnya menikah dengan Bu De saya, dan akhirnya Bu De saya dibawa ke Madiun dan mereka tinggal di Jalan Waluyo Supadmo”..

Dari kontak berikutnya lewat milis, Kang Lisman ini menceritakan dengan persis Jalan Waluyo Supadmo, yang terletak di sebelah lapangan, lapangan ada di sebelah selatan stadion, di timur lapangan ada SMA, di belakang SMA ada SD, di barat stadion juga ada SD dan gedung IKIP, di barat IKIP ada pemandian, di belakang pemandian ada kuburan, dst..dst…

It’s very amazing karena apa yang ia ceritakan itu “persis..sis..” dengan keadaan sebenarnya, inch by inch…feet by feet…and mile by mile…

Terus saya kasih compliment, “Wah, kang Lisman anda itu punya photographic memory yang sangat baik tentang peta kota Madiun, padahal anda kan bukan berasal dari Madiun, tapi Ciamis. Wah, anda bagaikan Google Earth loh !! “

Sejak itu Kang Lisman nggak pernah ada beritanya. Kalau ia benar-benar Google Earth, wah pasti sudah dibeli oleh Microsoft (penguasa dunia IT dunia !!) dengan banderol sekian triliun rupiah !!

Hopo tumon ?

p.s.: Ia menggambarkan daerah dimana saya biasa menggembala kambing, mencuri anggur talok, belajar berenang sampai hampir tenggelam, ngintip we-te-es kelas rendah bertransaksi dengan client, makan bakso “Tambir” dan “Simo” (untung ia nggak nanya dimana saya mengorek-ngorek sampah rumah sakit, atau menjual jeans dan jacket Levi’s bekas saya sekedar untuk bisa mentraktir temen..he..he..)..

Antara mimpi dan film kartun

Kita hidup di dunia ini sebagai manusia harus tunduk terhadap hukum-hukum Fisika seperti hukum gravitasinya Newton, hukum percepatan, hukum kekekalan massa, hukum tekanan-volume, sampai yang agak sulit dimengerti oleh seorang Jawa bodo kayak saya ini, adalah hukum relativitasnya Einstein…Binatang opo tho itu ?

Semua manusia yang hidup di dunia terikat dengan hukum gravitasinya Newton, bahwa semua benda kalau dilempar ke atas pada akhirnya akan jatuh ke bawah karena bumi ini mempunyai semacam magnet yang disebut gravitasi, begitu kira-kira kata Pak Guru saya dulu..

Mungkinkah benda yang kita lempar ke atas akan terus terbang dan tidak kembali ? atau berputar-putar dengan sendirinya dan setelah lama baru jatuh ?

Mungkin, dan kemungkinannya ada dua. Pertama, di alam mimpi (kalau kita sedang bermimpi). Kedua, di film kartun !!

Makanya saya suka nonton film kartun. Imagination is so wild there. The sky is the limit. You can do anything in your cartoon except ask for a pay raise !

Makanya bila jenuh dengan berita politik, bencana, kecelakaan, pemogokan, demonstrasi, kuntilanak, dan sebagainya di TV, saya akan kembali ke….film kartun !!

Film kartun yang paling saya suka adalah “Tom and Jerry”, suatu permusuhan abadi antara Tom si kucing dan Jerry si tikus. Kadang mereka mesra, tapi most of the time mereka “kenthir” alias “deghleng” ! Belakangan disisipi oleh pihak ketiga, seekor anjing yang bernama Brutus (?)….

Hukum Fisika tidak berlaku bagi film kartun. Tubuh si kucing bisa tiba-tiba “menyesuaikan diri” dengan panjang pipa yang diameternya cuman 1 inchi. Nabrak tembok juga ok saja dan langsung gepeng seperti kertas HVS, tanpa hancur sekepingpun..

“Dora the Explorer” adalah film kartun lainnya kesukaan saya. Film kartun ini mempunyai simplicity sebagai salah satu kunci kekuatannya. Tentunya semua keluarga Nikeledeon saya suka, ada “Rugs Rats”, ada “McDonald’s Farm”..

Selain itu, jangan lupa “Bart Simpsons” saya juga suka banget. Paling suka waktu nonton “Bart Simpsons: the Movie”. Teman Bart yang dari Jepang yaitu “Crayon Sinchan” saya juga suka..

Maksud saya “suka” tidak hanya sampai menontonnya di TV. Saya juga punya gantungan kunci semua tokoh kartun yang saya sebutkan tadi. Khusus untuk Sinchan, saya punya versi yang terbuat dari karet yang bisa dipencet…dan keluarlah…xxx-nya..ha..ha..

Hal kedua yang tidak terikat sama hukum Fisika adalah mimpi. Selain hukum Fisika, mimpi juga tidak terikat hukum ekonomi. Artinya, orang bisa tiba-tiba kaya di mimpi (atau tiba-tiba miskin) tanpa transaksi ekonomi sekalipun. Kalau di bidang komputer, wah…sulit ya digambarkan Automata-nya !

Mimpi terindah bagi saya pada awal-awal saya lulus dari Statistika IPB ada dua. Pertama, bisa mengendarai mobil jeep Toyota Land Cruiser. Kedua, bisa berenang !!

Pada saat itu saya belum bisa nyopir mobil dan masih kagok berenang karena pernah mau tenggelam di kolam renang “Purbaya” Madiun karena kram persis di tengah-tengah kolam renang dan tidak ada seorangpun yang lihat, walaupun saya sudah tereak sekeras 150 dB !!

Alhamdulillah, tahun 1986 saya akhirnya bisa nyopir. Itupun, karena punya mobil yang sudah terlanjur masuk garasi tapi saya belum bisa nyopir. Jadi sebelumnya saya minta tolong seorang temen untuk menyopiri mobil itu sampai masuk garasi saya. Akibatnya setiap jam 4.00 pagi saya bangun dan mulai belajar nyopir. Banyak tong sampah di kompleks AD Cimanggis tempat tinggal saya dulu yang menjadi saksi korban tertabrak karena saya belajar nyopir..

Akhirnya, mimpi terindahku tinggallah berenang. Sering saya merasa sangat teramat bahagia karena bisa melakukan “diving” di papan 10 m dengan gaya “inverse sommer-sault” 5 kali dan masuk air dengan suara “booom….” lalu menyelam sedalam 5 meter !

Namun, kebahagiaan semacam itu juga cepat sirna, yaitu ketika saya terbangun dari mimpi…

Oooo…cuman mimpi tho ?

Dan saya nggak bisa minta agar mimpi itu terulang kembali. Mungkin perlu menunggu beberapa bulan baru bisa…

Jadi, mimpi terindah apa yang anda punya ?

Pusat belanja di Seoul

Ada enquiry masuk ke blog saya tentang “Pusat Belanja di Korea Selatan”. Saya tertarik untuk nulis postingnya, tapi saya tidak sebegitu tahunya dengan Korea Selatan as a whole dari Incheon sampai Busan, dari Taejon sampai Suwon.

Jadi saya nulis tentang pusat belanja di Seoul aja ya, yang kira-kira info ini cocok bagi orang Indonesia yang baru pertama kali pergi ke Seoul dan hanya punya waktu sekitar 1 minggu di sana…

[FYI, sulit mencari buku Lonely Planet tentang Seoul dan Korea pada umumnya]

Pertama dan kategori “must be visited” adalah Itaewon. Untuk sampai ke sini caranya mudah, naik aja subway dan turun di Itaewon yang kalau nggak salah jalur yang berwarna biru muda. Itaewon itu mirip Malioboro di Yogya tapi dengan setting country di kota Amerika klasik. Baunya juga Amerika banget. Di sini banyak bar dan kafe. Banyak pula toko menjual berbagai souvenir dari gantungan kunci, kaos bertuliskan Korea, sampai sepatu Rockport. Hati-hati, barang tiruanpun banyak tapi yang tokonya masuk gang. Kalau di jalan utamanya, barangnya bagus-bagus. Harga pas, tidak ada bargain (kecuali yang masuk gang). Banyak toko kebab dan juga sate..Ada seorang teman yang doyan banget pergi ke sini dan setiap sore selalu sembahyang di mesjid di ujung Jalan Itaewon ini sampai-sampai saya beri gelar dia “The Duke of Itaewon” ha..ha..

Kedua, Dongdaemun-Namdaemun. Sebenarnya ini nama 2 stasiun subway yang berdekatan. Jarak antara kedua stasiun ya barang 1-2 km. Tapi antara dua stasiun ini di atas tanahnya banyak toko-toko yang menjual banyak barang. Kalau anda masuk salah satu toko bertingkat, maka barang yang dijual dikhususkan di tingkat tertentu. Misalnya, tas dijual di Lantai 5, jaket dijual di Lantai 6, dan sepatu dijual di Lantai 7. Di sini tokonya full bargain. Anda harus pintar menawar, baik pakai kalkulator atau trick lain misalnya menawarkan rokok, wah…pasti penjualnya kepincut dan mau menjual murah !  Preman-preman yang menjaga di sini tidak galak dan malahan memakai baju suite (jas) yang sekelas Georgio Armani. Lho ?

Ketiga, untuk kelas Flea Market atau barang bekas, kata teman saya ada di antara kedua stasiun subway ini (Dongdaemun-Namdaemun). Saya ingat, lokasinya dekat dengan stadion sepakbola dan dekat dengan City Hall. Kalau anda bisa menemukan tempatnya, wah apa saja ada di sini. Teman saya bisa menemukan gitar listrik plus speaker monitornya dengan harga hanya Won 20,000 (Rp 140,000) doang ! Teman lain bisa nemu tas Gucci asli buat isterinya dengan harga Won 5,000 (Rp 35,000) walaupun ada cacat baret dikit..(konon dipakai arisan di Jakarta, tetangganya berebut mau nawar Rp 300,000-Rp 400,000)..

Keempat, untuk belanja elektronik bisa pergi ke Yongsan. Kalau nggak salah Yongsan itu bekas camp tentara Amerika dulu pada saat Perang Korea tahun 1950an. Ada film Amerika terkenal yang shootingnya di Yongsan ini. Sayang, saya masih ingat jalan cerita dan wajah bintang filmnya, tapi judul filmnya lupa…

Kelima, untuk membeli gantungan kunci yang paling lucu, misalnya gantungan kunci anak kecil terbuat dari karet yang kalau kita pencet bakal keluar….(maaf)..bo’olnya, matanya, dsb ada di semacam Disneyland-nya Seoul. Wah, saya lupa namanya karena waktu itu memang gak ikut ke sana bareng teman-teman dan akhirnya nyesel… Yang jelas, lokasi ini sering dipakai shooting oleh film-film Korea..

Keenam, jika anda dosen dan perlu buku-buku textbook dengan harga cukup murah, anda bisa kunjungi YoungPung Bookstore. Lokasi persisnya saya lupa, tapi kalau tidak salah tidak jauh dari City Hall. Wah…saya bisa seharian di toko buku ini melihat buku-buku Komputer yang mutakhir dari Expert Systems-nya Peter Jackson sampai Artificial Intelligence-nya Nillson. Semua buku Science dan Engineering ada di sini, termasuk buku-buku Business dan Economics..

Ketujuh dan terakhir, kalau anda ingin belanja barang bagus namun dengan setting Mall, pergilah ke Samseong Mall. Untuk pergi ke Mall ini dan juga ke tempat-tempat lainnya yang saya sebutkan tadi, cukup pakai subway karena murah dan tidak terkena macet beda bila dibandingkan anda pakai bis yang jalan di atas tanah. Samseong Mall itu ibarat gabungan antara Bandung Supermall + Sea World Ancol + Cilandak Town Square + Senayan City (Yanti) + Plaza Senayan (PSG). Jadi, ruaaarrr biassaaa beeessaaarrr… Toko Bukunya aja seluas lapangan bola..ha..ha…

Selamat berbelanja di Seoul dan jangan lupa oleh-olehnya !

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 334 other followers