Bandar Lampung yang (mestinya) indah

Sudah dua hari ini saya di kota Bandar Lampung, setelah 30 tahun yang lalu di tahun 1978 sebagai mahasiswa IPB tingkat III saya mengunjungi Lampung untuk melakukan studi lapangan ke lokasi-lokasi transmigrasi bersama-sama dengan beberapa teman se-angkatan saya di jurusan Sosek IPB seperti Amril Aman, Reynold Tambunan, Rachmat Syahni, Asep Saefuddin, Mennofatria Boer, Erna Lokolo, Handewi, Henny, dan yang lain-lain…

Setelah dua hari putar-putar kota baik dengan naik taksi, naik angkot, atau diantar mobil bekas roommate saya di Jalan Belitung dulu yaitu Agus Karyanto, saya bisa mengambil kesimpulan dari letak strategisnya kota, contour kota, dan tatakota, mestinya Bandar Lampung itu mirip dengan San Fransisco…

Bandar Lampung adalah San Fransisco minus jembatan Golden Gate, kamp militer Presidio, penjara super ketat AlCatraz, dan tremnya yang legendaris…

Kenapa tidak ?

Bandar Lampung adalah gabungan dua kota yaitu Teluk Betung di sisi teluk, dan Tanjung Karang yang agak masuk ke dalam dari sisi teluk. Persis di depan teluk ada sebuah bukit yang cukup tinggi sekitar 300-400 meter, lalu tanah ber-contour datar. Di tahun 1978 waktu saya kunjungi dulu kota Teluk Betung dan Tanjung Karang masih terpisah. Sekarang di tahun 2008 kedua kota itu sudah menyatu dan tidak bisa dibedakan lagi batas-batasnya, bukan karena tanda batasnya memang tidak ada, tapi juga segalanya sudah menyatu. Kecuali kita nanya sopir taksi, baru diberitahu mana sih batas antara kedua kota ini…

Teluk Betung yang contournya mirip Semarang di daerah Gombel, atau Jayapura, atau Hong Kong ini tidak di-explore secara maksimal. Hanya ada hotel termewah yaitu Puri Marcopolo yang bertengger di atas bukit ini. Selain itu kebanyakan masih tanah kosong. Unexplore atau semuanya sudah dimiliki oleh orang kaya yang menunggu investasi tiba ? Wah..sayang sekali, padahal view memandang laut yang biru, dengan beberapa pulau kecil yang “menjaga” di ujung teluk, akan sangat bagus sekali bila dibangun hotel, resor, mall, atau rumah mewah di sisi ini. Sayang…

Katanya orang sini lebih suka tinggal di bagian kota Tanjung Karang yang “lebih hidup dari sisi bisnis”, banyak hotel, mal, dan perlengkapan kota lainnya justru terletak di tanah-tanah datar. Perumahan dosen punya teman saya malahan terletak di wilayah yang mudah banjir (oleh karena itu rumahnya lalu dijual). Lho ?

Sayang sekali memang, kalau contour sudah ok, zonasi sudah ok, tapi jadinya kota tidak seperti yang diharapkan…

Oh Bandar Lampung, saya berharap engkau akan menjadi San Fransisco kedua, dengan Golden Gate (konon JSS = Jembatan Selat Sunda, akan segera dibangun), trem (bisakah menggusur angkot), Presidio (wah …beberapa batalyon Garuda Hitam harus dipindah dong), serta Alcatraz (asal Nusakambangan mau dipindah ke sini)….

Mimpian orang yang kurang kerjaan kayak saya ini, nggak usah terlalu diperhatikan-lah. Dicuekin aja !!!

Ha…ha…ha…

9 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Mar 18, 2008 @ 11:06:57

    Sebenarnya pada tahun 90 an, Bandar Lampung sangat di kenal….banyak hotel (ada 4-5 hotel)…tapi sayang karena infrastruktur kurang, maka banyak yang bangkrut.

    Tahun-tahun itu saya beberapa kali ke sana…..tapi betul juga, jika perjalanan dari Merak-Bakahuni lancar, akan meningkatkan perkembangan perekonomian Bandarlampung dan sekitarnya (termasuk Metro yang kota pertanian).

    Reply

  2. tridjoko
    Mar 18, 2008 @ 13:05:44

    –> Bu Edratna : menurut saya Bandar Lampung kurang berkembang karena terlalu dekat dengan Jakarta. Nah, orang Jakarta lebih suka pergi ke Bandung yang hanya perlu waktu 2 jam saja. Jika Merak-Bakahuni lancar dan tidak ada ancaman gelombang tinggi dan gunung Krakatau meletus, mestinya banyak juga orang Jakarta yang akan pergi ke Bandar Lampung. Yah nasib Bandar Lampung mirip dengan Anyer yang sempat dijauhi turis Jakarta karena adanya gelombang tinggi dan issue tsunami.
    Tapi all in all, Bandar Lampung kota yang menjanjikan. Kalau saya punya banyak duwit saya akan beli bukit yang menghadap ke Teluk untuk dibangun resort atau hotel. Pasti laku jika JSS (Jembatan Selat Sunda) telah selesai dibangun…

    Reply

  3. FrisKa
    Mar 18, 2008 @ 23:13:01

    Menurut Saya pak Bandar Lampung skrg lebih tepatnya disebut kota RuKo(baca:Rumah Toko) -.-” tanya kenapa? :D
    dimana2 pasti dikit2 dibangun ruko yg otomatis bikin tambah panas..hehe

    Setujuu pak, semoga JSS dapat amat segera sekali banget dibangun, jd saya pulang ga usa naek kapal ferry lagi XD *ngarep mode on*

    Reply

  4. tridjoko
    Mar 19, 2008 @ 09:07:07

    –> Friska : Iya..saya juga lihat dimana-mana banyak dibangun ruko, malah selama di Bandar Lampung saya pergi ke warnet yang letaknya di ruko yang baru. Enaknya, fasilitas warnetnya rada wah..dibanding ukuran warnet di Jakarta..

    JSS detail design-nya sudah dibuat, mungkin nunggu investor yang mau ngebangun jembatan itu. Kabarnya prov Lampung dan Banten sangat berkepentingan dengan JSS. Sayapun kalau ada JSS bakal suka jalan-jalan ke Sumatera karena lebih dekat dibandingkan dengan Bali…

    Reply

  5. Resi Bismo
    Mar 20, 2008 @ 18:23:28

    terakhir ke lampung pada medio 90-an waktu itu masih kelas 1 SMA sempet ke waykambas bandar lampung beberapa saudara dan kerabat ayah saya malah ada yang transmigrasi ke lampung, mereka bercocok tanam pisang ketela dsb kehidupan mereka lebih baik ketimbang waktu masih di tanah jawa.
    Mas tri saya punya impian jika ibukota dipindah ke sala satu kota di propinsi lampung, atau industri pertanian di kembangkan disini atau apa kek asal jangan di pulau jawa.
    Potensi SDM juga lumayan karena ada unila.

    Reply

  6. tridjoko
    Mar 20, 2008 @ 20:13:29

    –> Mas Resi : ya mas, saya juga punya keluarga adik bapak saya yang di tahun 1960an transmigrasi ke Branti, dekat bandara sekarang. Cuman kemarin ini saya naik pesawat ke Bandar Lampung, jadi nggak sempat nyari rumah saudara karena naik taksi mahal (sekali jalan Rp 85 ribu dari hotel). No hp-pun ketlisut. Pendapat kedua saya juga OK mas, mestinya ibukota negara Indonesia dipindahkan dari Jakarta yang sudah sumpek. Mestinya dipindah ke Sumatera atau Kalimantan atau Sulawesi. Yang bagus tuh Italia, ibukota negara (Roma) beda dengan ibukota keuangan (Milan) sehingga kemacetan lalu lintas bisa tersebar merata. Amerika juga bagus, banyak negara bagian yang ibukotanya di kota kecil seperti Sacramento di California, Springfield di Illinois, dan Albany di New York..
    Unila ? Wah, banyak teman2 saya yang sudah Ph.D dari Amerika banyak mengajar di sana mas, kemarin ini saya ketemu dua di antaranya. Wah seneng banget, mereka sampai bawa anak dan isterinya kita makan-makan di “Rumah Kayu” restoran paling hot di Bandar Lampung sekarang ini…

    Reply

  7. darmanto
    Jun 28, 2008 @ 11:36:35

    Untuk pembangunan Propinsi Lampung tidak bisa dipisahkan dengan pembangunan pulau Sumatera secara keseluruhan.Saya rasa kalau pemerintah pusat adil. Seluruh hasil Kekayaan alam dari pulau Sumatera dan dikembalikan untuk pembangunan di Sumatera. Maka infra Strukturnya menjadi baik dan investasi akan berkembang. Kapan Sumatera punya jalan tol dari Aceh sampai lampung. Menurut saya di Jawa dan Jakarta khususnya sebaiknya hanya dijadikan tempat pariwisata dan pertanian. penduduk jawa dan jakarta sudah padat. Kalau semua industri di jawa maka banyak penduduk yang datang ke jawa untuk mencari pekerjaan, apalagi cita2nya jakarta menjadi kota megapolitan, maka akan terjadi banyak masalah sosial karena penambahan jumlah penduduk. idealnya kota jakarta tidak lebih dari 10 juta jiwa.maka masyarakat menjadi nyaman untuk hidup dan jauh dari masalah2 sosial. Disinilah akar masalahnya. Perbedaan pembangunan infra struktur antara pulau Jawa dan diluar pulau Jawa. semoga saran ini berguna.Wasalam

    Reply

  8. nanda
    Jul 22, 2008 @ 18:38:39

    Bandar Lampung tetap menjanjikan koq
    bakal dibangun Hotel Novotel pertama di lampung
    dan jadi salah satu yang paling megah se indonesia..

    kunjungi thread ini

    http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=608582

    untuk lebih jelas mengenai perkembangan Bandar Lampung terakhir

    dan thread ini

    http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=290248

    untuk melihat2 Lampung saat ini

    Reply

  9. nana
    Mar 30, 2009 @ 22:47:19

    Saat ini setiap bulan pasti saya datang dan menginap di Tanjung Karang, menurut saya mungkin penduduk Lampung banyak yang kaya dan pintar tapi satu hal yang menurut saya yang sangat melekat dengan lampung yaitu kekurangan orang-orang yang kreatif sehingga perkembangannya hanya pada satu sisi tertentu.

    Nana,
    Yogya jaman dulu, dan juga Bandung jaman dulu, juga tidak maju. Bali juga dulu tidak maju. Para pengrajin gerabah di Kasongan-Bantul dulu nggak bisa apa-apa, lalu datanglah yang namanya Sapto Hudoyo senirupawan dari Yogya yang turun tangan membantu desain dan pewarnaan keramik Kasongan yang sekarang sangat terkenal itu…

    Bandung juga maju karena banyak seniman seperti AD Pirous, Jeihan, Nyoman Nuarta, dsb yang kebanyakan lulusan SR ITB..

    Bali, malah lebih ekstrim. Dulu seninya belum maju tapi kemudian banyak seniman asing yang menetap di sana bahkan kawin dengan wanita setempat, seperti Rudolf Bonet, dsb. Jadilah seni di Bali maju..

    Yang perlu dilakukan oleh Bandar Lampung adalah “meminjam” seniman, pemikir, dosen, bisnisman, politikus, yang jempolan yang bisa memajukan Bandar Lampung. Mungkin cukup 5-10 tahun, pasti Bandar Lampung 15-20 tahun ke depan akan seperti Hong Kong, Hawaii, atau Macau…majunya..

    Asyik kan ?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 330 other followers

%d bloggers like this: