Wah..enquiry yang masuk di Blog saya seperti judul posting ini sangat menggelitik. Mudah-mudahan yang bertanya sedang dalam keadaan “sober” (waras, terjaga). Lha masak, ITB dibandingin sama Binus ? Yang bening aja….!
Tapi to tell you the truth, Teknik Informatika ITB pantas dibandingkan dengan Teknik Informatika Binus, secara “apple to apple” bukan lagi “apple to orange“. Kenapa ?
Ada beberapa alasan sih. Pertama, dosen Teknik Informatika ITB dan dosen Teknik Informatika Binus sekolahnya ya sama-sama : di Eropa, di Amerika, di Jepang, di Indonesia. Kedua, namanya fasilitas komputer ya gitu-gitu aja. Paling sama-sama punya server kelas medium, bukan high-end yang super mahal, apalagi yang kategorinya super komputer (malahan saya baca di web, banyak anak Teknik Informatika ITB complaint tentang jaringan komputer di ITB yang sering mati sehingga due date dari assignment bisa ditunda 3-4 hari. NAH, KALAU YANG INI TIDAK PERNAH TERJADI DI BINUS !). Ketiga, prasarana kampusnya ya sama jelek atau mewahnya. Kalau kampus ITB bernuansa bebatuan, kalau kampus Binus bernuansa per-Mall-an. Artinya tidak ada yang melebihi satu dengan yang lain. Prasarana perpustakaan juga paling sama, buku yang dimiliki sama. Apa anda terkesan buku-buku di Perpus Teknik Informatika ITB lebih baik daripada di Binus ? Yang bening aja, man !
Keempat, nah ini yang barangkali berbeda. Mahasiswa Teknik Informatika ITB konon disaring sangat ketat melalui SPMB dan konon “passing grade” untuk masuk ke Teknik Informatika ITB “gila tingginya” dan hampir sama tingginya dengan passing grade Kedokteran UI ?
It was !!!
Now ?
Sejak 2003 dimana calon mahasiswa Teknik Informatika ITB bisa masuk “lewat pintu samping” dan “tidak harus lewat pintu depan” lagi, maka “keangkeran” Teknik Informatika ITB sudah surut !! You cannot brag it anymore ! Ibarat di jaman Mataram Islam dulu, tombak Kyai Plered itu adalah “sipat kandel” (prima causa) yang tiada duanya karena dibuat oleh seorang Mpu pembuat keris yang sakti mandraguna yang membuat tombaknya saja harus puasa 40 hari 40 malam, sedangkan tombak Kyai Plered yang ada sekarang ini paling dibuat dengan mesin bubut bikinan Tegal dan membuatnya tidak usah pakai puasa…
Jadi, kesimpulannya Teknik Informatika ITB dan Teknik Informatika Binus sama saja jeleknya, atau sama saja bagusnya. Anda mau mencari alasan Teknik Informatika ITB lebih bagus karena alumninya banyak diterima di Oilco, Telco, lalu Big Four Company ? Oh, yang itu sudah out of question, karena alumni Binus senengnya ya men-start-up company sendiri alias menjadi pengusaha…
Jadi, saya nilai sama saja lah ! Ada yang keberatan ?
[p.s.: of course, I know darn well what is the limitation of Binus Computer Science, but let it be my secret...]
62 responses so far ↓
Agung // May 1, 2008 at 9:59 pm
kalo Teknik Informatika di ITB lbh bagus drpd Binus,saya pasti uda masuk sana donk..!!!
tapi buktinya saya masuk Binus.
dan saya punya prinsip utk msk univ yg ga murahan dan ga “sok bagus”.
saya msk Binus ini ga cuma secara emosional.
saya sempet tanya Om saya yg lulusan Computer Engineering dan MBA in Information System di UT Austin dan pernah kerja di IBM.
saya ga perlu bilang apa kt Beliau sehingga saya masuk Binus.
hehehehehehehehehehe….!!!
teman SMA saya ada yg kuliah TI di ITB.
dan saya bertaruh sama dia buat siapa yg lebih cepat punya rumah di Pondok Indah.
taruhannya ga gede.
cuma semangkok mie ayam di dekat sekolah SMA kami.
hahahhahahahahahahaha….!!
tridjoko // May 2, 2008 at 6:03 am
–> Agung : Oooo…tak kirain taruhannya kawin sama monyet !
He..he..he..
Tapi yang saya perlukan adalah suatu “sound argument” mengapa Teknik Informatika ITB lebih bagus daripada Binus atau vise versa…
“Sound argument” lho….jadi ini jawaban ujian qualifying buat Ph.D di Harvard, gitu…
Ha..ha..ha…
Agung // May 2, 2008 at 9:24 am
ooo…!!!
perlu sound argumen??!
ok..!!
plg ga saya punya.
hehehehehhehehehe…!!!
menurut “survey” kecil2an yg saya buat selama jd mahasiswa,
ada 1 hal yg buat saya merupakan salah satu kelebihan Binus dibanding ITB.
kalo Binus tuh lebih “mendisiplinkan” mahasiswa,karyawan,dan pengajar (dosen,kajur,dekan,dkk).
itu yg menyebabkan mahasiswa Binus lebih “niat kuliah” dan lebih “berisi”.
hal itu tak lepas dari dosen2nya yg relatif lebih “niat ngajar” dan berbagi.
tapi saya lihat itu karena kontrol yg diterapkan pihak univ,sehingga dosen2 ato mahasiswa2 yg “nakal” relatif jarang.
oo..iya..!!
satu lg,yah walopun yg satu ini ga tll penting,tp cukup utk menguatkan “iman” saya akan Binus.
hehehehehehehehehe…!!!
sejauh ini ada 1 lulusan UT Austin,3 lulusan Curtin,1 lulusan Hamburg,dan beberapa pengajar yg sangat berpengalaman yg bilang,
“oooh,kamu masuk Binus. di Binus kan ITnya nomor satu di Indonesia. terkenal kok ampe ke luar.”
hehehehehehhehehehe..!!
bangga deh saya.
tridjoko // May 2, 2008 at 1:08 pm
–> Agung : emang setelah ngajar 26 tahun di Binus, saya jarang melihat mahasiswa berkelahi. Tetapi di ITB, setiap wisuda pasti ada acara berantem antar mahasiswa…
Itu karena di Binus, calon mahasiswa baru mengisi formulir perjanjian dengan Binus yang diberi meterai Rp 6000 yang isinya mahasiswa selam
a kuliah di Binus bersedia untuk mengikuti peraturan perkuliahan yang ada di Binus, serta sanksi yang sangat berat…even untuk the first offender..
Contohnya : mahasiswa yang kedapatan nyontek akan ditangkap oleh petugas dan namanya akan DIPAMPANG DI PAPAN PENGUMUMAN SELAMA 1 SEMESTER. Jadi, mahasiswa yang paling bodohpun tidak akan berani nyontek di Binus, kecuali mahasiswa nekat…
Nah formulir Perjanjian yang menurut saya disebut “formulir merah jambu” (saya dulu ikut memberi masukan tentang isinya, saya kira) berisi yang pertama adalah :
“Dilarang memeras milik orang lain !!”…
Wah, “milik orang lain” mana nih yang akan “diperas”…?
Waktu tetangga saya nitip untuk dibeliin formulir pendaftaran Binus, saya godain staf PMB di depan dan saya tanya, “Tahu nggak apa isi perjanjian pertama dalam formulir merah jambu ?”. Dia mengaku tak tahu, lalu saya sebutkan pasal “dilarang memeras” tadi…dan diapun bingung dan surprise…ha..ha..ha..
Tapi bukan berarti Binus damai selama 27 tahun terus-menerus. Kadang-kadang dosen atau mahasiswa “lose their head” dan untuk itu mereka harus bayar mahal sekali, yaitu…dikeluarkan dari Binus…
Nah, dalam hal ini Binus lebih bagus ?
Tapi apa iya di segala segi Binus lebih bagus ?
Yang jelas, kalau semua mahasiswa Teknik Informatika Binus berkelahi dengan mahasiswa IF ITB, kita pasti menang karena kita punya 2,500 mahasiswa baru per tahunnya sedangkan IF ITB setahun mungkin cuman menerima 250-300 mahasiswa baru…
He..he..he..
Agung // May 2, 2008 at 2:13 pm
mmm…!!
saya melihat student’s satisfaction on lecturer’s teaching quality di Binus dan ITB juga berbeda cukup signifikan.
saya lihat dari anak2 TI aj yah..!!
kalo jurusan lain,saya ga tau.
hehehehehehehehehe…!!
nah itu kelihatan.
dgn skrg semua org bs msh TI di ITB,jumlah mahasiswa mereka segitu2 aj.
saya kira yg daftar paling 2 sampai 4 kali lipat dari jumlah mahasiswa per angkatan.
ini jelas bukan masalah daya tampung.
tapi juga masalah kualitas pendidikan yg diberikan.
karena kalo mao dibandingkan.
biaya (tuition fee n cost of living) yg dikeluarkan utk kul di Binus (Jakarta) dengan di ITB (Bandung),
jls lbh murah ITB.
tapi knp tmn2 kita yg dr sumatra “berbondong2″ ke Binus??
mari kita lihat nanti Pak.
Bapak jd saksi yah taruhan saya ama tmn saya di ITB.
hahahahahahahaha..!!
nel // May 2, 2008 at 3:24 pm
halo pak Tri…lam kenal.
bagi saya sih tetep ITB is number one. utk kami yg asalnya dari daerah, masuk ke univ negri apalagi ITB itu suatu kebanggaan yg ruaaarrr biasa, karena spt pak Tri bilang saringan nya ketat banget (umptn) jaman saya dulu, artinya hanya anak2 yg pinter saja yg bisa masuk ke ITB.
mungkin kalo saya dan sebagian anak2 lain yg ortunya kaya bisa bebas memilih univ swasta. tapi ortu hanya mampu nguliahin anaknya di univ negri.
it’s just my opinion
tridjoko // May 2, 2008 at 3:48 pm
–> Mbak Inel : setuju mbak !
Tapi seperti yang mbak Inel katakan adalah, “Itu dulu !”…
Sekarang di ITB dipenuhi mahasiswa pintar yang orangtuanya kurang mampu, duduk berdampingan dengan mahasiswa yang kurang pintar tapi orangtuanya super mampu ! Ini setelah ITB jadi BHMN. Sehingga parkiran ITB sudah seperti show room mobil papan atas di daerah Pondok Indah sana…
Dan sejak 2003, SPP ITB juga cukup mahal sudah hampir setengahnya dari univ swasta terkenal..
Jadi mbak, itulah kenyataannya hari ini…
Tapi, sekali lagi, belum ada “sound argument” yang membuktikan bahwa IF ITB lebih bagus dari IF-nya Binus, kecuali segi mahasiswanya. Tapi itu dulu, jadi kalau sekarang dijadikan argument…sudah semakin melemah…
tridjoko // May 2, 2008 at 4:03 pm
–> Agung : kenapa teman2 anda dari Sumatera semuanya nyerbu IF Binus dan bukan IF ITB ?
Good question !
Untuk bisa masuk IF ITB syaratnya salah satu dari berikut ini :
1. Bisa mencapai skor 62% minimal di SPMB
(salah satu tertinggi di Indonesia); atau
2. Mempunyai dana USM minimal Rp 55 juta
Nah, pasti teman2 anda dari Sumatera itu pertama, tidak bisa mencapai skor 62% di SPMB. Kedua, dananya cukup cupet (terbatas), karena masuk Binus cukup separuhnya dari masuk ITB lewat USM, itupun masih ada uang kembaliannya…
Dan lagi, setelah lulus dari IF ITB atau lulus dari IF Binus nanti, employer don’t care ! Gaji sama, fasilitas sama…
Jadi, lebih baik teman2 anda dari Sumatera rame2 masuk Binus karena lebih “cost effective”…..ha..ha..ha..
Nanti di pekerjaan juga diuji lagi : siapa yang bisa lebih cepat nulis program BubbleSort dalam bahasa Assembly atau nulis Java agar seribu kelinci bisa menari….itulah yang menang !
Jadi bagus ITB atau Binus ?
Tanyalah pada rumput yang bergoyang !…
nel // May 2, 2008 at 4:27 pm
owh gitu tho…
duh..brp biaya anak saya nanti kl kuliah ya.
btw, saya sealumni sm bapak stk-31…jauh ya pak
Agung // May 2, 2008 at 5:15 pm
hahahahahaa…!!!
itu kan jaman saya Pak.
nah,saya kan bicara sekarang.
yah,angkatan 2007 lah,
di mana wkt itu “siapa saja” bisa jd mahasiswa IF ITB.
toh,anak2 sumatra msh lbh banyak pilih Binus,walopun “tindak kriminal” di sekitar Binus acap kali terjadi.
bahkan,lingk kos2an (secara kebersihan,keamanan,dan suasana) anak ITB lbh baik dan murah di banding Binus.
makan nasi goreng pun,di bandung msh ada yg 4rebu perak.
kalo bukan karena kualitas pendidikan,saya kira orang tua mana yg mao ambil resiko anaknya bakal di”culik”,kyk di koran2 ato TV2.
ato anak2nya tinggal di tmp penuh polusi dan serba sempit spt daerah Kemanggisan itu..?!?!
dan kalo ditanya,
“PD banget sih si Agung bilang Binus lebih hebat dari ITB..”
argumennya mudah,
teknologi informasi di suatu daerah tentu sangat menentukan kualitas suatu fakultas computer science dalam univ di daerah itu.
misal kasus software ato hardware paling mutahir,pastilah datang ke Jakarta dulu,baru ke Bandung.
apa kantor microsoft indonesia ada di Bandung??
ato ada perusahaan yg bergerak di bidang IT dlm skala international yg berbasis di Bandung??
dan apa di Bandung ada pameran IT segede di JHCC yg diadain 2x dalam setahun??
mari kita tanya pd buah srikaya di dpn rumah saya yg bentar lagi matang.
hehehehehehehehehehe….!!!
tridjoko // May 2, 2008 at 7:19 pm
–> Mbak Inel : wah mbak Inel STK-31 berarti angkatan 94 ya…
Kalau sekarang masuk IF ITB Rp 55 juta berarti 17 tahun lagi anak si mbak masuk sono harus bayar Rp 55 juta dengan kenaikan 10% per tahun berarti berapa ya…Rp 100 jutaan gitu ?
He..he..he..
tridjoko // May 2, 2008 at 7:23 pm
–> Agung : wah…katanya anda mau kawin sama monyet, kok sekarang mau kawin sama serikaya kalau teman anda punya rumah di Pondok Indah duluan ?
Wah..saya baru dengar tuh teori yang menghubungkan kualitas sebuah universitas dengan mutu universitas tersebut. Lha kampus University of Illinois at Urbana-Champaign itu ada di tengah-tengah ladang jagung, lha apa terus alumninya jualan jagung semua ?
Yang bening dong, man !
Kalau pas mahasiswa anda tinggal di gang-gang sempit dan gang-gang senggol, justru di situ serunya kalau anda nanti punya rumah buesaaaarrrr di Pondok Indah atau di Pluit sana…
he..he..he..
Agung // May 2, 2008 at 7:37 pm
lho kok sampai kawin ama buah srikaya??
hahahahahahaahha…!!
habis Bapak sll blg “tanya pd rumput yg bergoyang”.
saya bikin versi saya deh.
hehehehehehehehehe..!!
tapi tetep kan Pak,
universitas yg fakultas teknologinya bagus,adanya di kota,bukan di desa.
minimal di pinggiran kota besar.
kan kita lg ngomongin soal IT.
hehehehehehehehe…!!!
harapan saya,
jgn ampe pendidikan kita timplang antara swasta dan negeri.
jgn kyk negara komunis ato negara “mundur”,
yg lebih ngutamain hal2 berbau “milik negara”,subsidi,dll.
mari kita tengok negara maju.
kualitas univ dan school swasta dengan negerinya relatif imbang.
dan kalo yg negeri disubsidi,yg swasta juga donk (walopun ga sebanyak yg negeri).
dan kalo saya lihat sekarang,
uda mulai tuh univ swasta indonesia menggeliat “mengalahkan” univ negeri.
plg ga Binus,UnTar,UPH,dan UnPar ud bisa “head to head” ama ITB,IPB,UGM,dan UI.
dan kalo terus konsisten menanjak dan memperbanyak kerjasama dgn univ terkemuka di luar negeri,
bukan mustahil univ2 negeri dikalahkan univ swasta.
hehehehehehehehehe..!!!
Mariya 04PKT // May 2, 2008 at 7:58 pm
huehehee…
mana lebih bagus?? keknYa sama ja pak….
tapi waktu saia mencari informasi ttg IF…
tetap ja yg plg Ok katanYa d binus…
hehehe akhirnYa masuk binus dechh..
tridjoko // May 2, 2008 at 10:40 pm
–> Mariya : kayaknya nilai UTS-mu lumayan tuh…coba cek di Binusmaya udah nongol belum, yang jelas barusan saya entry nilai UTS-nya…
IF Binus ?
Mmmmm….mmmm…well….mmmm….
tridjoko // May 2, 2008 at 10:46 pm
–> Agung : good point, man !!! (koq tumben….
Saya setuju, bahwa universitas bagus itu pasti bukan monopoli universitas negeri saja, universitas swasta-pun juga berhak untuk maju menyamai universitas negeri, seperti di negara-negara maju…
Coba tebak, universitas-universitas di bawah ini mana universitas negeri dan mana universitas swasta-nya :
Notre Dame, Michigan, Michigan State, UC Berkeley, Stanford, UCLA, USC, Northwestern, Illinois, Penn State, Maryland, American U, Harvard, Miami, U of Florida
Tokyo, Kyoto, Keio, Waseda, Tokyo Institute of Technology, Nagoya, Takushima, Saitama
Kalau anda sudah bisa nebak, berarti anda sudah bisa membuktikan bahwa universitas swasta bisa semaju atau lebih maju daripada universitas negeri..
Kalau nggak bisa nebak, coba tanyalah pada buah surikaya yang bergoyang….ha..ha..ha…
Friska // May 2, 2008 at 11:34 pm
Kl menurut Saya,untuk jurusan IT lebih “nge-top” Binus deh pak drpd ITB…huehehe
Tapi kl buat jurusan laen..ga tw deh…
tanya pada buah surikaya yg bergoyang juga deh Lol~~
tridjoko // May 3, 2008 at 12:11 am
–> Friska : nilai UTS-mu kayaknya lumayan juga, cek aja di Binusmaya mungkin sudah bisa “kelihatan” nilainya…
IT Binus ?
waaaa…waaaa…waaaa….
Agung // May 3, 2008 at 9:11 am
ah,kurang lebih saya tau lah yg mana swasta,dan yg mana negeri.
hehehehehehehehhee…!!!
justru jd makin sulit bedainnya karena dari namanya aj,org luar negeri bikinnya ampir sama2 aj.
mksdnya kalo di Indonesia,kalo univ pake nama kota ato nama pahlawan setempat,nah itu univ negeri.
kyk di Belgia misalnya,sapa yg sangka kalo Katholieke Universitiet Leuven itu negeri,dan Catholic University Louvain itu swasta.
pdhl nama2nya sama2 aj.
hehehehehehehehe…!!
dan makin sulit lg dibedain karena prestasi dan kualitasnya relatif sama aj hampir di smua facultynya.
yah,saya kalo lg kurang sehat gini,malah bisa mikir lbh baik.
ntah knp.
hehehehehehehehe..!!
tanyalah pd buah srikaya yg kira2 2hr lagi matang.
(yes,hr senen ud bs dipetik tuh buah srikaya).
BTW,”srikaya” kali bukan “surikaya”.
kok jd “surikaya”???
hahahahahhaa…!!!
Agung // May 3, 2008 at 9:15 am
BTW,kyknya nilai saya jelek yah Pak??
ato tertolong ama “bonus2″???
hahahahhhahahahaa…!!
ditulis di blog ini donk Pak…!!!
kyk nilai sistem pakar di paramadina..!!
hehehehehehehe..!!
tridjoko // May 3, 2008 at 11:28 am
–> Agung : waduh…tebakanku belum kejawab..he..he..he.. sulit ya ? Tapi kalau anda mau lihat di website mereka dan nanya berapa tuition fee-nya, kalau mahal berarti swasta dan kalau murah berarti negeri (state university)…
Kenapa “Surikaya” dan bukan “Srikaya” ? Ya karena kalau namanya ada “Suri”-nya (Suriyana, misalnya) itu pasti banyak yang kaya dibandingkan dengan nama “Sri” (Sri Melati, Sriwilkutil) yang kaya…ha..ha..ha..
Yah, memang hasil ujian AI dan SISPAK banyak yang “jelek-jelek” oleh karena itu saya tidak mau muat di Blog ini…ntar ada side effectnya…he..he..he.. (don’t ask further whatizit..)…
Jadi kalau mau nanya berapa nilai UTS anda, tanyalah pada buah srikaya yang mau matang…he..he..he..
Agung // May 3, 2008 at 11:36 am
hehehehehehehe…!!!
yah,memang cukup sulit,dan saya ga mao mempertaruhakn harga diri saya kalo salah tebakan saya.
hahahahahhaahahhahahaa…!!!
ntar kalo ngganti2 nama buah,diomelin ama penemunya lho..!!
ntar nama latinnya ikutan berubah,dan Om Mendel marah.
hehehehehehee..!!
yah….!!!!
KECEWA deh…!!!!
gpp lagi Pak,biar jelek2 jg.
kan kita hrs transparan.
soalnya ampe skrg blom ada 1 nilai pun yg keluar di binusmaya.
aduh2…!!!!!
srikayanya berbuah mulu.
tp kenapa pohon mangga saya ga berbuah2 yah?!
Mariya 04PKT // May 3, 2008 at 12:46 pm
hahaha pak… kiraen nilai nya mao d post ne d blog bapak…. ternyata ga jadi… penasaran mode ON…
btw commentnya uda dari IT binus vs IT ITB ampe lari ke srikaya n surikaya…. haha
btw pak… d binusmaya sama skali ga d update…. T_T ga tau kapan keluar….
kekurangan dari binus… suka lelet….. hehehee tapi klo autodebet BP3 n SKS cpat…
bukan jelekin tapi emank fakta…^^V
Richard // May 3, 2008 at 4:28 pm
@agung:emang universitas yang bgz kualitasnya harus terletak di tengah kota? Saya lupa,tapi ada universitas terkenal di India yang terletak di antara hutan..dah menjadi salah satu site dari ACM..hmm,apakah hubungan lokasi berpengaruh?
Yah emang bicarain kualitas sangatlah abstrak..yang saya dapat hanya satu point perbedaan,bener emang banyak mhsiswa milih it binus tapi apakah kebanyakan dari mereka tau apa sebenarnya it? Well kesan yang menyedihkan dari keadaan mahasiswa binus,untuk sekarang ini, untuk jurusan ti lho..mereka banyak yang tidak tahu,apa yang mereka pelajari di jurusan ti,so side effectnya,pengurangan jumlah mahasiswa secara gradual..well that’s what i see..
Mungkin hal itu tidak terlalu seekstrim di itb,dimana masih bisa disaring lewat spmb..tentu beda sekali kan kualitas USM dan SPMB..hehe..
Tapi konklusi tidak didapat dari satu or dua fact,tapi mesti kudu liat aspek2 yang lain..hehe..
Intinya,mari kita tanya pada awan yang bergerak..ha8
simbah // May 3, 2008 at 6:13 pm
Seruu….seruu…! suka Saya diskusi macam begini..
Dik Yon,…baru inget sekarang, pertanyaannya:” Lulusan dari fakultas apa, yang paling dicari pasar kerja 2 sampi 10 tahun kedepan..?” Kenapa ? Sewaktu anakku lulus SMA th-2005 dulu, bingung mau nerusin kemana…meski sudah test bakat dan minat segala…gak yakin. Ibarat koloni semut, Aku ini kelas pekerja, bukan pemikir. Jadi cari sekolah yang gampang dapat kerja…maka kucarilah ’sisik-melik’, bahwa ilmu komputerlah yang paling dicari…benarkah..? itu pertama.
Kedua mungkin seperti di Binus, tempat sekolah anakku di Surabaya sana, Stikom konon juga memberi mahasiswanya kesibukan atau kepadatan, supaya tidak ada kesempatan ‘demo’ maupun berantem,….cuman nggak pake surat pernjanjian di atas meterai….Sebagai orangtua yang membiayai, saya setuju, karena beaya kuliah bagi seorang ‘pekerja’ tidaklah murah… kalau demo melulu kapan kuliahnya selesai? Padahal pinggang ini mau “pedhot”, dililitnya terlalu kuat…he….he….
tridjoko // May 3, 2008 at 7:13 pm
–> Agung : wah…kalau situ nggak bisa nebak juga…ini deh bocorannya…
Untuk universitas-universitas di US berikut ini :
Notre Dame, Michigan, Michigan State, UC Berkeley, Stanford, UCLA, USC, Northwestern, Illinois, Penn State, Maryland, American U, Harvard, Miami, U of Florida
Yang swasta adalah : Note Dame, Michigan, Stanford, USC, Northwestern, American U, dan Harvard
Sisanya pasti universitas negeri, kadang pakai nama “State” kadang nggak : Michigan State, UC Berkeley, UCLA, Illinois Urbana-Champaign, Penn State, Maryland-College Park, dan U. of Florida-Gainsville..
Untuk universitas-universitas di Jepang berikut ini :
Tokyo, Kyoto, Keio, Waseda, Tokyo Institute of Technology, Nagoya, Takushima, Saitama
Yang swasta adalah : Keio..
Sisanya adalah negeri (kalau nggak salah, soalnya saya nggak terlalu ngeh dengan something about Jepun) : Tokyo U., U. of Kyoto, U. of Waseda, TIT (he..he..agak “saru”), Nagoya, Takushima, dan Saitama…
Gung, alasan saya nggak naruh nilai di Binusmaya karena ntar ada semacam “jealousy” antar kelas AI. Mis. di kelas A nilai rata-rata 40, di kelas B rata-rata nilai 50, di kelas C rata-rata nilai 60, lalu di kelas saya nilai rata-rata 90, lalu APA KATA DUNIA ?
Gung, saya ini lulusan IPB jadi saya bisa dibilang “pakar” di bidang per-mangga-an. Kalau mangga anda belon berbuah itu kemungkinannya :
1. Mangga yang anda tanam adalah mangga “jantan” he..he..he.. kalau jantan, mana ada anaknya atau buahnya ?
2. Anda bibit mangganya sembarangan (ingat : untrusted source), mungkin “thukulan” (tumbuh dari) biji mangga yang dibuang di pasar-pasar..
3. Kalau bibit mangga anda beli dari pertanian, berarti jumlah daun di mangga anda kebanyakan, lalu mangga supaya berbuah harus sedikit “disiksa”. Ambil golok, lalu bacok tuh batang pohon mangga setiap 30 cm-an lah, yah semacam “dikerokin” mungkin dia masuk angin..
4. Kalau mangga anda nggak berbuah juga, berarti mangga yang anda tanam, benar-benar “jantan” !
tridjoko // May 3, 2008 at 7:19 pm
–> Mariya : ya..memang diskusinya “Bagus ITB atau Binus ?” jadi di luar konteks karena tidak ada “lawan” dari anak-anak IF ITB atau alumni IF ITB, jadi kurang seru…he..he..he…
Saya kira dulu mbak Inel alumni IF ITB, jebulnya..malah adik kelas saya (Statistician)…
Nilai UTS kayaknya kali ini tidak saya taruh di Blog saya karena….ada deh !!
Lho kemarin malam nilainya sudah saya “submit” ke Binus lewat Binusmaya lho, mestinya Binusmaya secara otomatis harus “posting” itu nilai…kalau ada “delay” wah..berarti apa “dipeletotin” lagi tuh nilai…he.he..he..
Wah kritik anda “tajam” juga yah…tapi itu kenyataannya. Binus posting nilainya lambat, tapi kalau mendebet uang sks cepat seperti kilat….ha..ha..ha.. Kena deh !!!! (ingat ucapan Panji di TV)…
Sabar aja, ntar Senin diumumin di kelas kok…
Kenapa diskusi ITB vs Binus jadi diskusi Surikaya vs Srikaya…ya karena yang ikut diskusi orang “setengah mateng” semua…ha..ha..ha..
tridjoko // May 3, 2008 at 7:28 pm
–> Richard : yah…memang namanya “kualitas” apalagi “kualitas pendidikan IT” kalau didiskusikan bisa berbusa-busa nih mulut selama berbulan-bulan….(jadi, kapan makannya ? ha..ha..ha..)..
Universitas itu bagus atau tidak bukan karena letaknya di dalam kota atau di luar kota, tapi karena PARA PROFESSOR-nya ! Coba ingat lagu “Gaudeamus Igitur”…..VIVAT ACADEMIA, VIVAT PROFESSORIS…
Coba misalnya, suatu universitas gedung paling bagus sedunia, letaknya di lokasi strategis, pemandangan indah, tapi Professor bagus nggak ngajar di sana, apa bisa kita sebuat itu universitas bagus ?
He..he..he..saya bukan pengin nuntut naik gaji, karena saya sudah kebanyakan duit he..he..tapi penghargaan terhadap para dosen adalah “kunci” kalau suatu universitas mau maju. Tidak hanya gajinya yang diperhatikan, tapi ya semuanya, termasuk penghargaan terhadap dosen dari para mahasiswanya..(di Binus hal ini belum 100% terjadi sepenuhnya)…
Mahasiswa IT Binus mau dikurangi ? Are you kidding ? Kalau saya buka toko jualan komputer A, B, C dan D serta komputer A paling banyak dibeli orang, apa lalu jumlah stock komputer A saya kurangi ? He..he..are you nuts ? Kayaknya nggak deh, kalau ditambah jumlah mahasiswa IT-nya malah mungkin…ha..ha..ha..
Lha kalau Binus belum bagus-bagus sekali hari-hari ini, tanyalah pada awan bergerak yang mau menjadi mendung…..hi..hi..hi..
tridjoko // May 3, 2008 at 7:34 pm
–> Simbah : wah…mudah-mudahan komentar anda ini dibaca oleh putra / putri panjenengan…he..he.. yaitu bangkek-an bapaknya udah mau pedhot karena ikat pinggang dikencangkan sangat kencang..ha..ha..
Kembali ke pertanyaan sampeyan, “Jurusan apa yang paling mudah mendapat kerja dalam 2-10 tahun ke depan ?”..
Lha kalau tanyanya sampeyan kepada saiya tak iya, ya saya jawab, “IT…nomor satu, HUKUM…nomor dua”. Itu saja saran saya. Saya sudah pernah denger bahwa jurusan MANAJEMEN dan AKUNTANSI sudah mendekati jenuh sehingga sulit diserap oleh pasar lulusannya. Apa iya ?
O ya, kalau saya mau menentukan yang nomor 3, saya akan pilih TEKNIK INDUSTRI…
Itu feeling saya lho mas (yang biasanya “so good”)….
ardianto // May 4, 2008 at 8:59 am
Pak Tridjoko menulis:
Kayaknya saya perlu ngasih beberapa koreksi Pak…
1. Skor saya cuma 58% di SPMB berdasarkan jawaban di kompas, dan saya lolos di Sekolah Teknik Elektro & Informatika ITB. Meski sebenarnya saya nggak minat ke IF-nya tapi ke EL-nya..
2. Buat USM-ITB, biayanya bukan 55 juta tapi 45 juta…
*
*Sama mahalnya sih
Saya juga agak risih sih lihat kampus ITB sekarang, gaya hidup mahasiswanya jadi borjouis.
Banyak mobil parkir di mana-mana, sumpek…
Saya nggak menyanggah opini bapak kok, semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing…
simbah // May 4, 2008 at 12:54 pm
Horeey…..thanks berattt…..sudah menang satu poin..Aku dan anakku….tinggal nyari IP yg minimal 2.75 seperti persyaratan yg diminta pasar…..syukur-2 dapat lebih….
Mengenai ‘penghargaan’, pernah kubaca postingan yg dikirim sama yuniorku. Judulnya “Mengapa para karyawan yang ‘qualified’ pergi meninggalkan Pekerjaan?”. Disitu diceritakan, bahwa Karyawan tsb sudah ‘dibeli’ atau mungkin maksudnya perusahaan telah mengeluarkan beaya transfer yg tidak sedikit. Kemudian diberikan pelatihan tambahan, diberikan benefit macam-2. Pendeknya karyawan baru tsb dimanjakanlah…tapi ujung-2 nya nggak betah dan keluar juga, pindah ke Perusahaan lain. Apa coba sebabnya? Disitu disebutkan, bahwa Top manajemenlah yg menyebabkan karyawan tsb tidak betah. Kesimpulannya Top manajemen tidak menghargai secara layak hakekatnya sebagai manusia terdidik yg mempunyai harkat. Bukan secara materi mulu. Sebetulnya tulisannya panjang, tapi seperti itu pemahamanku.
Dan,.. Dosen yg konon kehidupannya sederhana (kalau memang benar?). Justru disitulah nilai plus-nya. Coba siapa yg berani hidup sederhana sekarang ini, baik dipaksa maupun tidak. Ada guyonan khas dikampungku, kalau pas ngumpul siskamling malem mingguan. Negara kita banyak orang pinter dan pilihan, lulusan PT terkemuka, tapi yang “jujur” bisa dihitung dengan jari he…he… Tapi Aku punya keyakinan…. anda Dik Yon, termasuk yg bisa dihitung dengan jari itu…..wallahualam…
tridjoko // May 4, 2008 at 2:05 pm
–> Mas Ardianto : wah..thanks berat mas atas pendapatnya di posting ini…
Apalagi anda ternyata “cah mBediun”, apakah anda lulusan SMA 1 atau SMA 2 ? (wah…pertanyaan saya naif ya, mengingat di Madiun sekarang jumlah SMA negeri sudah …berapa ? 7 ? 12 ?)…
Mengenai skor mas Ardi yang cuman 58 tapi bisa nembus STIE (Sekolah Teknik Informatika dan Elektronika) itu, ya jelas tho mas….kalau jaman dulu IF harus ndaftar sendiri lalu EL juga harus ndaftar sendiri, maka passing grade EL “jauh di bawah” IF….bukan apa-apa, ini masalah “pasar” juga…bahwa yang berminat ke IF jauh lebih banyak daripada yang berminat ke EL. Jadi point saya adalah, menembus STIE ITB jauh lebih rendah dibandingkan menembus IF ITB di jaman dulu, karena faktor “EL” itu…
Yang kedua, Rp 45 juta itu mbayarnya masuk lewat USM lho mas. Seingat saya belum termasuk SPP Rp 2.5 jutaan dan Sumbangan Subsidi antara Rp 0 - Rp 1.0 juta. Plus yang lain-lain. Yah minimal Rp 50 juta lah. Kalau anda punya cuman Rp 45 juta, ya “nonton dari jauh” saja kampus ITB, alias di seberang selatan Jalan Ganesha sana, nggak boleh masuk….he..he..he..
ITB kampus borjuis ??
Memang agak mengherankan, justru di Indonesia ini tidak ada universitas yang “100% negeri yang biayanya murah” dan yang “100% swasta yang biayanya mahal”. Contohnya ya ITB itu, dia antara “negeri” dan “swasta”…
Padahal di California sana, kalau UC Berkeley ya sekolah negeri yang murah, sedangkan 20 km di sebelah selatannya ada Stanford yang swasta dan mahal…
tridjoko // May 4, 2008 at 2:12 pm
–> Simbah : wah..seneng saya melihat anda begitu gembira…karena Teknik Informatika masih punya masa depan…Horeee !!!
Mengenai mengapa karyawan top dari universitas ternama sudah digaji setinggi langit ketujuh dan diberi benefit berupa 1000 bidadari (isih nganggo klambi lho !) tapi berniat meninggalkan perusahaan yang menghargainya demikian tinggi ?
Itu namanya teori “seeking a greener pasture” atawa “rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri”. Namanya orang, diperlakukan apapun tidak akan puas, karena dia mempunyai “free mind” yang tidak bisa 100% dikendalikan…
Dulu ada teman anak saya, sudah kerja enak di negeri orang dengan gaji tinggi, eh malahan ia memutuskan “pulang kampung” ke Indonesia dan menjadi “jobless”…. See ?
Mungkin intinya adalah “happiness” dalam diri kita, atau dengan kata lain “berdamai dengan diri sendiri”…Seperti “happiness test” dari Oprah Winfrey yang saya tulis di postingan yang lalu itu lho mas…
Wah..wah..wah…ini.. apakah saya orang yang “jujur” ? Saya harus mengakui mas, sebagai orang yang bershio “monyet” saya tidak mungkin jujur, malahan adanya setiap kali selalu “mengakali sesuatu”….Sebagai contoh, sebagai PNS kok ngajar di swasta, itu kan korupsi waktu tho mas…untung KPK belum berani menangani “korupsi waktu” ini ha..ha..ha..
Agung // May 4, 2008 at 9:39 pm
wah,Bapak..!!
i’m back…!!
saya baru pulang dari liburan yg menegangkan.
saya baru pulang dari marbela,anyer di mana beberapa hari ini krakatau lagi aktif2nya “kentut”.
hahahahahahahahaha…!!
tp asik lho,banyak “bidadari2″ yg ….. (ada deh..!!)..!!
hahahahahahahahaha….!!!
soal mangga dan nilai,saya akan tunggu dengan sabar.
hehehehehehehehehee…!!
btw,ada kok Pak univ negeri yg bnr2 negeri skrg2 ini,yaitu Univ Udayana,Bali,yg konon kedokterannya paling murah seindo.
dan ada kok univ swasta yg bnr2 swasta.
tuh,deket ama rumah saya,UPH dan SGU yg 1smstr aj bs 20jtan bahkan lebih.
hahahahahahahahaha…!!
tetep Pak,ITB kalah ama UPH dan SGU kalo soal pamer mobil mahasiswa.
saya pernah lihat di UPH mahasiswa bawa Hummer.
dan di SGU pernah terparkir Aston Martin.
gile bener…!!!
soal hub univ bagus dan letaknya,
saya rasa univ yg di India itu akan lbh bagus kalo lbh dkt ama kota.
dan saya rasa Profesor2 dan Dosen2 bermutu akan lbh byk tinggal di daerah yg “dekat” kota besar.
kalo perlu kota paling mutakhir,kalo emank ada kaitan ama teknologi.
contoh deh,
kyk Pak Tri Djoko ini,knp pilih tinggal di dkt Jakarta??
mungkin jwbannya krn kantor BPPT di sudirman.
trus saya tanya lg,knp kantor BPPT ada di Jakarta,knp ga di Bandung??
trus knp Bandara Soekarno Hatta adany di dkt Jakarta (krn skrg Bandara SoeTa msk daerah Tangerang),bukan di Bandung??
lalu kalo gt,mungkin ga sih kalo ada teknologi dan “ilmu” baru,masuknya ke Bandung dulu baru ke Jakarta??
satu pertanyaan lagi,saya janji,
trus kenapa PRAMBORS FM pusatnya di Ratu Plaza,Jakarta??? knp ga di Bandung??
tridjoko // May 4, 2008 at 9:50 pm
–> Agung : heh..Gung, mana asyik ke Anyer tanpa bawa pacar ? he..he..he..
(kok Pak Tri tahu kalau saya nggak bawa pacar ya…
Wah mengenai “mobil” yang dibawa sama anak Binus nggak kalah lho sama anak ITB, UPH atau SGU…
Kalau di ITB anak-anak SBM senengnya bawa VW Pollo, kalau anak UPH bawa Humvee, lalu anak SGU bawa Ashton Martin, saya lihat anak-anak Binus banyak yang bawa BMW seri M-11, bahkan M-24 dan M-45…ha…ha..ha…
(BMW terkenal dengan seri-seri M-1, “M Ein”, dan M-3, “M Drei”…
Kenapa BPPT ada di Jakarta, Bandara SoeTa ada di Tangerang, dan Prambors adanya di Jakarta ?
Wah..ini good question apa silly question…ha..ha..ha..
Kenapa awewe nu gareulis tea adanya di Bandung ? Mengapa FO banyak di Bandung ? Mengapa Kebun Binatang adanya di sebelah kampus ITB ? Mengapa reaktor nuklir adanya dekat Kebun Binatang ?
Tanyalah pada awan hitam yang sebentar lagi akan menjadi hujan….hih..hih..hih…
Agung // May 4, 2008 at 10:13 pm
yah,jls lah Bapak tau saya ga bawa pacar.
pertama,
ga mungkin org ud pny pacar sempet “belanja”.
tipe kyk saya,kalo uda bawa troley penuh belanjaan,ga suka belanja lagi.
kedua,
kalo ud bisa bawa pacar ke anyer mah,saya pasti jarang masuk kelas Bapak.
karena sibuk cari uang buat biaya persalinan,dan beli susu bayi.
hahahahahahaha…!!
ketiga,
kyknya semua org tau saya jomblo.
hehehehehe…!!
hehehehehehehehe…!!
wah,saya jd bangga kalo naek bus ke Binus.
naek BMW seri “M11″ lho saya..!!
hahahahahahahahaha…!!
lho,di puspitek serpong juga ada reaktor nuklir..!!
hehehehehehee…!!
kebon binatang??
ragunan di jakarta ada tuh.
cewe cakep??
di PIM,GI,dan YanTi (SenCi) juga ga kalah banyak.
bahkan di Tangerang ternyata byk “bibit2 unggul”. hahahahahahahahaha…!!!
FO???
uda ga jaman.
anak muda skrg maenannya distro.
di selatan byk tuh distro2 bgs.
ahhhh…..!!!
sok keren amat sih.
“bangsa saya” mah Pak,maenannya Mangga Dua.
di Bandung ga ada tuh Mangga Dua.
yg td itu pertanyaan yg butuh analisis.
yg jls ga ngejek kota Bandung.
yg jls Jakarta area yg lbh fungsional dan strategis utk semua faktor kehidupan.
hehehehheheehehehhehee…!!
tridjoko // May 4, 2008 at 10:34 pm
–> Agung :
he..he..he..
whatava ya say lah !!
ha..ha..ha..
Agung // May 4, 2008 at 10:51 pm
hehehehehehe..!!
peace,Sir…!!
sesuai point saya,
saya males deh kalo orang tll ngbangga2in univ2 di bandung.
ntah yg ITB lah,yg UNPAD lah,yg UNPAR lah.
ud mabok saya dengernya.
jadi di sini saya byk “temen”.
hehehehehehehehe…!!!
ampe skrg msh lho di kalangan anak2 SMA,
kalo arsitekur plg bagus seindo di UNPAR,pdhl mnurut bbrp konsultan sipil dan arsitek malah UNTAR (Jakarta),yg plg bgs.
kalo UNPAD saya lupa bagusnya di mana,yg jls itu ga bgs2 amat ternyata.
trus kalo TI plg bgs di ITB,yah.. slanjutnya di kalimat ini tak perlu saya lanjutkan,karena ud dijlsin di atas.
hehehehehehehehehehe…!!!!
mungkin bagus,cuma ga perlu sehiperbola itu lah yah?!?!?!
apa ga tau ada yg lbh bgs?!?!
gt lho…!!!
Tri Djoko // May 4, 2008 at 11:13 pm
–> Agung :
Ooo…ooo..gitu tho ?
Ya terutama cowok-cowok SMA itu pengin bilang ke ortunya bahwa “sekolah di Bandung bagus”…padahal maksudnya, di Bandung bisa ngeceng sambil sekolah, gitu loh !
Soalnya Bandung lebih dingin daripada Jakarta. Kalau di Jakarta mau ngeceng dikit, udah keringatan..ha..ha..ha..
liswari // May 5, 2008 at 6:31 am
Hmmm sayang gak ada perwakilan dari IF ITB yang komentar, kalau dari UI apa yah yang bisa ku komentari.. Aku gak tau pasti dalemnya BINUS seperti apa dan bagaimana perasaan mahasiswa2nya saat menjalani kuliah… tapi kalau di UI yang aku tau pasti masuk nya sulit dan keluarnya jauh lebih sulit…
Satu hal yang pernah jadi keheranan-ku saat berkantor dengan hampir 90% lulusan BINUS adalah bahwa ipk rata2 mereka di atas 3.7 or 3.8.. and I said wow… di Fasilkom UI ipk di atas segitu hanya di itung dengan jari dan biasanya bukan bekerja melainkan udah “nyasar” ke eropa atau negara2 lainnya…
Mungkin karena sedikitnya mahasiswa di FAsilkom UI dan banyaknya jumlah mahasiswa di BINUS juga.. it could be …
ardianto // May 5, 2008 at 8:20 am
–>Pak Tridjoko
Ah, kalau SMA saya nggak di AE pak, SMA saya malah di Kudus (di SMA 1 Kudus) karena tuntutan pekerjaan orang tua. SMA negeri di Madiun juga saya kurang tahu sekarang jumlahnya.
Ah, faktor EE juga nggak gitu ngaruh sebenernya Pak, dulu zaman si EE masih sendiri juga gradenya yang kedua tertinggi di ITB, 60%, data dari bimbel 2 tahun yang lalu.
Mengenai gaya hidup, yah, emang saya kesulitan beradaptasi di sini Pak. Maklum saya cah ndeso… Hehehe
Sekolah makin mahal ya sekarang…
Agung // May 5, 2008 at 9:36 am
yehhhh…!!
emank di PIM,GI,ama SenCi ngeceng ga pake AC apa??
hahahahahahahahha…!!
itu mah dasarnya aj ada yg provokasi.
bair univ2 di bandung laku.
hahahahahahaha…!!
soal biaya pendidikan yg mahal.
mari tanya ke presiden dan wakil presiden kita.
ktnya dengan naeknya harga BBM bbrp thn yg lalu (dgn terpaksa),
subsidi dialihkan ke pendidikan.
malah skrg pertamax plus ud Rp.9000.
tp kuliah msh mahal,dan blom ada sekolah gratis.
kabarnya premium dan solar mau naik lagi (lagi2 dgn terpaksa).
yg kompensasi tunai Rp.300.000 aj cm 3-5kali.
hahahahhahahahahhahahaha….!!!!
dolo org cari univ negeri spy murah.
skrg percuma,di univ negri jg byk “tikus”nya.
hahahahaahhaahahhahaa…!!
edratna // May 5, 2008 at 12:12 pm
Sebetulnya sekarang tak hanya ITB, universitas lain juga ada yang menggunakan Ujian Saringan Masuk, biayanya mahal. Di UGM, anak teman saya bayar Rp.40 juta masuk ke Elektro, karena di ITB diterima di Mesin…dia ga mau masuk mesin, dan mau tetap ikut SPMB untuk masuk Elektro ITB.
Sebenarnya istilahnya bukan kurang mampu tapi kaya, tapi pintar dan mampu…mengapa? Anak SMA 70 seangkatan anakku, saat USM mendaftarnya di Mesin ITB, tak diterima… padahal juara kelas tiap tahun. Terus dia masuk lewat jalur SPMB, yang murah…dan diterima di Elektro ITB, IP nya tetap bagus (di atas 3,5). Jadi, anak itu memang mendapatkan karunia, karena mendapatkan jalur murah, dan diterima di jurusan yang bagus….tapi memang kakaknya semuanya kuliah di ITB, jadi memang anak pandai.
Sebetulnya enaknya kuliah di jurusan teknik (entah Binus, ITB ataupun UI), tahun kedua sudah bisa cari uang sendiri, jadi bagi anak yang kurang mampu tapi pandai disarankan masuk jalur seperti ini. Di Fak Ilmu Komputer UI, banyak beasiswa tersedia bagi anak yang pandai, bahkan banyak teman anakku yang rata-rata sejak tingkat dua sudah membiayai dirinya sendiri…dan begitu lulus langsung dapat kerjaan.
edratna // May 5, 2008 at 8:05 pm
Nambahi data dari Tempo edisi 28 April-4 Mei 2008 hal 72-72, sesuai hasil survey yang digelar Pusat Data dan analia Tempo sepanjang Jan-Feb 2008, maka terdapat 11 fakultas favorit di Indonesia, al:
Teknologi Informasi; UBINUS (83%), UI (81%), Gunadarma (80%), ITB (75%), ITS (46%) dst nya.
Teknik: ITB (99%), ITS (83%), UI (80%), Trisakti (76%)dst
Pertanian: IPB (100%), UGM(52%), UNIBRAW (30%), UNPAD(25%) dst
Dengan perkataan lain, tulisan diatas ada betulnya, tapi kita harus melihat juga…bahwa riset pasar tak selalu mencerminkan keinginan pasar…lihat di postinganku http://edratna.wordpress.com/2008/04/28/
benarkah-riset-pasar-tak-selalu-mencerminkan-keinginan-pasar
Jadi kita tetap berhati-hati, karena keberhasilan juga ditentukan oleh orang itu sendiri, walaupun lingkungan sangat berpengaruh.
tridjoko // May 6, 2008 at 12:57 am
–> Mbak Liswari :
Wah..ini komentar mbak yang sangat dalam artinya….. Saya sampai berpikir sangat panjang sebelum menjawab komentar mbak…
Pertama, jangan dianggap posting ini serius karena saya bilang “mudah-mudahan orang yang nanya seperti judul posting ini sedang dalam keadaan “waras” (sober)”…
Tapi, sangat masuk akal membandingkan IF ITB dengan IF Binus lho ! Coba mbak search di Google, paling banyak adalah pertanyaan “Bagus UPH atau Binus ?” atau “Bagus ITB atau Binus ?”. Itu aja yang dibandingkan…dan kayaknya Binus tidak pernah dibandingkan dengan UI…
Alasannya mungkin, jumlah mahasiswa IF UI yang terlalu sedikit per tahunnya (60 orang ? 100 orang ? 150 orang ?). Padahal setiap tahun IF Binus kedatangan mahasiswa baru sekitar 3.000 orang ! Alias 30 kali lipat lebih besar daripada IF UI !
Menyebut banyak alumni Binus dengan IPK 3.7 atau 3.8 juga jangan sampai misleading. Saya cek di daftar mahasiswa saya (dosen bisa ngecek berapa IPK mahasiswa), kira-kira yang IPK-nya 3.7 atau 3.8 itu kurang dari 5 %….alias tidak inflasi-inflasi amat. Justru yang saya prihatin…banyak mahasiswa Binus yang IPK-nya kurang dari 2.00. Artinya apa ? Binus itu MUDAH MASUKNYA tapi SULIT KELUARNYA…
Jangan dibandingkan IPK Binus dengan IPK IPB jaman saya. Jaman saya dulu di IPB, yang IPK-nya cuman 2.22 bisa menjadi Ph.D dari Amerika, punya isteri paling cantik di IPB, dan sekarang menjadi Professor. Dari 21 temanku alumni di Statistika IPB, separuhnya bergelar Ph.D dari Amerika, Perancis, Thailand dan Kanada..(bidang Statistics, Industrial Engineering, dan Computer Science)..
Saya lama ngajar di Binus, saya amati bahwa hanya sedikit persentase alumni Binus yang melanjutkan sekolah Master atau Ph.D di luar negeri. Ada dan banyak sih, tapi dari segi % mungkin kalah sama UI atau ITB. Tapi dari segi jumlah, mestinya masih di atas UI atau IPB yang student body-nya hanya 1/30 IF Binus…
Kebanyakan alumni Binus itu meneruskan bisnis keluarga, jadi mereka tidak terlalu mikir sekolah lagi, yang penting cepat kaya !
Yah, memang salah satu yang paling sedih dalam melihat IF Binus, rendahnya minat alumninya untuk bersekolah lagi ngambil Master’s atau Ph.D di luar negeri…
tridjoko // May 6, 2008 at 1:02 am
–> Dik Ardianto : wooo…ternyata anda lulusnya dari SMA 1 Kudus ya…
Ya saya bisa membayangkan “cah ndeso” seperti anda kuliah di ITB yang dekat Jalan Dago yang setiap malam minggu hingar bingar itu apa ya bisa tahan iman ?
Ha..ha…ha…
Makanya saya dulu cukup bersyukur gagal masuk ITB dan masuk IPB yang kotanya lebih sepi dan hujan melulu sehingga nggak sempat main-main dan terpaksa belajar terus agar cepet lulus…
tridjoko // May 6, 2008 at 1:04 am
–> Agung :
Anda curhat ya Gung….
Ha..ha..ha…
Makanya salah memilih dalam 5 detik, menyesal rasanya dalam 5 tahun !!!
Next time, make a better choice !
tridjoko // May 6, 2008 at 1:09 am
–> Bu Edratna : wah…saya nggak tahu persis statistiknya anak-anak mahasiswa ITB yang masuk melalui USM dan melalui SPMB itu bedanya di mana ? Karena memang tidak pernah di-disclose sih datanya…
Tapi feeling saya, “test masuk SPMB” jauh lebih baik dalam mengklasifikasikan mahasiswa yang pintar daripada “test masuk USM”..
Artinya “successful rate” anak-anak SPMB secara persentase lebih tinggi daripada anak-anak USM..
Alasannya apa, ya nggak tahu…tapi saya kan sekolahnya di Statistika dulu…jadi punya “sedikit feeling” tentang hal itu…
Tapi data persisnya seperti apa, tanyalah pada rumput yang bergoyang…he..he..he…
tridjoko // May 6, 2008 at 1:16 am
–> Bu Edratna : mengenai riset pasar…emang gampang aja sikap kita, yaitu…. Who cares ?
Di Amerika sekalipun, universitas yang meng-klaim mutunya bagus belum tentu employer senang mempekerjakan alumni dari universitas itu…
Alias, pandangan employer apakah lulusan universitas tertentu mempunyai “employability” yang tinggi, itulah yang terpenting…
Dulu MBA Indiana menurut majalah US News & World Report hanya menduduki ranking #10 tapi di Wall Street employer memandang alumni MBA Indiana adalah #3 yang pantas direkrut sebagai pegawai…
Dan di kalangan employer di Indonesia sudah ada pemeo, “IT is Binus, and Binus is IT”..
Dan percaya nggak ? Binus adalah satu-satunya universitas swasta yang mensyaratkan latar belakang IPA untuk jurusan Teknik Informatika ? Di universitas swasta lainnya “yang sangat terkenal” mereka bisa menerima latar belakang IPS untuk jurusan Teknik Informatika…
Saya sebagai dosen sering merasakan, latar belakang IPS di jurusan Teknik Informatika “nggak bisa dibawa kemana-mana, alias jalan di tempat…”…
Agung // May 6, 2008 at 5:05 pm
i didn’t choose them anyway.
i have chosen the others.
hehehehehehehehehehe…!!
SBY and JK are so regretful and pathetic.
yeah,Binus is absolutely great in Computer Science.
and will be greater after we have Master in Information Technology programme.
hehehehehehehehehehe…!!!
soal niat alumni Binus buat nerusin ke Master ato Ph.D skrg2 ini ud mulai lho Pak.
plg ga di jurusan saya,TI-Mat.
yah,nti plg ga ada saya,Albert,dan Ronald yg ud pasti bakal nerusin ke Master.
dan ktnya Anta jg mao ambil Master nti.
mungkin kalo dulu msh bs kita mikir S1 cukup.
kalo skrg mah,ud ga cukup.
bahkan buat nerusin usaha keluarga.
jaman skrg usaha keluarga susah “dialih kuasakan”.
saya mikir,mungkin saya ga akan gantiin Papa di perusahaannya.
biar dijual aj nti,buat hari tua mereka.
soalnya,kalo perusahaannya ga gede2 amat,ato ga mapan2 amat,
sekali terjang ato bersaing ama perusahaan yg lbh gede,lgs ambruk.
apa lg kalo kurang cerdik managementnya.
hehehehehehehehehehe….!!!
Tri Djoko // May 6, 2008 at 5:16 pm
–> Agung : ya udah…kritik atau pertanyaan mbak Liswari harus segera dijawab oleh mahasiswa Binus khususnya teman-temanmu sekelas…
Jangan lalu dianggap alumni Binus “jago kandang” atau “seperti katak di dalam tempurung” karena tidak mau melihat keluar atau pengalaman di luar….
Outward looking dong…outward looking !
Kalau mau surat rekomendasi ntar saya kasih gratis…he..he..he…
[p.s.: "Pak Tri Djoko is very good in giving students recommendation with flowery words", itu salah satu testimonial mahasiswa saya beberapa tahun yang lalu...]
Agung // May 6, 2008 at 5:50 pm
as you command,Sir..!!
hahahahahahahaha…!!!
liat aj 2 taon lagi.
Si Ronald dan Si Anta ke Aussie,Si Albert ke Jepang,dan saya ke Belgia.
dan kita2 emank mao berkarir di sana.
hehehehehehehehehehe…!!
oo..iyah Pak.
saya butuh 2 recommendation letters dari academician or employer buat daftar Master di Belgia.
nanti salah satunya saya minta dari Bapak yah?!?!?!
saya book dr skrg yah Pak..!!
hehehehehehehehehehehhee…..!!!!
tridjoko // May 6, 2008 at 7:59 pm
–> Agung : about yourself and Anta, Ronald, and Albert’s plan to continue your study at Master or Ph.D level, I fully support all of you…
About letter of recommendation : no problemo amigo !!
Agung // May 6, 2008 at 10:26 pm
thank’s for your BIG support,Sir.
hehehehhehehehe…!!
you’ll be the first man that i call,if i need letter of recommendation.
hehehehehehe…!!
tridjoko // May 7, 2008 at 4:22 am
–> Agung :
Don’t mention it, man….don’t mention it….
Agung // May 7, 2008 at 8:43 am
hehehehehehehee…!!
Pak,ini topik ngetop abis lho.
bayangin baru 6 hari,commentnyya ud 50 lebih.
hahahahahahahaa…!!
tridjoko // May 7, 2008 at 11:49 am
–> Agung : syukurlah, ini topik banyak penggemarnya…he..he..he..
Tapi di Blog tetangga, hare gene pasti udah ada 350 comment !!
Jadi ini masih belum seberapa lho…
Agung // May 7, 2008 at 2:21 pm
abis,ga ada argumen lawan dr anak2 ITB sih.
cuma gt2 aja.
gak seru.
hahahahahahahahahha…!!
kalo ada anak ITB yg “gampang panas” kyk saya,
bisa ampe 500 comments kali Pak.
hehehehehehehhehehe…!!
Tri Djoko // May 7, 2008 at 4:50 pm
–> Agung : kalau “gampang panas” ya masuknya Binus…ha..ha..ha..
Emangnya Pertamax ?
Agung // May 7, 2008 at 9:40 pm
hahahahahahaha…!!
mungkin kbykan nghisap asep knalpot M11,M24,ama metromini 91,jd “gampang panas”.
hahahahahahahahaha…!!
maklum lah Pak,klo mnurut astrologi cina,saya elemennya api.
makanya nama cina saya ada unsur airnya.
mksdny biar saya ga”panas2″ amat.
hehehehehehehehehehe….!!!
saya rasa kalo mao dibandingin ama ITB,Binus hrs pny Teknik Mesin ama Teknik Elektro di fakultas teknik.
trus tambahin Dept Fisika ama Dept Biologi di FMIPA.
hehehehehehehehe…!!
tridjoko // May 7, 2008 at 11:15 pm
–> Agung : berarti di chinese name-mu ada “radiator”-nya gitu ya ?
Supaya bisa dibandingkan dengan ITB, Binus harus punya SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen), trusss mahasiswanya ke kampus harus pakai mobil yang mengkilap…DAN tu nggak boleh M-09, M-11 dan M-24 yang dilap terus agar mengkilap…ha..ha..ha..
Agung // May 8, 2008 at 8:04 am
hahahahahahahahahahaa…!!!
“radiator”? yang bening aj,Pak?!?!?
hahahahahahaha…!!!
lho?
bukannya Binus ud pny Business School??
malah suka buka stand promosi di mall2.
saya pernah “diceramahin” soal Business School di PIM.
hehehehehehehehehe..!!
Leave a Comment