Lembu Sekilan

Pada awal-awal tahun 1970-an mungkin sangat sulit menemukan anak muda di kota masa kecil saya Madiun, yang belum membaca cerita bersambung (cerbung) SH Mintardja yang berjudul “Nagasasra dan Sabukinten”..

Cerbung itu bercerita tentang hilangnya sepasang senjata “sipat kandel” (the most prestigious weapon that supranaturally can empower the owner) Kerajaan Demak berupa keris. “Nagasasra” adalah sebuah keris dengan luk berjumlah sembilan yang menggambarkan sebuah naga dan terbuat dari emas. Sedangkan “Sabukinten” adalah keris dengan luk lurus dan bertatahkan berlian yang menjadi pasangan abadi dari “Nagasasra”..

Konon dicurinya kedua keris tersebut dari Gedung Benda Pusaka Kerajaan Demak dilakukan dengan cara “menyirep” terlebih dahulu, dan seorang perwira sandi Demak yang bernama Rangga Tohjaya sempat terkena sirep hebat itu tapi ia masih bisa melihat sekelebatan seseorang yang mencuri keris tersebut dengan baju abu-abu dan muka ditutup topeng…

Sejak itu, konon Rangga Tohjaya ditugasi Kerajaan Demak untuk memburu kedua keris tersebut agar dapat dikembalikan ke Demak, dan tahap pertama dalam perburuannya Rangga Tohjaya mengubah namanya menjadi Mahesa Jenar agar tidak dapat dikenali…

Dan bagi anak-anak muda seumuran saya pada waktu itu, paling menarik adalah aji-aji atau kemampuan apa saja yang dipunyai oleh Mahesa Jenar yang sakti itu (tapi belum terlalu sakti karena masih banyak orang yang kesaktiannya seangkatan gurunya yaitu Ki Ageng Pengging Sepuh).

Bagi saya pribadi, yang menarik adalah aji-aji Mahesa Jenar yang bernama Sasrabirawa yang bisa memecah batu dan tanggul. Di samping itu adalah Lembu Sekilan yang konon tubuh tidak bisa ditusuk dengan benda setajam apapun karena tubuh seolah-olah dilingkupi oleh semacam gelembung yang berjarak 20 cm (menurut istilah Jawa jarak 20 cm disebut “sak kilan” atau “sekilan”)..

Dengan anak-anak muda teman saya sedusun, kelihatannya kami sudah mendapat sedikit-sedikit aji Sasrabirawa karena kami sudah mulai bisa memecahkan satu dua batu bata “curian” yang sering dibawa ke rumah saya di waktu malam (“curian” karena pada waktu itu kita tidak bisa membeli 1-2 bata saja di toko bahan bangunan). Tentu saja untuk melakukannya kami banyak latihan fisik dan membentuk semacam “dojo” di depan kamar saya. Di sana kami memasak sansak (papan untuk latihan pemukulan), karung pasir yang digantungkan di pohon mangga, meja sit up, dan sebagainya.

Anehnya, saya dan teman-teman sebelum tidur selalu melakukan “sambung” alias perkelahian bela diri tapi tidak terlalu serius. Misalnya yang satu sedang menendang, maka yang satu menangkis, demikian seterusnya. Kamipun melakukannya agak sungguhan, tapi kalau ada yang kena, maka ketawalah kami semua…

Sampai pada suatu hari, kami diberitahu kalau kami akan memburu aji Lembu Sekilan…

Wah, berita yang menarik. Maka kamipun menyiapkan diri secara fisik dan mental untuk mendapatkan ajian itu. Betapa asyiknya bagi kami anak muda seusia kami bila ditusuk orang akan bunyi “tung..” karena tidak bisa kena ke badan kami..

Akhirnya pada suatu malam purnama mati, kamipun sebanyak 10 orang bersepeda ke arah barat dari kota Madiun. Setelah bersepeda sekitar 4 km kamipun menemukan sungai buatan yang digunakan untuk mengairi sawah-sawah yang ada di sekitarnya. Kamipun masuk menyusuri sungai itu ke arah selatan kira-kira sekitar 1 km. Dari sungai yang cukup lebar itu kamipun masuk pematang sawah selebar 1 meter yang di sampingnya ada saluran irigasi lebarnya sekitar 1,5 meter dan sedalam 70 cm. Kamipun memarkir sepeda di pematang irigasi yang cukup lebar itu, dan menurut perintah kami diharuskan telanjang bulat.

Maka kamipun mencopot semua baju yang ada di tubuh, dan setelah telanjang bulat di malam yang sunyi itu, kamipun berendam di sungai dengan posisi kaki dilipat seperti bersila, tangan dilipat ke depan, dagu ditarik dan dalamnya air di sungai kecil ini tepat berada di bibir kami alias kami terbenam dalam posisi duduk bersila sedalam bibir kami.

Kamipun bersila dengan jarak 2 meter dengan orang di depan dan di belakang kami. Kami dianjurkan berdiam diri dan tidak boleh berkomunikasi sampai dinyatakan selesai. Apapun yang terjadi kami tidak boleh berkata apa-apa…

Sepuluh menit kami berendam di malam yang gelap itu tidak terjadi apa-apa. Tiga puluh menit kami berendam lewatlah tiga orang pencari katak yang agak keheranan dan mungkin setengah takut melihat selusin orang bertelanjang bulat di sungai. Empat puluh menit kami berendam, lewatlah dua orang desa naik sepeda yang mungkin juga heran akan apa yang kami lakukan…kami terus berdiam diri dan tidak berkata-kata…

Sejampun berlalu. Banyak sekali ikan kecil yang notol-notol (menggigit-gigit) di tubuh kami. Kepiting kecilpun tahan lama berdiam di wudel (pusar) kami. Teman si kepiting yang juga kepitingpun menggerus pasir di bawah lubang penglepasan kami. Tapi yang paling tidak tahan adalah beberapa lele kuning alias “the yellow submarine” yang dari tadi sengaja menempel ke bibir kami. Apapun bendanya dan bagaimanapun baunya, kami dilarang bicara….

Dua jam kami berendam, si pemimpinpun bilang “Yak, selesai. Silahkan pakai baju kembali”..

Kelihatannya ia agak kecewa karena Lembu Sekilan belum mampir kepadanya dan kepada kami semua di malam yang sunyi itu. Dia bilang, “Lain kali kita mencoba di sendang yang lebih sepi dan lebih sunyi daripada di sini”…

Sayapun merasa tidak mendapat apa-apa, apalagi aji sakti yang bernama Lembu Sekilan tersebut. Tapi satu hal yang pasti, saya bisa berkonsentrasi tentang apapun dengan lebih baik dan hal itu sudah cukup bagi saya untuk menjalani hidup dan kehidupan ini…

Ya di jaman pembangunan belum sepesat sekarang ini, lampu listrik belum masuk desa-desa, dan stasiun televisi baru satu yaitu TVRI dan belum semua orang mempunyai teve, ternyata banyak hal yang bisa kita lakukan pada waktu itu dan tidak pada masa sekarang…

Lembu Sekilan..oh Lembu Sekilan…dimana engkau ?

 

28 Comments (+add yours?)

  1. Adhiguna
    May 31, 2008 @ 21:17:43

    Seru sekali ya kayaknya hidup di zaman dulu. Kalau anak muda sekarang sih paling taunya nongkrong di Mall dan kafe, kalau nggak clubbing.

    Reply

  2. tridjoko
    Jun 01, 2008 @ 00:33:40

    –> Adhiguna :

    Hallo Mas Adhi, iya emang orang di jaman dulu masih mengejar nilai-nilai tradisional..

    Anak jaman sekarang ? Membaca “Nagasasra dan Sabukinten”pun nggak, padahal di rumah saya onggokkan buku itu di atas tv di kamar tidur saya…

    Kalau nggak baca bukunya, mana dia tahu akan aji-aji “Lembu Sekilan”, “Rog Rog Asem”, “Pacar Wutah”, “Gelap Ngampar”, dan “Sasrabirawa” ?

    Anehnya, justru persenjataan Amerika jaman sekarang ini yang mirip dengan cerita “Nagasasra dan Sabukinten” itu…

    Nggak percaya ?

    “Sasrabirawa” = guided bomb
    “Pacar wutah” = cluster bomb
    “Lembu sekilan” = AWACS, Aegis system
    “Gelap Ngampar” = Napalm bomb
    “Rog Rog Asem” = smart bomb

    Hehehe…tapi itu cuman gothak gathuk mathuk lho…

    (pattern matching aja…hahahaha…)

    Reply

  3. edratna
    Jun 01, 2008 @ 08:24:21

    Terus ilmu udah dicoba belum? Hahaha…kok ya ada yang percaya, gitu lho….kalau mau dapatkan ilmu itu kan harus berpuasa, dan ceritanya bisa berbulan, atau bertahun-tahun….Lha iya, pasti sakti, lha puasa bertahun-tahun…pasti jadi kuat, yang jelas kuat nggak makan.

    Reply

  4. tridjoko
    Jun 01, 2008 @ 08:36:56

    –> Bu Edratna :

    Yang jelas belum pernah ada orang yang menusuk pakai senjata tajam ke tubuh saya sejak itu, kecuali penodong pemula yang menodong saya pas di perut di terminal Cililitan tahun 1982 yang lalu..

    Yang jelas kalau dicubit sama isteri masih sakit sih…hahahaha….

    Bisa dibayangkan dalam euforia para pembaca “Nagasasra dan Sabukinten” sampai-sampai pembacanya rela bertelanjang malam-malam dan kungkum di sungai yang dingin ditemani ikan-ikan kecil, kepiting-kepiting kecil, dan juga lele kuning, hanya demi menggapai impian dapat setetes aji-aji yang dimiliki oleh para tokoh yang ada di buku tersebut seperti Mahesa Jenar…

    Tentu dalam hal ini “Nagasasra dan Sabukinten” lebih hebat daripada “Laskar Pelangi” dan “Ayat-ayat Cinta” soalnya belum pernah saya dengar ada sekelompok anak murid SD yang ingin diajar langsung sama Ibu Muslimah, atau belum pernah saya dengar ada mahasiswa Indonesia di luar negeri yang rela (baca : “berani”) berpoligami demi mengikuti “Ayat-ayat Cinta”…

    Tapi ada untungnya kok, yang jelas dalam memburu cita-cita termasuk bersekolah, kita menjadi tidak mudah menyerah dan tetap terus berusaha..

    Reply

  5. tutinonka
    Jun 03, 2008 @ 00:54:46

    Waktu kungkum di sungai ketemu Roro Wilis nggak Pak? He he he …
    Akhirnya Mahesa Jenar dan gadis pujaannya itu nikah nggak sih? Terus, Pasingsingan ketangkep nggak? Jubahnya sudah jadi merah biru kayak jubah superman ‘kali ya …

    Reply

  6. tridjoko
    Jun 03, 2008 @ 04:44:15

    –> Bu Tutinonka :

    Waktu kungkum…bukan Rara Wilis yang ngintip, tapi malahan diintip sama Lawa Ijo dan Pasingsingan…..hehehe…

    Mau segera bangkit dari kungkum, jebul bajunya masih di pematang. Daripada bertempur tanpa baju, ya biarlah mereka ngintip…hahaha…

    Cerita Pasingsingan Tua, Pasingsingan yang Dikhianati (topeng dan jubahnya ditukar sama cewek cantik), dan Pasingsingan yang mendapat gelarnya secara tidak benar, menarik lho bu…

    Saya yakin Superman akan malu berada di dekat Yogya, soalnya celana dalamnya di luar. Pasti nanti dipoyoki…hihihihi…

    Spiderman-pun kalau di Malioboro pasti tangannya nggak lengket lagi, soalnya kalau lengket…mana bisa dia belanja ?

    Wah..ada-ada saja…

    Reply

  7. tutinonka
    Jun 03, 2008 @ 21:29:14

    Saya sudah ‘lupa-lupa-agak ingat’ dengan cerita itu, wong dulu bacanya masih TK (eh, nggak ding …. mosok anak TK bacaannya Nogososro, yaa … kelas 1 SD lah). Bacanya juga nggak semua, dari sekitar 25 jilid bukunya. Kalau nggak salah buku itu dulu diterbitkan oleh Kedaulatan Rakyat Yogya. Beberapa waktu yang lalu saya lihat terbitan barunya di Gramedia, menjadi satu buku tebal dan hardcover yang bagus. Menarik juga untuk dibeli dan baca lagi.

    Ceritanya memang asyik banget. Mahesa Jenar itu kalau sudah pasang kuda-kuda untuk mengeluarkan aji sasrabirawa, semua lawan langsung keder ketakutan. Posisi kuda-kudanya : satu kaki diangkat dengan posisi lutut menekuk, tangan kiri menyilang di depan dada, dan tangan kanan diangkat tinggi-tinggi (betul gitu ya, Pak Tri?)
    Nogososro dan Sabukinten pernah juga dibuat menjadi sandiwara radio di RRI NUsantara II Yogya.

    Ngomong-ngomong, waktu Pak Tri kungkum, untung nggak ada Prawan Tarub (bukan Joko Tarub) yang mencuri pakaian Pak Tri, ya? Jadinya Pak Tri nggak perlu terpaksa jadi suami Prawan Tarub ….. he he he …

    Reply

  8. tridjoko
    Jun 03, 2008 @ 22:03:34

    –> Bu Tutinonka :

    Iya Bu, waktu Nagasasra terbit saya masih SD. Untung ada tetangga yang koleksi cerbung Nagasasra (jumlah jilid ada 29, bukan 25). Kebetulan tetangga itu adiknya naksir kakak perempuanku. Jadi masalah pinjam meminjam lancar car…

    Persis Bu, posisi matek aji Sasrabirawa adalah kaki kiri sedikit ditekuk ke depan, kaki kanan ditekuk merapat ke dada. Tangan kiri ditekuk merapat dada, posisi telapak tangan rapat, tangan kanan diangkat tinggi-tinggi. Yang belum Bu Tuti ceritakan : konsentrasi penuh pada benda yang akan dipecahkan, semburkan nafas keluar melalui mulut dan tarik kembali cepat melalui hidung serta tahan di dada, salurkan semua kekuatan ke telapak kanan dan ayunkan sekuat tenaga tangan kepada benda yang dituju…

    Kira-kira begitu Bu…

    Ya Bu, waktu saya kungkum dengan teman-teman sudah jam 11.00 malam. Mana ada perawan Tarub masih berkeliaran di tengah sawah di malam selarut itu kecuali Wewe Gombel ? hahahaha….

    Jadi, baju saya lengkap tidak ada yang ngambil, orang yang lagi nyari kodok pada lari ketakutan melihat kita kungkum sambil telanjang bulat…hahaha…

    Nagasasra yang disiarkan/dibacakan di RRI Yogya dalam bentuk cerita ketoprak lengkap dengan …tok..tok..tok..tok..tok…nya sering juga kami dengarkan di Madiun lho !

    Tapi cerita favorit saya dari RRI Yogya adalah kisah Pangeran Puger dan Amangkurat III dan adanya hukum kisos….kelihatannya sangat real sekali pada waktu saya kecil dulu…(maklum waktu itu kami sekeluarga punyanya radio Philips listrik, dan belum punya TV. Punya TV waktu saya sudah sekolah di IPB dan di rumah tinggal Bapak dan Ibu doang…)…

    Reply

  9. simbah
    Jun 14, 2008 @ 14:52:28

    Wah…jadi ingat lagi sama Api di Bukit Menoreh sekalian nih…sayang sekarang tidak ada lagi cerita bersambung macam itu ya…cerita2 sakral itu sudah berlalu rupanya…
    Saya juga pernah Dik Yon, nglakoni seperti itu, …tapi buat mikat Gadis…he…he…hampir dapat, tapi untung cepat2 sadar…trus saya buang itu ilmu ‘jaran-goyang’ namanya…wah..saya sempat dikerumuni dara-2 jelita tuh…suer….he..he…

    Reply

  10. tridjoko
    Jun 14, 2008 @ 17:40:43

    –> Simbah :

    Wah..bagi mas Didiek rupanya memikat gadis jauh lebih penting daripada “kebal” ….hehehehe…

    Kalau saya masih muda dulu malu sama gadis-gadis, jadinya nggak pengin deket-deket dengan gadis-gadis manis di sekolah atau tetangga di rumah…

    Kalau nggak, ntar anak orang bisa ……. hahahaha…

    Untungnya, setelah menikah anak langsung mbrudul….hehehe…

    Di Jakarta sekarang, banyak lho komunitas yang masih suka dengan buku Nagasasra Sabukinten. Saya punya buku ejaan barunya dan terbitan baru dari Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta. Jumlah bukunya ada 3, dan 1 buku harganya Rp 150.000 jadi 3 buku harganya Rp 450.000. Selain saya, Bu Edratna juga punya koleksi yang sama…

    Sayang buku Api Di Bukit Menoreh, Pelangi di Langit Singasari, Kembang Sore, belum diterbitkan lagi versi barunya. Kalau sudah ada, tentu saya beli bukunya…

    O ya, sorry. Api Di Bukit Menoreh saya barusan cek di Internet buku barunya sudah terbit. Tapi 1 set sebanyak ratusan jilid harganya Rp 2.5 juta !!! Gile beneeeer…mending beli handphone model baru deh…dan Api di Bukit Menorehnya baca yang versi online saja (tapi saya belum nemu alamatnya)…

    Reply

  11. Djoko Prijatno
    Jul 10, 2008 @ 15:50:52

    Mas,saya lebih tua dari sampean. Waktu baca Nogososro Sabuk inten saya sudah mahasiswa di Gadjah Mada. Memang SH Mintardjo itu hueeebat. Api di Bukit Menoreh itu kan sampai ratusan jilid dan waktu tahun 70an akhir sampai 80 an awal saya tinggal di luar negeri, saking ngebetnya tiap bulan saya minta dikirimi buku Api di Bukit Menoreh. Ngomong ngomong soal ajian itu tidak bohong dan memang benar benar ada asal dijalani dan tidak dilanggar pantanganya serta tentu saja dilatih. Bukan lembu sekilan sih, tapi semacam Sosrobirowo dengan tingkatan yang paling elementeeeer saya pernah bisa. he he he. Jadi jangan ada yang nyepelekan kesaktian leluhur kita dulu. Seperti aji pameling itu juga bisa kita pelajari, asal kuat lakunya. Kalau mau cari buku Nogososro atau Api di Bukit Menoreh mungkin bisa di Yogyakarta, itu lho di kios kios buku dekat pasar Beringharjo.

    Reply

  12. tridjoko
    Jul 15, 2008 @ 17:35:53

    –> Mas Djoko Prijatno :

    Ya mas, bener apa yang mas Djoko sampaikan, aji-aji seperti Sosrobirowo itu banyak yang sudah mendapatkannya di antara orang-orang Indonesia walaupun belum sampai tingkatan yang bisa memecah beton sebuah tanggul atau waduk….Beberapa ajian lain juga bisa didapat asal kuat lelakunya (puasa dan menjauhi pantangan). Bener semua itu mas…

    Saya sudah punya 1 set buku Nagasasra yang harganya per buku kalau nggak salah Rp 150 rb, jadi 3 buku (1 set sebanyak 29 jilid Nagasasra) harganya sekitar RP 450 rb. Saya belinya kalau nggak salah di Gramedia Pondok Indah Mall…

    Kalau Api di Bukit Menoreh saya pernah nanya, tapi harganya konon 1 set lengkap (293 jilid) adalah Rp 2,5 juta !!! Mending saya beli sepeda POLYGON serie XTRADA yang keren, masih susuk pula mas !!!

    Saya lebih suka seri SH Mintarja yang nggak terlalu panjang seperti Pelangi di Langit Singosari (?). Kalau ada bukunya dan harganya cukup pantas, saya akan beli lho mas !

    Reply

  13. Djoko Prijatno
    Jul 19, 2008 @ 16:37:11

    Mas Tridjoko,

    Api di Bukit Menoreh memang terlalu panjang dan pada beberapa episode agak mboseni, namun demikian ada episode episode yang sangat menarik dan saya masih ingat serta seperti merasakan sendiri/ terlibat didalamnya bila mengingatnya, seperti perang tanding antara Kakang Panji yang ingin mengembalikan kejayaan Majapahit dengan Kyai Gringsing ( gurunya Agung Sedayu dan Swandaru Geni ). Konon Ki Juru Mertanipun yang nota bene saudara seperguruan Mas Karebet tidak akan sanggup melayani kurdonya Kakang Panji. Juga menarik adalah perang tanding antara Mas Karebet melawan Sultan Trenggono, ketika Mas Karebet masuk ke keputren dan konangan Sultan Trenggono. Wah kalau ngomong ngomong soal gini memang gayeng mas, itu lho termasuk cerita soal Patih Mentahun ( gurunya Aryo Penangsang ) walaupun sakit bengek tapi punya nyawa rangkap tiga, sehingga untuk mengalahkanya harus dikeroyok oleh Ki Gede Pemanahan ( pendiri dinasti Mataram ), Ki juru Mertani ( sang ahli strategi ) dan Ki Penjawi ( yang kemudian memperoleh hadiah tanah Pati dari Sultan Hadiwidjojo ). He he he kapan kapan disambung lagi cerita cerita yang walaupun banyak kembanganya tapi cukup menarik untuk di uri uri bagi anak cucu kita.

    Salam,

    Reply

  14. Karyo Al-Matroed
    Sep 25, 2008 @ 08:08:28

    Pengen ngerti alamat2 ebook cerita jawa koyo Candi Murca, Ramayana, Mahabaratha, Api di Bukit Menoreh, dan masih banyak lagi ra? nek pengen ngerti, email aku & setelah kukasih alamatnya bilang trima kasih 3 kali & ojo lali aku didoakan ya biar rejekiku akeh dan barokah, oce ra ?

    Reply

  15. Karyo Al-Matroed
    Sep 25, 2008 @ 08:09:36

    Pengen ngerti alamat2 ebook cerita jawa koyo Candi Murca, Ramayana, Mahabaratha, Api di Bukit Menoreh, dan masih banyak lagi ra? nek pengen ngerti, email aku & setelah kukasih alamatnya bilang trima kasih 3 kali & ojo lali aku didoakan ya biar rejekiku akeh dan barokah, oce ra ? karyoririkaryo@yahoo.com

    Reply

  16. Karyo Al-Matroed
    Sep 25, 2008 @ 08:10:37

    Ojo ngapusi didoake tenan lho, Sumpah !!!

    Reply

  17. angger
    Oct 30, 2008 @ 05:09:25

    yen ada yg punya ebook api di bukit menoreh sh mintarja.. tolong kirimin yaa…

    Reply

  18. tridjoko
    Oct 31, 2008 @ 09:59:25

    –> Angger :

    Kayaknya kalau “Api di Bukit Menoreh” lebih sulit nyari e-book-nya, tapi kalau “Nagasasra & Sabukinten” saya kira copy-nya di internet sudah banyak…

    Di suatu tempat di pasar tradisional Jakarta, saya kemarin ditawari buku asli “Api di Bukit Menoreh” sebanyak 396 jilid seharga Rp 1 juta…

    Doakan semoga saya punya uang sebanyak itu, biar nanti “Api di Bukit Menoreh” bisa dibuat e-booknya (tentu saja kalau Penerbit Kedaulatan Rakyat sebagai pemegang hak cipta setuju. Kalau tidak setuju, ya tidak jadi lho…)…

    Reply

  19. Rurud
    Dec 25, 2008 @ 18:06:49

    Kalo pengen baca Api di Bukit Menoreh silahkan klik di adbmcadangan.wordpress.com. Kalo nogososro sabukinten di gajahsora.com

    Mas Rurud,
    Makasih infonya…tentu akan sangat berguna bagi orang-orang yang “haus” baca Api di Bukit Menoreh atau Nagasasra (yang belakangan ini saya sudah beli copynya waktu ke Yogya…cetakan baru dan ejaan baru)…

    Reply

  20. hobimaengitar
    Feb 24, 2009 @ 11:58:16

    ha ha ha….ajian-ajian spt. itu kurang bisa dibuktikan keberadaannya apakah memang dulu betul-betul pernah ada atau hanya sekedar rekayasa para pujangga saja sbg bumbu cerita agar lebih terkesan menarik dan lebih bisa menggambarkan keperkasaan seorang tokoh yang sedang diceritakan, kalau menurut saya setiap bangsa punya stylenya sendiri-sendiri dalam menggambarkan keperkasaan tokoh fiktifnya: misalnya superman, spiderman, hulk dll. (style barat), lalu kesaktian mahesa jenar, joko tingkir, patih gajah mada, dll. (style bangsa melayu).

    Hallo,
    Wah…anda sebagai orang berlatar belakang Matematika memang dikit-dikit “harus dibuktikan”….dengan proof ala theorem mathematics… Tapi coba anda belajar di Harvard atau Wisconsin dan anda ngambil kelas matematik ! Mungkin anda bisa mabok soal midterm atau final isinya proof melulu….

    Jadi jangan semuanya dipandang dari segi matematika….ada fenomena-fenomena yang “beyond the realm” of mathematics…

    Kalau anda belajar cybernetics, atau metaphysics maka akan ada fenomena-fenomena alam yang tidak bisa diterangkan dengan “logic” biasa seperti halnya mathematics…

    Saya bisa membuktikan bahwa ajian Sasra Birawa ex Mahesa Jenar itu sudah dikuasai oleh anak2 Betako Merpati Putih. Skalanya, hebatnya, sudah hampir sama. Cuman ilmu itu tidak di-explore lebih lanjut karena functionality sudah tidak ada, dan kita hidup di jaman hedonis seperti sekarang…

    Seperti juga Induction dalam Mathematics, kalau Sasra Birawa bisa dibuktikan bukan hanya “bluffing” pengarang saja, tapi it is real. Maka itu bisa diambil sebagai titik tolak (base case) pembuktian kita (n=0). Lha nanti kalau ajian yang lain seperti Rog-Rog Asem juga bisa dibuktikan maka itu sudah ke induction step (n=k). Tinggal satu step lagi (n=k+1), maka semua ajian yang disebut di buku SH Mintardja itu semua tidak bluffing dan bisa dipelajari oleh orang jaman sekarang sekalipun. Lain dengan Superman, Spiderman dsb yang karangan orang (fiksi), tapi Nagasasra & Sabukinten itu cerita roman sejarah dan SH Mintardja konon pernah kerja di dalem keraton Ngayogyakarta, jadi dia tahu bahwa ajian2 itu sekarang masih ada…

    Yang jelas di Sekaten-an tahun 1975an, saya pernah menyaksikan pertandingan silat di halaman alun-alun Yogyakarta dan banyak sekali aliran olah kanuragan yang bertanding dan sisa-sisa kejayaan Jawa masa lalu itu masih ada…

    Ibaratnya, kalau saya sendiri (benar nih !) harus menewaskan seekor kerbau di depan saya, kalau saya diberi waktu…Insya Allah saya bisa melakukannya dengan tangan kosong. Itulah ajian Sasra Birawa !!!

    Reply

  21. MEDDY
    Jun 07, 2009 @ 01:02:42

    ajian lembu sakilan emang sudah ada di jaman majapahit bapak gw juga punya ajian itu tapi sayangnya tidak diwariskan kaenak2nya jadi gw gak bisa!!

    Mas Meddy,
    So pasti mulai adanya ajian-ajian seperti itu mulai ada di jaman Majapahit, karena tanpa itu bagaimana Majapahit bisa besar ?
    Kalau anda baca buku Nagasasra & Sabukinten atau Api Di Bukit Menoreh, Kyai Pengging Sepuh adalah anaknya Prabu Brawijaya V dari Majapahit….Kyai Pengging Sepuh itu gurunya Mahesa Jenar…

    Reply

  22. Arya Salaka
    Jun 23, 2009 @ 05:56:34

    mas Tri, ada nggak tokoh kita (para calon petinggi republik, para wakil rakyat, pemimpin bagsa lainnya) yang andap asor, lembah manah dan meng”hayu-hayuning bawana” laksana Mahesa Jenar….

    Bukan seperti Umbaran, Lowo Ijo, Bugel Kaliki,

    Arya,
    Ya…mestinya ada, mosok nggak ada ?
    Tapi dia itu siapa….tanyalah pada rumput yang bergoyang……;-)

    Reply

  23. nurrahman18
    May 08, 2010 @ 21:41:41

    sbg anak muda jaman sekarang, saya juga pernah sedikit membaca nagasasra, tapi baru sampe episode 5 :D

    Reply

  24. mashery
    Dec 05, 2010 @ 20:18:38

    Saya sangat suka Nagasasra dan Sabuk Inten. Saya baca itu sudah lebih dari 35 tahun yl tapi saya hapal apa isi tiap jilid (ada 29 jilid). Bagi yang ingin mengenang kisah itu ada yang berbaik hati meng-uload. Alamatnya
    http://www.topmdi.net/shmintardja/nagasasra_01.html

    Mas Herry,
    Terima kasih infonya…

    Reply

  25. lare ndheso
    Mar 23, 2012 @ 03:23:15

    salam rahayu

    kalo inget cerbung nagasasra sabuk inten jd inget masa kecil yg penuh dengan sentuhan alam yang selalu hidup selaras dengan alam…memahyu wahyuning buwono …dan tentunya soal aji2 an di dalam cerbung tersebut memang benar adanya…di desa2 di daerah jawa tengah dan jawa timur masih banyak sesepuh2 kita yg menguasi sebagian ilmu tersebut hanya saja sudah tidak terekspos lg karena “wes ora njamani,wes kalah karo handphone lan facebook le..” ngendikanipun mbah KIRNO yg masih tinggal di daerah magetan Jawa timur,ketika saya sowan teng ndaleminpun .kangen dah lama ndak sowan(2011 yg lalu)..dan beliau masih mampu untuk melakukan olah kanuragan tersebut…

    Reply

  26. sumrahadi
    Jun 02, 2012 @ 17:11:30

    Saya juga kepingin belajar lembu sekilan tuh.Ada yg bs ngajari gak?

    Sumra,
    Bisa…cari kali yang tenang dan coba kungkum di situ malam-malam…hehe

    Reply

  27. Arya Salaka
    Jun 07, 2012 @ 07:15:10

    saya berarti satu dari sangat sedikit remaja sekarang yang baca nagasasra dan sabuk inten yah? huehehehe
    mas tridjoko, kalo napalm bomb itu kayaknya bukan gelap ngampar tapi alas kobar deeh. kalo gelap ngampar itu ECM mas, electronic countermeasures.. CMIIW hehehehe

    salam, dari Arya Salaka, pacarnya endang widuri. huahahahaha

    Arya,
    Hahahaha….Arya Salaka pacarnya Endang Widuri….bisa nggak ya keduanya dilukis pakai gaya “Manga”…

    Reply

  28. Fandy Scorpy
    Nov 07, 2012 @ 02:01:01

    Mantap kisah hidupnya,jadi hilang stress saya pisaya jadi keq orang gila abis ketawa mulu siap membaca cerita pak lek….!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 308 other followers

%d bloggers like this: