Mulai bulan Mei, mari ber-Speedy

Sebagai dosen biasa yang gajinya nggak seberapa, sudah lama saya ingin mencari cara agar kualitas kehidupan saya meningkat, tapi dengan ongkos yang kalau bisa ditekan habis…

Akhirnya satu demi satu “cost center” diurai. Coba masuk akal nggak rekening telpon kok sebulan Rp 700+ ribu ? Kalau musim libur ngajar berarti itu dua kali lipat dari gaji saya “mode musim libur kuliah on”. Dari sejumlah itu Rp 500+ ribu pasti untuk membayar sambungan Telkomnet Instant yang lambatnya audzubillah dan mahalnya juga audzubillah itu..

Untuk ada tawaran migrasi ke Speedy. Jadi, hari Minggu kemarin saya nelpon ke 147 dan pesan layanan Telkom Speedy. Maka hari Rabu ini saya sengaja nggak ngantor dan ngampus, karena hari ini khusus waktunya buat nungguin Mr. Speedy memasang sambungan Speedy di rumah saya..

Tepat pukul 11.00 seorang mas datang ke rumah saya. Maka diapun mulai memasang modem ADSL2+ merk Aztech bikinan Singapore (at least, approved by SIRIM – Singapore). “Ini lebih bagus daripada merk D dan P pak” kata mas yang masang modem. Modempun dipasang sekitar 5 menit setelah sebelumnya memasang “splitter” yaitu membuat saluran telpon saya menjadi dua, satu untuk “voice” dan satunya untuk “data” yang disambungkan ke modem ADSL ini…

Bayarnya cukup murah, yaitu cuman Rp 168.000 ongkos ganti biaya modem, ditambah Rp 12.000 untuk biaya meterai 2 x Rp 6.000, total Rp 180.000. Biaya abonemen untuk kelas “professional” (no time limit, maximum download 1 GB) Rp 200.000 per bulan (konon bisa dikurangi kalau anak kita mahasiswa, tapi untuk jelasnya hubungi gerai Telkom / Plaza.com terdekat). Kelebihan download adalah Rp 0.5 per Kb.

Mengenai kecepatan ? Sesuai dengan namanya, modem ADSL seolah membuat jalan kampung (yaitu line telepon) menjadi jalan tol (yaitu LAN / Ethernet connection). Jelasnya kalau pakai Telkomnet maksimum kecepatan yang kita dapat adalah 54.0 Kbps maka dengan Speedy hal itu meningkat sekitar 7 kali lipat menjadi 384.0 Kbps…

Merasakan sesuatu yang 7 kali lebih cepat, tapi dengan biaya hanya 1/2 hingga 1/3 nya bagaimana rasanya ?

Assssoooy gebbbooiiii…

Sebaiknya anda cepat migrasi dari Telkomnet ke Speedy aja mumpung murah dan mumpung Speedy lagi promosi besar-besaran…

 

Waker Tebu : Pahlawan atau Musuh ?

Ketika saya masih sekolah dasar di dusun Ngrowo, Desa Mojorejo Madiun sekitar tahun 1963-1964 sekitar rumah saya masih dikelilingi oleh kebun tebu dari Pabrik Gula Kanigoro yang berjarak sekitar 7 km dari rumah saya..

Tanaman tebu pada masa itu dilakukan secara intensif, dengan sistem pengairan yang sangat baik karena dijaga “sinder” (pengawas tanaman tebu). Biasanya pabrik gula menyewa lahan milik masyarakat untuk menanam tebu yang usianya sekitar 18 bulan (?)..

Varietas tebu yang ditanampun adalah varietas unggul dalam pengertian masa itu, yaitu : ruas tebu besar, banyak air tebunya, dan berasa sangat manis. Ternyata sifat banyak air tebunya dan berasa sangat manis ini menjadi magnet bagi anak-anak seusia saya untuk “mencuri” tebu..

Ada hukum tidak tertulis bagi anak-anak kecil macam saya ini, yaitu : boleh makan tebu sekenyangnya asal di dalam kebun tebu. Dan sama sekali tidak boleh membawa batangan tebu keluar dari kebun tebu. Jika itu yang dilakukan, maka anak-anak kecil akan dikejar oleh “waker tebu” (penjaga tanaman tebu)..

Sebenarnya selain tebunya itu sendiri, anak-anak kecil seumuran saya waktu itu juga sangat tertarik dengan kembang tebu yang batangnya keras dan panjang sekitar 2 meter yang disebut “glonggong” itu. Kembang tebu itu sangat indah warna dan teksturnya dan biasa dipakai untuk membuat mobil-mobilan, becak-becakan, kereta-keretaan sama anak-anak kecil..

Nah, di sekitar dusun saya ada tiga orang waker yang sangat ditakuti sama anak-anak seusia saya. Rasa takut bercampur kagum senantiasa menyergap kami-kami semua ini. Betapa tidak ? Waker Marun yang pensiunan tentara dan bergaya seperti cowboy lengkap dengan topi cowboy, baju cowboy, celana cowboy, pistol cowboy, dan naik Jeep Willys itu benar-benar sosok selebriti setempat yang mengingatkan kami akan tokoh cowboy bernama “Jango” yang diperankan oleh Franco Nero dan sering diputar di bioskop Lawu dan Arjuna itu..

Setiap Marun muncul dengan jeepnya yang berjalan pelan di jalan utama perkampungan kami, anak-anak kecil tidak kuasa menatap matanya dan biasanya hanya melirik dengan sudut yang sangat kecil terhadapnya. Ya perasaan antara kagum dan khawatir itu ada. Kagum karena gayanya yang mirip selebriti, tetapi khawatir juga timbul karena ia disebut the meanest and the ruthless dari semua waker tebu yang ada di Karesidenan Madiun…

Tidak hanya Marun yang membuat bulu kuduk anak kecil berdiri bila hanya mendengar namanya saja. Waker Jo Kecuk dan waker Kromo Ndolo juga mengisi relung kalbu dan kosakata anak-anak kecil seusia kami..

Konok Jo Kecuk yang rumahnya di dusun Nggulun itu adalah bekas “kecu” alias pusher…ya kalau bahasa sekarang preman atau jawara setempat lah. Konon kemampuan berkelahinya amat sangat jagoan. Itu dikarenakan karen tubuhnya yang gempal tinggi, dan otot sepir (biceps, triceps) di tangannya yang membuat sosoknya tidak kalah dengan tokoh Smackdown manapun…

Lebih seram lagi adalah Kromo Ndolo yang juga tinggal di dusun Nggulun, di sekitar pesarean (kuburan) Nggulun itu. Konon matanya tinggal satu, persis seperti Jenderal Moshe Dayan dulu. Atau mirip dengan tokoh-tokoh perompak di sequel Pirates of Carribean..

Cuman bedanya, bila Marun setiap sore bisa kita lihat sosoknya yang mengendarai Jeep dan mengawal kereta tebu yang lewat sekitar 100 meter di sebelah timur rumah saya, tetapi kalau Jo Kecuk dan Kromo Ndolo adalah tetap menjadi legenda yang tidak tahu dimana rimbanya dan tiba-tiba ada di depan mata !

Saya malu mengatakannya, tetapi saya pernah tertangkap mencuri tebu, dan dipegang tangan saya yang kecil oleh salah satu dari kedua waker seram itu, dan ditanya apa pekerjaan bapak saya. Setelah saya jawab bukan polisi dan bukan tentara, maka sebatang tebu berukuran jempol orang dewasapun dipukulkan ke pantat saya, persis seperti yang dilakukan oleh algojo di penjara Singapura sana…

Auuh…aduuuh…auuuh…aduuuuh…

Cukup tiga pukulan sekuat tenaga di pantat saya, dan saya tidak pernah mencuri tebu lagi…

Tapi yang seram adalah, memandang wajahnyapun saya tidak berani !!!!

[Epilog : kebun tebu di sekitar rumah mulai habis sejak tahun 1966, dan berubah menjadi perumahan penduduk. Dari sebuah rumah di tengah kebun tebu pada tahun 1960, rumah saya sekarang sudah berada di tengah-tengah kota Madiun yang berkembang pesat pada tahun 2008 ini...]

 

Judul skripsi Pendidikan Matematika

Ada beberapa enquiry yang mampir di Blog saya tentang Judul Skripsi Pendidikan Matematika. Wah…saya nyerah, ternyata cari judul skripsinya luar biasa sulit di internet karena istilah “mathematics education” mempunyai makna yang jauh lebih besar daripada “pendidikan matematika” di UNJ atau UPI misalnya..

Saya hanya ketemu yang di ITB punya. Ya udah, ini saya share ya…

Sumber : http://digilib.si.itb.ac.id/go.php?node=2460

Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-05-13 04:09:00

DIAGONALISASI BENTUK KUADRAT SERTA PENERAPANNYA DALAM MENENTUKAN PERMUKAAN KUADRIK (QUADRIC SURFACE)  By: Sri Rahayuningsih (98320078)
Dept. of Computation and Mathematics Education
Created: 2002-07-11 , with 2 file(s). 

 
Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-05-13 04:23:00
STUDI DESKRIPTIF TENTANG TATA LETAK GEDUNGKAMPUS III UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG (KAJIAN SECARA TEORI GRAPH)  By: ROUDATUL HASANAH (98320073)
Dept. of Computation and Mathematics Education
Created: 2002-07-11 , with 1 file(s). 

 
Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-05-13 09:37:00
HUBUNGAN KEMAMPUAN DALAM MENGGAMBAR DENGAN PENGUASAAN TRIGONOMETRI  By: Netty Febrianingdyah (98320052)
Dept. of Computation and Mathematics Education
Created: 2002-07-11 , with 1 file(s). 

 
Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-05-14 10:08:00

ANALISIS KESULITAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL RUMUS-RUMUS SEGITIGA DALAM TRIGONOMETRI  By: Ulfah Nurhidayati (98320036)
Dept. of Computation and Mathematics Education
Created: 2002-07-12 , with 1 file(s). 

 
Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-05-24 05:41:00

KAJIAN PENGAJARAN GEOMETRI SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA LUAR BIASA (TUNA RUNGU) DI PARE KEDIRI  By: SITI CHOTIMAH (97320016)
Dept. of Computation and Mathematics Education
Created: 2002-07-22 , with 1 file(s). 
 

Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2002-09-21 08:55:00

MODEL ANTRIAN UNTUK SINGLE CHANNEL-SINGLE PHASE  By: Fitria Siswatinningrum (98320083)
Dept. of Computation and Mathematics Education
Created: 2002-11-19 , with 2 file(s). 

 
Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2003-01-13 11:42:00

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA(Studi kasus pada siswa kelas II Jurusan Tata Busana SMK Kartika V-I Malang) By: LILIS NUR HIDAYAH(98320041)
Dept. of Computation and Mathematics Education
Created: 2003-03-13 , with 1 file(s). 

 
Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2003-01-27 08:29:00

PENGARUH PENGUASAAN KONSEP dan KETERAMPILAN terhadapKEMAMPUAN MENYELESAIKAN SOAL-SOAL APLIKASI pada BIDANG STUDI MATEMATIKA(Studi Kasus Siswa Kelas I SLTP Muhammadiyah I Malang Tahun Ajaran 2001/ 2002)   By: MAMIK SETYANINGSIH(98320020)
Dept. of Computation and Mathematics Education
Created: 2003-03-27 , with 1 file(s). 
 

Judul skripsi Sastra Inggris

Ada banyak sekali enquiry masuk ke blog saya, bahkan hampir setiap hari ada enquiry, tentang Judul Skripsi Sastra Inggris..

Berikut ini contoh-contoh Judul Skripsi Sastra Inggris yang telah memenangkan banyak penghargaan di universitas masing-masing :

Sumber : http://www.clarku.edu/departments/english/research/undergrad.cfm

Genie Giaimo, “Women Talking about Women: An Exploration of the Contested Self in Narrative Identity Construction,” with advisors Jay Elliott and Jaan Valsiner

Hannah Knafo, ” Reflections of Modernity: Pre- and Post-World War I Conceptions of Modernity as Embodied by the New Woman in F. Scott Fitzgerald¹s The Beautiful and Damned (1922) and Collete’s La Vagabonde (1910), with advisor Jay Elliott

Michael LaFrancis, “William Faulkner: Perception and Reception,” with advisor Betsy Huang

Meghan Rosa, “Deconstructing Oppression: The Women¹s Room, Sula, and a Call for Unity among the Marginalized,” with advisor Jay Elliott

Kristen Small, “Working Through the Uncanny: A Feminist Reading of Autobiography,” with advisor Betsy Huang

Elizabeth Valenti, “A Hopeless, One-Sided Institution: Marriage and the Feminist Politics of Oscar Wilde,” with advisor Lisa Kasmer

Sumber : http://www.english.upenn.edu/Undergrad/thesisaward.php

Each year, the Undergraduate Chair, in coordination with the Honors Director and the Undergraduate Executive Committee, selects one honors student to receive this award. See also the Rittenberg Prize for Best Undergraduate Student in English.

2006 Winner: Kathryn Fleishman, “Tee-hee! Quod She, My Vulgar Darling: Detecting the Adolescent Female Voice in Nabokov’s Lolita and Chaucer’s Miller’s Tale.” Honorable Mention: Ruth McAdams.

2005 Winners: Willa Rohrer, “‘Stinging Red, Smarting Pink’: The Ethics of Representation in Nabokov’s Lolita”; Amir Shachmurove, “The Great Truth of Old Ideas: The English Past in Pride and Prejudice, Sybil, and Daniel Deronda”

2004 Winner: Lynn Huang, “Between Manuscript and Print: George Gascoigne as the Professional Poet.” Honorable Mentions: Robert Tawse and Katherine Fox.

2003 Winner: Sharon Fulton, “Compilation as Containment.”

2002 Winners: Sara Murphy, “A Poet’s Progress: Bunyanesque Walking in Blake’s Milton; and Brenner Thomas, “Arts and Letters: Epistolarity in Pamela.”

2001 Winner: Gregory Steirer, “Cooper’s __________: Narrating Absence in Safe.” Honorable Mention: Jack Guinn.

Sumber : http://theses.lub.lu.se/undergrad/by-organisation/000004000/000026000/000028000/015008000/
Andersson, Veronica: Genre Conventions and Plot Structure in Dorothy L. Sayers’ “Strong Poison” 3rd term paper/Bachelor thesis , 2006, Department of English

Andersson, Tobias: The Development of Henry Townsend in The Known World by Edward P. Jones 3rd term paper/Bachelor thesis , 2006, Department of English

Bindberg, Aili: King Stags and Fairy Queens: Modern religious myth in Marion Zimmer Bradley’s The Mists of Avalon3rd term paper/Bachelor thesis , 2006, Department of English

Johansson, Mia: Anne and Gilbert’s Falling in Love in L.M. Montgomery’s Anne of Green Gables series 3rd term paper/Bachelor thesis , 2006, Department of English

Larsson, Lisa: “That fluidity out there” – Epiphanies and the Sea in Virginia Woolf’s “To the Lighthouse”3rd term paper/Bachelor thesis , 2005, Department of English

Larsson, Lisa: The Figure in the Ground – Perception, Identity and Readerly Involvement in four Short Stories by Elizabeth Bowen Master/4th term thesis , 2007, Department of English

Lovén, Maia: Postmodern or conventional? An inquiry into the nature of Ian McEwan’s Saturday. 3rd term paper/Bachelor thesis , 2006, Department of English

Månsson, Pernilla: Family values in Sloan Wilson’s The man in the grey flannel suit 3rd term paper/Bachelor thesis , 2006, Department of English

Odlander, Katarina: The Development of Kitty Coleman in Tracy Chevalier’s Falling Angels 3rd term paper/Bachelor thesis , 2006, Department of English

Olsson, Fredrik: Male view of women in the Beat Generation – A study of gender in Jack Kerouac’s On the Road 3rd term paper/Bachelor thesis , 2005, Department of English

Persson, Catarina: Mythology and Moral in C.S. Lewis’s The Lion, the Witch and the Wardrobe 3rd term paper/Bachelor thesis , 2006, Department of English

Sjöholm, Veronika: Dorothy Sayers’ Gaudy Night From a Class and Gender Perspective 3rd term paper/Bachelor thesis , 2006, Department of English

Söder, Anna: Lloyd Alexander’s Chronicles of Prydain as a Bildungsroman
3rd term paper/Bachelor thesis , 2006, Department of English

Walfridson, Gabriella: Fictional Sisters: An examination of sisters and sisterhood in I Capture the Castle and The Brontës Went to Woolworths
3rd term paper/Bachelor thesis , 2005, Department of English

Ok ?

Selamat menulis skripsi ya….

Cerita tentang Bekicot dan Jarak Pagar

Ketika saya kecil, di depan rumahku di Madiun banyak terdapat tanaman pohon perdu bernama Jarak Pagar yang memang dijadikan pagar bagi rumah tetanggaku yang berprofesi sebagai petani. Bapak tani itu mempunyai 2 ekor sapi yang selalu diikatnya di depan rumahnya, persis di depan rumahku agak ke kiri. Bila malam, kedua sapi itu ditidurkan di kandangnya yang terletak di belakang rumah pak tani itu..

Kalau siang, kami anak-anak kecil sekitar kampungku suka bermain di jalanan yang ketika itu sangat sepi. Sesekali hanya lewat sepeda dan becak, hampir tidak ada sepeda motor atau mobil yang lewat. Daun Jarak Pagar itu kami petik, kami tumbuk dan kami bermain jual-jualan minyak. “Minyak..minyak…ayo siapa mau beli ?”, kata anak-anak itu gembira. Kadang-kadang minyak daun Jarak Pagar itu kami gunakan untuk menyalakan pelita. Ternyata bisa menyala, persis seperti minyak tanah. Bedanya, Jarak Pagar tidak perlu beli karena tinggal petik !

Di belakang rumahkupun banyak terdapat pohon pisang. Jumlahnya sekitar 20-30 batang. Di udara yang lembab, banyak menempel binatang-binatang kecil menjijikkan di batang-batang pohon pisang. Satu batang pohon pisang bisa menampung sekitar 10 ekor bekicot beserta anak-cucunya (karena banyak pula telur yang berwarna putih di sana-sini). Bagi anak-anak kecil seperti kami, bekicot itu sangat menjijikkan karena baunya amis (anyir) dan selalu mengeluarkan lendir..

Waktu kecil itu kami tidak tahu kalau di Perancis bekicot bisa menjadi makanan mahal (haute cuisine ?) yang disebut Escargot ! Kami juga belum tahu kalau bekicot bisa dijadikan keripik bekicot yang mahal seperti buatan pengusaha makanan dari Kediri dan Blitar..

Jarak Pagar dan Bekicot konon adalah sisa-sisa Perang Dunia II yang baru berakhir kurang dari 20 tahun yang lalu (cerita ini mengambil waktu tahun 1962-1963). Para orang tua kami selalu mengatakan bahwa sebelum Jepang masuk ke Indonesia dalam Perang Dunia II, Jarak Pagar dan Bekicot itu belum pernah ada di bumi Madiun, tentunya di seluruh Tanah Jawa dan mestinya juga di seluruh Indonesia. Selain Jarak Pagar dan Bekicot, sisa-sisa Perang Dunia II yang masih ada adalah beberapa nyanyian Jepang yang sering dinyanyikan oleh Bapak saya, salah satunya berjudul “Waskare” dan “Hinomaru” (apa benar judulnya begini, saya cuman dengarnya begini)..

Jadi, rupanya sebelum atau semasa Perang Dunia II, ada sekumpulan biologist Jepang yang ikut dengan gerakan pasukan ke tanah Asia Tenggara. Mungkin para biologist itu orang sipil, tapi karena ikut berperang mungkin mereka menggunakan baju tentara Jepang, tapi tanpa pangkat. Begitu yang kami dengar…

Nah sekarang di tahun 2008, sore kemarin saya melihat di TVOne seorang pejabat tinggi Indonesia diwawancarai jarak jauh di TV tentang keberadaan sebuah unit penelitian bidang kesehatan yang berada di bawah angkatan laut sebuah negara asing yang perwakilannya ada di Indonesia..

Melihat wawancara beliau, dalam hati saya tersenyum dan kadang-kadang ketawa ngakak karena lucuuuu banget…bahkan lebih lucu dari Srimulat !!

Entah perasaan apa yang ada di hati saya melihat beliau diwawancara dan menjawab seperti itu ? Kagum ? Kasihan ? Gemas ? Senang ?

Saya tidak tahu, kecuali yang bisa saya lakukan hanya mengelus dada. Di masa pemerintahan yang lalu-lalu, seorang pejabat tinggi selalu mempunyai “career track” yang lebih baik. Misalnya seorang yang diangkat sebagai Menteri pastilah dulunya seorang Rektor di sebuah universitas terkenal, atau minimal seorang Dekan di jurusan sangat terkenal di universitas sangat terkenal..

Tapi sejak adanya reformasi, beberapa orang yang latar belakangnya dari antah berantah – atau dengan kata lain “kurang meyakinkan” – diangkat sebagai pejabat tinggi padahal orang tersebut belum mempunyai semua persyaratan yang dibutuhkan : pendidikan, pengalaman, tatakrama, dan sebagainya..

Kalau kecenderungan ini masih diteruskan, di masa datang kalau ada pejabat tinggi diwawancara di TV saya akan siap-siap untuk ketawa keras-keras ibarat nonton Extravaganza di TransTV saja !

Kalau ada seorang yang mengaku berani, lalu mengklaim keberaniannya dengan memegang sebuah granat yang telah dilepas pin-nya dan bunyi desisnya sudah terdengar keras dan orang tersebut bilang, “Saya paling pemberani !”..

Apa perasaan anda ?  Merasa kagum atau kasihan dengan kekonyolan orang tersebut ?

Tanyalah pada rumput yang bergoyang !

 

Braakkk…dan kakiku (mungkin) patah..

Kemarin malam, ada dua ekor tikus setengah gede setengah kecil, ya seukuran botol Coca-Cola lah, mampir ke luar dapurku untuk mencari makan. Satu masuk ke tempat sampah (yang memang terbuka), satu lagi memelototi dari jauh. Entah kenapa, yang memelototi dari jauh kakinya berwarna putih. Di keluargaku fenomena itu disebut “White Sox” seperti nama kucingku jaman dulu. Tapi saya lebih suka menyebutnya…PT (Polisi Tikus) !

Sayapun berusaha menakut-nakuti dua ekor tikus itu dengan menghentakkan kaki kananku amat sangat keras ke lantai…….brrrraaaaaakkkk !

Ooouuuuch !  Ternyata sakit sekali !

Semalaman saya pakai minyak tawon memijati kaki kananku dari mata kaki ke bawah, tidak lupa membaluri pakai minyak tawon yang konon bikinan para pakar pengobatan dari Makassar itu. Kalau di Jawa minyak serupa disebut “minyak sangkal putung” karena bisa “menyangkal” (mengobati) tulang-tulang yang “putung” (patah)..

Pagi hari saya bangun pagi-pagi karena mau menjemput mamanya anak-anak yang baru datang dari Malang di Gambir. Jam 5.00 saya sudah bangun dan ketika berdiri…ouuuchh…kaki kananku sakit sekali. Maka hal pertama yang saya cari adalah mengambil payung…ya payung…sebagai tongkat agar kaki kananku tidak tertekan oleh tubuhku yang “sejahtera” ini..

Setelah mengambil air wudhu, saya membayangkan tidak bisa sembahyang subuh dengan kondisi kaki merana seperti itu. Sayapun mengambil kursi, menghadapkannya ke kiblat, dan pagi itu untuk pertama kalinya saya sembahyang dari kursi…

Ternyata setelah sembahyang segalanya menjadi lebih baik. Sayapun melakukan sejenis gerakan yoga sederhana yaitu berdiri dengan satu kaki, yaitu bertumpu pada kaki kananku yang sakit itu. Ouuuch…tapi rasa sakit sejenak saya lupakan, saya konsentrasi saja. Ini hanya sebuah sikap yoga, dan saya belum menggunakan pernafasan…

Awalnya saya berpikir, apakah bisa menyopir mobil ke Gambir dengan kondisi kaki seperti ini ? Apalagi menaiki dan menuruni tangga di stasiun Gambir yang jumlahnya banyak itu ? Ternyata, saya masih bisa nyopir ! Dari rumah jam 6.15 saya sudah sampai Semanggi jam 6.35, masih bisa masuk ke Sudirman nih karena Three-in-One berlaku mulai jam 7.00. Sayapun masuk jalan Sudirman yang sepi di hari Sabtu pagi ini, dan akhirnya sampai ke Gambir jam 6.42..

Setelah parkir di tempat parkir favoritku, sayapun tertatih-tatih menuju ke lantai 2 karena Gajayana katanya datang jam 07.15. Masih ada waktu buat membaca segala berita tentang klub sepakbola favoritku di TopSkor. Rupanya Gajayana baru masuk jam 08.10…much..much late daripada biasanya. Ternyata di peron sudah banyak berbagai bangsa : bule, dan india yang mau pergi ke luar kota di weekend ini..

Saya tidak pergi kemana-mana dengan kondisi kaki seperti itu. Gajayana-pun tiba, isterikupun menelpon saya yang berjarak 5 meter di depannya dan saya jawab, “Ya saya sudah lihat….”

Sebelum pulang, sarapan dulu dengan HokBen yang ada di stasiun Gambir. Habis makan sayapun tertatih-tatih lagi menuju mobil. Tapi things are not that bad…I feel better now..

Tapi tetap, pertanyaannya adalah, bisakah saya ngajar Senin pagi di Paramadina ?

Masih ada waktu 2 hari, mungkin kakiku perlu dimandikan dengan minyak tawon lagi nih…

 

Copyright Skripsi, siapa yang punya ?

Binus University adalah salah satu universitas swasta terkenal di Indonesia dari 5 universitas swasta yang mendapatkan ranking tertinggi menurut Webometrics…

Kalau tidak salah Binus University adalah universitas yang rankingnya keempat tertinggi dari universitas swasta di Indonesia. Salah satu penilaian Webometrics (www.webometrics.org) adalah banyaknya publikasi Binus yang ditaruh di website Binus (www.binus.ac.id) baik dalam bentuk PDF, Word, atau PS (Post Script, tapi di Indonesia yang kebanyakan Windows-based PS tidak terlalu populer)…

Nah, dengan trick tertentu saya pagi ini tadi bisa melihat ribuan, mungkin puluhan ribu, undergraduate project report (setara Skripsi S1) bidang Computer Science di universitas-universitas terkenal Amerika dalam bentuk PDF. Saya bilang dalam diri sendiri, “Wowww..!!!”…

Seperti sudah puluhan kali saya bilang dalam berbagai posting saya di dalam Blog ini, di Binus untuk jurusan Teknik Informatika saja setiap tahun ada sekitar 1,000 judul skripsi baru. Skripsi tersebut tentunya ada yang mendapatkan nilai A, B, ataupun C. Menurut rule yang ada di Binus, skripsi yang mendapatkan nilai A atau B hardcopynya akan ditaruh di Bagian Skripsi Perpustakaan Binus Kampus Anggrek Lantai 3-5. Sedangkan khusus bagi skripsi yang mendapatkan nilai A maka softcopynya ditaruh dalam bentuk PDF di website Perpustakaan Binus (library.binus.ac.id)…

Di tahun 2008 ini, telah berkembang sangat pesat sekolah tinggi komputer (AMIK dan STMIK) di seluruh penjuru tanah air. Saya sendiri pernah jalan-jalan dari Medan, Jambi, Palembang, Lampung, sampai ke Makassar dan Kendari, dan melihat sendiri STMIK di kota-kota itu sudah berkembang sangat pesat sekali.  Konsekuensinya, banyak sekali terdapat “rasa dahaga” akan contoh skripsi yang baik..

Alangkah baiknya, dan menurut saya memang sudah waktunya, Binus membuka contoh-contoh skripsi dan menaruhnya di Internet yang dapat diakses oleh berbagai kalangan, tidak hanya terbatas pada dosen dan mahasiswa Binus saja. Keuntungannya ada dua arah. Bagi Binus, hal ini akan mempertinggi ranking Webometrics versi yang baru nanti (2009). Dan bagi Indonesia, semakin banyak mahasiswa STMIK di Indonesia yang mendapatkan manfaat karena diperbolehkan “mengintip” contoh skripsi di Binus…

Bagi dosen Teknik Informatika seperti saya ini, hal tersebut tidak akan “menyedot” dan “menghapus” ilmu saya tapi malahan sebaliknya, ilmu saya akan bertambah banyak dan semakin banyak manfaatnya bagi masyarakat, yang pada gilirannya akan memperbanyak amal saya jika sampai ke akhirat nanti…;-)

Pertanyaannya sekarang, sebenarnya skripsi yang ditulis oleh mahasiswa Binus itu hak cipta atau copyrightnya siapa sih yang pegang : Binus, mahasiswa penulis, atau dosen pembimbing ?

Setahu saya hal tersebut belum ada aturan tertulisnya di Binus…

Jadi, sudah waktunya aturannya dibuat dengan jelas…

 

Play the hard ball (Part II)

If you have to drive a car in Jakarta today, defensive driving would not be enough. You have to have a gut, a wisdom, a patience, and a driving skill comparable to Michael Schumacher..

That’s something that I learned just today…

Hari ini udara Jakarta cerah, bahkan cenderung sunny day. Jika anda tahu kecenderungan weather di Jakarta, sunny day yang “terlalu sunny” justru akan mencurigakan karena biasanya late in  the afternoon biasanya akan datang hujan badai (thunderstorm)…

Hari ini saya berangkat dari rumah jam 6.40 seperti biasa melalui tol JORR (bayar Rp 6000) lalu nyambung tol Jagorawi arah Cawang (bayar Rp 1500) dan beberapa saat kemudian masuk tol dalam kota arah Priok (bayar Rp 5500). Tidak seperti hari Selasa dan Rabu kemarin yang macet berat karena para orangtua mengantar anaknya ujian akhir SMA, maka mulai Kamis kemarin dan Jumat hari ini traffic agak easy-easy aja…

Lancar sampai Cawang, keluar Jatinegara, lewat Matraman masih lancar. Tapi di depan Gramed Matraman (the huge bookstore with a new minimalist architecture, some people said it is the largest bookstore in South East Asia) mulai macet berat,  karena semua jenis kendaraan : bis, mikrolet, metromini, bajaj, mobil pribadi dan sepeda motor berebut jalan yang  ternyata macet. Ternyata ada bis Patas 2 yang as belakangnya patah dan melintang 30 derajat di tengah jalan (again, I feel sorry to Jakarta public transport. Di tahun 1992 waktu saya ke Singapore public transport mereka sudah sangat maju, jauh lebih maju dibanding Jakarta tahun 2008 ini !!)..

Lolos dari “terkaman” macet, sayapun mulai belok kiri ke arah Jalan Proklamasi, tempat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan oleh Bung Karno tanggal 17 Agustus 1945 hari Jumat jam 10.00 pagi waktu Jepang. Di atas jembatan Tambak masih macet, sayapun pakai trik ala “Roberto Carlos” untuk menyusur lajur paling kiri, merangsek ke depan, dan baru ke tengah lagi lepas lampu merah Proklamasi-Tambak. Sampai depan Megaria – bioskop dengan arsitektur masih seperti jaman kolonial itu – traffic masih macet. Baru setelah sampai di samping stasiun Cikini arah ke utara, traffic mulai mengendur..

Sayapun mengambil jalur lain dibanding waktu saya mau “balapan” dengan taksi putih sebulan yang lalu. Sayapun muncul dari jalan di sebelah hotel dan mau masuk Jalan Gondangdia. Tapi traffic dari arah selatan sangat padat, saya tunggu barang 2 menit tapi traffic belum mengendur. Sayapun pakai algoritma sopir taksi Jakarta untuk masuk ke jalan yang lebih besar itu, yaitu pakai lampu dan maju pelan-pelan. Rupanya ada semacam peraturan tidak tertulis kalau anda nyopir di Jakarta yaitu, jika anda mau belok pakai lampu sen maka tidak ada seorangpun yang akan memberikan jalan bagi anda.

Wah…”rumus lama” yang bikin celaka. Akhirnya sebuah mobil Hyundai merah yang warnanya sudah pudar dan tidak punya polyuretan di bempernya mengklakson dengan keras “Diiiinnnn….diiiiiinnnn”. Sayapun mengurungkan minat masuk..yah “yield” lah pada mobil-mobil lain. Akhirnya sayapun masuk di belakang Hyundai merah itu. Rupanya si Hyundai nggak bisa kencang dan saya terpaksa ngikut di belakangnya barang 200 meter…

Sayapun mau mendahului Hyundai dari sebelah kiri, I made just one move….just one !  Padahal jalanan di depan Hyundai kosong, dan di sebelah Hyundai juga kosong. Tapi belok kiri dengan tanda sen di Jakarta memang “deadly” akhirnya sebuah Mercedez Masterpiece-pun mengklakson keras-keras….Diiiinn…diiinnn…. Wah sayapun agak mundur gak jadi nyelip Hyundai…

Rupanya ada sesuatu yang tidak saya duga, si pengemudi MB Masterpiece tadi membuka kaca jendela seolah mau melihat siapa yang mengendarai mobil warna azzuri ini…

Sayapun mulai tersinggung, dari tadi menjadi “defensive driver” tapi kok merasa “disalahkan” di traffic Jakarta yang kacau ini….sayapun memutuskan berubah menjadi Michael Schumacher of myself….mobil saya tekan gasnya dalam-dalam dan meluncur melewati MB Masterpiece dan Hyundai tadi. Sengaja rada agak saya pepetkan ke MB Masterpiece tadi, tapi saya tidak perlu buka kaca jendela bung !

It’s me, what do you want now ?

Setelah itu, saya diselip dan menyelip MB Masterpiece yang kelihatannya buatan 1988 itu. It was a great and luxurious car, but if you drive it in the Jakarta street now….you like a Fred Flinstone driving dinosaurus, man !!! So watch up your manner !!!

Hal ini berakhir di setelah si MB parkir di ujung barat dari Jalan Merdeka Selatan…

Ooooo…tetangga kantor tho !

Saya tidak tahu apakah saya bangga atau terpaksa hari ini driving the way as Michael Schumacher way. I didn’t start the game, he did…so I played the hard ball again today…..

I just hope tidak ada postingan “Play the hard ball, part III”….

I want to make peace !

 

Cerita tentang asal Stanford University

Rektor Harvard University telah berbuat kesalahan dengan berprasangka buruk terhadap orang dan hal itu akan merugikannya..

Pada suatu hari seorang Ibu tua dengan baju lusuh bersama suaminya yang pakai baju dan jas lusuh, turun dari kereta di stasiun Boston, lalu berjalan tertatih-tatih menuju ke ruang Rektor Harvard University tanpa ada janji terlebih dahulu..

Sekretaris Pak Rektor dapat menilai dengan cepat bahwa pasangan berbaju lusuh itu tidak pantas berada di Harvard dan mungkin tidak pantas pula berada di kota Cambridge yang damai itu. Ibu tua itupun berkata lirih, “Kami ingin bertemu dengan Rektor Harvard”. “Oh Pak Rektor seharian ini sibuk sekali, tidak bisa menerima tamu”, kata si Sekretaris ketus. “Oh kalau begitu kami menunggu saja”, jawab si Ibu tua..

Selama berjam-jam, Sekretaris Rektor Harvard mendiamkan pasangan tua berbaju lusuh itu, dengan berharap bahwa pasangan tua itu akan bosan dan segera meninggalkan kampus. Tetapi pasangan tua itu tetap menunggu dan si Sekretaris menjadi frustasi dan akhirnya masuk ke kamar kerja Rektor Harvard. “Mungkin setelah bertemu anda Pak Rektor, pasangan itu segera pergi”, kata si Sekretaris kepada Pak Rektor. Pak Rektorpun mengangguk tanda setuju..

Rektor di universitas se terkenal Harvard pasti tidak mempunyai banyak waktu untuk menemui pasangan tua berbaju selusuh itu. Maka Pak Rektorpun menghampiri mereka dengan muka ditekuk, dagu ditarik, dan hidung diangkat menandakan kesombongannya..

Maka si Ibu tuapun berkata, “Pak Rektor, kami mempunyai anak laki-laki yang menjadi mahasiswa Harvard selama satu tahun. Ia sangat mencintai Harvard dan bahagia menjadi mahasiswa Harvard. Namun sekitar setahun yang lalu ia terbunuh karena kecelakaan lalu lintas. Saya dan suami saya ingin membangun patung di kampus ini untuk mengenangnya”. Pak Rektorpun tidak mempunyai simpati sama sekali kepada si Ibu tua itu, malahan iapun sangat terkejut..

“Ibu”, Pak Rektorpun berkata dengan ketus, “Kami tidak bisa membangun memorial  bagi setiap mahasiswa Harvard yang meninggal, sebab kalau kami melakukan hal itu maka kampus Harvard ini sudah kayak kuburan saja layaknya”..

“Oh bukan itu maksudnya”, si Ibu tuapun dengan cepat menjelaskan apa yang dimaksudnya, “Kami tidak ingin membangun patung. Kami ingin menyumbangkan sebuah bangunan untuk Harvard”..

Pak Rektor Harvardpun melirikkan matanya ke baju pasangan tua yang lusuh itu dan berkata, “Sebuah bangunan ? Apakah anda berdua tahu berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk membuat sebuah bangunan di Harvard ? Kami perlu biaya sebanyak tujuh setengah juta dollar untuk membangun seluruh gedung di kampus Harvard ini !”. Si Ibu tuapun terdiam sesaat. Pak Rektorpun merasa lega karena ia merasa pasangan lusuh itu akan segera meninggalkan kampus..

Namun si Ibu tua itu menoleh ke suaminya dan berkata pelan, “Pak..pak..cuman segitu uang yang dibutuhkan untuk membangun sebuah universitas lengkap dengan gedung-gedungnya ? Kalau begitu kita membangun universitas sendiri saja !”. Suaminyapun mengangguk tanda setuju..

Muka Pak Rektorpun merah padam tidak jelas apakah tanda marah atau tanda malu atau campuran antara keduanya…

Kemudian Pak dan Ibu Leland Stanford meninggalkan kampus dan kembali ke kota asalnya yaitu Palo Alto, California, dimana mereka berdua membangun sebuah universitas yang menggunakan nama mereka, sebagai tanda kenangan bagi anak kesayangannya yang dicuekin oleh Harvard…

[disclaimer : cerita ini belum tentu benar, jadi perlakukan sebagai cerita asal-asalan saja. Tapi message of the story is, jangan menilai seseorang dari penampilan luarnya. "Don't judge the book from its cover", seperti yang biasa dikatakan oleh Tukul Arwana..]

 

Cerita tentang Einstein dan Sopirnya

Di sekitar tahun 1930an dan 1940an, siapa di dunia yang tidak kenal dengan Albert Einstein ? Orang jenius yang menyebabkan bandul Perang Dunia II jatuh untuk kemenangan Amerika Serikat dan Sekutu ? Soalnya ia menemukan Teori Relativitas yang berbunyi E = m C2, yang bisa digunakan untuk “menjelaskan” bagaimana sebuah bom atom bisa dibuat. Coba Einstein tidak berimigrasi ke Amerika di akhir tahun 1930an dan tetap tinggal di Jerman, mungkin akhir Perang Dunia II ada di tangan Jerman…

Nah, saking terkenalnya Einstein dengan Teori Relativitasnya, maka iapun banyak diundang untuk berbicara di depan Seminar, Workshop, Conference, Keynote Speech oleh berbagai universitas baik di Eropa maupun Amerika Serikat. Maka iapun membuat jadwal, sebulan berkeliling Eropa dan bulan berikutnya berkeliling Amerika Serikat..

Seperti layaknya manusia biasa, Einstein-pun juga punya rasa capek. Mungkin waktu itu belum obat penghilang rasa sakit atau jamu pegel linu, barangkali. Maka pada suatu hari sewaktu ceramah di sebuah universitas terkenal di Paris, saking capeknya, Einstein-pun bilang sama sopirnya, “Eh Pir, gua capek nih, kalau gitu gua tiduran di mobil saja ya. Masalah ceramah di gedung universitas itu kamu aja yang melakukannya. Toh, kamu sudah jadi sopir saya selama 5 tahun ini dan kamu sering ngintip saya berceramah, jadi pasti kamu sudah mahir gimana caranya berceramah kayak saya…”

Sopirnyapun mengangguk tanda setuju, walaupun ia agak ketakutan karena harus bicara di depan orang banyak…

Dan surprise-nya, si sopir membawakan makalah Einstein tentang Teori Relativitas itu dengan sangat baik, hampir sebaik Einstein sendiri. Beberapa pertanyaanpun bisa dijawabnya dengan mudah, misalnya tentang siapa isteri Einstein, berapa anaknya, dimana ia menemukan Teori Relativitas, sudah mengunjungi universitas mana saja, dan sebagainya…

Tapi, tanpa diduga tanpa dinyana, datanglah sebuah pertanyaan dari seorang profesor universitas Paris itu yaitu “Bagaimana caranya anda membuktikan bahwa Teori Relativitas itu benar. Saya bersumpah tidak akan pulang ke rumah sebelum Tuan Einstein berkenan membuktikan Teori itu”…

Tapi dasar sopir banyak akal, tidak sedikitpun ia terlihat grogi dengan pertanyaan sesulit itu. Iapun dengan tenang menjawab, “Bapak-bapak dan Ibu-ibu hadirin sekalian, itu sebuah pertanyaan mudah, saking mudahnya sopir sayapun bisa menjawabnya. Izinkan saya ke mobil sebentar untuk memanggil sopir saya”, katanya mantab seperti Pak Djunaidi Santoso dosen Binus itu kalau berkata…

Maka iapun pergi ke mobil, memanggil “sopirnya Einstein” dan mengajak “sopirnya Einstein” itu ke ruang seminar. Maka sambil mengusap mata dan menguap karena masih mengantuk, “sopirnya Einstein” itu mulai menjelaskan bagaimana membuktikan bahwa Teori Relativitasnya adalah benar. Iapun mengambil kapur dan mulai menulis di papan tulis hitam itu. Dengan pelan dan jelas ia menerangkan tahap demi tahap pembuktian rumus itu. Total 10 papan tulispun ia perlukan untuk membuktikan Teori Relativitas itu…

Tak pelak, semua hadirin di universitas Parispun terkagum-kagum dibuatnya…

“Busyettttt….sopirnya Einstein aja pintarnya kayak gini, apalagi Einstein-nya !”..

Hah ? Preeettttt…!

 

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 167 other followers