Seorang mahasiswa saya dari jurusan ganda TI-STAT menanyakan hal ini kepada saya selaku dosennya tentang universitas mana yang akan ia pilih jika ia meneruskan program Master atau Ph.D di Amerika ?
Ia tipe mahasiswa saya yang sangat serius, maklum ia alumni Tarnus. Ia typical mahasiswa “straight A’s” yang mikirnya jauh ke depan. Sebagai mahasiswa yang ngambil jurusan ganda (double major) Teknik Informatika dengan Statistika mestinya ia berpikir melanjutkan studi ke salah satu dari kedua jurusan tersebut. Ternyata ia tidak, ia lebih tertarik dengan jurusan Psychology yang mau nggak mau nanti ia hubung-hubungkan dengan Computer Science atau Statistics. Rupanya ia sempat belajar psikologi dari seorang master magician yang cukup terkenal di Indonesia…
Saya tanya berapa nilai TOEFL-mu ? Rupanya cukup lumayan. GRE ? Belum ambil pak, katanya. Ya sudah, universitas apa yang kamu pilih, tanya saya. Anu pak, Stanford dan Yale, jadi gimana dong pak ?, tanyanya…
Langsung saya garuk-garuk kepala walau tak gatal. Soalnya walaupun SMA-nya termasuk elit di Indonesia, tapi ia hanya mahasiswa Binus dan bukan ITB (sorry, no offence to ITB..Peace !!)..
Saya langsung bilang, Stanford itu terlalu mahal. Apakah kamu pikir kamu anak Presiden ?, tanya saya bercanda mengingat Chelsea Clinton anak Presiden Bill Clinton dan calon Presiden Hillary Clinton itu sekolah di Stanford. Anu pak, khusus untuk jurusan Psychology di Stanford ada diskon tuition fee-nya cuman USD 20,000 per tahun, katanya. Yah itu kan masih terlalu mahal, kata saya…
Kalau Yale bagaimana pak ?, tanyanya polos. Sayapun bagaikan disambar geledek !!! Mungkin kalau seribu geledek sekaligus meledak di dekat telinga saya saat itu, saya nggak akan terlalu terkejut. Tapi ini mahasiswa Binus, walaupun mahasiswa straight A’s, tapi ia kan bukan lulusan Chicago, Columbia, Brown atau minimal Indiana-lah…
Wah, jadi anda mau masuk sekolah Ivy League ya, tanya saya. Baiklah anak muda, kalau itu maumu. Tapi untuk belajar cara tricks and treats bagaimana masuk sekolah Ivy League sebaiknya anda nonton dulu VCD-nya Rees Witherspoon yang berjudul “Legally Blonde” yang bercerita tentang seorang cewek cantik berambut blonde bermata biru yang mau masuk Sekolah Hukum Harvard karena ingin mengejar pacarnya yang sudah masuk Harvard duluan…
Sayapun lalu berbasa-basi sedikit. Gini ya anak muda, boleh-boleh saja sih anda mau masuk Stanford atau Yale untuk ngambil Master atau Ph.D di bidang Psychology, tapi sebaiknya anda menentukan 6 universitas cadangan yang anda lamari juga siapa tahu Stanford dan Yale belum menerima anda karena dari tanya jawab tadi anda belum pernah memandikan jenazah korban tsunami, belum pernah bekerja volunteer sebagai sopir ambulance, belum pernah volunteer bekerja di dapur umum untuk menolong korban gempa, belum pernah menyelamatkan penyu yang hampir punah di pantai Pameungpeuk, dan kegiatan-kegiatan lainnya macam itulah…
Akhirnya saya sarankan, dari 6 universitas cadangan itu ambillah yang letak geografisnya terpisah-pisah di Amerika sana. Sayapun menulis di papan tulis ke-6 universitas cadangan itu : U. of Massachussetts at Armherst (mewakili wilayah Northeastern), U. of North Carolina-Chappel Hill (mewakili Atlantic Coast), U. of Florida-Gainsville (mewakili Southeastern), U. of Texas-Austin (mewakili Southwest), U. of Illinois-Urbana Champaign (mewakili Midwest), dan U. of California- Los Angeles (mewakili Pacific).
Si anak muda tadi mengangguk-angguk, tanda setuju. Sayapun meneruskan mengajar beberapa teori dan seperti biasa diakhiri dengan Popquiz…
Good luck ya !
[p.s. Kapan nih anda menyusul sekolah Master dan Ph.D di USA ?]
36 responses so far ↓
Agung // May 10, 2008 at 9:24 pm
wah,DASHYAT…!!!
(uda kyk upline saya di MLM)
hahahahahahahahaa…!!
gile tuh anak…!!
kyknya saya kenal tuh Pak anaknya.
tp org kyk gt emank hrs ada Pak.
dia org hebat dan juga nekat.
kalo saya jd kuliah ke USA,plg cm UT-Austin.
ga pny mimpi kuliah di MIT,Stanford,ato Harvard.
ya ampun,jauh bgt kali.
hahahahahahahahahaha…!!
oo..iya Pak.
ada lg 1 anak TI,cewe gt deh,dulu sekelas ama saya di mata kuliah IMK dan MetPen.
dia kalo ud lulus mao kuliah MUSIK di CAMBRIDGE..!!!
dan skrg ud mulai siap2 buat tes msknya.
AJEGILE…!!!
hahahahaahahaha…!!
Tri Djoko // May 10, 2008 at 9:34 pm
–> Agung : bukan Dewi M. Sari Komti anda skg kan ?
Ha..ha..ha..baguslah, lha wong saya dulu sekolah pertanian kok ngambilnya Statistika. Lha wong latar belakang Statistika kok menangani Transportasi di kantor, lalu mengajar Komputer lalu ngambil Computer Science…
Kalau banyak orang “skewed” kayak gitu, kayaknya dunia ini lebih indah …ha..ha..ha..
Hidup skewed !
Adhiguna // May 10, 2008 at 11:19 pm
Gini ya, tanpa mengecilkan orang Indonesia yang berniat masuk undergrad Ivy League di US.
Rule of thumbnya gini aja deh, “kalau anda tidak pernah mendapatkan medali minimal PERAK di Olimpiade Internasional, either Math, Informatik, Kimia, Biology, Astronomy etc ATAU anda ANAKNYA KONGLOMERAT. Maka anda bisa melupakan impian anda itu .”
Untuk yang mau masuk graduate school Ivy League di US :
“Kalau anda tidak masuk Dean’s list (graduate with distinction/Summa Cumlaude) dari Ivy League University DAN punya minimal 2 publikasi ilmiah di journal sekelas IEEE, Nature, Elsevier DAN punya rekomendasi yang SANGAT KUAT dari Professor di Ivy League, maka lupakanlah Ivy League graduate school di US”
Be REALISTIC is BETTER.
tridjoko // May 11, 2008 at 2:20 am
–> Adhiguna : wah..masukan yang sangat bagus tuh mas Adhi…
Pada prinsipnya, “Be special, be different, be No.1“..
Sebenarnya saya sudah cerita di depan anak muda tersebut bahwa mengapa orang yang nilai-nilai raportnya A semua, bahkan orang Amerika sekalipun, merasa ngeri masuk Ivy League ya karena SEMUA PELAMAR ke universitas Ivy League nilai-nilainya A semua (straight A’s). Jadi GPA sudah bukan “determinant” lagi di sini…
Yang mas Adhi sebutkan semua tadi (juara ini itu, sudah publish di ini itu) belum menjamin seseorang masuk Ivy League, paling hanya bisa masuk “tiruannya Ivy League” macam Carnegie-Mellon U..
Gini deh, sepanjang sejarah orang Indonesia yang berhasil masuk Ivy League adalah : Harimurti Kridalaksana (wartawan Tempo) dan Widyatmoko Sumarlin (orang BPPT), keduanya masuk Kennedy School of Government, Harvard; A.A. Makagiansar (Depdiknas) dan Arif Budiman (mantan aktivis 66), Harvard; lalu Ricardus Eko Indrajit (juara EL ITS, beasiswa Pertamina)..juga di Harvard..
Yale, Princeton, Columbia, Dartmouth, Williams & Mary : setahu saya belum ada orang Indonesia yang nembus ke universitas-universitas ini..
Brown : Imam B. Prasodjo (dosen UI)…
Cornell : Umar Kayam (sastrawan top Angkatan 66), Budi …. (lupa lastname, orang BPPT), dan dr. …….(isteri teman saya di BPPT)..
Jadi dari sejarah masa lalu di Ivy League, yang “bisa” ditembus hanyalah Harvard, Brown, dan Cornell…
Banyak dosen ITB yang masuk ke Graduate School “setara” universitas Ivy League macam Prof. Sudjana Sapiie (Stanford) dan Prof. Said D. Jenie (MIT)…keduanya ngambil Aeronautics…(? pls confirm)..
Jadi intinya memang harus realistic…
Tapi the world doesn’t work 100% in a realistic way…kadang-kadang ada “something” yang dilihat oleh Director of Admission di Ivy League school tadi..dan bisa diterima..
Tapi itu sudah termasuk “Against All Odds” lho !
Agung // May 11, 2008 at 12:12 pm
bukan si Dewi itu yg saya maksud Pak.
namanya Veronika,dia seangkatan ama saya.
dia emank jago nyanyi n maen biola gt sih.
dia msk IF Binus krn “paksaan” ortunya.
hehehehehehehehehe…!!!
tapi Bapak mah msh nyambung lah dikit2.
nanti saya dr matematika n comp science malah ambil menejemen industri.
heheehehehehehehehehehehe….!!!!
tapi saya mah ga mao mimpi kejauhan ke univ plg top USA ato UK yg notabene plg top jg sedunia.
ckp plg top di Belgia saja.
heheheheheheheheehehhee…!!
hidup KU Leuven….!!!
hahahahahaha…!!
Agung // May 11, 2008 at 12:14 pm
bukan si Dewi itu yg saya maksud Pak.
namanya Veronika,dia seangkatan ama saya.
dia emank jago nyanyi n maen biola gt sih.
dia msk IF Binus krn “paksaan” ortunya.
hehehehehehehehehe…!!!
tapi Bapak mah msh nyambung lah dikit2.
nanti saya dr matematika n comp science malah ambil menejemen industri.
heheehehehehehehehehehehe….!!!!
tapi saya mah ga mao mimpi kejauhan ke univ plg top USA ato UK yg notabene plg top jg sedunia.
ckp plg top di Belgia saja.
heheheheheheheheehehhee…!!
hidup KU Leuven…!!!
hahahahahaha…!!
Adhiguna // May 11, 2008 at 6:02 pm
Bener pak Tri,
temen saya yang saya bilang genius dan nyentrik abis. Bacaannya sehari-hari graduate text of Mathematics. Pernah ikut ACM Collegiate Contest dan masuk peringkat atas,
Juara 1 kompetisi math se-Shanghai, lulusan terbaik Fudan University(salah satu univ terbaik di RRC) . GRE general 1500, GRE Subject 99 persentil.
Di program saya termasuk the bestnya (bukan the best sih karena di program saya banyak anak Jenius lainnya).
Dia coba masuk Berkeley, gagal.
Columbia, gagal.
UT-Austin, gagal.
John-Hopkins,gagal.
So saya bingung, apa sih yang dicari univ2 Ivy League itu????
tridjoko // May 11, 2008 at 6:06 pm
–> Agung :
Ya deh pergi ke Belgia sono….tapi awas ya, belajar Industrial Management yang baik ya, jangan memperdalam agama Katholik seolah mau menjadi Pastur…
(Ingat cerita saya sebelumnya di posting saya beberapa bulan yang lalu tentang orang IPB yang sangat pandai dan belajar ke Belgia tapi tidak memperoleh gelar Ph.D karena konon kabarnya di Belgia malah memperdalam agama Katolik instead…very sad story..)
tridjoko // May 11, 2008 at 6:15 pm
–> Adhiguna :
Lha justru di situ letaknya Mas, teman anda yang Jenius itu justru di atas kertas (credentials-nya) sama dengan pelamar-pelamar lainnya di universitas yang dituju tadi, jadi dia nggak punya “determinant factor” atau “keyword” atau “something unique” yang ingin didengar oleh para Directors of Admission di universitas- universitas tadi…
BTW, universitas-universitas yang mas Adhi sebutin tadi adalah “Best 5″ di Amerika, makanya teman anda itu nggak bisa masuk. Coba kalau dia nglamar di “Best 6-10″ mungkin masih bisa masuk…
Ibaratnya ada anak pandai dari SMA 8 Jakarta yang merupakan SMA unggulan DKI/Nasional, tapi dia terlalu percaya diri dan milih Pilihan 1 IF ITB, dan Pilihan 2 IF UI. Maka mungkin dia akan gagal karena IF ITB passing grade-nya 62 dan IF UI 59. Halnya akan lain kalau misalnya ia mau masuk MS ITB (Mesin) yang passing grade-nya mungkin 55…
Nah, dengan logika seperti di atas sebenarnya masih ada ” a slim chance” bahwa anak muda mahasiswa saya itu akan bisa “nembus” ke Stanford. Kalau Yale, saya memang punya keraguan yang sangat besar, maklum itu universitasnya para Presiden Amerika yang terakhir (George Bush Sr, Bill Clinton, George Walker Bush)…
Adhiguna // May 11, 2008 at 7:19 pm
Iya pak, dulu zaman UMPTN saya pingin pilihan pertama IF ITB dan pilihan kedua Ilkom UI, tapi kok ya kok terlalu pede ya (meskipun saya NEMnya salah satu yang tertinggi di JAKARTA dan simulasi UMPTN nasional selalu 5 besar).
Akhirnya pilihan pertama Ilkom UI dan pilihan kedua TF ITB.
Oh ya berhubungan dengan Univ di US. Saya ditolak oleh Univ peringkat 10-20 di US, tapi dapet tawaran scholarship dari Univ2 di Eropa, Jepang, Korea.
Emang US negara gila. I will SUPPORT and HELP European Union as much as I can in Science and Technology to beat that country!!
Long Live EUROPEAN UNION!!!!!!!
Agung // May 11, 2008 at 9:40 pm
iyah Pak.
saya sll ingat cerita itu.
hehehehehehehe…!!
belajar agamanya mah pas ud nikah ama bule di sono donk..!!
kan klo ud nikah,bljr agamanya ga ampe kyk mao jd pastor.
hehehehehehhehehe..!!
kalo mao kuliah di Ivy League aj susah,apa lg jd dosennya yah Pak?!?!?!
hahahahahahhahahahahha….!!!
tp Om dan Tante saya jd dosen di UT-Austin.
so,saya kalo mao msk sana sih hrsnya lbh mudah.
hehehehehehhehehehe…!!
Tri Djoko // May 11, 2008 at 10:17 pm
–> Adhiguna :
Mas Adhi, yeah..I am sure European Union can beat the US….technologically….
But in money term, Euro is much more stronger than Dollar, which means…Euro products are much more expensive than US products…
So ?
Tanyalah pada rumput yang bergoyang….
Anda beruntung masuk Ilkom UI instead, kalau masuk IF ITB….mungkin lulusnya lebih lama…dan godaan di Bandung buat pria metrosexual kayak anda terlalu besar…
Ha..ha..ha..
Tri Djoko // May 11, 2008 at 10:22 pm
–> Agung :
Dosen-dosen Ivy League sudah pasti yang terbaik dong…dan biasanya penulis buku yang sangat amat terkenal.
Anda ingat buku “Algorithms and Data Structures” yang penulisnya Aho, Hopcroft, Ullman ? Ketiganya adalah murid-muridnya “mbahnya Ilmu Komputer” yaitu Donald Knuth yang ngajar di Stanford. Aho kalau nggak salah dosen Stanford, Hopcroft di Princeton, dan Ullman di Cornell…
Jadi ketiganya dosen universitas papan atas : Stanford secara konsisten menjadi universitas No.1 atau No.2 di semua jurusannya !!! Dan Princeton serta Cornell adalah Ivy League…
Gpp sekolah di Belgia, pasti kehidupan anda di sana amat sangat aman tenteram dibandingkan di universitas Ivy League yang kompetisinya gila-gilaan dan seminggu harus baca 20 textbooks…
Agung // May 11, 2008 at 10:30 pm
wah,kyknya saya hrs punya bukunya tuh.
hehehehehehehe…!!!
dosen S1nya aj pasti minimal Ph.D yg ud nulis min 5buku yah Pak?!?!
apa lg dosen S2 n S3.
pasti ud Prof. trus botak ubun2nya,pake kacamata,pake rompi woll,dan kalo ngomong gak jls.
hahahahahhahahahahahahha…!!!
20textbook seminggu??
aduh2…!!
gmn bisa menikmati hidup???
berarti pilihan saya tepat kuliah di Belgia,
bisa belajar dan menikmati hidup.
hehehehehehehhee…!!
tenang Pak,belajar tetep nomor 1.
hehehehehehehhe…!!
tridjoko // May 11, 2008 at 10:34 pm
–> Agung :
Buku “Algorithms and Data Structures” karangan Aho, Hopcroft, Ullman itu mah buku textbook di mata kuliah Struktur Data…
Lupa ya ?
Dosen S1 (undergraduate program) di Ivy League so pasti Ph.D gelarnya, dan so pasti alumni Stanford, CMU, Caltech, Purdue atau Illinois, atau dari Ivy League itu sendiri…
Alumni universitas lain, pasti cuman jadi “penggembira” kalau mau melamar sebagai dosen ke Ivy League sih…
Agung // May 11, 2008 at 10:50 pm
dulu struktur data disuruh pakenya fundamental of data structure.
kyknya bukan buku algo n dat struc itu.
nanti cari di GALILEO ahhhhhh…!!
hahahahahahahaha…!!
kyknya org Indo blom ada yg jd dosen di Ivy League yah Pak??
kan yg lulus dr Ivy League aj br dikit.
wah,gile bener.
mereka2 pasti bnr2 dedikasikan hidupny pd pendidikan.
pendidikan yg bnr2 luar biasa advance tentunya.
Bapak ga punya mimpi ato minimal ngbayangin ngajar di univ2 kyk gt Pak??
hehehehehehehehehehehe…!!
Tri Djoko // May 12, 2008 at 12:28 am
–> Agung :
Ada, dosen Indonesia yang dulu ngajar di Ivy League yaitu….Arif Budiman !!
Dia dulu Ph.D student dari Harvard lalu nulis disertasi nggak selesai-selesai (baca : oleh pemerintah Orde Baru disuruh sekolah terus kalau perlu gak pulang-pulang). Lalu dia ngajar sambilan di Princeton…
Yang diajar tentu saja : Bahasa Indonesia !!!!!
Ha..ha..ha..
Keeeeeeennnnaaaa deh !!!
(Saya baca dari buku harian Arif Budiman waktu sekolah di AS, buku harian yang ukuran saku itu menarik sekali, saya dulu belinya di Gramed Matraman…)…
Saya ?
Ngebayangin ngajar di Ivy League ?
Ampun deh, di Binus aja hampir nggak kepegang !!!
Tapi, pengin sih…(in my wildest dream)….
Agung // May 12, 2008 at 8:25 am
wah,pemerintah Orde Baru keterlaluan.
mungkin Pak Arif sndiri pengen “menikmati hidup”.
hehehehehehehehehehhee…!!!
ngajar bahasa indonesia??
tapi saya yakin cuma dikit mahasiswa yg bljr bhs indo di Princeton.
ato malah byk?!
yah,punya cita2 stinggi langit mah gpp Pak.
hahahahhahahahhaa…!!
mungkin ga yah,stlh lulus Master dr Belgia,saya terusin Ph.D di Stanford,
trus jd dosen di Ivy League..?!??!?!?!?!?!
itu jg cuma “mimpi liar” saya aj Pak.
hahahahahahahahhahaha…!!!
Adhiguna // May 12, 2008 at 2:06 pm
Iya pak Tri, di ITB yakiiin banget saya pasti kerjaannya main2 terus bareng mojang Bandung.. di Depok aja berat godaannya apalagi di Bandung
Ya memang produk2 Eropa lebih mahal, tapi untuk qualitynya boleh diadu deh,menurut saya ini karena Eropa belum sepenuhnya mengikuti strategy OUTSOURCE Amerika. Akan menyusul kok pak, dont worry
Apalagi kalau Eropa dengan kebijakan Blue Cardnya udah jalan…Eropa masih terlalu tertutup dengan tenaga kerja ahli asing. Tidak seperti Amerika (sebelum 9/11).
Trus di Amerika itu ENTREPRENEURSHIP di -encourage banget, sementara di Eropa justru peraturan-peraturannya mempersulit para entrepreneur potensial, jadinya anak muda disini hanya dididik untuk jadi pegawai aja. Itu yang menurut saya menyebabkan Ekonomi Eropa masih di belakang US.
tridjoko // May 12, 2008 at 8:23 pm
–> Agung :
Tepatnya Arif Budiman dulu terlibat di “The Indonesian Project” di Princeton dengan chairman salah satu professor yang sangat terkenal namanya. Tentu tugas utama Bang Arif bukan mengajar Bahasa Indonesia, mungkin tugas lain (tidak diceritakan di buku saku itu). Yang diceritakan hanya mengajar bahasa Indonesia saja. Siapa yang belajar bahasa Indonesia di Princeton ? Para calon Ph.D yang nantinya meneliti tentang Indonesia, mereka kan akan datang ke Indonesia barang 3-6 bulan jadi perlu di-briefing tentang Sejarah Indonesia, Adat Istiadat Indonesia, dan tentu saja Bahasa Indonesia…
Setelah itu kalau nggak salah Arif Budiman ngajar Bahasa Indonesia di UCLA. Lagi-lagi yang belajar Bahasa Indonesia di UCLA adalah para Ph.D student yang mau nulis disertasi tentang Indonesia. Katanya di UCLA ini ia “make a lot of money”…sampai-sampai nulis disertasinya di Harvard terbengkalai…
“Gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit”, kata Presiden Soekarno dulu…
“Cita-cita harus realistis, itu lebih baik”, kata mas Adhiguna di Paris…
Hahahaha…
tridjoko // May 12, 2008 at 8:32 pm
–> Adhiguna :
Mas Adhi, ya kan anda pasti nggak tahan sekolah di Bandung yang lebih banyak godaannya dibandingkan di Depok…
Saya dulu bersyukur tidak diterima di ITB. Pertama, ITB sekolahnya lama. Kedua, biaya sekolah dan biaya hidupnya lebih mahal padahal orang tua saya pegawai negeri yang membiayai ketiga anaknya sekolah di universitas. Ketiga, godaannya itu lho mas yang nggak tahan…
Akhirnya saya masuk IPB dan 4 tahun persis lulus, dapat beasiswa, dan nggak sempat ngapa-ngapain (baca : pacaran) karena memang Bogor kalau siang hujan deras selalu setiap harinya. Mau pacaran di bawah payung ? Wah..kayak lagunya Koes Plus dong ! Faktor lain, di IPB program 4 tahun itu kayak dikejar setan, assignment banyak banget hampir nggak sempat “hidup normal”..
Insentif pajak bagi enterpreneur di US memang paling baik se dunia. Selain itu, Filantropi berkembang pesat karena daripada uang sebanyak USD x juta buat bayar pajak, mendingan disumbangkan ke Stanford untuk membangun gedung dengan nama penyumbangnya tertera di sana (namanya skema “tax deductible”)…
Dan menurut laporan “World Competitiveness Report” US masih negara No.1 untuk investasi di dunia. Eropa mungkin yang cukup “sexy” untuk investasi tinggal Irlandia…
Untuk melihat persaingan dagang Eropa-Amerika, lihat aja penjualan Airbus vs Boeing atau penjualan Otomotif, pasti terlihat jelas siapa yang unggul baik teknologi maupun pasar…
Fauziah // May 13, 2008 at 9:08 pm
Assalamualaikum..
Saya baru sekali ini buka web anda dan sangat terkejut membaca komentar2 tsb. Alhamdulillah saya baru saja diterima Master’s degree di Yale dan bahkan saya mendapat tawaran beasiswa dan assistanship dari Yale Univ. Saya rasa bukan tidak mungkin menuntut ilmu disana, pada kenyataannya saya bisa membuktikan hal tsb.
Padahal saya blm punya pengalaman kerja apa-apa krn baru saja lulus S1 dari UGM, dengan nilai GRE rendah dan IPK juga tidak terlalu tinggi. Saya harap lebih banyak lagi org Indonesia yg bisa menembus univ2 top dunia ke depan. Dan setahu saya, banyak juga kok org Indonesia yang kuliah di Yale, dari S1 sampai postgraduate. So, dont give up!
Agung // May 13, 2008 at 9:49 pm
yah,tentu hrs realistis.
kalo saya lihat,rencana kyk gt (Binus-Leuven-Stanford,lalu jd dosen Ivy League) lumayan realistis.
mksdnya,msh mungkin terjadi.
kyk Fiorentina juara skudeto tahun depan.
msh mungkin kan??
soalnya kan naeknya pelan2,
dr Binus ke Leuven pasti bs lah,
dr Leuven ke Stanford jg msh bs.
hehehehehehehhehee…!!
nah,beda kalo dari S1 Binus lgs ke S2 Stanford.
ato lulusan Ph.D Belgia jd dosen Ivy League.
itu kyk Catania skudeto thn depan.
mungkin kah??
yah,bukan Agung,kalo saya memporsir diri saya cuma buat cita2 jd dosen Ivy League.
kita perlu menikmati hidup.
dan berguna buat org2 yg kita sayang.
bikin seneng org yg kita sayang.
buat apa jd dosen Ivy League,tp kalo org yg kita sayang butuh kita di sampingnya dan kita ga ada??
hehehheehhehehee…!!
(*jd ngelindur*)
Pak,di kelas kita ada 1 anak yg ud keterima di MIT,tp ga diterusin lho ama dia.
mantab kan Binus??
hahahahahahahhaa…!!
tridjoko // May 14, 2008 at 12:25 am
–> Agung :
Wah…anda sudah belajar kan tentang Teori Probabilita ? Probabilita alias “odd” memang ada…
Odd anda masuk Leuven 0.80, odd anda lulus dari Leuven bisa keterima Ph.D di Stanford 0.40, probabilita anda lulus Ph.D dari Stanford 0.20, probabilita anda jadi Assistant Professor di Stanford 0.05…
Jadi odd keseluruhan : 0.8 x 0.40 x 0.20 x 0.05 menjadi 0.000000000005 kan he..he..he…
Just kidding !
tridjoko // May 14, 2008 at 12:31 am
–> mbak Fauziah : Alaikumsallam mbak…
No kidding mbak ? Anda diterima di Yale ? Lulusan UGM dengan IPK biasa saja dan GRE biasa saja ??
Wah..kalau mbak ini anak saya, pasti saya sudah ngadain selamatan 7 hari 7 malam saking bangganya !!!
Lain kali coba deh mbak cerita “di sini” mbak dari jurusan apa, dan ngambil di Yale-nya jurusan apa, dan apa mbak punya credentials yang sangat mantap misalnya membantu korban Tsunami di Aceh sehingga “dewa-dewa” (Admission Committee) di Yale sana begitu yakinnya mbak cocok untuk sekolah di universitas Ivy League ?
Soalnya mahasiswa-mahasiswa saya pada ngiler mbak….baru ndenger Ivy League aja sudah ngiler….apalagi masuk beneran, air liurnya tumpah ngkali…
Sekali lagi, selamat ya mbak. Dan jangan lupa cerita di blog ini kapan-kapan kalau ada waktu…
Bagaimana kehidupan di New Haven, Connecticut mbak ? Damai dan sejahtera ?
Hahahaha…
Agung // May 14, 2008 at 3:50 pm
ga sekecil itu lah Pak.
kan odd saya msk Leuven 0,98.
dr Leuven ke Stanford 0.50 lah.
dan jadi assisten profesor 0.10.
hahahahahahahahahahhaha…!!!
tapi saya jg belom yakin mao terusin ampe Ph.D ato ga nti.
Pak,saya tertarik ama salah satu sertifikasi yg ditawarkan Prasetya Mulya Business School nih.
International Certification in Purchasing and Supply Chain Management (ICPSCM).
panjang juga yah Pak namanya.
hahahahahahahahahahaha…!!!
tridjoko // May 14, 2008 at 5:18 pm
–> Agung :
Wah…saya sudah puluhan kali mengatakan bahwa sertifikat ini penting, sertifikat itu penting, tapi kayaknya ada selalu dan selalu mencari sertifikat yang tidak saya sarankan…
Coba cek lagi di Google, masukkan nama sertifikasi tertentu, dan catat berapa jumlah website yang membahas tentang sertifikat itu. Ranking 10 sertifikat terbanyak yang dibahas di Google itu seperti apa ?
Kalau CISA ada 1,000,000 posting yang membahas, lalu ICPSCM itu cuman 5 posting yang membahas, maka you know darn sure which sertificate is worth to have…
Hehehehe…mengenai sertifikasi tanya saya, jangan tanya pada buah srikaya yang belum matang !!!
Agung // May 14, 2008 at 6:57 pm
makanya,tiap kali ada sertifikat yg baru saya tau,saya lgs tanya Bapak.
hehehehehehehehhe…!!
saya cm percaya ama Bapak soal ini.
hehehehehehehhehe…!!
Tri Djoko // May 14, 2008 at 8:38 pm
–> Agung : sertifikat-sertifikat “bagus” yang saya sebut hampir semuanya ditawarkan “Preparation Course”-nya di Binus JWC..
Yang ditawarkan sama “universitas sebelah” tidak sebagus yang ditawarkan Binus JWC..
Itu saja…
Agung // May 15, 2008 at 8:55 pm
baiklah.
saya akan cek situsnya JWC.
hehehehehhe..!!
papabonbon // May 22, 2008 at 9:25 am
rachmat kaimudin, Tn angkatan 5, dia gagal umptn di itb, malah keterima teknik elektri MIT, selanjutnya kerja di boston consulting group. sekarang lagi ambil mba di stanford.
tridjoko // May 22, 2008 at 4:49 pm
–> Papabonbon :
Trims informasinya Bung ! Wah..kalau mahasiswa saya yang alumni Tarnus 13 (?) itu jadi ke Stanford, tentu bakalan ketemu sama Kang Rachmat Kaimudin, kalau ybs belum keburu selesai MBA-nya di Stanford…
Tapi jangan disimpulkan ITB “lebih bermutu” dari MIT ya…soalnya itu berbahaaayyaaaaa….
hahahahaha….
Yalie // June 18, 2008 at 3:42 pm
Rekan-rekan,
Ada info sedikit :
Saya pikir relatif banyak sekarang anak-anak dari Asia yang bersekolah di Ivy League University di US. Ada yang dengan biaya sendiri tapi banyak pula yang mendapat fasilitas beasiswa.
Yang saya tahu dari Indonesia paling tidak ada beberapa orang yang telah selesai sekolah di Yale.
- 4 undergraduate (dari Jakarta dan Semarang), 1 orang Indonesia kelahiran New York
- 2 orang staff Kementrian LH di SFES, Yale University
- 1 orang ahli lighting, school of drama, Yale
- 2 orang bekerja di issue mengenai lingkungan, dulu di SFES Yale
- 1 pegawai BI, IDE, Yale
- 1 asistennya jubir kepresidenan, IDE, Yale
- satu orang rekan saya bahkan jadi staff pengajar di Yale (bahasa)
Semoga bermanfaat.
tridjoko // June 18, 2008 at 5:09 pm
–> Yalie :
Mas Yalie, terima kasih infonya tentang mahasiswa Indonesia di Yale…
Wah…ternyata orang Indonesia pinter-pinter juga ya ?
Steven // June 19, 2008 at 1:55 am
Pak katanya menurut berita terakhir kuliah di Stanford gratis kalo penghasilan keluarganya di bawah $100.000 per tahun..
Terus klo penghasilan keluarganya di bawah $60.000 per thn maka biaya asramanya juga gratis
ini ad infonya: http://www.sfgate.com/cgi-bin/articl…5LHM.DTL&tsp=1
tridjoko // June 19, 2008 at 4:53 am
–> Steven :
Wah..itu berita menarik..
Tapi apa ya semenarik itu ?
Mungkin itu berlaku untuk mahasiswa super pinter dari negara super miskin yang barusan kena bencana alam : gunung meletus, tsunami, dan sebagainya…baru saya bisa percaya..
Ingat, orang bule itu punya motto “there is no free lunch”…dan itu pasti berlaku untuk Stanford juga..
Tapi coba aja. Who knows ?
Leave a Comment