Hampir setiap hari Blog saya ini menerima enquiry “standar gaji dosen swasta Indonesia”. Karena enquiry ini bertubi-tubi, maka dengan ini saya bukakan saja standar gaji dosen swasta Indonesia yang saya kutip dari “Universitas X”
HONORARIUM PER SKS
Pendidikan S1 : Asisten Ahli Rp 50.000; Lektor/Praktisi/6 tahun pengalaman mengajar Rp 75.000
Pendidikan S2 : Asisten Ahli/sederajat Rp 75.000; Lektor/sederajat Rp 100.000; Lektor Kepala/sederajat Rp 125.000; Buru Besar Rp 175.000
Pendidikan S3 : Asisten Ahli/Lektor Rp 125.000; Lektor Kepala/sederajat Rp 150.000; Guru Besar Rp 175.000
HONORARIUM PEMBIMBING DAN PENGUJI SKRIPSI
Pembimbing skripsi Rp 400.000 per skripsi
Penguji skripsi baik penguji utama ataupun pembantu penguji Rp 150.000 per mahasiswa peserta ujian skripsi
UANG TRANSPORTASI
Diberikan sesuai dengan kebijakan Universitas
CATATAN
Honor dosen tersebut di lingkungan universitas swasta di Jakarta kurang lebih sama, namun bedanya, ada universitas yang menetapkan rate tersebut sebelum dipotong pajak (before tax), ada universitas lainnya yang menetapkan rate tersebut setelah dipotong pajak (after tax) - dalam hal ini tax telah dibayar oleh universitas yang bersangkutan..
Jika jumlah kelas cukup banyak di universitas swasta tersebut, dan dosen mendapat beban sks yang cukup besar, menurut hitungan kasar saya gaji dosen universitas swasta di Jakarta (setelah dipotong pajak) adalah berkisar antara Rp 2.000.000 sampai Rp 10.000.000
Berminat jadi dosen ?
Ingat jadi dosen itu selain mendapat imbalan berupa honorarium juga mendapat kepuasan pribadi karena telah mengamalkan ilmu kepada sesama, selain itu juga sesuai dan mendukung Tujuan Negara Indonesia seperti yang termaktub dalam Mukadimmah UUD 1945 yaitu “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”
Hidup dosen !!!
60 responses so far ↓
Prihadi Setyo Darmanto // April 14, 2008 at 9:38 pm
Ass wr wb,
Yon semoga sehat selalu. Piye kabare? Keluarga sehat semua kan? Putrimu sing nang ITB ada di prodi apa? Kok akau telepon ke rumahmu sulit, apa sudah pindah? Mbok aku diberi no hp, barangkali bisa sms@an he-he-he. Aku lagi seneng maca tulisanmu, kanggo hiburan soale aku akhir-akhir ini sibuk kerja terus, walaupun gak jelas juga apa sing tak goleki. Wah aku juga ikut mbina jurusan Informatika UNPAK yang kebetulan diselenggarakan di kantorku, depan Vila Nusa Indah 5, Ciangsana dekat Kota Wisata, tapi belum bisa nggaji sebesar yang sampeyan tulis iku, karena muridnya masih dikit he-he-he. Apa sampeyan mau jadi dosen tamu kadang-kadang di tempatku itu? Salam aja ya ke isteri dan anak-anak. Anak-anakku jik dha kuliah kabeh, sing pertama S2 di Teknik Sipil dan yang kedua angkatan 2007 pengine masuk teknik Lingkungan. Sing penting padha gelem sekolah wae aku wis bungah he-he-he. Salam ya, yen ke bandung mampir ya. Wass wr wb
Prihadi
Poppy // April 14, 2008 at 10:11 pm
mengutip:
“Pembimbing skripsi Rp 400.000 per skripsi”
D kampusku yg notabene skrg dah jd “BHMN” honorarium utk pembimbing skripsi adalah Rp 19.000. parah bgt y?
parah! parah!
Resi Bismo // April 14, 2008 at 11:17 pm
pengen juga sih jadi dosen, cuma ntar kalo udah ada pengalaman industri…. seperti dosen2 saya disini, rasaya lebih afdhol gitu kalo sudah ada pengalaman dilapangan. Bagaimana menurut mas tri apa opini saya itu bisa diterima?
tridjoko // April 15, 2008 at 10:51 am
–> Mas Pri : Wah..memang kapan itu aku curiga, kok di Blogku ada enquiry “Prihadi Setyo Darmanto” wah..tanpa salah spelling berarti yang melakukan enquiry orangnya sendiri. Jebul bener tho ? Wah, di Bandung tahun 1997 dulu ketemu terus ke rumahmu di Awiligar, aku nyatet telpon omahmu plus HP-mu terus datanya ilang…jebule disimpan di halaman belakang sebuah buku komputer yang baru tak beli di Bandung ! Pantas ilang, lha wong bukuku ana ratusan ? Walau begitu aku juga sering ngecek sampeyan yok opo kabare di Mas Google, wah ternyata cukup sibuk ya..soale kebanyakan kerjaan…ha..ha.. Anakku Dessa wis lulus FH Undip 2 tahun yang lalu, dan sudah kerja di bidang Asuransi (HR Services) di sebuah perusahaan asuransi di sekitar Menteng. Anakku yang kedua Ditta ini lagi nulis TA tentang 2-D reservoir simulation di Geofisika ITB. Katanya mudah-mudahan Juli 2008 ini diwisuda (Amien !). Wah..kantormu yang di Ciangsana juga masih ada ya ? Nanti kapan-kapan ke sana. Mengenai ngajar, boleh kapan-kapan saya coba ngajar di Unpak Ciangsana, kan cuman 7-8 kilometer saka rumahku di Jatiwarna. Nomor telp rumahku sering dipakai TelkomNet dan ada fitur “call waiting”nya sehingga kalau lagi nyambung internet ada telpon masuk dari luar seolah-olah dipanggil terus…padahal yang di rumah ora krungu ! He..he.. O ya aku ndenger anakmu kuliah dimana dari siapa ya aku lupa, ooo…dari Yuliati waktu ketemu di Sabuga dalam rangka ngantar anak masing-masing masuk ITB (anak dia di EL 2003). Nomer telpon omahku wis ngerti tho ? Nek hapeku iki nul-wol-ji-ji-wol-nem-mo-nul-ro-nul. Kapan-kapan yen neng Jakarta ya ketemu makan-makan siang gitu lho Mas Pri, sapa ngerti lagi oleh rezeki audit AC hotel 70 lantai di Jakarta…ha..ha.. Piye kabare nabi, mbing, othok, edi as, eko ? Jebul sing seneng ngunjungi blogku kuwi Simbah (Purwoko, 3 IPA-4) mergo deweke manggone neng mBediun nanging kerjane neng lepas pantai (dodolan muiiinyaaaaakkkk….). O ya mas, dadi omahku durung pindah, neng saka tol JORR saka arah mBandung exite neng Kranggan/Jatiwarna, njur U-turn. Kira-kira 1 km wis tekan omahku..Ya kapan-kapan nek neng mBandung aku tak mampir. O ya nek Mas Pri wis maca Blogku kabeh, ana kabare yakuwi bojoku saiki lagi njupuk S3 di Unibraw mau ngambil topik disertasi tentang ukum serodadu..he..he.. Salam ya ngge Mbak Kis (?) lan anak-anakmu. Sering neng mBediun lan Ponorogo nggak ? Minggu wingi aku lewat omahmu Nglames ketoke sepi-sepi wae ya..
tridjoko // April 15, 2008 at 11:01 am
–> Mbak Poppy : itu karena kampus mbak yang berstatus “BHMN” itu pegawainya adalah pegawai negeri yang sudah menerima gaji setiap bulannya. Sehingga pembimbing skripsi hanya dikasih honor less than “no-mban”…wah sedih juga ya. .
Yang saya tulis di sini adalah khusus universitas swasta “tertentu” di daerah Jakarta yang memang tingkat kehidupannya mahal..
Makanya mbak, walaupun statusnya “BHMN” dosen-dosennya pasti lebih suka ngajar sambilan di universitas swasta, karena selain merasa “lebih dihormati” juga lebih merasa “diuwongke”..
Kecuali mungkin untuk universitas yang berstatus “BHMN” dan rektornya atau universitasnya sudah peduli kepada dosen seperti yang terjadi di sebuah univ di Jakarta, sebuah institut di Bandung, atau sebuah univ di Yogya, mungkin dosen-dosennya sudah merasa sedikit “betah” tinggal eh maksudnya ngajar dan membimbing skripsi di rumah…
tridjoko // April 15, 2008 at 11:07 am
–> Mas Resi : Wah…opininya mas sudah tepat, yaitu menimba karir dulu di industri nanti kalau sudah berpengalaman baru mulai mengajar. Kebanyakan dosen paruh waktu di universitas-universitas top Jakarta memang mempunyai pengalaman di industri (mungkin istilah “real world” lebih tepat daripada sekedar industri). Sehingga dalam mengajar teori di kampus bisa diimbangi dengan memberikan contoh-contoh aplikasinya di industri…eh di “real world”..
Jadi dosen itu niatan mulia mas, jadi kalau mas sudah berminat jadi dosen berarti 50% dari pahala sudah di kantong mas !
Menurut saya, semakin awal menjadi dosen akan semakin baik (saya memulainya di umur 26 tahun). Karena kalau sudah jadi dosen, kerja di industripun juga semakin mantap karena sebagai dosen kan “artikulasinya” udah jempolah banget, pastinya…
Jadi, niatan sampeyan saya dukung mas !
Agung // April 15, 2008 at 8:58 pm
wah..!!
lumayan buat jadi kerjaan sambilan saya 10 ato 20 tahun kedepan.
hehehehehehhee..!!
tapi itu standardnya kan Pak??
kalo di Binus kira2 segitu yah Pak??
kalo di UPH kan lebih gede.
hehehehehhehee…!!!
tridjoko // April 15, 2008 at 11:11 pm
–> Agung : wah…”universitas X” itu rahasialah, saya nggak mau nyebut nama (soalnya universitas itu belum “bayar iklan” di blog saya…he..he..)..
Tapi itu data aktual. Ya pokoknya itu standar bagi universitas yang sudah mapan di Jakarta, yah mungkin 10 univ terbesar di Jakarta pakai standar itu (Trisakti, Untar, Binus, Gundar, Atma, UPH, Param, dsb)
Cuman simpangannya memang ada, saya nggak mau bilang Binus posisinya dimana. Ada yang lebih besar dari itu di beberapa point, ada yang lebih kecil dari itu di point-point lainnya. Tapi di Binus itu diberikan before tax, jadi yang diterima adalah……(hitung sendiri)…
Memang jadi dosen sebaiknya tidak dijadikan pekerjaan utama, pekerjaan sampingan sih oke. Karena ingat, di seluruh dunia gaji terkecil adalah gaji guru (termasuk dosen) dan gaji tentara (termasuk polisi).
So ?
Simpulkan sendiri…
Agung // April 17, 2008 at 9:17 am
yah,kalo saya sih melihat kerja jd dosen itu lebih fleksibel dan gajinya masih worth it kalo diliat dari kerjaanya.
dan saya emank punya passion buat ngajar.
yah suka aj,ngomong di depan dan didengerin orang.
hehehehehhehehehe…!!!
Pak,itu yg ditulis diatas bener2 per SKS dan dibayar per semester??
jadi gaji dosen yg S2 minimal 2juta per bulan dapet kan Pak yah?!
tridjoko // April 17, 2008 at 12:40 pm
–> Agung : Misalnya ada seorang dosen baru yang mulai ngajar di universitas “X” tersebut. Katakanlah ia jenjang pendidikannya hanya S1 dan pangkatnya Asisten Ahli, maka ia berhak mendapat honor mengajar Rp 50.000 per sks.
Misalnya si dosen baru ini diberi beban ngajar 10 sks (10 x 50 menit = 500 menit) per minggu, maka penghasilannya per minggu adalah 10 x Rp 50.000 = Rp 500.000. Mudah dihitung kalau penghasilannya per bulan adalah : 4 x Rp 500.000 = Rp 2.000.000
Cocok kan ? Nah, di universitas “X” itu kebetulan honor tersebut adalah honor
after tax” (setelah dipotong pajak), artinya pajaknya yang katakanlah 10 % = Rp 200.000 sudah dibayar sama employer, yaitu universitas “X” itu. Jadi di dalam slip gajinya sebenarnya honor mengajar yang diterima adalah Rp 2.200.000 dipotong pajak Rp 200.000, maka yang diterimakan kepada dosen Rp 2.000.000,-
Mana ada pekerjaan lain yang kerjanya hanya 10 jam seminggu sudah dapat gaji Rp 2 jeti kayak gitu ?
Bank ? Sebagai pegawai baru harus masuk jam 7.00 pagi pulang jam 7.00 malam baru dapat segitu, ngkali !
O ya, ini dengan asumsi dosen baru sudah keluar jenjang “Asisten Ahli” yang harus diurus ke Dikti dulu. Kalau jenjang belum keluar, mungkin yang dibayarkan tidak setinggi itu, or else…dosen dengan pendidikan S1 nggak bakalan diterima sebagai dosen..
O ya, dibayarkannya biasanya di akhir bulan, sekitar tanggal 28.. (bukan per semester)..
Agung // April 17, 2008 at 7:43 pm
bah…!!!
mantab2 Pak…!!
hahahahahahahhaa..!!
makin besar keinginan saya jadi dosen nanti.
hehehehehehehe..!!
satu pertanyaan lagi Pak.
dosen maksimal ngajar berapa SKS Pak per semesternya??
kalo bisa 20SKS asik juga yah?!?!
hehehehehhee..!!
tridjoko // April 17, 2008 at 8:54 pm
–> Agung : Apakah dosen bisa diberikan beban mengajar sebanyak 20 sks di suatu universitas ?
Ya dan tidak !
Ya, kalau universitas itu mahasiswanya banyak banget dan dosennya dikit banget, maka dosen baru itu akan diberikan beban 20 sks juga, eventually…
Tidak, mengingat dosen baru biasanya di-test dulu dengan jumlah sks yang semenjana (seadanya), misalnya 6 sks, 8 sks, 10 sks, maksimal mungkin 12 sks. Jika prestasinya bagus (masuk terus, disenangi mahasiswa, nilai fair) maka semester berikutnya akan ditambah lagi sks-nya demikian sedikit demi sedikit..
Ada yang belum saya ceritakan :
Asumsi gaji Rp 2 jeti gitu kalau universitasnya masuk terus alias tidak ada libur (kalender merah, UTS, UAS). Kalau ada libur ya dosen cuman bisa gigit jari karena “nggak narik” (ibarat sopir taksi nih !)..dan yang diterima hanya honor jenjang dosen saja yang jumlahnya amat sangat tidak signifikan…
Hal lain, di “Universitas Y” yang saya tahu, setiap tahun rate gaji dosennya dikoreksi terhadap inflasi sebesar 10% per tahun. Jika pada tahun n1 dosen baru diberikan rate Rp 50.000 per sks, maka semester berikutnya rate-nya dinaikkan sebesar 10% menjadi Rp 55.000 per sks. Jadi di “Universitas Y” ini, dosen senior akan mendapatkan rate yang jauh lebih tinggi daripada dosen junior. Tapi kenaikan 10% itu terjadi jika prestasi dosen bagus (ngajar masuk terus, ngumpulin nilai UTS dan UAS tepat waktu, rajin hadir di rapat2, tidak ada komplain dari mahasiswa, dan nilainya fair)..
Ada pertanyaan lagi ?
He..he..he…
[yang penting dicatat, apakah calon isteri anda nanti bangga bila suaminya menjadi dosen ? Siapa tahu para isteri lebih suka suaminya buka toko saja asal fulus yang dibawa pulang ke rumah banyak. Itu PR anda Gung...survey dong !!]
Agung // April 17, 2008 at 9:05 pm
yehhh…!!!
kan saya uda bilang Pak,
jd dosen cuma kerjaan sambilan.
saya tentu ada kerjaan utama yg mudah2an gajinya jauh lebih gede dari gaji dosen.
yang saya bilang wkt itu,
bikin usaha biofuel,ato jual pecel sesuai saran Bapak juga boleh.
hehehehehehehehe…!!
minimal ada usaha Papa yang hrs saya teruskan bersama adik2 saya.
hehehehehehehehehe…!!!
tapi segitu uda lumayan banget Pak.
padahal cuma semacem melampiaskan passion,tapi dapet duit.
yah,enak juga lah.
lagian istri saya mah nanti asal saya pulang bisa bawa duit buat dia belanja di zara kek,mango kek,ato frank & co. kek.
hehehehehhehehe..!!
mungkin survey itu bisa jadi bahan skripsi saya.
bisa ga yah??
giman biki programnya yah?
hhehehehe..!!
tridjoko // April 17, 2008 at 9:27 pm
–> Agung : Wah..isterimu bakalan senang belanja Mango, Benetton, Mark & Spencer, Dolce & Gabana, Gucci, Versace ???
Dan kamu senang belanja Giorgio Armani, Tommy Hilfiger, Bally ?
Wah…kalau gitu jangan jadi dosen Gung !!
Nggak bakalan nutup, he…he…he…
Kecuali anda beli “those stuffs” versi Tenabang or Mangga 2…he..he..he…
Agung // April 17, 2008 at 9:35 pm
hahahahahahha…!!
jadi dosen gpp,kalo uda punya passive income 50juta per bulan.
terus punya deposito 50miliar.
hehehehhehehehehee…!!!
tridjoko // April 17, 2008 at 9:46 pm
–> Agung : Huh ? Passive income Rp 50 juta per bulan, deposito Rp 50 milyar…
Badly managed !!!
Pasti anda belum pernah sekalipun lihat acara Safir Senduk di Trans TV (?) atau Iqbal Akbar di O-Channel atau anda belum pernah dengar atau baca tulisan Elvynn G. Masyasya atau Roy Sembel ya ?
Kalau gitu, sebaiknya anda berusaha untuk dapat sertifikasi CFA (Certified Financial Analyst) nih. O ya, ada CFA level 1, 2 dan 3…
Deposito Rp 50 M itu uang nganggur man, dan too much…
Just call your financial planner now…
Agung // April 18, 2008 at 4:10 pm
hahahahahahaha…!!!
itu kan cuma ibaratnya Pak.
saya juga belom kebayang n belom siap kalo sekarang punya uang 50M.
hehehehehehehehe..!!!
simbah // April 19, 2008 at 11:45 am
Nongol lagu aku Dik Yon,…Prihadi, namanya aku ingat tapi wajahnya wis gak ingat lagi. Kecuali sing Cewek2 nek ayu aku mesti inget..he..he..
Ngomong2 soal gaji, Dosen juga Guru sangat beruntung lho!! mungkin secara materi kurang dihargai seperti negeri Jiran Malaysia. Tapi menurutku nantinya di alam sono noh…masih dapat kiriman, selama ilmu yg ditularkan masih dipakai di alam sini. Betapa tidak aku bisa mbaca dan nulis dari almarhumah Bu Asmunah, Ibu Guruku klas 3-sd yg sampai sekarang murid-2nya masih dapat menggunakan. Apalagi Dosen,
dulu tahun 70-an ada beberapa Guru dan Dosen dari Indonesia pindah ke Malaysia, selain Malaysia waktu itu perlu, juga imbalannya sangat tinggi. Aku masih ingat waktu di Yogya th.76 ikut test masuk PT. Banyak mahasiswa Malaysia yg belajar di Yogya. Sekarang th.2007-2008 malahan Malaysia menawarkan orang Indonesia, supaya sekolah di sana…gimana Dik Yon, bisa terjadi ….?
tridjoko // April 19, 2008 at 2:39 pm
–> Simbah : iya mas…memang gaji guru atau dosen kecil, makanya kita hanya berharap amalan di surga nanti…ha…ha..ha…
Tapi saya dengan mbak-mbak saya pernah survey kecil-kecilan mas, ternyata anak-anak guru atau dosen itu secara pendidikan bisa maju terus ke level atas, tidak seperti anak orang kaya pengusaha yang kebanyakan anak-anaknya mursal, ndugal, lan adu bagus terus nek ngarepe pasar gedhe…he..he..he… (no offence, pengusaha !)..
Memang jadi dosen atau dipanggil “cik-gu” (Encik Guru) di Malaysia imbalannya lumayan. Dapet rumah, kereta (mobil), dan salari yang pajaknya kecil. Makanya teman2 dosen Binus ternyata banyak juga yang sudah menjadi “Cik-gu” baik di Brunei Darusallam maupun di Malaysia…(Pak Ferry Putuhena, Pak Zalwani dari Teknik Sipil Binus)..
Begitupun teman2 peneliti BPPT banyak yang sudah ngambil “cuti di luar tanggungan negara” supaya bisa jadi “Cik gu” di negeri jiran sana…
Dulu di 1976 banyak mahasiswa Malaysia di Indonesia, dan sekarang di tahun 2008 banyak mahasiswa Indonesia di Malaysia ?
Itu namanya “cokro menggilingan” mas, kadang-kadang di atas dan kadang-kadang di bawah. Yah, semacam hukum alam-lah…
Kita tidur aja kadang mlumah, kadang murep, iyo tho ?
simbah // April 19, 2008 at 4:08 pm
Ya…ya…memang benar, seperti dulu Petronas belajar dari Pertamina. Nah sekarang Pertamina disalip sama Petronas. Sebetulnya saya yakin kita memiliki SDM yg pinternya gak kalah sama negeri Jiran, tapi kenapa ya…apa sistemnya yg salah? Jadi mbulet kayak begini…(kalo Hamdani tahu mesti dia bilang:” Gak usah ikut-2 mikir negara, sudah ada yg mikirin sendiri)”. he…he…
tridjoko // April 19, 2008 at 6:35 pm
–> Simbah : menurut istilah Sukardi Rinakit, pengelolaan Pertamina dari dulu itu sudah “bener”, tapi belum “pener”…
Nah, sebagai orang Jawa yang baik anda pasti tahu the big difference between “bener” dan “pener”…he..he..he..
Makanya Petronas sudah punya gedung 110 tingkat, Pertamina masih punya gedung di Jalan Perwira yang sejak saya masuk masih seperti itu (jelek-jelek…saya di tahun 1980 dianggap “pegawai Pertamina” lho, dan bisa keluar masuk bludas bludus gedungnya di Jalan Perwira, ke ruang komputer dan sebagainya, bebas…)..
simbah // April 20, 2008 at 4:08 pm
He..he..Ingat nggak Dik Yon? Bulik Kris, buliknya Herman Prasetyo yg Dokter itu juga ada di Pertamina EP. Bulik Kris kan teman sampeyan sekelas di III pas-2 dulu. Saya pernah ngimil beliau, suaminya justru yg di BPPT barangkali Dik Yon kenal? Lah Bulik Kris itu teman sekelas istri saya waktu di SMP satu.
afen // April 20, 2008 at 6:31 pm
Kang, salam kenal saka Cah Mbayuwangi. Aku seneng maca tulisane sampeyan. Lugas, komunikatif , ndosen banget. Tapi asik ko.
Aku nDosen ni PTK penerbangan. Sejauh iki nDosen penak-penak bae. Bayaran tergantung kreatifitas urip. Sing penting kan bahagia fi dunya wal akhirat. Minterke wong tapi ga minteri. Salam kanggo sedulur kabeh.
tridjoko // April 20, 2008 at 10:15 pm
–> Simbah : iya Mas saya ingat siapa itu Bu Lik Kris (Kris Pudjiastuti). Dia dulu memang sempat bekerja di BPPT sebelum saya ke Amerika tahun 1986 (saya masuk 1980, Kris kira-kira 1982-83). Suaminya memang orang BPPT, karena itu ia pindah ke Pertamina. Mungkin ia nggak enak kalau sekantor sama suami, atau memang tenaganya dibutuhkan di Pertamina..dan bayarannya itu lho…he..he..he…
tridjoko // April 20, 2008 at 10:20 pm
–> Afen : wah…salam kenal kembali Mas Afen. Selamat berkunjung ke blog saya yang sederhana ini…
Wah, enak ya sampeyan jadi dosennya penerbang. Apa di LPPU Curug-nya seangkatan dengan teman saya Simbah ini (angkatan 1976) ? Atau jauh lebih muda lagi…he..he..he..
Saya waktu SD sempat pengin jadi penerbang, tapi penerbang tempur bukan penerbang komersial. Membayangkan betapa enaknya di angkasa dengan pesawat yang state-of-the-art dan tinggal pencet sudah berputar-putar…
Walau waktu itu belum ada film “Top Gun” saya sudah membayangkan jadi seseorang seperti Maverick yang diperankan oleh Tom Cruise, lalu pacaran sama Kelly McGillis itu…
Iya mas, kalau gitu selamat mengabdi bangsa di dunia penerbangan…
[Saya pernah dikirim ke Jerman di tahun 1984 untuk mempelajari Life Cycle Cost pesawat terbang, terutama pesawat terbang tempur atau versi militer...]..
Agung // April 23, 2008 at 4:55 pm
Pak,nanya lagi tentang jadi dosen bole yah Pak?!
hehehehehehe..!!
waktu nglamar jadi dosen,mata kuliah yang kita ajarkan nantinya itu tergantung universitasnya,atau tergantung dosennya Pak?
misalnya nih kyk saya 10thn ke depan (mudah2an) punya gelar Bachelor Applied Mathematic ama Computer Science,trus gelar master management.
terus saya bole ngajar di smua bidang yang saya “kuasai” (dilihat dari gelar saya)??
ato cuma bole salah satu bidang aja Pak??
tridjoko // April 23, 2008 at 8:35 pm
–> Agung : good question !!
Yang jelas, waktu mengajukan surat lamaran, kan anda sudah jelaskan matakuliah apa saja yang bisa dan biasa anda ajar (kalau sudah punya pengalaman)….
Kedua, waktu wawancara, kan si pewawancara akan menanyakan kepada anda apa preference anda dalam mengajar mata kuliah. Maka anda jawab, saya prefer A, kemudian B, kemudian C, dst..
Ketiga, Dekan/Kajur apa yang anda lamari surat lamaran ? Dekan MIPA-kah, Dekan FASILKOM kah, atau Dekan Ekonomi kah ?
Kalau anda melamar ke Dekan MIPA, maka anda pasti diminta ngajar Kalkulus, Analisis, Regresi, Riset Operasi, dsb..
Kalau anda melamar ke Dekan FASILKOM, maka kemungkinan anda diminta untuk mengajar Algo Pemrog, Struktur Data, Arsitektur Komputer dst.
Begitu pula kalau anda melamar ke Dekan EKONOMI, anda pasti diminta mengajar mata kuliah ekonomi ini, itu, dan yang sana…
The trick is, “student body” masing-masing Fakultas beda. Misalnya, MIPA jumlah mhs baru hanya 100-an, FASILKOM 4000-an, dan EKONOMI 1000-an…
Jadi kalau anda melamarnya ke FASILKOM, maka chance anda akan jauh lebih besar. Mudah kan di-prove nya ? Selain itu, FASILKOM juga melayani jurusan lainnya, dan kebalikannya nggak berlaku..
Jadi, melamar ke Dekan Fasilkom is the most better off (quet erat demonstrandum)…!
Agung // April 24, 2008 at 2:45 pm
sep..!!
kalo gitu kita harus liat jumlah mahasiswanya dulu yah Pak.
baru tentuin nglamar ke dekan fakultas apa.
terus kalo uda jd dosen fasilkom misalnya.
saya mao ngajar kalkulus ato pengantar bisnis,
bole juga kan yah??
hehehehhehee…!!
tridjoko // April 24, 2008 at 2:48 pm
–> Agung : Yep, benar ! Kalau pas ngajuin lamaran, tujukan ke Dekan yang paling banyak “pasukan” mahasiswanya ! That way, your chance to be admitted is greater..
Apakah dosen homebase Fasilkom bisa ngajar ke MIPA atau EKONOMI ?
It depends. If you are damned good and you have damned good relationship with all of the dekans, kajurs, and sekjurs, then there is nothing impossible…Everything is possible !!!
Like me….hew..hew…hew…
Agung // April 24, 2008 at 3:19 pm
in case that i am a lecturer of UPH.
maybe i am not damned good,
and i have no damned good relationship with deans,and faculty’s staff.
but i have damned good relationship with the owner of the university.
will it make that thing possible??
hehehehehehehhehee…!!
tridjoko // April 24, 2008 at 7:36 pm
–> Agung : Let’s get it real, man !
Bisa nggak kita walaupun punya damned good relation (jangan pakai “ship” ntar dikira pacaran) dengan yang punya universitas (= Ketua Yayasan) lalu kita just walk in the Dean’s room or the Kajur’s room lalu just say, “Could you give me classes of 10 credit hours and I want it 4 cr hrs in IT Dept, 4 cr hrs in Science Dept, and 2 cr hrs in Econ Dept ?
Jika Dean and Kajur then say, “I am sorry Sir, that would be not possible. Maybe 2 cr hrs in IT Dept is just fine for you”…
So, what would you do ?
Go to the Ka Yayasan and ask the Dean and Kajur to be fired ? In another world, does Ka Yayasan prefer yourself than their two trusted lieutenants ? I just don’t think so…
Don’t be silly, man ! It’s A REAL WORLD and thing doesn’t work as exactly “on paper”
My point is, sangat jarang seorang dosen diberi kepercayaan mengajar di 2 atau lebih “jurusan” atau lebih tepatnya “koordinator mata kuliah” di universitas manapun. Dan jika itu terjadi, there must be a very strong reason behind it…
Sebagai contoh, saya pernah ditugaskan mengajar di jurusan/program studi Tek. Inf, Sis. Komp., Tek. Ind., Komp. Akun, TI-MAT, dan TI-STAT karena I believe the university trust me a lot. Itupun di semua jurusan itu saya mengajar rumpun mata kuliah Ilmu Komputer/Teknik Informatika, dan yang di luar itu hanyalah mengajar mata kuliah “IT Audit” di KA karena pertimbangan khusus…
Itupun terjadi hanya di 1 semester saja, dan semester selanjutnya, things just business as usual. Lain halnya jika anda mengajar di 3 jurusan di 3 universitas yang berbeda. That’s very very possible…
Agung // April 24, 2008 at 10:56 pm
ooo..!!
iyah,bener2 Pak.
mending ngajar di univ yg beda buat jurusan laen.
hehehehehehehehe…!!!
yg tadi itu ka cuma becanda Pak.
abis td msh eror pulang dr kwitang.
hahahahhahaahhaa…!!
saya sebenernya pengen banget ngajar mata kuliah Pemrograman Matematika dan Pemodelan Matematika,
abis sbnrnya mata kuliah itu menarik dan aplikatif dalam bnyk bidang.
cuma dosen yg ngajar kami,Pak ….., bnr2 kurang baik.
hehehehehehehee…!!
beda banget lah ama tipe2 Bapak,Pak Djun San,Pak Wikaria,Pak Agus Prahono,Pak Jonathan Lukas,dll.
makanya saya penasaran mao coba ngajar mata kulian itu dgn cara saya yg tentu saja lebih menarik dan edukatif.
hehehehehehehehe…!!
tridjoko // April 25, 2008 at 9:02 am
–> Agung : Oooo…gitu dong maksudmu..
Kalau anda punya interest di bidang ilmu tertentu seperti Mathematical Modeling atau apapun, sebenarnya kalau anda mau “ekstrapolasi” maka itu barangkali bisa jadi topik disertasi Ph.D anda lho..
Banyak lho temen saya sekantor Ph.D lulusan Belgia, dan di sana sekolahnya “tidak lama” dan anda sebutkan “bagus” kan…. Kalau di Amerika sekolah “lama”, jadi…..”tidak bagus” ya ?
Ha..ha..ha..
Wah, don’t mention people’s name. Bisa jadi reklame yang tidak baik bagi yang tidak disebutkan. Ntar blog ini isinya cuman “gossip” seperti yang banyak ditulis di forum-forum yang banyak diisi ama anak Binus itu…
Padahal semua itu belum tentu. Saya dulu diajari oleh orang Amerika (he is a professor, a New Yorker) bahwa “jangan mudah passing judgement”….karena seolah kita harus menilai orang. Padahal orang yang kita anggap baik, ternyata tidak terlalu baik (bagi some kind of criteria), ternyata orang yang kita anggap tidak baik tetapi menurut some other criteria ternyata orang itu jago banget (sering berbicara di forum internasional, punya tulisan-tulisan yang berbobot, network keilmuannya luas, dan sebagainya)…
So, you’d better be careful then…
Agung // April 25, 2008 at 10:40 pm
hehehehehehee…!!!
saya ksh pendapat dr segi mengajarnya aja Pak.
kan bole kita ksh sdkt penilaian,skalian buat pelajaran utk saya,gmn jd dosen yg “ideal” ntinya.
hehehehehehehehehe…!!
Amerika sih bagus banget Pak,
cuma terlalu bagus buat orang kyk saya.
hehehehehehehe…!!
mungkin yg “pas bagusnya” buat saya yah Belgia itu.
hahahahahahaha…!!
FYI : ternyata mantan saya ga kuliah di Belgia,dia malah ambil kedokteran hewan di IPB (mantan kampus Bapak). dasar cewek aneh,punya kesempatan malah ga dipake kuliah di luar negeri. so,terbuktikan Pak,saya ke Belgia bukan karena dia. hehehehehehe…!!
kalo disertasi gitu berarti saya harus bikin “teori” pengembangan baru donk yah??
aduh,saya belom mikir ampe Ph.D Pak.
ini mao skripsi apa aj,msh bingung.
hehehehehehhehee…!!
mungkin nti,kalo emank dibthkan di sana,saya akan pertimbangkan ambil S3.
tapi harus nikah dolo…!!!!!
hahahahahhahahhaa…!!!
Pak,kalo cuma lulus S2,bisa jadi profesor ga yah??
saya pernah denger2 dr Pak Wikaria,kalo ada dosen di Binus yg “cm” lulusan S2 hampir jadi profesor.
tp ga jd karena jurnalnya ga dlm bhs inggris,krn beliau kurang baik dlm bhs inggris.
Agung // April 26, 2008 at 4:20 pm
hehehehehehee…!!!
saya ksh pendapat dr segi mengajarnya aja Pak.
kan bole kita ksh sdkt penilaian,skalian buat pelajaran utk saya,gmn jd dosen yg “ideal” ntinya.
hehehehehehehehehe…!!
Amerika sih bagus banget Pak,
cuma terlalu bagus buat orang kyk saya.
hehehehehehehe…!!
mungkin yg “pas bagusnya” buat saya yah Belgia itu.
hahahahahahaha…!!
FYI : ternyata mantan saya ga kuliah di Belgia,dia malah ambil kedokteran hewan di IPB (mantan kampus Bapak). dasar cewek aneh,punya kesempatan malah ga dipake kuliah di luar negeri. so,terbuktikan Pak,saya ke Belgia bukan karena dia. hehehehehehe…!!
kalo disertasi gitu berarti saya harus bikin “teori” pengembangan baru donk yah??
aduh,saya belom mikir ampe Ph.D Pak.
ini mao skripsi apa aj,msh bingung.
hehehehehehhehee…!!
mungkin nti,kalo emank dibthkan di sana,saya akan pertimbangkan ambil S3.
tapi harus nikah dolo…!!!!!
hahahahahhahahhaa…!!!
Pak,kalo cuma lulus S2,bisa jadi profesor ga yah??
saya pernah denger2 dr Pak Wikaria,kalo ada dosen di Binus yg “cm” lulusan S2 hampir jadi profesor.
tp ga jd karena jurnalnya ga dlm bhs inggris,krn beliau kurang baik dlm bhs inggris.
Gita // April 30, 2008 at 11:27 am
Pak,
Kalo gaji kajur berapa kira-kira ya?
tutinonka // April 30, 2008 at 1:10 pm
Maaf, saya dari planet lain, minta ijin bergabung.
adalah 1,5 juta. Ditambah tunjangan fungsional, tunjangan SKS, dll dll, take home pay yang diperoleh sekitar 2,5 juta. Nggak banyak sih, tapi untuk ukuran Yogya yang segalanya masih rada murah, nggak jelek-jelek banget kok. Jangan lupa, banyak penghasilan ‘insidental’ yang bisa diperoleh. Honor tim ini-itu, penelitian (cukup gede lho), praktikum, ngawas dan koreksi ujian, dll.
Di universitas XXX tempat saya mengajar, gaji pokok dosen golongan IIIA masa kerja 0 tahun (jan bener-bener masih ‘unthul’
Tapi menjadi dosen memang harus didasari oleh rasa cinta ilmu dan suka mengajar. Yang paling membahagiakan adalah kalau mahasiswa lulus dengan cepat dan IP bagus.
Ohya, jadi dosen juga harus hati-hati menjaga perilaku (baik di dalam maupun di luar kampus). Soalnya banyak ‘mata-mata’ partikelir yang ada di luar sono. Sekian ribu mahasiswa dan bekas mahasiswa bisa kita jumpai atau melihat kita bahkan di tempat yang sama sekali tidak kita duga. Jadi jangan coba-coba mengutil barang di toko, atau pergi mojok berdua di taman kota yang remang-remang dengan bukan pasangan resmi kita, karena bisa-bisa ada orang yang mendadak nyalamin kita sambil menyapa “Selamat malam Pak/Bu … lagi nyante nih? Saya XX/YY, bekas mahasiswa Bapak/Ibu dulu …”
tridjoko // April 30, 2008 at 1:56 pm
–> Mbak Gita : oalah mbak, mana saya tahu gaji kajur berapa ? Saya dulu pernah jadi dekan di suatu universitas, kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Jadi nggak tahu lah mbak, berapa gaji kajur. Apalagi di universitas-universitas yang saya ngajar, gaji adalah masalah sensitif dan tidak boleh ada orang lain yang tahu persis berapa gaji seseorang [Sebenarnya di Binus, slip gaji itu ada di internet, kalau kita cukup canggih dan bisa "masuk" ke servernya atau nebak-nebak passwd dosen, pasti kita akan tahu gajinya. Tapi walaupun kita bisa "masuk", masak kita bilang-bilang...ha..ha..ha..]
Tapi mbak, saya punya cara lain untuk menghitung gaji kajur, yaitu lihat aja mobil yang dia kendarai merk apa dan tipe apa. Kajur saya baru beli mobil sekitar Rp 100 jeti, jadi berarti gaji dia sekitar Rp 8 jeti per bulan….
He..he..he..gitu ya mbak caranya…
tridjoko // April 30, 2008 at 2:05 pm
–> Bu Tutinonka : wah..welcome aboard Bu, walaupun ibu dari planet lain…he..he..he..
Iya Bu, gaji dosen sebenarnya tidak jelek-jelek amat lah. Alias lumayan.. Apalagi kalau kita jauh dari sifat “aluamah” dan selalu “nrimo ing pandum” dan selalu berderma dan berdoa, maka yang namanya rejeki akan nempeelllll terus, kayak prangko….ha..ha..ha..
Apalagi sebenarnya masih banyak tambahan yang bisa diraih, seperti yang ibu katakan : masuk tim ini itu, ikut penelitian hibah bersaing (dana sekitar 250 jeti), dan barangkali menulis buku ajar…
Mengenai perilaku, wah itu sudah diset semula bu, kalau nggak mana bisa kita jadi dosen. Yang ibu bayangkan, saya juga pernah membayangkan. Yaitu dosen dilarang melakukan “hanky panky”. Saya membayangkan diri saya masuk panti pijat, misalnya, lalu begitu membuka tirai langsung disapa suara manis, “Hallo Bapak, selamat siang pak….” wah…kan malu besar tuh Bu !!
Tapi jadi dosen juga panggilan jiwa Bu, saya punya 2-3 teman yang tidak kerasan jadi dosen dengan berbagai alasan. Mungkin gajinya kurang memuaskan (untuk hidup di kota “hedonis” macam Jakarta), atau karena si Bapak ingin tetap bebas berperilaku…
Tapi bagi yang kerasan jadi dosen, pasti puluhan tahun akan tetap jadi dosen. Tahun 2008 ini adalah tahun ke-26 bagi saya jadi dosen Bu. Jadi lumayan “karatan” dan “berlumut”…he..he..he..
Ibu nulis blog juga dong, biar orang lain bisa mengambil manfaat dari pengalaman ibu…
tutinonka // April 30, 2008 at 2:23 pm
Trimakasih tanggapan (dan ‘persetujuan pendapat’nya Pak). Saya memang baru belajar ngeblog, tapi blog saya masih acak-adut, wong aslinya saya gaptek pol. Makanya teman-teman takjub ketika tahu saya punya blog. Mana mungkiiin, kata mereka … he he …
Blog saya isinya gado-gado campur es teler Pak, pokoknya apa yang mampir di kepala saya tulis. Saya ngeri bin keder baca daftar panjang pendidikan Bapak. Saya mah bukan ape-apenye …
Jika sempat, silahkan mampir di http://tutinonka. wordpress.com. Tapi janji, jangan tertawa …
Trimakasih Pak. Selamat libur panjang dari Kamis sampai Minggu.
tridjoko // April 30, 2008 at 2:35 pm
–> Bu Tutinonka : wah..saya salah Bu, ternyata Ibu sudah punya blog, dan saya sudah sempat mengunjungi blog ibu dan memberikan sedikit “ular-ular” ha..ha..ha..
Ah blog saya juga jelek bu tampilannya, tapi yang penting kan isinya. Ya nggak ? (jadi inget Tukul, “don’t judge the book from the cover”..he..he..)..
Bu kenal bu Sri Kumaladewi nggak dari Teknik Industri ? Buku beliau yang berjudul “Artificial Intelligence” banyak laris lho di Jakarta, dan saya sudah meminta mahasiswa saya dan mahasiswa yang “bimbingan” lewat blog saya ini untuk membeli buku beliau, di seluruh Indonesia..
Daftar panjang pendidikan saya ? Wah..bu, itu namanya “ngenyek” saya nggak pernah kerja ya….ha..ha..ha..
Iya bu, sekolah terus lama-lama malu dirasanin temen karena nggak pernah kerja…
Gita // April 30, 2008 at 4:37 pm
Iya ya.. masa kalo berhasil “masuk” bilang-bilang.. entar kalo ada orang dari univ tempat bapak kerja liat, walah.. gawat…
Cuma saya penasaran aja… soalnya di Untar gajinya itu berdasarkan JJA juga… kalo di Binus gimana pak? Kalo gajinya 8 jeti (bersih) beli boil 100 jeti, bisa tah? Itu cicilan berapa lama? kalo satu taon kayaknya gak mungkin deh… benar gak? Kalo satu taon beli boil, gaji sebulannya minimum 8.33 itu pun dia gak belanja apa-apa alias gak makan juga…
Kalo gitu gaji dosen ama kajur gak beda jauh ya.. kalo dekan berapa? — wah.. nanyanya lebih jauh lagi neh…
tridjoko // April 30, 2008 at 7:34 pm
–> Mbak Gita : wah..anda dari univ tetangga sebelah ya…
Jangan-jangan ini mbak Gita yang dulu pernah di Architecture Univ. of Cincinnati yang adiknya udah professor di universitas terkenal di Jakarta itu ya ?
Kalau yang itu, saya tahu…
Mbak, saya biasa menghitung penghasilan orang per tahun dari mobil yang dibelinya. Dan biasanya analisis saya tepat, alias tidak meleset jauh.
Misalnya orang yang bisa beli Avanza 120 jeti, ya gaji per bulannya pasti sekitar 120 jeti/12 = 10 jeti. Kalau orang bisa beli Nissan X-trail 300 jeti, berarti penghasilan per bulannya 300 jeti/12 = 25 jeti. Cocok kan mbak ?
Ya tentunya dicicil selama 3 tahun. Kan menurut Safir Senduk, besarnya cicilan seseorang maksimal 33% dari penghasilan. Jadi kalau gaji Kajur 100 jeti per tahun (after tax, yang sebesar 15% kalau nggak salah), maka penghasilan per bulan Rp 8,33 jeti (o ya di Binus, seorang Kajur setahun menerima 12 kali gaji, karena THR 1 kali gaji dan Bonus akhir tahun 1 kali gaji - tapi yang ini belum saya hitung)..
Sepertiga gaji berarti sebesar Rp 2,8 jeti untuk nyicil mobil, berarti pinjamannya sekitar Rp 75 jeti ya. Artinya kalau harga mobil Rp 100 jeti, ya dianya sudah punya uang buat DP Rp 25 jeti (25% nya). Cocok lagi kan ?
Nah pertanyaannya, bisa nggak hidup di Jakarta dengan uang sisa hanya Rp 5,6 jeti per bulan ? Tergantung mbak, kalau dianya anak sulung dan adiknya ada 11 orang (membentuk kesebelasan “Sengsara FC”
ya tentu nggak cukup. Tapi kalau dianya anak bungsu yang kakak-kakaknya sudah mantap, ya pasti cukup…
Kalau saya tebak-tebak dari mobil yang dikendarainya : gaji Dekan sekitar Rp 12-Rp 13 jeti after tax (tidak termasuk 2 kali gaji berupa THR dan bonus), dan gaji Kajur sekitar Rp 8-12 jeti per bulan after tax..
O ya juga, itu belum termasuk uang ngawas ujian, uang nguji skripsi, uang bimbingan skripsi, dan uang penelitian hibah bersaing yang jumlahnya sekitar Rp 5-20 jeti per tahun..
Hayo masih berminat jadi Kajur atau Dekan ?
[Kalau saya daripada "dipatok" jadi Kajur atau Dekan, mending menjadi dosen biasa aja, dengan catatan banyak kegiatan lain berupa konsultasi ini itu. Kebetulan saya juga lagi sertifikasi CISA, nah komponen penghasilan kalau kita punya sertifikat ini juga sangat signifikan...karena banyak diundang berbicara di sana sini...Last but not least, the then I was a dean, but I only held that job for 4 years only and refused to prolong it...]
tutinonka // May 1, 2008 at 1:33 pm
Don’t judge the book from the cover?
Iya sih, tapi koper … eh, cover penting juga lho. Kalau berwisata ke toko buku, biasanya saya tertarik pada covernya dulu, baru lihat-lihat isinya. Untuk menilai orang, nah baru, jangan lihat tampilannya saja, tapi lihat hatinya (padahal susah banget ya lihat hati orang, musti pakai sinar x … ).
Bu Sri Kumaladewi, saya kenal, meskipun tidak sangat kenal karena hanya beberapa kali ketemu. Beliau memang hebat. Baru saja menyelesaikan studi doktornya dalam waktu kurang dari 2 tahun! Ck ck ck …. (padahal saya sudah 4 tahun belum juga kelihatan ujungnya … he he …). Dulu waktu masih aktif di kampus saya sibuk setengah mati, jadi begitu off karena sekolah, lalu ‘balas dendam’ …. melakukan segala hal yang selama 17 tahun tidak sempat saya lakukan.
Tapi sekarang sudah ‘insyaf’ kok, dan mau kembali ke ‘jalan yang benar’. Kasihan teman-teman yang kebrukan gaweyan karena saya tinggal pergi ….
tridjoko // May 1, 2008 at 4:22 pm
–> Bu Tutinonka : maaf yang benar Bu Sri Kusumadewi dari Teknik Industri…
Ya deh,…ibu cepetan diselesaikan disertasinya biar segera menyusul Pak Machfud M.D. dan Ibu Sri Kusumadewi…
Pokoknya pas semangat, disertasi ditulis 10 halaman. Lama-lama kan 300 halaman Bu…
he..he..he..
Hendra // May 7, 2008 at 12:26 am
Pak kalo orang yg sudah dipecat dari dosen PNS laku ga jadi dosen swasta?
tridjoko // May 7, 2008 at 4:31 am
–> Hendra : wah..tergantung mas, tapi setahu saya jadi dosen swasta jauh lebih sulit daripada jadi dosen PNS….
Dosen PNS yang mengajar mahasiswa PTN itu tugas yang mudah : mahasiswa obedience (”manut”), aturan sudah jelas, dan biasanya mahasiswanya terjaring lewat saluran yang ketat (mis. SPMB)…
Sedangkan dosen swasta itu “between a rock and a hard place” (sorry, niru judul lagunya Rolling Stones nih)…situasi jadi dosen swasta di PTS serba sulit : mahasiswanya tidak perhatian kuliah, sembarang orang bisa masuk jadi mahasiswa asal bayar, beberapa mahasiswa either berasal dari keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi or else..berasal dari keluarga yang sangat mantap dari segi ekonominya. Yang pertama nggak bisa beli buku saking terbatas sumber keuangannya, yang satu nggak berminat kuliah dan cari ijazah doang…
Ini serba sulit, bahkan bagi orang yang punya pengalaman jadi dosen PTN sekalipun…
Yang kedua, tergantung dari alasan mengapa ia dipecat dari dosen PTN ? Kalau penyebabnya ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan moral standard…yah, ini yang sulit karena berita akan menyebar cepat lewat “the words of mouth..”…sehingga semua PTS tidak mau menerimanya sebagai dosen walaupun ia telah berpengalaman sebagai dosen PTN…
Gitu lho mas !
Hendra // May 7, 2008 at 8:27 am
gini lho pak,
aku dulu dosen ft unand .. dipecat karena dianggap mangkir meski yg mecat tau aku sekolah lagi .. skrg aku tinggal di kanada .. tapi nanti pulang juga.
pulang aku pengen jadi dosen lagi .. tapi di pts!! biar bisa nemu mhs2 kaya utk nangkep peluang summer school (training) di beberapa lab di univ sini yg aku punya koneksi dgn profnya.
spt dulu di labku (biomed engineering) mhs2 trainee (undergrad) ini dibayar 1000$/bulan utk partisipasi mrk dlm riset yg lg jalan. setelah itu klo bagus dan mau mrk bisa direkrut utk program master. cuman sayangnya ongkos kesininya kudu bayar sendiri. makanya yg aku cari mhs kaya dan mau jd pinter. program training ini bisa dijadikan pengganti ta .. dan bisa bantu pts bersangkutan go international.
pts mana ya pak yg banyak mhs kayanya dan sistemnya ga sekaku ptn?
tridjoko // May 7, 2008 at 11:30 am
–> Hendra : sepengetahuan saya mas, di Jakarta ini yang mahasiswanya tajir-tajir hanya ada 2 universitas yaitu : Trisakti sama UPH. Dulu sebelum krisis ekonomi 1998 mahasiswa DKV Trisakti biasa studi banding ke USA atau Europe. Mungkin begitu juga UPH…
Kalau Binus, I don’t think the student profiles meet your requirements, since most of Binus students come from a simple family, not as well-to-do as that of Trisakti and UPH…
So, bayarannya Can $ 1,000 setara dengan US $ 600 ya mas ? Lumayan mas, tapi seingat saya itu “batas garis kemiskinan” di USA. Artinya lumayan, tapi ya nggak bisa beli-beli yang terlalu mewah lah..
So I suggest you to contact Trisakti and UPH diretly by seeing their websites…
Hendra // May 8, 2008 at 12:23 am
wah pak Tri pengetahuan currency nya kudu di-update … udah lama 1 Can$ = 1 US$ .. bahkan akhir2 ini sering lebih gede Can$.
sayang website mereka ga setajir duitnya .. informasi yg ada masih terbatas pada informasi2 klise ttg visi misi dan sejarah kampus .. masih kalah dibanding website toko sepatu di cibaduyut.
jangankan utk mencari nama2 dosen dan expertisenya .. nyari e-mail dekan aja ga ada.
tridjoko // May 8, 2008 at 4:45 am
–> Mas Hendra : Oooops…sorry, saya masih ingat waktu masa-masa sekolah dulu kalau kita dapat “kembalian” dari mesin penukar uang atau box telpon berupa dollar Kanada langsung kita bilang…shoot…karena merasa ketipu karena nilainya much lower than US $…
Kalau yang dicari Biomedics, kalau nggak salah di Indonesia cuman ada di Comp. Sci. IPB. Cuman mahasiswa IPB secara ekonomis kebanyakan lemah seperti saya dulu….
Nyari e-mail dekan, kadang tidak harus dari website kampus. Kalau nama dekannya Dr. A, maka carilah nama Dr. A tadi di Google…biasanya ketemu mas…
Good luck !
Hendra // May 8, 2008 at 5:21 am
di UPH ada medical physics di dept physics ..
di ITB ada biomedical eng di STEI
iya pake google nemu spt e-mail pa tri yg di hotmail yg tiap ngirim langsung dibales postmaster ..
makasih ya pa tanya jawabnya .. ntar disambung lagi
tridjoko // May 8, 2008 at 9:15 am
–> Hendra : ya mas…Take care !!!
pkab // May 8, 2008 at 4:09 pm
kalau mau jadi dosen di indonesia untuk cari uang kayaknya bakalan banyak kecewanya.
karena ada seorang ibu dosen bercerita sama saya, setelah jadi dosen apalagi aktif di dunia internetnya karena harus membalasi pertanyaan2 mahasiswa/i di forum diskusi, ia malah jadi tekor (biaya komunikasi internetnya tidak tertutup dari honor mengajar), walaupun demikian ia jadi lebih happy karena bisa membimbing mahasiswa/inya lebih personal.
untungnya ada pahala yang besar di sorga, ketika berhasil membuat orang lain lebih pintar (kalau perlu lebih pintar dari dosen itu sendiri) dan ia menjadi manusia mandiri.
hidup dosen…!
tridjoko // May 9, 2008 at 2:18 pm
–> Pak Sur : Hidup dosen juga !!
Pak saya bulan lalu sewaktu masih pakai Telkomnet instant setiap bulan harus bayar Rp 400 - 500 ribu karena tuntutan Binusmaya dan berkomunikasi dengan para mahasiswa dan ex mahasiswa yang mengajukan berbagai pertanyaan…
Sayapun mulai merasa berat dengan rekening sebesar itu (mendingan buat nyicil motor bebek..he..he..). Akhirnya, mulai bulan Mei ini saya hubungi telp 147 dan minta disambungkan dengan Speedy. Tiga hari kemudian Speedy datang ke rumah dan saya bisa berkomunikasi lewat ADSL 24 jam sehari dengan kecepatan lumayan dan bayarnya cuman Rp 200 rb aja per bulan…
Adhiguna // May 9, 2008 at 9:18 pm
Sebagai mantan dosen, saya setuju sekali dengan pak PKAB. Memang kalau mau cari duit, jangan jadi dosen. Dosen adalah pengabdian.
TAPI Karena saya juga adalah manusia biasa dan KEBETULAN CEWEK CEWEK SAYA ASAL JAKARTA SEMUA dan terbiasa dengan Zara, Mango etc, saya harus sedikit mengesampingkan idealisme.
Jadinya saya project dimana-mana di luar jam ngajar. Mulai dari konsultan IT beneran sampe konsultan skripsi hehe. Moonlighting dari pagi sampe malem, sabtu dan minggu juga ngajar kelas karyawan.
Akhirnya saya mikir, lah ini jadinya kok ngajar jadi lebih ke hobby yang jadi liability daripada kerjaan yang ngasih income ya???
Tapi saya KANGEN ngajar dan someday akan melakukan ”hobby” saya untuk ngajar lagi di Universitas. Walaupun untuk menjadikan mengajar dan riset sebagai profesi terus terang masih agak meragukan bagi saya, MESKIPUN DI LUAR NEGERI.
tridjoko // May 9, 2008 at 9:57 pm
–> Adhiguna : Hallo..ini mas Adhi yang biasanya ya…yang selalu bolak-balik UK-France..
Ya mas, profil Mas Adhi sebagai cowok Metrosexual yang ditakdirkan bercewek yang suka Zara, Mango, Moschino, D&G…emang susah mas kalau “ngempani”-nya dengan menjadi dosen…apalagi kelas yang diajar mahasiswanya hanya sekelas Mango Duo..he..he..
Cocoknya kalau hidup dan kehidupan kita dari profesi dosen ya ceweknya yang pakai kebaya dan kain batik bikinan Solo…itu baru cocok mas !
Sehingga harus jungkir balik moonlighting..to make the ends meet !!
Kalau prinsip saya, ada sisi kehidupan saya yang “homoeconomicus” alias serba mengejar keuntungan, namun sisi lainnya ada “homosocialis” yang kadang-kadang juga berderma….tidak hanya berupa uang, tetapi berderma ilmu juga nggak lebih rendah derajatnya…
Apalagi, Mukadimmah (Prologue) UUD kita disebutkan tujuan negara adalah “Mencerdaskan kehidupan bangsa”…brarti kita diminta jadi dosen tho ?
Di US sekalipun, pekerjaan sebagai dosen/guru dan tentara dan pegawai negeri adalah pekerjaan “low income”…kecuali para professor di School of Law yang gaji minimal Assistant Professor-nya lebih tinggi dari gaji Full Professor di Dept. Comp. Science…
Adhiguna // May 9, 2008 at 10:53 pm
Iya pak Tri
ini Adhiguna di Perancis..
exactly pak, kok sampeyan tau aku metrosexual ??
Yah kebetulan dulu waktu ngajar, fans cukup banyak dan untuk ‘mengakomodir’ kebutuhan fans2 saya, ya harus moonlighting hehe…
Duh pak, saya dari dulu berusaha mencari cewek yang mau pakai kebaya dan naik angkot, belum pernah nemu pak….gimana dong..
Itu baru cewek Jakarta pak,
apalagi cewek2 Perancis ???
apa mau dia naik angkot di Jakarta????
haha
Adhiguna // May 9, 2008 at 10:58 pm
Saya akan berusaha terus mencerdaskan bangsa dengan dikit2 bikin blog2 tutorial dan menulis buku pak..
kasih komen ya 
tridjoko // May 10, 2008 at 4:28 am
–> Adhiguna : …he..he..he…kan…saya tahu Mas Adhi itu tipe cowok Metrosexual…dari… “The Devil wears Prada” (judul film…)…he..he..he..
Tenang mas, waktu akan membuktikan bahwa pada suatu hari Mas Adhi akan ketemu cewek yang nggak pakai make-up, kulit sawo matang (tidak terlalu terang), pakai kebaya (maksudku…suka pakai baju etnis), rada cuek, suka naik angkot, dan Mas Adhi akan tergila-gila setengah mati kepadanya…he..he..he…I am a Statistician dan segalanya dihitung dari probabilita…dan chances are, orang itu akan ketemu pasangan yang exactly opposites dengan sifat-sifat dirinya (cerewet ketemu tenang, suka dandan ketemu cuek dandan, pinter ketemu biasa-biasa aja, dsb..)..
Time will tell…
Wah, syukur..andapun berminat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.. karena ternyata orang itu nggak boleh punya 1 sisi…bisnis atau “homoeconomicus” terusss….tapi in the other side of the coin…dia harus juga bersosial dan bersimpati bagi yang the unfortunate….
So, good luck then !
Leave a Comment