Gaji Dosen Swasta Indonesia

Hampir setiap hari Blog saya ini menerima enquiry “standar gaji dosen swasta Indonesia”. Karena enquiry ini bertubi-tubi, maka dengan ini saya bukakan saja standar gaji dosen swasta Indonesia yang saya kutip dari “Universitas X”

HONORARIUM PER SKS

Pendidikan S1 : Asisten Ahli Rp 50.000; Lektor/Praktisi/6 tahun pengalaman mengajar Rp 75.000

Pendidikan S2 : Asisten Ahli/sederajat Rp 75.000; Lektor/sederajat Rp 100.000; Lektor Kepala/sederajat Rp 125.000; Buru Besar Rp 175.000

Pendidikan S3 : Asisten Ahli/Lektor Rp 125.000; Lektor Kepala/sederajat Rp 150.000; Guru Besar Rp 175.000

HONORARIUM PEMBIMBING DAN PENGUJI SKRIPSI

Pembimbing skripsi Rp 400.000 per skripsi

Penguji skripsi baik penguji utama ataupun pembantu penguji Rp 150.000 per mahasiswa peserta ujian skripsi

UANG TRANSPORTASI

Diberikan sesuai dengan kebijakan Universitas

CATATAN

Honor dosen tersebut di lingkungan universitas swasta di Jakarta kurang lebih sama, namun bedanya, ada universitas yang menetapkan rate tersebut sebelum dipotong pajak (before tax), ada universitas lainnya yang menetapkan rate tersebut setelah dipotong pajak (after tax) – dalam hal ini tax telah dibayar oleh universitas yang bersangkutan..

Jika jumlah kelas cukup banyak di universitas swasta tersebut, dan dosen mendapat beban sks yang cukup besar, menurut hitungan kasar saya gaji dosen universitas swasta di Jakarta (setelah dipotong pajak) adalah berkisar antara Rp 2.000.000 sampai Rp 10.000.000

Berminat jadi dosen ?

Ingat jadi dosen itu selain mendapat imbalan berupa honorarium juga mendapat kepuasan pribadi karena telah mengamalkan ilmu kepada sesama, selain itu juga sesuai dan mendukung Tujuan Negara Indonesia seperti yang termaktub dalam Mukadimmah UUD 1945 yaitu “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”

Hidup dosen !!!

 

300 Comments (+add yours?)

  1. Prihadi Setyo Darmanto
    Apr 14, 2008 @ 21:38:42

    Ass wr wb,
    Yon semoga sehat selalu. Piye kabare? Keluarga sehat semua kan? Putrimu sing nang ITB ada di prodi apa? Kok akau telepon ke rumahmu sulit, apa sudah pindah? Mbok aku diberi no hp, barangkali bisa sms@an he-he-he. Aku lagi seneng maca tulisanmu, kanggo hiburan soale aku akhir-akhir ini sibuk kerja terus, walaupun gak jelas juga apa sing tak goleki. Wah aku juga ikut mbina jurusan Informatika UNPAK yang kebetulan diselenggarakan di kantorku, depan Vila Nusa Indah 5, Ciangsana dekat Kota Wisata, tapi belum bisa nggaji sebesar yang sampeyan tulis iku, karena muridnya masih dikit he-he-he. Apa sampeyan mau jadi dosen tamu kadang-kadang di tempatku itu? Salam aja ya ke isteri dan anak-anak. Anak-anakku jik dha kuliah kabeh, sing pertama S2 di Teknik Sipil dan yang kedua angkatan 2007 pengine masuk teknik Lingkungan. Sing penting padha gelem sekolah wae aku wis bungah he-he-he. Salam ya, yen ke bandung mampir ya. Wass wr wb
    Prihadi

    Reply

  2. Poppy
    Apr 14, 2008 @ 22:11:15

    mengutip:
    “Pembimbing skripsi Rp 400.000 per skripsi”

    D kampusku yg notabene skrg dah jd “BHMN” honorarium utk pembimbing skripsi adalah Rp 19.000. parah bgt y? :( parah! parah!

    Reply

    • lena
      Feb 19, 2012 @ 17:12:59

      wah.. ternyata dosen itu dikasih honor klu jdi pembimbing ya.. padahal kita2 waktu nysun skripsi jarang dibimbing ehh kadang dipersulit lagi…. padahal lgi udah kita kasih amplop tuh…. bahasanya halusnya uang transport…. kadang dosen2 FBS unimed minta dibeliin jus atau rokok lagi…. boong deh klu ada dosen yg kekurangan… melebihi makmur smua malah….

      Lena,
      Kalau di Binus dosen tidak boleh menerima hadiah dari mahasiswa bimbingan terutama kalau sebelum ujian skripsi, dan selama ujian skripsi. Gak boleh nerima grafitikasi, dan aturan tidak tertulisnya sangat keras sehingga tidak ada dosen yang mau menerima gratifikasi..

      Masalahnya lain kalau si mahasiswa sudah lulus, mahasiswa mau kasih dosen kunci mobil Nissan Juke atau Hummer Humvee juga boleh….tapi selama ini saya tidak pernah menerima sesuatu yang mencolok, paling baju koko untuk sembahyang….atau dodol garut yang harganya tidak seberapa….

      Oh ya, di Binus uang transport dan honor nguji skripsi dosen pembimbing sudah dibayar ama kampus, termasuk snack dan minumannya…

      Reply

    • Mbah Marijan
      Feb 06, 2013 @ 16:53:43

      Kalau di Universitas saya Honor Pembimbingnya Rp.80.000 pak
      Air ludahnya dah kering utk membimbing mahasiswanya yang dapat cuman segitu, utk beli minuman dan makanan sebagai obat air iur yg sudah kering tadi saja dah habis tu ..he he nasib…nasib

      Tere,
      Hehehe…gpp…honor anda dibayar univ memang cuman segitu….tapi nanti di akherat dibayar lagi sama Yang Di Atas….jadi ya tabahkan hatimu….hehe

      Reply

  3. Resi Bismo
    Apr 14, 2008 @ 23:17:19

    pengen juga sih jadi dosen, cuma ntar kalo udah ada pengalaman industri…. seperti dosen2 saya disini, rasaya lebih afdhol gitu kalo sudah ada pengalaman dilapangan. Bagaimana menurut mas tri apa opini saya itu bisa diterima?

    Reply

  4. tridjoko
    Apr 15, 2008 @ 10:51:31

    –> Mas Pri : Wah..memang kapan itu aku curiga, kok di Blogku ada enquiry “Prihadi Setyo Darmanto” wah..tanpa salah spelling berarti yang melakukan enquiry orangnya sendiri. Jebul bener tho ? Wah, di Bandung tahun 1997 dulu ketemu terus ke rumahmu di Awiligar, aku nyatet telpon omahmu plus HP-mu terus datanya ilang…jebule disimpan di halaman belakang sebuah buku komputer yang baru tak beli di Bandung ! Pantas ilang, lha wong bukuku ana ratusan ? Walau begitu aku juga sering ngecek sampeyan yok opo kabare di Mas Google, wah ternyata cukup sibuk ya..soale kebanyakan kerjaan…ha..ha.. Anakku Dessa wis lulus FH Undip 2 tahun yang lalu, dan sudah kerja di bidang Asuransi (HR Services) di sebuah perusahaan asuransi di sekitar Menteng. Anakku yang kedua Ditta ini lagi nulis TA tentang 2-D reservoir simulation di Geofisika ITB. Katanya mudah-mudahan Juli 2008 ini diwisuda (Amien !). Wah..kantormu yang di Ciangsana juga masih ada ya ? Nanti kapan-kapan ke sana. Mengenai ngajar, boleh kapan-kapan saya coba ngajar di Unpak Ciangsana, kan cuman 7-8 kilometer saka rumahku di Jatiwarna. Nomor telp rumahku sering dipakai TelkomNet dan ada fitur “call waiting”nya sehingga kalau lagi nyambung internet ada telpon masuk dari luar seolah-olah dipanggil terus…padahal yang di rumah ora krungu ! He..he.. O ya aku ndenger anakmu kuliah dimana dari siapa ya aku lupa, ooo…dari Yuliati waktu ketemu di Sabuga dalam rangka ngantar anak masing-masing masuk ITB (anak dia di EL 2003). Nomer telpon omahku wis ngerti tho ? Nek hapeku iki nul-wol-ji-ji-wol-nem-mo-nul-ro-nul. Kapan-kapan yen neng Jakarta ya ketemu makan-makan siang gitu lho Mas Pri, sapa ngerti lagi oleh rezeki audit AC hotel 70 lantai di Jakarta…ha..ha.. Piye kabare nabi, mbing, othok, edi as, eko ? Jebul sing seneng ngunjungi blogku kuwi Simbah (Purwoko, 3 IPA-4) mergo deweke manggone neng mBediun nanging kerjane neng lepas pantai (dodolan muiiinyaaaaakkkk….). O ya mas, dadi omahku durung pindah, neng saka tol JORR saka arah mBandung exite neng Kranggan/Jatiwarna, njur U-turn. Kira-kira 1 km wis tekan omahku..Ya kapan-kapan nek neng mBandung aku tak mampir. O ya nek Mas Pri wis maca Blogku kabeh, ana kabare yakuwi bojoku saiki lagi njupuk S3 di Unibraw mau ngambil topik disertasi tentang ukum serodadu..he..he.. Salam ya ngge Mbak Kis (?) lan anak-anakmu. Sering neng mBediun lan Ponorogo nggak ? Minggu wingi aku lewat omahmu Nglames ketoke sepi-sepi wae ya..

    Reply

  5. tridjoko
    Apr 15, 2008 @ 11:01:47

    –> Mbak Poppy : itu karena kampus mbak yang berstatus “BHMN” itu pegawainya adalah pegawai negeri yang sudah menerima gaji setiap bulannya. Sehingga pembimbing skripsi hanya dikasih honor less than “no-mban”…wah sedih juga ya. .

    Yang saya tulis di sini adalah khusus universitas swasta “tertentu” di daerah Jakarta yang memang tingkat kehidupannya mahal..

    Makanya mbak, walaupun statusnya “BHMN” dosen-dosennya pasti lebih suka ngajar sambilan di universitas swasta, karena selain merasa “lebih dihormati” juga lebih merasa “diuwongke”..

    Kecuali mungkin untuk universitas yang berstatus “BHMN” dan rektornya atau universitasnya sudah peduli kepada dosen seperti yang terjadi di sebuah univ di Jakarta, sebuah institut di Bandung, atau sebuah univ di Yogya, mungkin dosen-dosennya sudah merasa sedikit “betah” tinggal eh maksudnya ngajar dan membimbing skripsi di rumah…

    Reply

  6. tridjoko
    Apr 15, 2008 @ 11:07:59

    –> Mas Resi : Wah…opininya mas sudah tepat, yaitu menimba karir dulu di industri nanti kalau sudah berpengalaman baru mulai mengajar. Kebanyakan dosen paruh waktu di universitas-universitas top Jakarta memang mempunyai pengalaman di industri (mungkin istilah “real world” lebih tepat daripada sekedar industri). Sehingga dalam mengajar teori di kampus bisa diimbangi dengan memberikan contoh-contoh aplikasinya di industri…eh di “real world”..

    Jadi dosen itu niatan mulia mas, jadi kalau mas sudah berminat jadi dosen berarti 50% dari pahala sudah di kantong mas !

    Menurut saya, semakin awal menjadi dosen akan semakin baik (saya memulainya di umur 26 tahun). Karena kalau sudah jadi dosen, kerja di industripun juga semakin mantap karena sebagai dosen kan “artikulasinya” udah jempolah banget, pastinya…

    Jadi, niatan sampeyan saya dukung mas !

    Reply

  7. Agung
    Apr 15, 2008 @ 20:58:54

    wah..!!
    lumayan buat jadi kerjaan sambilan saya 10 ato 20 tahun kedepan.
    hehehehehehhee..!!
    tapi itu standardnya kan Pak??
    kalo di Binus kira2 segitu yah Pak??
    kalo di UPH kan lebih gede.
    hehehehehhehee…!!!

    Reply

  8. tridjoko
    Apr 15, 2008 @ 23:11:48

    –> Agung : wah…”universitas X” itu rahasialah, saya nggak mau nyebut nama (soalnya universitas itu belum “bayar iklan” di blog saya…he..he..)..

    Tapi itu data aktual. Ya pokoknya itu standar bagi universitas yang sudah mapan di Jakarta, yah mungkin 10 univ terbesar di Jakarta pakai standar itu (Trisakti, Untar, Binus, Gundar, Atma, UPH, Param, dsb)

    Cuman simpangannya memang ada, saya nggak mau bilang Binus posisinya dimana. Ada yang lebih besar dari itu di beberapa point, ada yang lebih kecil dari itu di point-point lainnya. Tapi di Binus itu diberikan before tax, jadi yang diterima adalah……(hitung sendiri)…

    Memang jadi dosen sebaiknya tidak dijadikan pekerjaan utama, pekerjaan sampingan sih oke. Karena ingat, di seluruh dunia gaji terkecil adalah gaji guru (termasuk dosen) dan gaji tentara (termasuk polisi).

    So ?

    Simpulkan sendiri…

    Reply

  9. Agung
    Apr 17, 2008 @ 09:17:26

    yah,kalo saya sih melihat kerja jd dosen itu lebih fleksibel dan gajinya masih worth it kalo diliat dari kerjaanya.
    dan saya emank punya passion buat ngajar.
    yah suka aj,ngomong di depan dan didengerin orang.
    hehehehehhehehehe…!!!

    Pak,itu yg ditulis diatas bener2 per SKS dan dibayar per semester??
    jadi gaji dosen yg S2 minimal 2juta per bulan dapet kan Pak yah?!

    Reply

  10. tridjoko
    Apr 17, 2008 @ 12:40:07

    –> Agung : Misalnya ada seorang dosen baru yang mulai ngajar di universitas “X” tersebut. Katakanlah ia jenjang pendidikannya hanya S1 dan pangkatnya Asisten Ahli, maka ia berhak mendapat honor mengajar Rp 50.000 per sks.

    Misalnya si dosen baru ini diberi beban ngajar 10 sks (10 x 50 menit = 500 menit) per minggu, maka penghasilannya per minggu adalah 10 x Rp 50.000 = Rp 500.000. Mudah dihitung kalau penghasilannya per bulan adalah : 4 x Rp 500.000 = Rp 2.000.000

    Cocok kan ? Nah, di universitas “X” itu kebetulan honor tersebut adalah honor
    after tax” (setelah dipotong pajak), artinya pajaknya yang katakanlah 10 % = Rp 200.000 sudah dibayar sama employer, yaitu universitas “X” itu. Jadi di dalam slip gajinya sebenarnya honor mengajar yang diterima adalah Rp 2.200.000 dipotong pajak Rp 200.000, maka yang diterimakan kepada dosen Rp 2.000.000,-

    Mana ada pekerjaan lain yang kerjanya hanya 10 jam seminggu sudah dapat gaji Rp 2 jeti kayak gitu ?

    Bank ? Sebagai pegawai baru harus masuk jam 7.00 pagi pulang jam 7.00 malam baru dapat segitu, ngkali !

    O ya, ini dengan asumsi dosen baru sudah keluar jenjang “Asisten Ahli” yang harus diurus ke Dikti dulu. Kalau jenjang belum keluar, mungkin yang dibayarkan tidak setinggi itu, or else…dosen dengan pendidikan S1 nggak bakalan diterima sebagai dosen..

    O ya, dibayarkannya biasanya di akhir bulan, sekitar tanggal 28.. (bukan per semester)..

    Reply

  11. Agung
    Apr 17, 2008 @ 19:43:33

    bah…!!!
    mantab2 Pak…!!
    hahahahahahahhaa..!!
    makin besar keinginan saya jadi dosen nanti.
    hehehehehehehe..!!

    satu pertanyaan lagi Pak.
    dosen maksimal ngajar berapa SKS Pak per semesternya??
    kalo bisa 20SKS asik juga yah?!?!
    hehehehehhee..!!

    Reply

    • ika
      Jun 15, 2009 @ 12:56:32

      tp syarat dosen musti s2 ya pak?

      Mbak Ika,
      Syarat jadi dosen sebenarnya tidak harus S2. S1 pun boleh melamar tapi hanya untuk mata kuliah pemrograman…
      Tapi ini kenyataan, waktu saya jadi Dekan di Binus jaman dulu, hampir semua calon dosen yang melamar gelarnya adalah S2 atau S3. Nah, kalau anda hanya bergelar S1 tentu saja cepat sekali tersisih bahkan di babak pra kualifikasi….
      Iya kan ?

      Reply

  12. tridjoko
    Apr 17, 2008 @ 20:54:56

    –> Agung : Apakah dosen bisa diberikan beban mengajar sebanyak 20 sks di suatu universitas ?

    Ya dan tidak !

    Ya, kalau universitas itu mahasiswanya banyak banget dan dosennya dikit banget, maka dosen baru itu akan diberikan beban 20 sks juga, eventually…

    Tidak, mengingat dosen baru biasanya di-test dulu dengan jumlah sks yang semenjana (seadanya), misalnya 6 sks, 8 sks, 10 sks, maksimal mungkin 12 sks. Jika prestasinya bagus (masuk terus, disenangi mahasiswa, nilai fair) maka semester berikutnya akan ditambah lagi sks-nya demikian sedikit demi sedikit..

    Ada yang belum saya ceritakan :

    Asumsi gaji Rp 2 jeti gitu kalau universitasnya masuk terus alias tidak ada libur (kalender merah, UTS, UAS). Kalau ada libur ya dosen cuman bisa gigit jari karena “nggak narik” (ibarat sopir taksi nih !)..dan yang diterima hanya honor jenjang dosen saja yang jumlahnya amat sangat tidak signifikan…

    Hal lain, di “Universitas Y” yang saya tahu, setiap tahun rate gaji dosennya dikoreksi terhadap inflasi sebesar 10% per tahun. Jika pada tahun n1 dosen baru diberikan rate Rp 50.000 per sks, maka semester berikutnya rate-nya dinaikkan sebesar 10% menjadi Rp 55.000 per sks. Jadi di “Universitas Y” ini, dosen senior akan mendapatkan rate yang jauh lebih tinggi daripada dosen junior. Tapi kenaikan 10% itu terjadi jika prestasi dosen bagus (ngajar masuk terus, ngumpulin nilai UTS dan UAS tepat waktu, rajin hadir di rapat2, tidak ada komplain dari mahasiswa, dan nilainya fair)..

    Ada pertanyaan lagi ?

    He..he..he…

    [yang penting dicatat, apakah calon isteri anda nanti bangga bila suaminya menjadi dosen ? Siapa tahu para isteri lebih suka suaminya buka toko saja asal fulus yang dibawa pulang ke rumah banyak. Itu PR anda Gung…survey dong !!]

    Reply

  13. Agung
    Apr 17, 2008 @ 21:05:03

    yehhh…!!!
    kan saya uda bilang Pak,
    jd dosen cuma kerjaan sambilan.
    saya tentu ada kerjaan utama yg mudah2an gajinya jauh lebih gede dari gaji dosen.
    yang saya bilang wkt itu,
    bikin usaha biofuel,ato jual pecel sesuai saran Bapak juga boleh.
    hehehehehehehehe…!!
    minimal ada usaha Papa yang hrs saya teruskan bersama adik2 saya.
    hehehehehehehehehe…!!!
    tapi segitu uda lumayan banget Pak.
    padahal cuma semacem melampiaskan passion,tapi dapet duit.
    yah,enak juga lah.
    lagian istri saya mah nanti asal saya pulang bisa bawa duit buat dia belanja di zara kek,mango kek,ato frank & co. kek.
    hehehehehhehehe..!!

    mungkin survey itu bisa jadi bahan skripsi saya.
    bisa ga yah??
    giman biki programnya yah?
    hhehehehe..!!

    Reply

  14. tridjoko
    Apr 17, 2008 @ 21:27:03

    –> Agung : Wah..isterimu bakalan senang belanja Mango, Benetton, Mark & Spencer, Dolce & Gabana, Gucci, Versace ???

    Dan kamu senang belanja Giorgio Armani, Tommy Hilfiger, Bally ?

    Wah…kalau gitu jangan jadi dosen Gung !!

    Nggak bakalan nutup, he…he…he…

    Kecuali anda beli “those stuffs” versi Tenabang or Mangga 2…he..he..he…

    Reply

  15. Agung
    Apr 17, 2008 @ 21:35:26

    hahahahahahha…!!
    jadi dosen gpp,kalo uda punya passive income 50juta per bulan.
    terus punya deposito 50miliar.
    hehehehhehehehehee…!!!

    Reply

  16. tridjoko
    Apr 17, 2008 @ 21:46:19

    –> Agung : Huh ? Passive income Rp 50 juta per bulan, deposito Rp 50 milyar…

    Badly managed !!!

    Pasti anda belum pernah sekalipun lihat acara Safir Senduk di Trans TV (?) atau Iqbal Akbar di O-Channel atau anda belum pernah dengar atau baca tulisan Elvynn G. Masyasya atau Roy Sembel ya ?

    Kalau gitu, sebaiknya anda berusaha untuk dapat sertifikasi CFA (Certified Financial Analyst) nih. O ya, ada CFA level 1, 2 dan 3…

    Deposito Rp 50 M itu uang nganggur man, dan too much…

    Just call your financial planner now…

    Reply

  17. Agung
    Apr 18, 2008 @ 16:10:44

    hahahahahahaha…!!!
    itu kan cuma ibaratnya Pak.
    saya juga belom kebayang n belom siap kalo sekarang punya uang 50M.
    hehehehehehehehe..!!!

    Reply

  18. simbah
    Apr 19, 2008 @ 11:45:16

    Nongol lagu aku Dik Yon,…Prihadi, namanya aku ingat tapi wajahnya wis gak ingat lagi. Kecuali sing Cewek2 nek ayu aku mesti inget..he..he..
    Ngomong2 soal gaji, Dosen juga Guru sangat beruntung lho!! mungkin secara materi kurang dihargai seperti negeri Jiran Malaysia. Tapi menurutku nantinya di alam sono noh…masih dapat kiriman, selama ilmu yg ditularkan masih dipakai di alam sini. Betapa tidak aku bisa mbaca dan nulis dari almarhumah Bu Asmunah, Ibu Guruku klas 3-sd yg sampai sekarang murid-2nya masih dapat menggunakan. Apalagi Dosen,
    dulu tahun 70-an ada beberapa Guru dan Dosen dari Indonesia pindah ke Malaysia, selain Malaysia waktu itu perlu, juga imbalannya sangat tinggi. Aku masih ingat waktu di Yogya th.76 ikut test masuk PT. Banyak mahasiswa Malaysia yg belajar di Yogya. Sekarang th.2007-2008 malahan Malaysia menawarkan orang Indonesia, supaya sekolah di sana…gimana Dik Yon, bisa terjadi ….?

    Reply

  19. tridjoko
    Apr 19, 2008 @ 14:39:42

    –> Simbah : iya mas…memang gaji guru atau dosen kecil, makanya kita hanya berharap amalan di surga nanti…ha…ha..ha…

    Tapi saya dengan mbak-mbak saya pernah survey kecil-kecilan mas, ternyata anak-anak guru atau dosen itu secara pendidikan bisa maju terus ke level atas, tidak seperti anak orang kaya pengusaha yang kebanyakan anak-anaknya mursal, ndugal, lan adu bagus terus nek ngarepe pasar gedhe…he..he..he… (no offence, pengusaha !)..

    Memang jadi dosen atau dipanggil “cik-gu” (Encik Guru) di Malaysia imbalannya lumayan. Dapet rumah, kereta (mobil), dan salari yang pajaknya kecil. Makanya teman2 dosen Binus ternyata banyak juga yang sudah menjadi “Cik-gu” baik di Brunei Darusallam maupun di Malaysia…(Pak Ferry Putuhena, Pak Zalwani dari Teknik Sipil Binus)..

    Begitupun teman2 peneliti BPPT banyak yang sudah ngambil “cuti di luar tanggungan negara” supaya bisa jadi “Cik gu” di negeri jiran sana…

    Dulu di 1976 banyak mahasiswa Malaysia di Indonesia, dan sekarang di tahun 2008 banyak mahasiswa Indonesia di Malaysia ?

    Itu namanya “cokro menggilingan” mas, kadang-kadang di atas dan kadang-kadang di bawah. Yah, semacam hukum alam-lah…

    Kita tidur aja kadang mlumah, kadang murep, iyo tho ?

    Reply

    • Amy
      Sep 21, 2011 @ 21:03:53

      Pak tri, saya menghargai profesi guru dan dosen, yang menurut saya sangat mulia. Namun Bapak juga sebagai doaen yang saya lihat telah menasehati mahasiswa bapak untuk”tidak judgemental” dan “not to judge a book by its cover”, kok bisa bisanya 2 kali komen tentang anak para pengusaha kaya yang sebagian besar mursal, ngarep kaya, pendidikannya nggak setinggi anak2 dosen. Wah sata jadi Ill-Feel nih sama bapak. Banyak lo pak, anak dosen yang pendidikannya tinggi ehh ternyata dapat backingan kenalan dosen sana sini,.. Atau anak guru yang nilainya ancur-ancuran, tapi herhubung ada “jatah” spot di SMU Favorit, ehhh masuklah anak ini. Ya sama aja lah mental anak guru/dosen yang mental tempe.
      Saya nggak tau survey kecil2 an bapak ini sekecil apa, tapi menurut saya sekecil pola pikir bapak yang mungkin sempat sakit ati sama pengusaha si masa lalu. Banyak kok pak, anak pengusaha kaya yang bapaknya ga punya gelar S 1, tapi anak2 nya pada sekolah sampe S3, jadi dosen pula, di luar negri pula. Banyak juga kok anak dosen yang naudubillah bodoh, nakal, ngehamilin anaknya orang… Jadi saya heran skali kok bisa Bapak Tri ini mencantumkan comment yang cukup judgemental mengenai anak-anak pengusaha yang kaya. Inget kata2 pengajar bapak yang New Yorker itu dong pak. Jangan cuman dipake buat nguliahin anak didik. Terapin ke pola pikir bapak sendiri, oke.
      Saya yang tadinya kagum sama bapak yang mau jadi dosen lantaran merindukan pahala dari Tuhan, jadi ilfil. Percuma aja pak, panjenengan ngajar jungkir walik kalo masih ada pola pikir “Saya atau anak turun saya lebih baik karena saya dosen, daripada anaknya orang kaya yang kebanyakan….bla..bla”
      Silly Silly statement from a person with 26 years of teaching experience and a training from a New Yorker to not to judge something based on majority’s point of view.

      Mbak Amy,
      Wah…saya jadi bahagia sekali nih di-ill feel-in sama mbak Amy…pagi-pagi pula…yasudah saya anggap sarapan yang nikmat saja…

      Mmm…dalam menjawab pertanyaan pembaca blog yang “from every walk of life” saya hanya menjawab yang umum-umum saja, tidak terlalu spesifik, soalnya ini blog kan mbak…bukan email atau FB msg yang bisa agak pribadi dan spesifik pertanyaannya..

      Dan karena posting asalnya berjudul “Gaji Dosen Swasta Indonesia”, maka jawaban saya diarahkan ke Gaji Dosen tu seperti apa.

      Saya juga kagum mbak Amy sebagai pengguna istilah “ill feel” yang baru populer di Indonesia 10 tahun belakangan ini berani mengkritik saya yang sebenarnya Sept 2011 ini sudah 29 tahun ngajar….brarti kan keberanian mbak Amy tuh luar biasa….itulah yang paling saya hargai…

      Saya tidak sempat membaca komentar2 di atas yang mbak Amy maksudkan itu…tetapi saya ingat konteksnya saya mengatakan kalau “anak dosen pasti pinter, anak orang kaya pasti tidak pinter” itu adalah untuk membesarkan hati anak dosen yang orang tuanya tidak banyak penghasilannya (asumsi : jujur dan hanya bekerja sebagai pegawai saja), dibandingkan dengan anak pengusaha yang mungkin tidak perlu terlalu pandai tapi toh sudah kaya…

      Kalau perlu saya cabut deh kata-kata saya sebelumnya, kalau itu yang mbak Amy mau. Yang saya bahas adalah “pada umumnya” atau “stereotype”. Jadi masih ada peluang kalau ada perkecualian dari itu. “Pada umumnya” kan berarti ada yang lebih khusus, dan “stereotype” kan hanya dianggap benar, tetapi kan tidak semuanya benar, dan mungkin ada perkecualian juga…

      Gitu lho mbak Amy, maksud saya. Jadi saya pengin mbak Amy tetap mengagumi saya….karena saya juga mengagumi mbak Amy yang berani mengkritik saya. Menurut pengalaman saya selama 29 tahun ngajar, orang yang berani mengkritik saya itu pasti orang pinter banget. Kalau yang biasa-biasa saja, biasanya hanya diam saja…

      Ok mbak…selamat menikmati blog saya, walaupun isinya tidak selalu sup hangat yang enak disantap, tapi kadang-kadang juga pil pahit kehidupan….tetapi justru yang terakhir ini yang seringkali berguna bagi kita, sekarang dan yang akan datang….

      Reply

  20. simbah
    Apr 19, 2008 @ 16:08:46

    Ya…ya…memang benar, seperti dulu Petronas belajar dari Pertamina. Nah sekarang Pertamina disalip sama Petronas. Sebetulnya saya yakin kita memiliki SDM yg pinternya gak kalah sama negeri Jiran, tapi kenapa ya…apa sistemnya yg salah? Jadi mbulet kayak begini…(kalo Hamdani tahu mesti dia bilang:” Gak usah ikut-2 mikir negara, sudah ada yg mikirin sendiri)”. he…he…

    Reply

  21. tridjoko
    Apr 19, 2008 @ 18:35:19

    –> Simbah : menurut istilah Sukardi Rinakit, pengelolaan Pertamina dari dulu itu sudah “bener”, tapi belum “pener”…

    Nah, sebagai orang Jawa yang baik anda pasti tahu the big difference between “bener” dan “pener”…he..he..he..

    Makanya Petronas sudah punya gedung 110 tingkat, Pertamina masih punya gedung di Jalan Perwira yang sejak saya masuk masih seperti itu (jelek-jelek…saya di tahun 1980 dianggap “pegawai Pertamina” lho, dan bisa keluar masuk bludas bludus gedungnya di Jalan Perwira, ke ruang komputer dan sebagainya, bebas…)..

    Reply

  22. simbah
    Apr 20, 2008 @ 16:08:49

    He..he..Ingat nggak Dik Yon? Bulik Kris, buliknya Herman Prasetyo yg Dokter itu juga ada di Pertamina EP. Bulik Kris kan teman sampeyan sekelas di III pas-2 dulu. Saya pernah ngimil beliau, suaminya justru yg di BPPT barangkali Dik Yon kenal? Lah Bulik Kris itu teman sekelas istri saya waktu di SMP satu.

    Reply

  23. afen
    Apr 20, 2008 @ 18:31:16

    Kang, salam kenal saka Cah Mbayuwangi. Aku seneng maca tulisane sampeyan. Lugas, komunikatif , ndosen banget. Tapi asik ko.
    Aku nDosen ni PTK penerbangan. Sejauh iki nDosen penak-penak bae. Bayaran tergantung kreatifitas urip. Sing penting kan bahagia fi dunya wal akhirat. Minterke wong tapi ga minteri. Salam kanggo sedulur kabeh.

    Reply

  24. tridjoko
    Apr 20, 2008 @ 22:15:36

    –> Simbah : iya Mas saya ingat siapa itu Bu Lik Kris (Kris Pudjiastuti). Dia dulu memang sempat bekerja di BPPT sebelum saya ke Amerika tahun 1986 (saya masuk 1980, Kris kira-kira 1982-83). Suaminya memang orang BPPT, karena itu ia pindah ke Pertamina. Mungkin ia nggak enak kalau sekantor sama suami, atau memang tenaganya dibutuhkan di Pertamina..dan bayarannya itu lho…he..he..he…

    Reply

  25. tridjoko
    Apr 20, 2008 @ 22:20:23

    –> Afen : wah…salam kenal kembali Mas Afen. Selamat berkunjung ke blog saya yang sederhana ini…

    Wah, enak ya sampeyan jadi dosennya penerbang. Apa di LPPU Curug-nya seangkatan dengan teman saya Simbah ini (angkatan 1976) ? Atau jauh lebih muda lagi…he..he..he..

    Saya waktu SD sempat pengin jadi penerbang, tapi penerbang tempur bukan penerbang komersial. Membayangkan betapa enaknya di angkasa dengan pesawat yang state-of-the-art dan tinggal pencet sudah berputar-putar…

    Walau waktu itu belum ada film “Top Gun” saya sudah membayangkan jadi seseorang seperti Maverick yang diperankan oleh Tom Cruise, lalu pacaran sama Kelly McGillis itu…

    Iya mas, kalau gitu selamat mengabdi bangsa di dunia penerbangan…

    [Saya pernah dikirim ke Jerman di tahun 1984 untuk mempelajari Life Cycle Cost pesawat terbang, terutama pesawat terbang tempur atau versi militer…]..

    Reply

  26. Agung
    Apr 23, 2008 @ 16:55:14

    Pak,nanya lagi tentang jadi dosen bole yah Pak?!
    hehehehehehe..!!
    waktu nglamar jadi dosen,mata kuliah yang kita ajarkan nantinya itu tergantung universitasnya,atau tergantung dosennya Pak?
    misalnya nih kyk saya 10thn ke depan (mudah2an) punya gelar Bachelor Applied Mathematic ama Computer Science,trus gelar master management.
    terus saya bole ngajar di smua bidang yang saya “kuasai” (dilihat dari gelar saya)??
    ato cuma bole salah satu bidang aja Pak??

    Reply

  27. tridjoko
    Apr 23, 2008 @ 20:35:51

    –> Agung : good question !!

    Yang jelas, waktu mengajukan surat lamaran, kan anda sudah jelaskan matakuliah apa saja yang bisa dan biasa anda ajar (kalau sudah punya pengalaman)….

    Kedua, waktu wawancara, kan si pewawancara akan menanyakan kepada anda apa preference anda dalam mengajar mata kuliah. Maka anda jawab, saya prefer A, kemudian B, kemudian C, dst..

    Ketiga, Dekan/Kajur apa yang anda lamari surat lamaran ? Dekan MIPA-kah, Dekan FASILKOM kah, atau Dekan Ekonomi kah ?

    Kalau anda melamar ke Dekan MIPA, maka anda pasti diminta ngajar Kalkulus, Analisis, Regresi, Riset Operasi, dsb..

    Kalau anda melamar ke Dekan FASILKOM, maka kemungkinan anda diminta untuk mengajar Algo Pemrog, Struktur Data, Arsitektur Komputer dst.

    Begitu pula kalau anda melamar ke Dekan EKONOMI, anda pasti diminta mengajar mata kuliah ekonomi ini, itu, dan yang sana…

    The trick is, “student body” masing-masing Fakultas beda. Misalnya, MIPA jumlah mhs baru hanya 100-an, FASILKOM 4000-an, dan EKONOMI 1000-an…

    Jadi kalau anda melamarnya ke FASILKOM, maka chance anda akan jauh lebih besar. Mudah kan di-prove nya ? Selain itu, FASILKOM juga melayani jurusan lainnya, dan kebalikannya nggak berlaku..

    Jadi, melamar ke Dekan Fasilkom is the most better off (quet erat demonstrandum)…!

    Reply

  28. Agung
    Apr 24, 2008 @ 14:45:12

    sep..!!
    kalo gitu kita harus liat jumlah mahasiswanya dulu yah Pak.
    baru tentuin nglamar ke dekan fakultas apa.
    terus kalo uda jd dosen fasilkom misalnya.
    saya mao ngajar kalkulus ato pengantar bisnis,
    bole juga kan yah??
    hehehehhehee…!!

    Reply

  29. tridjoko
    Apr 24, 2008 @ 14:48:49

    –> Agung : Yep, benar ! Kalau pas ngajuin lamaran, tujukan ke Dekan yang paling banyak “pasukan” mahasiswanya ! That way, your chance to be admitted is greater..

    Apakah dosen homebase Fasilkom bisa ngajar ke MIPA atau EKONOMI ?

    It depends. If you are damned good and you have damned good relationship with all of the dekans, kajurs, and sekjurs, then there is nothing impossible…Everything is possible !!!

    Like me….hew..hew…hew…

    Reply

  30. Agung
    Apr 24, 2008 @ 15:19:06

    in case that i am a lecturer of UPH.
    maybe i am not damned good,
    and i have no damned good relationship with deans,and faculty’s staff.
    but i have damned good relationship with the owner of the university.
    will it make that thing possible??
    hehehehehehehhehee…!!

    Reply

  31. tridjoko
    Apr 24, 2008 @ 19:36:58

    –> Agung : Let’s get it real, man !

    Bisa nggak kita walaupun punya damned good relation (jangan pakai “ship” ntar dikira pacaran) dengan yang punya universitas (= Ketua Yayasan) lalu kita just walk in the Dean’s room or the Kajur’s room lalu just say, “Could you give me classes of 10 credit hours and I want it 4 cr hrs in IT Dept, 4 cr hrs in Science Dept, and 2 cr hrs in Econ Dept ?

    Jika Dean and Kajur then say, “I am sorry Sir, that would be not possible. Maybe 2 cr hrs in IT Dept is just fine for you”…

    So, what would you do ?

    Go to the Ka Yayasan and ask the Dean and Kajur to be fired ? In another world, does Ka Yayasan prefer yourself than their two trusted lieutenants ? I just don’t think so…

    Don’t be silly, man ! It’s A REAL WORLD and thing doesn’t work as exactly “on paper”

    My point is, sangat jarang seorang dosen diberi kepercayaan mengajar di 2 atau lebih “jurusan” atau lebih tepatnya “koordinator mata kuliah” di universitas manapun. Dan jika itu terjadi, there must be a very strong reason behind it…

    Sebagai contoh, saya pernah ditugaskan mengajar di jurusan/program studi Tek. Inf, Sis. Komp., Tek. Ind., Komp. Akun, TI-MAT, dan TI-STAT karena I believe the university trust me a lot. Itupun di semua jurusan itu saya mengajar rumpun mata kuliah Ilmu Komputer/Teknik Informatika, dan yang di luar itu hanyalah mengajar mata kuliah “IT Audit” di KA karena pertimbangan khusus…

    Itupun terjadi hanya di 1 semester saja, dan semester selanjutnya, things just business as usual. Lain halnya jika anda mengajar di 3 jurusan di 3 universitas yang berbeda. That’s very very possible…

    Reply

  32. Agung
    Apr 24, 2008 @ 22:56:55

    ooo..!!
    iyah,bener2 Pak.
    mending ngajar di univ yg beda buat jurusan laen.
    hehehehehehehehe…!!!
    yg tadi itu ka cuma becanda Pak.
    abis td msh eror pulang dr kwitang.
    hahahahhahaahhaa…!!
    saya sebenernya pengen banget ngajar mata kuliah Pemrograman Matematika dan Pemodelan Matematika,
    abis sbnrnya mata kuliah itu menarik dan aplikatif dalam bnyk bidang.
    cuma dosen yg ngajar kami,Pak ….., bnr2 kurang baik.
    hehehehehehehee…!!
    beda banget lah ama tipe2 Bapak,Pak Djun San,Pak Wikaria,Pak Agus Prahono,Pak Jonathan Lukas,dll.
    makanya saya penasaran mao coba ngajar mata kulian itu dgn cara saya yg tentu saja lebih menarik dan edukatif.
    hehehehehehehehe…!!

    Reply

  33. tridjoko
    Apr 25, 2008 @ 09:02:17

    –> Agung : Oooo…gitu dong maksudmu..

    Kalau anda punya interest di bidang ilmu tertentu seperti Mathematical Modeling atau apapun, sebenarnya kalau anda mau “ekstrapolasi” maka itu barangkali bisa jadi topik disertasi Ph.D anda lho..

    Banyak lho temen saya sekantor Ph.D lulusan Belgia, dan di sana sekolahnya “tidak lama” dan anda sebutkan “bagus” kan…. Kalau di Amerika sekolah “lama”, jadi…..”tidak bagus” ya ?

    Ha..ha..ha..

    Wah, don’t mention people’s name. Bisa jadi reklame yang tidak baik bagi yang tidak disebutkan. Ntar blog ini isinya cuman “gossip” seperti yang banyak ditulis di forum-forum yang banyak diisi ama anak Binus itu…

    Padahal semua itu belum tentu. Saya dulu diajari oleh orang Amerika (he is a professor, a New Yorker) bahwa “jangan mudah passing judgement”….karena seolah kita harus menilai orang. Padahal orang yang kita anggap baik, ternyata tidak terlalu baik (bagi some kind of criteria), ternyata orang yang kita anggap tidak baik tetapi menurut some other criteria ternyata orang itu jago banget (sering berbicara di forum internasional, punya tulisan-tulisan yang berbobot, network keilmuannya luas, dan sebagainya)…

    So, you’d better be careful then…

    Reply

  34. Agung
    Apr 25, 2008 @ 22:40:12

    hehehehehehee…!!!
    saya ksh pendapat dr segi mengajarnya aja Pak.
    kan bole kita ksh sdkt penilaian,skalian buat pelajaran utk saya,gmn jd dosen yg “ideal” ntinya.
    hehehehehehehehehe…!!
    Amerika sih bagus banget Pak,
    cuma terlalu bagus buat orang kyk saya.
    hehehehehehehe…!!
    mungkin yg “pas bagusnya” buat saya yah Belgia itu.
    hahahahahahaha…!!

    FYI : ternyata mantan saya ga kuliah di Belgia,dia malah ambil kedokteran hewan di IPB (mantan kampus Bapak). dasar cewek aneh,punya kesempatan malah ga dipake kuliah di luar negeri. so,terbuktikan Pak,saya ke Belgia bukan karena dia. hehehehehehe…!!

    kalo disertasi gitu berarti saya harus bikin “teori” pengembangan baru donk yah??
    aduh,saya belom mikir ampe Ph.D Pak.
    ini mao skripsi apa aj,msh bingung.
    hehehehehehhehee…!!
    mungkin nti,kalo emank dibthkan di sana,saya akan pertimbangkan ambil S3.
    tapi harus nikah dolo…!!!!!
    hahahahahhahahhaa…!!!
    Pak,kalo cuma lulus S2,bisa jadi profesor ga yah??
    saya pernah denger2 dr Pak Wikaria,kalo ada dosen di Binus yg “cm” lulusan S2 hampir jadi profesor.
    tp ga jd karena jurnalnya ga dlm bhs inggris,krn beliau kurang baik dlm bhs inggris.

    Reply

  35. Agung
    Apr 26, 2008 @ 16:20:53

    hehehehehehee…!!!
    saya ksh pendapat dr segi mengajarnya aja Pak.
    kan bole kita ksh sdkt penilaian,skalian buat pelajaran utk saya,gmn jd dosen yg “ideal” ntinya.
    hehehehehehehehehe…!!
    Amerika sih bagus banget Pak,
    cuma terlalu bagus buat orang kyk saya.
    hehehehehehehe…!!
    mungkin yg “pas bagusnya” buat saya yah Belgia itu.
    hahahahahahaha…!!

    FYI : ternyata mantan saya ga kuliah di Belgia,dia malah ambil kedokteran hewan di IPB (mantan kampus Bapak). dasar cewek aneh,punya kesempatan malah ga dipake kuliah di luar negeri. so,terbuktikan Pak,saya ke Belgia bukan karena dia. hehehehehehe…!!

    kalo disertasi gitu berarti saya harus bikin “teori” pengembangan baru donk yah??
    aduh,saya belom mikir ampe Ph.D Pak.
    ini mao skripsi apa aj,msh bingung.
    hehehehehehhehee…!!
    mungkin nti,kalo emank dibthkan di sana,saya akan pertimbangkan ambil S3.
    tapi harus nikah dolo…!!!!!
    hahahahahhahahhaa…!!!
    Pak,kalo cuma lulus S2,bisa jadi profesor ga yah??
    saya pernah denger2 dr Pak Wikaria,kalo ada dosen di Binus yg “cm” lulusan S2 hampir jadi profesor.
    tp ga jd karena jurnalnya ga dlm bhs inggris,krn beliau kurang baik dlm bhs inggris.

    Reply

  36. Gita
    Apr 30, 2008 @ 11:27:59

    Pak,

    Kalo gaji kajur berapa kira-kira ya?

    Reply

  37. tutinonka
    Apr 30, 2008 @ 13:10:24

    Maaf, saya dari planet lain, minta ijin bergabung.
    Di universitas XXX tempat saya mengajar, gaji pokok dosen golongan IIIA masa kerja 0 tahun (jan bener-bener masih ‘unthul’) adalah 1,5 juta. Ditambah tunjangan fungsional, tunjangan SKS, dll dll, take home pay yang diperoleh sekitar 2,5 juta. Nggak banyak sih, tapi untuk ukuran Yogya yang segalanya masih rada murah, nggak jelek-jelek banget kok. Jangan lupa, banyak penghasilan ‘insidental’ yang bisa diperoleh. Honor tim ini-itu, penelitian (cukup gede lho), praktikum, ngawas dan koreksi ujian, dll.
    Tapi menjadi dosen memang harus didasari oleh rasa cinta ilmu dan suka mengajar. Yang paling membahagiakan adalah kalau mahasiswa lulus dengan cepat dan IP bagus.
    Ohya, jadi dosen juga harus hati-hati menjaga perilaku (baik di dalam maupun di luar kampus). Soalnya banyak ‘mata-mata’ partikelir yang ada di luar sono. Sekian ribu mahasiswa dan bekas mahasiswa bisa kita jumpai atau melihat kita bahkan di tempat yang sama sekali tidak kita duga. Jadi jangan coba-coba mengutil barang di toko, atau pergi mojok berdua di taman kota yang remang-remang dengan bukan pasangan resmi kita, karena bisa-bisa ada orang yang mendadak nyalamin kita sambil menyapa “Selamat malam Pak/Bu … lagi nyante nih? Saya XX/YY, bekas mahasiswa Bapak/Ibu dulu …”

    Reply

  38. tridjoko
    Apr 30, 2008 @ 13:56:42

    –> Mbak Gita : oalah mbak, mana saya tahu gaji kajur berapa ? Saya dulu pernah jadi dekan di suatu universitas, kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Jadi nggak tahu lah mbak, berapa gaji kajur. Apalagi di universitas-universitas yang saya ngajar, gaji adalah masalah sensitif dan tidak boleh ada orang lain yang tahu persis berapa gaji seseorang [Sebenarnya di Binus, slip gaji itu ada di internet, kalau kita cukup canggih dan bisa “masuk” ke servernya atau nebak-nebak passwd dosen, pasti kita akan tahu gajinya. Tapi walaupun kita bisa “masuk”, masak kita bilang-bilang…ha..ha..ha..]

    Tapi mbak, saya punya cara lain untuk menghitung gaji kajur, yaitu lihat aja mobil yang dia kendarai merk apa dan tipe apa. Kajur saya baru beli mobil sekitar Rp 100 jeti, jadi berarti gaji dia sekitar Rp 8 jeti per bulan….

    He..he..he..gitu ya mbak caranya…

    Reply

  39. tridjoko
    Apr 30, 2008 @ 14:05:07

    –> Bu Tutinonka : wah..welcome aboard Bu, walaupun ibu dari planet lain…he..he..he..

    Iya Bu, gaji dosen sebenarnya tidak jelek-jelek amat lah. Alias lumayan.. Apalagi kalau kita jauh dari sifat “aluamah” dan selalu “nrimo ing pandum” dan selalu berderma dan berdoa, maka yang namanya rejeki akan nempeelllll terus, kayak prangko….ha..ha..ha..

    Apalagi sebenarnya masih banyak tambahan yang bisa diraih, seperti yang ibu katakan : masuk tim ini itu, ikut penelitian hibah bersaing (dana sekitar 250 jeti), dan barangkali menulis buku ajar…

    Mengenai perilaku, wah itu sudah diset semula bu, kalau nggak mana bisa kita jadi dosen. Yang ibu bayangkan, saya juga pernah membayangkan. Yaitu dosen dilarang melakukan “hanky panky”. Saya membayangkan diri saya masuk panti pijat, misalnya, lalu begitu membuka tirai langsung disapa suara manis, “Hallo Bapak, selamat siang pak….” wah…kan malu besar tuh Bu !!

    Tapi jadi dosen juga panggilan jiwa Bu, saya punya 2-3 teman yang tidak kerasan jadi dosen dengan berbagai alasan. Mungkin gajinya kurang memuaskan (untuk hidup di kota “hedonis” macam Jakarta), atau karena si Bapak ingin tetap bebas berperilaku…

    Tapi bagi yang kerasan jadi dosen, pasti puluhan tahun akan tetap jadi dosen. Tahun 2008 ini adalah tahun ke-26 bagi saya jadi dosen Bu. Jadi lumayan “karatan” dan “berlumut”…he..he..he..

    Ibu nulis blog juga dong, biar orang lain bisa mengambil manfaat dari pengalaman ibu…

    Reply

  40. tutinonka
    Apr 30, 2008 @ 14:23:39

    Trimakasih tanggapan (dan ‘persetujuan pendapat’nya Pak). Saya memang baru belajar ngeblog, tapi blog saya masih acak-adut, wong aslinya saya gaptek pol. Makanya teman-teman takjub ketika tahu saya punya blog. Mana mungkiiin, kata mereka … he he …
    Blog saya isinya gado-gado campur es teler Pak, pokoknya apa yang mampir di kepala saya tulis. Saya ngeri bin keder baca daftar panjang pendidikan Bapak. Saya mah bukan ape-apenye …
    Jika sempat, silahkan mampir di http://tutinonka. wordpress.com. Tapi janji, jangan tertawa …
    Trimakasih Pak. Selamat libur panjang dari Kamis sampai Minggu.

    Reply

  41. tridjoko
    Apr 30, 2008 @ 14:35:06

    –> Bu Tutinonka : wah..saya salah Bu, ternyata Ibu sudah punya blog, dan saya sudah sempat mengunjungi blog ibu dan memberikan sedikit “ular-ular” ha..ha..ha..

    Ah blog saya juga jelek bu tampilannya, tapi yang penting kan isinya. Ya nggak ? (jadi inget Tukul, “don’t judge the book from the cover”..he..he..)..

    Bu kenal bu Sri Kumaladewi nggak dari Teknik Industri ? Buku beliau yang berjudul “Artificial Intelligence” banyak laris lho di Jakarta, dan saya sudah meminta mahasiswa saya dan mahasiswa yang “bimbingan” lewat blog saya ini untuk membeli buku beliau, di seluruh Indonesia..

    Daftar panjang pendidikan saya ? Wah..bu, itu namanya “ngenyek” saya nggak pernah kerja ya….ha..ha..ha..

    Iya bu, sekolah terus lama-lama malu dirasanin temen karena nggak pernah kerja…

    Reply

  42. Gita
    Apr 30, 2008 @ 16:37:08

    Iya ya.. masa kalo berhasil “masuk” bilang-bilang.. entar kalo ada orang dari univ tempat bapak kerja liat, walah.. gawat…

    Cuma saya penasaran aja… soalnya di Untar gajinya itu berdasarkan JJA juga… kalo di Binus gimana pak? Kalo gajinya 8 jeti (bersih) beli boil 100 jeti, bisa tah? Itu cicilan berapa lama? kalo satu taon kayaknya gak mungkin deh… benar gak? Kalo satu taon beli boil, gaji sebulannya minimum 8.33 itu pun dia gak belanja apa-apa alias gak makan juga…

    Kalo gitu gaji dosen ama kajur gak beda jauh ya.. kalo dekan berapa? — wah.. nanyanya lebih jauh lagi neh… :)

    Reply

  43. tridjoko
    Apr 30, 2008 @ 19:34:36

    –> Mbak Gita : wah..anda dari univ tetangga sebelah ya…;-) Jangan-jangan ini mbak Gita yang dulu pernah di Architecture Univ. of Cincinnati yang adiknya udah professor di universitas terkenal di Jakarta itu ya ?

    Kalau yang itu, saya tahu…

    Mbak, saya biasa menghitung penghasilan orang per tahun dari mobil yang dibelinya. Dan biasanya analisis saya tepat, alias tidak meleset jauh.

    Misalnya orang yang bisa beli Avanza 120 jeti, ya gaji per bulannya pasti sekitar 120 jeti/12 = 10 jeti. Kalau orang bisa beli Nissan X-trail 300 jeti, berarti penghasilan per bulannya 300 jeti/12 = 25 jeti. Cocok kan mbak ?

    Ya tentunya dicicil selama 3 tahun. Kan menurut Safir Senduk, besarnya cicilan seseorang maksimal 33% dari penghasilan. Jadi kalau gaji Kajur 100 jeti per tahun (after tax, yang sebesar 15% kalau nggak salah), maka penghasilan per bulan Rp 8,33 jeti (o ya di Binus, seorang Kajur setahun menerima 12 kali gaji, karena THR 1 kali gaji dan Bonus akhir tahun 1 kali gaji – tapi yang ini belum saya hitung)..

    Sepertiga gaji berarti sebesar Rp 2,8 jeti untuk nyicil mobil, berarti pinjamannya sekitar Rp 75 jeti ya. Artinya kalau harga mobil Rp 100 jeti, ya dianya sudah punya uang buat DP Rp 25 jeti (25% nya). Cocok lagi kan ?

    Nah pertanyaannya, bisa nggak hidup di Jakarta dengan uang sisa hanya Rp 5,6 jeti per bulan ? Tergantung mbak, kalau dianya anak sulung dan adiknya ada 11 orang (membentuk kesebelasan “Sengsara FC”) ya tentu nggak cukup. Tapi kalau dianya anak bungsu yang kakak-kakaknya sudah mantap, ya pasti cukup…

    Kalau saya tebak-tebak dari mobil yang dikendarainya : gaji Dekan sekitar Rp 12-Rp 13 jeti after tax (tidak termasuk 2 kali gaji berupa THR dan bonus), dan gaji Kajur sekitar Rp 8-12 jeti per bulan after tax..

    O ya juga, itu belum termasuk uang ngawas ujian, uang nguji skripsi, uang bimbingan skripsi, dan uang penelitian hibah bersaing yang jumlahnya sekitar Rp 5-20 jeti per tahun..

    Hayo masih berminat jadi Kajur atau Dekan ?

    [Kalau saya daripada “dipatok” jadi Kajur atau Dekan, mending menjadi dosen biasa aja, dengan catatan banyak kegiatan lain berupa konsultasi ini itu. Kebetulan saya juga lagi sertifikasi CISA, nah komponen penghasilan kalau kita punya sertifikat ini juga sangat signifikan…karena banyak diundang berbicara di sana sini…Last but not least, the then I was a dean, but I only held that job for 4 years only and refused to prolong it…]

    Reply

  44. tutinonka
    May 01, 2008 @ 13:33:24

    Don’t judge the book from the cover?
    Iya sih, tapi koper … eh, cover penting juga lho. Kalau berwisata ke toko buku, biasanya saya tertarik pada covernya dulu, baru lihat-lihat isinya. Untuk menilai orang, nah baru, jangan lihat tampilannya saja, tapi lihat hatinya (padahal susah banget ya lihat hati orang, musti pakai sinar x … ).

    Bu Sri Kumaladewi, saya kenal, meskipun tidak sangat kenal karena hanya beberapa kali ketemu. Beliau memang hebat. Baru saja menyelesaikan studi doktornya dalam waktu kurang dari 2 tahun! Ck ck ck …. (padahal saya sudah 4 tahun belum juga kelihatan ujungnya … he he …). Dulu waktu masih aktif di kampus saya sibuk setengah mati, jadi begitu off karena sekolah, lalu ‘balas dendam’ …. melakukan segala hal yang selama 17 tahun tidak sempat saya lakukan.

    Tapi sekarang sudah ‘insyaf’ kok, dan mau kembali ke ‘jalan yang benar’. Kasihan teman-teman yang kebrukan gaweyan karena saya tinggal pergi ….

    Reply

  45. tridjoko
    May 01, 2008 @ 16:22:08

    –> Bu Tutinonka : maaf yang benar Bu Sri Kusumadewi dari Teknik Industri…

    Ya deh,…ibu cepetan diselesaikan disertasinya biar segera menyusul Pak Machfud M.D. dan Ibu Sri Kusumadewi…

    Pokoknya pas semangat, disertasi ditulis 10 halaman. Lama-lama kan 300 halaman Bu…

    he..he..he..

    Reply

  46. Hendra
    May 07, 2008 @ 00:26:02

    Pak kalo orang yg sudah dipecat dari dosen PNS laku ga jadi dosen swasta?

    Reply

  47. tridjoko
    May 07, 2008 @ 04:31:33

    –> Hendra : wah..tergantung mas, tapi setahu saya jadi dosen swasta jauh lebih sulit daripada jadi dosen PNS….

    Dosen PNS yang mengajar mahasiswa PTN itu tugas yang mudah : mahasiswa obedience (“manut”), aturan sudah jelas, dan biasanya mahasiswanya terjaring lewat saluran yang ketat (mis. SPMB)…

    Sedangkan dosen swasta itu “between a rock and a hard place” (sorry, niru judul lagunya Rolling Stones nih)…situasi jadi dosen swasta di PTS serba sulit : mahasiswanya tidak perhatian kuliah, sembarang orang bisa masuk jadi mahasiswa asal bayar, beberapa mahasiswa either berasal dari keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi or else..berasal dari keluarga yang sangat mantap dari segi ekonominya. Yang pertama nggak bisa beli buku saking terbatas sumber keuangannya, yang satu nggak berminat kuliah dan cari ijazah doang…

    Ini serba sulit, bahkan bagi orang yang punya pengalaman jadi dosen PTN sekalipun…

    Yang kedua, tergantung dari alasan mengapa ia dipecat dari dosen PTN ? Kalau penyebabnya ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan moral standard…yah, ini yang sulit karena berita akan menyebar cepat lewat “the words of mouth..”…sehingga semua PTS tidak mau menerimanya sebagai dosen walaupun ia telah berpengalaman sebagai dosen PTN…

    Gitu lho mas !

    Reply

  48. Hendra
    May 07, 2008 @ 08:27:52

    gini lho pak,

    aku dulu dosen ft unand .. dipecat karena dianggap mangkir meski yg mecat tau aku sekolah lagi .. skrg aku tinggal di kanada .. tapi nanti pulang juga.

    pulang aku pengen jadi dosen lagi .. tapi di pts!! biar bisa nemu mhs2 kaya utk nangkep peluang summer school (training) di beberapa lab di univ sini yg aku punya koneksi dgn profnya.

    spt dulu di labku (biomed engineering) mhs2 trainee (undergrad) ini dibayar 1000$/bulan utk partisipasi mrk dlm riset yg lg jalan. setelah itu klo bagus dan mau mrk bisa direkrut utk program master. cuman sayangnya ongkos kesininya kudu bayar sendiri. makanya yg aku cari mhs kaya dan mau jd pinter. program training ini bisa dijadikan pengganti ta .. dan bisa bantu pts bersangkutan go international.

    pts mana ya pak yg banyak mhs kayanya dan sistemnya ga sekaku ptn?

    Reply

  49. tridjoko
    May 07, 2008 @ 11:30:51

    –> Hendra : sepengetahuan saya mas, di Jakarta ini yang mahasiswanya tajir-tajir hanya ada 2 universitas yaitu : Trisakti sama UPH. Dulu sebelum krisis ekonomi 1998 mahasiswa DKV Trisakti biasa studi banding ke USA atau Europe. Mungkin begitu juga UPH…

    Kalau Binus, I don’t think the student profiles meet your requirements, since most of Binus students come from a simple family, not as well-to-do as that of Trisakti and UPH…

    So, bayarannya Can $ 1,000 setara dengan US $ 600 ya mas ? Lumayan mas, tapi seingat saya itu “batas garis kemiskinan” di USA. Artinya lumayan, tapi ya nggak bisa beli-beli yang terlalu mewah lah..

    So I suggest you to contact Trisakti and UPH diretly by seeing their websites…

    Reply

  50. Hendra
    May 08, 2008 @ 00:23:27

    wah pak Tri pengetahuan currency nya kudu di-update … udah lama 1 Can$ = 1 US$ .. bahkan akhir2 ini sering lebih gede Can$.

    sayang website mereka ga setajir duitnya .. informasi yg ada masih terbatas pada informasi2 klise ttg visi misi dan sejarah kampus .. masih kalah dibanding website toko sepatu di cibaduyut.

    jangankan utk mencari nama2 dosen dan expertisenya .. nyari e-mail dekan aja ga ada.

    Reply

  51. tridjoko
    May 08, 2008 @ 04:45:49

    –> Mas Hendra : Oooops…sorry, saya masih ingat waktu masa-masa sekolah dulu kalau kita dapat “kembalian” dari mesin penukar uang atau box telpon berupa dollar Kanada langsung kita bilang…shoot…karena merasa ketipu karena nilainya much lower than US $…

    Kalau yang dicari Biomedics, kalau nggak salah di Indonesia cuman ada di Comp. Sci. IPB. Cuman mahasiswa IPB secara ekonomis kebanyakan lemah seperti saya dulu….;-)

    Nyari e-mail dekan, kadang tidak harus dari website kampus. Kalau nama dekannya Dr. A, maka carilah nama Dr. A tadi di Google…biasanya ketemu mas…

    Good luck !

    Reply

  52. Hendra
    May 08, 2008 @ 05:21:09

    di UPH ada medical physics di dept physics ..
    di ITB ada biomedical eng di STEI

    iya pake google nemu spt e-mail pa tri yg di hotmail yg tiap ngirim langsung dibales postmaster ..

    makasih ya pa tanya jawabnya .. ntar disambung lagi

    Reply

  53. tridjoko
    May 08, 2008 @ 09:15:22

    –> Hendra : ya mas…Take care !!!

    Reply

  54. pkab
    May 08, 2008 @ 16:09:11

    kalau mau jadi dosen di indonesia untuk cari uang kayaknya bakalan banyak kecewanya.

    karena ada seorang ibu dosen bercerita sama saya, setelah jadi dosen apalagi aktif di dunia internetnya karena harus membalasi pertanyaan2 mahasiswa/i di forum diskusi, ia malah jadi tekor (biaya komunikasi internetnya tidak tertutup dari honor mengajar), walaupun demikian ia jadi lebih happy karena bisa membimbing mahasiswa/inya lebih personal.

    untungnya ada pahala yang besar di sorga, ketika berhasil membuat orang lain lebih pintar (kalau perlu lebih pintar dari dosen itu sendiri) dan ia menjadi manusia mandiri.

    hidup dosen…!

    Reply

  55. tridjoko
    May 09, 2008 @ 14:18:03

    –> Pak Sur : Hidup dosen juga !!

    Pak saya bulan lalu sewaktu masih pakai Telkomnet instant setiap bulan harus bayar Rp 400 – 500 ribu karena tuntutan Binusmaya dan berkomunikasi dengan para mahasiswa dan ex mahasiswa yang mengajukan berbagai pertanyaan…

    Sayapun mulai merasa berat dengan rekening sebesar itu (mendingan buat nyicil motor bebek..he..he..). Akhirnya, mulai bulan Mei ini saya hubungi telp 147 dan minta disambungkan dengan Speedy. Tiga hari kemudian Speedy datang ke rumah dan saya bisa berkomunikasi lewat ADSL 24 jam sehari dengan kecepatan lumayan dan bayarnya cuman Rp 200 rb aja per bulan…

    Reply

  56. Adhiguna
    May 09, 2008 @ 21:18:29

    Sebagai mantan dosen, saya setuju sekali dengan pak PKAB. Memang kalau mau cari duit, jangan jadi dosen. Dosen adalah pengabdian.

    TAPI Karena saya juga adalah manusia biasa dan KEBETULAN CEWEK CEWEK SAYA ASAL JAKARTA SEMUA dan terbiasa dengan Zara, Mango etc, saya harus sedikit mengesampingkan idealisme.

    Jadinya saya project dimana-mana di luar jam ngajar. Mulai dari konsultan IT beneran sampe konsultan skripsi hehe. Moonlighting dari pagi sampe malem, sabtu dan minggu juga ngajar kelas karyawan.

    Akhirnya saya mikir, lah ini jadinya kok ngajar jadi lebih ke hobby yang jadi liability daripada kerjaan yang ngasih income ya???

    Tapi saya KANGEN ngajar dan someday akan melakukan ”hobby” saya untuk ngajar lagi di Universitas. Walaupun untuk menjadikan mengajar dan riset sebagai profesi terus terang masih agak meragukan bagi saya, MESKIPUN DI LUAR NEGERI.

    Reply

  57. tridjoko
    May 09, 2008 @ 21:57:45

    –> Adhiguna : Hallo..ini mas Adhi yang biasanya ya…yang selalu bolak-balik UK-France..

    Ya mas, profil Mas Adhi sebagai cowok Metrosexual yang ditakdirkan bercewek yang suka Zara, Mango, Moschino, D&G…emang susah mas kalau “ngempani”-nya dengan menjadi dosen…apalagi kelas yang diajar mahasiswanya hanya sekelas Mango Duo..he..he..

    Cocoknya kalau hidup dan kehidupan kita dari profesi dosen ya ceweknya yang pakai kebaya dan kain batik bikinan Solo…itu baru cocok mas !

    Sehingga harus jungkir balik moonlighting..to make the ends meet !!

    Kalau prinsip saya, ada sisi kehidupan saya yang “homoeconomicus” alias serba mengejar keuntungan, namun sisi lainnya ada “homosocialis” yang kadang-kadang juga berderma….tidak hanya berupa uang, tetapi berderma ilmu juga nggak lebih rendah derajatnya…

    Apalagi, Mukadimmah (Prologue) UUD kita disebutkan tujuan negara adalah “Mencerdaskan kehidupan bangsa”…brarti kita diminta jadi dosen tho ?

    Di US sekalipun, pekerjaan sebagai dosen/guru dan tentara dan pegawai negeri adalah pekerjaan “low income”…kecuali para professor di School of Law yang gaji minimal Assistant Professor-nya lebih tinggi dari gaji Full Professor di Dept. Comp. Science…

    Reply

  58. Adhiguna
    May 09, 2008 @ 22:53:37

    Iya pak Tri:) ini Adhiguna di Perancis..
    exactly pak, kok sampeyan tau aku metrosexual ??

    Yah kebetulan dulu waktu ngajar, fans cukup banyak dan untuk ‘mengakomodir’ kebutuhan fans2 saya, ya harus moonlighting hehe…

    Duh pak, saya dari dulu berusaha mencari cewek yang mau pakai kebaya dan naik angkot, belum pernah nemu pak….gimana dong..

    Itu baru cewek Jakarta pak,
    apalagi cewek2 Perancis ???

    apa mau dia naik angkot di Jakarta????

    haha

    Reply

  59. Adhiguna
    May 09, 2008 @ 22:58:59

    Saya akan berusaha terus mencerdaskan bangsa dengan dikit2 bikin blog2 tutorial dan menulis buku pak..:) kasih komen ya:)

    Reply

  60. tridjoko
    May 10, 2008 @ 04:28:31

    –> Adhiguna : …he..he..he…kan…saya tahu Mas Adhi itu tipe cowok Metrosexual…dari… “The Devil wears Prada” (judul film…)…he..he..he..

    Tenang mas, waktu akan membuktikan bahwa pada suatu hari Mas Adhi akan ketemu cewek yang nggak pakai make-up, kulit sawo matang (tidak terlalu terang), pakai kebaya (maksudku…suka pakai baju etnis), rada cuek, suka naik angkot, dan Mas Adhi akan tergila-gila setengah mati kepadanya…he..he..he…I am a Statistician dan segalanya dihitung dari probabilita…dan chances are, orang itu akan ketemu pasangan yang exactly opposites dengan sifat-sifat dirinya (cerewet ketemu tenang, suka dandan ketemu cuek dandan, pinter ketemu biasa-biasa aja, dsb..)..

    Time will tell…

    Wah, syukur..andapun berminat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.. karena ternyata orang itu nggak boleh punya 1 sisi…bisnis atau “homoeconomicus” terusss….tapi in the other side of the coin…dia harus juga bersosial dan bersimpati bagi yang the unfortunate….

    So, good luck then !

    Reply

  61. Diajeng_Sakti
    Jun 06, 2008 @ 14:28:19

    Wahh, senang sekali baca blog bapak. Pengen rasanya jadi dosen. malah itu cita2 saya sejak dari kecil. Alasannya mungkin gak cuma sebagai pengabdian. Tapi juga krn gaji dosen yang sedikit itulah yang bikin saya seneng. Kalo pendapatan kita cukup2 ajah maksudnya tidak kurang dan tidak lebih kan membuat kita tidak akan pernah meningglakan Tuhan. Karena kita selalu berdo’a supaya dicukupkan rejeki kita. Tapi rejeki disini rejeki yang halal. Dilain pihak saya malah takut jadi orang kaya, ato pengusaha yang biasanya segala sesuatu diperhitungkan sebagai bisnis. an kecenderungan anak2nya kurang turut. Apalagi bisnisnya dr sikut menyikut. Makanya saya lebih suka profesi dosen yang lebih banyak ke tabungan akherat nya. Mencari ilmunya ajah udah pahala apalagi menyebarkannya. Jadi berlipat2 deh….:). Cuma sampai saat ini cita2 saya belum kesampaian. Adakah bapak 2 dan ibu2 ini bisa membantu saya misalnya menjadikan saya sebagai assistance nya? …, karena saya belum ada pengalaman mengajar sama sekali. Saya baru lulus S2 di Universitas Swasta di Jakarta April 2008 ini. Yang kedua sebenernya persiapan apa saja yang perlu dipersiapkan jadi dosen itu? temsauk materiel dan spirituilnya?
    Terimakasih sebelumnya

    Reply

  62. tridjoko
    Jun 06, 2008 @ 17:04:04

    –> Diajeng Sakti :

    Wah mbak, senang rasanya anda adalah pembaca blog saya pertama yang “terinspirasi” jadi dosen..

    Dari 30.940 orang yang pernah membaca blog ini (ada yang dobel-dobel membacanya sih), belum ada tuh yang mau jadi dosen…dengan catatan dosen sebagai penghasilan pertama lho ! Kalau dosen sebagai penghasilan kedua, sudah ada tuh yang pengin seperti Agung mahasiswa saya dan Mas Adhiguna yang masih sekolah di Paris sono…

    Seorang ayah teman saya berkata, bahwa penghasilan sebagai dosen adalah salah satu penghasilan yang paling “halal” di dunia ini, dan oleh karena itu jika beliau ingin memberi “sangu” (angpau) pada cucunya, pasti disisihkannya dari honor mengajar sebagai dosen…dan bukan dari gaji kantor peneliti, atau sisa uang perjalanan dinas…

    Kalau si mbak ini sudah S2, ya cepat aja melamar sebagai dosennya langsung, nggak perlu jadi asisten dulu..walaupun nanti pangkat pertama sebagai dosen namanya adalah “Asisten Ahli” golongan IIIb..Melamar langsung ke universitas yang anda ingin sebagai dosen di sana, dan biasanya jaman sekarang sudah terbuka kok…nggak perlu ditolong seseorang. Kalau diterima ya langsung disuruh langsung mengajar. Kalau belum diterima, ya melamar lagi !

    Persiapan materiil ? Ya pelajari saja bahan-bahan kuliah yang akan diajarkan nanti. Misalnya mbak diminta mengajar mata kuliah A, maka siapkan semua buku, paper, atau reading tentang A ini..

    Persiapan spirituil ? Nggak ada tuh, siapapun orangnya yang ngajar pertama jadi dosen pasti pernah ngrasain yang namanya dengkul bergetar seolah mau copot, atau mulut serasa “kamisosolen” (numb) nggak ada kata-kata yang mau keluar…tapi hal itu akan hilang dengan sendirinya jika anda sudah ngajar tahun ke-2, ke-3, dan seterusnya…

    Gitu aja kok mbak !

    Kalau mbak sudah ada minat sebagai dosen, berarti 50% pahala sudah masuk ke “rekening” mbak nih….hehehe….

    Reply

  63. junior
    Jul 15, 2008 @ 13:23:46

    Misi bapak2 atau ibu2 saya mau nanya tentang kerja jadi dosen. Saya mau tau pendapat bapak2 atau ibu2 enaknya saya pertahankan atau tidak kerja saya dikampus? Soalnya gj dari bekerja sbg dosen cman 1,2jt perblan itupun dari pagi sampe sore. Oh iya umur saya baru 22th, liat kerja diluar spt di perusahaan lbh gede gajinya. Dan klo kita bukan dosen apa mudah dpt beasiswa S2/S3 diluar negeri??

    Reply

  64. tridjoko
    Jul 15, 2008 @ 17:23:10

    –> Junior :

    Sayang anda nggak sebutin anda lulusan dari program studi apa dan di universitas mana ? Mungkin malu atau nggak etis ya nyebutin…gpp deh…

    Pertama saya ingin nanya, apakah anda punya darah daging sebagai dosen ? Misalnya, apakah kakek nenek anda guru ? Apakah bapak ibu anda guru atau dosen ? Apakah kakak2 anda ada yang jadi dosen ? Kalau ketiga pertanyaan tadi jawabannya “tidak”…berarti gawat !!! Anda tidak punya bakat jadi dosen, jadi kalau diterusin…kerjaan anda cuman ngeluh aja…

    Kalau saya kebetulan bapak saya dosen di sebuah universitas negeri dan ibu saya kepala sekolah SD, jadi menurut saya, saya punya darah daging jadi dosen…alias…enjoy aja jadi dosen…

    Sebenarnya jadi dosen (atau pegawai negeri) itu rewarding lho ! Banyak anak dosen yang jadi orang, sebaliknya banyak anak orang kaya yang tidak jadi apa-apa karena dimanja dengan harta sejak kecil…

    Dengan jadi dosen, anda lebih mudah dapat beasiswa belajar ke luar negeri : mau Singapore, Jepang, Kanada, Australia atau Amerika, terserah kepada kemampuan anda ! Lebih baik jadi dosen dan mencoba mencapai gelar Master, syukur-syukur bisa terus ke Ph.D.. Setelah itu pulang ke Indonesia, pasti anda akan dipanggil kerja di sana dan di sini sebagai konsultan…

    Saya dulu punya seorang teman SMA yang masuk Mesin ITB dan ketika lulus ia ditawari kerja di sebuah perusahaan minyak off shore di sekitar Medan, yang kerjanya 2 weeks on dan 2 weeks off. Kerjaan itu ia tolak walau ia sudah sempet melihat perusahaan tersebut di Medan. Akhirnya ia memutuskan jadi dosen ITB, meneruskan Ph.D ke Perancis dalam waktu 3 tahun dan sekarang sudah enak hidupnya (punya rumah dengan halaman luas untuk berkebun, punya beberapa mobil, serta menjadi konsultan perusahaan swasta)…Yang pasti ia dapat adalah : ketenangan !!! Karena kerja sebagai dosen itu ternyata hidupnya sangat tenang, damai…

    Kerja di luaran (baca : swasta), gaji memang lebih tinggi. Tapi ingat, kalau di swasta setiap seribu rupiah yang mereka keluarkan sebagai gaji kita, kita dituntut untuk berkontribusi sebanyak itu pula, malahan lebih banyak…

    Last but not least, kerja sebagai dosen kesehatan kita bakalan prima terus dan tidak pernah stress…

    Gaji cuman Rp 1,2 juta ? Kalau anda bisa menerimanya dengan ikhlas, pasti uang itu akan berkah. Banyak-banyak beramal kepada orang yang membutuhkan, Rp 1 ribu, Rp 5 ribu, maka rejeki anda akan datang dari arah yang lain….

    Itu saja nasehat saya. Selajutnya terserah anda….

    Reply

  65. Iswarti Utami
    Aug 01, 2008 @ 12:52:54

    Pak…klo mo jadi dosen di Universitas X gimana neh caranya????. Pake acara tes ngajar dan lain sebagainya gak???? Ato Bapak Tri Sendiri yang jadi dewan verifikasinya???? :) :) :)

    Reply

  66. tridjoko
    Aug 01, 2008 @ 14:16:10

    –> Iswarti :

    Lho, Iswarti apakah anda sudah menyelesaikan pendidikan S2 ? Soalnya untuk menjadi / melamar menjadi dosen sebaiknya latar belakang pendidikan S2 atau…surat lamaran anda tidak akan diproses (sebab saingan2 anda semuanya berlatar pendidikan S2 atau S3)…

    Tentang Universitas X. To tell you the truth, Ketua Jurusannya galak banget !!! Saya dimarahin mulu… jadi walaupun rate honor ngajarnya cukup lumayan, saya sarankan anda stay away from that university, selagi anda masih sempat !!!!

    Saya sendiri semester depan mungkin mau cabut !

    Reply

  67. Agung
    Aug 02, 2008 @ 12:51:29

    yah,Bapak mao cabut smstr dpn??
    jgn donk Pak..!!
    saya nanti skripsi ama siapa donk??
    kan saya mao Bapak yg jd pembimbing saya.
    hehehehehehhe…!!!

    Pak,kalo saya malah dari Adam dan Hawa ampe saya ga ada yg jd guru ato dosen nih.
    lalu ama saya bisa jadi dosen yah???
    boro2 darah daging saya dosen.
    bulu kaki aja bukan dosen nih kyknya.
    hehehehehehhe…!!

    Reply

  68. tridjoko
    Aug 02, 2008 @ 17:23:13

    –> Agung :

    Perhatikan dengan benar saat membaca paragraph..

    Terutama “between the lines”….

    Hehehe…

    Reply

  69. iswarti utami rasjid
    Aug 02, 2008 @ 17:42:24

    Hahahahahhaha….Bapak bisa juga ya dimarahi..dipikir Bapak udah lulus sensor sama yang namanya kemarahan. Beliau (a.k.a Kajur X) baek kok pak orangnya, apalagi pas saya masih megang di himpunan tersebut. Mungkin karena banyak tuntutan dan tekanan dari atas makanya bikin beliau jadi lebih sensitif.
    Jadi step saya gimana niy pak biar saya bs menata karir di universitas bukan X ??? Saya sedang thesis skrg…mohon do’anya pak supaya diberikan kemudahan dan kelancaran.

    Reply

  70. rumahagung
    Aug 02, 2008 @ 21:36:46

    hehehehehehe…!!!
    understand Sir.

    Reply

  71. junior
    Aug 13, 2008 @ 10:12:18

    Wah pak Joko terima kasih atas sarannya, oh iya saya lupa sebutkan jurusannya. saya jurusan komputer klo univnya jgn deh :D takut ada yg baca hehehehe. Wah mengenai pertanyaan bapak bener ketiga2nya jawabannya tidak. Wah apa karena itu ya mengeluh terus :P. Abisnya rada2 malu sih temen2 sebaya udah pada kerja enak sedangkan saya dari dolo masih tetep2 aja. Klo masalah amal udah koq pak itu kan dah kewajiban :D. Wah saya baru sempat membaca blog ini dan sekarang saya sudah terlanjur resign pak :( , Apa masih ada kesempatan untuk dpt beasiswa keluar negri pak?
    Pak saya boleh minta tips untuk memperoleh beasiswa diluar negeri tidak? Soalnya di tempat saya belum ada yang pernah dapat beasiswa luar negeri, kebanyakan mereka diberi beasiswa oleh universitasnya sendiri.

    Reply

  72. tridjoko
    Aug 13, 2008 @ 15:02:24

    –> Junior :

    Kalau anda jadi DOSEN (PTN atau PTS) atau penggiat LSM, maka kemungkinan anda mendapat beasiswa ke luar negeri akan semakin besar…

    Tapi kalau anda pekerjaannya BUKAN DOSEN, wah kayaknya anda semakin jauh deh ke luar negerinya, kecuali kalau IPK anda sexy, anda menguasai bahasa pemrograman yang banyak dicari orang (Oracle, PHP, Java), dan bahasa Inggris anda sudah bagus…

    Coba deh cek ke http://www.mum.edu/ . Di situ ada penawaran beasiswa ke Amerika bagi Sarjana Komputer dari Indonesia. Syarat dan jadwalnya coba cek sendiri…

    Silahkan dicoba dan semoga sukses….

    Reply

  73. strato
    Aug 16, 2008 @ 17:15:47

    wah di tangerang kok cuma 40.000 / sks…sedih

    Reply

  74. tridjoko
    Aug 17, 2008 @ 07:51:03

    –> Strato :

    Di Tangerang cuman Rp 40 ribu per sks ? Take it easy, pal !

    Sebenarnya “gaji” atau “honor” itu mengandung dua makna :
    – Sebagai penghargaan perusahaan terhadap kita pegawainya
    – Sebagai “harapan” perusahaan atas kita pegawainya…

    Ya santai aja Bung, kita digaji Rp 40 rb per sks berarti agak kurang dihargai (dibanding Universitas X yang saya sebutkan tadi).. Tapi di lain sisi, harapan yang dibebankan perusahaan kepada anda juga tidak terlalu banyak kok…anda kerja asal-asalan juga gpp…

    Gitu kan ?

    Ya lain kali tinggal nyari aja yang lebih tinggi. Gitu aja kok repot !…

    Hehehe…

    Reply

  75. Dion
    Aug 17, 2008 @ 13:50:55

    Ikut nimbrung Pak, boleh kan? Dosen (PTN) saya pernah nanya mahasiswa bimbingannya yg barusan lulus, mau kerja dimana? Yah mungkin basa-basi atau sekedar ingin tahu “cita-cita” ybs. Eh si mahasiswa mungkin gak pernah belajar interpersonal skills jawabnya enteng, kerja dimana aja asal bukan PNS … gila nggak tuh? Untungnya dosen saya cukup “sabar” jadi cuma diceritain dikuliah sebagai bagian dari pembelajaran. Dia bilang, rasanya saya jadi dosen PNS gak kere-kere amat … hahaahha

    Reply

  76. tridjoko
    Aug 18, 2008 @ 06:26:26

    –> Dion :

    Di tahun 1984 saya juga pernah ngalami pengalaman serupa. Serombongan mahasiswa Matematika ITB berkunjung ke BPPT, kantor saya. Ada yang nanya, berapa gaji awal Pegawai Negeri Sipil. Dijawab Rp 499 ribu. Mahasiswanya langsung nimpali, “Lho, apa cukup untuk hidup di Jakarta ?”…

    Padahal Rp 499 ribu itu karena BPPT sudah mendapat TSP (Tunjangan Selisih Penghasilan) lebih dari separuh gaji supaya sama dengan standar Pertamina.

    Reply

  77. AlfinNR
    Sep 01, 2008 @ 12:34:44

    SALAM KENAL MAS
    wah jadi semangat buat jadi dosen nih
    hidup dosen :lol:
    rencna sish berharap diterima dengan ijasah S1 bisa diterima, klo di terima baru mau lanjutin kul ke S2

    Reply

  78. tridjoko
    Sep 02, 2008 @ 08:30:30

    –> Alfin NR :

    Salam kenal kembali. Setahu saya bisa lho lulusan S1 langsung melamar jadi dosen, syaratnya :
    1. IPK >= 3.5
    2. IPK >= 3.0 dan SEDANG mengambil S2
    3. IPK >= 3.0 dan mempunyai bidang ilmu khusus yang sangat diperlukan (misalnya kemampuan Pemrograman kalau dari jurusan Teknik Informatika)..

    Yang jelas, jadi dosen adalah cita-cita mulia. Kalau anda sudah pengin jadi dosen, wah pundi-pundi amal anda sudah terpenuhi 50%-nya…

    Mudah-mudahan cita-cita anda jadi dosen terlaksana, saya ikut berdoa…hehehe…

    Reply

  79. raul
    Sep 04, 2008 @ 11:30:16

    Salam Kenal mas…

    Aku seorang dosen swasta. Asisten Ahli masih S-1 dan sudah empat tahun mengajar. Terus terang dosen ini sebagai kerjaan sambilan, kerjaan utama sebagai pns.

    Di tempatku ngajar, perincian gaji yang disertakan di slip gaji agak berbeda dari yang ada di komen2 sebelumnya.
    gaji per SKS cuma 9.900 (@#@!$%^!!), trus ada biaya transport kurang lebih 15.000 per kedatangan trus ada tunjangan mengajar 100.000 per bulan, tapi yang mbikin aku tetap ngajar, ada tunjangan tetap 750.000 per bulan. Jadi ngajar nggak ngajar dapet. Jadi take home pay rata2 1 juta-an per bulan.
    Aku ngajar-nya cuma tiap hari sabtu saja, coz senin-jum’at ‘dinas pns’…. (rencana mo minta kenaikan gaji+sekolah S-2)

    Reply

  80. tridjoko
    Sep 04, 2008 @ 12:25:40

    –> Raul :

    Sebenarnya kenyataannya setiap universitas punya rumusan sendiri-sendiri tentang honor mengajar, tapi pada akhirnya jumlah honor nyaris hampir sama, kalaupun beda tidak signifikan besarnya….

    Gaji anda per sks itu mirip Universitas Y tempat saya ngajar jika pangkat baru Asisten Ahli pendidikan S1, yaitu sekitar Rp 10.000. Yaitu uang transport Rp 30.000 per 2 sks ngajar. Tunjangan mengajar dan tunjangan tetap tidak ada, yang ada tunjangan dosen tidak tetap sebesar Rp 125.000 per bulan…

    Kesimpulannya, universitas anda memberikan lebih baik daripada universitas Y…

    Jadi anda patut bersyukur…. ;-)

    Reply

  81. Yalun
    Sep 08, 2008 @ 13:50:34

    Salam kenal Pak Tri Djoko,
    Saya dulu dosen salah satu universitas swasta besar di Surabaya. Adapun gaji di sana tidak sebesar yang Bapak tulis buat Universitas X. Mungkin cuma separuh. Sekarang saya lagi S3 di Australia, ambil bidang bioengineering.

    Menurut saya gaji tenaga akademik di Indonesia termasuk menyedihkan. Di Australia gaji associate professor sekitar AUD 150.000/th, professor 200.000, lecturer 75-100 ribu. Mungkin lebih fair kalau dibanding dengan Malaysia. Namun di sana berapa Bapak juga tahu rasanya. Entah kenaikan porsi pendidikan di APBN apa bisa mengatrol gaji guru.
    Menurut saya, kalau mau sesuatu yang bagus ya harus berani bayar mahal. Dalam artian pendidikan yang bagus harus mahal namun pemerintah mensubsidi yang kurang mampu.

    Adapun motto kalau jadi dosen itu pengabdian itu tidak tepat. Guru bukanlah pahlawan tanpa jasa. Karena semua hasil karya profesi apapun juga harus dihargai dengan jasa baik materi maupun non-materi. Gitu aja dulu Pak. Mohon maaf kalau ada komentar yang kurang pas. Terima kasih.

    Reply

  82. tridjoko
    Sep 09, 2008 @ 15:23:02

    –> Mas Yalun :

    Salam kenal kembali. Wah..semoga pendidikan S3 anda di Australia sukses…

    Yah, memang gaji dosen di Indonesia tidak bisa dibandingkan dengan di luar negeri seperti Australia atau Amerika mungkin karena gaji dosen di Indonesia dikaitkan dengan kemampuan pemerintah yang golongan gajinya sudah ada rumusnya. Itu untuk PTN. Mestinya untuk PTS bisa lain ya, dalam arti PTS yang kuat dan besar tentunya gajinya bisa besar seperti Universitas X ini..

    Saya setuju gaji guru mestinya bisa ditingkatkan. Kalau di Indonesia gaji guru SMA di DKI Jakarta bisa sekitar Rp 4.0-4.5 juta per bulan, tetapi tetangganya di Bekasi cuman menerima Rp 2.0 – 2.5 juta. Artinya, sekarang gaji guru juga tergantung kepada kemampuan pemerintah daerah masing-masing…

    Apakah setelah lulus S3 anda masih berminat ngajar di Indonesia atau anda tetap akan tinggal di negeri Kangguru ?

    Reply

  83. yalun
    Sep 09, 2008 @ 22:12:06

    Terima kasih Pak Tri,
    Sistem gaji di PTS tempat saya kerja dulu mengikuti sistem PTN. Mungkin ada modifikasi dikit2. Perkiraan angkanya ada di wordpress saya. He he saya masih belajar cara bikin blog.

    Saya minat sih ngajar di Indo, tapi lihat juga pendapatannya. Tidak tahu apakah bidang saya cukup laris di Indo.

    Reply

  84. tridjoko
    Sep 10, 2008 @ 08:17:26

    –> Yalun :

    Wah..kalau standar PTN memang masih kecil pak, hanya cukup untuk hidup saja (beli nasi pecel sih bisa)…

    Yah kalau bidang anda Bioengineering mungkin hanya bisa bekerja di Eijkmann Institute di Jalan Diponegoro Jakarta namun dengan standar gaji PNS, walaupun akan banyak proyek ini dan itu yang bisa sih nambah-nambah penghasilan..

    Tapi dengan adanya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebaiknya berpikir seribu kali sebelum meng-create penghasilan di luar standar. Alias, I warn you Sir, you’d better work in Aussie as long as you want. Setelah jelang pensiun beli rumah di daerah elit di Surabaya dan hidup tenang buka warung rujak cingur…dan mengasuh cucu-cucu….

    hehehe….sound cool, doesn’t it ?

    Reply

  85. yalun
    Sep 10, 2008 @ 15:49:16

    Ha ha, Pak Tri suka humor juga.
    S1 dan S2 saya di Teknik Kimia Pak. Cuma S3 yang lari ke Bioengineering. Setahu saya Atma Jaya punya Biotek. UPH juga punya program biologi. Kalau Teknik Kimia biasanya yang jadi acuan ITB dan ITS, swastanya Unpar, Widya Mandala Surabaya, dan Ubaya.

    Reply

    • Yusak
      Oct 26, 2010 @ 05:20:38

      wah Widya Mandala disebut sama Pak Yalun, jadi bangga deh, sya juga kuliah di WM tp skrg ngelanjutin 2 thn terakhir d Australia, masih s1 sih tp sy pengen jadi dosen juga. tujuan saya nyelesein 2 th terakhir u/ dpt ilmu lbh yg nantinya bisa berguna sbg bekal dosen.

      anyway, sy pengen bny anak2 indonesia menyenangi teknik kimia lb mendalam lagi. that’s why sy mau jd dosen.

      Pak Yusak,
      Ya…mudah-mudahan studi Pak Yusakpun cepet selesai di Aussie dan cepet menjadi dosen…Amien..

      Reply

  86. tridjoko
    Sep 10, 2008 @ 15:58:22

    –> Pak Yalun :

    hehe…pak saya biasa berhumor ria. Kalau background anda TK sampai S2 lalu ngambil S3 Bioengineering, menurut pengalaman saya biasanya orang2 Indonesia nggak memperhatikan hal ini dan akhirnya menganggap anda S3-nya TK juga..

    Coba deh, I bet nanti pasti begitu..

    Ok pak, ngambil S3 di Aussie saya denger tough juga. Kita sudah submit dissertation saja kadangkala masih ditolak sama external reviewer, apalagi bagi yang nggak submit. Kata teman saya yang sukses S3 di Aussie, kuncinya setiap 2 minggu sekali anda harus produce paper yang akhirnya mendukung dissertation anda…

    Ok pak, semoga sukses…

    Reply

  87. hima
    Sep 16, 2008 @ 23:46:15

    pak…link yg kitaupload untuk mata kuliah kapsel nya itu ga bisa di donlod??
    mgkin saya salah link??boleh minta link nya yg bener??

    Reply

  88. tridjoko
    Sep 17, 2008 @ 11:54:48

    –> Hima :

    Wah…sorry ya belum bisa diupload, mungkin mahasiswa yang membantu saya salah nulis alamatnya…

    Yang penting anda sudah bisa mengerti apa yang saya sampaikan waktu itu..

    Ok nih, saya online dari Madiun…

    Reply

  89. wannabe
    Sep 29, 2008 @ 16:53:57

    Salam kenal Pak.
    Dari postingan dan komentar2 yang ada jadi sedikit terbayang untuk melihat kehidupan dosen.
    Menurut Bapak apakah saya tetap bekerja di industri dulu sampai beberapa tahun baru jadi dosen? Sampai saat ini saya baru hampir setahun bekerja di bidang TI. Pendidikan saya S1 Ilmu Komputer. Atau saya mesti S2 dulu yah? IPK sich pas-pasan, di atas 3 tapi ga sampe 3,5. :)

    Reply

  90. tridjoko
    Sep 29, 2008 @ 19:08:09

    –> Wannabe :

    Wah…a good question…. ;-)

    Menurut saya sih, jangan sampai pekerjaan dosen dijadikan pekerjaan utama (!!!). Alasannya, Pertama, gaji dosen di Indonesia (di PTS kelas atas sekalipun) belum menjanjikan untuk menghidupi keluarga. Kedua, rekrutmen untuk menjadi dosen tetap (di PTS kelas atas sekalipun) masih ada bau “politik” alias tidak jelas apa persyaratannya, yang kualifikasinya bagus tidak diterima yang kualifikasinya sedang kadang malah diterima (di PTS kelas atas sekarang fungsi HRD diganti dengan “Talent Management”). Ketiga, ada banyak kehidupan yang menarik di luar kehidupan hanya sebagai dosen (konsultan, software developer, LSM, DPR, blogger) dan kadang menjanjikan fulus yang lebih daripada standar dosen..

    Jadi, kalau anda itu anak saya sendiri, saya akan sarankan anda untuk mengambil S2 dulu, bahkan kalau perlu sampai S3. Sementara itu, pekerjaan di Industri jangan ditinggalkan, toh kan ada program S2 atau S3 yang bisa dijalani di week ends. Setelah anda dapat S2, anda boleh melamar menjadi dosen. Banyak kan program S1 yang kelas malam, jadi siang hari anda kerja di Industri (IT) dan malamnya sebagai dosen…

    Dengan demikian anda telah “testing the water” apakah kehidupan dosen itu memang benar-benar menarik atau membosankan bagi anda. Kalau menarik, memang anda punya “blood” sebagai dosen. Kalau kurang menarik, forget it, lebih baik anda bekerja di industri sambil berwiraswasta…

    Good luck !

    Reply

  91. wannabe
    Sep 30, 2008 @ 15:55:19

    Terima kasih Pak! Saya jadi bisa memiliki pandangan lain terhadap kehidupan saya. Ceritanya nih awal tahun depan kontrak kerja habis dan saya berniat untuk melanjutkan S2 dulu.
    Ternyata selain dosen ada pilihan lain. Jadi software developer berkutat terus di depan monitor kok rasanya ga seimbang hidup Pak. Dikejar-kejar deadline trus. Kadang jadi miskomunikasi, dikirain cuek, :P padahal memang lembur sampai malam dan weekend masuk kerja.
    Saya senang belajar hal yang baru dan itulah yang membuat saya berniat untuk S2 setelah ini. Tapi setelah itu… mungkin seperti saran Bapak, cari kerja lagi dan sambilan mencicipi apakah dosen itu cocok dengan jiwa saya. :). Berwiraswasta boleh juga tuh! :P

    Reply

  92. Joy
    Oct 03, 2008 @ 12:23:20

    Pak,sya bru mo lu2s S1,jursan TI d slah stu PTS Jkarta.Sy sdah trbiasa utk mgajar anak2 les & sy sgat snang mgajar.Sy ign tya,baikny sy bkerja dlu(cri pgalaman d real world) bru sy brusha cri s2 lalu jdi dosen atau sy lgsg brusha melamar jdi dosen?Klo mo ambil S2 d luar negri,utk jur. TI,bpak pnya rekomendasi ga?Tentunya yg biasa utk tjuang beasiswa.Klo dlam negeri,UI is the best one?O y sya rencana utk mgajar d kmpg hlaman sya d north sulawesi.Makasih pak.

    Reply

  93. tridjoko
    Oct 03, 2008 @ 12:37:19

    –> Joy :

    The good thing is, you really have a “blood” of become a lecturer…congratulations !

    Soalnya saya dengar anda enjoy banget ngajar anak2 les. Saya dulu juga begitu, yang akhirnya berakhir sebagai dosen … ;-)

    Tapi kalau anda hanya lulus S1 jurusan TI mestinya sangat sulit bagi anda untuk langsung melamar jadi dosen S1 (jeruk makan jeruk, lulusan S1 mengajar program S1), kecuali anda melamarnya di PTS yang kelasnya jauh di bawah PTS dimana anda lulus…

    Umumnya, orang lulus S2 dulu baru melamar ngajar di S1. Di Binus, lulusan S1 bisa diterima ngajar, syaratnya : a) lulusan Binus sendiri, dan b) ngajarnya hanya di programming class. Selain itu, yang bisa diterima hanya yang bergelar S2 atau S3 (juga di bidang TI, computer science, atau computer engineering)…

    Jadi saran saya, anda bekerja dulu saja…yah itung2 mengalami “ganasnya” pekerjaan lulusan TI yang katanya “membosankan”, “penuh dengan tekanan”, dan sebagainya. Yah sekitar 1 atau 2 tahun dulu anda bekerja di bidang TI, sambil cari uang lebih buat mengambil S2..

    Mengambil S2 di Binus saya dengar tidak mahal2 amat, sekitar Rp 20-30 juta sampai programnya tamat. Kalau IPK anda “sexy” (di atas 3.50, atau minimal di atas 3.00) dan TOEFL anda juga “sexy” (di atas 550, minimal di atas 500 untuk “paper-based test”), anda bisa melamar melanjutkan studi ke USA, misalnya ke Maharishi University of Management (www.mum.edu). Di sana anda belajar di kampus sekitar 5,5 bulan – 13 bulan (tergantung seberapa cepat anda menyelesaikannya), setelah itu bekerja sambil meneruskan kuliah secara distance learning…

    S2 Ilkom UI is the best ? Saya tidak tahu persisnya, walaupun banyak dosen Binus memang lulusan S2 Ilkom UI…

    Selain “mutu”, “biaya” dan “waktu kuliah” juga merupakan pertimbangan utama dalam mencari program S2…

    Ok, good luck..

    (sementara ini, anda bisa bekerja di bidang IT di siang hari dan mengajar di malam hari, apabila mungkin)..

    Reply

  94. si perempuan
    Nov 28, 2008 @ 19:13:04

    wah menarik nih..bisa dijadikan bahan pertimbangan…dibicarakan di atas, dosen jangan dijadikan perkerjaan tetap..itu berlaku untuk laki-laki dan wanita? soalnya saya sering dapet nasihat, perempuan cocoknya jadi dosen..bla..bla..bla…
    Saya lulusan S1 ITB dengan predikat cumlaude. Ketika saya lulus, mendaftar kerja terasa gampang, tetapi ibu saya selalu menyarankan ke saya untuk jadi dosen..Sekarang saya malah bingung, di antara dua pilihan :
    – saya kebetulan diterima bekerja di tempat yang cukup bagus, di mana tidak sembarang orang bisa ke sana, dan harus melalui tahapan yang panjang untuk bisa bekerja di sana.
    – saya mencari beasiswa untuk melanjutkan studi S2 dan S3. Untuk dapat beasiswa, saya optimis, karena saya memang masuk peringkat 5 besar di jurusan saya.
    Bagaimana saran Bapak? Apa yang harus saya pilih?
    Terima kasih.

    Titix,
    Wah…saya jadi penasehat alumni ITB dengan predikat cum laude ? I’ve never been better….. ;-)
    Mbak..eh Teh, sebenarnya masih banyak posting lainnya yang membahas hal ini. Coba deh baca juga posting terbaru saya di “Jadi PNS atau Pegawai Swasta ?” dan “Saya bisa melakukan apa saja yang saya suka”…pasti pertanyaan anda sudah hampir terjawab…
    “Dulu waktu saya lulus, cari kerja terasa gampang”…berapa tahun yang lalu itu Teh ? Dan anda sekarang sudah diterima bekerja di tempat yang sulit untuk dimasuki sembarang orang dan melalui seleksi yang sangat panjang…wah pasti Oilco itu ya Teh….(soalnya kalau Telco kan jauh lebih mudah masuknya..dan seleksinya juga nggak panjang-panjang amat..)…
    Tapi Ibu anda menyarankan anda sebagai dosen…jadi sayapun berpikir, sebaiknya sayapun memposisikan diri saya sebagai “bapak” anda…walaupun hanya di posting ini saja, bukan di dunia nyata…
    O ya, nasehat saya ini memang lebih ditujukan kepada kaum wanita…tetapi bagi kaum lelaki “holds too”…

    Saran saya :
    1. Pertahankan posisi anda di pekerjaan sekarang selama mungkin, mungkin for a lifetime. Kelihatannya masalah anda bukan di “money” tapi lebih ke “penyaluran bakat, aspirasi” dan “menuruti nasehat Ibu”
    2. Di lain pihak, mulailah meningkatkan diri anda agar sesuai untuk langsung masuk ke program S2 atau langsung S3 (yang belakangan ini yang saya sarankan). IPK/GPA anda sudah ok. Tinggal bahasa Inggris dan tentu saja GRE (GRE General dan GRE Subject Test). Mestinya kalau anda lulus cum laude, bahasa Inggris anda saya tebak sudah di atas 600 (paper test model dulu). Jadi masalah anda sekarang tinggal GRE. Ya sudah, cobalah ambil GRE General Test dan GRE Subject Test (anda Electrical Engineering ? ambillah GRE Electrical Engineering yaitu background anda di S1 dulu…)…
    3. Search universitas di Luar Negeri yang memenuhi ambisi anda. Misalnya kalau anda dari Tambang, Geologi, Geofisika atau Perminyakan…ambillah “Colorado School of Mines” di Golden, Colorado atau di “University of Texas at Austin”. Kalau anda dari Electrical Engineering, Mechanical Engineering, Civil Engineering, Chemical Engineering…ambillah MIT, CalTech….atau sekurang-kurangnya Purdue atau Illinois…(baca posting saya “Dari S1 ke S2 atau Langsung S3 ?”)..
    4. Ikuti ambisi anda, komunikasilah dengan calon Professor pembimbing anda di Ph.D. nanti. Misalnya anda tertarik dibimbing oleh Prof. Donald Knuth dari Computer Science & Electrical Engineering…ya ikuti terus apa perkembangan dari interest dia…di Journal, buku, dsb..

    Saya kira itu saja saran saya. Keluar dari pekerjaan sekarang mungkin agak mustahil karena orang akan bilang “Gila kamu ! Pekerjaan sebagus itu harusnya dipertahankan seumur hidup !”. Yang paling ideal sebenarnya anda mengambil Weekend Class untuk ngambil S2 (tapi hanya mungkin untuk MM), setelah itu ngajar juga di weekend. Minimal ini akan menutupi “rasa bersalah” anda karena tidak jadi dosen…

    Mungkin jawaban saya ini bukan jawaban terbaik dari saya yang anda harapkan. Tapi, toh kalau masih ada hal lain masih bisa dibicarakan..

    Bukan begitu, Teh ?

    Reply

  95. Leonardus Tumuka
    Dec 18, 2008 @ 16:24:05

    Salam,

    Saya adalah mahasiswa Salah satu Perguruan Tinggi (PT) di Bandung yang lagi menyusun tugas akhir. Saya asli Papua, dan keinginan saya adalah dapat menjadi pebisnis handal pada bidang peternakan di salah satu kota, tentu di Papua, tetapi juga sangat ingin menjadi seorang Dosen. Berhubung saya diminta untuk menjadi dosen pada salah satu perguruan tinggi ternama di Papua, maka saya tarus berupaya mencapai target maksimum.

    Bagi saya kedua hal tersebut sangat penting. Menjadi pebisnis di bidang peternakan adalah Impian, tetapi menjadi dosen juga merupakan keinginan yang tidak dapat dibohongi.

    Menjadi pebisnis dalam bidang peternakan disebabkan oleh keinginan saya memberdayakan masyarakat melalui pendekatan ekonomi. Harapannya, sedikit demi sedikit tingkat ekonomi masyarakat dapat dicukupi melalui usaha peternakan yang ingin saya bangun setelah kuliah.

    Namun di sisi lain, keinginan menjadi dosen pun semakin kuat, walaupun kata banyak orang, pengajar di Indoesia memiliki gaji yang kecil. Hal itu di sebabkan oleh keinginan saya yang tidak menghendaki jauh dari Ilmu pengetahuan. Bagi saya jauh dari ilmu pengetahuan adalah tidak beda jauh dengan mengadopsi kembali ketertinggalan.

    Berkaitan dengan kedua hal tersebut, saya berharap dapat melakukan kedua hal tersebut sekaligus. Namun tentu bukan merupakan hal yang mudah. Sebab Menjadi Dosen dan Pebisnis pada kota yang sama secara logika merupakan hal yang mungkin agar kedua hal tersebut dapat dilakukan. Namun yang saya akan lakukan adalah dua kota yang berbeda. Perlu diketahui bahwa di Papua belum ada transportasi darat melainkan udara.

    Berkaitan dengan hal tersebut, saya butuh masukan dari bapak, terimakasih.

    Leonardus,
    Salam kenal kembali… ;-)
    Wah…cita-cita anda tinggi dan mulia sekali Leo… Apalagi cita-cita anda untuk mengabdi kembali ke Bumi Papua. Walaupun saya hanya sempat menginjakkan kaki di Biak selama sekitar 1 jam, tapi saya boleh sombong pernah menginjakkan kaki di Bumi Papua toh ? Lain kali, bila ada kesempatan…saya mau jalan-jalan di tanah kelahiranmu yang konon pemandangan alamnya sangat indah (breath-taking) itu…

    O ya, saya kenal/mengerti hampir semua pemain bola dari Papua, dari Johannes Auri, Jimmy Pieters, sampai angkatan sekarang seperti Martin (?) Pengkey, dan Solossa bersaudara. Saya pikir pemain bola asal Papua hebat-hebat lho….fisik dan skill-nya sungguh di atas rata-rata…

    Kembali ke cita-cita anda tadi yaitu jadi dosen dan jadi pengusaha peternakan, kalau saya ambil contoh beberapa dosen yang ada di IPB (almamater saya)…sudah cukup banyak tuh yang mendalami 2 profesi seperti itu. Apalagi pekerjaan dosen kan tidak harus 8 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu di kampus. Dosen juga perlu punya pengalaman di luar kampus sehingga waktu mengajar mahasiswa di kampus ia “punya peluru” berupa cerita-cerita pengalaman di “the real world”..

    Memang bumi Papua yang luas dan transportasinya yang serba transportasi udara mungkin akan mengurungkan niat anda yang bercita-cita ganda. Saran saya, tekuni sebagai dosen dulu…lalu ambil pendidikan lanjut S2 kalau perlu sampai S3 sambil secara pelan-pelan anda tekuni bisnis anda di peternakan itu. Pointnya, kembangkan karir sebagai dosen dulu, baru sebagai pebisnis. Soalnya kalau dibalik, pebisnis dulu baru dosen…wah bisa-bisa anda keenakan mencetak uang banyak dari bisnis dan lupa mengajar…

    Segitu saran saya Antony. Good luck bagi cita-cita dan karier anda. Salam saya untuk semua saudara-saudara sebangsa dan setanah air saya di Papua sana…

    Reply

  96. Bang JO
    Mar 21, 2009 @ 20:55:02

    Wah mas Tri, dari tadi saya ikuti percakapan ini, cukup menarik, kalo boleh tau saya baru lulus S1 mau ngelamar jadi dosen di universitas nya mas Tri di fakultas teknik jurusan elektro, lagi ada lowongan gak ya ?

    Bang Jo,
    Lha orang jurusan Elektronya aja di sini belum ada kok mas, gimana mau ngelamarnya ?

    Jurusan Elektro cuman ada di Trisakti, Tarumanagara, Atmajaya..coba deh melamar ke universitas-universitas ini. Tapi syaratnya minimal S2 lho, ntar kalau nglamar dengan kualifikasi S1 paling buat ngejagain Lab aja…

    Reply

  97. Mt
    Apr 15, 2009 @ 18:20:59

    Halo Salam Kenal,

    Saya dulu tamatan BINUS (TI) & UI (MIPA) S1 nya (kulaih 2 major sekaligus) lalu S2 nya saya dpt beasiswa di USA majornya Physical Science (MIPA) bukan IT tapi selama di USA ada pengalaman kerja jd software developer skrg sudah balik di Indo dan menjadi software developer salah satu perusahaan swasta. saya kepengen jadi dosen S1 d BINUS utk mata kuliah programming & kalkulus . Qualifikasinya cukup tidak ? Nah kalo mau ngajar yg BINUS International program S1 (jurusan TI atau SI) bisa tidak ? mengingat saya ada peng jadi teaching assistant swkt dulu di USA ? ATAU hanya yg bergelar Ph>D yg boleh ngajar S1international program? atau mungkin hanya dosen expatriat?

    Mt,
    Saya tidak tahu apa kualifikasi dosen di Binus International, tapi satu hal yang saya catat jumlah mahasiswa di Binus Int’l tidak sebanyak di Binus reguler, jadi rekrutmen juga terbatas. Anda bisa melamar ke Binus Int’l atau Binus reguler sebentar lagi nunggu diiklankan di Kompas (biasanya bulan April, Mei, Juni untuk mulai mengajar Sept).

    Tidak ada hard and fast rule untuk menerima atau menolak dosen. Yang ada adalah kebutuhan real, kalau kebutuhan ada, dosen yang melamar apalagi dengan kualifikasi seperti anda, akan bisa diterima..

    Terima kasih

    Reply

  98. rhakim
    Apr 27, 2009 @ 14:59:25

    Salam kenal Pak Tri,

    Terus terang saya “newbie” di dunia pendidikan.
    Setelah selama +/- 15th saya berkutat sbg profesional ekspor impor. Dengan pertimbangan agar dapat membentuk lulusan yang lebih “link” dengan perkembangan dunia kerja, tahun ini saya diminta oleh salah satu institut bisnis di Jakarta untuk menjadi dosen honorer yg bagi saya bahasa akademisnya adalah “Actualization of my Intelectual idealism” atau kata lainnya sebagai SAMPINGAN..he..he..

    Setelah mengajar beberapa pertemuan, melalui hasil pertimbangan manajemen dan mahasiswa PTS tsb, beberapa minggu lalu saya ditawari untuk menjadi tenaga pengajar full di sana dan melepaskan karir profesional saya.

    apakah ini penawaran MENGGIURKAN atau MEMPRIHATINKAN???

    beberapa pertimbangan saya adalah :
    Secara idealisme, saya sangat tertarik, karena saya memiliki panggilan hati dan passion untuk ke arah ini. karena memang cita2 saya adalah fokus menjadi dosen saat usia 40 nanti.

    Secara waktu, jika mjadi dosen saya melihat waktu yang fleksibel yang dapat saya berikan kepada keluarga. karena sekarang ini saya merasa hubungan saya dengan keluarga sama pentingnya dengan materi/financial yg saya kejar selama ini yg juga nantinya untuk keluarga, dan hal ini tidak saya dapatlkan jika saya tetap sebagai profesional.

    Secara financial menurut hitung2an kasar saya jika saya mendapat 100rb/sks, dan saya bisa mengajar 10 mata kuliah @ 3sks dalam 1 minggu/5 hari (yg mana bisa ditempuh hanya +/- 6jam setiap harinya). saya bisa mendapatkan 12jt /bulan. Jika saya targetkan untuk mengajar 15 mata kuliah yg mungkin bisa saya dapatkan dgn mengajar di 1-2 PTS berbeda maka income saya bisa mencapai 18jt/bln.

    penghasilan tersebut asumsinya adalah 9bulan/tahun (karena dikurangi Libur smester dll.) jika penghasilan tersebut dibagi 15bulan (12kali gaji+2xbunus+1xTHR) seperti yg saya terima sebagai profesional, maka perbulannya saya bisa mendapatkan 7.2jt-10.8jt.

    Dengan penghasilan (setelah dikurangi asuransi dll) yg bisa saya dapatkan minimal 7-10/bulan+ waktu yg lebih luang & fleksibel dan kerja yg lebih “mulia” apalagi yg menghalagi saya untuk “menyebrang”?

    Kenapa saya sering melihat keluhan dosen2 yg sudah lebih dulu berkecimpung? dan hanya pak tri yg kelihatan hepi2 aja? apa hanya pak tri dan beberapa orang2 tertentu yg penghasilannya jauh di atas itu?

    apakah perhitungan dan pertimbangan saya terlalu sederhana, dan ada hal2 yg tidak saya perhitungkan di luar sana yg saya tidak tahu?

    Mohon wejangan yang senior kepada junior yg sedang mempertimbangkan “loncatan” ini.

    Thanks a lot.

    Mas Rahman,
    Salam kenal kembali….;-)
    Sebenarnya intinya beda antara kerja di perusahaan swasta “murni” dengan sebagai dosen PTS adalah, kalau di swasta murni mungkin duwitnya lebih banyak tapi waktu sisa kurang. Sedangkan sebagai dosen PTS sebaliknya, yaitu gaji kurang tapi waktu sisa sangat berlebih.. Ada orang yang menghitung “waktu sisa” sebagai “leisure” yang meningkatkan “quality of life”, termasuk saya lho !

    Karena anda sudah berkeluarga dan sudah digantungi oleh isteri dan anak, dan mungkin oleh saudara, maka keputusan anda pindah dari perush swasta ke universitas sebagai dosen, juga harus dibicarakan baik-baik dengan isteri, terutama…

    Saya lihat perhitungan anda terlalu ambisius. Misalnya seminggu di satu universitas mengajar 30 sks alias 30 jam per minggu. Belum ditambah ngajar “universitas lain” sebanyak 20 sks, jadi totalnya adalah 50 sks per minggu….wah itu, bisa mati berdiri !!!

    Saya selama 27 tahun ngajar di univ saya sekarang, maksimal hanya ngajar sebanyak 22 sks/semester, itupun seingat saya hanya 1 kali. Kebanyakan di semester ganjil saya ngajar 16-20 sks, dan di semester genap seperti saat ini saya ngajar 12-16 sks. Kalau ditambah ngajar univ lain, ya bisa 20-24 sks sem ganjil atau 16-20 sks sem genap. Itupun rasanya sudah sangat tersiksa seperti perasaan menjadi “kuda beban”…alias tidak senang kerjanya, tapi senang waktu terima gajinya…hahaha…

    Jadi, perkiraan anda harus diturunkan jumlah sks nya, mungkin separuhnya. Terus, honor ngajar itu semua subject to taxation sesuai aturan yang berlaku (di univ saya, saya kena pajak 5%)..

    Tapi all in all, pindah kerja macam ini tidak disarankan apalagi umur anda sudah 40 tahun. Mestinya kalau mau pindah, ya 30 tahun an lah…

    Dosen lain banyak ngeluh, saya happy-happy saja ? Wah..pasti belum membaca posting saya tentang “Uji Kebahagiaan Menurut Oprah Winfrey” dimana saya punya skor 35 (sempurna) alias tidak ada dalam hidup dan kehidupan ini yang saya keluhkan. Bahkan, jika saya dilahirkan kembali lagi pun, saya tetap ingin menjadi saya yang sekarang ini. Mungkin di situ masalahnya..

    Tapi side infonya, sebenarnya saya bekerja di 2 tempat, satu di pemerintahan dan satunya lagi “moonlighting” nya di PTS..

    Kalau sudah begitu, who could ask for anything more ?

    Reply

  99. rhakim
    Apr 28, 2009 @ 14:17:44

    Terima kasih atas pencerahannya pak Tri,

    mungkin saya ksh info yg mungkin ketinggalan.. umur saya skrg 35th, cita2 sy jd dosen adalah di umur 40th, tapi karena penawaran ini datang lebih cepat saya jadi perlu penyesuaian dan perhitungan lebih dalam..

    Saat ini sy msh S1 dan memang dlm rencana saya thn ini ambil S2, honor saya sbg dosen honorer skrg adalah 100rb nett sdh dipotong pajak. dan rata2 mata kuliah2 yg sy ajarkan 3sks.

    Dasar perhitungan income saya di atas karena saya terbiasa bekerja +/- 8 jam/hari, jadi total +/-40 jam/minggu, seandainya kapasitas kerja saya tsb saya konversi ke sks maka +/- saya “siap” untuk menerima 40*60/50=48sks, tapi saya setuju dengan pak tri mungkin terlalu muluk dan ambisius .. maklum pak, “orang baru” biasanya pertimbangannya yg “enak-enak” saja.he..he..
    saya coba pertimbangkan saran pak Tri untuk ambil setengahnya saja biar lebih realistis mungkin 15sks/minggu, mudah2an masih bisa tetap bekerja sbg profesional.

    –“Tapi side infonya, sebenarnya saya bekerja di 2 tempat, satu di pemerintahan dan satunya lagi “moonlighting” nya di PTS..”–
    ini yg menarik! gimana caranya pak? apa pertimbangan perush. bpk ksh izin dan bagaimana alokasi waktunya? biar bisa saya contoh untuk saya ajukan ke perush saya.

    —“Tapi all in all, pindah kerja macam ini tidak disarankan”—
    wah ini bikin sy ragu lagi nih pak, tapi sepertinya, apapun yg terjadi saya memang ingin “menyebrang” ke dunia pendidikan pak, sekarang ini saya sedang mengumpulkan sebanyak2 informasi, untung rugi, kelebihan/kekurangan dll.

    mohon bimbingannya pak.. saya yakin pak Tri orang baik yg bisa kasih saya advise yg bijak dan…Gratiss! he..he..

    thanks a lot!

    Mas Rahman,
    Dasar saya menyebutkan rencana Mas Rahman “terlalu ambisius” karena masih dipandang dari sudut sisi pandang sampeyan sendiri. Lha sebenarnya kalau masalah ngajar itu kan yang “punya kuasa” adalah employer atau pemilik/pengelola universitas itu. Saya hanya mengambil “kasus rata-rata” jadi tidak terlalu optimistis, dan tidak terlalu pesimistis, jadi mengajar sebanyak 12-16 jam per minggu itu sudah rata-rata (malah saya takut itu dibilang “terlalu optimis”)…

    Setahun yang lalu saya mengajar di 2 universitas, tapi tahun ini kelihatannya akan mengajar fokus di 1 universitas saja soalnya kalau mencari uang tapi ada orang yang “nggrecokin” saya lalu tidak suka, dan sebaiknya “pull out”…(sementara masih bisa sombong dikit)…toh pekerjaan itu sebenarnya ada dimana-mana, asal “keep moving” aja…pasti akan dapat sesuatu…

    “Moonlighting” bagi PNS sudah menggejala, dan kalau moonlighting-nya mengajar mudah-mudahan gak ada yang protes, toh demi “mencerdaskan kehidupan bangsa” seperti tertulis di Mukadimah (Tujuan Negara) UUD kita..

    Resminya sih moonlighting hanya bisa dilakukan di luar jam kerja PNS, yaitu jam 5-10 malam. Tapi tidak resminya, ya terserah keberanian masing-masing. Menurut saya, mencerdaskan bangsa kok dilarang…jadi mudah2an di kantor saya nggak ada yang keberatan..

    Untuk moonlighting bagi kantor anda, ya sebaiknya anda segera berunding dengan boss anda, bisa atau nggak. Kalau bisa, berapa jam diperbolehkannya. Tolong disampaikan, “Boss, saya mau ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, itu yang terpenting. Uangnya sih nggak penting”. Pasti boss ok ok saja…

    Reply

  100. rhakim
    Apr 29, 2009 @ 09:13:24

    Thanks Pak Tri,
    Nanti sy ksh tau progress-nya ya..
    wish me luck!

    Mas Rahman,
    Ji-sam-soe !

    Reply

  101. Andi
    Apr 29, 2009 @ 20:06:47

    Halo Pak Tri,

    apa khabar? moga2 sehat, sorry ikut nimbrung, iya saat aku baca blog2 disini aku terinspirasi mau coba ngajar jadi Dosen, iya aku dulu kuliah di salah satu uni ini ( Binus ato Atma ato Trisakti) trus sempet jadi asdos 1 tahunan di uni tersebut, dan setelah lulus ak kerja jadi auditor di salah satu Big 4 sekitar 2 tahun, lalu ke perusahaan software 1 tahun dan sekarang ak lagi ambil S2 Master of Accounting di negara kangguru, walau tempat aku kuliah bukan top 8 Uni karena keterbatasan biaya, tapi nilai aku cukup baik..

    iya pas aku baca blog bapak, ak kepengen banget ngajar lagi, tapi ak bingung:

    1. kira2 dari pengalaman kerja aku dan ijasah ak sekarang di aus ini bisa memberi nilai lebih gak walau bukan dari top uni disini ? dan apakah itu?

    2.menurut bapak kurang lebih aku termasuk golongan salary rate yg mana? , bukan maksud untuk men- compare tapi aku mau pikirn lebih mateng lagi pak .. thnx

    3. apakah refrensi dari dosen2 yg aku sempet kenal mereka saat aku jadi asisten dosen bisa membantu ( menjadi referensi) aku buat melamar jadi dosen?

    4. kapan waktu yang tepat buat ngelamar.. ? apakah ada periode tertentu

    Pak sebelumnya terimakasih banyak, saya kepengen sekali mendengar pendapat bapak, makasih ya

    HIDUP Dosen !!!!

    cheers,
    Andi

    Andi,
    Wah…dengan credentials seperti anda, mestinya sepulangnya anda ke Indonesia anda melamar saja lagi ke Big 4 Company, pasti kerjaannya enak, kariernya jelas, gajinya lumayan, yah…tapi cuman jam kerjanya di “peak season” ya kadang nggak ketulungan…(kecuali anda tipe “hard worker” dan “workaholic”..)..

    Menjadi dosen memang “temptation” yang bener-bener “irresistable” karena hampir semua orang apapun pekerjaannya sekarang selalu tempted untuk jadi dosen…

    Nah, baiklah saya jawab pertanyaan anda satu persatu :
    1. Menurut saya ijazah dari LN seperti Aussie tetap menjadi nilai plus bagi anda, apalagi anda pernah 2 tahun di Big 4. Minimal, bahasa Inggris anda aksen Australia yang lucu itu (no offence lho !) adalah nilai plus yang sulit didapatkan dari dosen yang lulusan DN saja..

    2. Dengan profile dan credentials seperti anda, saya sarankan anda ngajar di : Binus International, UPH, SGU atau UMN. Saya tidak tahu anda jatuh di salary rate yang mana. Kalau di Binus ada rule : ngajar di S2 = rate nya 2 kali rate di S1; ngajar di program international yang kuliahnya dalam bahasa Inggris = rate nya 2 kali yang kuliahnya pakai bahasa Indonesia… Mengenai rate ini, silahkan anda pakai “sensitivity analysis” sendiri dengan Excel, misalnya rate anda Rp 100 rb/sks, Rp 200 rb/sks dst. Saya sulit menentukan karena mengenai rate ini, ada univ yang rate dosennya “negotiable” (tapi biasanya ini tidak dipublikasikan). Masalahnya, kalau anda nembak/ngotot rate yang tinggi maka univ ada kemungkinan nggak nerima anda, kalau memberi rate yang rendah, mungkin anda yang rugi…

    3. Melamar jadi dosen di univ di Indonesia, setahu saya tidak perlu referensi dari previous employer ataupun dari dosen yang dikenal. Cuman kalau anda mau melamar ke Binus Int’l University misalnya, lalu menyebut nama saya…siapa tahu, langsung diterima…hahahaha…. (just kidding, pasti orang BIU pun tidak tahu saya ini ada atau tidak di dunia ini…hihihi…)..

    4. Waktu yang tepat buat ngelamar, ya tentunya sebelum semester ganjil (September) berjalan. Setahu saya di Binus, rekrutmen dosen baru dilakukan bulan Mei untuk semester ganjil (September) dan Nopember untuk semester genap (Februari). Silahkan lihat iklan di Kompas, atau baca pengumuman di website Binus…

    Demikian, keterangan dari saya mudah2an berguna…;-)

    Reply

  102. Andi
    Apr 30, 2009 @ 21:11:09

    Pak Tri makasih atas sarannya,

    ya mudah2-an aku bisa kesampean jadi dosen.. karena dari beberapa vacant job ( Atma, trisakti) mungkin jg Binus/UPH , mereka required at least 2 years sebagai dosen , sedang aku cuman jadi asdos dan itupun 1 tahun..

    oh ya aku jg mau tanya, kalo seandainya aku mau lamar , gimana aku tau mereka lagi butuh atau tidak, apakah hanya berdasarkan koran ato Job vacant di internet?, dan kalo seadainya saat aku submit lamaran mereka lagi gak butuh apakah profile ak akan masuk dalam database mereka?..

    sebelumnya terimakasih lagi pak Tri
    Andi

    Andi,
    Syarat 2 tahun sebagai dosen untuk melamar jadi dosen itu malahan baru kali ini saya dengar. Kayaknya Binus tidak mensyaratkan seperti itu deh…

    Di masa lalu, Binus membuka pendaftaran dosen sepanjang tahun, dan nantinya ditumpuk di Fakultas. Tapi 10 tahun belakangan ini selalu diiklankan di koran atau website, sehingga posisi dosen mata kuliah apa saja yang ada bisa diketahui dari sana..

    Jadi sebaiknya nunggu ada pengumuman lowongan, kalau sekarang melamar siapa tahu surat lamaran hanya ditumpuk di pojok ?

    Reply

  103. nina
    May 01, 2009 @ 11:31:07

    Salam Kenal Pak Tri

    Mau ikut nimbrung ya pak?
    senang sekali membaca blog ini, selain bahasanya nyante, wawasan bapak juga luas
    jadi senang sharing ke bapak

    Gini pak, saat ini saya sedang kuliah S2 jurusan geografi di PTN yogya
    nah, seandainya saya misal ingin apply jadi dosen ke PTN di jakarta, sulit gak ya?
    Soalnya denger2 peoses cpns dosen di PTN sebenarnya cuman formalitas aja.
    mereka udah punya kadidat yang saat itu belum diangkat, alias masih honorer
    nah,bener gak sih kalo di PTN gitu mereka almamater mainded?

    trus mau ty lagi nih pak tri, buat gaji di ptn ma pts beda jauh ga?
    sekitar berapa ya di ptn?

    makasih…

    Mbak Nina,
    Salam kenal juga mbak….;-)
    Waduh, jauh-jauh sekolah S2 Geografi di Yogya mengapa penginnya jadi dosen PTN di Jakarta ? Saya nggak tahu ya apakah PTN itu almamater-minded atau nggak, tapi setahu saya sekitar 10 tahun yang lalu sih nggak. Saya punya kenalan dosen Ilkom UI yang justru lulusan ITB atau UGM, dosen Ilkom IPB juga banyak dari ITB atau UGM, sedangkan dosen arsitektur ITB saya kenal ada yang dari UGM. Tapi itu dulu lho mbak, nggak tahu ya kalau hari-hari sekarang ini…mestinya sih nggak ya mbak ?

    Gaji dosen PTS dan dosen PTN menurut saya sama saja, apalagi dengan standar gaji baru yang ditandatangani Presiden 16 Januari 2009 ini. Orang pegawai terendah golongan I/a saja gaji pokoknya sudah Rp 1 juta. Mbak sebagai lulusan S2 kalau kerja di PNS (dosen PTN) gaji pokoknya mungkin sudah Rp 1,7 juta (bisa dicek di internet, saya punya filenya tapi lupa naruhnya)

    Gaji dosen PTS untuk golongan setara III/b saya kira juga sekitar Rp 2 – 2,5 juta..

    Yang menjadi masalah, ilmu anda adalah Geografi, dan jurusan Geografi hanya ada di UI. Universitas lain di Jakarta nggak ada yang punya program studi Geografi (ada kayak di univ saya GIS, tapi itu di bawah Teknik Informatika)..

    Sementara kalau anda bekerja di perusahaan minyak atau perusahaan pemetaan swasta gaji anda bisa sekitar Rp 4-5 juta…(menurut kabar yang saya terima, soalnya semuanya perusahaan asing)..

    Jadi apapun pilihannya, terserah anda mbak. Juga perlu dipikirkan nanti suami mbak kerja di kota mana, biar dekat…gitu lho !

    Reply

  104. nina
    May 03, 2009 @ 15:58:30

    wah jadi curhat nih,…gak pp ya pak tri?
    iya, jadi ceritanya dulu saya jadi guru tuh di sebuah smu swasta di bsd, trus saya dapet besw buat lanjutin s2 di yogya
    tapi suami ada di jakarta, jadi akan kesana juga besok kalo lulus

    nah, memang sih keliatannya harus di UI, cuman dilemanya itu juga sih
    ada temen S2 UI bilang temen2nya aja yang dari sana belom diangkat2 dan mengutamakan almamater dulu
    tapi besok kalo udah lulus aku coba aja

    Ttg perusahaan minyak pingin banget sih pak masuk, karena backgroundku juga di pemetaan
    cuman tyt sejauh ini si perusahaan ybs cenderung ke t.geologi n geodesi…
    maaf ya pak tri jadi curhat

    Pak Tri, kira2 ada solusi gak buat yang di perminyakan?
    n if jadi dosen, mungkin gak ilmu kayak ilmu tanah n tata ruang dipake di planologi swasta?

    makasih banyak ya pak tri…
    salam

    Mbak Nina,
    Wah..data mbak sudah menikah baru saya dapatkan hehe…jadi waktu itu ngasih sarannya agak ngawur. Pekerjaan di perusahaan minyak memang enak dilihat dari gajinya, tapi waktunya juga sangat ketat, yang barangkali kurang cocok bagi ibu rumah tangga yang baru punya baby….mungkin jadi Dosen/Guru walaupun penghasilan kurang dibanding perminyakan, tapi kan waktu yang tersisa banyak…jadi bisa untuk lebih mikirin rumah tangga…

    Mengenai pekerjaan selulus S2 nanti, jangan terlalu dipikirkanlah. Semuanya patut dicoba, taruh CV anda di JobsDB.com misalnya. Terus setiap job fair ikuti dengan memasukkan CV dan lamaran anda dalam amplop coklat (biasanya anak saya naruh 20-30 lamaran sekali pameran), pasti akan dapat panggilan. Dan biasanya, pasti ada perusahaan yang manggil. Biasanya masalahnya, gaji dan jarak ke tempat kerja. Misalnya, gaji besar tapi tempat kerja jauh, atau gaji kecil tapi jarak bisa dijangkau..

    Ilmu tanah dan pemetaan saya kira ok saja sih buat Planologi swasta, tapi ya tergantung kepada calon employer dalam melihat “sisi positif” dari credentials/CV anda…

    Yang penting tetap optimis, mbak Nina. Selamat belajar dan semoga sukses…

    Reply

  105. noin....
    May 08, 2009 @ 14:37:18

    pak tri , kalo lulusan geografi bisa gak ya kerja di minyak?
    emang kualifikasi oilco buat geo apa ya?
    makasih….

    Mbak Nina,
    Saya dengar dari anak saya yang kerja di perusahaan minyak nasional bahwa di sana banyak aplikasi GIS (Geographical Information Systems). Lha, mestinya mbak Nina sebagai lulusan Geografi kan faham banget tentang GIS to ?
    Tapi to tell you the truth, saya belum pernah baca sebuah oilco memerlukan lulusan Geografi dalam iklannya. Ini Oilco dalam pengertian E&P (Exploration & Production) lho. Tapi kalau industri pendukung oilco (disebut Oilco Services seperti Halliburton, Schlumberger, dsb) mungkin saja memerlukan lulusan Geografi..

    Reply

  106. rumahagung
    May 30, 2009 @ 22:10:26

    Pak,update donk Pak posting yg ini..
    hehehehhehe..!!
    ud naek blm sih standard gaji dosennya di univ X itu??
    heeheheehe..!!

    Agung,
    Saya tidak tahu, sudah naik belum standar gaji di universitas X itu…
    Yang saya tahu, di universitas Y standar gajinya di bawah universitas X, namun setiap tahun naik 10% provided that dosen masuk ngajar terus, dan aktif di rapat dan penelitian yang dilaksanakan oleh jurusan. Secara tidak sengaja di kelas universitas Y ada password dosen yang tertinggal dan saya bisa mengintip slip gaji beliau, rate-nya per 2 sks (100 menit ngajar) adalah sekitar Rp 100.000 (plus sedikit) itu sudah termasuk uang transport, tapi belum dipotong pajak. Gaji per bulan dosen tersebut dari universitas Y adalah Rp 1.800.000 per bulan, berarti beban mengajarnya adalah sekitar 8 sks per minggu…

    Pointnya adalah, kalau cari duwit jangan dengan cara ngajar. Kalau mau cari duwit dengan berbisnis atau kerja di konsultan. Tapi kalau mau mengabdikan ilmu yang anda punya, jadilah dosen…

    Reply

  107. ricky
    Jun 18, 2009 @ 07:22:26

    Nuwun sewu, Pak Tri. saya ikut nimbrung.
    saya ingin pendapat pak Tri tentang rencana saya ini. saat ini usia saya 31 thn, sudah berkeluarga, kerja di perusahaan manufaktur swasta, gaji 7jt. kemudian, terakhir ini saya berpikir bahwa alangkah indahnya kalau dalam hidup ini saya bisa berbagi. berbagi ilmu, pengalaman dlsb. So, untuk ancang-ancang saya kuliah S2 di UMB ambil MM-HRM, saya juga berniat untuk lanjut ke S3. Pertanyaannya adalah:1. Apa yang harus saya lakukan dengan pekerjaan saya di industri manufaktur ini? 2. Bisa sukseskah saya jika mengajar (hanya hari minggu) sambil bekerja? 3. Bisa kah saya ambil S3 sambli kerja di tempat sekarang? karena saya nggak pede kalau nanti setelah ambil S3, kerja banyak ijin.
    Pak Tri, thx atas perhatiannya…

    Mas Ricky,
    Yah..sebenarnya plan itu memang harus di-lay-out sedini mungkin, mungkin anak masih kecil-kecil.. Saya sarankan Mas Ricky tetap bekerja di bidang manufaktur sekarang ini, sampai nantinya ada tawaran yang lebih menarik. Tapi saran saya, untuk 2-3 tahun ke depan tetap bekerja di sini..

    MM-HRM nya saya juga sarankan diambil pada hari Sabtu-Minggu saja (Executive Class) biar tidak meninggalkan kantor terlalu lama. Nanti selepas lulus S2 mas Ricky bisa melamar sebagai dosen di universitas swasta. Beberapa universitas swasta jadwal mengajarnya sore hari, sehingga tidak mengganggu jam kantor. Saya dulu juga mulai nyambi jadi dosen dengan mengajar 2 hari dalam seminggu kelas sore/malam hari…

    Yang agak ribet memang waktu ngambil S3. Kalau mengambilnya di IPB atau UI, pada awal program yaitu selama 3 semester harus mengikuti program kuliah reguler, alias di pagi hari. Nah ini yang menjadi masalah karena mau nggak mau meninggalkan pekerjaan kantor (kecuali di Amerika, dimana seorang pegawai boleh ngambil Sabbatical Leave untuk sekolah, training, dsb)… Kalau di Unibraw, kewajiban kuliah reguler hanya 2 semester, setelah itu nulis proposal disertasi, penelitian, menulis disertasi dsb (total ada 11 tahap sebelum mendapat gelar Doktor). Kecuali mas Ricky ambil S3-nya lagi-lagi di kelas eksekutif misalnya di Unpad Jalan Dipati Ukur. Kuliahnya bisa Sabtu-Minggu, yang tentu saja tidak mengganggu pekerjaan kantor…

    Intinya saran saya, jangan tinggalkan pekerjaan pokok seperti yang sekarang di perusahaan manufakturing ini…..kecuali, Mas Ricky itu anaknya konglomerat papan atas yang nggak perlu duwit lagi….hehehe…

    Reply

  108. ricky
    Jun 18, 2009 @ 13:58:54

    Pak Tri, terima kasih banyak atas saran or masukannya. Saya sekarang sedang ambil S2 di univ. itu, sudah semester 2. Ada kegalauan saya rasakan yang disebabkan kelemahan saya di bahasa Inggris. saya bisa baca (walau kadang bisa masuk angin karena kebanyakan buka-tutup kamus…he3x) tapi ndak bisa dan ngerasa ndak ada bakat untuk menguasai bahasa asing ini. Untuk umur yang sudah kepala tiga ini, apakah Bapak punya resep or trik menarik sebagai solusi untuk saya?
    Terimakasih banyak atas atensinya Pak Tri…

    Mas Ricky,
    Saya khawatir….saya nggak punya resep yang lebih manjur buat belajar bahasa Inggris….
    Kalau mahasiswa saya nanya bagaimana caranya agar cepat bisa bicara atau menulis bahasa Inggris, jawaban saya cuman “Ya…pacaran saja sama cewek bule yang native speaker bahasa Inggris barang 3-6 bulan, pasti dengan sangat cepat anda akan bisa menguasai bahasa Inggris….”

    Hehehe….bukankah saran saya itu yang paling manjur, apa ada yang lebih manjur lagi ?

    Terlihat bahwa kuncinya adalah motivasi, mas Ricky….

    Reply

  109. M t
    Jun 26, 2009 @ 13:02:48

    Saya dengar gaji dosen negeri & swasta bakal mengalami kenaikan menurut undang-undang baru. Apakah benar ? atau kah hanya mempengaruhi dosen2 negeri ? Karena saya bingung.. bagaimana caranya pemerintah menyalurkan ke universitas swasta ?

    terima kasih

    Mt,
    Saya yakin cepat atau lambat gaji dosen akan dinaikkan. Bagaimana pemerintah menyalurkan dana kenaikan honor dosen di universitas swasta ? Di univ swasta tempat saya ngajar, sudah mulai diatur-atur siapa nanti yang akan dapat dana kenaikan honor dosen yang bersumber dari dana pemerintah ini..

    Jadi sooner or later, itu akan menjadi kenyataan saya kira….;-)

    Reply

  110. Adi
    Aug 02, 2009 @ 14:39:59

    Salam kenal Pak Tri,

    Saya Adi, PNS juga seperti Bapak dan nyambi juga jadi dosen meskipun jam terbang dosen saya baru 4 tahun belum sebanding dengan pak Tri.

    Betul itu pak, motivasi terbesar mengapa menjadi dosen, berdasarkan pengalaman saya dan melihat rekan2 saya yang nyambi dosen adalah karena memang dia hobi ngajar. Juga karena ada dorongan, yg kedengarannya sih idealisme seperti di film2 romantis, yakni membagi/menyumbangkan ilmu u/ sesama…

    Tapi itu benar lho pak,

    Saya sudah dua semester mengajar sebagai dosen part-time di almamater saya karena diminta pihak kampus. Sudah sempat saya tolak karena lokasinya yang jauh dari tempat saya. Namun kemudian saya terima karena petimbangan saya adalah…saya ingin menyumbang, membalas budi kepada almamater saya…itu saja alasan saya.

    Salam pak,
    Hidup dosen!!!

    Mas Adi,
    Wah…seneng dengernya…karena anda senang menjadi dosen karena “hobby”….;-)
    Memang di dunia ini pekerjaan yang paling menyenangkan adalah kalau yang kita kerjakan itu merupakan “hobby” dan atau bisa mendatangkan keuntungan finansial…
    Tapi menurut pengalaman saya mengajar 27 tahun (belum termasuk masa jadi Asisten Dosen dulu)…saya kadang-kadang mengajar di 2-3 universitas, 1 universitas melulu untuk “mengasapi periuk nasi” dan 1-2 universitas lainnya kadang-kadang untuk “benar-benar mengabdi kepada profesi dosen”…

    Selama kita mengerjakannya “enjoy aja”, pasti itu bagus buat kesehatan kita, karena kita banyak berderma….kalau pada akhirnya juga mendatangkan keuntungan finansial…..ya itu namanya “bonus”….;-)

    Reply

  111. Irene Suwarno
    Aug 15, 2009 @ 09:14:33

    Kira2 dosen biasanya ambil minimal berapa sks (untuk yang lulusan S1) supaya bisa hidup berkecukupan? Cuman pengin tahu aja…

    Irene,
    So pasti sekitar 20 sks, atau 20 jam per minggu mungkin sudah bisa menjamin hidup cukup. Pertanyaannya, di Jakarta ini (jika anda tinggal di Jakarta) universitas mana yang bisa “memberi” anda tugas ngajar 20 sks ? Di Binus-pun tidak bisa, paling banter sekitar 12 sks (thus…masih jauh dari hidup cukup, or…anda harus ngajar juga di univ lainnya)…

    Reply

  112. miya
    Sep 14, 2009 @ 14:58:07

    Ass. wr. wb

    Salam knal Pak Tri,
    Saya miya, Pa boleh ikutan curhat ya??
    Waktu msh kuliah fak perikanan Universitas negeri di jawa tengah dr smster 3 smp lulus (smst 8) jd asisten dosen (asdos) statistik, biologi,dll. setelah lulus saya msh ditawarin jd asdos, tp karena saya msh ada tanggungan keluarga saya ga ambil…(yah asdos kan tau lah honornya berapa :) )
    karena saya hobi ngajar, setelah lulus pun saya ngajar di lembaga bimbingan belajar yg cukup terkenal di jkt, ternyata mjd tutor itu ga bs di jadikan pekerjaan tetap, apalagi untuk pemula seperti saya yg jam ngajarnya msh sedikit.
    kemudian setelah itu saya bekerja di perusahaan swasta, bukan dibidang perikanan sih…
    sebenarnya saya sangat berkeinginan untuk mengajar, tp krn saya msh S1 dan sulit kemungkinan ambil s2 krn keterbatasan dana…
    Ada engga ya pak universaitas swasta yg mau terima lulusan s1 jd dosen??
    atau kalo memang hrs s2, kira2 ada beasiswa yg bs dpt dr smster awal ga ya pak?
    makasih banyak pak sebelumnya.
    Wassalam

    Miya,
    Coba nanya ke beberapa program MM (Magister Manajemen) di Jakarta seperti : IPPM, Prasetya Mulya, IPMI, Binus….siapa tahu ada pinjaman (loan) yang bisa diambil dan nanti anda kembalikan setelah lulus…

    Kalau anda berniat meninggalkan bidang perikanan, saran saya anda mengambil bidang IT (seperti Program MTI di Binus) atau mengambil bidang Manajemen (seperti Program MMSI di Binus)…atau mengambil sertifikasi Internal Auditor (CIA, Certified Internal Auditor….cek website JWC Binus…)…

    Mungkin itu mbak, yang saya bisa sarankan…

    Reply

  113. miya
    Sep 15, 2009 @ 09:21:57

    ass. wr. wb

    makasih banyak nih sarannya, pa…
    insya allah nanti saya coba…

    kalo saya bertahan di perikanan, misalkan s2 di perikanan ipb, peluang kedepannya kira2 seperti apa ya pa?
    atau kalo S2 mengambil IT, apa ada perbedaan dg IT lain yg s1nya jg IT?

    maaf nih tanya lagi….

    wassalam

    Miya,
    Kalau anda berniat jadi pegawai negeri, mungkin S2 di Perikanan IPB pantas untuk diambil. Tapi kalau untuk kerja di swasta ? Sayapun tidak bisa menjawab (saya punya teman professor di Perikanan IPB dan saya bisa tanyakan hal ini, tapi tentu perlu waktu sampai ketemu jawabannya)…

    Untuk mengambil S2 IT atau Manajemen, tinggal anda tertarik dengan IT atau Manajemen atau tidak ? Karena yang paling penting di sini adalah motivasi dari diri sendiri. Jika anda rasa motivasi ngambil S2 IT atau Manajemen cukup besar, saya kira itu sudah cukup….

    Ok Miya ? Selamat menimbang-nimbang deh…

    Reply

  114. miya
    Sep 16, 2009 @ 12:39:01

    ass. wr. wb.

    makasih banget nih bantuannya…
    maaf merepotkan …

    oke pa Tri, saya pertimbangkan dulu saran dr bpk akan sangat berguna banget.

    wassalam

    Miya,
    Walaikum sallam….;-)

    Anytime. Kalau ada pertanyaan dari Miya lagi, ajukan aja di sini. Nanti kita diskusikan dan kita cari solusi terbaiknya…

    Sukses selalu dan selamat bekerja….

    Reply

  115. Olala
    Sep 26, 2009 @ 19:25:09

    hi pak tri, saya mau tanya kira2 setelah berapa tahun/semesterkah jadi dosen tidak tetap di binus atau UPH baru bisa diangkat jadi dosen tetap? Ataukah ada kasus2 tertentu yang dosen muda direkrut lalu langsung diangkat employee/dosen tetap? terimakasih bocorannya pak :D

    Olala,
    Wah…pertanyaan yang sulit….

    Kayaknya itu tergantung seberapa beruntung orang yang bersangkutan, dan seberapa tertarik orang yang berhak mengangat pegawai di universitas (misalnya pihak Yayasan atau pihak Talent Management)…

    Jadi, nggak bisa diketahui apakah 2 tahun apakah 3 tahun seseorang bisa diangkat pegawai…

    Reply

  116. ajie
    Sep 28, 2009 @ 07:01:19

    Mau tanya niy, biasanya kalo untuk S2 untuk jadi dosen apakah tempat kuliah S2 nya harus terakreditasi? Kalo kampus tempat ngambil S2 nya statusnya masih “Proses Terakreditasi” apakah cukup dipertimbangkan??
    Dan untuk ngambil S2 ada referensi gak kampus yang bagus dan murah?? karena ada rencana niy mau ambil S2..
    Trima kasih…

    Ajie,
    Ya tentu. Kalau anda mau ngambil S2 dengan maksud nantinya jadi dosen…ya anda harus mengambil S2 di kampus yang benar-benar representatif dan “disegani”….

    Dengan bersekolah di kampus yang “disegani”, begitu anda lulus S2 maka kalau melamar pekerjaan sebagai dosen akan banyak universitas yang dilamarpun menjadi “segan”….dan most likely akan menerima anda…

    Begitu kira-kira ya Ajie….Selamat sekolah S2 dan selamat menjadi dosen….

    Reply

  117. Olala
    Sep 28, 2009 @ 17:53:10

    Dan 1 pertanyaan lagi Pak, apakah dosen tetap (bidang multimedia/design) diberi pinjaman laptop kantor utk dibawa pulang ? :D

    Olala,
    Wah…itu saya tidak tahu…:-)

    Yang jelas di Binus, kampus tidak pernah menyediakan fasilitas semacam itu. Kalau ada dosen yang mau punya laptop, ya dia harus beli sendiri secara cash ataupun credit sesuai dengan kemampuannya…

    Dengan harga laptop yang makin murah, mungkin laptop bukan barang mewah lagi sehingga setiap dosen bisa membelinya…

    (FYI, saya sendiri malah belum pernah punya laptop lho !)…

    Reply

  118. Draharjo
    Oct 17, 2009 @ 07:53:36

    Permisi mau ikut sharing :)

    Kebetulan saya baru satu semester mengajar di salah satu pts di jakarta, sebelumnya saya menjadi dosen tetap di negara tetangga satu rumpun (tepatnya di bag. paling selatannya, pas diatas negara berlambang marlion).

    Dalam hal belajar mengajar saya merasakan kepuasan yg jauh lebih besar disini, krn bisa lebih komunikatif dgn mahasiswa (yah mungkin kalau mengajar bangsa sendiri spirit membangunnya lebih dapet)

    Tapi di sisi lain, soal pendapatan kok ya amat sangat menyedihkan. Bagaimana mungkin di negara tercinta ini, tarif dosen lebih rendah dari tarif PSK (maaf, bukan maksud ingin bicara kasar, tp mencoba membeberkan realita yg ada). Dihitung relatif berdasarkan perjam kerja dan kemungkinan maksimal per satu bulan kerja.
    Dulu sewaktu saya menerima tawaran ini, saya diinformasikan upah sebesar Rp 250,000/sks dgn maksimal 9 sks/semester (disini saya pikir industri pendidikan Indonesia memang telah berubah pesat).
    Namun kenyataan yg ada, satu bulan pertama ini saya mengajar 5 kelas (krn banyak terpotong libur hari raya) dengan kredit 3 sks/kelas, saya menerima upah Rp 730,000.
    Ironic!

    Mas Draharjo,
    Sayang anda tidak bisa menyebutkan universitas apa itu….

    Saya mengajar di Universitas X yang saya sebutkan di Blog ini, dan juga di Universitas Y. Kayaknya di kedua universitas ini untuk orang sekaliber anda yang pernah mengajar di Johor Bahru/Melaka, tarif yang anda terima bakal lebih besar daripada yang telah anda sebutkan sebanyak Rp 730.000 itu…

    Itu aja mas kesan saya….

    Tapi maju terus pantang mundur mas, jadi Dosen kan memang bukan untuk mencari uang, tapi mencari “ladang pengabdian”. Kalau mau cari uang di gedung Bursa Efek aja mas ! Hehehe…

    Reply

  119. Muhammad Hasbi
    Nov 04, 2009 @ 13:29:51

    Sy dosen tetap di salah satu perguruan tinggi swasta di Pontianak, Kalbar. Sudah sejak 1 maret 2006 sy jd dosen tetap, tp sampai sekarang tdk pernah dpt gaji, cuma honor per sks saja, itupun tdk sebesar apa yg Bapak tuliskan di atas td. Kira2 ada gak peraturan ttg gaji dosen tetap itu, maksud sy peraturan yg mmg mengatur minimal gaji yg mesti dibayarkan kepada seorang dosen tetap….. Saya mohon sekali pencerahannya Pak, krn sy merasa tdk puas dg apa yg telah diberikan kpd saya selama ini….. Terima Kasih….

    Mas Muh. Hasbi,
    Wah…sayangnya tidak ada ketentuan tentang standar gaji dosen swasta di Indonesia. Kalau standar, sebenarnya ada, ya seperti yang saya sampaikan di posting tersebut sebenarnya adalah standar untuk seluruh dosen PTS se Indonesia.

    Cuman masalah PTS ybs mau mengikuti standar itu atau tidak, itu terserah kondisi keuangan masing-masing PTS. Kalau gedung mentereng, mahasiswa banyak, yayasan peduli, rektorat/direktur peduli, tentu semuanya bisa diatur..

    Kira-kira begitu mas…

    Reply

  120. Andini Rizky
    Nov 06, 2009 @ 11:46:16

    Ternyata dosen itu harus nyambi di mana-mana kalau mau cukup? Gitu ya, terima kasih.
    Informasi pembukaan lowongan kerja jadi dosen itu bisa ditemukan di mana ya? Saya pengen jualan buku, kan asyik kalo jadi dosen, omzetnya jadi gede, jual ke mahasiswa sendiri. (^^;)

    Ratna,
    Lowongan kerja dosen PTS besar biasanya diumumkan di Kompas setiap hari Sabtu atau Minggu…

    Hah ? Jualan buku ? Di universitas saya semua buku sudah dalam bentuk digital, jadi buku cetak hampir nggak pernah kelihatan. Buku digital mau dijual ? Gak perlu, cukup di-download saja kok…

    Ya intinya orang hidup itu kalau di Indonesia ya harus berusaha di segala bidang, dosen bisa jadi pekerjaan utama atau pekerjaan sambilan. Intinya, jangan hanya punya 1 jenis pekerjaan saja…

    Reply

  121. derwin
    Nov 16, 2009 @ 12:56:14

    Permisi pak, mau nanya, bapak ada referensi untuk mencari info beasiswa S2 ilmu IT di singapore ato aussie nggak…

    sekarang saya sedang bekerja di sebuah perusahaan IT, sebagai programmer, baru sekitar 6 bulan. itung2 cari pengalaman ngantor dan penerapan ilmu IT itu kayak mana. Lulusan binus juga, dulu kelas kapsel bapak yg ngajar, wkwkwk…
    planning saya adalah, setelah selesai masa kontrak yaitu selama 1 tahun, saya akan melanjutkan s2 ilmu IT juga, target saya adalah bisa melanjutkan di luar.

    Dan setelah lulus nanti, saya akan melanjutkan profesi saya sebagai dosen. Mimpi ini udah ada sejak di bangku kuliah s1 sekitar semester 4-5.

    Bagaimana pak pendapatnya ttg mimpi dan yg hendak saya lakukan ini

    Mohon petuahnya…
    Terima kasih

    Derwin,
    Coba cek di website ini http://www.ntu.ac.sg/ dan http://www.nus.ac.sg/ untuk cari beasiswa S2 di Singapore.

    Kalau Australia saya kurang begitu ngerti, tapi anda bisa berkunjung ke website universitas-universitas di sana untuk cari beasiswa…

    Lulusan Binus banyak yang di Aussie kok, hubungi aja mereka lewat Facebook…

    Reply

    • derwin
      Nov 17, 2009 @ 13:36:51

      tapi memang idealnya bekerja berapa tahun dulu ya pak, supaya s2 nya bisa maksimal dlm menyerap ilmu serta penerapannya?

      Derwin,
      Ya tergantung ke masing-masing individu lah….ada yang cepat (1-2 tahun) ada yang sudah kerja lama (5-7 tahun) tapi belum merasa mantap…

      Reply

  122. ruth
    Dec 03, 2009 @ 17:42:23

    permisi pak.. saya hanya mau tanya mengenai gaji pokok dosen tetap yayasan apakah ada aturan pemerintah yang ikut serta untuk menetapkan minimum gaji pokol dosen tetap yang harus diterima atau terserah ketentuan dari yayasan..
    soalnya PTS dimana saya bekerja mendapatkan hibah, dan saya diikutsertakan dalam pelaksanaan hibah tersebut dimana saya dikirim untuk studi lanjut ke luar kota.. ironisnya, kontrak perjanjian dari dulu belum selesai dibuat oleh mereka, dan saya berangkat dengan percaya begitu saja atas perjanjian lisan dari PTS tersebut ke saya, dimana selama saya melaksanakan studi lanjut di luar kota gaji pokok saya dibayar full, katakanlah sekitar 2jeti.. 3 bulan sudah saya menjalani kuliah di kota tersebut dan gaji pokok saya tetap dikirim seperti biasanya 2jeti.. tapi untuk bulan ini, gaji saya ditahan dengan alasan terjadi salah perhitungan dari pihak PTS tersebut dan suruh saya harus membayar kembali kelebihan ngirim tersebut, dimana seharusnya setiap bulan gaji pokok yang saya terima (menurut perhitungan PTS tsb) adalah setengah dari gaji pokok yang biasanya saya terima yaitu 1jeti..
    hal ini sangat membuat saya merana di kota dimana saya sedang menuntut ilmu, karena saya adalah pendatang baru di kota tersebut, bagaimana saya bisa hidup tanpa dikirimin gaji? toh juga karena PTS tersebut mendapatkan hibah dan saya disuruh untuk studi lanjut, itupun dana dari hibah tidak jelas. saya merasa tidak adil. koq kita yang sebagai dosen direndahkan seakan kita layaknya seperti seorang pengemis.

    yang ingin saya tanyakan? apakah PTS tersebut berhak melakukan hal yang saya sebutkan tadi di atas? atao saya harus nuntut hak yang sepenuhnya saya dapatkan yaitu gaji pokok tetap seperti biasa 2jeti?

    terus terang saja pak, saya bingung. karena saya masih muda dan pengalaman kerja saya sebagai dosen baru 1,5 th..

    tolong tanggapannya dan sarannya..

    terima kasih.

    Mbak Ruth,
    Pesan saya…mbak yang sabar saja, mudah-mudahan masalah mbak bisa terselesaikan di kota tempat mbak menuntut pendidikan lanjutan sekarang…

    Sebenarnya masalah mbak itu bisa dilihat dari 2 sisi yang berbeda. Dilihat dari sisi negatifnya, seolah gaji mbak dikurangi separuhnya dari 2 jeti menjadi 1 jeti, jadi akan sangat menimbulkan masalah kalau sebelumnya mbak Ruth biasa terima 2 jeti tapi sekarang hanya menerima 1 jeti saja…ini sisi negatifnya…

    Kalau dilihat dari sisi positifnya, mbak Ruth sudah dibiayai kuliahnya di kota lain, tapi masih diberikan gaji sebesar 1 jeti. Bukankah ini kesempatan yang langka dan jarang didapat ? Banyak lho orang yang harus sekolah dengan biaya SPP sendiri, katakanlah 10 jeti per semester, masih harus menanggung biaya hidup di kota lain, belum biaya fotokopi, jajan dsb…

    Di kantor pemerintah seperti kantor saya ada suatu rule. Jika staf yang dikirim sekolah tersebut “full time” untuk sekolah dan tidak mendapatkan beban pekerjaan dari kantor, maka ia tidak berhak menerima honor proyek (jumlah sekitar 2jeti per bulan). Namun bila staf yang dikirim sekolah tersebut masih sering muncul di kantor untuk bekerja, maka ybs diberikan honor proyek “full” (jumlah 2 jeti per bulan).

    Mungkin PTS tempat mbak Ruth mendapat “ide” dari kantor saya, makanya gaji mbak Ruth dipotong separuhnya karena sehari-hari mbak Ruth nggak muncul di kantor…

    Sabar, menerima, dan tidak banyak komplain adalah kuncinya. Kalau mbak mau ngobrol dan konsultasi lagi, tambahkan aja Facebook saya “Tri Djoko Wahjono”. Ok mbak ? Sukses ya….

    Reply

  123. uyun
    Dec 04, 2009 @ 20:21:27

    Setelah membaca artikel bapak saya mendapat sedikit pencerahaan. Saya baru selesai S3 dari Jepang. Saya kembali ke Indonesia dan menerima tawaran menjadi dosen tetap di sebuah PTS di Jakarta. Saya hanya mendapatkan gaji bersih +tunjangan dll perbulannya hanya 2 jt rupiah. Menurut Bapak apakah cocok gaji segitu, terus terang transport dan makan siang bogor jakarta sebulan habis 1 jt an?

    Mas Uyun,
    Komentar saya mas….saya perhatikan dari nasib teman-teman yang lain, sebagai dosen PTS ibarat “first base” kalau dalam permainan baseball. Ya hanya untuk tempat singgah sementara, saya yakin dengan pendidikan Mas Uyun yang mantap karena dapat S3 di Jepang, cepat atau lambat pekerjaan yang lebih well-established akan didapat. Syaratnya banyak2 melakukan komunikasi dengan teman2 lainnya, dan biasanya rejeki itu datang dari seorang teman….gitu aja mas.

    Tetap semangat !!!

    Reply

  124. Thomas
    Dec 16, 2009 @ 12:12:47

    Salam Hormat Pak Tri,

    Saya saat ini ngajar di sebuah PT kedinasan di bintaro. Mengajar karena ingin berbakti kepada bangsa dan negara ini. Kebetulan pekerjaan utama saia di perush swasta PMA sudah cukup untuk memenuhi biaya hidup, jadi saya bisa tidak terlalu concern tentang remunerasi mengajar.

    Jarak rumah saya ke PT tsb 120 km. Banyak waktu terbuang di perjalanan dan juga melelahkan. Belum lagi kalau dihitung opportunity cost-nya (misalnya kalau saya terima consulting job). Tapi karena mhsw-nya pintar2 (less than 2% admission rate) jadi relatif lebih mudah mengajar-nya. Selain itu karena PT kedinasan jadi mereka semua disiplin dan sangat segan kepada dosen-nya (karena kalau dapat “D” saja untuk satu MK utama langsung DO, tidak ada istilah mengulang MK).

    Oya, saya mulai mengajar di usia 26 thn sama seperti Bpk :D mudah2an bisa terus berkarya sampai puluhan tahun juga seperti Bpk.

    Mas Thomas,
    Kalau ada yang bisa diambil hikmah dari usia saya yang sudah senja ini, bahwa dalam menjalani hidup mestinya kita mempunyai 2 sisi kehidupan, satu sisi berupa “homo economicus” sebagai khittah kita sebagai manusia yang selalu mengejar keuntungan alias duniawi, sisi lainnya adalah “sisi sosial” dimana sebagai makhluk sosial kita wajib menolong orang lain yang membutuhkan baik diminta atau tidak, dan biasanya justru di “sisi sosial” ini kita memperoleh kepuasan batin…

    Oleh karena itu, saya setuju dengan kehidupan yang mas Thomas jalani sekarang. Di satu sisi bekerja di PMA dengan penghasilkan yang lucrative dan cukup, tapi di sisi lain masih mau mengajar di kampus yang sebenarnya renumerasinya tidak begitu memadai. Tapi yang pengabdian di kampus itu sebenarnya sisi penyeimbang batin yang diperlukan bagi otak kita agar tetap seimbang dan selaras dengan badan kita…

    Teruskan aja mas kehidupan yang sekarang ini, mudah-mudahan mas Thomas sampai usia saya sekarang yaitu 53 tahun nanti masih menjalani 2 sisi kehidupan yang menarik tersebut dan barangkali sudah bisa mengambil hikmahnya…

    Reply

    • Thomas
      Dec 10, 2010 @ 17:42:33

      Wah, butuh setahun untuk saya me-reply response Bapak. Semoga Bapak dan keluarga dalam kondisi sehat wal-afiat, aktif berkarya untuk mencerdaskan bangsa, selalu diberkati rahmat kesehatan, kesejahteraan dan kebahagiaan oleh Tuhan YME.

      Terima kasih atas nasihat dan sharing Bapak, sangat saya hargai dan akan saya jadikan penyemangat pada saat kondisi menjadi cukup berat untuk dihadapi.

      [Background] Saat ini saya mulai keteteran mengajar Pak. Hal ini bermula dari akhir tahun lalu (Dec 2009)saya dibajak oleh group perush lain dengan promosi jabatan yang melonjak tinggi.

      Seiring dengan promosi tersebut, tingkat beban pekerjaan menjadi sangat besar. Terutama karena saya harus terus-menerus membuktikan bahwa saya pantas menduduki jabatan tersebut, dan bahwa perusahaan tidak salah untuk mengambil resiko menempatkan saya disana.

      Selain itu, beberapa bulan setelah promosi tersebut, ternyata permohonan beasiswa PhD saya di sebuah Univ di Swiss diterima dan saya resmi mulai perjalanan PhD saya (external). Beberapa bulan kemudian, istri saya positif hamil anak pertama kami. Sungguh suatu berkat yang luarbiasa yang datang secara beruntun dalam hidup saya.

      [Saat ini] Dahulu saya bermimpi untuk mencapai level top executive dalam usia muda (ambisi saya mencapai level top executive dan gelar doktor sebelum usia 30 tahun).

      Saat ini saya baru merayakan ultah ke 27 dan saya sudah hampir setahun di level tersebut. Saya juga sedang OTW meraih PhD (harusnya selesai sebelum saya 30 tahun) dan menunggu kelahiran putera kami.

      [Problem] 1.Menjadi Top Executive tidak semenyenangkan yang saya impikan – benar2 stress out (saya malah kepikiran untuk resign)
      2. Aktivitas mengajar menjadi keteteran karena load pekerjaan yang luar biasa berat.
      3. Kuliah saya stagnant dan dari Univ sudah mulai mempertanyakan progress saya.
      4. Sebentar lagi putera kami lahir dan saya harus mulai menjalankan tugas sebagai seorang ayah.
      Kalaupun saya tiba2 tersengat laba2 dan berubah jadi spiderman pun rasa2nya tidak akan mungkin bisa saya lakukan semuanya.

      [Plan] Saya berencana untuk resign dari jabatan saya. Remunerasi kerja setahun di posisi ini setara dengan kerja 5 tahun di posisi saya yang lama, sehingga saya cukup punya tabungan untuk hidup tanpa gaji selama 4 tahun kedepan (dari dulu, meskipun mendapatkan promosi, saya tidak mengubah gaya hidup saya).

      Selanjutnya saya akan tetap mengajar, fokus untuk menempuh PhD dan memenuhi tanggungjawab sebagai ayah.
      Orang mungkin akan melihat tindakan saya resign dari posisi tersebut adalah bodoh. Tapi bagi saya, menjadi top executive ternyata bukan hal yang saya inginkan dalam hidup ini. Jadi kalaupun suatu saat nanti saya kembali ke dunia corporate dan tidak mendapatkan jabatan tersebut, I’ve got nothing to lose anyway.
      Saya punya dua gelar master, satu dari Univ. yg terbaik di negara ini (katanya :D), satu dari Univ di US, dan saya akan (semoga) punya gelar doktor dari Univ di Swiss.

      Paling tidak saya bisa jadi konsultan lah nantinya.

      Waduh, saya jadi curhat panjang lebar disini. Mohon wejangan dan doa-nya Pak. Salam hormat. Thomas

      Mas Thomas,
      Terima kasih atas doa-doa bagi kesehatan saya. Sayangnya, sebulan yang lalu di usia saya yang ke-54 saya mulai kena sakit jantung, setelah selama 54 tahun tidak pernah sakit dan tidak pernah ke rumah sakit. Saya sampai 2 minggu di RS Harapan Kita dan sekarang sedang menunggu untuk menjalani operasi “Bentall procedure” (semacam operasi by-pass)..

      Dari cerita mas Thomas, saya jadi teringat kembali bahwa “Hidup adalah multiple objective” soalnya kalau partial objective sudah tercapai (jadi executive, jadi PhD student, jadi ayah) belum tentu “tujuan hidup” mas Thomas tercapai, ya nggak ?

      Memang yang paling bertentangan adalah menjadi executive dan menjadi Ph.D student, karena yang satu perlu curahan waktu yang banyak sedang yang lain menuntut totalitas yang tidak main-main.

      Saran saya sih (dengan berdasar “feeling” dan “cerita yang sudah-sudah”), anda mengejar Ph.D nya selesai dulu, toh sementara ini mudah2an anda sudah mengumpulkan cukup uang, dan resign dari jabatan executive tadi. Dan mencoba menikmati kehidupan seperti ini “Ph.D student yang momong anak”….hehehehe….kayaknya asyik banget.

      Kalau Ph.D anda sudah selesai, hopefully 2-3 tahun lagi, maka anda bebas memilih : mau tenure jadi Professor yang kerjanya tidak terlalu berat tapi gajinya juga gak terlalu gede, atau jadi top executive yang bergaji besar tapi menuntut totalitas yang lebih…

      Selamat merenung, dan sekali memutuskan….yakinlah bahwa itu keputusan yang paling baik…

      Good luck, sukses buat anda mas Thomas, salam bagi isteri dan calon putera yang sebentar lagi lahir….

      Reply

      • Thomas
        Sep 21, 2013 @ 01:15:31

        Sungguh gembira saya bisa membaca lagi blog Bapak. Apakabar Pak? Saya mohon maaf baru membaca lagi setelah tiga tahun dan puji Syukur bahwa Bpk dapat beraktifitas meresponse diskusi jadi tentunya sedikit gangguan kesehatan yang lalu dapat diatasi dengan baik. Semoga kedepannya kesehatan Bpk Dan keluarga selalu dalam kondisi prima. Mestinya sebagai seorang guru yang telah banyak menyentuh dan mengubah kehidupan banyak murid (termasuk saya yg mengangkat diri secara sepihak sebagai murid Bpk), akan banyak yang mendoakan Bpk. Amin

        Membaca postings saya yg lalu, timbul rasa malu saya atas tulisan saya yang terkesan arogan. Memang faktor usia tidak bisa dipungkiri. Mohon maaf saat itu saya masih young and foolish.

        Puji Tuhan saat ini saya sudah dapat PhD dan sudah resign dari tempat saya bekerja dulu. Putera saya sekarang sudah berusia 2.5 tahun. Saya masih mengajar dan untuk periuk nasi saya bekerja sebagai konsultan independent.

        Nasihat Bpk telah menjadi penyemangat bagi saya dalam mengabdi sebagai pengajar. Evaluasi akhir semester saya termasuk yang paling baik dan apresiasi dari mahasiswa sangat mengharukan. Sungguh mengajar adalah sumber kebahagiaan dalam hidup saya.

        Salam hormat saya untuk keluarga.

        Mas Thomas,
        Wah….sungguh berbahagia melihat anda meneruskan profesi saya….sebagai dosen….
        Semoga anda banyak memberikan banyak pencerahan kepada mahasiswa-mahasiswa anda….
        Salam….

  125. Iqbal
    Feb 15, 2010 @ 09:36:59

    Pak, mo nanya2 nih. saya lulusan fakulas hukum, S1 di UII S2 di UI. skarang saya tinggal di bogor. rencananya saya mo ngelamar2 dosen di beberapa PTS bogor. biasanya klo ngelamar dosen itu nunggu ada lowongan dulu atau langsung inisiatif ngirim pak?

    Mas Iqbal,
    Kalau saran saya sih, kapan mas Iqbal ngelamar sebagai dosen di PTS tuh paling elegan kalau melalu cara berikut :
    – nunggu kalau ada lowongan dosen ditulis sebagai iklan di surat kabar
    – nunggu kalau diajak teman untuk jadi dosen PTS karena teman tadi pasti sudah yakin kalau lowongan atau posisi dosen PTS itu tersedia

    Saya khawatir kalau mas Iqbal ngirim begitu saja ke PTS padahal sedang tidak ada lowongan, maka surat lamaran mas Iqbal akan berakhir di tong sampah, walaupun biaya fotocopy dan biaya pengiriman Kilat Khusus yang mas Iqbal keluarkan sudah besar…

    Demikian saran saya mas…

    Reply

  126. agung pambudi
    May 01, 2010 @ 14:23:00

    Dear mas Trijoko

    Artikel nya sangat bagus mas, Mas apakah saya bisa minta contact mas hendra yang di Canada, saya ingin menanyakan perihal canada. Oh ya saya agung pambudi bekerja di Helsinki Technology University.

    Mas Agung,
    Sudah lama sekali komentar mas Hendra yang dari Kanada tuh mas. Mungkin sekarang mas Hendra juga sudah di Indonesia, emailnya sudah tidak bisa diakses…

    Mudah-mudahan mas Hendra baca lagi posting ini, sehingga mas Agung bisa menghubungi langsung mas Hendra…

    Reply

  127. tommo
    May 05, 2010 @ 11:13:03

    halo mas, thanks atas artikelnya
    bisa ga ya saya minta alamat emailnya mas?
    thanks in advance……

    Mas Tommo,
    Terima kasih kembali. Lho, buat apa alamat email saya ? Biasanya kalau ada yang perlu didiskusikan, ya mas tulis aja sebagai komentar di bawah posting ini…

    Biasanya email saya sudah crowded dengan ratusan email per hari, jadi kans saya baca email juga kueciiil. BTW, kalau masih perlu juga email saya tridjokoeta@yahoo.com

    Reply

  128. beni
    Jun 11, 2010 @ 14:48:19

    Salam hormat pak tri..
    Saya mau tanya, apakah mungkin seorang dosen hononer bisa memiliki gaji minimal 3 juta. Saat ini saya bekerja di perusahaan swasta,dan ingin ambil kuliah S 2, setelah lulus kuliah , saya ingin bercita-cita jadi dosen. Masalahnya kantor saya hari sabtu tetap masuk, kalau kuliah malam kantor saya berada di pinggir kota jakarta (di bekasi), jadi agak jauh tempatnya kalau mau ambil kuliah S2 malam di jakarta (rumah saya di jakarta) . Kalau saya tidak diijinkan sekolah S2 oleh kantor, saya ingin resign saja. Untuk memenuhi kebutuhan, saya ingin menjadi dosen honorer saja, sambil kuliah S2. Saya dari S1 manajemen dan ingin ambil MM. Trimakasih atas pencerahannya…

    Mas Beni,
    Seingat saya ada keputusan Mendiknas atau Dirjen Dikti tentang “standar gaji dosen”. Mungkin isinya seperti yang saya sebutkan di posting itu: yaitu dosen lulusan S1 Rp 100.000/sks, lulusan S2 Rp 125.000/sks (contohnya saya), dan lulusan S3 Rp 150.000/sks. 1 sks itu 50 menit mengajar tatap muka.

    Secara teoritis, kalau mas Beni pengin dapat penghasilan Rp 3 juta/bulan maka harus ngajar sebanyak : Rp 3.000.000/4 = Rp 750.000/minggu. Jadi per minggu mas Beni harus ngajar = Rp 750.000/Rp 100.000 = 7.5 jam atau dibulatkan 8 jam per minggu…

    Jadi secara teoritis sebenarnya bisa dosen paruh waktu menghasilkan Rp 3 juta per bulan.

    Hanya masalahnya :
    1. Universitas mana yang mau nerima dosen lulusan S1 ? (Jwb : Orang setumpuk lamaran dosen di meja Ketua Jurusan atau di meja Dekan hampir semuanya lulusan S2 atau S3)
    2. Universitas mana yang mau membayar gaji dosen sesuai standar edaran Mendiknas atau Dirjen Dikti itu yaitu Rp 100.000/sks untuk lulusan S1 ? (Setahu saya hanya Universitas X di Jalan MT Haryono yang menaati rate ini)
    3. Universitas mana yang mau menugaskan dosen baru lulusan S1 sebanyak 8 sks/minggu (Kan banyak dosen S2 dan S3 juga nggak sebanyak itu penugasannya, kecuali di Universitas Y atau Z yang mahasiswanya buanyaaak sekali)..

    Sekian mudah-mudahan jelas dan tidak menjadi beban pikiran Mas Beni. Keep trying…

    Reply

  129. bayudhirgantara
    Jul 02, 2010 @ 20:59:06

    wah gawat iki ne gaji dosen cilik. iso2 dosen profesi terakhir dipilih dari pada jadi pengangguran.

    Bayu,
    Jangan begitu…jangan sekali-sekali menyepelekan guru dan dosen. Satu-satunya profesi yang orang-orangnya setia dan loyal terhadap profesinya adalah guru dan dosen. Berapapun gajinya…

    Bagi anak guru atau dosen seperti saya, uang bukan segalanya karena mudah dicari dan mudah ilang. Justru ilmu itu yang akan bertahan selamanya, dan apabila ilmu itu kita amalkan kepada banyak orang, baik dengan imbalan atau tidak, kita akan hidup tenang di dunia dan di akhirat…

    Reply

  130. erwin
    Jul 05, 2010 @ 23:33:41

    aslm bapak, salam hormat dan kenal.
    erwin lulus s1 biologi unsri tahun 2006, sekarang sedang kuliah s2 jurusan mikrobiologi ipb, pas baca blogger tulisan dan komentar bapak sangat bagus. erwin tertarik sekali menjadi dosen bioteknologi di kawasan jabotabek, sebelum s2 saya mengajar sebagai guru biologi di sma ternama di kota palembang dan bimbingan belajar nurul fikri(NF) palembang, sambil s2 erwin dimutasikan mengajar di nf bogor yang mau ditanya?setelah s2 dari ipb nanti bagaimana prosedur diterima jadi dosen di kawasan jabotabek.seperti swissgerman university,universitas pelita harapan, atmajaya, universitas nasional(ada jurusan bioteknologi) untuk swasta, kalau negeri kan menuggu formasi bukaan cpns, mohon masukan dari bapak. terima kasih atas tanggapannya pak. wslmkm

    Mas Erwin,
    Ya..dicoba melamar satu per satu ke universitas-universitas yang ada jurusan Bioteknologinya mas. Coba aja ke UPH, U Sahid, dan UNAS..

    Menurut saya mengajar di NF juga cukup mulia, karena anak saya dulu belajar di NF bisa masuk ITB dan sekarang bekerja di Pertamina..

    Sambil nunggu bukaan CPNS di Deptan, BPPT, atau LIPI. Begitu mas saran saya…

    Reply

  131. Ganesha
    Jul 28, 2010 @ 21:19:35

    Salam Hormat Mas Tri

    Perkenalkan nama saya Ganesha, untuk latar belakang saya lulus S2 dari UK jurusan Banking and Finance Desember 2006. Selepas lulus saya di terima bekerja di PT Trimegah Securities tbk sebagai analis di tahun 2007, kemudian pindah ke PT Medco Energi Internasional Tbk sebagai treasury di tahun 2008, kemudian pindah ke PT HM Sampoerna Tbk sebagai cost accounting di tahun 2009. Umur saya saat ini 26 tahun belum menikah dan alhamdulillah sudah di terima di S3 UI jurusan Management Keuangan. Saat ini saya mendaftar sebagai dosen jurusan S1 di universitas sebagai berikut : Gunadarma, Perbanas, dan Unas.

    Pertanyaan saya sebagai berikut pak:
    1. Kalo menilik latar belakang yang saya miliki, saya termasuk golongan yang mana di klasifikasi yang mas tulis di atas? apakah Rp 75,000 per sks?

    2. Dengan jadwal kuliah S3 di UI untuk semester 1 adalah 13 SKS (pengajaran dimulai 23 Agustus 2010), Kira2 maksimal sks mengajar yang bisa saya ambil untuk tidak terlalu membebani kuliah saya menurut mas di kisaran berapa SKS per minggu?

    3. Apakah mas Tri mempunyai standard gaji untuk universitas2 diatas yang saya lamar tersebut (Gunadarma, Perbanas dan Unas)?

    Terima kasih atas tanggapannya pak. Wassalam

    Mas Ganesha,
    Terima kasih pula telah bertanya kepada saya. Ini saya coba menjawab ya mas :

    Mengingat latar belakang anda cukup kuat di bidang Banking and Finance (S2 di UK), mestinya memasuki universitas manapun di Jakarta sebagai dosen, tentu tidak menjadi masalah. Kalaupun ada masalah, tentu masalah rate honor dosen per sks (50 menit) nya saya kira, bisa-bisa “terlalu kecil” bagi mas yang sudah malang melintang di industri Oilco.

    Persisnya rate honor dosen mas akan menerima berapa, saya tidak tahu persis. Even di Binus tempat saya mengajarpun saya tidak tahu lagi berapa sekarang starting salarynya. Tapi kalau menurut perhitungan “kasar” saya, dengan beban yang cukup (tidak terlalu berat, tidak terlalu ringan) mas akan dapat Rp 2 jutaan per bulan (2 juta koma sekian).

    Walaupun mas S2, tapi di Univ itu yang lebih dipentingkan adalah “pangkat dosen” yang disebut “Jenjang Kepangkatan”. Awalnya kan Asisten Ahli, kemudian meningkat ke Lektor, Lektor Kepala (seperti saya yang hanya S2 kelihatannya mentok di sini), dan Guru Besar. Nah, kalau “credential” mas di bidang tulis-menulis (paper, education, dsb) sekitar 200 point, itu masih Asisten Ahli seingat saya. Tapi kalau mas bisa membuktikan bisa 300 point (dengan bukti hardcopy), maka pangkat mas bisa Lektor dan menurut itungan saya, akan mudah mendapat Rp 2 jutaan per bulan, dengan beban ngajar maks 10 sks per minggu mengingat jadwal mas ngambil S3 di UI yang agak padat.

    Gitu aja mas, persisnya saya nggak tau, tapi kalau disuruh mengira-ngira, ya bisa….

    Reply

  132. andhy
    Aug 22, 2010 @ 16:41:40

    Pak Tri,

    Saya seorang lulusan Teknik Fisika UGM dengan predikat cumlaude di bidang energi (HVAC, solar & renewable energy, pump and piping). setelah lulus saya tidak sempat nganggur. sempat diterima di kontraktor tapi saya memilih s2 di Thailand dengan bidang HVAC namun spesialisasi saya di solar energy apps. saya memiliki beberapa paper international conference termasuk sekarang juga akan publish jurnal international, semoga Allah memudahkan publikasi itu sehigga tidak terhambat,

    jujur, saya ingin mendaftar di Teknik Mesin UI atau di Teknik Fisika STT Telkom. saya lihat di Teknik Mesin UI ada laboratorium fisika bangunan dengan riset solar energi dan HVAC. setahu saya, bidang ini belum mature di indonesia sehingga ahlinya juga belum banyak terutama solar energy.

    bagaimana peluang saya menjadi dosen UI ini ya pak ??
    mengingat saya seorang lulusan UGM,…

    terima kasih pak atas jawabannya…

    Mas Andhy,
    Wah..seneng sekali bisa mengenal anda…anak muda dengan banyak talenta…

    Silahkan mendaftar jadi dosen UI atau ITB, karena banyak loh saya tahu anak lulusan UGM diterima jadi dosen UI dan ITB, apalagi di 2 univ itu ada Lab Fisika Bangunannya…

    Reply

  133. BAGINDA HUTAPEA
    Oct 07, 2010 @ 16:46:58

    Halo…

    Pak, saya sangat berminat untuk menjadi dosen, setelah lulus S1 nanti, karena menurut saya menjadi dosen itu enak dan menyenangkan (terutama di universitas saya ini), ditambah lagi seluruh ilmu yang sudah kita pelajari tidak menjadi hilang begitu saja.

    Untuk itu, saya punya dua pertanyaan untuk Bapak. Yang pertama, apakah mungkin seorang fresh graduate S1 bisa langsung melamar menjadi dosen? Yang ke-2, kalau memang jawaban dari pertanyaan yang pertama itu mungkin, menurut Bapak apakah lebih baik saya menjadi pegawai kantoran dahulu, baru menjadi dosen (sebagai sampingan atau full time), atau langsung menjadi dosen saja, baru setelah beberapa lama, mencari pekerjaan pokok, sehingga dosen hanya menjadi sampingan saja?

    Atas perhatian Bapak saya ucapkan terima kasih.

    Mas Baginda,
    Saran saya, janganlah menjadi dosen kalau itu bukan panggilan jiwa anda. Karena jadi dosen mungkin secara materi lebih banyak dukanya daripada sukanya, walaupun secara moral atau mental lebih banyak sukanya…

    Lulusan S1 sulit jadi dosen, mengapa ? Karena setumpuk lamaran yang masuk di meja Rektor/Dekan itu hampir 99,41% bergelar S2 atau S3. Kalau di Binus, lulusan S1 bisa jadi dosen, tapi istilahnya “Asisten Lab”..

    Karena penjelasan di paragraf pertama tadi, sebaiknya anda cari kerja dulu sebagai non-dosen, kumpulkan uang sebanyak-banyaknya, sekolah S2 atau S3 dan setelah selesai, baru jadi dosen..

    Reply

  134. adi
    Oct 21, 2010 @ 09:07:48

    wak ketika membaca artikel ini yang notabene di tulis 2008 mungkin sudah terjadi kenaikan dengan nilai mata uang sekarang

    bagaimana pendapat anda ketika saat ini masih ada Perguruan tinggi yang menggagi dosennya Rp 11.000,- per SKS

    Reply

  135. nawal
    Oct 31, 2010 @ 12:30:14

    zaman sekarang beharap jadi dosen bae sudah syukur dibanding jadi guru honor

    Betul itu Bung…

    Reply

  136. santo
    Nov 23, 2010 @ 17:10:53

    Pak kalo rate dosen tidak tetap untuk orang yang belum pernah mengajar di Universitas namun profesional dengan jabatan yang cukup baik di salah satu perusahaan berapa ya per sekali datang. Terimakasih sebelumnya pak

    Reply

  137. santo
    Nov 23, 2010 @ 17:33:20

    Sebagai tambahan Pak saya lulus S2 Finance dan S1 Akuntansi dari univ swasta di jakarta

    Santo,
    Tergantung di universitas mana anda akan mengajar, dan tergantung apakah universitas tersebut “bisa menghargai” tingkat pendidikan dan pengalaman kerja yang anda sudah jalani.

    Bener-bener gak ada standar, makanya silahkan mencoba-coba melamar di beberapa universitas dulu, baru anda akan tahu jawabannya….

    Ok ?

    Reply

  138. nBASIS
    Dec 09, 2010 @ 06:34:27

    wah. kira-kira angka-angka ini sama ya untuk seluruh Indonesia? Jika di Jakarta saja demikian, tentu amat lebih rendah di luar Jawa

    Ini hanya angka patokan, implementasinya tergantung masing-masing PTS disesuaikan dengan kemampuan PTS masing-masing dan disesuaikan dengan posisi tawar dosen di daerah yang bersangkutan…

    Intinya, di setiap daerah angka ini bisa berbeda…

    Reply

  139. faizal
    Dec 17, 2010 @ 10:55:38

    salam kenal pak

    Mau tanya dikit nih.
    Saya mengajar di sebuah univ. yang mahasiswanya mbludak. dengan jumlah sks ngajarnya kayak kejar setoran. Dan saya sudah diangkat sebagai dosen tetap. Tapi pengangkatan tersebut tidak berpengaruh terhadap income saya karena jabatan sebagai dosen tetap tidak ada renumerasinya a;ias gaji pokok tuk dosen tetap.

    yang mo saya tanyaken mengenai ketentuan dan peraturan tertulis dari DIKNAS dan Dinas ketenagakerjaan perihal status dosen tetap dari institusi PT swasta ada gak ya soalnya kami PTS tersebut kalo dipikir lebih rendah dari para kaum BURUH. Seorang dosen tetap kalo saya fikir sudah diangkat sebagai pegawai, dan berhak menerima gaji pokok.

    Tuk pengaduan hal seperti ini bisa diadukan kemana ya, soalnya kami benar – benar merasa tidak dihargai secara layak oleh institusi,

    By the way nama PTS nya Univ. Pamulang.

    tolong infonya via email saya.

    Trim’s atas pencerahannya.

    wish u all the best

    Mas Faizal,
    Saya tidak biasa berkomunikasi via email, soalnya menurut saya kalau pertanyaan datang di Blog saya sebaiknya juga dijawab di Blog supaya para pembaca menerima manfaatnya.

    Menjawab pertanyaan Mas Faizal, sebenarnya patokan gaji dari Kemdiknas (Dirjen Dikti) tentunya ada, kalau anda mau bisa minta copynya ke Dirjen Dikti Kemdiknas Jl. Jendral Sudirman Jakarta (belakang Plaza FX), tapi saya nggak punya copynya. Nah berdasarkan ketentuan dari Dirjen Dikti Kemdiknas tadi, beberapa PTS membuat standar gaji….tapi biasanya berlaku secara internal alias “untuk kalangan sendiri”.

    Kalau mas ada komplain tentang gaji di PTS setempat, ya mudah aja….tinggalkan PTS itu sekarang juga. Habis perkara, kan ?

    Reply

  140. Fion
    Dec 23, 2010 @ 09:12:26

    pak, saya lagi binggung nih, oleh karena itu saya mau minta wejangan dari bp yang udah pengalaman.

    Status saya sudah lulusan S2 luar negeri, dan pernah kerja di dunia IT beberapa tahun, namun akhir-akhir ini kegiatan saya mengajar freelance. memang saya mau mulai bergelut di dunia pendidikan saja, sehingga tidak terikat waktu jam 9-5 di depan komputer terus.

    kegiatan saya sekarang mengajar privat anak2 SD panggilan dari rumah ke rumah di dekat kediaman saya saja, dan akhir2 ini saya ditawari kerja sebagai dosen IT part-time di suatu universitas swasta yang sekitar 1 jam dari tempat kediaman saya. memang saya belum pernah memiliki pengalaman mengajar di kampus, hanya saya pernah mengajar training di kantor untuk pengguna komputer/software.

    Yang menjadi pertanyaan saya, kalau membandingkan honor per jam nya, jadi dosen IT part-time di universitas tsb koq honornya lebih kecil dari honor saya mengajar les privat 1 anak. Nyaris separuhnya lho pak.
    padahal kalo dilihat usahanya, kelihatannya menghadapi anak kuliahan bobotnya lebih berat, karena jumlahnya lebih banyak & pertanyaan mereka pun akan lebih kritis, jadi sebagai dosen yang baik harus mempersiapkan semuanya lebih matang. supaya tidak dianggap dosen yang tidak bisa ngajar, apalagi sampai diprotes mereka.

    ohiya pak, mau tanya juga, mengenai honorium per SKS diatas itu, kan ditulis tahun 2008, kalau boleh tau, tiap tahun itu ada peningkatan sekitar berapa persen ? jadi saya bisa hitung2 sendiri untuk tahun 2010/2010 berapa sih honor yang pantas. saya takutnya mungkin honor saya ditekan/dibawah standard, berhubung saya tidak punya pengalaman mengajar di kampus.

    saya sebenarnya ingin menjadi dosen juga, jadi bisa menyebarkan ilmu yang saya punya ini kepada lebih banyak orang, tapi kalau honor nya sedikit, saya jadi berpikir lagi, karena masih banyak kebutuhan ekonomi yang harus dipenuhi seperti rumah & kendaraan yang semakin tinggi aja harganya.

    Apa yang sebaiknya saya lakukan ? mohon wejangannya yah pak.

    Terima kasih sebelumnya :)

    Fion,
    Wah…masih bingung nih saya untuk menjawab pertanyaan anda, karena apa sih yang sebenarnya anda cari : uang, nama, karier, atau apa, sebagai lulusan S2 luar negeri (asumsi saya, lulus Master in Computer Science).

    Mengajar anak SD dalam Mathematics atau Computer (Programming dsb) itu baik-baik saja, apalagi jika duwit les privatnya gede karena ortu si anak orang kaya, tapi apakah mengajar les privat anak SD memberi kepuasan batin yang lebih walaupun duwitnya bagus ? Bagaimana kalau anda ditanya saudara atau tetangga, “Kerja apa anda sekarang ?”. Berani nggak menjawab, “Anu..saya ngajar les privat anak SD”. Itu bahasa Amerikanya “You defeat the purpose of getting Master’s degree aboard..” alias anda menafikan diri (mendegradasi nilai anda sendiri) di mata masyarakat..

    Bandingkan dengan mengajar di Universitas. Walaupun saat ini honor mengajar di universitas tidak terlalu tinggi (mungkin karena anda tidak punya pengalaman mengajar makanya merekapun bingung kalau harus menggaji anda tinggi), tapi nama yang didapat dengan mengajar di universitas kan lumayan. Kalau anda ditanya tetangga atau saudara di suatu acara family gathering atau arisan RT, “Kerja di mana ?”..anda dengan enteng dan bangga bisa menjawab “Ooo…saya sekarang ngajar di universitas…”. Mereka pasti mengangguk-ngangguk dan “mengkorelasikan” tingkat pendidikan S2 anda dari luar negeri dengan mengajar di universitas ini yang mereka nilai “sudah sepadan”…

    Ok…itu hanya sekedar introduksi. Kalau saya boleh menjawab dengan jujur (saya pernah jadi Dekan di universitas tempat saya ngajar sekarang, yang waktu itu banyak merekrut dosen, dan cukup bangga dosen-dosen yang saya rekrut waktu itu sampai hari ini kira-kira 14 tahun, mereka masih mengajar di universitas ini), sebenarnya nama baik penting, uang penting, kepuasan pribadi penting. Nah bagaimana menyiasatinya :
    – Nama baik penting : sebaiknya anda menjadi dosen di universitas yang anda suka, atau menjadi pegawai di perusahaan top di tanah air
    – Uang penting : kalau memberi les privat anak SD mendatangnya banyak rejeki, ya sudahlah sementara hal ini dijalani sampai nanti anda mendapat kesempatan mencari rejeki yang banyak tapi dengan cara yang lebih elegan
    – Kepuasan pribadi penting : kalau ada waktu, anda harus call teman-teman anda di sekolah dulu, nanya mereka ada pekerjaan nggak ? Kalau anda bisa menjadi konsultan IT bersama kawan-kawan anda, wah itu bagus juga untuk kepuasan pribadi…

    Syukur-syukur anda bisa diterima menjadi dosen di universitas seperti tempat saya mengajar sekarang, dimana gaji dosen akan naik 10% per tahun bila “raport” selama mengajar setahun bagus (artinya: jarang bolos).

    Mengenai pertanyaan anda lainnya, ini saya jawab :
    – Keputusan standar gaji dosen Universitas X itu dikeluarkan tahun 2008, saya tidak tahu apakah standar gaji itu sudah dinaikkan atau belum, soalnya di akhir 2008 itu saya memutuskan tidak mengajar lagi di universitas X itu
    – Mengenai beli rumah atau beli mobil, sabar saja…yang penting dapat pekerjaan mantap dulu, pada suatu waktu rumah atau mobil pasti terbeli juga kok…percayalah ! (asal anda tidak mentargetkan rumah di Pondok Indah sama mobil Mercedes E320 saja..)..

    Reply

  141. Fion
    Dec 23, 2010 @ 19:37:25

    Terima kasih banyak ya pak atas wejangannya yang lumayan cepat juga. Wejangannya bagus sekali dan membuka pikiran saya, kalau ada 3 hal penting (nama baik, uang & kepuasan pribadi).

    Terus terang, kadang saya hanya terfokus pada uang & kepuasan pribadi saja. karena saya bawaannya orangnya cuek, jadi tidak begitu peduli apa yang dikatakan orang tentang profesi saya, toh selama ini profesi saya halal. Mulai sekarang, saya juga harus mempertimbangkan nama baik juga, jadi bisa lebih dipandang orang. Selanjutnya, saya akan konfirmasi lagi dengan universitas tsb, dan bila mereka benar-benar mau menerima saya, saya akan menjadi dosen mulai tahun depan, mungkin di lain waktu, saya akan coba melamar di universitas tempat bapak mengajar sekarang. dan syukur2 diterima juga yah pak.

    Sekali lagi, terima kasih banyak yah Pak.

    Selamat Tahun Baru juga. Semoga Bapak & sekeluarga sehat2 selalu, dan impian2nya selalu tercapai di tahun depan dan selamanya :)

    Tuhan memberkati :)

    Fion,
    Siiip…dan syukurlah pikiran anda jadi terbuka. Iya, saya dukung kok kalau anda mau mengajar di universitas tempat saya ngajar ini, asalkan anda punya gelar S2 luar negeri di bidang :
    – Accounting
    – Management
    – Hospitality Management
    – Psychology
    – Japanese Literature
    – Mandarin Literature
    – English Literature
    – Civil Engineering
    – Architecture
    – Industrial Engineering
    – Visual Communication Design / Graphic Design
    – Computer Science
    – Computer Engineering

    Selain itu, ya sebaiknya tidak melamar, karena kan mahasiswanya belum ada (yang sesuai jurusan S2 anda)….hahahaha

    Salam, selamat tahun baru 2011 juga buat anda sekeluarga…

    Reply

  142. ruswanto
    Jan 03, 2011 @ 09:09:20

    salam kenal pak.
    saya salah satu dosen PTS di tasikmalaya. saya cuma mau sharing nich pak. emang kalo dosen sudah mempunyai jabatan fungsional itu honornya dipotong kewajiban sebanyak 12 sks. kalo ada potongan itu terus dana potongan itu masuk kemana atau masuk ke dikti/kopertis dan penggunaannya untuk apa. aturan pemotongan itu juga ada dimana pak.
    itu aja pak, makasih sebelumnya.

    Mas Ruswanto,
    Aturannya di setiap PTS beda-beda tentang “potongan 12 sks” ini. Di universitas tempat saya mengajar sekarang, setiap DOSEN TETAP diberi GAJI Rp x misalnya, nah…Rp x ini sudah “include” dengan kewajiban ngajar 12 sks. Jadi kalau ia ditugaskan ngajar lebih dari 12 sks, baru keluar yang namanya “HONORARIUM MENGAJAR”…Jadi, beda antara “gaji” dengan “honorarium”. Tapi di universitas saya, Rp x ini sudah besar, cukup untuk hidup 1 bulan..

    Reply

    • Aditya
      Jun 14, 2011 @ 07:59:09

      Perkenalkan Pak, saya adit dari tasikmalaya juga..
      saya ingin menjadi dosen juga di pts di tasikmalaya..
      saya sangat ingin tahu berapa gaji dosen swasta di tasikmalaya? kalau boleh tahu juga bpk di pts mana? mohon berbagi pengalamannya.. terima kasih ^^

      Kang Aditya,
      Saya tidak tahu berapa standar gaji dosen PTS di Tasikmalaya karena semua itu tergantung kepada kemampuan masing-masing PTS. Rule-nya, semakin besar uang SPP semakin besar pula gaji dosennya. Kayaknya ini berbanding lurus deh…

      Saya mengajar di salah satu PTS besar di Jakarta…

      Reply

  143. forent
    Jan 13, 2011 @ 09:05:58

    sy lulusan s2 salah satu ptn terkenal dbdg.awalnya sy hanya mengajar privat,kemudian ngjr smp sma swasta dbdg smbil menyelesaikan s2 sy.akhirny sy keluar krn sy tdk btah dgn jam krja boading school tsb dn administrasinya(rpp dll).sy ingin jd dosen karena ingin mengejar nama dn uang sprti yg bpk blg. sy minta pendapat bpk:
    1. apakah sy cocok dn bs jd dosen?sy ad keturunan mengjar dr kakek2 sy dl yg suka ceramah sana-sini.walaupun sy tdk tll suka brbicara banyak(atau mngkn blm)
    2. sy dpanggil sebuah pts swasta di batam yg sdang berpolemik dgn rktorny,mnurut berta dosen2nya bnyk yg dipecat.apakah sy teruskan saja?sy jg ragu dibatam spertinya biaya hidup lbh mahal sehingga sy berfikir ulang utk kerja disana sbg dosen dgn gaji 2jt.
    3. Terimakasih pak atas jawabannya..sy sdang dipersimpangan jalan ini.hndak jd dosen ataukah jd pekerja it yg berkutat dgn deadline.

    Forent,
    Wah…sayang komentar anda kurang beberapa detail : darimana anda berasal, S1 anda bidang apa, S2 anda bidang apa. Kalau jelas, mungkin saya bisa memberikan saran yang lebih tepat. Misalnya, jika anda berasal dari Batam…kan bagus anda dapat pekerjaan di Batam ? Lain halnya kalau anda lahir di Garut, tapi dapat tawaran kerja di Batam….tentu (mungkin) bukan hal yang baik…

    Untuk menjadi dosen…kayaknya harus ada “panggilan hati” deh…karena kebanyakan universitas (terutama PTS) tidak bisa menggaji dosennya dengan baik, tapi kalau sudah ada “panggilan hati” tentu yang terutama pengabdian, bukan faktor “money”….

    Seperti saya katakan menjawab komentar pembaca blog ini sebelumnya, idealnya “kaki” seorang laki-laki itu tertancap di beberapa bidang pekerjaan sekaligus….kalau bisa lho ! Yaitu : 1) sebagai pegawai kantoran yang berpenghasilan tetap, 2) sebagai dosen yang berpenghasilan tidak tetap, dan 3) sebagai konsultan, yang penghasilannya tidak tetap tapi jumlahnya tidak besar..

    Dalam memilih karir, turuti kata hati. Tapi juga pertimbangkan baik-baik dan ramalkan di masa depan, apalagi kalau anda sudah menikah nanti, apa kebutuhan anda dan keluarga.

    Demikian, nasehat sederhana ini mudah-mudahan berguna…

    Reply

  144. Zulvani
    Jan 13, 2011 @ 12:34:28

    Salam kenal

    Terimakasih atas informasinya…

    Reply

  145. Aini
    Jan 20, 2011 @ 15:17:24

    Dear P Tri,
    Salam kenal pak. Saya senang baca ulasan bapak, sangat jelas. Pak, saya minta advis nya nih. saat ini saya masih bekerja di bidang IT perbankan (s1 saya manajemen informatika) selama lebih dari 14th dengan jam kerja yang ketat (jam 8 sd jam 5 sore, senin-jumat). saya saat ini sedang ambil s2 keuangan di PTN di jakarta. usia saya almost 40th. saya merasa anak2 saya sangat membutuhkan perhatian, sehingga saya berencana untuk resign dari pekerjaan yang sekarang dan alih profesi jadi dosen (wktnya lebih fleksibel). apakah mungkin mengingat usia saya ? baiknya dibidang apa saya mengajar? IT (sesuai background s1 dan pengalaman kerja) atau keuangan (sesuai s2) ? bagaimana strateginya apakah saya tetap kerja nyambi ngajar ? mohon info univ sekitar depok yang mungkin bisa saya apply?
    Terimakasih sebelumnya :)

    Mbak Aini,
    Salam kenal juga mbak Aini…

    Wah..mendengar cerita anda, saya merasa kagum dan juga agak menyesalkan. Kagum karena anda sudah hampir lulus S2 dan sudah punya pengalaman 14 tahun di bidang perbankan, namun agak menyesalkan karena S1 dan S2 anda tidak “in line” atau “tidak segaris”. Mestinya kalau S1 nya MI, ya S2 nya MTI, MMSI….lha ini kok Keuangan (bahasa Inggrisnya “Finance” ya ?). Agak jauh kaitannya, jadi waktu anda melamar ke univ PTS yang bagus macam Binus atau Gundar….saya khawatir CV anda kurang mengesankan bagi mereka, apalagi kekurangan mbak adalah belum pernah ngajar sampai umur 40 tahun. Jadi selama ini sampeyan kemana aja ? (Sorry, saya berusaha ketus untuk mensimulasikan pejabat univ PTS yang akan merekrut anda nanti). Dan ingat, jadi dosen PTS waktu first entry itu gajinya masih kecil….mereka tidak melihat umur pelamar atau pengalaman pelamar di luar, tapi mereka melihat berapa lama anda mengajar di sini (jadi mbak masih dianggap “pengalaman 0 tahun”)..

    Jadi, mengingat pertimbangan di atas saya sarankan mbak masih tetap bekerja di IT Perbankan, jangan ditinggalkan dulu. Kalau mbak sempet mengambil S2 bidang Keuangan, berarti mbak juga bisa ninggalin anak-anak tumbuh sendiri. Mudah-mudahan suami mbak bisa menggantikan mbak dalam memberi “perhatian” lebih kepada anak-anak mbak. Sedangkan cita-cita menjadi dosen, ya mangga aja dicoba melamar ke PTS mana begitu, siapa tahu diterima. Lha nanti kalau sudah diterima dosen dan dirasa “take home pay” dosen cukup menjanjikan….ya mangga wae pekerjaan di IT Perbankan ditinggalkan. Tapi kalau “take home pay” dosen cuman sedikit, ya jangan ditinggalkan dulu IT Perbankan nya.

    Begitu mbak saran saya….mudah-mudahan berkenan dan berguna untuk mengambil keputusan…

    Sukses selalu….apapun yang mbak Aini ambil dan kerjakan….

    Reply

  146. anti
    Jan 24, 2011 @ 20:54:38

    salam kenal pak tridjoko..
    saya senang sekali membaca blog ini. jadi tertarik untuk nimbrung.
    Saya baru saja lulus S2 dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Jawa Barat jurusan STK dan S1 saya Jur Pend.Matematika di salah satu perguruan tinggi negeri di sumatera.
    Saya ingin melamar jadi dosen, karena memang saya sangat suka mengajar. Saya berasal dari keturunan guru. Saya suka berhadapan dengan orang2 dan memberi ilmu. Tapi kenyataannya saya blom ada pengalaman sebagai dosen. Dari S1, semester lima, saya sudah ngajar, tp hanya ngajar di sekolah SD, SMP dan SMA, bimbel dan privat. Itupun hanya sebagai guru tidak tetap. Apakah tanpa pengalaman mengajar mahasiswa bisa melamar jadi dosen pak?? Oya, klo melamar jadi dosen apakah jurusan S1 dan S2 harus linier pak?? Terimakasih sebelumnya atas penjelasan bapak..

    Anti,
    Sebaiknya kalau melamar di beberapa PTN atau PTS tertentu yang sudah terkenal….latar belakang S1 dan S2 itu “segaris” alias “linear”…soalnya ada peraturan baru dari pemerintah yang mengharuskan itu….(saya lupa no Kepmen Diknas nya). Ekstrimnya, walau kita punya gelar S3, tapi kalau S1 dan S2 nya nggak in line (linear)…apalagi kita ngajar di Jurusan yang lain lagi….maka sampai kapanpun kita tidak akan jadi professor….dan ini merugikan PTN atau PTS yang bersangkutan (menurut logika mereka loh)…

    Berarti, masalahnya ada 2 : waktu mengetuk pintu mereka, dan kedua waktu mengembangkan karier nantinya. Apalagi PTN atau PTS yang sudah ISO-9000 minded yang biasanya di dalam peraturannya hal ini (gelar S1, S2, S3 harus in line) itu ditulis…

    Tapi semuanya patut dicoba, dan mutu PTN dan PTS se Indonesia tidak seragam loh…

    Ok Anti, good luck !

    Reply

  147. pujak
    Jan 26, 2011 @ 21:30:01

    Menurut saya, blog ini bagus.Banyak pencerahan bagi yg tidak memahami. terimakasih untuk blog ini. Bekerja sebagai dosen sangat banyak diminati orang. Sebenarnya banyak orang menganggap bekerja sebagai dosen tujuannya “mengabdi”. Tp realita sebenarnya, banyak dosen bekerja bukan hanya mengabdi. Tp sekedar cari uang dan prestise semata. Banyak manusia yang sulit menyederhanakan hidup. Sebenarnya pengertian mengabdi itu adalah bekerja pada orang lain tanpa ada imbalan jasa. Jika memang dosen-dosen di tempat tertentu ingin mengabdi, kenapa uang Sekolah di universitas tertentu sangat mahal. Klo bisa, gratiskan uang sekolah. Yang kita didik bukan hanya anak-anak borju, tapi juga anak-anak yang melarat atau tidak mampu. Saya juga ingin komentari Seperti yg Saudara tulis pada komentar ibu Fion tentang Guru SD. Emang ada salah dengan guru SD?? Yang namanya guru semuanya sama. Guru SD, SMP, SMA, Sekolah Tinggi, Akademi ataupun Universitas. Tugasnya Sama-sama mengajar. Don’t be shy, jika ada org bertanya tentang kerjaan sebagai Guru SD. Saya seorang pengusaha. Saya senang sbg pengusaha. Jika saya menanyakan profesi, baik itu dosen atau guru TK sekalipun, menurut saya semuanya sama. Bagi guru SD, saya menghargai beliau, karena beliaulah banyak anak yang tidak kenal huruf jadi kenal huruf. Ga bisa berhitung jadi bisa menghitung. Semua pendidikan dimulai dari SD. Kalo kita lulus dari pendidikan setinggi apapun, dan bekerja tidak sesuai pendidikan, menurut saya tidak jadi masalah. Bekerjalah dimana anda bisa berkembang, memenuhi kebutuhan hidup dan mendekatkan diri sama Allah. Pekerjaan yang menyenangkan, tidak harus sebagai dosen tapi bisa menyenangkan hati. Semakin banyak sarjana, master, Dr, atau Prof, Indonesia juga sepertinya semakin terpuruk. Saya bukan salahkan para tenaga pendidik, tapi sebenarnya siapa yang disalahkan?? Mungkin saya sendiri yang bersalah karena telah menulis koment ini. Terimakasih.

    Mas Pujak,
    Terima kasih sharingnya….

    Jawaban saya sebagai pemilik blog terhadap pertanyaan yang ditulis di komentar posting blog ini adalah bersifat spesifik dan individual berdasarkan kasus-kasus yang penanya ajukan kepada saya. Tentunya tidak bisa bersifat umum yang menyelesaikan semua masalah sekaligus tanpa terkecuali.

    Memang siapa saya ? Saya bukan siapa-siapa, hanya pemilik blog yang ingin membantu “jiwa yang sedang tersesat”…

    Sedangkan anda Mas Pujak, kayaknya bukan salah satu yang perlu dibantu dari tulisan ini. Anda seorang pengusaha sukses….dan karena sukses, berpikir secara normatif…

    Reply

  148. rizki
    Feb 07, 2011 @ 11:31:34

    @thomas : uda yud terusin PHDnya… biar dipohon keluarga lo jadi yg pertama dapet gelar S3, apalagi uda ada baby.. ^ ^v, duit later2 aja lah, dan itu bukan stupid reason hehehe

    @pa tri : pak kalo untuk memulai ngajar sambil tetap bekerja (kerja utama saya 8pagi-5 sore senin s/d jumat di PNS) biasanya dapet berapa SKS ya di PTS ? kalo hanya bisa mengajar dimalam hari atau sabtu(background saya manajemen,akunting & pajak)

    dan perhitungan pengalaman mengajar itu pure berapa tahun mengajar atau lebih ke detail : berapa lembar menulis buku/modul atau berapa SKS yang kita sudah jalankan semacam jam terbang dipilot pesawat

    jujur aja saya senang dengan dunia mengajar.. tapi kendalanya saya adala PNS yang rentan dimutasi (1 indonesia) masih memungkinkan ga yah bisa mengajar di PTS ?

    Mas Rizki,
    Ya coba aja melamar ke PTS mas…siapa tahu bisa mengajar sore hari/malam atau weekend. Kalau Mas Rizki tinggal di Jakarta banyak lo PTS yang memerlukan dosen sore/malam karena kebanyakan mahasiswanya adalah karyawan, yang paginya kerja, sore/malam baru kuliah.

    Lagian ilmu mas banyak yang ngebutuhin tuh : Manajemen, Akunting & Pajak…

    Di dalam CV, sebut aja sedetil-detilnya mas, apabila memungkinkan bisa sedetil pilot. Apa yang anda lakukan, kapan, sebagai/jabatan apa, siapa partner/user nya, dsb. Tentu CV yang detil akan menarik minat PTS yang akan merekrut Mas Rizki nanti. Dan dari CV yang detil, toh bisa disingkat kapan-kapan, tapi kalau dari CV yang pendek kan susah buat dipanjangkan (harus lihat artikel dulu, di majalah mana, dsb)…

    Good luck mas…selamat mencoba !

    Reply

    • Thomas
      Sep 21, 2013 @ 01:52:15

      Wah dunia (internet) itu sempit ya
      Untung nggak nulis yang nggak2 :D
      Sekarang gw jadi tau kenapa akhirnya bisa dapat PhD, rupanya karena doa loe hehehe. Thanks Bro!

      Oya semoga ponakan gw bisa tumbuh sehat dan lahir dengan sempurna tanpa ada kendala apapun. Salam buat Indah.

      *)Rizki adalah sepupu saya.
      Moral of the story: Meskipun anda sudah mencoba menyamarkan identitas dengan hanya menulis nama depan (bukan nama lengkap) pun akan ada yang mengenali anda. Atau mungkin hanya karena saking populernya Blog ini? :D

      Reply

  149. Aini
    Feb 25, 2011 @ 09:39:35

    Hallo Pak Tri,

    Apa kabar ? semoga selalu dalam keadaan sehat wal afiat ya…
    Mudah2an pak Tri ga bosan dengan curcol saya, masih mengenai pilihan saya untuk menjadi dosen dan meninggalkan pekerjaan di IT perbankan. Dari saran bapa sebelumnya insyaallah akan saya laksanakan, saya akan coba ngelamar untuk mengajar saat weekend atau malam hari, sambil ngeliat2 prospeknya. Tapi dalam hati saya tetep pengen jadi dosen pak. selain memaksimalkan sisa wkt kontrak di dunia dengan amalan yang berguna (kalo bapak bilang menambah pundi amal) juga mengingat waktu lebih fleksibel (kakak saya guru SMA, waktunya fleksibel dan anak2nya tetep ke urus) dan juga masalah kesehatan saya kayaknya udah ga kuat kerja dari jam 8 s/d 5 sore di ruang tertutup full ac. Kalo menjadi dosen di usia hampir 40th bukan pilihan yang salah kan pak ?(minta afirmasi nih). saya sekarang udah di semester 2 MM-Keuangan (ipk 3.5), kalo saya ngelamar jadi dosen tapi masih kuliah S2 bisa ga pak? (saya rencana mau nyoba ngajar di semester3 nanti). Terimakasih sebelumnya :)

    Reply

  150. Erwien
    Feb 26, 2011 @ 13:37:07

    hmmm menurut saya rada mencurigakan melihat gaji segitu.klo d andaikan gaji dosen 50rb/sks dan ternyata dalam 1 minggu 40 jam kerja x 4 dalam sebulan mencapai 160jam di koversi k sks=1sks 45mnt jadi sekita 213 sks x 50rb = 10.650.000

    sedangkan gaji pegawai swasta yg saya tahu dengan jam kerja sama untuk 160 jam, untuk fress graduate d bandung hanya d gaji 1.5jt-2.5jt tergantung perusahaa.untuk mencapai 3jt saja agak sulit.klo d jakarta mungkin bisa mencapai 5jt tapi klo d bandingkan dengan segitu mending semua jadi dosen donk

    mohon d beri pendapat.maaf klo mungkin saya salah.soalnya saya lgi mencari informasi juga

    Reply

  151. Indra Wahyu Pratama
    Mar 02, 2011 @ 09:01:45

    Salam.

    Perkenalkan nama saya Indra Wahyu Pratama, saya lulusan hukum dengan ipk 3,6 dari universitas swasta ternama yang ada nama stasiunnya di daerah srengseng sawah., jakarta. Klo saya liat sih, mahasiswa2nya dari kalangan menegah ke atas semua. Namun dosennya selalu mengeluh karena kecilnya gaji. Padahal saya bercita2 ingin menjadi dosen di almamater saya itu.

    Di almamater saya itu, karir dosen dimulai dari asisten dosen yang harus sedang menjalani s2. Saya mendengar dari beberapa teman saya yang asdos, klau honornya sangat2 kecil. Dihitung bukan per-sks tetapi per kehadiran. 30.000/kehadiran.Bila seminggu dia hadir 3 kali, dia cuma dapet 90.000 dan 360.000 per bulan. Sedangkan kita harus kuliah s2 juga. Yang saya tanyakan proses pengangkatan dari asdos ke dosen tetap(asisten ahli) itu bagaimana ya.?
    Saya hendak mengambil s2 ui saat ini, saya juga ingin bertanya apakah ijazah s2 ui(s1 swasta) itu lebh dihargai dibanding s2 swasta?
    lalu dengan ijazah itu apakah saya dapat mengajar di ptn?
    Lalu bila saya ingin mengajar di pts lain selain sebelum saya mendapaykan gelar s2, bagaiman prosedurnya?

    Maaf jika saya terlalu banyak bertanya,(karena sempat aktif di pers kampus selagi mahasiswa.hehehehe). Semoga jawabannya dapat bermanfaat bagi saya dan teman2 seperjuangan yang ingin menjadi pahlawan ilmu bernama dosen.aminn

    salam

    Reply

  152. diani
    Mar 23, 2011 @ 16:46:39

    Halo Pak Tri, blognya bagus bgt dan menginspirasi…
    Pak, saya diani lulusan S1 dan S2 dari ITB, tapi jurusan S1 dan S2 saya tidak sama Pak…S1 saya ngambil Teknik Mesin dan S2 Industri….tapi subjur saya waktu S1 nyambung dengan subjur S2…S1 subjur biomaterial dan S2 subjur ergonomi yang berhubungan dengan biomedical engineering….saya pengen banget jd dosen dan konsultan…menurut bapak, langkah2 apa yang harus saya ambil untuk menjadi dosen dan konsultan?apakah dengan background pendidikan saya yang seperti diatas, saya punya kesempatan buat jd dosen di PTS2 jakarta?makasih banyak Pak;)

    Mbak Diani,
    Dengan background pendidikan yang mbak punya, saya kira mbak punya kans besar buat melamar jadi dosen di PTS-PTS Jakarta, terutama di Jurusan Teknik Industri, Subjur Ergonomi (Human Factor in Engineering)…bukan di Jurusan Teknik Mesin. Cuman masalahnya setahu saya jumlah mahasiswa Teknik Industri di PTS-PTS Jakarta semakin lama semakin berkurang, for some reasons (yang saya tidak tahu persis). Di Binus saja, tahun 2000 yang lalu mahasiswa baru jurusan Teknik Industri sekitar 150 orang, tapi sekarang di tahun 2010 jumlah mahasiswa baru Teknik Industri hanya tinggal 50 orang. Jadi mbak tahu apa yang terjadi…terpaksa univ “tidak menugasi” lagi beberapa dosen untuk mengajar…

    Jadi konsultan Teknik Mesin atau Teknik Industri juga sangat saya dukung, bagaimana jika mbak melamar ke Halliburton atau Schlumberger ? Atau minimal di Elnusa Oil Services…

    Apapun mesti dicoba, dan nanti yang akan terjadi pada mbak saya akan sebut sebagai “kecelakaan sejarah”….seperti saya yang jadi PNS sekaligus dosen PTS sudah lebih daripada 30 tahun ini….hehehe

    Reply

  153. diani
    Mar 25, 2011 @ 14:26:04

    oh iya salah pak, saya belom lulus S2-nya…baru akan lulus insya Allah Mei ini…jadi saya baru mau apply2 nanti bulan Mei…oh jadi gak apa2 ya Pak walaupun S1 dan S2 saya tidak linear tetep bisa apply untuk jadi dosen? (walaupun harus nyari universitas yg mahasiswa TI-nya masih lumayan banyak, hehehehe)…OK pak, insya Allah saya mw coba apply2 di bidang2 yg saya udah pelajari, baik di konsultan atopun dosen…makasih banyak ya Pak sarannya….btw, gimana Pak jantungnya?semoga cepet sembuh dan bisa beraktivitas lg kayak biasanya ya Pak…
    oh iya Pak, maksudnya kecelakaan sejarah gimana ya?hehehehehe…

    Mbak Diani,
    Jantung saya sudah ok, cuman karena ganti selongsong (graft sebagai pengganti aorta) dan ganti mechanical valve (untuk ganti klep biologis yang ada sejak lahir) maka jantung saya beat-nya masih belum teratur, kadang cepet kadang lambat (mestinya cepet kalau lagi deg degan dan lambat kalau lagi tidur, tapi ini tidak begitu)…

    Trims doanya, yang jelas Selasa kemarin saya sudah ngajar kembali…dan bisa ngajar 3,5 jam straight tanpa istirahat…

    “Kecelakaan sejarah” contohnya kalau di USA, Operations Research itu ada yang di bawah Dept. of Mathematics tapi ada juga yang di bawah Dept. of Systems Engineering. Atau, kenapa jurusan Ilmu Komputer di UGM ada di bawah jurusan Matematika FMIPA UGM ? Kenapa bukan di bawah Dept. Teknik Elektro seperti biasanya di USA ? Kalau sudah begitu dari sononya, saya nyebutnya “kecelakaan sejarah”…

    Jadi saya nyebut S1 dan S2 anda yang tidak linear itu sebagai “kecelakaan sejarah”, apalagi nanti anda diterima jadi dosen TI….wah lebih “kecelakaan sejarah” lagi karena S1 anda kan Teknik Mesin…

    BTW kalau masih bingung, forget it….nggak usah dipikirin…hehehe

    Reply

  154. Rinda
    Apr 01, 2011 @ 22:15:20

    Terima kasih pak atas tulisan dan masukan yang menginspirasi.
    Saya juga berencana menjadi dosen.
    Saya lulusan S1 Hub.Internasional di Universitas negeri di Kalimantan Timur. Sekarang sedang melanjutkan S2 Hub. Internasional di universitas negeri di Jakarta. Rencana awal, lanjut kuliah S2 memang untuk jadi dosen di almamater S1 saya.
    Tapi, dalam perjalanannya, saya berpikir lagi dan mendapat masukan pula dari teman yang sudah menjadi dosen di sana. Kesempatan untuk mengajar di Universitas tersebut ternyata tidak besar. Selain itu, di sana juga belum banyak universitas swasta,terutama yang sesuai dengan bidang saya.
    Ada beberapa alternatif pilihan yang saya pikirkan :
    1. Mencoba melamar menjadi dosen di Jakarta atau di wilayah lain di pulau Jawa yang jumlah PTN dan PTSnya notabene lebih banyak.

    2. Mencoba melamar menjadi dosen di universitas di luar negeri (Brunai, Malaysia, Singapura).

    3. Mencoba melamar di Deplu atau perusahaan swasta, sambil mengumpulkan uang untuk S3 di luar negeri.

    Dari yang saya sampaikan di atas, mohon masukan dari bapak. Terimakasih sebelumnya. Semoga Bapak dan keluarga diberi kesehatan

    Rinda,
    Melihat latar belakang pendidikan anda yang S1-nya HI dan S2-nya juga HI, kayaknya pekerjaan terbaik bagi anda adalah sebagai pegawai Deplu…

    Reply

  155. Rinda
    Apr 03, 2011 @ 21:10:32

    boleh tahu pertimbangan dari rekomendasi bapak? terimakasih

    Rinda,
    Ketika di tahun 1986 saya akan disekolahkan oleh kantor saya untuk ngambil Master/Ph.D di Amerika Serikat, saya yang latar belakang S1 saya Statistika berpikir keras apakah saya akan melanjutkan studi di : Statistics, Industrial Engineering, Systems Engineering, Operations Research, atau di Computer Science...

    Setelah menimbang-nimbang semuanya dengan seksama, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa : “ilmu yang saya dapatkan di studi lanjutan S2/S3 nanti haruslah yang “mudah dijual” supaya saya juga banyak berguna bagi masyarakat saya”. Jadi jawabannya adalah : Computer Science, dan inilah ilmu yang saya ambil. Begitu saya pulang ke Indonesia awal 1990-an, waktu itu yang punya gelar Master di Computer Science masih sangat sedikit.. Jadi ilmu S2 yang saya udah selesaikan berguna banget.

    Nah, Hubungan Internasional walaupun persyaratan masuknya cukup ketat (kalau di UI termasuk favorit ke-3 kalau nggak salah), tapi kalau mau jujur yang banyak menggunakan lulusan HI kan (hanya) Deplu, iya kan ? Di luar Deplu, mungkin masih ada koran/news (tapi sedikit butuh HI-nya). Jadi jurusan HI, konsumennya gak terlalu banyak di PTS atau PTN sekalipun (dibandingkan dengan : Manajemen, Akuntansi, dan Ilmu Komputer/Teknik Informatika lho). Makanya saya sarankan anda nembus Deplu dulu sebagai prioritas pertama, karena “khittah” anda masuk Deplu. Nah, kalau Deplu gak nembus (kalau mau jujur, masuk Deplu agak sulit), baru dicari lapangan kerja lainnya yang kalau di Jakarta ini tidak ada habisnya (anda bisa masuk bagian SDM, Hukum, dsb)….

    Reply

  156. Rinda
    Apr 03, 2011 @ 21:16:27

    sedikit menambahkan saja pak. maksudnya pertimbangan selain berdasarkan latar belakang pendidikan yang linier. Karena secara minat, saya memang cenderung suka belajar dan membagi ilmu yang saya dapat.
    Jika rencananya kemudian dirubah menjadi mencoba melamar di Deplu, apakah saya masih bisa mencoba melamar untuk mengajar di PTN maupun PTS pak?

    Rinda,
    Saya yakin kalau anda kerja di Deplu atau di luar Deplu, anda masih bisa ngajar di PTN atau PTS di Jakarta. Silahkan coba saja. Saya orangnya optimistis dan jangan bilang gak bisa kalau belum dicoba. Silahkan mengirim lamaran ke suatu jurusan di suatu universitas, dan sambil kita berdoa mudah-mudahan ada yang memanggil kita untuk wawancara (semua dosen juga menjalani proses deg-degan semacam ini)..

    Di Jakarta banyak PTS baru yang butuh banyak orang untuk menjadi dosennya. Walaupun jarang sekali yang membuka jurusan Hubungan Internasional…kebanyakan adalah : Ekonomi, Psikologi, Sastra, dan Arts (Desain Komunikasi Visual, Seni Murni, Seni Patung, Desain Produk dsb)…

    Reply

  157. Rinda
    Apr 04, 2011 @ 14:14:48

    baik pak. Terimakasih sekali masukannya. Mohon doanya agar dapat menyelesaikan S2 dengan prestasi terbaik dan bisa bekerja di tempat yang terbaik.

    Mbak Rinda,
    OK mbak…good luck ya…

    Reply

  158. Aan
    Apr 15, 2011 @ 13:47:00

    Dear Pak Tri,
    Salam kenal. Terima kasih banyak karena blog ini sangat membantu dan memberikan insiprasi bagi yang membacanya.
    Pak, saya lulus S1 Manajemen Informatika pertengahan 2010 lalu, dan saat ini saya sedang bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta di bidang IT. Dari sejak SMA saya sudah mengajar di les-les dan di organisasi yg memberikan pendidikan bagi anak-anak ekonomi menengah ke bawah dan ketika kuliah pun saya menjadi asdos. Saya memang senang mengajar.
    Saya memang sempat berencana menjadi dosen.
    Saya berencana untuk mengambil S2 dalam waktu yang tidak terlalu lama dari sekarang, namun ada beberapa hal yang saya bingung dan ingin minta masukan dari Bapak yang pasti sudah memiliki pengalaman yang banyak dalam hal ini:
    1. Saya tertarik dengan 2 jur S2 yaitu Magister Manajemen dan Magister Sistem Informasi, menurut Bapak, jika menjadi dosen adalah panggilan saya, lebih baik saya mengambil jur apa? Yang tentu saja dengan saya mengambil jur tsb probabilitas untuk dapat diterima menjadi dosen menjadi lebih besar.
    2. Apakah ketika saya mengambil S2 itu saya bisa sambil melamar menjadi dosen? karena saya melihat ternyata ada juga dosen yang ternyata masih sedang mengambil S2.
    3. Apakah di universitas – universitas lulusan S2 luar negeri lebih diutamakan daripada lulusan lokal (dalam negeri) untuk menjadi dosen?
    4. Syarat umum untuk menjadi dosen ini apa ya Pa? apakah sebelum menjadi dosen, calon dosen akan di test kemampuannya dalam mata kuliah yang akan diajar oleh calon dosen tsb?

    Terima kasih sebelumnya Pa. Maaf Pak, saya terlalu banyak bertanya. Biarlah kiranya ini dapat bermanfaat juga bagi orang2 yang berkunjung ke blog ini.

    Mas Aan,
    Baiklah saya jawab pertanyaan anda satu per satu ya…
    1. Karena S1 anda Manajemen Informatika, saya lebih sarankan anda mengambil S2 Magister Manajemen Sistem Informasi (MMSI) daripada Magister Manajemen (MM). Alasannya, supaya latar pendidikan anda linear/serupa antara S1 dan S2 nya. Soalnya kalau S1 dan S2 anda gak linear sering diledek “S2 setengah mateng” atau lebih jelek lagi “S2 jadi-jadian” kan repot…

    2. Tergantung, selama anda ambil S2 anda bisa aja jadi dosen…kalau ada yang menerima anda sebagai dosen lho (karena status anda lulus S1 dan sedang ngambil S2). Jadi temen anda bisa karena memang ada univ yang mau menerima dalam keadaan demikian…

    3. So pasti, lulusan luar negeri (S2 atau S3) akan “lebih dipandang” waktu univ menerima dosen baru, sama saja kalo ada perusahaan mau menerima pegawai baru maka perush akan memilih yang lulusan LN daripada lulusan DN, walaupun ini debatable. Lulusan LN punya kelebihan : language skill, kepercayaan diri, pengalaman mengerjakan real project, dsb dibanding lulusan DN

    4. Syarat umum menjadi dosen menurut saya adalah : lulusan S3 kalau mau ngajar S2, dan lulusan S2 kalau mau ngajar S1. Di universitas yang baru berdiri mungkin dosen baru tidak akan ditest cara ngajar, tapi di univ yang lama berdiri dan sudah beken (spt tempat saya ngajar skg) semua dosen baru akan ditest cara ngajar dan bisa aja tidak lulus (saya punya teman lulusan PTN ternama tapi ternyata tidak bisa diterima sbg dosen)…

    Kembali…

    Reply

  159. Arya
    Apr 22, 2011 @ 08:29:06

    Salam Kenal pak Tri.
    Saya tahu blog bapak dari search engine, jadi mampir kesini. Terima kasih atas info standart gaji dosen.
    Pak Tri, saya sebenarnya sangat berminat menjadi dosen, dan alhamdulillah sudah menjadi dosen sejak akhir 2005 sampai sekarang (ada darah guru yang mengalir dalam diri saya, paman dan bibi saya juga guru). Cuman sejak 2010 kemarin saya berhenti jadi dosen tetap karena saya sedang melanjutkan studi S2 Teknik Informatika di ITS Surabaya dan perlu fokus di tesis (S1 juga Teknik Informatika). Nah setelah lulus 2010 kemarin, saya kembali mengajar di almamater S1 saya sebagai dosen bantu (masih di jawa timur).
    Dan ternyata gaji per SKSnya beda dengan yang bapak jelaskan. Per SKS digaji rp 15.000 (lulusan S2 dan S1 hanya selisih 1000 rupiah). Ada transport rp 9000 per kedatangan per mata kuliah). Satu minggu saya ngajar 9 SKS (3 mata kuliah, per mata kuliah 3 SKS). Walhasil setelah dihitung dalam satu bulan (4 minggu) : 9x15000x4 + 9000x3x4 = 540000+108000 = 648000. Emang g terlalu berat sih, hanya 2 hari ngajar setiap minggu. Tapi kan standart gajinya jauh amat ya pak dari standart, dan lagi perbedaannya sangat tipis dengan dosen lulusan S1, lha buat apa saya ngeluarin duit 25 jeti untuk biaya kuliah S2 kalau bedanya tipis sekali ?. Saya bukannya materialistis, tapi kok ya seperti ini ?. Tapi apapun yang terjadi, tetap saya merasa bahagia dengan berprofesi sebagai dosen karena mengamalkan ilmu, senang share informasi dan diskusi dengan anak2 mahasiswa. Sehingga banyak mahasiswa yang sangat betah dan senang mengikuti kuliah saya, dan senang berkonsultasi mengenai skripsi mereka ke saya.

    Saat ini saya ditawari menjadi kepala bagian IT disebuah perusahaan swasta dikota saya. Saya bingung pak, secara finansial, disana saya ditawari gaji tinggi (sekitar 3.5 – 4.5 jt perbulan) tetapi saya harus mengikuti jam kantor senin sampai jumat. Memang sih, kalau saya kerja disana, saya masih bisa nyambi jadi dosen di hari sabtu atau ngajar kelas sore, tapi saya harus jadi orang kantoran (g cocok dengan hati saya dan S2 saya jadi gak berguna). Jika tetap menjadi dosen, maka saya harus terima gaji yang kecil, ada sih usaha sampingan tapi g bisa terlalu diharapkan pak. Ada juga tawaran jadi dosen tetap dikampus dikota lain pak, tapi masih lama nunggu bulan Oktober (biasa lowongan CPNS). Jadi saya sebaiknya bagaimana ya pak ? Mohon pencerahannya.

    Mas Arya,
    Salam kenal kembali….. Emang nasib dosen muda atau asisten dosen ya seperti itu, saya dulu jadi Asisten Dosen di IPB digaji Rp 1.800 per bulan dan uangnya cair setiap enam bulan sekali, jadi sekali nerima gaji dapet 6xRp1.800 = Rp 10.400 padahal waktu itu honor ngawas ujian Matematika per 3 jam sudah Rp 1.500 dan beasiswa Supersemar yang saya terima Rp 15.000 per bulan. Yah..tapi saya masih merasa beruntung, soalnya uang hasil ngajar bisa saya belikan buku yang saya mau…dan sisanya buat nraktir teman-teman…

    Menjawab pertanyaan anda ya susah-susah gampang. Tapi sebenarnya kalau mau jujur pertama-tama harus dijawab pertanyaan ini “Apa sih tujuan hidup anda ?”

    Kalau jawabannya “Mencari duwit sebanyak-banyaknya”…maka jadi dosen ibarat jauh panggang dari api alias jaka sembung alias gak nyambung babar blas…(kecuali nemu PTS yang rate honornya cukup tinggi seperti univ tempat saya ngajar)…

    Tapi kalau jawabannya “Mengabdi kepada bangsa dan negara melalui pendidikan dan menyalurkan hobby sebagai dosen (guru)”…maka anda memilih jadi dosen itu sudah pilihan yang tepat…berapapun jumlah honor yang anda akan terima nanti…

    Sebenarnya kalau mau jujur jawabnya, anda sebaiknya jadi pegawai di sebuah perusahaan swasta yang jam kerjanya 9-5 (nine to five) dengan maksud supaya dapet duwit yang lumayan…supaya ada harganya di mata orang tua dan mertua (calon mertua). Terus di masa senggang…misalnya sore/malam hari atau weekend anda tetap bisa ngajar sambilan di PTS yang prospeknya menjanjikan…di sekitar Surabaya kan banyak to mas ?

    Sekian mas, mudah-mudahan jelas….

    Reply

  160. Adi
    Apr 28, 2011 @ 21:51:50

    Halo…Pak Tri…salam kenal. Saya Adi, lulusan S1 dan S2 ekonomi linier (S2,cumlaude) dari PTN ternama di Indonesia. Saya ada panggilan tes seleksi dosen di UPH jurusan manajemen. Mohon saran, persiapan apa saja yang wajib saya lakukan agar diterima. Kira-kira berapa gaji yang sebaiknya saya minta jika ditanya expected salary-nya? Saya pengalaman mengajar di PT sekitar 2 tahun, lebih 10 publikasi di jurnal nasional, dan lebih 10 kali menjuarai lomba karya tulis populer. Sebagai dosen, saya pernah tercatat sebagai dosen paling produktif publikasi ilmiah suatu tahun tertentu.Terima kasih atas penjelasan Bapak. GBU.

    Reply

  161. ADI
    Apr 29, 2011 @ 09:43:15

    Halo…..slam kenal Pak Tri. Saya Adi….lulusan S1 dan S2 ekonomi (s2, cumlaude) dari PTN ternama. Saya akan ada tes di jurusan manajemen UPH. Mohon sarannya untuk maju tes supaya diterima. Sbg info, saya pengalaman ngajar di PT 2 tahun, publikasi lebih 10 artikel di jurnal nasional, menang lomba karya tulis nasional lebih dari 10 kali, dan pernah menjadi dosen paling produktif dalam publikasi di jurnal nasional. Kira-kira berapa minimal gaji yang saya minta jika nanti ditanyakan expected-salar-nya? Demikian, Pak. Atas pencerahannya, saya ucapkan terima kasih. GBU.

    Mas Adi,
    Hallo mas…salam kenal kembali. Melihat credential anda, kelihatannya kalau anda mau anda bisa masuk jadi jajaran dosen UPH, karena saya tahu UPH itu cari dosen yang macam apa (mereka lebih selektif dibanding dosen di univ tempat saya mengajar sekarang)…

    Yang perlu disiapkan….tidak ada ! Just be yourself, dan jawablah semua pertanyaan dengan jujur, simpel dan gak dibuat-buat. Misalnya tentang pendidikan, pelatihan, pengalaman ngajar, latar belakang, cita-cita anda…jawab aja apa adanya, biasanya si pewawancara akan senang yang seperti itu…

    Mengenai standar salary yang perlu anda ajukan berapa…wah ini yang paling sulit dijawab. Tapi sebagai ancer-ancer, standar salary lulusan S2 seperti anda (tapi tidak terlalu aktif menulis dibanding anda) di sebuah universitas swasta yang cukup terkenal di pusatnya Jakarta Pusat (you know who I mean)…waktu itu saudara saya ditawari Rp 2,5 juta per bulan. Cuman saya juga nggak ngerti di luar itu masih ada uang transport apa uang apa, saya tidak tahu. Yang jelas, saudara itu juga masih mengajar part time di univ tempat saya ngajar sekarang….

    Demikian mas…mudah-mudahan bisa sedikit mencerahkan. Good luck…

    Salam untuk pewawancara anda di UPH ya….(dari saya yang sudah beberapa kali ditolak jadi dosen UPH, dipanggil wawancarapun tidak….huhuhu)..

    Reply

  162. arum dian
    Apr 29, 2011 @ 14:53:28

    makasih mas atas infonya… saya sekarang sudah s2… dan ada dari salah satu stikes swasta yang baru berdiri,, ingin meminjam ijasah saya sebagai dosen tetap disana… saya belum punya pengalaman kerja,, baru lulus s2 januari kemarin… mereka menanyakan kompensasi yang saya minta berapa atas hal itu… kira2 berapa harga normal dan wajar yang harus saya minta? nuwun

    Mbak Arum,
    Memang dulu ada juga yang “minjem” ijazah saya untuk suatu keperluan seperti yang dialami mbak Arum sekarang. Tapi kira-kira sudah 15-20 tahun yang lalu. Waktu itu saya dikasih “uang ganti” atau “uang fotocopy” Rp 25 rb yang dikasihkan oleh isterinya kepada saya..

    Saya gak tahu Rp 25 rb di tahun 1990 itu kalau di tahun sekarang berapa ya ?

    Kalau anda berani, jawab aja “Berapa aja deh….” hehehehe

    Reply

  163. rama
    May 17, 2011 @ 17:20:28

    halo salam kenal pak tri,

    nama saya pak rama lulus s1 informatika dari binus dan pernah diajar bapak juga , sekarang lg ambil s2 ilmu komputer di salah satu univ swasta di jakarta tapi bukan binus. Saya mau tanya kalo asal almamater kita swasta atau negeri itu ngaruh gak ya untuk diterima jadi dosen , soalnya saya juga berminat pindah s2 ke univ negeri tapi masih agak ragu terutama soal biaya. Dan kalau misal keterima soal jadwal ngajar apa bisa diatur dengan jadwal kerja dosen karena saya juga kerja di perusahaan swasta jadi saya minatnya ngajar malam untuk tambah penghasilan. Dan gaji dosen lulusan s2 yang bapak tulis diatas kan untuk per sks kan ya ?

    ok pak makasih ya untuk perhatiannya

    Rama,
    Kayaknya nggak ngaruh deh lulusan S2 PTN atau PTS. Tapi terus terang, bagian rekrutmen dosen di masing-masing PTS akan sangat selektif memilih PTN dan PTS terbaik. Misalnya ada 5 pelamar pada suatu posisi, maka akan dicari dulu PTN atau PTS yang bermutu….jadi menurut saya anda tahu sendirilah bagaimana kans nya..

    Tapi faktor lain juga dilihat : penampilan, test mengajar, wawancara, motivasi, dsb soalnya kayaknya banyak dosen yang mau masuk ngajar di PTS, ternyata sebelum 1 semester sudah memutuskan untuk keluar…

    Saran saya, ya coba saja…atur waktunya, cara ngelamarnya. Ya, yang saya katakan itu per sks (untuk PTS yang sudah mantap lho…)…

    Reply

  164. Destri
    May 22, 2011 @ 08:50:54

    Salam kenal Pak Tri,
    saya jadi tertarik dengan blog yang bapak share, saya sebenarnya setelah lulus S1 PTN, pengen langsung S2 dan jadi dosen. Namun ada banyak pilihan ketika sudah lulus, pada akhirnya saya memilih bekerja di Perusahaan besar di Jakarta. Tetapi lama-kelamaan saya merasa ini bukanlah saya yang sebenarnya, akhirnnya saya mengambil S2 di PTS di Jkt. Dan saya ingin pindah profesi sebagai dosen, meskipun saya belum punya pengalaman mengajar, namun dalam praktisi di perusahaan yang pernah saya bekerja, sangat menunjang dalam ilmu Management.

    Insya allah tahun ini saya lulus, saya mohon pencerrahannya, Univ. PTN/PTS mana yang memungkinkan menerima menjadi dosen.

    Karena saya menyukai dunia ilmu pengetahuan, suka membaca, dan ingin share ilmu kepada orang lain.
    Trims atas jawabanya.
    Salam

    Hallo mbak Destri,
    Memang susah ya menjawab pertanyaan mbak….yaitu PTN/PTS mana yang cocok buat mbak Destri ngajar ?

    Saran saya sama dengan kepada teman2 lainnya yang pernah bertanya ttg hal ini, yaitu kirim aja lamaran sebanyak-banyaknya mbak, ke semua PTN/PTS yang ada di Jakarta. Siapa tahu kalau PT itu bener-bener perlu profile dosen seperti mbak Destri…pasti deh nanti dipanggil buat wawancara…

    Kalau gagal, coba lagi…coba lagi…dan coba lagi mbak… Good luck !

    Reply

  165. Roes
    May 22, 2011 @ 15:49:30

    Selamat sore Pak. Nama saya Dadang tetapi sering disapa Roes. Saya lulusan UPI jurusan bahasa dan sastra Indonesia, dengan kapasitas IPK 3,65 dan dinyatakan sebagai lulusan terbaik di fakultas saya. dengan pencapaian nilai cumlaude bagi saya bukan sesuatu yang menjamin kualitas seseorang, sebab di negeri ini jika kualitas dengan angka bisa mudah dicapai. Saya sangat menyukai dunia pendidikan, salah satunya adalah belajar dan mengajar. Saya memiliki masalah walaupun bagi saya hal tersebut bukan merupakan masalah. Apa masalah saya, jika memang ini dikatakan sebagai masalah. Saya ingin menjadi guru, atau dosena, tetapi latar belakang pendidikan saya adalah mengambil jurusan nonkependidikan, sehingga hal ini membuat saya tidak percaya diri untuk melamar pekerjaan untuk mengajar, meski saya meyakini dan merasa mampu untuk mengajar, karena saya memang senang mengajar. Tujuan saya mengajar bukan sekedar untuk uang, itu mengikuti, tetapi prinsip saya dan doa yang selalu saya panjatkan bagaimana ilmu yang saya miliki bermanfaat besar bagi saya khususnya dan masyarakat umumnya. Di negeri ini untuk mengajar atau melamar pekerjaan selalu dilihat berdasarkan latar belang pendidikan bukan berdasarkan kompetensi sseorang. Terlebih ada embel-embel kerabat dekat, baru mudah diterima kerja, apalgi dengan uang. Mohon petunjukknya

    Kang Dadang,
    Dengan profile anda IPK 3.65…sekarang gak perlu lagi anda minder, atau mudah diatur oleh siapapun, dan jangan percaya anda bisa masuk ke suatu job karena koneksi atau ditolong orang lain, sama sekali itu tidak perlu. Saya dulu lulus dari IPB dengan IPK 2.59 toh banyak dipanggil oleh perusahaan2 besar di Jakarta. Teman saya lulus IPB dengan IPK 2.22 akhirnya jadi Ph.D dari Amerika dan menikahi gadis tercantik di kampus. Jadi, who knows ?

    Saya sarankan mumpung muda, anda segera ngambil S2 dan S3 kalau perlu ke luar negeri. Tanya aja orang sekitar gimana nyari beasiswanya. Tapi dengan Googling hal ini mudah dicari kok….

    Kalau anda sudah Ph.D, baru mikir mau kerja dimana…. Ok mas ?

    Reply

  166. mynmay
    May 22, 2011 @ 19:03:38

    Dear Pak Tri,

    Saya terdampar di blog Bapak melalui google hehehe…
    Setelah membaca dari atas, ternyata saya tidak menemukan kasus yang serupa dengan saya. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan ke Bapak.

    Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri dahulu.
    Saya sekarang sedang menjalani studi S2 di Shanghai jurusan Chinese Language & Culture. Sebelumnya, saya S1 di Unpad jurusan Sastra Jepang.

    Mengenai pengalaman kerja, saya memiliki pengalaman bekerja di perusahaan swasta selama 2 tahun. Serta beberapa pengalaman kerja paruh waktu.

    Dari dulu, saya senang sekali mengajar dan berbagi pengalaman serta mendengarkan opini-opini dari orang lain. Oleh karena itu, saya berminat menjadi dosen. Namun demikian, saya belum memiliki pengalaman mengajar secara profesional.

    Selain itu, walaupun ingin menjadi dosen besar namun saya tetap harus realistis. Dengan kata lain, mempertimbangkan penghasilan dosen.

    Yang ingin saya tanyakan adalah:
    1. Jika seandainya saya menjadi dosen, bidang/mata kuliah apa yang sebaiknya saya ajar? karena s1 saya Jepang dan s2 saya Chinese, bingung.
    2. Apa menurut bapak sebaiknya saya menempuh s3 dulu baru menjadi dosen? apakah ada bedanya lulusan s2 dan s3?
    3. Apakah bedanya dosen honorarium dan dosen tetap dalam segi tunjangan, pangkat dan lainnya?
    4. Standar gaji yang Bapak pos kan di blog ini, apakah sudah di update untuk tahun 2011? karena saya dengar ada kenaikan gaji dosen setahun atau 2 tahun yang lalu. Maaf, saya tidak begitu ingat.

    Sebelum saya ke sini, saya pamitan dengan dosen-dosen di Unpad. Sambil setengah bercanda, mereka mengharapkan saya mengajar disana sekembalinya dari sini karena mahasiswa baru jurusan Sastra Jepang semakin banyak sedangkan dosen sedikit. Selain itu, di sana juga baru buka D3 Sastra Cina. Namun untuk menanyakan berapa gaji yang akan saya terima, saya juga agak segan. Walaupun menurut blog bapak kisaran untuk dosen baru sekitar 2 juta, tapi saya juga mendengar ada yang mencapai 10 juta (mungkin ini guru besar?).

    Mohon petunjuk Bapak.

    Terima kasih

    Mynmay,
    Wah…pertanyaan anda banyak dan sulit dijawab…..”big time question” istilahnya….

    Q1 : Jika seandainya saya menjadi dosen, bidang/mata kuliah apa yang sebaiknya saya ajar? karena s1 saya Jepang dan s2 saya Chinese, bingung.
    A1 : Sebaiknya Chinese karena sesuai dengan background S2 anda yaitu Chinese. Tapi kalau mau dipikir-pikir Chinese dan Japanese kan sebenarnya deket, huruf kanjinya kan sama, tinggal nambah Katakana dan Hiragana saja. Tapi sebaiknya anda memilih jurusan “East Asian Studies” kalau ada…tapi saya tidak yakin apa ada jurusan tsb di universitas2 di Indonesia, kalau di luar negeri sih selalu ada jurusan itu.

    Q2 : Apa menurut bapak sebaiknya saya menempuh s3 dulu baru menjadi dosen? apakah ada bedanya lulusan s2 dan s3?
    A2 : Kalau nilai anda baik sekali (GPA >= 3.5) sebaiknya anda langsung mengambil S3, mumpung masih muda dan masih punya kebebasan (belum berkeluarga kan ?). Nanti ngajarnya setelah lulus Ph.D saja. Kalau di Amerika, mahasiswa program Ph.D (Ph.D student) selalu diminta mengajar, jadi kalau anda sekolah di Amerika anda akan terbiasa mengajar sehingga kalau Ph.D nya sudah lulus, anda bisa mengajar…

    Q3 : Apakah bedanya dosen honorarium dan dosen tetap dalam segi tunjangan, pangkat dan lainnya?
    A3 : Tergantung anda berbicara di PTN atau PTS, dan itupun setiap PTN dan PTS mempunyai rumus yang berbeda-beda. Di universitas PTS tempat saya mengajar, dosen honorarium (istilahnya “dosen tidak tetap” atau “dosen paruh waktu”) jumlah honorarium sebulan bisa melebihi “dosen tetap” atau “dosen purna waktu” di sini, tetapi karena hal itu saya lebih senior (lebih tua) daripada dosen tetap yang rata-rata ex mahasiswa saya. Tapi gak tahu ya di universitas lainnya, masing-masing universitas kelihatannya punya rumusnya sendiri.

    Q4 : Standar gaji yang Bapak pos kan di blog ini, apakah sudah di update untuk tahun 2011? karena saya dengar ada kenaikan gaji dosen setahun atau 2 tahun yang lalu. Maaf, saya tidak begitu ingat.
    A4 : Saya tidak tahu kalau nanti ada yang baru. Kalau gak salah tabel saya yang dulu itu ada SK Dirjen Dikti (atau SK Kopertis III Wilayah Jakarta ?) tahun 2008. Mungkin saja sekarang ini sudah diperbarui. Tapi kalau anda baca komentar-komentar di atas, bahkan standar gaji 2008 bagi universitas itu masih jauh lebih tinggi daripada standar gaji universitas PTS lainnya…

    Demikian mudah-mudahan jelas dan dapat informasi yang diperlukan….

    Reply

  167. diani
    May 24, 2011 @ 06:15:04

    Halo Pak Tri, apa kabar?

    saya Diani yg udh pernah komen diatas Pak….setelah saya pikir2, saya lebih tertarik untuk jadi sosen di universitas Pak dibanding kerja di konsultan seperti El Nusa, dll….Seperti yg Bapa bilang, S1 saya teknik mesin (subjur biomaterial) dan S2 saya teknik industri (subjur ergonomi) tidak linear, jd kayak kecelakaan sejarah..hehe….apa di univ swasta sekarang ada aturan kalo dosen itu harus linear pendidikan S1, S2 dan S3-nya Pak?
    Oh iya, saya juga mau tanya tentang dosen kopertis Pak…dosen kopertis itu seperti apa ya Pak?makasih banyak Pak informasinya=)

    Mbak Diani,
    Sayangnya iya mbak….sudah ada SK Dirjen Dikti yang mengharapkan seorang dosen itu background S1, S2 dan S3 nya “linear”…terutama untuk dosen yang mengejar gelar Profesor…

    Kalau tidak linear juga gpp, universitas bisa aja menerima mbak Diani jadi dosennya, tetapi tentunya jangan pernah berharap kalau mau jadi Profesor (walaupun saya juga masih berpikir kalau S3 mbak Diani di bidang Teknik Industri mungkin masih bisa jadi Profesor di bidang Teknik Industri, karena kan “induk” dari Teknik Industri itu Teknik Mesin. Iya nggak ? Dulu sejarah jurusan Teknik Industri di ITB kan seperti itu yaitu berasal dari jurusan Teknik Mesin)….

    Reply

  168. Ani Ginting
    May 25, 2011 @ 12:07:36

    Dear Pak Tri,

    Saya mau minta pertimbangan sekaligus curhat. Saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan PMA di Jawa Timur. Saya wanita menikah, 27 Tahun, anak mau 2 (skrg lg hamil muda). Pendidikan terakhir S2 Agro-ekologi dgn IPK 3.58. Hehe, terlalu lengkap ya??
    Dari dulu saya bercita2 menjadi dosen, karena saya mengidolakan 2 orang dosen saya waktu S1 dulu, saya ingin jadi seperti mereka yang sangat berjasa bagi saya. Saat ini saya adl seorang senior staff d perusahaan yang saya sebutkan tadi, gaji lumayan besar. Namun masalahnya, saya harus sering travelling ke luar kota dan kadang keluar negeri sehingga meninggalkan anak saya. Saat ini saya hamil anak kedua, saya tidak ingin merasakan sakit yg sama saat anak pertama saya sering sy tinggal dulu.
    Karena alasan itulah sy mempertimbangakan untuk mencoba melamar jadi dosen swasta di kota kecil tempat sy tinggal.

    Yang saya tanyakan: 1. Apakah motivasi saya untuk dapat waktu lebih bersama keluarga itu merupakan hal yang baik untuk jd latar belakang saya menjadi dosen? sementara kl sy tdk hamil lg sy mungkin tidak akan kepikiran jadi dosen, krn posisi sy sekarang cukup “nyaman”.
    2. Kalau sudah diterima jadi dosen swasta, apakah bisa melamar jadi dosen PTN kalau ada kesempatan formasi di PTN?

    Mungkin itu dulu curhatan saya, mohon pertimbangannya. Terima kasih.

    Wassalam,
    Ani

    Mbak Ani,
    Wah…pertanyaannya susah juga ya….(*garuk-garuk kepala)….

    Sebenarnya masalah mbak Ani adalah saat ini mbak Ani hidup enak di dalam kepompong yang namanya “comfort zone”. Banyak orang yang menginginkan kondisinya seperti yang mbak Ani rasakan sekarang : bisa traveling all around the world and in the nation, gaji lumayan gede, fasilitas lumayan lengkap…

    Tapi memang masalah yang dihadapi oleh ibu-ibu di kawasan Asia ini sama saja. Begitu seorang wanita starts the family, maka sang wanita akan merasa berdosa kalau dia sering-sering meninggalkan anaknya yang masih kecil-kecil. Kakak saya yang akhir karirnya cukup lumayan dan bekerja di bank, sekarang setelah pensiun juga sering cerita betapa sengsaranya dulu waktu muda suka meninggalkan anak kecil. Tetapi begitu anaknya umur sudah SD…rasa berdosa itu akan hilang dengan sendirinya…

    Jadi dosen ? Sebaiknya dipikirkan baik-baik lebih dulu. Karena penghidupan sebagai dosen di Indonesia tidak selamanya “summer” terus, tetapi lebih sering dapat “winter” dengan kehidupan yang mencekam : gaji kecil, tanggung jawab besar….walaupun di sisi lain akan mempunyai waktu yang cukup banyak buat keluarga dan mempunyai pekerjaan sebagai dosen yang setiap orang menghormati…

    Gini aja deh. Dalam kasus mbak Ani itu, jika mbak Ani orang Amerika…comfort zone tetap dipertahankan sedangkan bagaimana ngurusin si kecil bisa di-subkontrakkan ke tempat penitipan balita.

    Namun kasus di Asia khususnya Korea, Jepang dan China….si ibu lebih baik keluar dari pekerjaan dan stick ngurusin family dan raising children…karena kehidupan keluarga intinya kan raising children and make them better people than that kedua orang tuanya. Iya nggak mbak ?

    Now, the decision is yours…………..

    Ini mbak, saya jawab pertanyaan mbak satu per satu :

    1. Apakah motivasi saya untuk dapat waktu lebih bersama keluarga itu merupakan hal yang baik untuk jd latar belakang saya menjadi dosen? sementara kl sy tdk hamil lg sy mungkin tidak akan kepikiran jadi dosen, krn posisi sy sekarang cukup “nyaman” ?
    Jawab : Sebenarnya alasan supaya lebih banyak waktu dengan keluarga merupakan alasan yang kurang kuat untuk jadi dosen. Alasan yang lebih kuat mengapa seseorang harus jadi dosen adalah : punya darah guru/dosen (dulu bapak/ibu atau keduanya guru/dosen), punya keinginan yang kuat untuk mengajar (misalnya ingin sharing pengetahuan dengan siswa/mahasiswa yang diajar), dan…..tidak ada pekerjaan lainnya ! Soalnya kalau mengharapkan kehidupan yang “nyaman” bagi seorang dosen dengan pengertian orang biasa tentu sangat sulit karena jadi dosen itu “nyaman di hati, tetapi tidak nyaman di kantong”…:)

    2. Kalau sudah diterima jadi dosen swasta, apakah bisa melamar jadi dosen PTN kalau ada kesempatan formasi di PTN ?
    Jawab : Tentu saja bisa donk mbak. Tetapi saya sarankan kalau mau jadi dosen PTN latar belakang sebelumnya sebagai dosen PTS jangan disebut-sebut. Sebut aja punya pengalaman di perusahaan, atau pabrik, atau perkebunan itu lebih masuk akal buat diterima jadi dosen PTN. Tetapi kalau sebelumnya dosen PTS, maka yang merekrut jadi dosen PTN tentu bertanya-tanya, “Kan dia sudah jadi dosen, walaupun dosen PTS….jadi buat apa dia saya terima jadi dosen PTN ?”….

    Gitu lho mbak…mudah-mudahan berguna untuk pertimbangan mbak Ani selanjutnya….

    Reply

  169. john
    Jun 07, 2011 @ 09:08:58

    wah, saya beruntung sekali menemukan blog bapak.
    saya saat ini mengajar di 2 sekolah tinggi sebagai sampingan. kerja utama saya adalah pegawai Pajak. karena sehari-hari saya bergelut dengan pajak, saya pikir ga ada salahnya ambil sampingan jadi pengajar di sekolah tinggi tersebut mengajar perpajakan yang mulai marak di beberapa perguruan tinggi. nah, waktu masuk pertama kali saya hanya ditawarkan untuk mengajar di tempat itu karena mereka melihat cara saya menjadi pembicara dalam suatu acara sosialisasi. nah, saya tertarik untuk mendapatkan sertifikasi dosen, kira-kira syaratnya apa saja ya pak? apakah melalui tes sertifikasi juga? kalau ada tes sertifikasi, hal apa saja yang dites? terima kasih pak atas masukannya.

    Bang John,
    Wah…saya sendiri malahan belum pernah ambil tes sertifikasi dosen tuh Bang….jadi gimana donk ngejawabnya?

    Di Univ tempat saya ngajar, ambil sertifikasi dosen tidak diharuskan bagi dosen part time seperti saya ini. Yang diwajibkan hanya dosen tetap saja. Makanya saya belum ambil tes sertifikasi dosen…

    Reply

  170. freyya
    Jun 12, 2011 @ 11:17:35

    salam kenal pak.
    saya salah satu mahasiswa lulusan S1 akuntansi, dan baru tamat sebulan yg lalu. saya wanita dan insya allah menikah akhir tahun ini. saya ingin menjadi dosen karena waktunya yang fleksibel (calon suami saya menginginkan saya bekerja dengan waktu yg fleksibel mengingat saya sebagai wanita agar nantinya tetap bisa merawat suami dan anak-anak) dan juga karena ada salah satu dosen saya yg sangat baik dalam mengajar sehingga beliau sangat menginspirasi saya.
    pertanyaan saya:
    1. setau saya untuk menjadi dosen s1, minimal harus s2 tapi saya bingung harus mengambil s2 akuntansi atau manajemen. sebenarnya saya lebih ingin menjadi dosen manajemen karena rasanya lebih mudah saya pahami. apakah manajemen dan akuntansi itu masih bisa dikatakan linier pak?
    2. berdasarkan beberapa comment di atas, sepertinya s2 diluar negri akan lebih dipandang, tapi suami saya tida mengizinkan. apakah jika hanya lulusan s2 PTN di indonesia akan susah diterima jadi dosen pak? karena yg saya lihat d kampus saya, dosen-dosen muda memang banyak yg mengambil s2 diluar tapi dibeasiswai.
    3. apakah saat mengambil s2 nanti saya harus menjadi asisten dosen dulu agar memudahkan jalan saya menjadi dosen. dan setelah saya tamat s2, apakah ipk saya saat s1 juga menjadi pertimbangan?
    4. menurut bapak seberapa besar kemungkinan saya menjadi dosen?
    maaf pertanyaannya terlalu banyak.. mohon sarannya pak.
    terimakasih.. :)

    Mbak Freyya,
    Menurut saya yang terbaik Mbak Freyya tetap mengambil S2 Akuntansi biar bisa dibilang “linier”…

    Sebaiknya pula Thesis S2 mbak Freyya nanti mengambil topik “Information System Audit” karena IS Audit atau IT Audit sekarang lagi “in” dan keahliannya banyak dibutuhkan,apalagi kalau mbak Freyya bisa lulus sertifikasi CISA atau CISM (lihat http://www.isaca.org/ ), bisa juga ngambil sertifikasi CIA (Certified Internal Auditor)..

    Selama ngambil S2 boleh melamar jadi dosen. Tapi JANGAN MELAMAR kalau kita masih S1 dan belum mengambil S2. Alias, mbak Freyya tidak harus nunggu S2 selesai baru melamar…

    Ini sekedar saran. Kalau mau konsultasi lebih lanjut, pls pakai FB msg saja. Add nama saya…

    Reply

  171. fitry
    Jun 12, 2011 @ 21:38:26

    asw Pak Tri

    perkenalkan nama saya fitry, saya fresh graduate pak lulusan S1 biologi FMIPA universitas padjadjaran, saya ingiiin sekali menjadi dosen pak…,dan melanjutkan S2 di IPB, alhamdulillah saya mempunyai pengalaman sebagai asisten dosen selama saya kuliah dulu, saya ingin mencari lowongan kerja menjadi dosen atau asisten dosen dibogor..sambil mengambil s2,

    masalahnya pak, saya bingung, kok ga ada link atau info ttg lowongan sebagai dosen di universitas swasta di bogor…,munkin bapak tau..,apa saya harus mendatangi setiap universitas swasta di bogor? makasih pak….^^

    Mbak Fitry,
    Karena S1 mbak Biologi, terus S2 mbak di IPB ngambil apa ? Apakah ilmunya S1 dan S2 bisa dibilang “linier” ? Soalnya salah satu persyaratan jadi dosen di sebuah jurusan ilmunya harus linier lho mbak…

    Terus…Biologi itu Universitas yang menawarkan jurusan Biologi kayaknya tidak banyak, terutama PTS. Setahu saya hanya UNAS dan USAHID di Jakarta. Kalau di Bogor, Univ. Ibnu Khaldun dan Univ. Pakuan rasanya mereka tidak mempunyai jurusan Biologi…

    Apakah S2 mbak di IPB sudah dimulai ? kalau belum bisa mikir ulang jurusan apa yang harus diambil biar ilmunya “bisa dijual”….terutama kalau tujuan mbak Fitry adalah jadi dosen…

    Sekian mbak…

    Reply

  172. Aditya
    Jun 14, 2011 @ 08:03:31

    Terima Kasih sekali pak tri.. pengalaman bapak sangat luar biasa.. artikel ini sangat bagus & banyak membuka wawasan saya.. Terima kasih telah berbagi pengalaman hidup.. Semoga bpk selalu diberi keberkahan

    Kang Aditya,
    Senang mendengar posting ini berguna…

    Reply

  173. Wulan
    Jun 14, 2011 @ 09:08:47

    Ass,,wr.wb…
    salam kenal Pa Tri…. membaca isi bLog ini sangat menyenangkan sekali untuk saya,,karena menambah banyak wawsan baru tentang profesi sebagai dosen. sebetulnya saya sangat ingin sekali menjadi guru atau dosen, hanya saja setelah lulus saya berfikir ingin memiliki pengalamanbekerja di perusahaan,saya ingin mengetahui bagaimana real nya Ilmu yang sudah saya pelajari selama kuliah setelah itu saya ingin menjadi dosen. dulu s1 saya berasal dari Pend. Akuntansi di salah satu PTN di bandung dan sekarang saya sedang mengambil kuliah s2 untuk jurusan manajemen di PTN bandung juga. yang ingin saya tanyakan pa, apakah saya masih ada kesempatan untuk menjadi dosen pa..?? jika jurusan saya harus linear, menurut bapak baiknya apakah saya mengambil kuliah extention S1 ke jurusan manajemen mengingat saat ini saya kerja di suatu perusahaan jua, karena gelar saya saat ini S.Pd dan ketika lulus s2 saya akan mendapat gelar MM. ato lebih baik saya pindah jurusan S2 kependidikan supaya setelah lulus menjadi M.Pd. sebelumnya terima kasih atas sarannya….

    Teh Wulan,
    Kelihatannya yang perlu diketahui terlebih dahulu, universitas mana dan jurusan apa yang akan menerima Teh Wulan kelak sebagai dosen ? Jurusan Pendidikan, Akuntansi, atau Manajemen ?

    Setelah diketahui, nah baru Teh Wulan “menyelaraskan” atau “melinierkan” pendidikan Teh Wulan. Saran saya, tetap ambil S2 Manajemen dengan gelar MM….nah, kalau ada “masalah” baru ngambil S1 Manajemen-nya…(tapi yang terakhir ini kayaknya agak aneh)..

    Jadi stay atau stick kepada rencana saat ini saja, selesaikan, dan nanti baru dilihat bagaimana things are going….

    Kayaknya gitu deh Teh….

    Reply

  174. Aditya
    Jun 14, 2011 @ 21:26:48

    pak tri sy lulusan dari UPI Bandung prodi: Pendidikan Ilmu Komputer (namanya agak aneh ya pak? hehehe).. prodi baru yg baru dibuka thn 2005 (sy 2006, lulusan ke-dua). Gelar S.Pd. lulusan prodi ini ditujukan untuk menjadi guru TIK di sekolah2. Alhamdulillah setelah wisuda agustus’10, ikut tes cpns guru TIK dan langsung lulus. saingan untuk formasi guru TIK masih sangat kosong hehehe Se-Indonesia UPI yg pertama punya prodi untuk guru TIK ini. Namau ada bbrp pertanyaan yg mohon masukkan dari pak tri:
    1) sy ingin sekali lanjut S2 dan menjadi dosen juga, menurut bpk yg linear dngn prodi s1 sy S2 Ilmu Komputer atau S2 Pendidikan? klo dari segi materi saat kuliah S1 materi kuliahnya sama dengan ilmu komputer/teknik ilmu komputer murni, tp kita dikasih matakuliah pendidikan juga sehingga lulus plus punya Akta IV.

    2) sy skng berusia 23 thn dan berstatus cpns, menurut bpk lebih baik saya langsung S2 skng juga dengan biaya sendiri atau lebih baik fokus bekerja saja dulu +-2 thn baru lanjut S2 bisa dengan biaya sendiri/beasiswa?

    Terima kasih pak

    Mas Aditya,
    Kelihatannya saya masih rancu deh istilah”guru TIK” dan”dosen TIK” krn Mas Aditya bilangnya jadi”guru TIK”…berarti di SMP atau SMA ya ? Nah…melihat karir Mas Aditya ke depannya, maunya jadi guru TIK senior dan nantinya berakhir sbg Kepala Sekolah ataukah “pindah jalur” jadi dosen di PTS ?

    Soalnya jawaban dari kedua pertanyaan di depan berbeda. Kalau anda tetap mau jadi Guru TIK tentu saja sebaiknya mengambil S2 bidang Pendidikan (M.Pd) supaya “linear” dengan S1 anda.Tapi kalau anda ingin jadi Dosen TIK sebaiknya anda ngambil S2 bidang Teknik Informatika (MTI) atau bidang Sistem Informasi (MMSI)…

    Sekian, mudah-mudahan jawaban saya ini ada gunanya…

    Reply

  175. Wulan
    Jun 16, 2011 @ 08:45:32

    Maksudnya pilihan yang terakhir “agak aneh” gimana pa…hehehe… tp sebelumnya terima ksih pa atas sarannya,,saat ini lebih baik saya jalani saja… karena saya juga bersyukur bisa melanjutkan sekolah lebih tinggi,,karena masih banyak orang yang ingin melanjutkan sekolah tapi mereka tidak sanggup. semoga niatan baik ingin berbagi ilmu kelak dapat dilancarkan oleh Yang Maha Kuasa…. :)
    Terima kasih pa… ^.^

    Teh Wulan,
    “Agak aneh” maksudnya Teteh sudah punya gelar S2 Manajemen (MM), tetapi setelah itu “agar linier” terus ngambil S1 Manajemen itu yang saya bilang agak aneh karena jarang sekali orang yang mengambil gelar seperti ini (S2 dulu baru S1)….

    Iya Teh…selamat memburu kesempatan menjadi dosen…mata pencaharian yang mulia lho…

    Reply

    • Andreas
      Jun 22, 2011 @ 10:02:08

      Salam hangat buat Pak Tri, mantan dosen saya hampir 20 tahun y.l :) Websitenya bagus sekali, saya harap Bapak selalu dikaruniai kesehatan sehingga bisa selalu membagi ilmu kepada masyarakat.
      Saya lulusan di univ tempat Pak Tri ngajar (jur MI IPK 3.81) dan baru saja lulus MM UPH IPK 3.88. Sekarang kerja di perush minyak dgn gaji lumayan. Tapi saya tidak bisa menghindari godaan yang sudah ada sejak dulu yaitu jadi dosen. Kira2 peluang saya gimana ya Pak, mengingat saya tidak pernah mengajar di univ (walaupun dulu setelah lulus S1 pernah ditawarin Alm Bu Widya tapi dengan berat hati menolak karena ketidakcocokan “harga” he2..). Mohon masukkannya dong Pak Tri…terimakasih atas advicenya..GBU

      Andreas,
      Hallo Andreas…wah mahasiswa saya sejak 20 tahun yang lalu masih mengingat saya…menyenangkan ! Hehehehe…

      Wah..melihat IPK Andreas waktu S1 dan S2, kayaknya Andreas ini tipe “cream of the cream” nih (top 5% in the class)…

      Kerja di perush minyak ? Good ! Tapi anda kerjanya di kantornya (9-5, Monday-Friday) atau kerja di rig pengeboran minyak (2 weeks on, 2 weeks off) ? Kalau mau jadi dosen tentu bisa, bila anda kerja di kantoran. Tapi kalau anda kerja di rig, wah…bisa ngajarnya selalu off 2 minggu….jadi kayaknya susah…

      Ngelamar jadi dosen S2 Binus aja (lihat http://www.binus.ac.id), di sana ada program S2 jurusan MTI dan MMSI. Sekarang anda lebih ke TI atau SI, lamarlah sesuai interest anda…

      Dan sekarang anda mau jadi dosen, karena tabungan sudah penuh ya…..hahahahaha

      Reply

  176. wahyu
    Jun 26, 2011 @ 22:28:45

    Salam kenal pak Tri, saya menemukan blog bapak dari hasil pencarian di google ‘gaji dosen’ hahaha. Alhasil setelah menyimak dari tkp, sepertinya profesi dosen bener-bener nyaman dan memberikan kecukupan finansial ya pak hehe. Cita-cita saya benernya juga pengen jadi dosen dan peneliti sekaligus punya usaha sampingan pula atau sebagai konsultan di perusahaan hehehe, namun saat ini saya bingung pak milih profesi jadi dosen dan peneliti atau jadi pegawai di perusahaan, terutamanya memang masalah remunerasi di awal yang kecil dan saya tidak pede sebagai dosen, namun dari karakter saya yang cenderung mudah bosan, menyukai ketenangan dan kebebasan, suka meneliti dan menulis, ingin knowledge terus update dan berkembang, ada jiwa sosial dan ibu saya yang juga guru membuat saya lebih prefer sebagai dosen, saya tanya beberapa kawan saya juga tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut, lha saya pun juga bingung, sebelum saya bertanya ke ahli fengshui hehe ada baiknya saya menanyakan ke bapak, barangkali bisa memberikan jawaban yang membantu saya pilih profesi dosen atau jadi karyawan di perusahaan besar hehehehehe! Kualifikasi pendidikan saya S2 di bidang biologi terapan dan S1 saya di bidang teknologi pangan, seandainya jadi dosen saya lebih milih yang teknologi pangan, S2 saya baru saya dapat di april 2011 ini di usia saya yang terbilang masih 1/4 abad.

    Saya sebenarnya pernah bekerja di institusi akademik sebagai asisten peneliti di univ yang terbilang terbaru di kota malang, namun berdasarkan pengalaman dosen di sana dan saya sebagai staf peneliti diharuskan untuk full di kampus pada saat jam kerja pkl 8.00-17.00 dari senin-jumat ya miriplah dengan kerja kantoran/perusahaan (ada penilaian kinerja yang berpengaruh pada gaji jika melanggar peraturan tersebut), selain itu juga remunerasi yang sangat kecil (sedikit di atas umr kota malang) dengan load kerja sangat tinggi, yang kasihan lagi tidak adanya jenjang karir yang jelas terutama bagi para stafnya sebab penentuan promosi ditentukan oleh ‘orang-orang bertujuan tertentu’, sehingga saya putuskan untuk resign. Nah ini juga yang saya takutkan sebab tidak seperti profesi dosen yang memberikan kebebasan bertanggung jawab, sebab banyak univ yang kelihatannya bagus diluar, namun abal-abal, bagaimana tanggapan bapak ttg hal ini, khususnya dalam memilih univ yang bener2 bisa memfasilitasi untuk perkembangan dosen itu sendiri. atas sharingnya saya ucapkan terima kasih banyak pak :) hehehe

    Wahyu,
    Kayaknya jadi dosen itu banyak syaratnya lho, (1) Harus punya “panggilan jiwa” sebagai dosen (2) sama sekali tidak bermotif materi, soalnya kalau bermotif materi, dosen dan tentara itu gajinya kecil (3) jadi dosen untuk jurusan yang “ramai” di PTS macam Ekonomi, IT, Hukum…tapi kalau Biologi dan Teknologi Pangan, berapa jumlah PTS di Malang yang menawarkan 2 program studi ini ? Berapa mahasiswanya ? Kalau cuman 1-2 univ yang nawarin dan 1 jurusan cuman bisa menampung 10-20 orang, saya kira sudah banyak dosennya di sana dan jauh lebih pinter dari kita (S3).

    Jadi saran saya, kerja aja di Perusahaan besar yang gajinya gede. Kalau mau ngajar, ya sosial saja gak perlu dibayar sekalian. Ngajar SD, ngajar anak SLB, lebih banyak pahalanya daripada ngajar anak S1 yang jumlahnya dikit dan gajinya juga dikit.

    Reply

  177. wahyu
    Jun 27, 2011 @ 12:35:16

    hehehe..trimakasih pak Tri atas sarannya, panggilan jiwa tentunya ada dan besar pak, tapi di sisi lain ya masalah materi itu bikin sulit, kalau seandainya saya berkecukupan tentunya mengajar siapapun dan dimanapun tidak dibayar juga tidak apa2.

    Ya, di malang memang dikit pak, makanya kalau memang saya jadi dosen pengennya di tetangganya malang yaitu surabaya hehehe, saya siap juga dimanapun, tapi kembali lagi saya harus ngitung nantinya untuk pemasukan dan pengeluarannya.

    saya sempat berpikir sesuai saran pak Tri, kerja di perusahaan yg gajinya gede terus kalau ngajar ya sampingan aja untuk melampiaskan passion, ga dibayar pun gpp, paling ideal tuh pak, apalagi kalau bisa kerja di perusahaan dan jadi dosen paruh waktu hehehe. Tapi masalahnya kebanyakan perusahaan sih strict dengan rule-nya yang menghendaki untuk full di perusahaan, waktu tersita habis dan ilmunya cuman itu-itu aja. Selain itu ada hal-hal lain yang sangat ingin saya kejar seperti kebebasan berkarya (meneliti atau menulis buku) atau kesempatan studi lagi. Kecuali, memang perusahaan tersebut terbuka untuk memberikan kesempatan saya untuk nyambi, ya saya akan pilih keputusan tersebut, masalahnya saya ga tahu di perusahaan mana yang bisa memberikan kebebasan untuk nyambi itu, jadinya saat ini kelihatannya saya harus memutuskan jalur mana yang harus saya pilih terlebih dahulu, gimana ya pak mohon pencerahannya lagi?

    Mas Wahyu,
    Mas kayaknya belum menangkap “warning” saya deh….ilmunya mas kan Biologi dan Teknologi Pangan. Lha kedua jurusan itu langka sekali PTS yang menawarkan ke-2 program studi itu. Mau anda tarik ke Surabaya atau Jakarta sekalipun, kayaknya sulit ada PTS yang bisa menerima anda. Kalau di Jakarta cuman ada Univ Nasional, Mercu Buana, UPH, ITI dan Univ Sahid yang membuka Biologi atau Pertanian..Itupun jumlah mahasiswanya berapa dan apakah program studi tsb masih ada, kok saya meragukannya….

    Dan, kemauan anda banyak. Mestinya stick aja di satu tujuan. Anda milih karir atau duwit ? Anda milih kepuasan batin atau duwit ? Ingat, itu pertanyaannya “atau” bukan “dan”…soalnya anda kayaknya penginnya dapat dua-duanya.. Lha itu dimana-mana ya tidak ada mas…

    Kalau anda mengajar secara sosial, banyak sarananya. Dari TK, SD, SMP, SMA, SMK mereka membutuhkan orang pinter yang bisa ngajar dan tidak meminta bayaran. Di luar sana udah banyak lho yang pengin mengabdi seperti itu….

    Reply

  178. wahyu
    Jun 27, 2011 @ 13:52:09

    saya nangkep kok ‘warning’ dari bapak, memang dikit pak tapi apa sama sekali saya bisa dikatakan ga ada peluang? idealnya kan emang begitu pak, punya 1-2 pekerjaan sampingan seperti salah satu komen bapak di atas, dosen sebagai pekerjaan sampingan atau dosen yang punya pekerjaan sampingan, saya rasa pun pada waktu awal karir bapak selain bekerja di bppt juga nyambi sebagai dosen paruh waktu. Kalau dibilang kepuasan batin atau duit? saya lebih milih kepuasan batin pak. Mungkin gitu ya pak, terima kasih atas sarannya :)

    Wahyu,
    Tapi anda lupa…saya dulu sewaktu memutuskan ngambil S2, saya sengaja memilih Computer Science (Ilmu Komputer/Teknik Informatika) biar saya bisa leluasa mengajar di PTS…

    Sekali lagi melihat background S1 dan S2 anda, dan kalau benar anda berniat mengajar di PTS….sorry to say kalau peluang anda nyaris mendekati tidak ada…

    Tapi kalau “teaching for fun” atau “teaching for social”…itu sih masih bisa…

    Reply

  179. wahyu
    Jun 27, 2011 @ 16:49:54

    sayangnya saya bukan bapak yang memang talentnya di komputer science, talent saya ya di bidang tersebut, wah berarti kasihan saya dan orang-orang seperti saya pak tidak bisa jadi dosen di bidangnya hehehe, namun terima kasih banyak pak untuk waktu dan diskusinya bisa jadi pertimbangan yang sangat berarti :)

    Mas Wahyu,
    FYI…background saya Statistika Pertanian….kalau saya ambil S2 Pertanian lagi, saya merasa bakal gak ada tempat buat ngajar di PTS…

    Jadi saya akhirnya ambil Computer Science (dibandingkan Operations Research, Systems Engineering, dan Statistics), karena Computer Science waktu itu di Indonesia masih jarang yang bergelar S2. Apalagi waktu saya ke US, saya sudah ngajar di Binus juga…

    Ok, terima kasih untuk diskusinya juga mas… sukses selalu….

    Reply

  180. Rahadian Bisma
    Jun 27, 2011 @ 21:24:29

    Salam Hormat pak tri.

    Saya Bisma dari surabaya pak, saya beruntung sekali menemukan blog bapak yang luar biasa ini. bermula dari googling mengenai lowongan dosen, dan CISA ternyata sepertinya bapak bisa membantu kegalauan saya.

    sama seperti rekan2 diatas saya juga ingin menjadi seorang dosen, selain memang jam kerja yang sepertinya lebih fleksibel meskipun punya beban tanggng jawab besar untuk mencerdaskan orang lain. latar belakang saya adalah lulusan Teknik Informatika (S.Kom) lulus 2010 dan saat ini saya bekerja sebagai programer di salah satu instansi pemerintah kota (outsource) sejak saya belum lulus kuliah (2009) dan ini juga yang saya anggap menjadi faktor besar membuat IP saya jatuh (2.91) meskipun saya bersyukur saya mendapat pengalaman ini apa lagi applikasi yang saya handle adalah applikasi yang penting juga.

    nilai IP ini yang membuat saya khawatir tidak bisa menjadi dosen pak, meskipun saat ini saya juga sedang mendaftar S2 sistem Informasi di ITS (semoga diterima ya pak, pengumuman nya bulan ini :D ) karena setau saya syarat menjadi dosen juga lulusan S2, apakah benar?? oh iya apakah jurusan yang saya ambil benar pak?? pertimbangan saya mengambil SI karena saya memang ingin menjadi seorang Auditor IT. dan memang sedikit jenuh dengan coding2.

    dan apakah untuk menjadi dosen diperlukan sebuah pengalaman di bidang mengajar atau menjadi asisten dosen atau yang lain?? karena saya tidak punya pengalaman itu. yang ada pengalaman teknis semua. 1 tahun menjadi teknisi jaringan di kampus tempat saya kuliah dan berpaling jadi programer di tempat kerja saat ini hingga saat ini.

    oh iya mungkin pak tri mempunyai saran untuk menjadi seorang auditor IT. karena memang itu juga salah satu impian pekerjaan saya.

    terimakasih pak, benar-benar terimakasih dan mohon saran dan masukan.

    Mas Rahadian,
    Wah…senang juga Mas Rahadian bisa menjadi tamu saya di Blog ini. Blog saya ini sebenarnya isinya barang sepele semua…mungkin salah satu “kelebihan” dari blog ini adalah kejujuran yang saya tawarkan kepada pembaca. Dalam arti kalau tidak mungkin ya saya bilang tidak mungkin, kalau mungkin ya saya bilang mungkin…

    Kayaknya IPK tidak diutamakan (bukan alasan utama) seseorang diterima sebagai dosen PTS. Tetapi gelar S2 penting untuk mengajar di S1 soalnya di berkas lamaran yang setumpuk di meja Dekan atau Ketua Jurusan, hampir semua bergelar S2 bahkan ada beberapa yang bergelar S3 dari dalam maupun luar negeri. Jadi pelamar dosen yang hanya punya S1 maaf saja, berkas anda tidak dibaca sama sekali !

    Terus pengalaman kerja itu penting. Yang lebih penting lagi pengalaman kerja itu harus dituliskan dalam sebuah CV (curriculum vitae) yang ciamik. Kalau menurut ajaran orang Amerika, jangan segan-segan menonjolkan diri..istilahnya “sell yourself”. Jadi pengalaman sebagai programmer (coder), atau penset-up jaringan, masukkan aja semua ke CV. Contoh CV yang baik banyak kok di internet. Tinggal ngikutin aja…

    Mengambil S2 SI gak apa-apa, mengingat kalau sudah melamar kerja biasanya tidak dilihat apakah S2 nya MMSI ataukah MTI karena yang lebih diutamakan “Anda bisa apa ?”. “Bisa ngajar mata kuliah X ini ?” “Bisa ngajar mata kuliah Y itu ?”. Kalau ya berani jawabannya, ya anda diterima…

    Sebenarnya menurut saya pribadi, kalau mau dapat gelar CISA tidak harus berlatar belakang S2 SI. Soalnya yang ngambil ujian CISA itu bisa S1 Akuntansi, S1 Teknik Informatika, dan tentu saja S2 atau S3 berbagai jurusan. Syaratnya hanya satu, yaitu Sarjana (S1). Karena sifat ujian CISA yang sulit (saya menyebutnya “sulit sekali”) maka tidak ada jaminan S2 SI bisa sekali coba langsung lulus. Ada S2 lulusan univ terkenal di USA yang jurusannya deket dengan Comp. Science harus mengulang 6 kali baru lulus CISA !

    Demikian Rahadian yang bisa saya sarankan…

    Reply

  181. Aini
    Jul 08, 2011 @ 10:08:09

    Assalamualaikum Pak Tri,
    Semoga Pak Tri selalu diberi kesehatan oleh Allah SWT.

    Mohon info pak, apakah untuk melamar menjadi dosen paling cocok waktunya kapan ya ? apakah kalau melamar di bulan juli ini sudah terlambat ? Terimakasih.

    Wassalam

    Mbak Aini,
    Permulaan semester ganjil kan bulan September ya mbak, lalu semester genap dimulai bulan Februari…

    Kira-kira 2 bulan sebelumnya yaitu bulan Juli dan bulan Desember itulah waktu terbaik untuk melamar jadi dosen mbak…

    Tapi tunggu pengumuman dulu mbak kalau di suatu universitas, di suatu jurusan ada lowongan dosen. Biasanya lewat website atau lewat koran nasional (KOMPAS) pengumumannya…

    Selamat hunting jadi dosen mbak….semoga sukses

    Reply

  182. Adi
    Jul 09, 2011 @ 11:32:11

    Halo, Pak. Saya mau tanya sebenarnya yang dimaksud linier S1,S2, dan S3 untuk menjadi dosen itu apa ya? Apakah linier berdasarkan jurusan/program studi, atau berdasarkan fakultas, atau berdasarkan kelompok ilmu.? Kalo saya S1 dan S2-nya Ilmu Ekonomi dan studi pembangunan, lalu S3-nya Manajemen, apakah itu linier atau tidak linier? Terima kasih, Pak

    Mas Adi,
    Gak tau….linear atau tidak itu yang ngatur kalau gak salah SK Dirjen Dikti nomor sekian tahun sekian…saya lupa (apalagi sekarang saya tidak menjabat lg sebagai manajemen)… Tapi SK itu ada, dan akan diikuti…

    Sebenarnya linear atau tidak itu hanya berguna jika :
    1. Melamar ke suatu jurusan (mis. mas melamar ke Ekonomi Manajemen, maka lebih disukai dan kansnya lebih besar untuk diterima kalau S1 Manajemen dan S2 Manajemen)
    2. Kalau mau mendapat Gelar Profesor di bidang tertentu (Prof Manajemen, tentunya S1, S2 dan S3 lebih disukai kalau ketiganya linear yaitu Manajemen)

    BTW, menurut saya ini hanya untuk menyulitkan orang2 untuk meraih gelar Profesor saja….supaya semakin sedikit jumlah profesornya. Tapi kalau di universitas2 Amerika sana….kalau univ mau mengangkat seseorang jadi Profesor…ia tidak harus linear S1, S2 dan S3nya. Kalau univ mau, profesor dapet. Kira-kira begitu rule-nya…

    Reply

  183. Agoes Kusnanto
    Jul 27, 2011 @ 17:50:14

    Halo Pak Tri, salam kenal ya.
    Begini pak, Sy adlh seorang PNS di jkt yg br pertama buka Blog Bapak.
    Bicara mengenai gaji dosen di atas, sy jadi ingat curhat temen saya mengenai keinginannya menjadi dosen lagi (inginnya sih PTN di jkt ). Alkisah cerita, temenku ini adlah PNS yang cukup mapan di kota metropolitan. dan dia selain PNS jg punya usaha sampingan yang lumayan (meskipun hanya kecil-kecilan). Seiring dng waktu, ternyata beliau ini ingin balik jadi dosen lagi krn instansinya skrg sdng ekspansi ke daerah. Dia tidak ingin keluar daerah krn enggan pisah keluarga. Btw. kalau pak Tri ada info ttg cara pindah dari PNS non dosen menjadi PNS dosen, tolong dikasih ya pak. O ya pak my sobat sy ini sblm jadi PNS pernah jadi dosen swasta di Univ swasta jkt dng jabatan Lektor. Oke ya pak Tri sy tunggu info dan advisnya

    Mas Agoes,
    Saya tidak tahu persis prosedurnya PNS non-dosen menjadi PNS dosen gimana tuh Mas. Tp mestinya ya bisa ditanyakan ke Kemendiknas, c.q. Dirjen Dikti di bilangan Senayan sana (sebelahnya Ratu Plaza). Siapa tahu di sana sudah ada Sisop ubah PNS non dosen menjadi PNS dosen..

    Kalau teman anda itu ingin jadi dosen..ya dosen PTS saja, apalagi pangkatnya sudah Lektor. Tinggal proses menghidupkan lg jabatan Lektornya…

    Reply

  184. sintawini
    Aug 06, 2011 @ 13:06:59

    pak cuma mau nanya dikit aja nih
    usia saya saat ini ampir 36th
    saya bekerja sebagai asisten sosen khususnya di pratikum
    background S1 (sedang menempuh S2) saat ini
    pekerjaan utama di swasta sih
    punya saran apa yg ambil setelah saya selesai S2?
    stop di swasta dan lanjut sebagai dosen ato apa ya
    kerja di swasta saat ini ga jelek2 amat lah tapi kalo pun lulus s2 saya jg tidak bisa berharap peningkatan yg baik di sektor gaji
    memulai lagi cari pekerjaan baru di swasta juga rada kurang pede di usia 36th an :)
    tks

    Dear mbak Sinta,
    Lha…sebenarnya yang mbak cari di pekerjaan itu apa sebenarnya ? Karir, uang, apa kepuasan diri ? Itu dulu yang harus dijawab oleh mbak sendiri, baru nantinya ditentukan apa sebaiknya pekerjaan mbak…

    Kalau karir dan uang yang dicari, kayaknya bekerja di perusahaan swastalah tempatnya. Yang penting karir bisa nanjak dan penghasilan juga cukup – minimal cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari, membuat mbak mandiri, dan tidak menyusahkan orang lain…

    Tapi kalo kepuasan batin yang mbak cari, mungkin jadi dosen ada baiknya. Tapi jadi guru atau dosen itu harus dari panggilan jiwa yang paling dalam, atau punya darah guru (ortu guru atau dosen). Kalo nggak, wah kayaknya bakal susah juga karena panggilan jiwa gak ada…nanti yang ada cuman rasa kecewa…

    Sambil mbak menyelesaikan S2, sambil dipikirkan dulu deh pertanyaan saya di atas. Syukur pas lulus S2, mbak juga sudah menemukan jawaban saya di atas, sehingga enak untuk melangkah selanjutnya…

    Demikian, good luck mbak….umur tidak ada artinya kok kalo mau jadi dosen….better late than never….

    Salam

    Reply

  185. sintawini
    Aug 07, 2011 @ 14:33:54

    saya sudah lebih dari 5 thn mengajar sebagai asisten dosen pak
    tapi kalo mau jujur saya kan money oriented juga dong
    lha ngambil s2 nya juga mahal meskipun PTN (habis sekitar 70jt hanya tuk biaya kuliah saja)
    pertimbangannya begini pak
    1. kalo tetap bekerja di perush yg sekarang, gaji tidak akan mengalami perubahan yg signifikan (mungkin hanya ada peningkatan 10%) karena saya tahu pasti bahwa perush saya sebenarnya tidak membutuhkan sarjana lulusan s2 :)
    2. saya mengajar pratikum akuntansi per hari ini dapat honor 80k/sks (relatif besar krn PTS nya punya nama besar )
    3. kalo dari segi pendapatan mana yg lebih baik? dosen tetap atau paruh waktu saja (saya lulusan s1 akuntansi dan saat ini sedang menyelesaikan tesis di maksi).
    4. kalo keinginnan pribadi pribadi sih menjadi dosen tp juga diimbangi dengan honor yg cukup (semua org juga maunya begitu kan :) )
    5. sebenarnya kalo mau melamar kerja di perush swasta di usia saya yg 36thn persaingannya berat tidak pak? mengingat pengalaman kerja saya sebelumnya bukan di perush2 besar

    terima kasih banget pak buat sharing dan reply nya

    Mbak Sinta,
    Kayaknya walaupun mbak ngambil S2 dari MAKSI, untuk mendapatkan pekerjaan baru di perusahaan besar di umur 36 tahun memang agak susah. Kecuali mbak dapat SERTIFIKAT semacam CIA (Certified Internal Auditor) atau CISA (Certified Information System Auditor), mungkin masih bisa melamar ke Big Four (Price WaterhouseCoopers, Ernst & Young, KPMG, Delloite).

    Ngajar kalao dapat S2 juga agak lumayan ningkatnya. Kalo gak salah standarnya S2 dengan jenjang kepangkatan Lektor Kepala dapat Rp 150.000 per sks (saya pernah mengalaminya waktu saya ngajar di Universitas X)…

    Tapi sebenarnya saya masih percaya, kerja tetap aja di Perusahaan Swasta. Lalu ngajar hanya sebagai hobby dan sambilan. Walau swasta itu gak perlu S2, tapi tetap ada nilai tambahnya…..lulusan S2 lebih dianggap “orang” daripada hanya S1….

    Reply

  186. Tandhy
    Aug 18, 2011 @ 23:33:07

    Salam kenal pak Tri.
    saya mampir kemari karena lagi google “gaji dosen”,hehe..
    sebelumnya,ijinkan saya bercerita dulu ya pak,hehe..

    dosen bukanlah profesi yang ada dalam keluarga besar kami,melainkan pns,hehe..
    saya yang dulu, ketika lulus, anti-pns, lebih memilih swasta, yang dulu niatan saya adalah duit sebagai first priority.

    saya lulusan ekstensi its informatika, kemudian blum lulus, sudah diterima di pma, bidang telco milik cina(tetep sih gajinya kecil di antara pma lainnya :) ), yang sudah nation-wide, saya juga tau gaji di telco sangat menggiurkan, tapi setelah 2,5 tahun saya putuskan untuk resign.
    alasannya cukup lucu, yaitu saya ingin spend waktu lebih untuk keluarga, karena bekerja di telco(karena masih staff kali ya,hehe..) menuntut standby 7×24 jam, kan ga mungkin juga klo network jatuh, kita pura2 gatau pak,hehe..uda gitu di jakarta, berangkat dari rmh jam 6.30, pulang jam 21. belum lagi klo kerja tengah malam, berangkat jam 22, pulang jam 5 pagi.

    i said to my self, “ini kah yang kamu inginkan?cari duit di jakarta, tapi kerja rodi, belum lagi tua di jalan..”.itu alasan lain resign pak.

    saya akhirnya putuskan freelance web designer, usaha kecil2an.
    kemudian memberanikan diri untuk bermain komoditi/trading, dengan modal pas2an, yang sempat kembali modal, tapi skrg sudah rugi banyak,hehe..

    ingin kuliah lagi di SBM ITB jurusan investasi pasar modal, supaya bisa mempelajari pasar modal dan mengurangi kerugian,hehe..

    terpikir jadi dosen adalah supaya ada pekerjaan di pagi-siang hari, karena saya aktifitas trading malam hari, supaya otak saya “tidak nganggur” dan bisa membantu mencerdaskan bangsa.
    jadi dosen juga ada besar kemungkinan dapat beasiswa s2 bahkan s3.

    cuman cukup miris juga setelah cari tahu gaji dosen, sementara tugasnya berat,hehe..

    tadinya sih saya mau tanya tentang gaji dosen, tapi terjawab sudah di web ini, jadinya saya share aja pak unek2 saya.

    saya kepikiran mau ambil s2 semantic web lagi pak, karena s1 saya tentang semantic web. dulu saya sempat kenalan dg profesor di US yang kebetulan nawarin beasiswa semantic, tapi saya ga dapet karena ga terlalu pintar,hehe..

    saya kebetulan lamar jadi dosen politeknik di kep. riau, tinggal nunggu hasil psikotes saja dan keputusan saya terima ato tidak gaji 2juta/bln..
    padahal saya berharap paling engga dapat 4 juta/bln..miris ya pak..

    memang dosen bukan cita2 saya pak, tapi tempat dimana korupsi paling engga bisa ditekan dan ga kerja rodi dan ada spare time, juga membantu mencerdaskan bangsa,akhirnya saya pilih ini..

    bagaimana menurut pak Tri?hehe..

    Mas Tandhy,
    Wah….penjelasan mas meloncat-loncat….sbg tanda banyak cita-cita…hahaha….

    Belajar main saham tidak harus ngambil pendidikan formal, mis seperti di SBM ITB. Saya pernah dengerin radio di Jakarta sambil nyetir mobil (lupa nama radionya)….ada satu pembicara (saya juga lupa namanya) yang sering memberi pelatihan bagaimana caranya bermain saham. Dia ini orang Indonesia dan pernah bekerja di salah satu investment bank di Tanjong Pagar, Singapore (Lehman Brothers ?)…..Menurut saya, lebih baik dengerin seminar Bapak ini, karena ada workshop-nya juga….jadi kita pura-pura disuruh main saham (dengan duwit kertas) lalu diamati siapa yang earning-nya paling tinggi ?

    Cuman selintas saya merasa tidak ada garisnya yang jelas antara jadi dosen Informatika dengan bermain saham. Kecuali cita-citanya ngambil S2 atau S3 di School of Business, mengambil minor : Finance dan atau Information Systems…

    Terus buat apa pula main web sebagai web designer ? Kalau kesukaannya main saham, paling bisanya cuman bikin web buat salah satu emiten (yang most likely setiap emiten sudah punya web itu)…

    Jadi, fokus, menyendiri beberapa hari di tempat sepi, dengarkan kata hati….dan putuskan apa yang akan diambil…..setelah putusan diambil, “berdamailah dengan diri sendiri” alias “nerimo”…pasti deh anda akan bahagia…

    Reply

  187. Tonny Sabastian
    Aug 21, 2011 @ 18:05:40

    Hai Pak Tri,

    Salam kenal dan semoga dalam keadaan sehat selalu.

    Perkenalkan saya tonny, sekarang sudah lulus dari Teknik Informatika Gunadarma (2007) dan Magister Ilmu Komputer UI (2010) . Both with cum laude, thx God.

    Saya sudah pernah bekerja sekitar 2 tahun di sebuah software house di Jakarta sebagai System Engineer setelah lulus S1 dan kemudian resign karena program pasca yang semakin sibuk.

    Setelah pasca saya kembali bekerja di perusahaan swasta, only 10months, have a big fight with boss because of the top level never allowed the engineering to do some “innovation work – R&D” dan hanya berfokus pada selling and money dengan “pengeluaran sekecil – kecilnya dan pengembalian invest secepat – cepatnya”. Padahal jabatan saya adalah Head of Sysadmin merangkap System R&D .

    Saya memiliki sebuah impian kecil agar bisa membawa “recent technology” (from published paper for example) untuk keep improve running system, atau bahkan membuat produk sendiri di bidang yg dikuasai yakni network engineering (perhaps one day indonesia can use their own network devices system and forget those cisco and juniper and cope up with next generation devices by our own, we can do it with R&D in open source software). To do that saya berpikir bahwa pekerjaan saya harus berpotongan di dunia pendidikan dan juga pengembangan terkini (kampus). Untuk membawa misi ini ke mahasiswa, mendekatkan mereka dengan apa yang dibutuhkan lapangan, and what we can do with all these bunch of papers drpd menumpuk di jurnal atau prosiding saja. Menjadi dosen ataupun pegawai penelitian di kampus adalah salah satu passion yang ingin dicoba.

    Kedua orang tua saya ingin anaknya bergaji besar, get married ( calon saja belum karena terlalu geeks kali yah ^-^), have a house and so .. so…makanya mereka mendorong saya untuk bekerja kembali at least di swasta with high salary

    Saya tertarik dengan dunia pengembangan dan engineering sejak kecil, dan apalagi dipicu ketika saya bekerja sambil menyelesaikan tesis di lembaga pengembangan sistem informasi di UI (the salary so…so and sdm suck but the work is fun), lots of equipments (in term of servers) and lots of we can do with those system.

    Sekarang, saya sudah apply sebagai dosen kembali di universitas almamater s1 saya, dan besok dipanggil untuk training pengajaran. Dan dalam waktu yang bersamaan pusat pengembangan sistem informasi di almamater s2 saya memanggil untuk interview utk pegawai tetap……both on the same time…..I think to take them both jika mengizinkan (^-^)….have passion to share the spirit with students but also in the need of those devel facilities dari almamater pasca (sekaligus mungkin bisa teach juga , walau hanya asdos)…bagaimana menurut bapak ttg hal ini?

    Saya juga sedang proses membentuk sebuah startup company bersama teman-teman,bergerak di bidang semantic web dan mungkin bisa menjadi tempat penelitian atau KP mahasiswa nantinya…but we got delayed again by the investor and in process of searching new one…hal ini juga yang mendorong both of my parents mengatakan … “sudah kamu mencari kerja di swasta saja sana…cari gaji yang besar .. sigggh”……….

    Reply

  188. Tonny Sabastian
    Aug 21, 2011 @ 18:06:07

    Hai Pak Tri,

    Salam kenal dan semoga dalam keadaan sehat selalu.

    Perkenalkan saya tonny, sekarang sudah lulus dari Teknik Informatika Gunadarma (2007) dan Magister Ilmu Komputer UI (2010) . Both with cum laude, thx God.

    Saya sudah pernah bekerja sekitar 2 tahun di sebuah software house di Jakarta sebagai System Engineer setelah lulus S1 dan kemudian resign karena program pasca yang semakin sibuk.

    Setelah pasca saya kembali bekerja di perusahaan swasta, only 10months, have a big fight with boss because of the top level never allowed the engineering to do some “innovation work – R&D” dan hanya berfokus pada selling and money dengan “pengeluaran sekecil – kecilnya dan pengembalian invest secepat – cepatnya”. Padahal jabatan saya adalah Head of Sysadmin merangkap System R&D .

    Saya memiliki sebuah impian kecil agar bisa membawa “recent technology” (from published paper for example) untuk keep improve running system, atau bahkan membuat produk sendiri di bidang yg dikuasai yakni network engineering (perhaps one day indonesia can use their own network devices system and forget those cisco and juniper and cope up with next generation devices by our own, we can do it with R&D in open source software). To do that saya berpikir bahwa pekerjaan saya harus berpotongan di dunia pendidikan dan juga pengembangan terkini (kampus). Untuk membawa misi ini ke mahasiswa, mendekatkan mereka dengan apa yang dibutuhkan lapangan, and what we can do with all these bunch of papers drpd menumpuk di jurnal atau prosiding saja. Menjadi dosen ataupun pegawai penelitian di kampus adalah salah satu passion yang ingin dicoba.

    Kedua orang tua saya ingin anaknya bergaji besar, get married ( calon saja belum karena terlalu geeks kali yah ^-^), have a house and so .. so…makanya mereka mendorong saya untuk bekerja kembali at least di swasta with high salary

    Saya tertarik dengan dunia pengembangan dan engineering sejak kecil, dan apalagi dipicu ketika saya bekerja sambil menyelesaikan tesis di lembaga pengembangan sistem informasi di UI (the salary so…so and sdm suck but the work is fun), lots of equipments (in term of servers) and lots of we can do with those system.

    Sekarang, saya sudah apply sebagai dosen kembali di universitas almamater s1 saya, dan besok dipanggil untuk training pengajaran. Dan dalam waktu yang bersamaan pusat pengembangan sistem informasi di almamater s2 saya memanggil untuk interview utk pegawai tetap……both on the same time…..I think to take them both jika mengizinkan (^-^)….have passion to share the spirit with students but also in the need of those devel facilities dari almamater pasca (sekaligus mungkin bisa teach juga , walau hanya asdos)…bagaimana menurut bapak ttg hal ini?

    Saya juga sedang proses membentuk sebuah startup company bersama teman-teman,bergerak di bidang semantic web dan mungkin bisa menjadi tempat penelitian atau KP mahasiswa nantinya…but we got delayed again by the investor and in process of searching new one…hal ini juga yang mendorong both of my parents mengatakan … “sudah kamu mencari kerja di swasta saja sana…cari gaji yang besar .. sigggh”……….

    Wah maaf di ujung….postingnya jadi terlalu panjang :D

    Mas Tonny,
    Wah…pengalaman anda menarik juga….tetapi juga seperti penanya-penanya yang lain…kemauan anda terlalu banyak, diverse dan tidak fokus. Makanya ada kesan bahwa cita-cita anda belum tercapai. Termasuk cita-cita cari isteri….hehehe….ya lepaskan dulu predikat geeks atau fag dan come back to be straight…hehehe. Mohon maaf, anda orang Minang ya ? Kan kalau orang Minang katanya dapet isterinya lebih mudah karena cowok tuh “dicari dan dibeli” ama calon isteri plus calon mertua….hahaha

    Prinsipnya sebenarnya gini : ambil pekerjaan yang paling stabil sampai masa tua nanti walau gajinya kecil, tetapi benefitnya termasuk benefit kesehatannya besar, misalnya jadi PNS atau pegawai BUMN. Baru setelah itu ambil pekerjaan kedua untuk memuaskan passion anda, syukur-syukur pay nya lumayan banyak…

    Ini pilihan bagi anda untuk pekerjaan tetap : a) Dosen PTN b) Pegawai BUMN c) PNS d) Pegawai Swasta seperti yang ditawarkan ke anda saat ini, tetapi anda harus tambah sendiri beli Asuransi Jiwa/Asuransi Pendidikan untuk anak2 anda nanti…

    Pilihan kedua (boleh diambil lebih dari satu) : a) Dosen PTS b) Konsultan bidang IT c) Pengusaha bidang IT…

    Dosen PTS sudah jelas. Konsultan IT, saya sarankan ambil ERP (Enterprise Resource Planning) tapi yang berbasis Open Source, karena ERP banyak peminatnya dan pasarnya Milyar kalau nggak Trilyun, sedangkan Open Source murah (atau sedikit $ nya) dan bisa dikembangkan sendiri.

    Pengusaha bidang IT anda bisa jualan Semantic Web seperti yang anda ceritakan. Bikin Web yang professional memerlukan tidak hanya orang IT, tapi juga orang DKV (Desain Komunikasi Visual) bahkan orang Markom (Marketing Communication). Web-web yang bagus banyak dan akan banyak lagi diperlukan di Indonesia ini…

    Istilah saya pekerjaan yang banyak macam gini adalah….kapal keruk….karena apa saja mau dikeruk. Atau perusahaan Palugada (apa yang kau mau gua ada) karena bisa sangat flexible terhadap tuntutan customer maunya seperti apa.

    Kenapa anda perlu pekerjaan banyak seperti ini ? Lha karena anda juga banyak cita-cita yang perlu dicapai…

    Sekian saran sekilas dari saya….mudah-mudahan bisa menambah bahan untuk brainstorming di antara anda sendiri…..hahahaha

    Good luck !

    Reply

  189. Tandhy
    Aug 21, 2011 @ 22:12:42

    Pak Tri,
    memang ternyata saya terlalu banyak mau ya,hehe..
    tidak fokus 1 hal saja ya..

    itulah pak..
    saham saya anggap sbg side income, tapi karena butuh analisa,jadi saya kira tidak bisa dikerjakan sembarangan..

    rencana s2 saya pun sebenernya tidak jelas, tapi yang pasti yang mendukung dan bermanfaat saja pak.

    memang betul juga pak, sepertinya perlu menyendiri pak.
    baik pak.
    i will get back to you soon pak :)
    terima kasih banyak atas sarannya

    Ok…

    Reply

  190. imran
    Sep 03, 2011 @ 12:09:02

    bagaimana ya jika seorang PNS daerah dengan jabatan strutural ingin menjadi dosen PTS, gmana statusnya
    Apa bisa juga ngajar di PTN, trus statusnya sebagai dosen apa ya…
    Apa bisa selain ngajar juga mendapat jabatan struktural di PTS….

    Mas Imran,
    Menurut peraturan pemerintah (SK Mendiknas/Dirjen Dikti) terbaru, seorang PNS tidak boleh mengajar di PTS sebagai dosen tetap. Kalau sebagai dosen tidak tetap, tentunya bisa tapi berdasarkan kebutuhan PTS yang bersangkutan (setiap PTS tentu beda kebutuhannya)…

    Seorang PNS bisa saja mengajar di PTN, kalau tenaganya dibutuhkan oleh PTN yang bersangkutan (tapi jujur, jarang sekali PTN “mengambil” dosen luar, karena dosen PTN mereka sendiri sudah banyak sekali)…

    Reply

  191. Jamesco
    Sep 10, 2011 @ 22:33:03

    Pak Tri, wah sharing dan tanya jawabnya sangat mencerahkan.
    Prkenalkan saya lulusan 2010 UGM jur manajemen subjur keuangan (lulusan trbaik 3 fakultas). Saat ini sy bekerja dengan bapak sy dibidang properti dan garmen (masih skala kecil).

    Sy sejak kuliah ingin ambil master di luar negeri di uni yg cukup prestisius. Saat ini bayangan saya: 1.bidang yang sesuai minat, 2.tuition masuk akal, 3.bisa uni prestisius tp kemungkinan diterima lumayan yaitu program Msc/Mphil di Real Estate Finance (cambridge, LSE, NUS).

    Nah tp setelah lulus, gelar/ ilmu master sy agaknya jd kedodoran kalau sy hanya ngerjakan bisnis sy dg skala pada waktu lulus itu. Maka sy berpikir untuk nyambi jd dosen.

    Pertanyaan saya:
    1. Kalau jadi dosen, apa sy masih bisa mengajar di department manajemen/bisnis? mengingat master REF di uni-uni tsbt ditawarkan di department geography, landecon, real estate, dan/wlwpun di silabusnya isinya matkul sprti real estate valuation, macroeconomics, RE accounting.
    2. Selain jadi dosen profesi apa lagi yang cocok dg gelar master itu? juga bisa dkerjakan sambil ngurus bisnis.
    3. Apa sebaiknya sy ambil PhD juga? sberapa pentingnya buat bisnis sy ke depan Pak?

    Tambahan:
    Sy cukup suka dunia akademis, kuliah, ngajar, tp kurang suka bikin artikel penelitian.

    Terimakasih banyak Pak Tri.
    Salam

    Mas Jamesco,
    Sebenarnya kalau lihat IPK waktu Mas Jamesco lulus dari UGM, kalau saya jadi anda, saya akan cari beasiswa kemana saja (Jerman, Jepang) supaya sebelum umur 30 tahun sudah lulus S3. Soalnya sayang IPK anda tinggi kok cuman dibuat dagang…

    Ini jawaban pertanyaan2 anda :
    1. Saya kok meragukan, sebaiknya anda mengambil jurusan Finance di School of Business, bukan di Fakultas/Jurusan yang anda sebutkan sebelumnya.
    2. Sebenarnya jawabannya jadi Konsultan atau jadi Peneliti, tapi anda sudah mengaku tidak suka meneliti.
    3. Sebaiknya anda ambil Ph.D seperti Prolog saya sebelumnya, minimal untuk membuktikan bahwa apakah anda sepintar itu ? Kalau benar pintar, buktikan dong kalau sebelum umur 30 tahun anda sudah lulus Ph.D ! Apa ada hubungannya dengan bisnis anda nanti ? Menurut saya ada, walaupun kaitannya tidak terlalu jelas…

    Reply

  192. Julia
    Oct 02, 2011 @ 09:48:23

    selamat pagi P’Tri,
    Salam kenal,
    Sjak saya lulus S1 hingga kini sedang menempuh jenjang pendidikan S3, pekerjaan saya disekitar kampus… menjadi tenaga pangajar di PTS di kota Bandung.

    Tetapi melihat rate honor persks yang bapak ceritakan (PTS Ternama di Jkt), di tempat saya mengajar dan rata2 ditempat lainnya, honor yang kami terima masih jauuuuuuuuh dari jumlah itu, antara Rp16.000-Rp25.000/sks tanpa uang transport untuk dosen S2 dengan jabatan akademik IIIc……,
    Bahkan di tempat yang saya tahu dengan jumlah mahasiswanya begitu banyak… dosen tetapnya tidak mendapatkan “tunjangan sebagai ke-dosen tetap”annya, hanya dibayar sesuai dengan jumlah sks yang dijalankan nya. Kl dihubungkan dengan statement “ngajar saja seenaknya”, tidak bisa dilakukan karena, disetiap ruangan terdapat CCTV, dan setiap keterlambatan permenitnya dipotong honor 40-100%…. (gileee…. ya..)

    Tapi bagi saya pribadi, saya tetap menerimanya, karena ini merupakan pilihan hidup yang saya ambil sendiri dan menganggap bagian dari pengabdian, serta tetap menikmati keasyikan tersendiri ketika sudah ada didepan kelas dan berbaur dengan para peserta didik (ada kebanggaan dan kenikmatan tersendiri, cheilee…..)

    Tetep ikhlas dann semangat ya para dosen yang bernasib sama dengan saya, karena dengan ikhlas dan semangatlah semua menjadi terasa ringan…..

    Salam untuk semua,
    Terima kasih P’Tri, Wassalam…..

    Mbak Julia,
    Wah…menyenangkan sekali ada seseorang di luar sana yang tidak terlalu mementingkan “reward” tapi lebih mengutamakan “pengabdian” karena semua itu intinya adalah mendapatkan “happiness” karena telah berbuat sesuatu untuk kepentingan yang lebih besar daripada kita sendiri (“think bigger than yourself”)…. Saya jadi mikir, apakah mbak Julia ini putrinya Bapak-Ibu saya juga ? Kalaupun tidak, tidak apa-apa. Yang saya yakin, mbak Julia dibesarkan di lingkungan keluarga yang sangat sehat dan berbahagia…

    Mmmm….kelihatannya di kehidupan kita ini berlaku “bersakit-sakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”. Atau padanan bahasa Inggrisnya barangkali “who has the last laugh, he/she laughs longer” (siapa yang dapat giliran tertawa yang terakhir, dialah orang yang tertawanya paling panjang)… Kalau mendengar cerita mbak Julia tadi, honor per sks (dan tentunya honor per bulan) minim, namun kita tetap setia dengan profesi kita sebagai dosen. Walaupun yang mbak Julia terima sekarang hanya sekitar 1/6 dari yang saya terima saat ini (di sebuah PTS di Jakarta)…

    Tetapi mengingat mbak Julia sedang menempuh S3, siapa tahu “keprihatinan” dan sikap “refrain” (menahan diri) yang mbak Julia tunjukkan suatu saat akan terbayar….kalau S3 sudah selesai, barangkali kesempatan-kesempatan lainnya akan terbuka dan tentu saja akan mendatangkan rejeki yang barangkali lebih besar daripada yang kita terima sebagai dosen saja. Mudah-mudahan seperti itu…

    Kalaupun tidak, “don’t crack under pressure”…orang seperti mbak Julia (dan barangkali, saya) yang terus bekerja dan mengabdi tanpa menghitung berapa “reward” yang akan terima, semakin hari semakin langka di tengah-tengah maraknya hedonisme yang menyebar luas saat ini di Indonesia. “Kelangkaan” yang membuat kita sedikit bangga, minimal kita bangga dengan diri kita sendiri….

    Demikian mbak Julia, terima kasih atas komentarnya…

    Reply

  193. Elang
    Oct 10, 2011 @ 16:22:28

    Selamat sore Pak Tri.

    Salam kenal
    Saya mohon nasihat dari Pak Tri.
    Saya lulusan salah satu perguruan tinggi negeri di Jogja, jur Tek Fisika, prodi Tek Nuklir, umur sekarang 26 th.
    Saya punya pengalaman kerja 1 th, beberapa bulan yang lalu saya resign karena ingin mencoba berwirausaha. Ternyata berwirausaha bukan perkara mudah “It’s not easy to leave comfort zone”.
    Akhirnya saya memilih mencari kerja lagi, lalu datang tawaran dari ortu (kebetulan ortu guru) agar melanjutkan s2 saja, lalu rencana ke depan jadi pengajar saja. Soal biaya, ortu sudah siap.

    Tawaran ortu tersebut akhirnya saya setujui.
    Karena sudah pernah kerja (dapet gaji bulanan) jadi ingin kerja + kuliah s2 (ambil kelas karyawan). Ada 2 pilihan yang timbul dalam benak saya

    1. Kembali kerja di perusahaan lama (kerja senin – Jum’at), sabtu-minggu libur, bisa kuliah. Cuma ini di kota Bandung. Univ untuk lanjut kuliah s2 juga belum tahu, yang penting bisa kerja lagi di persh lama, nanti sambil jalan, cari informasi di univ yang dituju.

    2. Kuliah s2 di Kota Jogja atau Solo (tetap ambil kelas karyawan), mengenai kerja, ada penawaran dari paman untuk jadi supervisor sales/marketing salah satu produk consumer good. (ini bisa dibilang, bidang (sales/marketing) yang harus saya pelajari dari 0, di persh lama (di Bandung) saya mengurusi IT yang notabene kantoran banget)

    Untuk bidang studi yang akan saya ambil adalah Pendidikan Sains. Karena memang tujuan akhir ingin menjadi pengajar.

    Menurut bapak bagaimana, mohon nasihatnya?

    Oh iya pak, saya dibesarkan oleh ortu yang berprofesi sebagai guru, jadi saya sudah tahu persis kehidupan seorang pengajar.
    Saya setuju dengan pendapat bapak di atas, yang intinya jadi pengajar maka pengabdian harus diutamakan. Kalau ingin kaya, bergeraklah di bidang niaga.

    Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.
    Semoga blog ini menjadi ladang kebaikan bagi Pak Tri.

    Wasalam.

    Mas Elang,
    Wah…kayaknya masalah yang anda hadapi sekarang mirip masalah saya ketika saya berumur 27-28 tahun dulu ya..

    Karena latar belakang anda tidak terlalu “sexy” karena anda lulusan Teknik Fisika dengan peminatan Teknik Nuklir….maka sebenarnya idealnya anda kerja di instalasi nuklir. Soalnya kalau Teknik Fisika di ITB itu sexy banget, hampir semua alumninya kerja di perusahaan minyak. Saya tahunya dari beberapa anak teman atau teman anak saya yang lulusan ITB juga…

    Nah, pekerjaan anda sekarang adalah di bidang IT, dan nantinya anda bercita-cita sebagai dosen, oleh ortu bahkan udah disisihkan dana untuk ngambil S2. Berdasarkan pengalaman saya dulu waktu umur 27-28 tahun, saya sangat berpikir keras bidang S2 apa yang saya harus masuki ? Statistics, Agricultural Economics (keduanya background saya di IPB), Computer Science (karena saya sudah mulai ngajar di Binus mata kuliah Komputer), Industrial Engineering, Systems Engineering, atau Operation Research (ketiganya bidang kerja saya di BPPT)….

    Tahu nggak, akhirnya yang saya ambil adalah Computer Science, karena setelah pulang dari belajar Computer Science dan dapat Master, saya pasti bisa balik ke Indonesia dan ngajar Computer Science di Binus. Dan itulah sejarah saya….sampai saat ini saya happy-happy saja dan bisa ngajar di Binus selama 29 tahun !!!

    Jadi nasehat saya untuk Mas Elang sebagai berikut :
    – Kembali ke pekerjaan IT di Bandung
    – Mencari kelas S2 di Bandung yang bisa dilakukan di waktu malam hari (ITB mungkin tidak ada, Unpar ada tidak ?) jurusan MTI (Magister Teknik Informasi)
    – atau Mencari kelas S2 di Bandung di waktu weekend ngambil jurusan Magister Manajemen (MM) dengan bidang peminatan Sistem Informasi…

    itu sih feeling saya akan seperti itu…

    Alternatifnya,
    – Mas Elang bisa nyari kerja IT di Jakarta, sore ngambil MTI di Binus (tempat saya ngajar)
    – Mas Elang bisa nyari kerja IT di Yogya, sore ngambil MTI di Yogya (kalo Solo kayaknya kerjaan IT minim dan yang buka kelas MTI sore mungkin juga minim)

    Catatan :
    – Jangan ngambil jurusan Pendidikan Sains, karena untuk jadi dosen tidak harus berlatar belakang S2 di bidang Pendidikan.
    – Boleh ngambil S2 di bidang Pendidikan, tapi anda tidak akan jadi dosen S1 di PTS….bisanya cuman dosen S1 “full time” di PTN

    Itu aja mas nasehat saya, mudah-mudahan berguna untuk Mas Elang sebelum ngambil keputusan…

    Keputusannya apa, terserah anda….

    Reply

  194. Elang
    Oct 11, 2011 @ 11:21:48

    Terima kasih pak atas nasihatnya, cuma masih ada yang mengganjal nih.

    Pada Catatan poin ke-2 : Ambil S2 di bidang pendidikan tetapi tidak bisa jadi dosen S1 di PTS. Maksudnya gimana nih ?
    Apa memang realita menunjukkan kalau PTS tak menerima dosen dari bidang pendidikan ?

    Mas Elang,
    Maksud saya….di PTS di Jakarta, Bandung, Yogya, Semarang, Surabaya jarang yang memiliki jurusan Pendidikan. Di Jakarta seingat saya hanya Unika Atmajaya PTS yang punya jurusan Pendidikan. Jadi kalao anda mengambil S2 bidang Pendidikan, maka sulit mengajar di PTS (part time) karena jurusan (dan tentu saja mahasiswanya) juga sedikit. Beda dengan PTN, banyak sekali jurusan pendidikan seperti UNJ di Jakarta, UPI di Bandung, UNES di Semarang, UNY di Yogya, dan UNESA di Surabaya. Kalau anda punya S2 jurusan Pendidikan, idealnya ya mengajar di UNJ dkk ini. Karena di PTN tidak ada istilah dosen “part time”, maka anda akan sulit kalau mengajar di PTN dengan status “part time”, kalau “full time” sih bisa tapi dengan melamar terlebih dahulu…

    Realitasnya seperti itu, seperti Binus yang punya jurusan Teknik Informatika misalnya, maka dosen S2 yang diterima adalah yang punya gelar M.Kom, MTI atau MMSI. Di Binus (PTS) dosen S2 yang berlatar belakang Pendidikan biasanya mengajar bahasa Inggris atau CB (Character Building), sehingga rekrutmen dosen S2 berlatar belakang bidang/jurusan Pendidikan ini juga sangat jarang….

    Mudah-mudahan penjelasan ini bisa dimengerti. Saya tidak berbicara teoritis, tetapi yang saya sampaikan adalah prakteknya seperti yang saya amati selama ini…

    Reply

  195. sekar
    Oct 12, 2011 @ 08:27:35

    mohon info, pak jika ada job opening dosen tetap untuk ilmu komunikasi kebetulan s1 dan s2 sy komunikasi

    Mbak Arum,
    Iya mbak…nanti kalo ada saya infokan. Wah S1 dan S2 Komunikasi sih bisa melamar jadi dosen di jurusan Marketing Communication (Markom)….

    Reply

  196. Tyan
    Oct 25, 2011 @ 18:52:02

    Salam kenal Pak Tri,

    Nama saya Tyan, cowok. Awalnya saya sedang browsing mencari info-info sharing berkaitan dengan profesi dosen dan ternyata di thread komentar blog bapak ini saya mendapatkan banyak sekali info sharing dan masukan berkaitan dengan pekerjaan secara umum dan khususnya dengan dunia perdosenan. Untuk itu saya mengucapkan terimakasih banyak Pak.

    Berikutnya saya jadi ingin minta nasehat Pak berkaitan dengan sejumlah pilihan dan rencana ke depan saya. Sebelumnya saya ingin cerita dulu singkat mengenai background saya agar bapak punya gambaran. Rada panjang dikit gpp ya pak, dianggap cerpen aja…heuheu…

    Saya lulusan S1 dan S2 cumlaude, alhamdulillah, dari satu perguruan tinggi yang cukup terpandang di Bandung, bidang saya IT/informatika, master saya di digital media. Umur saya 36, sudah berkeluarga dengan 2 anak, dan alhamdulillah sudah memiliki rumah dan kendaraan sendiri. Sampai saat ini saya sudah bekerja selama sekitar 12 tahun, 9 tahun terakhir sampai sekarang saya bekerja di salah satu perusahaan pengembang IT/multimedia di Bandung, bekerja di bidang yang memang menjadi passion saya sejak kecil, yaitu yang memadukan teknis IT dengan sisi desain/artistik. 5 tahun saya menjabat sebagai manajer development produk, 2 tahun berikutnya saya kuliah s2 dengan tetap bekerja dengan jam kerja fleksibel (kantor memberi kelonggaran waktu untuk bekerja dan kuliah dengan tetap memberikan gaji tetap yang disesuaikan besarannya), saya tidak menjabat manajer lagi tapi diposisikan sebagai R&D. Setelah lulus saya kembali bekerja sebagai R&D dan support marketing untuk project, gaji saya dinaikkan kembali tapi relatif tidak lebih besar dibanding ketika menjabat sebagai manajer. 6 bulan kerja saya ditawari teman untuk mengajar di sebuah politeknik yang relatif baru tetapi dengan peminat mahasiswa yang besar. Kantor mengijinkan saya mengajar dan memberikan kelonggaran waktu secara tidak resmi bagi saya tanpa menuntut syarat-syarat spesifik karena sebelumnya selama bekerja fleksibel, target-target serta kontribusi saya dinilai tetap bagus oleh atasan. Atasan seperti memposisikan saya sebagai tenaga ahli yang tidak perlu selalu ada di tempat tetapi ketika dibutuhkan selalu siap. Di luar pekerjaan tetap dan mengajar, saya beberapa kali mendapatkan pekerjaan development aplikasi multimedia dari jaringan pertemanan saya, yang saya kerjakan sendiri di waktu luang saya dan saya kerjakan dengan semangat dan senang karena dunia pengembangan aplikasi multimedia sudah seperti hobi bagi saya, apalagi bisa mendapatkan penghasilan sampingan yang sangat lumayan dari situ.

    Beralih ke cerita saya mengajar. Menjadi dosen sebelumnya tidak pernah terlintas di benak saya. Keluarga saya tidak ada yang berprofesi guru/dosen. Saya orangnya cenderung pendiam, kurang bisa berbicara dan rada-rada introvert gitu. Berbicara di depan umum seperti mimpi buruk bagi saya sebelumnya. Menerima tawaran teman saya untuk mengajar awalnya menjadi beban berat, selama 3 hari sebelum hari pertama ngajar saya stress ga bisa tidur, sampai berniat mau batal saja menjadi dosen. Hal-hal yang awalnya mendorong saya untuk mencoba jadi dosen adalah:
    – Ketika kuliah S2, saya menyukai suasana akademis, diskusi dengan teman tentang perkembangan teknologi, dsb, sehingga saya merasa perlu untuk tetap dekat dengan lingkungan akademisi.
    – Dosen waktunya fleksibel dan beban kerjanya terlihat tidak besar (setelah dijalani ternyata gak ringan juga jadi dosen, hehe, harus belajar terus, nyiapin kuliah, menilai, membimbing mahasiswa, dll)
    – Profesi dosen cukup terpandang dan dihormati, dan insyaAllah banyak pahalanya, juga dari pengalaman sebagai mahasiswa, rata-rata mahasiswa cenderung nurut dan hormat kepada dosennya.
    – Mendapat penghasilan sampingan (pertama mendapat gaji dosen 1,5 juta rupiah merasa sangat berharga nilainya dibanding gaji pegawai tetap di kantor yang bisa 4-5 kali lipat dibanding nilai itu)

    Sekarang, sudah 2 tahun saya mengajar, mata kuliah yang pernah saya ajar adalah Sistem Operasi dan Aplikasi Multimedia. Beban ngajar saya terakhir 8 sks dengan fee ngajar per sks 40 ribu plus tunjangan makan dan transport tiap hari kedatangan 35 ribu. Beban berat yang saya rasakan di awal relatif sudah berkurang, tetapi tidak saya pungkiri tiap kali akan mengajar masih ada perasaan enggan dan tegang. Tetapi sebaliknya tiap kali selesai mengajar ada perasaan senang, lega, dan bangga sebagai dosen.

    Kondisi saya sekarang itu begini pak:

    1. Saya ada keinginan untuk resign dari tempat saya bekerja karena beberapa alasan sbb:
    – fokus perusahaan yg tadinya membuat dan memasarkan produk langsung ke konsumen jd beralih ke proyek2 pemerintah/prshn yg berbau kkn, krn kondisi penjualan produk dinilai manajemen sudah tidak layak utk menghidupi prshn
    – merasa kemampuan krg dihargai, gaji tidak berkembang.
    – merasa kurang aman dg masa depan prshn, karena perusahaan relatif kecil (30an karyawan tetap), visi manajemen & owner kurang jelas, dan kondisi keuangan perusahaan saat ini kurang bagus.
    – merasa punya kemampuan untuk membuat sendiri produk spt yg dibuat perusahaan secara end to end.
    – poin2 di atas berakibat juga membuat semangat berkontribusi bagi perusahaan jd berkurang.

    Tapi di sisi lain saya masih tetap bertahan karena:
    – penghadilan dari kantor masih jadi sumber penghasilan utama
    – merasa ikut membangun perusahaan dr awal (bukan owner, hanya termasuk karyawan pertama), ada rasa memiliki thd semua produk
    – merasa perusahaan masih punya potensi besar ke depan di industri kreatif, karena nama dan produk2nya sudah dikenal cukup luas.
    – adanya kebijakan atasan terhadap fleksibilitas waktu bekerja saya sehingga saya bisa punya waktu lebih untuk sampingan di luar.

    2. Saya ada keinginan besar untuk melanjutkan S3 di bidang yang saya minati (digital media) ke luar negeri. Keluarga cukup mendukung. Tetapi saya berpikir, bagaimana nanti setelah S3 selesai saya akan bekerja dimana, karena umur saya tentunya akan semakin bertambah, beban biaya keluarga juga bertambah. Kembali ke kantor sekarang mungkin bisa, tapi belum tau nanti kondisi perusahaan ini akan seperti apa ke depan. Nilai S3 juga sepertinya akan kurang dihargai disini.

    3. Saya terpikir untuk berganti haluan menjadi full dosen saja di univ swasta yg lebih mapan di bandung sambil mencari proyek2 sampingan. Pertimbanganny di univ swasta tsb kata temen yg sudah dosen tetap di sana, kesejahteraannya cukup terjamin, ada semacam pensiun juga, tunjangan lengkap termasuk untuk keluarga, tetapi di awal pendapatannya mungkin belum sebesar gaji saya di kantor sekarang. Sukur-sukur kantor yang sekarang masih membutuhkan tenaga saya, sbg tenaga ahli paruh waktu misalnya. Dengan full dosen, keinginan saya untuk lanjut S3 jadi lebih relevan. Tapi di tulisan bapak menyarankan untuk jangan jadi dosen tetap karena gajinya kurang.

    4. Saya juga sedang mencoba mengembangkan usaha dengan teman di bidang mobile multimedia app, sudah sempat dapet sejumlah kerjaan. Sebenarnya secara pribadi saya merasa kurang pede bila nanti mengelola bisnis/perusahaan sendiri, merasa cocoknya sebagai engineer saja yang mengembangkan produk. Kebetulan teman saya ini passionnya ke bisnis dan marketingnya jadi cukup cocok sbnrnya. Tp so far masih belum jelas ke depannya. Selain dengan teman, secara pribadi saya juga sedang mulai mencoba untuk jadi single-developer untuk aplikasi2 mobile/online yang bisa langsung dijual via online. Potensinya besar cuman saya masih belum yakin apakah bisa jadi tempat menggantungkan hidup yang cukup sustainable ke depan.

    Begitu pak cerita saya, maaf kalo jadi panjang kemana-mana. Menurut bapak gimana baiknya saya ke depan. Mohon nasihatnya pak.
    Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih…

    Wassalam.

    Tyan

    Mas Tyan,
    Salam kenal dan terima kasih telah mampir ke Blog saya…Wah..menarik juga melihat latar belakang pendidikan dan latar belakang pekerjaan Mas Tyan. “Mid-career crisis” yang Mas Tyan ceritakan juga typical banget buat kaum profesional muda yang umurnya sekitar 30-35 tahun. Kayaknya berat untuk menjawab pertanyaan Mas Tyan yang sebenarnya mudah itu, oleh karena itu perkenankan saya pura-puranya saya ini Mas Tyan sendiri. Apa yang akan saya lakukan ?

    Di usia sekitar 35 tahun, mestinya posisi kerja dan karier (mungkin lebih tepat dikatakan “passion“) kita sudah stabil. Maksud saya, kalau bisa dicari posisi pegawai tetap di perusahaan atau organisasi yang tetap juga. Tidak perlu yang gajinya mentereng, tapi cukuplah untuk menghidupi keluarga secara sederhana dan ada jaminan kesehatan untuk keluarga (asuransi) dan jaminan hari tua (pensiun). Sekali lagi, saya gak bilang asuransi kesehatannya harus di kelas VIP, dan jaminan hari tuanya harus Rp 10 juta per bulan uang sekarang. Gak perlu, biasa-biasa saja.

    Oleh karena itu, jika Mas Tyan berniat jadi Dosen Tetap di sebuah PTS yang cukup mapan, saya akan dukung 100 %. Saya barusan baca di koran Kompas kemarin, headline, di kolom paling kiri, guru SD di Banten saja mendapat take home pay Rp 8,75 juta per bulan karena kalo guru sudah dapat “sertifikasi guru” maka gajinya ditambah 1 x gaji pokok (+ 100 %). Nah, di PTN dan PTS saat ini berdasarkan aturan yang ada kan ada “sertifikasi dosen” juga, walaupun setahu saya lulusnya susah (tim penilai-nya cukup jeli menilainya). Tapi mudah-mudahan di PTS tempat Mas Tyan bekerja nanti, dosen yang sudah dapat “sertifikasi dosen” diberi tunjangan sertifikasi yang cukup. Nah dengan bekerja di PTS, Mas Tyan bisa melanjutkan S3 baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Saya sarankan mencari beasiswa dari NUS atau NTU di Singapore, dengan catatan nanti terkena ikatan dinas 2 n + 1. Jadi kalau Ph.D nya didapat dalam 4 tahun, berarti harus kerja 9 tahun di Singapore. Tentunya anak dan isteri bisa dibawa pula, dan anak sekolah di Singapore…syukur anaknya dapat beasiswa juga. Atau…ambil saja S3 di dalam negeri. Sekarang ini ngambil S3 Teknik Informatika bisa di UI, ITB, UGM atau ITS. Bahkan PTS macam Binus dan Gunadarma pun sudah menawarkan S3 Teknik Informatika….kabarnya lho (kalau Binus, baru siap-siap saja….)…

    Nah, dengan bekerja di PTS sebagai dosen tetap, Mas Tyan juga masih bekerja di perusahaan lama yang Mas Tyan ikut mendirikan itu. Jangan putus silaturahmi dan jangan putus hubungan baik dengan ex employer, karena sebenarnya di sinilah kunci rejeki itu. Siapa tahu di perusahaan lama ini jadi “ladang amal” buat Mas Tyan. Artinya, jangan cari duwit di sini….cari artikulasi diri saja (yang lebih tinggi nilainya dari sekedar duwit…kalau duwit kan dibawa masuk ke Indomaret selama 5 menit…duwitnya sudah habis…)…hehe

    Lalu, sebagai “penambal utama” ekonomi utama keluarga, sebaiknya Mas Tyan menjadi “technopreneur” saja. Modalnya cuman website, seperti Yahoo, Google atau Amazon, atau website-website jualan yang lain. Di Binus mulai tahun ini banyak diajarkan mengenai technopreneur ini. Cari nama website yang baik (misalnya joully.com atau warakada.com atau smilleykete.com…hehehe), lalu cari nama “pasar” yang baik (misalnya Tyan Riang, Tyan The One, Tyan Fun), lalu cari domain bisnis yang tepat (multimedia), terus membahas produk-produk multimedia yang populer (atau membahas produk-produk sendiri, sediakan email, cv, no fax, no telp, dsb)….maka Mas Tyan akan bisa “menapak kaki dinosaurus” yang namanya Bill Gates, Steve Jobs, atau Mark Zukemberg…orang-orang kaya Amerika yang bergerak (kebanyakan tanpa sengaja) di bidang IT….

    Singkat kata, karier yang menampung passion kita dan sekaligus memberi rejeki cukup untuk keluarga itu idealnya “Karier Empat Kaki” : Pegawai tetap, Dosen, Konsultan, Pengusaha….

    Dari penjelasan Mas Tyan tadi, saya yakin Mas Tyan bisa melakukan 4 hal tersebut sekaligus….karena anda lulusan Bandung, tinggal di Bandung, dan Bandung itu salah satu kota paling menjanjikan untuk bergerak di bidang apa saja terutama di bidang IT…

    Saya saja sudah punya “karier 3 kaki” sebagai : Pegawai Tetap, Dosen, dan Konsultan…. Jadi Pengusaha (dan jadi orang kaya) yang belum…setelah saya pikir-pikir….ya karena saya segan alias tidak mau saja….hahaha…

    Sekian mudah-mudahan obrolan singkat ini dapat mencerahkan…

    Good luck Mas !

    Reply

  197. Ronald
    Nov 02, 2011 @ 22:47:02

    Pak saya bingung memilih profesi guru atau dosen. saya lulusan S1 non-kependidikan di sebuah PTN dan S2 pendidikan dari sebuah PTN juga. otomatis saya tidak punya akta-IV seperti lulusan S1 pendidikan. akta4 sendiri sekarang dihapus pemerintah dan diganti program PPG 2 semester untuk mendapatkan sertifikat profesi guru. otomatis saya harus kuliah setaun lagi dong untuk jadi guru?

    saya juga belum paham dengan sertifikasi guru untuk peningkatan gaji menjadi 2x gaji pokok PNS. apakah harus jadi guru dulu dan ikut sertifikasi, ataukan lulusan PPG nanti otomatis tersertifikasi. apakah dosen PNS juga gaji 2x PNS?

    bagaimana perbandingan gaji PNS guru, PNS dosen, guru honorer di sekolah swasta, guru honorer sekolah negri, dosen honorer PTS, dosen honorer PTN ?

    apa saja yg harus disiapkan untuk mengajar pertama kali? saya memang lemah dibidang presentasi didepan orang banyak. tapi ibu mengarahkan saya jadi dosen/guru karena beliau adalah dosen . jadi ada darah kependidikan juga hehe.. sebenarnya saya ingin wiraswasta tapi kedua ortu saya yg PNS, tidak menyetujui. wiraswasta harus jadi sampingan. jadi saya harus nembus CPNS pemda atau kementrian yg sampai sekarang ga tembus tembus. peluang tembus jadi PNS terbesar ya sebagai guru atau dosen. alternatif lainnya mereka ingin saya lamar perusahaan besar.

    masalahnya saya sudah menyukai kota saya tinggal sekarang dan disini bukan kota industri. bidannya lebih ke perhotelan dan pariwisata. bidang saya engineering sangat jarang perusahaan disini yg membutuhkan. otomatis harus hijrah ke jabodetabek kalo ingin berkarir di industri pabrik skala besar dan saya tidak minat kalo tiap hari ketemu macet atau banjir. mending gaji 2juta saja tapi hidup tenang daripada 5jt tapi lingkungan bikin stress.

    karena saya ngotot tinggal dikota ini maka ortu mengarahkan jadi guru atau dosen kalo kesulitan tembus PNS. apalagi sekarang moratorium.
    saya tertarik PNS karena kerjanya nggak ampe malem, nggak stres, nggak lembur, punya waktu buat nongkrong menikmati hidup dan kekurangan gaji bisa diantisipasi dengan wirausaha.

    ada saran saran untuk saya?

    Mas Ronald,
    Sebenarnya Mas Ronald dari yang diceritakan sudah tahu apa yang harus dilakukan, dan sudah tahu pilihan-pilihan yang akan dihadapi, dan masing-masing resikonya…

    Menurut saya, masuk atau agar diterima sebagai PNS itu susah luar biasa (kadang orang menganggapnya mudah, tapi saya lihat sehari-hari banyak test CPNS yang bikin stress). Jadi menurut saya Mas Ronald harus berusaha jadi PNS terlebih dulu, mana tawaran PNS yang ada dulu dilamar. Dari cerita anda, ada banyak pilihan jadi pegawai dan anda nanya gajinya segala. Emang bidang pekerjaan itu supermarket, yang anda punya “duwit” dan tinggal bayar yang dimaui, terus pulang ? Enggak lah….berjuang untuk 1 pilihan saja sulitnya setengah mati. Jadi rule-nya, mana yang diterima terlebih dahulu aja PNS atau pegawai swasta, jalani saja. Tidak perlu bimbang pilihan sendiri, apalagi bimbang akan kata-kata orang lain. Tetapkan hati memilih, dengan masing-masing kekurangan dan kelebihannya…

    Jadi guru dan jadi dosen sama susahnya kok, gak perlu dipilih-pilih atau diperbandingkan. Apalagi latar pendidikan S1 dan S2 anda yang “tidak segaris”, S1 non-kependidikan, dan S2 kependidikan…..wah ini sudah salah jalur !!!! Jadi, menurut saya pilihan buat anda tidak banyak. Emang di koran banyak dibahas bahwa gaji professor hanya Rp 4,6 juta maksimum, sedangkan gaji guru SD dengan golongan gaji yang sama bisa menerima Rp 8,75 juta per bulan…..tapi ini tidak bisa diperbandingkan. Mungkin Professor kerjanya tinggal senyam-senyum dan tandatangan saja, sedangkan si guru SD harus banting tulang 6 hari seminggu dan 12 jam sehari….

    Menurut saya, tetapkan pikiran, tentukan pilihan, tutup mulut, usahakan semaksimal mungkin…..justru perjuangan untuk mendapatkan pekerjaan ini yang harus hargai seumur hidup….bukan gajinya. Kalau mau gaji tinggi…..orang lulus SD men-start bisnis dengan tekun saja duwitnya bisa berjuta-juta setiap hari. Tapi kita sebagai orang yang berpendidikan tinggi kan harus banyak memandang segi lain selain faktor gaji.

    Iya kan ?

    Reply

  198. ahmad
    Nov 15, 2011 @ 17:00:09

    Salam hormat Pak Tri, saya terinspirasi dengan tulisannya.
    saya karyawan swasta sudah kerja 5 tahun lebih dan lulusan Sarjana dari fakultas hukum. dan ketika saya membaca tulisan Bapak awal tahun 2009 maka saya putuskan untuk melanjutkan kuliah S2 hukum, supaya mempelancar niat menjadi dosen. Allhamdulillah tahun ini saya sudah lulus. Sekarang bersama teman2 sedang merintis membuka fakultas baru ilmu hukum di salah satu pts.

    Mas Ahmad,
    Wah….ini berita bagus dan sangat menggembirakan bagi Mas Ahmad dan bagi saya sendiri. Bagi Mas Ahmad karena terinspirasi dari posting blog saya ini dan dapat menentukan karier di masa depan. Bagi saya sendiri sangat membahagiakan karena ternyata posting blog yang kadang-kadang saya tulis hanya karena iseng-iseng, rupanya dibaca banyak orang dan bisa menginspirasi banyak pembacanya…

    Sekali lagi, selamat ya Mas !! Sukses selalu….jangan pendam impian untuk jadi Doktor Ilmu Hukum….(isteri saya hanya lulusan SLA waktu saya nikahi, tetapi sebentar lagi ia akan mempertahankan disertasi bidang Ilmu Hukum di sebuah PTN ternama)….

    Reply

  199. Ray
    Nov 24, 2011 @ 18:06:44

    salam kenal Pak Tri,
    Saya pemuda 25th, bisa dikatakan sebagai “fresh graduate” (pernah kerja di sebuah perusahaan tapi cuma bertahan selama 2 bulan karena sedang menyelesaikan thesis dan berbagai hal) yang “bermimpi” untuk menjadi seorang dosen. Saya tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Tengah dan kos. Saya melamar posisi dosen di universitas (PTS) tempat saya menyelesaikan S1 (akuntansi, 3.25) dan S2.(Marketing Management, 3.96)

    Sebenarnya, saya telah diterima bekerja dan tinggal menyerahkan kontrak kerja (surat tersebut saat ini saya tahan). Saya sudah tanda tangan, begitu juga dengan ketua yayasan, hanya tinggal mendapatkan tanda tangan saksi — yaitu dekan dan kepala administrasi. Saat ini saya sedang galau setelah mengetahui bahwa pendapatan yang saya terima dengan tingkat pendidikan saya (S2) dengan posisi sebagai dosen kontrak (masa kontrak 1 tahun) ternyata tidak yang seperti saya bayangkan/harapkan. Saya tahu dan paham betul bahwa ketika kita masuk kedalam dunia pendidikan, pendapatan yang diterima tidak sama/seimbang dengan ketika bekerja pada sebuah perusahaan. Tetapi dengan nominal pendapatan sebesar ini saya hanya dapat menyisihkan jumlah yang amat amat sangat kecil sekali (setara selembar uang)…. nominal tersebut saya peroleh setelah perkiraan pengeluaran saya tekan semaksimal mungkin (tetapi belum termasuk cadangan untuk pengeluaran mendadak)….. apakah ini wajar?

    Dalam hati kecil saya, saya sangat ingin sekali mengajar (saya pernah mengajar sebagai asisten dosen dan dosen tidak tetap). Saya merasa terpanggil untuk membagikan ilmu saya kepada rekan2 mahasiswa, akan tetapi dengan imbalan finansial yang sangat jauh sekali dari prediksi saya…. jujur saya harus mempertimbangkan kembali keinginan saya menjadi seorang dosen… apalagi ketika posisi ini akan menjadi pekerjaan utama saya. Pertimbangan saya adalah pada faktor finansial untuk membiayai kehidupan sehari – hari dan untuk masa depan (saya single, dan tentunya ingin punya pacar, menikah, membeli rumah, dst dst)

    oleh karena itu, ada beberapa pertanyaan pak,
    1. Apakah wajar sebuah PTS memberikan pendapatan yang minim sekali (apalagi sebagai dosen kontrak)?
    2. Apakah akan ada “perbaikan pendapatan” yang signifikan apabila telah diangkat sebagai pegawai/dosen tetap?
    3. Apakah ada formula umum perhitungan gaji/honor dosen (baik kontrak maupun tetap)?
    4. Apakah ada peraturan tertentu yang mengatur nilai minimal gaji seorang dosen (apalagi dosen PTS)?
    5. Bagaimana saran bapak terhadap kasus seperti ini (karena saya yakin saya tidak sendirian menghadapi keadaan seperti ini)?

    Terima kasih
    Ray

    Mas Ray,
    Wah….pertanyaan anda sangat sederhana, tetapi ternyata untuk menjawabnya saya perlu berpikir beberapa kali sebelum menjawab…. Pertanyaan tersebut lazim ditanyakan oleh anak muda yang sedang bimbang dengan karier di masa depannya… Terus 5 pertanyaan yang anda ajukan itu, semestinya bukan ditujukan kepada saya (saya merasa tidak ditujukan kepada saya), tetapi semestinya ditujukan ke pejabat Kopertis di wilayah anda….karena saya ini apalah….cuman dosen tidak tetap…yang kebetulan menulis blog dan mau sharing dengan pembaca….

    Perkenankan saya menjawab dengan terus terang dan tanpa tedeng aling-aling, mengingat saya ini berasal dari Jawa Timur, yang merupakan sifat orang Jawa Timur yang bersifat terbuka, yang kadang bagi orang Jawa Tengah terdengar agak menyakitkan di telinga. Tapi kalo itu kebenaran, apa kita bisa menghindar dengan fakta seperti itu ?

    Pertama, anda katakan anda lulusan S1 dan S2 sebuah PTS di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, yang sekarang sedang nge-kost. Komentar saya, mengapa dulunya anda tidak sekolah S1 dan S2 di PTN di sebuah kota besar di Jawa Barat atau Jakarta ? Berarti sebenarnya, dari awal nasib anda sudah ditentukan ketika pertama kali anda menginjakkan kaki di PTS tersebut. Semestinya dari hari itu anda sudah bisa menebak “akhir” dari perjalanan anda kuliah di sana akan seperti apa. Kesan saya, anda kuliah S1 dan S2 dengan santai, tanpa memikir ini itu, tiba-tiba setelah lulus S2 anda menuntut ini itu yang tidak sesuai dengan pendidikan anda.

    Begini deh, ada bad news dan good news karena anda telah sekolah S1 dan S2 di PTS sebuah kota kecil di Jateng ini. Bad news nya, nasib anda sudah tertulis dengan jelas akan seperti apa. Good news nya, dari pengamatan saya terhadap orang-orang yang bekerja di sekitar Jakarta ini, setelah 20-30 tahun tidak terlihat lagi apakah seseorang itu lulusan ITB atau UI (yang notabene sekolah bagus) dengan yang lulusan PTS kecil sekalipun. Intinya, siapa bekerja keras, dia akan mendapatkan rejeki yang memang disediakan Tuhan untuk dia..

    Jadi jangan khawatir dan jangan merasa minder, karena semuanya ini sudah diatur. Kalau kelihatannya hidup anda sekarang susah, pasti di masa yang akan datang anda akan mendapatkan kemudahan dalam segalanya…

    Ini jawaban pertanyaan saya terhadap 5 pertanyaan anda :
    1. Apakah wajar sebuah PTS memberikan pendapatan yang minim sekali (apalagi sebagai dosen kontrak)?
    Jawab : sangat wajar, karena PTS pendapatannya dari SPP mahasiswa saja. Sering PTS kecil mahasiswanya tidak bayar SPP karena
    satu dan lain hal, nah ini mempengaruhi pendapatan PTS ybs. Di mana-mana di Jakarta, bagi dosen baru, PTS memberikan
    imbalan yang sangat minimal.
    2. Apakah akan ada “perbaikan pendapatan” yang signifikan apabila telah diangkat sebagai pegawai/dosen tetap?
    Jawab : tergantung PTS nya, ada PTS yang sudah mantap dan ada PTS yang istilahnya “mati segan hidup tak mau”. PTS yang mantap di
    Jakarta adalah yang jumlah mahasiswa barunya lebih besar dari 2.500 orang, yang di tahun 1996 adalah Trisakti, Atma Jaya,
    Tarumanagara, Bina Nusantara (Binus), dan Gunadarma. Di 5 PTS ini bisa dikatakan rumus honor dosennya sudah stabil dan
    hampir sama untuk ke-5 univ ini. Tapi di luar yang 5 ini saya tidak bisa berkomentar. Walaupun ada universitas yang lebih
    kecil yang memberi honor dosen dengan baik (kemungkinan : UPH, Paramadina, SGU, UMN, dsb).
    3. Apakah ada formula umum perhitungan gaji/honor dosen (baik kontrak maupun tetap)?
    Jawab : Setahu saya formula umum yang saya tulis di posting ini, setahu saya ini keputusan dari Dirjen Dikti. Tapi SK ini tidak
    mengikat mengingat kemampuan PTS dalam memberi honor dosennya kan juga terbatas. Jika uang kuliahnya kecil, kemungkinan
    besar gaji dosennya juga kecil, dan sebaliknya. Ini untuk dosen tidak tetap.
    Untuk dosen tetap, tergantung Yayasan masing-masing. Seperti diketahui Yayasan dengan Universitas kadang visinya tidak
    selalu sama. Kalau Yayasannya kuat, maka standar gaji dosen tetap akan tinggi. Dan sebaliknya.
    4. Apakah ada peraturan tertentu yang mengatur nilai minimal gaji seorang dosen (apalagi dosen PTS)?
    Jawab : Ada. Tapi seperti saya katakan sebelumnya, standar minimal gaji dosen PTS tersebut sifatnya hanya patokan dan tidak
    mengikat. In the end of the day, yang harus menggaji adalah PTS masing-masing, dan kekuatan PTS masing-masing sangat
    beragam, ada yang kuat, banyak yang tidak kuat.
    5. Bagaimana saran bapak terhadap kasus seperti ini (karena saya yakin saya tidak sendirian menghadapi keadaan seperti ini)?
    Jawab : Mudah saja. Kalau orientasi anda adalah “uang” –> jangan jadi dosen !! Jadilah pegawai kantor swasta atau pabrik swasta
    saja.
    Syarat utama untuk menjadi dosen menurut saya adalah “pengabdian”… [Di koran2 Jakarta sekarang ini sedang ada issue kalo
    gaji profesor di PTN – apalagi PTS – kalah sama guru SD yang adalah PNS]

    Reply

  200. Ray
    Nov 25, 2011 @ 15:27:13

    Sip, terima kasih sekali Pak Tri, saya senang sekali dengan jawaban yang lugas dan tuntas tidak basa basi. Akan saya pikirkan dan resapi lagi apakah saya siap untuk mengabdi sebagai seorang dosen.

    maaf kalau pertanyaan saya diatas ternyata “salah alamat” karena saya tidak tahu lagi akan dikemanakan uneg-uneg yang ada di dalam kepala. Tapi terima kasih banyak karena bapak telah bersedia mencoba menjawabnya dengan sabar.

    mengenai pilihan PTS saya, ada beberapa pertimbangan yang saya gunakan, a.l:
    reputasi PTS, reputasi lulusan, reputasi fakultas, lingkungan belajar, pergaulan serta tentunya faktor ekonomi dan keluarga. Saya tidak berusaha membela diri, tetapi PTS tempat saya menimba ilmu dapat dikatakan sebagai salah satu yang terbaik di jateng (mungkin nomor berapa se-Indonesia) sehingga saya tidak merasa salah pilih dan berani bersaing dengan para lulusan PTS & PTN di kota besar serta LN.

    nah, back on topic, saya setuju sekali bahwa butuh “pengabdian” yang sungguh luar biasa untuk menjadi seorang dosen/pengajar, tetapi jika kita bicara faktualnya, setiap orang butuh untuk makan. sebagai seorang “intelek” kita juga butuh melakukan financial planning sejak awal karier.

    Sebagai tindak lanjut, saya akan cari informasi tentang kebijakan penggajian di PTS ybs. Siapa tahu informasi yang saya terima tidak akurat.

    Terima kasih banyak Pak Tri atas informasi dan jawabannya
    Salam
    Ray

    Mas Ray,
    Kayaknya dari awal saya sudah tahu PTS anda itu….malahan saya sering lewat situ kalo lagi pulang kampung ke Madiun lewat Semarang….:)
    Banyak mahasiswa dari PTS anda itu yang juga berkonsultasi penulisan skripsi dengan saya secara online, dan saya terus terang agak “cemburu” dengan judul2 skripsi mereka yang berani dan mengikuti jaman banget, bahkan dibandingkan dengan PTS yang saya ajar sekalipun…

    Sukses untuk masa depan anda…..apapun itu, jika anda sudah yakin di situ tempat mencari uang dan tempat mengabdi….pasti suatu saat akan ketemu jalannya…

    Good luck !

    Reply

  201. ahmad
    Nov 26, 2011 @ 14:07:45

    Pak Tri, terima kasih atas motivasinya.
    saya mempunyai mimpi insya Allah sebelum usia 40 tahun sudah bisa lanjut kuliah lagi.. ( eh syukur2 malah sudah lulus), sekedar info sekarang umur saya 29 tahun, sudah menikah dan allhamdulillah dah punya anak satu. He..he.. harapan saya juga punya karir seperti Pak Tri 3 atau 4 kaki karir.

    Salam hormat,

    Mas Ahmad,
    Iya saya ikut berdoa mas mudah-mudahan cepat sekolah lagi….dan mempunyai karier yang tidak hanya mantap….tetapi juga memberikan ketenangan batin yang luar biasa…

    Reply

  202. Ade Syawaludin S
    Nov 28, 2011 @ 23:55:52

    Pekerjaan menjadi Dosen merupakan impian saya sejak awal. Saya merintis pertama kali menjadi guru TKA Plus, kemudian menjadi Guru SDIT, dan sekarang saya sedang merintis untuk menjadi guru SMP/ SMA. Insya Allah ke depan nya saya akan menjadi Dosen.

    Kang Ade,
    Wah…itu rintisan yang bagus sekali….
    FYI….alm bapak saya dulu merintis dari Guru SD – Guru SMP – Guru SMA – Dosen IKIP…..

    Reply

  203. hiccup
    Dec 06, 2011 @ 09:37:22

    assalamualaikum pa,gimana cara jadi dosen setelah lulus kuliah?prosesnya gimana?

    Reply

  204. hiccup
    Dec 06, 2011 @ 09:38:09

    mohon penjelasannya,

    Reply

  205. hiccup
    Dec 06, 2011 @ 09:42:08

    apakah boleh langsung jadi dosen?/ kan belum ada pengalaman mengajar,atau harus mengajar dulu di SMA?kalau lulusan teknik sipil s2,apa bisa mengajar di SMA????

    Frank,
    Syarat ngajar (kalo di Binus) adalah mempunyai latar belakang pendidikan yang sesuai. Untuk mengajar S1 Teknik Sipil, harus punya gelar S2 atau S3 Teknik Sipil. Seperti itu.

    Pengalaman mengajar itu akan dicatat dalam wawancara nanti, dan merupakan nilai plus bagi si calon dosen. Tapi pengalaman jadi Asisten Dosen di S1 tentu pengalaman yang lebih bagus. Apalagi pengalaman mengajar S1 di sekolah lain…

    Kalo di Binus, dosen baru juga ditest cara mengajarnya…..kalo pakaiannya lusuh (tapi ini hanya bayangan saya), penampilannya kuyu dan tidak bersemangat, terus ngomongnya banyak disela dengan….eeee…ee…eee….tentu akan sulit untuk diterima. Apalagi calon dosen lainnya semuanya kualitasnya bagus-bagus…

    Kira-kira seperti itu mas….silahkan mencoba….

    Reply

  206. hiccup
    Dec 07, 2011 @ 11:52:30

    trimaksih pa,,,,jadi menurut bapak,langkah awal apa yang harus saya ambil setelah lulus S-2?

    Frank,
    Apa yang harus diambil setelah lulus S2 ?
    Kerjakan apa yang bisa dikerjakan lebih dulu….
    sedangkan memburu cita-cita sebagai dosen, itu bisa sambil jalan nanti…

    Reply

  207. hiccup
    Dec 09, 2011 @ 09:16:48

    apakah jalan hidup kita ada di tangan kita,?pada waktu kuliah,apakah bapak udah memikirkan masa depan?

    Frank,
    Wah…pertanyaan yang bagus…
    Waktu kuliah, saya dulu belum memikirkan masa depan, karena yang waktu itu saya jalani hanya “Plan C” dari hidup saya.
    Sebenarnya “Plan A” dari hidup saya adalah jadi Insinyur Sipil atau Arsitektur keluaran ITB, karena cita-cita saya memang lanjut ke ITB setelah SMA. Tapi itu tidak terjadi karena saya tidak diterima di ITB.
    “Plan B” dari hidup saya adalah jadi Insinyur Sipil atau Arsitektur keluaran UGM, tetapi itu juga tidak terjadi karena saya tidak diterima di UGM.
    Yasudah, saya diterima di IPB….dan “hanya” menjadi Sarjana Statistika. Itulan “Plan C” saya…

    Intinya Frank, hidup harus punya rencana : Plan A anda apa, Plan B anda apa (kalau Plan A tidak berjalan mulus), dan Plan C anda apa (jika Plan A dan Plan B tidak berjalan mulus). Setelah itu, perlu dengan attitude “hope for the best, but expect for the worst” (siap-siap dengan hal terbaik yang terjadi dengan hidup anda, tetapi juga siap-siap dengan skenario terburuk jika itu yang terjadi dalam hidup kita)….

    Saya kira dengan 2 prinsip sederhana itu, nanti anda akan dapat mengarungi dunia kuliah dan dunia kerja dengan lancar, mengalir seperti air….

    Reply

  208. Hanny
    Dec 14, 2011 @ 15:49:46

    I really like ur post Sir.
    Hope I can be d’ one like u soon ^^

    Hanny,
    Thanks for the compliment…
    Sure…you can be like me pretty soon…
    Just grab your dream..
    and be there…..

    Reply

  209. hiccup
    Dec 15, 2011 @ 08:28:33

    tirmaksih ats masukannya pa,lantas apakah keberhasilan yg kita inginkan tergantung IQ kita?atau kepatuhan kita kpda sang khalik dan orang tua.?

    Reply

  210. Arfiansha Kusuma,SE,Ak
    Dec 28, 2011 @ 11:08:00

    Dari Dulu Saya memang Bercita2 menjadi Pengajar ENtah guru / Dosen… Tapi Sampai Sekarang belum kesampaian… Soalnya Kebanyakan dosen Pendidikannya Minimal Magister (S-2) Sementara Saya Hanya S-1 Ak… Terkadang klo liat Dosen Praktisi saya.. saya ingin Sekali kayak beliau.. Bekerja Di Kantor Akuntan Besar / Big Company Tetapi juga bisa mengamalkan ilmunya ke mahasiswanya… Saya Jadi Ingin Seperti Beliau….

    Reply

  211. Virgianto Nugroho
    Jan 12, 2012 @ 14:47:21

    Salam kenal Pak Tri.
    Saya PNS tinggal di salah satu kota kecil di Jawa Tengah, alumni S1 Statistik dan S2 MPWK (cum laude). Saya ingin sekali mengamalkan ilmu yang saya miliki untuk menjadi dosen. Memang S1 dan S2 saya tidak linier, namun TA S1 saya tentang AI (bikin software juga), dan tesis S2 saya tentang spatial statistics. Menurut bapak, kalau saya melamar untuk matakuliah research methods / pengantar statistika, apa masih dipertimbangkan, mengingat saya belum berpengalaman jadi dosen.

    Mas Nug,
    Karena sampeyan PNS…lha kalo jadi dosen yang paling mungkin paling ya ngajar sore di sebuah PTS. Udah itu aja kemungkinannya….walaupun beberapa tahun yang lalu ada rule dari Dirjen Dikti bahwa PNS yang ngajar di PTS tidak boleh “diitung” dalam jajaran dosen (ini membuat PTS pada segen merekrut PNS, mereka lebih suka merekrut non PNS)…

    Menjadi dosen itu susah-susah gampang, terutama di awalnya. Karena mengetuk pintu PTS untuk menerima kita sebagai dosen baru saja susah, banyak faktor X yang menghalangi. Makanya saran saya, lamar…lamar…dan lamar….ke beberapa PTS yang ada. Trus kalau anda punya S1 dan S2, apalagi tidak linier, jangan bangga dulu. Siapa tahu semua pelamar ke PTS ini semua gelarnya S2 atau S3. Saran saya, tulislah Blog (semacam blog saya ini), isi dengan pengetahuan2 mata kuliah yang ingin anda ajar, biar banyak yang membaca dan biar banyak “hits” di blognya (misalnya blog saya hit-nya kan sudah 725.000 an, mungkin di akhir tahun ini nembus 1 jutaan hits)…

    Cara lain, tulis buku dulu tentang mata kuliah yang anda ingin ajar, terbitkan. Lalu pakai buku itu sebagai “tameng” bahwa anda sangat well-informed dan sangat knowledgable tentang subjek atau materi2 yang akan diajarkan di mata kuliah tersebut…

    Pokoknya coba lagi…coba lagi…kalau gagal…ya coba lagi…

    Reply

  212. lily syafrina
    Jan 29, 2012 @ 15:00:54

    Kalau sy dibayarnya per mata kuliah pak..dan honor diterima stelah hasil UAS dikirim, memang kampusnya masih kecil dan untuk kelas karyawan…utk 1 mt kuliah 1jt,,,,terima honornya bs/3 bln pak…yg penting bersyukur aja….

    Mbak Lily,
    Betul….yang penting bersyukur dulu…sudah diterima sebagai dosen itu sudah alhamdulillah banget. Pahalanya dunia dan akherat…
    Makanya saya selalu bilang, kalau hanya jadi dosen kurang menguntungkan secara finansial, ya carilah sambilan sebagai konsultan…dsb…dsb…yang penting halal dan menyenangkan….pasti membuat kita berbahagia….

    Reply

  213. Arif
    Feb 15, 2012 @ 21:24:36

    Salam hormat dan salam kenal Pak Tri….

    Saya skr adalah seorang pns kementrian pusat yang bekerja menangani perencanaan teknis di bidang transportasi, Lulus S1 teknik mesin ITB kemudian melanjutkan S2 Sistem&teknik transportasi UGM dgn IPK: 3.93 (cumlaude). Sebelum masuk pns sy pernah berkerja sbg rotating engineer di industri maintenance turbine/pompa untuk minyak/kompressor selama 6th. Kemudian sy mengundurkan diri krn rutinitas pekerjaan dan keinginan untuk melanjutkan pendidikan S2. Ternyata kesempatan itu datang setelah sy mendapatkan beasiswa S2 dengan sponsor dr kementrian tsb. Sy jg ingin melanjutkan ke jenjang S3 namun harus menunggu kenaikan pangkat terlebih dahulu(krn aturan). Sy ingin menjadi dosen pts karena selain termotivasi mengajar jg ingin menambah dan berbagi ilmu (ilmu yg bermanfaat akan jd amal baik) dan tentunya jg income… (berapapun jumlahnya akan sy syukuri jika nantinya sy diterima sebagai dosen pts). Pertanyaannya adalah :
    1. Apakah background pendidikan sy ini termasuk linier? kl tidak bagaimana?
    2. Mata kuliah apa yg cocok untuk sy ajarkan? ataukah mata kuliah yg hny saya
    kuasai saja ato berdasarkan pengalaman kerja saya yg dulu maupun skr?
    3. Strategi apa yg hrs dilakukan agar diterima sbg dosen pts dan apakah perlu
    ada referensi dari salah satu dosen dari pts yg akan dilamar ? kalau ya tentu
    agak sulit kl tidak punya kenalan dari dosen tsb.
    mengenai pengalaman mengajar, sy pernah menjadi asisten dosen untuk mengajar praktikum dan pernah mengajar di bimbel sewaktu masih kuliah S1. Btw usia sy 32 th.Sblmnya tks banyak atas jawabannya
    salam…

    Mas Arif,
    Ini saya jawab pertanyaan anda satu per satu :

    1. Apakah background pendidikan sy ini termasuk linier? kl tidak bagaimana?
    JAWAB : tidak linear, karena S1 Teknik Mesin, S2 Sipil Transportasi.
    Ya anda gak bisa apa-apa sekarang kan, memang sudah tidak linear…

    2. Mata kuliah apa yg cocok untuk sy ajarkan? ataukah mata kuliah yg hny saya
    kuasai saja ato berdasarkan pengalaman kerja saya yg dulu maupun skr?
    JAWAB : Lha menurut anda, anda bisa ngajar di mata kuliah apa saja ?
    Kalau di Binus, seorang dosen yang melamar diharuskan menyebutkan 5 mata kuliah
    yang paling dikuasainya, urut dari yang paling dikuasai, kedua dikuasai,dst..
    Lima mata kuliah itu bisa berdasarkan latar belakang pendidikan, bisa berdasarkan
    pengalaman kerja, tapi saya paling suka kalau itu sesuai dengan bakat dan minat saya…

    3. Strategi apa yg hrs dilakukan agar diterima sbg dosen pts dan apakah perlu
    ada referensi dari salah satu dosen dari pts yg akan dilamar ? kalau ya tentu
    agak sulit kl tidak punya kenalan dari dosen tsb.
    JAWAB : Sebenarnya peluang diterima jadi dosen PTS adalah berdasarkan tebal tipisnya
    lowongan yang ada dibandingkan dengan jumlah pelamar. Misalnya jurusan Teknik Informatika,
    jumlah mahasiswa banyaaak sekali, ibarat kata siapa melamar jadi dosen Teknik Informatika
    bakal diterima. Tapi di Transportasi, PTS yang ada transportasinya aja kalau di Jakarta
    setahu saya hanya di Trisakti.
    Kalau di Binus, setiap tahun ada 2 kali pengumuman lowongan pekerjaan sebagai dosen tetap
    ataupun dosen tidak tetap. Kalau di universitas lain, saya akui kenal seseorang apakah
    itu dosen atau pejabat jurusan, sangat membantu, tetapi bukan yang paling menentukan.

    Reply

    • Eko Prayitno.
      May 26, 2012 @ 00:07:00

      salam kenal mas Arif….saya juga dari Magister Sistem dan Teknik Transportasi UGM, saya Angkatan 18, kl mas Arif Angkatan berapa ya?btw mas Arif ada keinginan ngajar di PTS ya….Cita-cita mulia mas, walo mas arif udah PNS…kl saya dulu kebetulan S1 dari Teknik Sipil UMY dan Alhamdulillah Ilmu saya Linier mas, dan sekarang saya ngajar di PTS swasta di Padang SUMBAR mas….kebetulan saya ngajar matakuliah : Perancangan Geometrik Jalan (PGJ), Rekayasa Lalu Lintas (RLL), Lapangan Terbang (Lapter), Perencanaan Perkerasan Jalan (PPJ) dan 2 matakuliah Umum yaitu Teknik Penulisan dan Presentasi/Metodologi Penelitian dan Etika Profesi, salut Buat Mas Arif yang mempunyai Cita-cita ambil S3, gimana kl kita ambil S3 bareng-bareng mas?

      Reply

  214. diah
    Feb 21, 2012 @ 16:09:34

    salam

    saya mau tanya,, saya sudah mengambil s1 pertanian, kemudian saya mendapatkan beasiswa unggulan BKFLN dikti namun sayangnya saya diterima di jurusan peternakan, akhirnya saya melanjutkan s2 peternakan,,

    dan saya sudah terikat kontrak harus menyelesaikan s2 dan bila saya mundur saya harus mengembalikan dana 2x lipat beasiswa…

    sudah jelas s1 dan s2 saya jauh, dan tidak linear,, apakah dalam kasus saya tidak ada kemungkinan untuk mendaftar menjadi dosen?

    terimakasih

    Reply

  215. diah
    Feb 21, 2012 @ 16:12:04

    salam

    saya mau tanya , saya sudah menyelesaikan S1 pertanian, kemudian saya mendapatkan beasiswa unggulan dikti namun di jurusan s2 peternakan.

    sudah jelas s1 dan s2 saya jauh, dan tidak linear,, apakah dalam kasus saya tidak ada kemungkinan untuk mendaftar menjadi dosen?

    terimakasih

    Mbak Diah,
    Wah…jaman sekarang kalau S1 Pertanian dan S2 Peternakan mau jadi dosen dimana ya mbak ? Saya sudah jawab, sulit, karena Pertanian & Peternakan kan adanya cuman ada di PTN. Jadi kalau mau jadi dosen, ya melamar ke PTN aja. Sedangkan PTS di sekitar Jakarta yang buka jurusan Pertanian dan Peternakan hampir tidak ada. Yang adapun mati segan hidup tak mau karena gak ada mahasiswa…

    Begitu mbak menurut yang saya amati beberapa tahun terakhir ini…

    Reply

  216. aan
    Feb 22, 2012 @ 15:14:02

    Halo pak Tridjoko
    Saya bernama Aan, kepingin bisa mengajar di universitas tempat bapak mengajar. Bagaimana caranya dan apa yang harus sy lakukan. Untuk informasi, sy juga bekerja sebagai pemeriksa di instansi pemerintah. Jika bapak berkenan, sy akan memberikan no telp sy agar bisa dihubungi. Sy senang sekali kalau bisa diberi kesempatan membagi ilmu kepada calon2 penyelenggara negara.
    Hp sy 081286017464

    Mas Aan,
    Di universitas tempat saya mengajar rekrutmen dosennya sangat kompetitif tapi diumumkan secara terbuka, biasanya di Kompas. Diumumkan Maret-April untuk mulai mengajar September, dan diumumkan Oktober-Nopember untuk mulai mengajar bulan Februari. Kalau mau melamar saja lewat sana. Selain jalur resmi itu, tidak ada pertemanan dan persaudaraan yang bisa membantu menjadi dosen. Jadi no telpon mas Aan disimpan aja, dan dituliskan di surat lamaran nanti bulan Maret-April saja…

    Reply

  217. agustav0529
    Feb 24, 2012 @ 16:02:19

    Salam kenal Pa Tri,
    Menarik sekali tulisan, tanggapan dan saran Bapak, terutama kaitannya dengan profesi dosen mulai bagaimana menjadi dosen, mensiasati kebutuhan dosen, honor dosen, berikut pernak perniknya.
    Profesi saya saat ini adalah sebagai dosen paruh waktu program Vokasi PTN terkemuka Depok sejak tahun 2004 dengan pendidikan S1, dari sisi renumerasi mungkin lebih tinggi dari gaji dosen standart yang bapak tulis yakni tahun 2004 Rp 95.000/SKS, saat ini tahun 2012 Rp 130.000/SKS.
    Hanya sebagai Dosen paruh waktu/Luar biasa atau istilah disana “dosen skema lain” per semester mengajar tidak boleh lebih dari 4 sks, jika lebih yang dibayar 4 sks saja, sisanya tidak dibayar. jika hitung2an kasar mendapat 3 sks per pertemuan:
    3 x 130.000 =Rp. 390.000/per pertemuan sehingga kalo di rata-rata 1 bulan asumsi 4 x pertemuan
    4x 390.000 = Rp. 1.560.000/Bulan belum di potong pajak dan itupun jika tidak libur kuliah.

    Tentunya dengan penghasilan perbulan diatas tidaklah cukup buat kebutuhan hidup, tapi waktu luang saya sangatlah banyak karena saya hanya berangkat seminggu sekali mengajar itupun hanya 2jam mengajar.

    Nah waktu luang saya pergunakan sebagai programmer freelance/bekerja dirumah.
    Agar tidak sering menganggur saya bermitra dengan beberapa konsultan ict yang ada di Jakarta sebagai tenaga ahli.

    Awalnya saya enjoy dengan pekerjaan saya yang freelance itu pak (dosen, programmer). Pada akhirnya saya ingin konsentrasi sebagai dosen tetap, untuk itu saya meneruskan kuliah terhitung November 2011 alhamdullilah menyelesaikan S2 saya dan selinier s1 Manajemen Informatika, s2 Teknik Informatika kedua duanya dalam negeri.
    Pertanyaan saya :
    1. Jika menjadi Dosen tetap apakah saya bisa tidak mengorbankan/ melepas pekerjaan saya sebagai programmer freelance? (Saya tidak tahu/belum cari tahu kewajiban2 sebagai dosen tetap)
    2. Jika sebagai Dosen tetap kira2 komponen gajinya apa saja(misal ada gaji pokok, ada Tunjangan dsb).
    3. Jika tidak menjadi dosen tetap apakah dosen bisa mempunyai kepangkatan atau bersertifikasi?

    Oh ya pak umur saya tidak muda lagi 40 tahun.
    Demikian Pa Tri, Mohon pencerahannya, terima kasih

    Regards.

    Mas Agus,
    Saya sudah tahu maksud anda. Ini jawaban2 saya atas pertanyaan2 anda :
    1. Jika menjadi Dosen tetap apakah saya bisa tidak mengorbankan/ melepas pekerjaan saya sebagai programmer freelance? (Saya tidak tahu/belum cari tahu kewajiban2 sebagai dosen tetap)
    Jawab : Bisa saja, dosen tetap kan tidak full kerjanya, mungkin maksimal hanya 40 jam per minggu. Nah mungkin anda masih punya waktu 20 jam per minggu untuk mengerjakan pekerjaan freelance anda.

    2. Jika sebagai Dosen tetap kira2 komponen gajinya apa saja(misal ada gaji pokok, ada Tunjangan dsb).
    Jawab : Masing-masing unversitas rumusnya berlain-lainan, kalau di Binus gaji diterima “bulk” alias “lumpsum” alias semua (gaji pokok, tunjangan, honor dosen) dalam 1 paket, tidak dipecah-pecah sebagai uang transpor, uang nguji, dsb…..

    3. Jika tidak menjadi dosen tetap apakah dosen bisa mempunyai kepangkatan atau bersertifikasi?
    Jawab : Sekali lagi saya tidak mengikuti rule dari Dirjen Diktinya seperti apa, tetapi sepengetahuan saya di Binus dosen yang bukan Dosen Tetap (FM = Faculty Member) tidak boleh atau tidak perlu Sertifikat Dosen, tetapi Jenjang Kepangkatan Akademis (JJA) tetap diperlukan…karena JJA ini untuk menetapkan besarnya gaji yang diberikan, misalnya S2 dengan JJA Lektor Kepala gajinya sudah pasti lebih tinggi daripada S2 dengan JJA Lektor karena yang terakhir ini bisa disebut “kalah satu strip” dibanding yang pertama.

    Reply

  218. iyan
    Mar 05, 2012 @ 13:36:44

    waduwh pak infonya lengkap banget

    Reply

  219. iyan
    Mar 05, 2012 @ 13:39:40

    pak saya s1 pend eko unj, sekarang lagi s2 pend eko unj. linier. klo mo ngajar jadi dosen kira kira kemana saja pak arif. saya dari 2002 di ut tutor tapi rasanya pingin jadi dosen…

    Reply

  220. iyan
    Mar 05, 2012 @ 13:42:23

    Pak arif saya s1 pend ekonomi unj skr s2 pend eko upi. dari 2002 tutor di ut, klo mau jadi dosen kira kira apakah harus ke univ pend. atau spt binus jg bisa. rasanya pingin jadi dosen…. s1, s2 linier pak.

    Mas Iyan,
    Pendidikan anda memang linier S1 dan S2-nya.
    Tapi karena latar belakang anda adalah Pendidikan Ekonomi, ya mestinya anda ngajarnya di jurusan Pendidikan Ekonomi juga. Mengajar di Binus di jurusan Ekonomi mestinya tidak bisa karena Binus pasti akan mencari orang yang latar belakang pendidikannya S2 atau S3 di Bidang Ekonomi Manajemen atau Ekonomi Akuntansi (Ekonomi Pembangunan pun tidak akan diterima). Kenapa begitu ? Karena Binus sudah menerapkan ISO-9000 sejak 1997 jadi ada ketentuan bahwa dosen yang mengajar harus linier dengan jurusan yang diajarnya…

    Kira-kira seperti itu. Itulah dulu alasan anda ngambil jurusan Pendidikan Ekonomi, dan mestinya alasan itu masih diingat…yaitu ngajar sebagai dosen atau guru di Pendidikan Ekonomi.

    Mudah-mudahan ini bisa memperjelas masalahnya…

    Reply

  221. Bambang Leo Handoko, S.E., M.M.
    Mar 07, 2012 @ 10:48:10

    Salam Kenal Pak Tridjoko dan rekan-rekan lain di blog ini, saya mau berbai cerita masa kecil saya, semoga bermanfaat dan menginspirasi kita semua, amin

    Regards,

    Bambang Leo

    http://edukasi.kompasiana.com/2010/09/17/dosen-pahlawan-pembela-rakyat-kecil/

    Mas Bambang,
    Salam kenal juga. Saya sudah baca ceritanya dan sepenuhnya saya bisa mengerti, karena saya juga mengalami sendiri. Sebenarnya cerita semacam itu tidak pernah terjadi di SD Negeri atau lebih terkenal dengan SD Inpres (public school), karena gurunya sudah digaji pemerintah dan gedungnya juga dibangun pemerintah. Jadi guru2 SD negeri lebih bisa terlepas atau terbebas dari pengaruh orang tua siswa yang suka “memberi”.

    Tapi di SD Swasta memang lain, gedung dibangun atas sumbangan orang tua siswa. Mungkin orang tua Amelia juga telah menyumbang sejumlah tertentu untuk kesejahteraan guru atau sekolah. Yang awalnya tidak salah. Yang salah adalah, ketika para guru merasa “berutang budi” kepada orang tua Amelia dan memberi kemudahan kepada Amelia.

    Kedua anak saya sekolah di sekolah swasta. Saya sering memberi perhatian kepada guru, tetapi tidak dalam bentuk materi. Kalau anak saya bisa nembus 3 besar, anak kecil saya malah tidak sampai di tengah2 kelas rankingnya. Selalu ketinggalan. Tapi anak saya yang kecil tidak pernah nyontek, dan dia percaya kepada kemampuannya sendiri. Waktu perpisahanpun anak saya yang kecil tidak menduduki ranking sama sekali di kelasnya. Tapi akhirnya dia masuk ITB, dan sudah menjadi pegawai 2 BUMN papan atas, yang satu di bidang perminyakan dan yang sekarang di bidang Perbankan…

    Tidak perlu sakit hati, tidak perlu membalas dendam. Seperti teman Amerika yang memberi nasehat kepada saya, “Tri, you cannot worry about other people’s life. You can only worry to your own life. Think about your own life, not others’ “…kata teman saya yang sekarang jadi Professor itu….

    Reply

  222. ambar
    Mar 13, 2012 @ 23:09:32

    Salam kenal,Pak Tri.

    Saya ambar. Senang sekali bisa membaca blog Bpk :)
    Bapak, saya lulusan S1 FHUGM (dengan konsentrasi Hukum Internasional) dan skg sedang menempuh S2 di UGM dengan konsentrasi Hukum Bisnis. Yang ingin saya tanyakan:
    1. Saya ingin menjadi dosen,pak. Beberapa lowongan dosen yang saya baca ada keterangan s1 dan s2 linier. Sedangkan saya,sepertinya tidak linier,meski titel saya SH. Kira2,saya bisa nggak ya,Pak,utk apply jadi dosen? Terkait dengan linier,(indikator linier atau tidak)sekiranya saya bisa dapat info dimana ya,Pak? Mohon bantuan dari Pak Tri.
    2. Apakah nilai TPA menjadi syarat wajib untuk apply menjadi dosen selain TOEFL? Mengingat saya,saat apply s2 memang ada nilai TPA dan TOEFL yg menjadi syarat wajib.
    3. Saya kepikiran,Pak untuk apply menjadi asdos. Karena saya juga tidak begitu pintar dan hanya sedikit sekali punya pengalaman mengajar. Menurut Bpk,bgaimana? Untuk S2 ,saya sdg mengerjakan tesis. Kl Tuhan ijinkan,tahun ini selesai. Saya sebenarnya berharap sekali menjadi dosen,tapi saya nggak yakin,apakah jurusan kuliah saya ini linier atau tidak.
    4. Saya setuju dgn tulisan Bpk, dimana jangan berharap akan berlimpah materi dengan menjadi dosen. Saya mau berbagi dengan Bpk. Saya pernah bekerja di prshn dan disaat itu saya memutuskan utk resign karena saya diminta utk bekerja dgn tdk jujur oleh atasan saya. Padahal saat itu, prshn telah beri saya fasilitas dan gaji yg lumayanshg sy bisa beli novel kesukaan saya,karangan Enid Blyton :) Di saat itulah,saya dimintai tolong tante saya utk mengajari anaknya bhs inggris. Meski bhs inggris saya jelek,ya setidaknya saya masih bisa utk anak SD. Dan alhmdlh,nilai sepupu saya ya,tdk jelek2 banget,Pak (dpt 9-10),heheheheee.. Dan saya pun juga tdk minta dibayar. Tapi tante saya sebagai gantinya beri saya makanan entah kue atau makan siang atau makan malam). Entah kenapa,di saat saya mengajar,ada self-indulgence yg sy dapatkan. Mungkin ini jawaban dari Tuhan. Bahwa bekerja di prshn tdk selalu menyenangkan dan Menjadi seorang pendidik adalah pekerjaan halal dan membahagiakan.

    terkait dengan pertanyaan saya,mohon masukan dari Pak Tri. Terima kasih.

    Regards,
    Ambar.

    Ambar,
    Salam kenal kembali…..

    Kelihatannya latar belakang pendidikan Ambar sudah linier kok, karena kalau lulusan Fakultas Hukum (Jurusan Ilmu Hukum) itu tidak terlalu terkotak-kotak Hukum Pidana, Hukum Perdata, Hukum Internasional, Hukum Ekonomi, dan Hukum Lingkungan… Jadi kalau S1 Ambar Hukum Internasional, S2 Hukum Bisnis, dan ngajarnya di Hukum Bisnis Internasional….wah itu sudah linier banget (Binus sedang membuka jurusan Hukum Bisnis nih Ambar, jadi Ambar cepat lulus S2 nya)…

    1. Saya ingin menjadi dosen,pak. Beberapa lowongan dosen yang saya baca ada keterangan s1 dan s2 linier. Sedangkan saya,sepertinya tidak linier,meski titel saya SH. Kira2,saya bisa nggak ya,Pak,utk apply jadi dosen? Terkait dengan linier,(indikator linier atau tidak)sekiranya saya bisa dapat info dimana ya,Pak? Mohon bantuan dari Pak Tri.
    JAWAB : Kalau untuk lulusan Fakultas Hukum….biasanya dianggap liniear. Tidak seperti di Fakultas Ekonomi (Jurusan Manajemen, Jurusan Akuntansi, Jurusan Pembangunan, dan Jurusan Pajak)…

    2. Apakah nilai TPA menjadi syarat wajib untuk apply menjadi dosen selain TOEFL? Mengingat saya,saat apply s2 memang ada nilai TPA dan TOEFL yg menjadi syarat wajib.
    JAWAB : Kalau di PTN mungkin iya jadi syarat, TPA minimal 500 dan TOEFL minimal 550. Kalau di PTS, malahan ada test ngajar 30 menit dan kalau perlu ada kamera tersembunyi yang akan melihat tutur kata dan bahasa tubuh si calon dosen….

    3. Saya kepikiran,Pak untuk apply menjadi asdos. Karena saya juga tidak begitu pintar dan hanya sedikit sekali punya pengalaman mengajar. Menurut Bpk,bgaimana? Untuk S2 ,saya sdg mengerjakan tesis. Kl Tuhan ijinkan,tahun ini selesai. Saya sebenarnya berharap sekali menjadi dosen,tapi saya nggak yakin,apakah jurusan kuliah saya ini linier atau tidak.
    JAWAB : Kalau di PTN mungkin ada AsDos, tapi gak perlu melamar jadi AsDos. Dosen dengan pangkat III/a dan III/b kan disebut “Asisten Ahli” dan “Asisten Ahli Madya”….jadi dosen muda ya masih sering disebut Asisten Dosen kalau di PTN, tapi kalau di PTS dosen muda ya dosen, bukan Asisten Dosen…

    4. Saya setuju dgn tulisan Bpk, dimana jangan berharap akan berlimpah materi dengan menjadi dosen. Saya mau berbagi dengan Bpk. Saya pernah bekerja di prshn dan disaat itu saya memutuskan utk resign karena saya diminta utk bekerja dgn tdk jujur oleh atasan saya.
    JAWAB : Syukurlah kalau bisa setuju dengan pendapat saya. Dosen itu setiap sen gajinya adalah gaji yang halal sehingga pantas untuk diberikan kepada anak cucu sebagai wujud syukur kita telah berpenghasilan secara halal…

    Reply

  223. caca
    Mar 14, 2012 @ 22:14:40

    Salam kenal pak,

    Saya caca 26 tahun, lulusan S1 biologi dan S2 ilmu lingkungan di Bandung.
    kebetulan saya sedang mencari hal yang berhubungn dengn dosen. ada yang ingin saya tanyakan Pak.
    Jujur, saya sangat ingin menjadi dosen, namun melihat latar belakang ilmu yang saya peroleh, nampaknya agak sulit mndapat lowongan jurusan tersbut..Jika untuk melamar bekerja ke perusahaan, saya tidak begitu tertarik dan lagipula suami saya meminta saya sebaiknya jika ingin bekerja, bekerjalah sebagai pengajar atau dosen karena lebih banyak mengamalkan ilmu yang telah dimiliki. pertanyaan saya,
    1. apakah jika saya melamar ke universitas swasta yang ada jurusan terkait lingkungan, apkah bisa diterima? seperti teknik lingkungan misalnya, meskipun saya bukan lulusan teknik ling, tetapi ilmu lingkungan.
    2. apakah untuk menjadi dosen diharuskan memiliki pengalaman mengajar dulu di universitas? sedangkan untuk diterima saja belum pernah.. lalu bagaimana bisa mendapat pengalaman kerja,karena jujur saja pak, setelah lulus s1, sy langsung melanjutkan s2 dan hingga sekarang belum bekerja dan belum ada pengalaman bekerja, namun ketika kuliah s1 pernah menjadi asisten dosen praktikum.
    3. saya sudah banyak memasukkan lamaran kerja ke universitas swasta dan hingga sekarang belum ada panggilan saja, apakah ada solusi lain pak? atau apakah untuk melamar ke univ.negeri juga susah?
    Mohon bantuan dan solusiny Pak..
    Terima kasih atas bantuan dan saran bapak..
    Salam,
    Pisca (caca)

    Mbak Caca,
    Salam kenal kembali mbak Caca… Memang ada kesan melamar dosen untuk bidang keahlian tertentu yang “pasaran” seperti Ekonomi, Hukum, Sastra, Teknik Informatika (Ilmu Komputer)….lebih mudah dari melamar dosen untuk jurusan-jurusan “kering” yang mahasiswanya sangat sedikit alias “tipis”…

    Tapi rule of thumb (patokan kasarnya), kalau PTN melamarnya lebih mudah karena PTN kan kampusnya, biaya dosennya dsb kan sudah ditanggung sama pemerintah, jadi pasti memerlukan dosen baru. Sedangkan bagi PTS, dosen baru direkrut jika mahasiswanya memang sudah ada dan banyak (bukan rahasia lagi, “break even” di PTS kalau jumlah mhsw lebih dari 30 orang)…Jadi itu kuncinya mbak Caca, dalam memahami masalah ini.

    Ini jawaban saya atas pertanyaan2 mbak Caca :

    1. apakah jika saya melamar ke universitas swasta yang ada jurusan terkait lingkungan, apkah bisa diterima? seperti teknik lingkungan misalnya, meskipun saya bukan lulusan teknik ling, tetapi ilmu lingkungan.
    JAWAB : Jawabannya simpel aja mbak yaitu…coba aja. Coba lagi dan coba lagi….apalagi yang PTS soalnya kan mahasiswanya harus ada dulu. Lha di jaman sekarang banyak nggak mahasiswa yang milih jurusan Lingkungan/Teknik Lingkungan di PTS mah..

    2. apakah untuk menjadi dosen diharuskan memiliki pengalaman mengajar dulu di universitas? sedangkan untuk diterima saja belum pernah.. lalu bagaimana bisa mendapat pengalaman kerja,karena jujur saja pak, setelah lulus s1, sy langsung melanjutkan s2 dan hingga sekarang belum bekerja dan belum ada pengalaman bekerja, namun ketika kuliah s1 pernah menjadi asisten dosen praktikum.
    JAWAB : Pengalaman mengajar sebelumnya di universitas lain atau sebagai asisten dosen praktikum, tentu sangat membantu “memperkuat” cv-nya mbak Caca. Tapi intinya, usahakan mbak Caca menulis CV-nya agak “berbeda” dengan calon-calon dosen lainnya, nah di sini rekruiter di kampus akan melihat “perbedaan” itu…

    3. saya sudah banyak memasukkan lamaran kerja ke universitas swasta dan hingga sekarang belum ada panggilan saja, apakah ada solusi lain pak? atau apakah untuk melamar ke univ.negeri juga susah?
    JAWAB : Ya ditunggu saja mbak. Feeling saya, karena mahasiswa jurusan Lingkungan/Teknik Lingkungan di PTS sangat sedikit, makanya kans jadi dosennya juga semakin sedikit. Kalau mau melamar ke PTN, ya sangat dipersilahkan mbak, terutama PTN yang masih baru…pasti banyak menerima dosen-dosen baru yang lebih banyak daripada PTN yang lama…

    Reply

  224. ambar
    Mar 15, 2012 @ 12:57:04

    Halo,Pak Tri..

    Terima kasih,ya,Pak,atas masukkannya. Pengetahuan saya minim sekali untuk profesi dosen (jadi malu saya).
    Benar,Pak Tri. Saya belajar hukum internasional hanya krg lbh 3 semester (sem5-sem8) selain itu saya belajar hukum keseluruhan (kalau di UGM ada 12 jurusan hukum). Sedangkan untuk hukum bisnis ini memang sesuai dengan program kampus (4 semester; 3 semester teori dan 1 teori utk tesis). Jadi,saya lebih lumayan mengerti mengenai hukum bisnis meski hukum internasional saya juga suka.

    Wah,,BINUS sdg buka hukum bisnis? Semoga BINUS mau menerima saya ya,Pak =) (maklum IPK saya pas2an saat S1 3,62 dan skg IPK sementara saya (S2) 3,8. Kalau di kampus saya gak yakin bisa,Pak apply jd dosen :) karena adik2 angkatan saya yg jadi dosen IPK nya lbh tinggi dr saya bahkan ada yg sempurna) Sdgkan untuk TPA skor saya,alhmdlh sudah melebihi yang Bapak beritahu. Insya Allah mau saya upgrade lagi (gregetan,Pak,ingin nembus 600) termasuk juga TOEFL (meski penyakit saya selalu ngos2an ketika di section reading). (jadi malu lagi sayaa).

    Mohon doa dari Bpk, semoga saya bisa cepat menyelesaikan S2

    Matur nuwun.

    Ambar

    Dear Mbak Ambar,
    Wah…IPK mbak sudah tinggi sekali dibandingkan saya dulu lulus dengan IPK 2.59….hehehehe :)
    Mudah-mudahan dengan latar belakang Hukum Bisnis mbak Ambar bisa gabung dengan Binus di Jakarta. Tapi mau kan tinggal di Jakarta ? hehehe….Yogya kan enak, tenteram gitu….kalo Jakarta mah hingar-bingar…hehe
    Iya mbak sambil selesaikan S2, mbak bisa juga ambil TOEFL International atau IELTS International, dan perbaiki TPA-nya. Tapi lebih penting lagi ambil GRE (Graduate Record Examination), siapa tahu nanti bisa nerusin ke LN dan dapat gelar LL.M di Aussie atau US…
    Keep contact ya mbak….

    Reply

  225. ambar
    Mar 17, 2012 @ 00:12:59

    Tenang saja,Pak..saya ini lahir di jakarta dan lama tinggal di bekasi (dr TK sampai SMU,cuma kuliah saja yang di jogja,karena faktor beruntung ditrima di UGM (doa ayah ibu serta eyang kakung,yang pengen anak dan cucunya bisa kuliah di UGM).hehehehehehee :) Dan alhmdlh,sudah pernah kerja juga di Jakarta. Jd sudah merasakan kasih sayang ibu kota Jakarta yang sudah saya anggap ibu angkat saya :)
    Aamiin,semoga Binus mau menerima saya.Nuwun,ya Pak,utk doanya.
    Iya,Pak,nuwun sanget kagem info GRE nya. Ayah saya pasti semangat 45 buat nyuruh saya ikut GRE kalau saya beritahu atas saran Bapak (karena ayah saya kepengen banget saya bisa kuliah di Amerika,meski saya cuma bisa berdoa karena pastinya susah,jd nggak berani berharap sekali,Pak.hehehehheee)
    Bisa nerusin dan dapat gelar di Sgp atau Malaysia saja sudah bersyukur :)
    (saya ga muluk2,Pak.karena sadar diri..hahahahhaaa,,jd malu saya)
    Tapi tetap semangat 45 kok,Pak. Belajar,solat,dan ikhlas,itu andalan saya.. Niat saya ingin jadi dosen,bisa berbagi ilmu sm adik2 di perguruan tinggi dan bisa bantu orang banyak,Pak :)

    Siaaaaapp,Pak Tri.. Tetap silahturahmi.. Semoga Bapak juga tdk bosan membaca tulisan saya dan smoga berkenan membantu saya kalau saya mau tanya2 lagi.. Sehat selalu,ya Pak..Semangat..Semangkaa..Semangat.. :) :) :)

    Salam

    Mbak Ambar,
    Kalau GRE dan TOEFL mbak Ambar tinggi, pasti sekolah lagi ke US itu hanya masalah waktu. Baca posting saya yang dulu di Blog ini “Lulus S1, Lanjut S2 atau S3″ kalau gak salah judulnya seperti itu. Isinya motivasi untuk melanjutkan S3 ke LN, kalau perlu cari beasiswa. Sudah banyak yang termotivasi. Keponakan saya sendiri sekarang sudah di Jepang.
    Tapi kalau masalah Ilmu Hukum kayaknya bagusan ke US atau ke Nederlands. Coba-coba aja cari infonya mbak. Saya biasanya penuh info, tapi nanti info beasiswa saya kumpulkan kembali.
    Good luck mbak. Kalau mbak bisa add saya, sebut aja nama saya, tentu kita bisa berkomunikasi dengan lebih baik.
    Salam…juga salam untuk Bapaknya mbak Ambar yang baru 45 tahun….eh punya semangat 45 ding….hehehe…

    Reply

  226. anton
    Mar 18, 2012 @ 19:05:19

    maaf pak tri mengganggu, saya lulusan S1.pend.s.musik di PTN ingin sekali menjadi dosen seni , apakah dengan menggunakan ijazah s1 saya bisa mendaftar menjadi dosen, dan saya saat ini ingin melanjutkan studi S2 pend.seni di PTN.
    Yang saya tanyakan apakah saya lebih baik s2 dulu atau mendaftar dengan ijazah s1 karena saya takut jika kuliah dlu,peluang menjadi dosen akan diambil orang….bagaimana solusinya pak…bingung nihh….heee?

    Anton,
    Coba dulu saja melamar waktu masih S1, lihat apakah bisa diterima sebagai dosen di PTN.
    Yang jelas kalau dapat gelar S2 kans nya diterima jadi dosen PTN 2 x lipat daripada waktu cuman gelar S1, dengan syarat….yang melamar dosen hanya kita sendiri. Kalau ada “saingan” kita, tentu saja CV kita bakal dibandingkan dengan “saingan” kita itu…
    Anyway, selamat mencoba…

    Reply

  227. re
    Mar 18, 2012 @ 19:10:57

    salam kenal pak tri

    Salam kenal kembali Re….

    Reply

  228. ambar
    Mar 19, 2012 @ 13:25:57

    Halo,Pak Tri..
    Wahh,nuwun sanget untuk motivasinya,Pak.
    Untuk sekarang,saya mau fokus dulu,selesaikan S2 saya sembari meninggikan TPA dan TOEFL saya,Pak..supaya saya bisa ngajar :) ditambah 1 thn ini saya juga lg belajar bhs mandarin (yah,masih jelek sih,tp kalau buat memperkenalkan anggota tubuh dan buah,bisa lah :) ) yaa,siapa tahu ilmu saya bisa dipakai..

    Kalau nanti Gusti Allah ijinkan saya jadi dosen,ya pelan-pelan mencari beasiswa seperti saran Bapak..

    Oke,salam Bapak sdh ambar sampaikan ke ayah saya..

    Nuwun,Pak Tri.

    Mbak Ambar,
    Iya terima kasih juga telah berteman.
    Kalau begitu, selesaikan dulu S2 mbak Ambar secepatnya nanti sambil kita lihat apa yang bisa dikerjakan setelah itu untuk mewujudkan cita-cita menjadi dosen…

    Reply

  229. ratnah
    Mar 22, 2012 @ 22:03:42

    gmn cara pindah dr guru ke dosen smntra jbtannya bru asisten ahli

    Ratnah,
    Caranya dengan melamar jadi dosen dulu. Kalau diterima, ya baru pindah…

    Reply

  230. anton
    Mar 25, 2012 @ 03:22:50

    kalau saya mendaftar dengan ijazah s1, apakah saya melampirkan keterangan bahwa akan melanjutkan s2?

    Anton,
    Ya, sebaiknya di CV sebutkan kalau Anton saat ini sedang terdaftar atau sedang melanjutkan studi S2..

    Reply

  231. re
    Mar 25, 2012 @ 03:27:54

    saya mau tanya pak, saya seorang guru akan melanjutkan s2 tetapi jurusan yang saya pilih berada diluar kota, tidak mungkin saya kuliah sambil mengajar, apakah bisa saya kuliah tetapi dibebas tugaskan mengajar?terimaksih atas jawabanya

    Re,
    Di jaman sekarang mah….kuliah S2 bisa sambil Online loh…

    Contohnya di Binus University tempat saya mengajar, mulai Maret 2012 ini sudah dibuka kelas Online.
    Silahkan klik http://www.binus.ac.id/ dan coba telpon Penerimaan Mahasiswa Baru S2 di 021-534-5830, hubungi operator, dan minta disambungkan dengan PMB S2….

    Jadi anda tetap bisa ngajar sambil ngambil S2…

    Good luck…

    Reply

  232. yuli
    Mar 25, 2012 @ 16:24:27

    pak tri saya mau tanya..saat ini saya sedang mndftar studi s2 di unnes smrng.tetapi ada kbar bhwa didaerah asal saya di lmpung akan diadakan cpns guru,sy mlnjutkn studi s2 ini krna jurusan yng sy ambil dilmpung tdk ada..mnurut bpak bgimna solusi tbaek ny…apkah sy mndftr cpns/s2 dlu?

    Reply

  233. yuli
    Mar 25, 2012 @ 16:55:41

    pak tri saya mau tanya..saya bru lulus s1 di PTN smrang dan saya saat ini saya sedang mndftar s2 di PTN smrng yg sesuai dengan bidang s1 saya, tetapi ada kabar bhwa di daerah asal saya di lmpung akan diadakan cpns guru tahun ini, menurut bapak apakah saya mendaftar cpns/s2???
    krena bidang studi s2 yg saya ambil di propnsi lmpung tidak ada jurusannya.Bagaimana solusi terbaiknya pak?

    Yuli,
    Menurut saya kalau disuruh memilih : kerja atau sekolah, jawaban saya adalah kerja. Karena kerja lebih penting daripada sekolah. Jadi usahakan masuk CPNS dulu. Kalau diterima ya dijalani dulu.
    Masalah sekolah S2 nanti kapan-kapan pasti ada kesempatan lagi….

    Reply

  234. Eko Prayitno.S.T.,M.Sc
    Apr 08, 2012 @ 01:46:56

    Sugeng Ndalu Pak Tri
    Salam Kenal dari saya Eko (asli Cilacap JATENG) di Kota Padang SUMBAR, saya suka banget dengan Tulisan bapak di Blog ini yang berjudul “CERITAKU, CERITAMU, CERITAKITA” …..rasanya tulisan bapak mewakili banget dengan cerita/pengalaman saya sekarang ini..hehehe…saya sekarang bekerja menjadi Dosen Honorer di jurusan Teknik Sipil dengan mengampu 7 sks, 3 mata kuliah di Salah satu Universitas Swasta di Kota Padang sini pak, semester genap ini adalah semester ke 3 saya ngajar dan di semester ini pula saya membimbing Mahasiswa Skripsi/Tugas Akhir untuk 5 Mahasiswa (ALHAMDULILLAH). yang ingin saya tanyakan ke pak Tri, Patokan Gaji Honorarium Per sks itu di ambil dari mana pak?kayaknya Gaji Honorarium saya gak sebesar itu deh pak…hehehehe…nuwun Pak Tri, salam Kagem konco-konco Dosen teng BINUS.

    Mas Eko,
    Kalau gak salah standar gaji/honor dosen itu dikeluarkan dalam bentuk SK Dirjen Dikti Kemendiknas kira-kira 5 tahun yang lalu.
    Mungkin juga itu standar untuk Kopertis III (PTS wilayah Jakarta dan sekitarnya). Tapi yang jelas beberapa universitas di Jakarta sudah bisa memenuhi standar gaji/honor dosen itu.

    Bahkan untuk dosen tetap di PTS seperti tempat saya mengajar sekarang, ada dosen tetap (di univ saya disebut “FM” alias “Faculty Member”) setiap bulan ada gaji Rp 2,5 juta katanya konon berasal dari Kemendiknas. Benar apa tidaknya saya juga tidak tahu (saya belum dapat gaji bulanan itu karena status saya dosen paruh waktu alias “AFM” alias “Associate Faculty Member”)..

    Yang jelas besar kecil gaji sebagai dosen PTS tentu terkait langsung dengan mutu/nama PTS yang bersangkutan. Semakin besar namanya, biasanya standar gaji/honor dosennya juga tinggi.
    Demikian mas penjelasan saya…

    Reply

    • Eko Prayitno.S.T.,M.Sc
      Apr 09, 2012 @ 21:52:53

      trima kasih untuk penjelasanNYA pak Tri…sekarang saya jadi Paham dan semoga saja untuk standar gaji/honor dosen di kampus saya bisa berpatokan sama SK Dirjen Dikti Kemendiknas….soalnya teman-teman dosen saya kadang membanding-bandingkan dengan perguruan tinggi swasta yang lain pak….padahal PTS di tempat kami ngajar lumayan besar namanya di SUMBAR.

      Mas Eko dan dosen2 lain di Sumbar,
      Hehehehe….ya sekarang Mas Eko silahkan milih apakah mau mengajar di PTS yang besar namanya dan besar jumlah mahasiswanya…ataukah mengajar di PTS cukup kecil tapi bagus renumerasinya….masing-masing ada plus dan minusnya kan ?

      Seeking a greener pasture” (rumput tetangga lebih hijau) itu biasa mas, asal jangan bilang “isteri tetangga lebih cantik dari isteri saya sendiri”….wah kalau sudah begini, gebuk isteri yang mampir ke punggung mas….hehe

      Selamat pagi dan selamat beraktivitas….

      Reply

  235. Trackback: Gaji Dosen Swasta Indonesia « Jeruk Nabire
  236. Freddy
    May 08, 2012 @ 14:17:15

    salam kenal semua…
    saya 27 Tahun, lulusan S1 kehutanan 2009 PTN di palangkaraya,kalteng.
    setelah lulus dapat kerja di (LKP)Lembaga kursus dan pelatihan gitu jadi Pengajar komputer program Pemetaan dan Database berbasis GIS tingkat operator dan analisis (ArcGIS&ArcView) selama 3 Tahun kontrak. selama mengajar itu banyak instansi2 dan dosen ikut pelatihan GIS, sekarang kontrak saya mau habis, dan tidak memperpanjang kontrak.
    saya ingin menjadi asisten dosen/tenaga pengajar di universitas PTN/PTS, yang jd pertanyaan apakah bisa dengan ada SK pengalaman kerja itu dilampirkan? kemudian ada referensi PTN/PTS didalam atau di luar daerah yang bisa menerima saya dengan pengalaman kerja GIS. sekali lagi terimakasih

    Freddy
    ,
    Mestinya dalam menulis sebuah Curriculum Vitae (CV), semua pengalaman kerja yang anda sudah jalani masukkan saja, tetapi tidak sampai memasukkan SK (Bukti) setiap pengalaman kerja yang ada. Disiapkan saja nanti pas anda diwawancara, tetapi tidak disertakan di dalam berkas surat lamaran.
    Demikian mudah-mudahan jelas…

    Reply

  237. freddy
    May 14, 2012 @ 12:07:52

    sepertinya MUSTAHIL pak S1 jd asisten dosen/tenaga bantu PTS/PTN di negeri ini. walaupun kita berani beradu tes di tempat soal pengalaman/Skill dgn S2/S3 tanpa melihat titel dibelakang. krn dulu sebelum kerja sy terkendala biaya tdk bs melanjutkan S2 apalagi dapat beasiswa S2. sy sudh mencoba melamar ke PTS/PTN di Provinsi sy dan ada salah stu PTS berkata ” wah Percuma anda datang kemari membawa ijasah S1 utk melamar? itupun sambil tertawa. jd dpt disimpulkan itu semua Mustahil. walaupun ada yg bilang Tdk ada yg tidak mungkin di dunia ini. terimakasih I like this wordpress..membangun sekali.

    Mas Freddy,
    Kalau di universitas saya (Binus), S1 boleh melamar jadi langsung jadi asisten dosen terutama untuk mata kuliah programming. Jadi untuk melamar jadi dosen tidak harus bergelar S2. Makanya ada pangkat dosen “Asisten Ahli” yang mestinya diperuntukkan buat lulusan S1…
    Kalau di PTN/PTS yang anda tuju mengatakan seperti itu, mungkin mereka sudah bosan menerima banyak pelamar S2 dan S3 yang jauuuuuh di atas kuota penerimaan dosen…(mis yang melamar 100, yang diterima cuman 2 orang dosen)…

    Reply

  238. Yudha
    Jun 06, 2012 @ 14:25:24

    Saya baru semester II program magister manajemen, tapi saya sungguh-sungguh tertarik untuk menjadi dosen. Saya tidak melihat berapapun honor yang akan saya terima, passion saya untuk mengajar cukup besar, dan mungkin ke depannya saya akan mohon bimbingan Bapak untuk bisa membuat saya menjadi dosen yang baik..

    Mas Yudha,
    Kalau gitu begitu lulus MM, anda melamar aja sebagai dosen (bisa dosen MM atau dosen S1 program bisnis & manajemen)…

    Reply

  239. Indra Wahyu Pratama
    Jul 02, 2012 @ 12:37:42

    Salam kenal semuanya.

    Nama saya Wahyu. Saya ingin berbagi kepada teman-teman mengenai pengalaman saya menjadi Asisten Dosen di Fakultas Hukum salah satu Univ swasta di Jakarta sampai saat ini. Mudah-mudah dapat membantu kawan-kawan kususnya yang hendak menjadi asisten dosen.

    Saya tamatan S1 Hukum dari PTS swasta tempat saya mengajar. Saya tamat tahun 2010. Lalu saat ini saya sedang melanjutkan studi S2 Magister Kenotariatan UI (Semeter 3). Saya diterima menjadi asisten dosen dari saya semester 1. Prasyarat \”terpenting\” di kampus itu untuk menjadi asisten dosen adalah:
    1. Minimal sedang mengikuti program S2 (dibuktikan dengan surat keterangan dari Kampus)
    2. Mendapatkan surat rekomendasi/persetujuan dari dosen mata kuliah yang ingin kita \”assist\”-kan

    Bila semua sudah ada, lamaran baru diajukan beserta lamiran yang lain (ijazah, transkrip nilai, dll.), Lalu setelah itu, ada sesi wawancara dengan Wadek Pendidikan dan/atau dengan Dekan langsung

    Menurut Saya, yang tersulit untuk didapatkan adalah syarat nomor 2. Dikarenakan hal itu subjektivitas dari dosen yang bersangkutan. Beruntung, dulu saya menjadi mahasiswa yang cukup dikenalnya dan dibimbing skripsi olehnya. Jadi, saya tidak perlu memperkenalkan diri saya lebih jauh lagi.

    Pendapatan pokok dari menjadi seorang Asdos di Kampus tersebut, antara lain:
    1. Uang 1 sks (bila dalam mata kuliah tersebut berbobot 4 sks, 4 sks itu tetap milik dosen bersangkutan. Asistennya hanya mendapatkan 1 sks saja, tanpa mengurangi pendapatan dosen bersangkutan)
    2. Uang transport per kehadiran/hari. Bila dalam satu hari kita mengajar 4 kelas dan satu kelasnya berbobat 4 sks, tetap saja kita hanya mendapatkan 1 kali trasport)

    Perbulan saya bisa mendaptkan penghasilan sekitar 900-1,2 juta. Tergantung dari kehadiran saya sendiri.Memang relatif kecil, Namun bila dipikir lebih lanjut, hal ini sebanding dengan \”jam kerja\” saya. Saya hanya menghabiskan waktu 5 jam selama 3 hari (jam 8 pagi sampa jam 1), Dan pekerjaan ini dalam rangka \”magang\” serta mendapatkan penghasilan selagi menempuh pendidikan yang tetnunya tidak mengganggu kuliah. Hal itu juga dalam rangka menunggu pengangkatan menjadi dsen tetap yang mengkin akan dilakukan setelah saya sudah \”mengabdi\” selama 2 sampai 3 tahun.

    Kedua itu yang pokok, sedangkan tambahannya bisa didapat dari:
    1. Uang mengawas Ujian Akhir Semester
    2. Uang asisten penelitian
    3. Penulisan Jurnal-jurnal
    4. Uang kehadiran rapat dan acara-acara kampus yang lain.
    5. Proyek-proyek kampus lainnya yang berhubungan dengan pengabdian masyarakat. Misalnya, saya pernah menjadi Tim Pengawas Independen Ujian Nasional. Dan pendapatannya cukup besar, sekitar 2 juta Rupiah dalam 4 hari.
    Dan dana dari Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (bila di FH selalu ada)

    Nah begitulah sedikit \”sharing\” saya, semoga dapat membantu teman-teman yang berniat mengadbikan diri kepada ilmu pengetahuan dan kebenaran menjadi seorang dosen. Ada \”quotes\” yang terkenal di kalangan para akademisi hukum yang selalu saya ingat, yaitu
    1. Pengacara bekerja untuk membela yang membayar, sedangkan dosen bekerja untuk membela yang benar.
    2. Seorang politisi tidak boleh bersalah, namun boleh berbohong. Tetapi Seorang Akademisi, boleh salah namun tidak boleh berbohong.

    Semoga menginspirasi,

    Wahyu

    Mas Wahyu,
    Terima kasih sharingnya. Tapi perekrutan dosen di setiap universitas berbeda-beda. Saya banyak mendapatkan cerita dari teman2 di berbagai universitas nih. Tidak hanya itu saja, di satu universitaspun tapi kalau jurusannya berbeda, policy perekrutan dosen juga bisa berbeda. Tidak bisa disamakan.

    Yang harus saya apresiasi dari mas Wahyu ini adalah sharingnya, siapa tahu proses bisnis ini juga nanti akan ditemui oleh teman2 lainnya yang masih muda2 untuk melamar menjadi dosen…

    Reply

  240. Nizwarman MPd
    Jul 07, 2012 @ 21:20:56

    sy jg pgn jd dosen gmn jalur yg harus ditempuh

    Reply

  241. Nizwarman MPd
    Jul 07, 2012 @ 21:51:23

    sy ingin memberikan apa yg bisa sy berikan untuk bangsa ini serta mengadikan ilmu sy untuk dunia pendidikan

    Reply

  242. Yudiantara Y
    Jul 30, 2012 @ 11:11:03

    Salam kenal Pak Tri,
    Nama saya Yudi, hanya mau tanya saja, apa menjadi dosen itu dibatasi umur pensiun atau tidak ? Maksudnya, jika kary swasta dibatasi sampai umur 55 thn kemudian harus pensiun, apakah hal tersebut juga berlaku di profesi dosen pak ?

    Mas Yudi,
    Mungkin tergantung universitasnya ya Mas Yudi, apakah PTN ataukah PTS. Kalau dosen PTN sudah ditentukan menurut peraturan pemerintah bahwa usia pensiunnya 60 tahun, kecuali Profesor usia pensiunnya 65 tahun. Di atas umur 65 tahun masih bisa dipekerjakan, walaupun statusnya sudah pensiun, namanya profesor emeritus…

    Kalau di PTS tentu sangat bervariasi tergantung seberapa kompleks dan canggihnya PTS yang bersangkutan. Kalau di PTS tempat saya mengajar, saya masih sering melihat dosen Arsitektur dengan usia 73 tahun dan dosen Teknik Informatika yang usianya 75 tahun. Selama beliau masih sehat wal afiat, mampu berdiri, mampu berpikir jernih, masih bisa memberi kuliah, maka PTS tempat saya mengajar tidak pernah memberhentikan dosen kok mas….

    Reply

  243. tri
    Aug 13, 2012 @ 10:26:09

    assalamu’alaikum pak tri…
    perkenalkan nama saya mbak tri sama kayak nama bapak. pasti anak ketiga ya pak. saya sebenarnya guru smk, tadinya nyambi dosen D3 Tapi sudah saya lepas karena seiring dengan waktu saya ngambil pendidikaan S2 MP Jakarta.Jadi waktu buat keluarga tidak ada maka harus ada yang dikorbankan . saya termasuk orang yang rakus ilmu pinginnya belajar terus. setelah lulus S2 nanti ( kebetulan sedang skripsi) saya berniat melanjutkan s3 di LN, tp yang beasiswa. pertanyaannya adalah sebaiknya saya jadi dosen dulu atau langsung s3 mengingat umur saya sudah 37 th . kira-kira di negara mana yang lebih cepat studynya dan ada jurusan MP.Harap dijawab ya pak. Maturnuwun….
    Selamat menunaikan ibadah puasa dan sebentar lagi lebaran. Sugeng Riyadi, mohon maaf lahir bathin…

    Mbak Tri,
    Salam kenal mbak…kita kan saudara se-nama…hehe…

    Mmm…menjawab pertanyaan mbak Tri, sebaiknya mbak Tri ngambil S3 nya di negara Malaysia saja mbak…dengan pertimbangan gelar lebih mudah didapat di sana daripada di negara lain, dan sudah keitung “luar negeri”. Sayangnya, universitas di Malaysia jarang menyediakan beasiswa S3…

    Yang banyak menyediakan beasiswa adalah Singapore, yaitu di NUS (National University of Singapore) dan NTU (Nanyang Technological University). Keduanya banyak menyediakan beasiswa, tetapi kelulusannya relatif lebih sulit daripada universitas di Malaysia, dan lagian….yang menawarkan jurusan Pendidikan (dan menawarkan beasiswa sekaligus) kurang….

    Pertimbangan lain, mbak umurnya sudah 37 tahun….idealnya bersaing untuk beasiswa sekolah S3 di luar negeri itu umurnya kurang dari 30 tahun. Saya pikir, menjadi dosen sebuah PT (baik PTN atau PTS) terlebih dahulu sangat penting untuk dijalani, karena dalam CV mbak nanti sangat sulit dimengerti kenapa guru SMK atau D3 perlu gelar S3…

    Selamat mencoba….

    Reply

  244. Teo
    Sep 07, 2012 @ 18:29:03

    Pak Djoko,
    Salam kenal yah, saya lulusan UPH dan kebetulan S2 juga di UPH. Saya sebenarnya cukup tertarik untuk menjadi dosen, cuman memang saya belum punya pengalaman dalam hal mengajar di dalem kelas. tapi kalo sekadar ngajarin skripsi atau tesis sih sudah cukup sering, dan ternyata saya cukup menikmati proses mengajar itu walaupun kadang2 harus dilakukan setelah jam pulang kantor.
    Saat ini saya masih bekerja di salah satu industri garment dan berencana untuk resign dalam waktu dekat supaya saya bisa menyalurkan keinginan saya untuk mengajar. Cuman saya bingung apakah lebih baik jika menjadi dosen tetap atau dosen paruh waktu? Kelebihan dan kekurangannya apa ya pak?

    Teo,
    Setahu saya menjadi Dosen Tetap saja, tanpa punya pekerjaan lain, di Indonesia ini belum bisa menghidupi….apalagi untuk Anda yang masih berusia muda. Kecuali level Profesor, Doktor, mungkin sudah banyak membimbing mahasiswa, mengerjakan banyak proyek, dan sebagainya…

    Jadi sementara ini yang saya sarankan adalah ambil aja Dosen sebagai kegiatan paruh waktu, sedangkan anda harus punya pekerjaan tetap yang tidak terlalu menyita waktu, minimal masih ada waktu buat jadi Dosen paruh waktu untuk menyalurkan passion anda….

    Reply

  245. Ayahnya Attar
    Sep 26, 2012 @ 19:46:51

    Kalau 25 juta termasuk besar tidak untuk saat sekarang ini???

    Reply

  246. Achmad
    Oct 08, 2012 @ 09:17:05

    Pak Tri,
    Salam kenal pak,
    saya sebelumnya selama 15 thn bekerja dan sekarang resign untuk buka usaha, sambil jalan ternyata saya memiliki passion dalam sharing khususnya kepada teman2. Setelah saya coba analisa sepertinya menjadi dosen akan membuat saya happy selain buka usaha. Menurut bapak, untuk usia 41 tahun seperti saya apakah masih bisa jadi dosen di suatu PTS? enaknya dosen tetap atau puena waktu ya pak? (saya S2 Teknik Elektro)
    Terima kasih pak

    Mas Achmad,
    Tidak ada kata terlambat kok mas. Tapi mengingat Dikti sekarang punya rule yang ketat tentang “kelinieran bidang ilmu”, jadi kalau S1 dan S2 mas adalah Teknik Elektro maka ya bisanya mas cuman ngajar di jurusan Teknik Elektro di PTN atau PTS. Nah kira-kira ada nggak PTN atau PTS yang kira-kira memerlukan tenaga mas untuk jadi tenaga pengajar ? Kalau ada dan bisa ditemukan, ya bicara saja dengan pengelola universitas tentang maksud mas untuk mengajar di situ.
    Good luck !

    Reply

  247. deden
    Nov 23, 2012 @ 13:04:58

    wah…tiba2 searching tentang gaji dosen, eh ketemu blog ini.

    kebetulan saya masih kuliah S2 Maksi Pajak dan memang keahlian saya di pajak dan akuntansi. kepikiran sih nanti kalo sudah lulus mau kerja sampingan jadi dosen pajak atau akuntansi.

    tapi tetap mau kerja inti di lapangan dulu. yaa…targetnya sih sampe jadi kepala departemen atau direktur dulu.

    selama masih jadi tim sih mau sampingan nge-dosen dulu. tapi agak bingung juga sih mulai nya dimana? sempet ditawarin oleh dekan di kampus S1 saya dulu untuk jadi dosen di almamater, tapi waktunya hanya weekday sore dan karena kampusnya jauh dari rumah apalagi kantor, saya tolak.

    enaknya sih ngajar malam tapi kampusnya deket rumah atau kantor, jadi gak khawatir absen. atau weekend supaya lebih leluasa. sempet juga kepikiran untuk jadi pengajar brevet aja, kebetulan saya sudah punya brevet A-C dan sedang proses USKP nya. tapi ya itu dia, bingung mulainya dari mana. nunggu diajak atau masuk2in cv aja ke universitas2 yang dimaksud.

    saran mas tri bagaimana?

    Reply

  248. afifah
    Dec 01, 2012 @ 04:32:02

    pak kalo mau tanya bagaiman tentang penggajian dosen DPK PNS ? apa yang mereka terima? bukankah mereka telah mendapat gaji dari pemerintah??

    Afifah,
    Saya punya kakak jadi dosen di sebuah PTN di Jawa Tengah dengan Jenjang Kepangkatan Akademis Dosen yaitu Lektor Kepala.
    Total yang dia terima kalau menurut ceritanya :
    Gaji PNS = Rp 4.000.000,-
    Tunjangan Fungsional Dosen, Lektor Kepala = Rp 3.000.000.-
    Tunjangan Sertifikasi Dosen, Lektor Kepala = Rp 3.000.000,-
    Jadi total penghasilan (take home pay) yang diterima oleh kakak saya itu adalah Rp 10.000.000 per bulan.

    Tunjangan Sertifikasi Dosen sebesar Rp 3.000.000 itu tetap diterimanya, mungkin disetarakan dengan tunjangan Remunerasi PNS lainnya di tempat lain..

    Reply

  249. afifah
    Dec 05, 2012 @ 13:45:36

    TERIMAKASIH YA PAK PENCERAHANNYA…

    Reply

  250. H=U+M
    Jan 10, 2013 @ 17:06:04

    Asalamualaikum. Salam kenal TS

    Menarik sekali membaca sharing TS, rekan dosen & liat semangat adik2 mhsw. Sepotong di benak sy muncul pendapat setuju & juga dissenting opinion. Tapi sah2 aja…itu memang salah 1 dinamika hidup. Sy doakan Insya Allah semua yg sdg di niatkan bisa terkabul. Aaamin.

    Saya dosen keilmuan ekonomi di sebuah akademi swasta. Agak malu sebenar nya utk ngaku dosen di blog ini dikarenakan pengalaman sy mengajar yg baru seumur jagung & proses “jadi dosen” nya yg agak di luar kebiasaan. Sementara yg lain memang udah niat sejak S1 utk jdi dosen. Sy dulu malah termasuk golongan mhsw “ÿg di benci dosen”…hahaha. Begitu lulus sy maju mundur ambil S2. Sekali nya terdaftar di postgraduated nya sebuah PTS dgn konsentrasi Manajemen Keuangan baru dpt 1 semester malah kabur. Hadeeehhh,

    Singkat nya, sy jdi dosen krn butuh penghasilan tambahan. Maklum, pola hidup di era skrg ini “gak ngutang ga keren”..and da*n it, i’m one of them. And i need extra income to cover the debt. Loohh jdi curcol. Hehehe. Singkat nya lagi, walo hanya berbekal amunisi ijasah S1 sy di terima jdi dosen. Dan skrg bner2 niat utk menyelesaikan S2.

    Hikmah di balik “kecelakaan” itu, Saya menemukan kepuasan tersendiri. Kepuasan bukan dri honor ngajar ye…klo entu mah jauuuuuuuuuuuh dri cukup (walopun sifat nya relative). Tapi sy puas ketika liat ekspresi wajah puluhan mhsw di penghujung semester (khusus nya keilmuan ekonomi). Yg awal nya mengernyitkan dahi (baca keder :d) klo denger uraian teori & rumus, Skrg ekspresi nya jdi paham (ga tau paham beneran or blaga2 paham)..malah sdh ada bbrp mhsw yg berani berbantah praktek teori dgn saya.

    Buat sy ini mungkin adalah karma atas “kekejaman” saya pada dosen pada saat msh kuliah dulu. Dan skrg sy benar2 merasakan suka duka nya bergabung di korps pengajar. Di luar aspek materi yg di dpt, semua pasti ada masa nya. Yg penting kesabaran dlm menunggu & jgn pernah cape utk terus mengevolusikan diri agar lebih “menjual”. Wasalam….

    Vivat academia…Hidup kampusku
    Vivant professores..Hidup para dosen
    Vivat membrum quodlibet..Hidup seluruh mahasiswa
    Vivat membra quaelibet..Hidup seluruh mahasiswi
    Semper sint in flore..Semoga kalian semua akan terus maju
    Crescat una veritas…Semoga kebenaran dan kejujuran tercapai

    Rekan HUM,
    Selamat….anda menyenangi nasib menjadi dosen….hehehe

    Reply

  251. puspita
    Feb 02, 2013 @ 23:52:40

    Salam kenal pak tri,
    Saya dosen, usia 27 tahun S1 lulusan UGM dan S2 dr UI, sekarang mengajar di sebuah PTS dibawah Kementerian yg sedang alih status dr PTS menjadi PTN, dgn status saya saat ini dosen tetap tp masih calon pegawai dgn gapok masih 80 % yaitu 1,7 jt. mohon sarannya pak… Dahulu sebelum saya bekerja di PTS dibawah sebuah kementerian yang lokasinya di Jakarta, nama saya dipinjam/kontrak oleh PTN di Jawa tengah untuk persyaratan pendirian prodi tapi tidak digaji. Untuk persyaratan saya mencari beasiswa BPPS pun, saat itu PTN tersebut sulit memperjuangkan (saat itu saya masih sekolah S2). Sehingga saya tidak aktif lagi di PTN tersebut dan melamar di PTS Jakarta. Nah, beberapa hari yang lalu sekretaris Prodi PTN menelpon saya meminta kembali untuk bergabung di PTN tersebut untuk dijadikan dosen kontrak dan dijanjikan nanti jika ada formasi akan diusulkan sebagai PNS. saya tahu pak, dosen kontrak di prodi tersebut sudah banyak…. Jujur, saya ingin menjadi dosen PNS pak, dan kegiatan penelitian2 maupun pengabdian masyarakat di jakarta saya saat ini, masih full job.

    Yang saya tanyakan:
    1. Apakah pengusulan dosen kontrak menjadi PNS tidak sesuai urutan masa kerja?
    2. Universitas mana yang harus saya pilih pak? apakah PTN Jawa Tengah itu ato PTS di jakarta yang sedang alih status menjadi PTN?
    3. Kira2 membutuhkan waktu berapa lama ya pak, PTS berubah jadi PTN? dan apakah pegawainya bisa langsung jd PNS?
    4. Menurut bapak, apakah standar salary dosen di Jawa tengah sama dengan salary Jakarta?
    5. Konsekuensi apa yang harus saya jalani jika saya meninggalkan PTS di jakarta dan memilih di PTN Jawa tengah? nah, sebagian besar relasi saya, untuk project ada di jakarta.
    6. Apakah bujukan sekretaris prodi tersebut bisa di percaya? mengingat dulu saya tidak digaji
    7. di PTS jakarta, saat ini saya sedang mengurus jabatan akademik(asisten ahli) saya. apakah nanti, jika saya pindah ke PTN Jateng jabatan tersebut bisa di pakai ?

    Mohon pencerahannya, sebelumnya terimakasih bapak

    Mbak Puspita,
    Pertama-tama, saya salut dengan kemauan keras mbak Puspita untuk menjadi dosen. Teruskan mbak cita-citanya sampai kesampaian…

    Kedua, saya ingin menjawab pertanyaan2 mbak Puspita :
    1. Apakah pengusulan dosen kontrak menjadi PNS tidak sesuai urutan masa kerja?
    TDW : Tidak mbak. Kalau sudah masalah pengusulan dosen kontrak menjadi CPNS, dari yang saya dengar penuh dengan “politik” artinya orang yang mampu bisa saja tidak diangkat sebagai CPNS, sebaliknya ada seseorang yang karena dekat dengan pihak manajemen universitas, bisa saja dia yang duluan diusulkan menjadi CPNS. Jadi “gak bisa dijagakne” kira-kira begitulah mbak.

    2. Universitas mana yang harus saya pilih pak? apakah PTN Jawa Tengah itu ato PTS di jakarta yang sedang alih status menjadi PTN?
    TDW : Feeling saya, kans untuk mendapatkan status CPNS akan mudah didapat di PTS Jakarta yang akan menjadi PTN itu mbak, dibandingkan dengan PTN di Jateng yang dulu malah sudah “mempekerjakan” mbak tapi malah belum memberi gaji. Banyak cerita seperti itu, makanya ambil yang pasti-pasti saja dengan tetap di PTS Jakarta itu saja mbak.

    3. Kira2 membutuhkan waktu berapa lama ya pak, PTS berubah jadi PTN? dan apakah pegawainya bisa langsung jd PNS?
    TDW : Jawaban jujur ya, bisa saja seumur hidup mbak. Kakak saya waktu direkrut oleh PTN di Smg dengan alasan karena PTN itu mau membuka Fakultas Pertanian, ternyata 30 tahun kemudian Fakultas Pertanian yang diimpikan belum terwujud, dengan alasan PTN lain di Jateng sudah punya Fakultas Pertanian, jadi tidak ada alasan bagi PTN di Smg itu untuk membuka juga Fakultas Pertanian. Jadi dalam bisnis ini, yang pasti adalah ketidakpastian mbak, jadi siap mental saja.

    4. Menurut bapak, apakah standar salary dosen di Jawa tengah sama dengan salary Jakarta?
    TDW : kebetulan saya agak tahu tentang standar salary dosen di Jateng untuk penyandang gelar S2. Biasanya dimulai dengan masa percobaan 3 bulan dengan gaji Rp 1,4 juta per bulan. Lalu bulan ke-4 sampai ke-6 standar salary dinaikkan jadi Rp 1,6 juta per bulan, dan baru setelah 1 tahun gaji dinaikkan menjadi Rp 2 juta per bulan. Kalau sama-sama PTN-nya, baik di Jateng dan Jakarta saya kira standar gajinya sama. Kalau mbak di PTS malah standar gajinya lebih besar. Tetangga saya di Madiun dapat job dosen tetap di PTS Jakarta, dia bergelar S2 Akuntansi, 5 tahun yang lalu dia sudah menerima gaji tetap di PTS itu Rp 2,5 juta per bulan, belum termasuk honor-honor lainnya misalnya Sertifikasi Dosen (lumayan besar, sekitar Rp 2 jutaan untuk yang jenjangnya Lektor) dan honor penelitian yang berasal dari PTS itu sendiri maupun dari sumber lain misalnya Kemendikbud atau Kemenristek.

    5. Konsekuensi apa yang harus saya jalani jika saya meninggalkan PTS di jakarta dan memilih di PTN Jawa tengah? nah, sebagian besar relasi saya, untuk project ada di jakarta.
    TDW : Konsekuensinya sangat besar mbak menurut saya. PTS di Jakarta itu menurut saya lebih pasti bisnis dan masa depannya, sedangkan PTN di Jateng itu, lihat kembali jawaban saya di pertanyaan2 sebelumnya. Menurut saya dari yang saya dengar dari berbagai sumber, di PTN justru semuanya tergantung SK Rektor, yang tidak tahu kapan keluarnya. Tapi di PTS, sekali anda diterima sebagai dosen, maka SK dosen akan bisa didapatkan dengan relatif mudah, karena diatur oleh masing-masing PTS itu sendiri.

    6. Apakah bujukan sekretaris prodi tersebut bisa di percaya? mengingat dulu saya tidak digaji
    TDW : menurut saya pribadi, itu bujukan gombal atau rayuan gombal.

    7. di PTS jakarta, saat ini saya sedang mengurus jabatan akademik(asisten ahli) saya. apakah nanti, jika saya pindah ke PTN Jateng jabatan tersebut bisa di pakai ?
    TDW : Setahu saya, Jenjang Jabatan Akademis (JJA) itu kalau di PTS yang mengeluarkan adalah Kopertis (di Jakarta, berarti Kopertis III). Nah, Kopertis III Jakarta dengan Kopertis V Jateng mungkin beda ya, mestinya bisa ditransfer karena aturan JJA kan sama, tapi gak tahu dalam prakteknya seperti apa. Kalaupun gak bisa, ya ngurus baru lagi aja dari awal, dengan asumsi Jenjang Jabatan Akademis yang kita punya tidak terhubung “online” di seluruh Indonesia. Jadi bisa diurus lagi JJA-nya yang baru di PTN Jateng itu.

    Reply

    • Cahaya
      May 14, 2013 @ 23:26:35

      Untuk Mbak Puspita, mungkin agak terlambat saya ikut nimbrung, InsyaAllah apa yang dikatakan Pak Tri adalah benar, ambil yang pasti dan sudah jelas, apalagi untuk urusan Ke-PNS-an yang udah kita tahu banyak terjadi hal2 diluar perkiraan. Kebetulan saya dosen di wilayah yang anda sebut. Kalo menurut apa yang mbak sebutkan di atas, opsi Jakarta menurut saya lebih masuk akal. terima kasih

      Cahaya,
      Terima kasih sharing-nya…

      Reply

  252. Teo Tobing
    Feb 08, 2013 @ 13:23:04

    salam kenal Pak Tri,

    Saya alumni binus untuk s1nya dan akan melanjutkan s2 di binus jurusan MMSI akan masuk maret 2013. Saya mau nanya pak untuk jadi dosen part time di binus berapa standar IPK s2nya dan apakah IPK s1 juga dijadikan standar? Saya punya passion untuk jadi dosen. Saya pilih binus karena uang kuliahnya murah karena sebelumnya saya lirik UI dan karena masalah finansial saya jdnya ke binus saja…dan lumayan ada potongan untuk binusian..hehe

    Salam sukses luar biasa.

    Terima kasih.
    Teo Tobing

    Reply

  253. Hendri
    Mar 11, 2013 @ 11:50:33

    Selamat Siang Pak Tri,

    Menarik membaca komentar2 dari rekan-rekan forum ini, kebetulan saya mempunyai cita-cita menjadi seorang pengajar (guru/dosen) , berhubungan saya terdampar di jakarta sebaagi seorang pekerja disalah satu perusahaan swasta dan sudah hampir 5 tahun bergelut dengan kesibukan di jakarta ini, akhir2 ini saya berpikir untuk mencoba menjemput cita-cita saya kembali, namun mungkin hanya separoh waktu, bisa malam atau di akhir pekan.

    Sekedar info, saya lulusan S1 Teknik Geodesi dari ITB dan S2 Geifisika dari UI, jika pak Tri memiliki info mengenai penerimaan dosen honor di berbagai universitas di jakarta (kalau bisa daerah Jakarta Timur :)), mohon di infokan ya pak.

    Salam Hormat,

    Hendri

    Mas Hendri,
    Di Jakarta Timur ada banyak universitas lho mas : UKI di Cawang, Unkris di Jatiwaringin, UI As Syafiah di Jatiwaringin, ST Teknologi Jakarta di Jatiwaringin, U Jayabaya dan Univ Kalbis di Pulomas, belum STIE Nusantara di Cawang, Univ. Borobudur di Kalimalang dsb. Anda bisa mencoba melamar melalui surat atau email kepada universitas-universitas tersebut.

    Namun mengingat background anda adalah T. Geodesi dan T. Geofisika, anda mau mengajar jurusan apa, Matematika ? Fisika ? Kimia ?…nah itu jurusan yang belum tentu ada di universitas2 tadi karena yang ada adalah kebanyakan Teknik Informatika, Bisnis, Ekonomi dan Kedokteran. Pertanyaannya, apakah anda cocok mengajar di sana di jurusan2 itu. Tapi ya jangan putus asa, mencobalah melamar ke universitas-universitas tersebut, baik melalui surat langsung ataupun melalui website masing-masing universitas.

    Semoga sukses….

    Reply

  254. egrettadewi
    Apr 11, 2013 @ 00:46:05

    Bagaimana ya caranya menjadi dosen di perguruan tinggi swasta? Lamarannya ditujukan ke siapa? Mohon pencerahannya. Terimakasih

    Dewi,
    Cara termudah adalah menunggu PTS itu memasang pengumuman, baik di dinding PTS itu, atau melalui website (misalnya Binus, selalu membuka lowongan kerja dengan sebuah iklan di harian KOMPAS atau di website-nya langsung).
    Kalau tanpa ada lowongan pekerjaan terus anda melamar, ya kelihatannya surat lamaran anda akan numpuk di meja staf administrasi.
    Memang lebih enak anda punya kenalan dosen juga yang sudah bekerja di sana, kalau ada lowongan dosen baru, pasti teman anda itu juga akan tahu. Siapkan aja dulu nilai TPA (Test Potensi Akademis) dan nilai TOEFL atau IELTS yang bagus (TOEFL di atas 525, IELTS di atas 6.5)…

    Reply

  255. Muqtafi Akhmad
    Jul 02, 2013 @ 17:08:14

    Kalau misalkan kerja siang sampai malam bisa atau tidak pak saya pagi sampai siangnya ngajar di Binus? sekarang saya baru lulus kuliah dan sedang cari pengalaman kerja siapa tahu saya bisa sekaligus cari pengalaman ngajar di Binus,

    Salam,

    Mas Muqtafi,
    Kenapa tidak mas, kalau kualifikasi mas boleh dibandingkan dengan dosen-dosen lainnya yang sudah ada di dalam Binus.
    Kalau mas bukan lulusan Binus (bukan Binusian), sebaiknya minimal bergelar S2, dan jurusannya cocok dengan 18 jurusan yang ada di Binus.
    Kalau dosen Teknik Informatika, sebaiknya kuat di Programming seperti Java, C++, PHP, apalagi .NET, atau kuat di SAP, atau kuat di Teori.

    Reply

  256. Puput
    Jul 19, 2013 @ 23:17:37

    Perkenalkan nama saya Puput, sejak th 2001 sy mengajar di PT swasta di Lampung sbg dosen paruh waktu (tdk mendapatkan gaji bulanan) dengan honor mengajar Rp. 8000/sks. Karna kesibukan sy diluar jam mengajar saya tdk pernah mempelajari aturan main yg ada di sebuah perguruan tinggi (hingga saat ini sy tidak memiliki kepangkatan). Mengajar adalah sebuah kesenangan bagi saya. Tahun 2009 honor menjadi Rp. 10.000/sks, setiap bulan sy terima honor apa adanya. tahun 2010 dihimbau u melanjutkan S2, karna dana yg terbatas sy cari program beasiswa dan sy ditawari seorang teman u ikut program percepatan u dosen swasta. Dengan berbekal surat dari PT tempat saya mengajar Jadilah sy kuliah S2 di Universitas Lampung, Program Ilmu Akuntansi aliansi dg UI. Setelah berjalan 1 semester saya dan seorang teman disodori surat kontrak yang isinya saya harus mengabdi di PT tempat sy mengajar selama 12 tahun dan ada beban mengajar 10 sks yg tidak dibayarkan (sementara beban sks saya cuma 12sks) karna sdh kepalang basah kuliah sdh berlanjut dan beasiswa BPPS sdh sy terima sy tandatangani kontrak tersebut. Awalnya setiap bulan sy mendapat potongan honor 400.000/bln. jadi kalau honor saya hanya 350.000 sy punya hutang ke PT 50.000,-. Dalam ketidakmengertian sy terus menyelesaikan kuliah. tahun 2012 honor naik menjadi 14.000/sks otomatis beban potongan sy bertambah menjadi 560.000/bulan. karena beban sks sy ditambah menjadi 20sks, maka sy tidak pernah nombok hanya saja honor yg sy terima 200.000 – 400.000/bln. sekarang sy sudah selesai S2, titel saya menjadi SE, Ms.Ak….. dan sy diminta u menetap di PT tersebut (sy blm memutuskan, masih tanya2 dulu berapa gaji yg akan sy terima) sy cari info ke teman2 yg sdh jd dosen tetap….
    1. Dosen S1 tanpa kepangkatan tiap bulan beban mengajar yg tidak dibayarkan (dipotong) 560.000/bln, bila sdh memiliki kepangkatan potongannya lbh tinggi 620.000/bln.
    2. Dosen S2 tanpa kepangkatan ptongannya 720.000/bln dengan gaji tetap 1.300.000 sd 1.500.000/bln. kerja full senin sd sabtu jam 8 – 16.00
    3. masih ada beban lagi yaitu membimbing skripsi yang tidak di bayar sebanyak 5 mahasiswa/semester. kalau di smester ganjil hanya mendapat jatah 3 mahasiswa bimbingan berarti di semester genap beban bertambah menjadi 7 mhs bimbingan yg tidak di bayar (hutang 2 di smster ganjil). honor membimbing +- 200.000/mhswa. bila mendapat 7 mhswa bimbingan berarti yg dibayar hanya 2.

    Sy sangat tidak paham apa yg dimaksud dgn beban mengajar yg tidak di bayar. selama sy kuliah tidak satu rupiahpun PT tempat sy mengajar memberikan bantuan. Hanya selembar surat keterangan bahwa kami adalah dosen di PT tersebut untuk mendapatkan beasiswa dari BPPS ( tapi kami memang hanya mengajar di PT tersebut tdk di tempat lain).

    Begitulah cerita sy mohon sy diberi penjelasan apa yg dimaksud dengan beban mengajar (yg tidak di bayar). serta mohon masukan kira2 negosiasi yg seperti apa andai saya menjadi dosen tetap di PT tersebut.
    Satu hal lagi saat ini baru saya satu2nya dosen yg punya titel SE, Ms. Ak, di PT tersebut.
    Trimakasih banyak bila berkenan menanggapi cerita saya ini.

    Salam….Puput

    Puput,
    Sebenarnya cerita anda itu juga berlaku juga di universitas tempat saya mengajar. Bedanya, universitas tempat saya ngajar hanya mengikat dengan ikatan dinas sebanyak 2n kalau sekolah di Dalam Negeri, atau 2n+1 kalau sekolah di Luar Negeri. Ada potongan gaji, tapi tidak besar dan jumlahnya tidak bertambah besar dengan bertambahnya rate.
    Intinya begini, kalau anda merasa diperlakukan tidak adil, anda boleh protes. Bilang saja baik-baik dengan pengelolanya. Tapi dalam kasus anda kayaknya anda tidak diuntungkan dengan “perjanjian” itu. Intinya kan solusinya harus win-win.
    Yang penting anda sudah jadi S2 dan pekerjaan selain ngajar mestinya ada, misalnya penelitian. Kan di Dikti banyak dana untuk penelitian, anda tinggal memasukkan proposal saja. Dengan syarat, itu tidak “dipotong” oleh PTS tempat anda ngajar.
    Banyak cara untuk menyelesaikan masalah, intinya jangan merasa dirugikan, dan jangan bertindak mentang-mentang. Bicarakan saja semuanya dengan baik-baik, pasti hasilnya akan baik juga.

    Reply

  257. Puput
    Jul 20, 2013 @ 11:01:36

    Baiklah pak Tri. Trimakasih atas sarannya, juga solusi untuk penelitian. Saya akan coba, semoga ini menjadi salah satu solusi u masalah yg kami hadapi

    Salam, Puput

    Reply

  258. Putri
    Jul 31, 2013 @ 11:40:23

    Jadi dosen menyenangkan,… tp susah di jalani hehehe…
    Saya dosen di salah satu akademi kebidanan swasta di Kalimantan…
    Gaji saya masih di bawah Rp.2jt miris bukan… Biaya kuliah yang lumanyan mahal untuk menjadi Bidan dan kemudian melanjutkan pendidikan ke Bidan Pendidik untuk menjadi dosen, saya rasa tidak sesuai bahkan Gaji kami para dosen kebidanan yang pendidikannya lebih tinggi lebih rendah dari Bidan di pelayanan kesehatan.
    Menyenangkan : Karna,… Di usia 22th sudah jd dosen & update dibidang keilmuan.

    Susah di jalani : Gaji hanya cukup sampai tanggal 15.

    Mbak Putri,
    Tetap harus disyukuri mbak, apa yang telah anda dapatkan dan miliki saat ini. Mungkin karier mbak belum mentok tuh. Mestinya mbak Putri bisa lanjut kuliah S2 bidang Kesehatan Masyarakat, pasti nanti karier akan semakin terbuka.
    Seorang teman isteri dari Aceh, dulu sekolahnya hanya Sekolah Perawat, ia laki-laki. Kemudian dari pekerjaan perawat ia sekolah di Fakultas Hukum sampai jadi SH, terus jadi tentara lewat Sekolah Perwira. Karena bahasa Inggrisnya bagus dia sempat dikirim tugas ke LN sebagai Pasukan PBB, lalu mengambil Master of Law (LLM). Tahu nggak sekarang dia jadi apa mbak Putri ? Jadi seorang jenderal bintang satu…!
    Jadi mbak Putri-pun harus memandang sesuatunya dengan positif, dan jangan lupa bersyukur….mudah-mudahan karier semakin cerah di masa depan…

    Reply

  259. ali
    Aug 28, 2013 @ 08:13:28

    Kalau boleh tahu informasi untuk gaji staf kampus PTN/PTS untuk s1 berapa ya pak?? saya seorang auditor staf dan berkeinginan melanjutkan s2, namun terkendala waktu. mohon informasinya. Terima kasih

    Mas Ali,
    Kalau di kampus saya, saya denger gaji minimal sesuai UMR Jakarta…yaitu Rp 2,3 juta per bulan…bahkan mbak/mas yang mencatat parkir mobil lewat komputer di pintu masuk/keluar parkir nerima seperti itu…

    Reply

    • ali
      Oct 24, 2013 @ 19:53:25

      kalo S1 mau jadi dosen bagaimana caranya ya pak??…dan kalo boleh kasih bocoran salary dosen S1 brapa ya pak?..krn terus terang, saya merasa kurang pas di dunia praktisi pak, #curhat ..hehe..terima kasih.

      Ali,
      Lulusan S1 sulit untuk menjadi dosen S1 kecuali dia sudah terdaftar di Program S2 dan belum lulus.
      Ini yang saya dengar dari kebanyakan kampus di Indonesia.
      Tapi lulusan S1 bisa menjadi dosen S1 jika berasal dari alumni universitas yang mau diajarnya itu, itupun hanya untuk mata kuliah dasar, misalnya Pemrograman.
      Salary dosen S1, lihat tabel saya di awal Posting.

      Reply

  260. Steve
    Aug 30, 2013 @ 15:58:24

    Dear Pak Tri,

    Saya sangat tertarik dengan artikel – artikel yang bapak tuliskan dalam blog ini, setelah saya membaca dengan seksama, ternyata kita sama – sama mengajar pada institusi yang sama. Sebagai salah satu dosen yang lebih senior dibanding saya, Saya ingin menanyakan sesuatu mengenai range pendapatan seorang kepala jurusan dan range pendapatan dari seorang sekertaris jurusan, mengingat jika kita telaah lebih lanjut honor yang diterima oleh dosen pengajar sangat amat tidak mampu mensejahterakan dari sisi dosen.

    Sehingga dengan adanya range pendapatan tersebut saya dapat melakukan pertimbangan apakah ingin melanjutkan full carrier di dunia edukasi.

    Mas Steve,
    Justru itu yang saya tidak tahu….range pendapatan seorang Kajur atau Sekjur itu berapa….tapi rumusan-rumusannya ada kok, misalnya dianggap ngajar 20 sks, plus tunjangan jabatan, plus bonus, plus lain-lain….
    Ya sebaiknya anda nanya sendiri ke Kajur-nya atau ke Sekjur-nya sendiri….hehehe…

    Reply

  261. Purnomo
    Sep 03, 2013 @ 16:50:58

    Pak Tri , terima kasih pencerahannya… Blog’ke panjenengan banyak ngasih Inspirasi.. Boleh saya bertanya Pak?… saya praktisi K3& Kesling di Industri salah satu perusahaan mnufaktur (PMA) nasional di jakarta aktif pada jaringan operasinya, Instruktur sekaligus Auditor Internal , kepingin banget ‘share’ pengalaman dan sedikit keilmuan tentang K3&Kesling pada dunia pendidikan , latar belakang pendidikan saya S1 K3 tetapi S2 saya bidang Manajemen (MM), apakah bisa bila saya mencoba melamar menjadi dosen paruh waktu…. ( dibayar sedikitpun ndak pa pa selama ga kelewatan..he.he karena niatannya memang ingin berbagi…)…. bila bisa bagaimana langkah yang harus saya lalui… mohon pencerahannya pak…. trima kasih sebelumnya

    Mas Purnomo,
    S1 di jurusan K3 ? Itu Sarjana Kesehatan, atau Teknik Lingkungan, atau Teknik Industri mas ?
    Kalau mau jadi dosen, walaupun paruh waktu, kuncinya satu mas. Yaitu jurusan yang mau mas ajar itu harus sama dengan ijazah S1 mas. Kalau mas punya gelar S2 (MM) tapi tidak linier dengan S1, ya nanti bingung jurusan yang mau mempekerjakan mas sebagai dosen.
    Saran saya, silahkan berkunjung ke universitas/perguruan tinggi yang mas minati, bertamu ke Dekan atau Ka Jurusan menurut saya tidak ada jeleknya, tentu saja bila beliau mau menerima mas bertamu. Nanti mas utarakan niat mas seperti yang disampaikan di komentar terhadap posting saya ini. Siapa tahu ketemu jodohnya, dan universitas/perguruan tinggi yang mas datangi mau menerima mas…

    Reply

  262. Mohra Al-busthomi
    Sep 10, 2013 @ 11:31:17

    Bapak ada beberapa pilihan yang saya agak bingung, mungkin bapak bisa membantu saya. Begini bapak saya saat ini berdomisili dimalang, selanjutnya saya adalah lulusan fakultas tarbiyah jurusan pendidikan agama islam (PAI) salah satu PTAIS (perguruan tinggi agama islam swasta) yang ada di ponorogo. Lalu rencana mau lanjut s2 di malang antara di pasca UIN Maulana Malik Ibrahim salah satu PTAIN (perguruan tinggi agama islam negeri) di Malang dengan akreditasi institusi kalau tidak salah “B” pada prodi magister pendidikan agama islam (PAI) yang juga akreditasi prodinya “B” dengan pilihan lainnya pasca Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) salah satu PTS (perguruan tinggi swasta) dengan akreditasi institusi “A” pada prodi magister ilmu agama islam (IAI) konsentrasi pendidikan islam dengan akreditasi prodinya juga “A”. Menurut saran dan pendapat bapak pasca yang cocok dengan karier akademik dan linieritas jurusan saya, dimana? dan selanjutnya pasca yang cocok buat karier saya menjadi dosen yang mana? apa ada pengaruh antara lulusan pasca negeri dan swasta?
    atas sarannya saya ucapkan terima kasih.

    Mas Mohra,
    Kebetulan saya dari Madiun…dekat dengan Ponorogo…hehe…
    Begini mas, memilih universitas itu lebih njelimet daripada memilih isteri lho…
    Yang harus dipertimbangkan, tentu saja pertama adalah linearitas jurusan S1 anda dengan S2 yang akan diambil nanti, haruslah Pendidikan Agama Islam (PAI).
    Kedua, pertimbangkan nama besar dari PTNPTS tempat anda mengambil S2 nanti. PTAIN Malang menurut saya masih sedikit lebih baik daripada UMM, karena pertimbangan saya umurnya lebih tua, mestinya dosennya banyak yang profesor di PTAIN Malang.
    Ketiga, tetapi yang terpenting adalah, Network yang diciptakan oleh PTN/PTS tempat mas ngambil S2 nanti. Menurut saya link UMM dengan dunia kerja juga sangat baik, mungkin sedikit lebih baik daripada PTAIN. Pertanyaannya, dimana Mas Mohra berminat jadi dosen nanti ? Di PTN atau PTS ? Kalau mau jadi dosen PTN, ya mungkin pilihannya ambil PTAIN, tetapi kalau mau ngajar di PTS ya ambil UMM.
    Satu saja saran saya, apapun pilihan Mas Mohra nanti, hendaknya jangan sampai disesali, tetapi diyakini saja bahwa itu jalan yang terbaik bagi Mas Mohra…

    Reply

  263. fitari
    Sep 28, 2013 @ 15:10:55

    like this blog..inspiring banget pak dosen,,kl dokter pns mau nyambi jd dosen stikes gmn mnurut pak tri?

    dr. Fitari,
    Tentu saja ok banget tuh dok, kalau dokter bisa nyambi dosen STikes….karena mengajar itu juga pengabdian kepada kemanusiaan dan mencerdaskan bangsa…
    Jangankan mengajar di Stikes, mengajar di SMA tentang Biologi dan Fisika dan Kimia, itu aja sudah ok banget dok…
    Ayo dok ngajar, saya dukuuuuung…

    Reply

  264. dorys maruli purba
    Oct 02, 2013 @ 15:31:09

    selamat sore Pak Tri..
    perkenalkan nama saya Doryis Maruli Purba, 32 thn, menetap di kota pekanbaru – Riau. saat ini saya bekerja di sebuah perkebunan kelapa sawit swasta nasional bagian engineering/pabrik-pabrik gitu.
    s1 teknik mesin/konversi energi & S2 MM (SDM). awalnya saya memutuskan mengambil s2 karena sangat passion nyambi ngajar/dosen untuk hari sabtu & minggu maupun malam hari….sambil cerita, pegang pointer, kasih tugas kayaknya asik banget githu….hehehehe.
    ternyate…oh ternyate…sekarang ini jadi dosen itu kan kuliahnya harus linier…jadi gagal cita-cita jadi dosen.
    masih adakah peluang jadi jadi dosen? terus…gimana dong pak kalau saya kuliah lagi di s1 manajemen/sdm?? (s2 dulu baru s1) Linier gak tuh sama s2 saya saat ini…heheheeh.
    terima kasih pak Tri
    Salam

    Mas Maruli,
    Wah…Mas Maruli ternyata semarga dengan saya….dulu kakak saya dikira orang Batak karena namanya Purbajanti, dan temen sekamar asramanya bermarga Purba….hahaha…

    Wah…yang penting memang harus linier, dan yang paling penting lagi nyari universitas/sekolah tinggi yang mau diajar sama Mas Maruli….mereka maunya apa, apa S1 Mas Maruli jadi harus Manajemen ? Belum tentu seperti itu….

    Kerja di perkebunan sebenarnya sudah asyik, dan jaman sekarang ngajar tidak harus di depan mahasiswa. Saya sendiri banyak membimbing skripsi mahasiswa virtual saya yang tersebar di seluruh nusantara, dan saya juga dosen S2 Online….

    Kalau cuman ngajar tatap-muka, kan tidak harus jadi dosen program S1 atau S2 mas. Ngajar SMA tentang Matematika dan Fisika mungkin lebih penting dan diperlukan oleh anak-anak itu dari diri Mas Maruli….

    Reply

  265. andre
    Oct 09, 2013 @ 19:12:59

    Selamat malam pak, saya mahasiswa binus, Ipk saya sekitar 2,75. Saya rencana mau melanjutkan S2 di UI. Apabila saya sudah menjalani S2, apakah saya bisa melamar menjadi dosen di binus?

    Apakah dengan IPK minim tersebut di tahun 2013 ini, apakah masih bisa mendapatkan kesempatan menjadi dosen?, (saya sudah down gara – gara IPK).

    Saya belum punya pengalaman mengajar dan lainnya. Syarat apakah yang diperlukan untuk menjadi dosen?.

    Terimakasih sebelumnya.

    Andre,
    Ini ada “little secret”, kalau anda mau ngajar program S1 di Binus, ya sebaiknya anda ngambil S2-nya di Binus….pilih aja program MMSI atau MTI..
    Kalau anda ngambil S2 di UI, berarti anda mau ngajar S1 di UI ya…..? :)

    Reply

  266. susanti amalia
    Nov 14, 2013 @ 21:10:07

    waduh besar sekali per sks nya mas, gila, di sini mah, kecil bgt, cuma 22.500 per sks nya

    Santi,
    Dimana itu Santi yang kecil per sks-nya ? hehehe…

    Reply

  267. arip
    Nov 18, 2013 @ 14:32:54

    Pak Tri… sekarang kalo mau jadi dosen klo gak salah ketentuannya minimal S2..

    Mas Arip,
    Tergantung universitasnya mas, di tempat saya dosen S1 ya masih boleh kok, walaupun dihimbau segera ambil S2..

    Reply

  268. Titi
    Nov 19, 2013 @ 14:09:55

    wah menarik sekali ya diskusinya..
    ikut bertanya Pak Tri
    kalau bekerja di PTS yang akan di PTN kan apakah scara otomatis akan berubah status dosen2nya menjadi pns nantinya? atau harus mengikuti sleksi lagi semacam sleksi cpns begitu?

    Kira2 peluangnya lebih besar mana ya Pak untuk diangkat mjd dosen pns
    1. bekerja di PTS yang akan aliih status jadi PTN (tapi belum tahu kapan tercapainya)
    2. mengikuti seleksi cpns dosen nasional dari kemdikbud/kementrian agama (untuk dosen IAIN).. saya pernah dengar bahwa seleksi cpns semacam ini lebih mengutamakan mengangkat dosen yang sudah dekat dengan mereka dibanding pelamar umum yang belum punya kontribusi apa-apa di PTN tsb?apalagi formasi yg dibuka tdk begitu banyak (kurang dari 10) apa benar rata-rata begitu ya?

    Mbak Titi,
    Kalau saya dulu waktu lulus kuliah (1980) temen2 pada gak mau diangkat jadi dosen PNS, sekarang di tahun 2013 kebalik ya mbak….yang mau jadi dosen PNS buanyaaak sekali…

    Kalau mau jujur, tidak dua-duanya mbak. Sebaiknya juga mempunyai Plan A, Plan B, Plan C selain jadi dosen PNS.
    Karena berapa banyak dosen (ex PTS yang jadi PTN) yang akan diangkat jadi PNS itu juga tidak ada yang tahu, karena “jatah” berapa yang akan jadi PNS itu yang menentukan pusat, yaitu Kemendikbud yang berunding dengan KemenPAN. Jadi tidak semudah itu mbak. Dan sudah pasti dosen PTS (yang ada saat ini maupun yang akan masuk) yang berharap menjadi dosen PNS (setelah PTS menjadi PTN) juga banyak sekaliiii….dan dimana-mana, bisa ditebak, paling Rektor, Dekan, Kajur dan Sekjur aja yang sudah “aman” mau jadi PNS, yang lainnya kayaknya masih wallahuallam statusnya.

    Saya banyak sekali berkomunikasi dengan banyak dosen PTS yang akan dijadikan PTN, maupun dosen non-PNS di PTN yang berharap jadi PNS….makanya bisa berkata yang seperti ini mbak…

    Sebaiknya mbak terus belajar meningkatkan kualitas diri saja tanpa memikirkan nanti jadi PNS atau tidak, karena PNS itu gajinya kecil, pensiunnya juga kecil, apalagi kalau harus hidup di kota besar. Jadi yang paling bijaksana kalau berusaha sendiri, sementara jadi dosen hanya karena hobby atau passion saja….itu yang lebih masuk akal mbak…

    Reply

  269. aulia rahman
    Nov 22, 2013 @ 18:02:42

    ijin bertanya pak…
    apakah list gaji, honor dan insentif yang bapak tulis,,masih berlaku sampai dengan saat ini (2013)??
    trims pak

    Mas Aulia,
    Mestinya masih Mas…
    Seingat saya itu “standar” oleh Dirjen Dikti, Kemendikbud (saya lupa nomor SK Dirjen-nya).
    Yang jelas, itu standar penggajian di salah satu universitas swasta di Jakarta ketika saya jadi dosen di sana (2008), tetapi saat ini saya sudah mengundurkan diri dari situ.

    Reply

  270. hadifun
    Feb 06, 2014 @ 20:22:30

    mas boleh sharing kan …
    saya lulusan teknik informatika 2010 dan selesai master teknik informatika 2013 kemaren , sebelum saya kuliah S2 saya sudah “nyambi” mengajar di Sebuah SMK swasta di jogja dari sejak saya lulus S1, awal merasa bosan namun saat ini malah sudah terbiasa, saya bukan dari juru pendidikan tapi bener2 teknik, setelah saya lulus banyak saran yang mengatakan saya jadi dosen, namun jadi dosen di jogja banyak persaingannya, saya di SMK nama saya telah terdaftar di Dinas dengan verval bintang 4,namun belum dapat NUPTK kalo saya maju terus di SMK mungkin akan lebih cepat tapi kalo saya keluar dari jalur ini bakal berawal dari nol kembali,,

    dan sekarang syarat untuk menjadi dosen tetap tidak boleh ada data di dinas pendidikan karena tidak bleh ada double job, kalo ketahuan PTS yang menerima bakal di kena sanksi,

    sekarang lagi stack berbikir harus menuju kemana, saat ini masih mencari peluang di jogja aja, pernah panggilan keluar namun masih belum rejeki ada diasana

    Mas Hadifun,
    Yasudah mas terima aja posisi sekarang..

    Reply

  271. rieka
    Feb 08, 2014 @ 13:41:52

    Assalamualaikum Pak Tri….

    Alhamdulillah, saya browsing ttg dosen dan mampir ke blog bapak, menarik sekali diskusinya.:)

    Saya juga mau sharing pak…
    Saya berumur 24 tahun, dan sedang menyelesaikan thesis S2 (UNP) saya, mudah2an dimudahkan dan selesai tahun ini…:) Alhmdulillah, jurusan yang sama ambil linear dg kuliah S1 (UNIB) saya, pendidikan Bahasa Inggris.
    Yang ingin saya tanyakan, apakah major saya ini msh kompetitif untuk menjadi seorang dosen di jakarta dan sekitarnya pak? karena saya melihat diatas, hampir tidak ada yang di jurusan keguruan. Selain itu, pengalaman mengajar saya juga hanya sebatas guru honorer di SMP, SMA dan lembaga kursus pak,
    Apa bapak ada saran, kampus mana yang memungkinkan utuk jurusan saya di kawasan jakarta timur atau bekasi pak? Karena rencana mau ikut suami nanti disana….

    Terima Kasih
    Salam sukses selalu..

    Rieka,
    Sayang anda tidak menyebutkan UNP dan UNIB itu di kota mana, soalnya anda berminat kerja di Jakarta/Bekasi karena akan ikut suami.
    Secara umum di Jakarta sangat sulit menjadi dosen karena semua orang Indonesia numpuk di Jakarta semua. Apalagi untuk jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, seingat saya kalau universitas negeri hanya UNJ dan kalau swasta hanya di Atmajaya. Jadi kalau niat anda jadi dosen, kelihatannya peluangnya sangat kecil. Ini maaf lho ya, sama dengan dosen untuk jurusan pertanian atau biologi yang kalau di Jakarta hanya sedikit sekali universitas yang menawarkan kedua jurusan ini (beberapa komentar menganggap saya sangat ketus komentarnya, padahal saya bermaksud untuk jujur).
    Demikian Rieka, yang bisa saya sampaikan. Saya tetap akan menyarankan anda tetap menjadi guru SMP atau SMA, sambil jalan nanti waktu ikut suami, baru mencari peluang menjadi dosen di salah satu universitas.
    Good luck !

    Reply

  272. rieka
    Feb 09, 2014 @ 23:50:45

    Terima kasih banyak masukannya pak…:)
    Saya asal sumatera Pak, UNIB di Bengkulu dan UNP di Padang…
    Jadi, apakah lebih baik saya mencari pekerjaan sebagai guru saja nantinya ya pak??
    Sekali lagi terima kasih pak….:)

    Rieka,
    Iya, yang menjadi masalah semua orang Indonesia dari Sabang sampai Merauke berkumpul di Jakarta semua.
    Kalau latar belakang Rieka dari Ekonomi, Hukum atau Ilmu Komputer, mungkin lebih mudah jadi dosen di Jakarta, tetapi kalau Pendidikan Bahasa Inggris agak lebih sulit karena jumlah universitas yang menawarkan program studi ini hanya ada dua : kalau PTN adalah UNJ (Universitas Negeri Jakarta) dan kalau PTS adalah Universitas Atmajaya.

    Mungkin lebih mudah kalau Rieka mau jadi guru, SMP atau SMA, itu juga kalau di Jakarta penghasilannya sama atau malah kadang lebih besar daripada dosen.

    Begitu Rieka, informasi dari saya..

    Reply

  273. dimas
    Apr 20, 2014 @ 12:42:17

    Selamat siang, Pak. Boleh ikut gabung?

    Saya tertarik menjadi dosen, tapi saat ini saya masih bekerja di perush swasta di jakarta. Usia saya 45 th, dgn pendidikan S1 dari Fisip Hub. Internasional dan S2 dalam bidang manajemen pemasaran. Saya berencana pindah ke Bogor dan alih profesi sebagai pengajar, mengingat saya belum memiliki pengalaman mengajar, kira2 saya harus mulai darimana dan strategi apa yang harus saya gunakan? Terimakasih atas saran Bapak

    Reply

  274. juli yanti
    Apr 28, 2014 @ 21:03:09

    Sy dosen di universitas swasta di kota medan, rata2 gaji dosen di kampus swasta medan sgt tidak sesuai dgn kinerja kita sebagai dosen, cth ; gaji perbulan yg sy dpt kan itu sgt kecil slnya klo td sdh jelas ditulis gaji dosen utk jenjang S2 75rb/sks, nah klo di medan itu hanya dpt 60rb/1xpertemuan (2sks n 3 sks nilainya sama 60rb perpertemuan ) bukan 60rb per sks,, jd klo qt cuma dpt 2 kelas persemester maka hitungan gaji yg didapat itu 60rb x 4 minggu = 240rb perbulan x 2 kls =480rb perbulannya,, nah tidak sesuai banget kan gaji dosen honor di kampus swasta rata2 di medan itu.. Sebenarnya gaji dosen honor itu hitungannya per sks atw per pertemuan ya beda banget sama penjelasan diatas tadi, ksh info dunk!!

    Reply

  275. juli yanti
    Apr 28, 2014 @ 21:22:26

    Sy dosen swasta di kota medan, klo gaji dosen honor dimedan sgt jauh dibanding yg dijelaskan td, utk dosen S2 sy terima 60rb/pertemuan bukan 60rb/sks, jd klo ditotal perbulan seandainya msh dpt 1 kls saja 60rb x 4xpertemuan = 240rb gaji perbulan yg sy dapat kan,, kenapa rata2 honor dosen di kampus swasta medan seperti itu mreka tdk menghitung gaji sesuai jumlah sks tp mereka mengitung nya jlh pertemuan setiap minggu jd 60rb itu sekali pertemuan (hitungan 60rb utk 2sks n 3 sks sama aja nilanya),,

    Reply

  276. Mrs. Hanggara
    Apr 29, 2014 @ 18:36:17

    Assalam pak,,,sya mw tnya….jika menjadi dosen di stikes ithu kisaran brapa yha pak?????

    Reply

  277. ranlail
    May 21, 2014 @ 14:19:40

    salam kenal bapak
    kalo utk sekarang berapakah nominal GAJI POKOK dosen lulusan S2 yang mengajar di kampus2 swasta ternama di Jakarta misalnya..
    mohon penjelasannya bapak
    terimakasih, dan mohon maaf sebelemunya

    Reply

  278. Annisa eka wahyuningtyas
    May 22, 2014 @ 06:48:24

    Assalamualaikum. Kalau orang menyimak pemaparan ini tentunya wajar jadi dosen punya kesejahteraan yang memadai ya Pak. Tapi menurut saya judulnya itu kurang pas, mungkin standar yang Bapak gunakan disatu kota tertentu. Padahal didaerah Pak, ini pengalaman pribadi saya, dengan background pendidikan S2 dan profesi, honor mengajar per sks 17.500 s.d 20.000. Bagaimana nasib pendidikan Indonesia di daerah ? Salam pendidikan….

    Reply

  279. ghufron
    Jun 25, 2014 @ 11:50:24

    Assalamualaikum,, pak saya pingin banget jadi dosen, soalnya saya pikir itu nanti saya bisa mengamalkan ilmu saya , cuma nasalahnya apa nggak sulit untuk lulusan S1 melamar menjadi staff dosen ??? meskipun di Univ. Swasta?? terimakasih

    Reply

  280. KongMing
    Aug 26, 2014 @ 00:01:43

    Ternyata Bapak itu satu angkatan dengan Pak Wikaria, Pak Jonathan Lukas, Pak Samuel Lukas. Beliau2 adalah dosen saya sewaktu di TK tahun 96. Sayang saya tidak pernah bertemu Bapak. Saat ini saya sedang kuliah S3 Business Management di Beijing dengan beasiswa dari pemerintah China.

    Tadinya saya ingin mengajar di Binus, sewaktu baru lulus thn 2002, dan sempat ditawarkan oleh Kajur Pak Frans A Halim. namun karena saya tunda satu tahun, dari DIKTI mensyaratkan harus minimal S2. Sekarang pun saya masih kepingin mengajar di Binus sekaligus balas budi baik Bu Widya karena di tangan beliau, Binus beri saya beasiswa prestasi. Namun tahun lalu saya sempat kecewa karena Purek, Dekan, dan Kajur sempat menolak permintaan saya secara halus untuk beri surat rekomendasi untuk kuliah S3 di Hongkong. Akhirnya gagallah aplikasi beasiswa saya tahun lalu ke berbagai univ di China, Inggris dan Hongkong.

    Pertanyaan pertama saya adalah, apakah ada kampus di Indonesia yang cukup menghargai dosen-dosennya dari segi materi dan segi kesempatan riset seperti di China, Singapore, atau negara Eropa atau Amerika ? Penghargaan di sini tidak harus berupa jumlah uang yang sama atau fasilitas riset yang sama, tapi setidaknya sebanding dengan biaya hidup dan kondisi Indonesia. Mudah-mudahan Bapak mengerti maksud saya karena Bapak pernah kuliah dan riset di Amerika.

    Pertanyaan kedua, seperti apakah kondisi Binus yang terakhir dalam menghargai dosen, dalam hal integritas, professionalitas, kebebasan dalam menentukan nilai mahasiswa yang sebenarnya tanpa tekanan dari sistem, keuangan, fasilitas riset, dan kesempatan pengembangan diri.

    Pertanyaan terakhir adalah, menurut Bapak, apakah sudah waktunya para peneliti dan dosen yang saat ini berkiprah di luar negeri, untuk kembali pulang dan mengajar di Indonesia ? Ataukah perlu menunggu 5-10 tahun lagi sebelum bangsa kita siap untuk memakai dan menghargai apa yang kita miliki ? Tidakkah berarti dengan kembalinya kita ke negeri ini, berarti menyia-nyiakan waktu hidup kita dan kesempatan untuk lebih mempersiapkan diri di negeri orang sebelum bangsa ini siap ?

    Terimakasih untuk kesediaan Bapak menjawab pertanyaan ini. Bila tidak dapat dijawab dengan terbuka di forum ini, mohon Bapak boleh menjawabnya melalui email ke saya. Terimakasih kembali Pak.

    Reply

  281. technopreneur
    Aug 26, 2014 @ 13:24:35

    Tidak heran banyak anak muda yang tidak mau jadi dosen.

    Saya jadi dosen part-time MM di univ Swasta ternama di Jakarta honornya lebih kecil dari gaji supir saya, masih mending gaji supir saya naik tiap tahun. Ini mah dari tahun kuda sampai sekarang sama saja.

    Univ-univ Swasta tersebut sama sekali tidak ada menghargai kami-kami yang sudah capek-capek membuat materi kuliah, datang ke kampus di tengah kemacetan Jakarta untuk membagikan pengalaman kami me-manage big corporation kepada generasi muda. Dianggapnya sama saja seperti janitor outsource.

    Memang kebanyakan dosen part-time sudah berada pada jabatan tertentu dan tidak butuh honor.

    Tapi tidak butuh honor bukan berarti tidak perlu diberi apresiasi kan ?

    Reply

  282. chris
    Sep 12, 2014 @ 05:37:24

    Sy boleh copas ya utk fb dan anakku yg pernah pengen jd dosen stlh S-2, tp berubah pengen di ‘industri/real word’ dulu sblm jd dosen.
    Itu hitungan per-SKS ya. Misal klo cuma 3 SKS atau ngajar 1 mt pljrn), berarti hanya dpt 150 riibu sebulan gaji seorg dosen?kecil amat ya, lebih kecil dr tukang lulusan STM kerja sehari sdh 100 ribu atau tukang ojek dong. Pdhl mhswnya bayar per semesternya 10 jt-an kan? Gmn ya hitung2an yayasannya, kok bisa kecil begitu gaji dosen?

    Reply

  283. dita
    Sep 12, 2014 @ 16:00:56

    Assalamualaikum Wr.Wb

    Salam Kenal Pak Tri, saya membaca blog Bapak ketika saya sedang galau memutuskan langkah saya selanjutnya, mudah2an Bapak bisa memberikan masukan dan pencerahan.

    Saya saat ini sudah bekerja 9 tahun disalah satu Bank Swasta di Bandung, dari semasa kuliah saya sebetulnya bercita-cita menjadi dosen namun karena satu dan lain hal, saya bekerja dibank sampai dengan saat ini. sekitar 4 tahun yang lalu saya diberikan kesempatan mengajar karyawan baru di bank tempat saya mengajar sampai dengan saat ini . Saya sangat merasakan nikmatnya menjadi dosen dan cita-cita lama saya bergelora kembali.

    Saya berkeinginan resign pada tempat kerja saya skr dan berniat mengabdikan diri sebagai dosen tapi jujur ada kekhawatiran jika mendengar cerita mengenai remunerasi yang diterima dosen yang katanya jauh dibandingkan bankir hehe.
    Kekhawatiran lainnya adalah karena program pendidikan saya antara S1 dan S2 berbeda yaitu S1 Akuntansi dan S2 Manajemen Keuangan, apakah program pendidikan yang berbeda ini akan menghambat karir saya sebagai dosen?

    Mohon bantuan pencerahan dan masukannya, terimakasih sebelumnya.

    Salam

    Dita

    Reply

  284. Nurul Zakiah
    Oct 30, 2014 @ 15:15:53

    sama kah dengan di daerah surabaya?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 334 other followers

%d bloggers like this: