Yee…gambar pertama di Blogku
28 Jun 2008 5 Comments
Awalnya saya malas upload gambar di Blogku ini. Alasannya, cepet ngabisin jatah space WordPress yang emang udah cupet dari sononya. Inipun mau upload gambar pertama, si WordPress sudah barking, “Ati-ati lo, space sisa lo tinggal 3 GB. Kalau abis, lo mesti bayar !”..
Wah ! Belum upload gambar aja udah ditakut-takutin !
Ini ada 2 gambar, silahkan tebak : siapa saja yang ada di Gambar itu, lokasi Gambar itu, dan tahun berapa Gambar itu dibuat..
Kalau banyak pembaca yang bener, ntar deh..aku pasang gambar-gambar lain lagi..
Gambar 1. Tebak siapa saja, lokasi, dan tahun dibuat
Gambar 2. Tebak siapa saja, lokasi mana, dan tahun berapa gambar dibuat
Sudah ya…
Vocalist Cewek Suara Terindah 70an dan 80an
28 Jun 2008 3 Comments
Ini pilihan saya untuk Daftar Vocalist Cewek Amerika Terbaik di Era tahun 1970an dan 1980an.. : 1. Karen Carpenters 2. Barbra Streisand 3. Maureen McGovern dan 4. Joan Baez…
Ini hanya pendapat pribadi, dan khusus Joan Baez memang banyak menyanyikan lagu-lagu berbau politik..tapi blog ini bukan blog politik jadi nikmati saja nyanyiannya dan abaikan politiknya. Ok ?
Anda bisa mengeceknya di You Tube, bila ada waktu…
Selamat menikmati !
Karen Carpenters “Close to You” : http://www.youtube.com/watch?v=oaOyoVS-IAI
Karen Carpenters “We’ve Only Just Begun” : http://www.youtube.com/watch?v=__VQX2Xn7tI&feature=related
Barbra Streisand “The Way We Were” :
http://www.youtube.com/watch?v=n-KPGh3wysw&feature=related
Barbra Streisand “Superman” :
http://www.youtube.com/watch?v=JibJh5NnDLY
Maureen McGovern “The Morning After” : http://www.youtube.com/watch?v=xogfPVs-Mwc&feature=related
Maureen McGovern “We May Never Love Like This Again : http://www.youtube.com/watch?v=GONAt1zOu9Q&feature=related
Joan Baez “Bangladesh” :
http://www.youtube.com/watch?v=ZlvhOQJy–4
Joan Baez “House of the Rising Sun” :
http://www.youtube.com/watch?v=gDwK-Zir8ls
“Aline” oleh Christophe
28 Jun 2008 9 Comments
Percaya atau tidak, lagu “Aline” oleh Christophe inilah yang dulu di tahun 1968 diperlombakan untuk dinyanyikan pada acara 17 Agustusan 1968 di depan SMP 4 Madiun di sebelah selatan Stadion Madiun…
Satu per satu penyanyi naik ke atas panggung untuk menyanyikan lagu “Aline” yang menyentuh hati, dinyanyikan dalam bahasa Perancis yang saya tidak tahu artinya itu..
Coba deh, klik You Tube berikut, pasti anda akan tahu apa yang saya maksudkan : http://www.youtube.com/watch?v=LtlgR6AI5CY
Coba nyanyikan di rumah, pelajari arti bahasa Perancisnya, dan pahami dengan benar.
Yang jelas bagi saya lagu itu bagus…ndak peduli apa artinya..
Mas Adhiguna di Paris, mungkin bisa menolong saya menerjemahkan lagu itu sekilas ke dalam bahasa Indonesia. Apakah “Aline” itu nama cewek, atau cerita tentang makhluk luar ruang angkasa alias “Alien” ? Atau cerita tentang dikejar-kejar Imigrasi karena dimasukkan ke dalam daftar “illegal Alien” ?
Di acara 17 Agustusan berikutnya yaitu di tahun 1969, di halaman kantor Walikota Madiun bahkan ada parade band-band rock, yang salah satunya adalah band “Chechicks” yang menyanyikan lagu “Whole Lotta Love” dari Led Zeppelin…Tidak sesempurna seperti kalau yang menyanyikan Robert Plant memang, tapi versi yang dinyanyikan Jenny Pautzner berikut juga not bad lho : http://www.youtube.com/watch?v=sh6W2y3SEoM
Lho, acara 17 Agustusan kok nyanyi lagu Londo. Hopo tumon ?
Tapi kalau memang nggak aneh menyanyikan lagu Londo di acara 17 Agustusan 2008 ini, RT saya nanti akan mengadakan perlombaan nyanyi pasangan muda mudi disuruh nyanyi “Anyone Else But You” yang merupakan OST (Official Song Theme) dari film “Juno” itu..Coba deh klik di You Tube berikut untuk melihat lagu asli dan musik aslinya : http://www.youtube.com/watch?v=s8wmH3fWDTs Atau klik berikut untuk melihat lagu tersebut dinyanyikan di depan rumah oleh sepasang muda-mudi : http://www.youtube.com/watch?v=WM4FTcTQ2sE&feature=related
Ok ? Selamat latihan nyanyi ya ?
Daftar Harga Raket Badminton
25 Jun 2008 475 Comments
Sumber : http://fath102.wordpress.com/2008/01/07/raket-yonex-asli-dan-palsu/
Sekarang ini musim liburan sekolah dan musim panas. Pasti lapangan badminton dekat rumah anda sudah dicat dan dirapikan untuk menyambut liburan dan menyambut 17 Agustusan 2008 nanti. Ajaklah pasangan anda, putra-putri anda, bapak-ibu anda, saudara-saudara anda, dan tetangga-tetangga anda semua untuk bermain badminton !
Berikut daftar harga raket badminton Yonex asli yang saya ambil dari sumbere mase di atas. Untuk mudahnya, sudah saya urutkan dari harga termurah Rp 260.000,- sampai yang termahal sekitar Rp 1.550.000,-. Harga ini adalah harga tanpa senar. Harga senar Yonex sekitar Rp 60.000- – Rp 75.000,- berikut masangnya..
Isometric 65 Light : 260 rb
Isometric 65 LT : 265 rb
MusclePower 22 : 265 rb
MusclePower 8 : 270 rb
MusclePower 23 : 285 rb
MusclePower 25 : 300 rb
MusclePower 27 : 325 rb
MusclePower 9 : 345 rb
Carbonex 8 : 360 rb
MusclePower 28 : 365 rb
Carbonex 9SP : 375 rb
MusclePower 29 : 390 rb
Carbonex 10 : 425 rb
MusclePower 33 : 535 rb
Carbonex 21 : 620 rb
Carbonex 25 : 630 rb
MusclePower 45 : 750 rb
NanoSpeed 5000 : 780 rb
NanoSpeed 6000 : 880 rb
NanoSpeed 7000 : 1.255 rb
MusclePower 100 : 1.290 rb
Armotech 700 : 1.350 rb
Armotech 800 : 1.350 rb
MusclePower 99 : 1.350 rb
NanoSpeed 7700 : 1.380 rb
NanoSpeed 8000 : 1.400 rb
Armotech 900 : 1.550 rb
NanoSpeed 9000 : 1.550 rb
Selain Yonex, tentunya banyak raket badminton yang juga bagus untuk pemain yang sudah bisa. Anda bisa beli raket ASTECH (singkatan dari Alan Budikusuma-Susi Susanti Technology) dengan harga kisaran antara Rp 300.000 – Rp 500.000 berikut tas dan kaos badminton. Begitu juga merk RS (Reinforced Speed) dengan harga kisaran sama, antara Rp 300.000 – Rp 500.000. Kedua jenis raket ini banyak dipakai tetangga saya di rumah..
Bagi adik-adik yang belum bisa, di GIANT, MACRO atau HYPERMART bahkan INDOMARET dan ALFAMARET banyak dijual raket dengan kisaran harga Rp 20.000 – Rp 70.000..
Di Gramedia atau Gunung Agung di banyak kota juga dijual raket-raket badminton merk Dunlop, Carlton, Head, Bard dan sebagainya dengan kisaran harga Rp 50.000 – Rp 250.000. Ini barangkali untuk remaja yang sudah mulai bisa dan pengin enak mainnya, namun belum menjadi pemain tetap yang membela RT. Kalau menjadi pemain tetap membela RT, disarankan beli raket dengan kisaran harga Rp 300.000 – Rp 500.000 berikut senar seperti yang saya sebutkan di atas. Maaf, mungkin ini RT di kota besar macam Jakarta, Medan, Surabaya, Bandung, dan sebagainya..
Tapi apapun raket badminton yang anda beli, yang penting mari bermain olahraga satu-satunya kebanggaan Indonesia ini !!!
Sekali lagi, terima kasih kepada mase yang telah menulis posting di blog di atas…
Sekali merdeka tetap merdeka…
eh..salah ding…
Sekali main badminton, selama hidup main badminton !
Nah gitu kan..
Ting !
23 Jun 2008 8 Comments
Ketika seorang kawan yang juga dosen PTS di Medan bernama Ronsen Purba pertama datang ke kota kecil kami Bloomington untuk ngambil Master bidang Ilmu Komputer, pada suatu hari ia kuajak berbelanja sprei, selimut, dan beberapa perlengkapan “rumah tangga” asrama lainnya di College Mall naik bis kampus yang dulu di IPB disebut “bis roti” karena bentuknya seperti roti itu, tiba-tiba Ronsen nanya :
“Pak Tri, kek mana turun di pemberhentian nanti kalau naik bis macam ini ?”, tanyanya dalam logat Medan yang kental..
“Ya tinggal di-ting aja !”, jawabku sekenanya dengan logat Madiun yang tak kalah kental..
“Ah macam mana pula di-ting itu pak ?”, tanyanya lagi..
“Itu lho. “Ting” itu kan bunyi bel. Nah, situ tinggal tarik itu kabel yang kayak tali jemuran dari depan sampai belakang bis ini sampai nanti berbunyi “ting”, gitu !”, jelas saya kali ini dengan suara agak keras sampai-sampai cowok dan cewek bule yang duduk di depan kami nengok ke belakang soalnya mereka mikir ada pertengkaran apa pula ini..
Ronsenpun lalu tertawa. Iapun bilang, ”ting” itu kan bunyi bel, dus itu kata benda (maaf ahli bahasa, kalau saya salah !). Ditambah awalan ”di”, sehingga kata benda tadi berubah menjadi kata kerja. Ronsenpun tak habis pikir, ditandai dengan digaruknya kepalanya yang berambut kribo mirip Giring Nidji itu…padahal kepalanya jelas tak gatal…
Hari lainnya saya jalan ke kampus Indiana University at Bloomington dengan Yus, dosen sebuah PTN di Pontianak itu. Seperti halnya Ronsen Purba tadi, Yus juga baru menjadi mahasiswa Master mulai Fall semester ini. Ceritanya Yus ingin mengembalikan buku perpustakaan Main Library karena di-recall oleh seseorang (catatan : di Indiana, seseorang boleh minjam buku sesukanya selama 1 semester selama tidak diperlukan, atau di-recall, oleh orang lainnya). Nah, due datenya sebenarnya hari Jumat kemarin. Tapi sekarang sudah lewat satu hari dan Yus-pun sangat gelisah karena takut ditegur sama pihak perpustakaan..
Sambil jalan menyusuri kampus di musim gugur yang membuat daun-daun menguning tidak rata dan membuat pemandangan jadi indah di salah satu kampus terindah di Amerika ini, sayapun bilang sama Yus :
“Ya sudah, bukunya tinggal di-gludug-kan saja nanti”, kata saya enteng dengan logat Madiun yang kental..
“Apa pak maksudnya di-gludug-kan itu ?”, tanya Yus lagi.
“Ya itu, nanti di samping perpustakaan kan ada lubang untuk meluncurkan buku yang terbuat dari metal. Kita bisa mengembalikan buku perpustakaan hanya dengan melemparkan buku ke lubang itu”, kata saya menjelaskan sambil mengingat betapa bahayanya lubang itu kalau dipakai di perpustakaan Indonesia, pasti lubang akan dipenuhi air hujan bilamana hujan tiba yang akan membuat buku-bukunya basah..
Diapun mungkin heran, “gludug” kan suara buku yang diluncurkan ke suatu lubang. Jika ditambah awalan “di” dan akhiran “kan”, maka “gludug” yang kata benda itu akan berubah menjadi kata kerja..
Kami berduapun sudah sampai di Main Library Indiana University yang sebesar gedung Sarinah Thamrin dan merupakan perpustakaan ke-18 terbanyak koleksi bukunya itu. Konon buku “Nagasasra dan Sabukinten” karangan S.H. Mintarja juga dikoleksi sama perpustakaan ini..
[Teman saya Yus ini sering bertengkar dengan orang bule, gara-garanya kalau ia ditanya "What is your name ?", dia selalu menjawab "Y- U - S" yang kalau dibahasainggriskan seolah menjadi "Why You Ask" atau "Kenapa kamu nanya" ini. Bisa dibayangkan kalau orang bule tadi mengulang pertanyaannya dan Yus kembali menjawabnya dengan cara yang sama, pasti deh tensi si bule bakal meninggi...]..
Anda masih ingat kata “fax” dan “xerox” ? Yang pertama adalah nama mesin pengirim naskah melalui sambungan telpon, sedangkan yang kedua merupakan mesin pengganda naskah. Orang-orang bulepun suka mengucapkan kalimat seperti ini :
“Ok no problem. I will fax it to you as soon as possible”
atau
“Ok wait a minute. Let’s me xerox it for you”
Artinya, jika saya yang orang Jawa Madiun ini tanpa sengaja menggandengkan awalan “di” dan akhiran “kan” dengan sebuah kata benda “bunyi” sehingga kata benda tadi menjadi kata kerja, maka orang-orang bule mungkin tanpa sengaja pula sering memakai kata benda seperti fax atau xerox seolah-olah itu kata kerja..
Tidak apa-apa, yang penting yang diajak bicara “mudheng”…
* mudheng = mengerti
Sandyakalaningkomputerku
21 Jun 2008 7 Comments
Membeli komputer brand name, seperti komputer desktop Compaq Presario 5121AP, yang saya beli di tahun 2001 yang lalu di MetroData sungguh suatu keberuntungan buatku. Tidak hanya dapat diskon berupa Monitor Compaq MV740 sebesar 17 inch tapi seharga 14 inch, tetapi juga jaminan after sales service yang baik..
Komputer itu “dibelikan” oleh teman-teman Inovasi Teknologi, waktu saya bergabung dengan mereka. “Dibelikan” karena honor saya sebagai peneliti saya minta dalam bentuk komputer desktop, yang saya taruh di rumah.
Tujuh tahun penuh komputer itu telah berjasa, tidak hanya bagi saya, tetapi juga bagi isteri dan anak-anak saya. Waktu saya beli, anak sulungku baru saja masuk Fakultas Hukum Undip sedang anak bungsuku masih kelas 2 SMA. Sekarang, anak sulungku sudah selesai kuliah dan bahkan sudah kerja sejak 2 tahun yang lalu serta anak bungsuku Insya Allah minggu depanpun sudah lulus ujian sarjana di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB..
Komputer desktopku itu di rumah biasanya nyala 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan jarang sekali saya matikan kecuali listrik PLN memang sedang mati. Alasan saya, komputer yang sering dimatihidupkan akan pendek usianya dibandingkan dengan yang dipanjerterushidupnya..
Sejak 2 minggu lalu komputer dekstopku saya gunakan untuk menulis laporan bahasa Inggris Technology Needs Assessment – Transportation Sector setebal kira-kira 35 halaman. Banyak chart yang saya harus buat di Excel, yang full warna. Ternyata pas enak-enaknya menggambar beberapa chart, jebul….prepet…prepet…monitorku mulai padam warna merahnya !!
Oh my Gawd ! Apa nggak tahu saya lagi sibuk dikejar deadline nih ? Yang jelas dikejar temenku, soalnya laporan itu sebenarnya kolaborasi antar beberapa teman di lingkungan R&D dan universitas/institute di Indonesia. Rencananya, selepas dari meja saya, laporan itu akan diputar ke beberapa teman lainnya untuk perbaikan..
Terpaksa saya bekerja hanya dengan warna Green-Blue saja, soalnya Red-nya di monitor saya lagi habis. Celakanya, komputer desktop saya yang satunya “jeroannya” diborong ke Bandung oleh anak bungsu saya karena motherboard komputernya di Bandung terbakar. Sedang laptop satu-satunya yang kami punya juga dibawa ke Bandung oleh anak bungsuku yang nulis TA..
Isteriku sudah usul, “Ya sudah, beli LCD Monitor aja”. Saya langsung lihat di www.bhinneka.com ternyata harga LCD 17 inch yang paling murah adalah merk Acer yang harganya sekitar USD 185. Ya sudah, ini lagi tanggal tua sehingga kamipun terpaksa merogoh “cadangan devisa” agar dapat membeli monitor yang baru untuk mengganti monitor tabung 17 inch yang saya punya dan sekarang rusak warnanya itu..
O ya, menurut patokan sekarang, komputer desktop Compaq Presario 5121AP saya itu termasuk kategori “komputer nenek-nenek” karena Processornya hanya Pentium III 900 MHz. Menurut ukuran umur manusia, mungkin komputer desktop saya ini sudah berumur sekitar 70 tahunan…
Tapi yang menolong adalah, konon Compaq mempunyai desain bus khusus di dalam motherboard-nya sehingga kecepatannya jauh melebihi komputer jangkrik dengan kecepatan 2 GHz sekalipun..
Entah itu mitos, atau realitas, saya nggak tahu..
Yang jelas, Senin nanti saya akan hunting LCD Monitor…
Ordeal
21 Jun 2008 3 Comments
Arti “ordeal” sebenarnya adalah “penderitaan” atau “masa penderitaan”. Biasanya dialami oleh seseorang yang sedang berjuang untuk meraih sesuatu, misalnya kalau mahasiswa ya berjuang untuk lulus suatu mata kuliah. Atau lebih sulit “ordeal”-nya justru untuk mahasiswa yang sedang menulis skripsi. Menulis skripsi bagaikan hamil 9 bulan, tapi anaknya tidak keluar-keluar…
Ordeal itu artinya juga “penderitaan panjang”. Jadi juga bisa dialami oleh pegawai swasta atau pegawai lembaga pemerintah yang belum diangkat-angkat. Jadi masih tetap pegawai tidak tetap atau pegawai honorer…terussss. Kalau di pemerintah daerah, juga disebut “Honda” alias Honorarium Daerah..
Waktu saya pernah menjadi Ketua BP3 suatu SMA negeri pendamping unggulan di sekitar Tamini Square, ada seorang guru honorer Matematika yang muda, cerdas, berdedikasi, sulit soal yang dibuatnya, pokoknya kualitas “topp bgt” punya. Eh, ternyata, beliau masih honorer dan belum diangkat jadi pegawai negeri. Dalam hati saya ingin menolong, tapi apa daya tangan tak sampai..
Ordeal juga dekat dengan kalangan mahasiswa. Jika dosen anda killer bin kill-me atau mata kuliah yang killer (Algoritma & Pemrograman, Struktur Data, Programming Languages – khusus di Indiana U.), maka siap-siap anda mengalami penderitaan panjang alias ordeal ini. Dari satu assignment ke assignment lainnya bagaikan mendaki bukit. Midtest sama Final exam sudah seperti mendaki Himalaya. Professor berdehem sudah membuat jantung copot…
“I want to take the monkey off my back”, adalah kata-kata yang dikeluarkan oleh seorang mahasiswa, yang menandakan dia lagi mengalami “derita panjang” seperti sebuah lagunya “Ada Band” itu.. dan artinya bukan dia lagi nggendong monyet..
“When it’s over, it’s over”, adalah nasehat mahasiswa lainnya kepada mahasiswa yang sedang mengalami ordeal itu. “Ayo…kerja keras, semangat ! Kalau sudah selesai, ya selesai”, kata si cheerleader itu. “Kick your butt ! Break your legs !”, katanya lagi mengingatkan agar kita tetap bekerja keras…dan bukan menendangi pantat sendiri ataupun mematahkan kaki kita…
Ordeal juga dialami oleh mahasiswa yang sedang menulis Skripsi S1, Thesis S2, atau Disertasi S3 (maaf, istilah-istilah ini adalah “standar IPB”). Nulis skripsi rasanya jauh dari selesai, walaupun dikerubut oleh 2 atau 3 orang (kasus Binus). Nulis Thesis S2 juga nggak selesai-selesai, makanya bekas boss saya Pak Wardiman Djojonegoro yang biasa kerja keras dan semangat itu selalu membombong kita dengan kata-kata “Ayo di-bulldog !”, serta “Seterikalah jika seterikaannya lagi panas !” (Iron while it’s hot)…alias, tulis terus Skripsimu atau Thesismu atau Disertasimu mumpung “mood” selagi ada. Kalau “mood” mati, lha mbok komputer dipelototin 24 jam sehari, yang ada cuman main game, chatting, YM-an, atau lebih jelek lagi…melihat yang seharusnya nggak boleh dilihat !! ..
Anak bungsuku sudah melewati masa ordeal ini. Dan alhamdulillah, jadwal sidang Tugas Akhir di ITB sudah keluar dan ia akan sidang nanti hari Selasa tanggal 24 Juni 2008 jam 12.00 siang. Mudah-mudahan ia tenang dan bisa menjawab semua pertanyaan di sidang dengan baik. Maklum, sudah setahun ini ia ngendon di lab sehingga sudah mirip “kutu lab” daripada manusia…eh, maksudku, mahasiswa !
“Shut up your mouth and pray ! When it’s over…it’s over”, kata si cheerleader..
Ya emang, ordeal itu manusiawi..
Apakah anda pernah mengalami sejenis “penderitaan” ini ? Apa penderitaannya dan bagaimana cara mengatasinya ?
Cerita di sini, boleh kok…
Distraction
17 Jun 2008 41 Comments
Menjadi dosen di jaman teknologi canggih seperti sekarang ini, sungguh tidak mudah…
Handphone sudah bukan barang mewah lagi, sehingga semua mahasiswa memilikinya tanpa kecuali. Bahkan beberapa mahasiswa mempunyai beberapa HP sekaligus, biasanya HP GSM dan HP CDMA. Jika mahasiswa tidak menggunakan HP-nya di kelas, tentu bukan masalah. Jika mahasiswa yang menggunakan HP-nya menggunakannya tanpa berbunyi, baik bunyi menerima SMS ataupun menerima telpon, tentu bukan masalah. Tapi jika mahasiswa menerima telpon dengan suara nyaring, sayapun siap-siap nyeletuk :
“Wah, ada cowok panggilan di kelas saya. Sebentar tante, saya masih kuliah nih. Ntar deh ketemu di Mal Taman Anggrek”, saya biasanya menyeletuk begitu, dan biasanya mahasiswa yang lainnya terbahak-bahak menertawakan si penerima telpon (yang biasanya cowok)..
Dan sayapun menambahkan, “Lumayan, untuk bayar kuliah. Hari gini…”. Dan mahasiswapun tambah keras ketawanya…
Saya mengajar Teknik Informatika baik di Binus ataupun di Paramadina. Rupanya dua PTS ini adalah PTS papan atas di Jakarta, dari segi kelas ekonomi mahasiswanya. Di Binus saya pernah mengajar satu kelas yang 50% mahasiswanya membawa laptop, dan tetap menatap laptop walaupun saya memberikan kuliah dengan berbusa-busa di depan kelas. Celakanya, Binus sudah diliputi oleh WiFi dimana-mana, termasuk di kelas. Maka bisa dibayangkan semua mahasiswa tadi memelototi laptop masing-masing tanpa memperhatikan apa yang saya ajarkan. Hanya seorang mahasiswa yang duduk paling depan yang memperhatikan saya karena dia tidak bawa laptop. Dalam hati saya berpikir, dialah satu-satunya di kelas ini yang bakal dapat nilai A dari saya…
Begitu juga di Paramadina. Malahan sekitar 70% mahasiswa membawa laptop. Idem ditto dengan di Binus tadi, mata mahasiswa tidak bisa melepaskan diri dari layar laptopnya, dan seolah saya yang berdiri di depan kelas ini bagaikan tidak ada !
Jika saya punya kiat khusus untuk menghadapi mahasiswa yang menggunakan HP-nya di dalam kelas. Tapi saya belum punya kiat khusus untuk menghadapi mahasiswa yang membawa laptop dan membuka laptopnya di dalam kelas.
Dalam hati, saya berdoa semoga di Glodok segera dijual sebuah alat yang bisa mengacak atau menge-jam sinyal HP dan sinyal WiFi sehingga mahasiswa saya di kelas tidak bisa menggunakan dua gadget itu..
Dan agar saya bisa mengajar lagi dengan tenang…
Saya bukan anti kemajuan teknologi, tapi saya anti manusia yang tidak menggunakan teknologi tepat pada tempatnya…
Bagaimana pengalaman Bapak/Ibu dosen lainnya menghadapi masalah pelik seperti ini ?
Atau pendapat mahasiswa lainnya ?
T.G.I.F.
16 Jun 2008 3 Comments
(Prolog : ini juga tulisan saya yang sempat “terselip” oleh WordPress. Untung bisa ketemu lagi..)..
Membaca posting ini, saya yakin 100% anda sudah tahu maksudnya apa itu T.G.I.F.
Ya, T.G.I.F adalah singkatan dari “Thanks God It’s Friday”. Atau “Terima Kasih Tuhan, hari ini sudah hari Jumat”..
Mengapa harus berterima kasih kepada Tuhan kalau sudah hari Jumat ? Konon, di negara-negara maju macam di Amerika Serikat, hari gajian adalah hari Jumat. Itu berlaku untuk hampir semua pekerjaan, dari penjaga toko sepatu, pegawai perpustakaan, sampai Professor di universitas. Alias, kalau di Indonesia hari gajian adalah tanggal 1 di setiap awal bulan, maka di Amerika Serikat dalam sebulan gajian sebanyak 4 kali yaitu di setiap hari Jumat…
Saking senengnya orang-orang pada menerima gaji di hari Jumat, maka banyak pula Kafe atau Bar yang diberi nama T.G.I.F. Tentu saja “warung bule” (WarBul) semacam ini bakalan penuh sesak di setiap hari Jumat malam karena orang ingin kongkow-kongkow, bersenang-senang, bersosialisasi, ketawa-ketiwi di hari Jumat yang kantongnya sedang tebal-tebalnya itu. Tidak masalah jika di hari Sabtu paginya duwitnya habis semua…hahaha…
Entah doa apa yang saya baca tiap hari, tapi beberapa minggu terakhir ini “rejeki” selalu mampir di kantong saya di setiap hari Jumat. Ya, di setiap hari Jumat dan bukan hari-hari lainnya, seolah-olah si pemberi rejeki tahu apa maksud T.G.I.F. …
Beberapa minggu lalu, saya menerima honor penelitian di hari Jumat, hari Jumat berikutnya menerima honor sebagai pembicara si suatu Workshop IT. Jumat berikutnya saya menerima biaya perjalanan dinas ke kawasan Indonesia Timur, yang tentu saja bisa disisihkan beberapa…
Dan Jumat tadi pagi sebelum berangkat ke kantor, saya terpaksa sarapan Pop Mie karena tadi malam lupa membeli roti. Ternyata di cup Pop Mie yang saya makan ada kuponnya. Ketika saya garuk kuponnya ternyata dapat hadiah pulsa telpon senilai Rp 10.000. Lumayan. Anak sayapun menggunakan kupon itu untuk mengisi pulsa StarOne-nya…
Oh Jumat, semoga setiap hari Jumat ada rezeki tersisa untukku…
Dan tentunya, untuk anda juga !
Makassar yang (mestinya) indah
16 Jun 2008 10 Comments
(Prolog : Setelah dicari-cari, tulisan saya tentang Makassar rupanya belum terhapus sama WordPress, saya temukan di dalam kategori drafts. Selamat menikmati).
Saya sangat senang sekali mendapat tawaran seorang teman kantor saya unruk mengunjungi Makassar di akhir bulan Mei 2008 lalu, mengingat sebelumnya saya sudah pernah 4 kali ke Ujung Pandang (pada waktu itu) yaitu di tahun 1982, 1984, 1995 dan terakhir 1999. Tapi saya tidak ingat lagi kapan Makassar menjadi Ujung Pandang, dan akhirnya Ujung Pandang menjadi Makassar kembali. Yang jelas, saya sangat senang karena kunjungan terakhir ke Makassar sebelumnya pada tahun 1999 tidak terlampau sukses…
Akhirnya pada hari Selasa tanggal 27 Mei 2008 pagi saya bangun jam 3.30 langsung mandi, walau semalaman saya tidak berani tidur nyenyak karena takut kesiangan dan ketinggalan pesawat. Akhirnya pada pukul 4.00 saya sudah mengendarai mobil Camry-un saya menembus dinginnya jalan tol dalam kota Jakarta. Bila biasanya jarak Rumah-Stasiun Gambir bisa saya tempuh dalam waktu sekitar 30 menit, pada pagi itu saya tidak berani memacu mobil kencang-kencang karena rasa kantuk masih menghinggapi. Sayapun sampai Stasiun Gambir pukul 4.49 dan langsung memarkirkan mobil di tempat parkir inap. Sempat ke toilet sebentar dan sayapun ketinggalan bis jam 5.00 ke Bandara Sukarno-Hatta. Baru pukul 5.20 bis Damri berikutnya membawa saya ke Bandara…
Sampai Bandara pukul 6.00 namun karena di pagi itu lalu lintas di jalur bis sudah semrawut dengan taksi yang berseliweran kesana-kemari, akhirnya sayapun sampai di Terminal E sudah pukul 6.15. Saya dan teman-temanpun check in di counter Garuda. Rupanya dari ujung ke ujung, tidak ada counter yang bertuliskan Makassar !!! Saya tidak mengeluh, hal seperti ini sudah biasa untuk Garuda. Naik Garuda ke luar negeripun membuat kita bingung karena lambang Garuda seringkali tidak nampak !
Waktu untuk flight ke Makassar masih pukul 07.10. Dua teman yang suka merokokpun melihat peluang sekitar 30 menit untuk sekedar merokok dan ngopi di sebuah kafe dekat gerbang F2. Untung Garuda selalu on time, maka pada pukul 06.55 para penumpang sudah diminta boarding. Tidak ada belalai gajah di gerbang F2 dan kamipun dibawa dengan bis bandara ke pesawat yang akan membawa kami ke Makassar..
Singkat cerita, pesawat sudah mulai distarter mesinnya dengan GSE (Ground Support Equipment) sambil para pramugari memperagakan tatacara keselamatan sesuai peraturan FAR (Federal Aviation Regulation). Bagi kami berempat yang duduk di sekitar pintu darurat (di Malaysia dan Singapura disebut “pintu kecemasan”) sengaja di-drill oleh seorang pramugari bagaimana membuka pintu darurat bila diperlukan…
Pesawat Boeing 737-400pun membawa kami selama 2 jam mengarungi udara menuju Makassar. Pramugari Garuda cukup ramah-ramah, menawari kami permen, dan menyajikan makanan Omelet yang nikmat, orange juice yang dingin, tapi sayang tidak diakhiri dengan menawari kami dengan kopi atau teh. Rupanya itu special order dan diberikan hanya kepada yang minta saja.
Seorang bule laki-laki berbadan besar dan berwajah mirip suami Demi Moore yaitu Ashton Kutcher dari tadi gelisah melulu duduk di kursi kelas ekonomi Garuda yang memang sempit. Akhirnya waktu mau merogoh sesuatu tiba-tiba “Gedrobraaaak…” kursipun letoy ke belakang dan menghancurkan gelas berisi orange juice yang mau diminum oleh penumpang di belakangnya di barisan pintu darurat. Seorang purser (komandan pramugara/i)pun datang. Saya bilang kepadanya, “Mas, daripada Garuda di sue sama orang ini, beri saja dia kursi di kelas bisnis !”. “Wah, pak pesawat ini penuh sekali semua tempat duduk penuh sesak”. Rupanya kepergian kami ke Makassar tanggal 27-29 Mei 2008 memang bertepatan dengan Rakernas III PDI Perjuangan di Hotel Clarion Makassar, maka tidak heran lebih dari separuh tempat duduk diisi oleh orang-orang berbaju merah berlambang moncong putih, dengan logat mereka masing-masing : ada yang berlogat Batak, Padang, Sunda, Betawi, Jawa dan Bali..
Kamipun mendarat tepat pukul 10.15 di Bandara (Sultan) Hasanuddin Maros. Saya sengaja kurung kata “Sultan” karena memang resminya nama bandara ini cuman Hasanuddin, padahal di masa lalu seingat saya nama resminya adalah “Sultan Hasanuddin”. Bandara yang di tahun 1999 masih sempit ternyata sekarang runway-nya sudah diperpanjang menjadi 3.100 meter sehingga layak didarati oleh pesawat sekelas Boeing 747, dan bandarapun saya dengar sudah berkategori “Bandara Internasional” walau konon katanya tidak ada satupun penerbangan yang menuju ke luar negeri dari bandara ini. Ironis kan ?
Kami berempatpun ambil taksi menuju kota Makassar yang berjarak sekitar 22 km dari bandara. Jalan yang dipilih sopir taksi adalah “jalan tol” yang kira-kira selebar tol Cipularang, namun baru selesai kira-kira 50% nya saja. Baru di KM 4 jalanan tol sudah mulus terdiri dari 6 lajur..
Kamipun berhenti di jalan yang menyusur pantai Losari di ujung sebelah utaranya persis satu blok di sebelah utara MGH (Makassar Golden Hotel). Wah..jalan di tepi pelabuhan begini kalau di Chicago pasti sudah diberi nama “Losari Beach Drive”. Kamipun menginap di Hotel Pantai Gapura Makassar yang dari depan sepintas seperti sebuah losmen murahan, tetapi ternyata di dalamnya benar-benar berupa resort kelas atas yang kamar-kamarnya berbentuk cottage yang terletak persis di atas laut !!! Wow..benar-benar menakjubkan !!! Semboyan hotel ini “Truly Resort Within the City” sungguh cocok dengan harga sewa kamar yang sekitar Rp 850 ribu nett ini..(dengan kartu kredit ada diskon sehingga jatuhnya sekitar Rp 695 ribu per malam)…
Dari kami berempat, tiga orang mendapat kamar yang berpandangan langsung ke arah laut (ocean view), sedangkan saya sendiri mendapat kamar dengan pandangan ke arah kolam renang (pool view).
Tanpa diminta oleh siapapun, siang itu kami berjalan kaki menyusuri Jalan Somba Opu yang terkenal itu dari sisi paling utara menuju sisi paling selatan. Somba Opu masih menyimpan sejumlah toko souvenir yang pantas dikunjungi. Jika anda menaksir sesuatu, sebaiknya menanyakannya ke beberapa toko terlebih dahulu, membandingkan kualitas barang dan harganya, baru memutuskan membeli barang paling berkualitas dengan harga termurah. Souvenir seperti kain sutera, kerajinan khas Toraja, miniatur badik, dan gantungan kunci banyak bertebaran di Somba Opu..
Sayang trotoar Somba Opu tidak serata di Malioboro, sehingga kita mesti berhati-hati berjalan kalau tidak bisa terpeleset karena banyaknya permukaan trotoar yang tidak rata. Selain itu, banyak jalan masuk motor masuk ke pertokoan dan menjorok sampai aspal jalan. Jika di tahun 1982 mobil dan motor di Ujung Pandang jarang sekali membunyikan klakson, kelihatannya di tahun 2008 ini kebiasaan itu berubah 180 derajat, dan bila anda berjalan-jalan di Somba Opu atau di Pantai Losari, bersiap-siaplah untuk dikagetkan klakson sepeda motor atau mobil yang melintas dan menyuruh anda minggir. Oh my Gawd !
Perjalanan di Somba Opu ujung selatanpun sudah sampai ke Rumah Sakit Stella Marris. Kamipun belok kiri dan dua blok kemudian di sebelah kiri jalan di pojokan, kami menemukan tempat makan ikan yang konon paling nikmat dan paling segar ikannya di Makassar, Lae Lae ! Kamipun memesan seekor ikan ukuran 6-7 ons untuk setiap orang. Kebetulan semua orang memilih ikan baronang, walaupun di sini juga disediakan ikan cuwek, kakap merah, kembung, udang, dan juga cumi.
Setelah menunggu barang 15 menit sambil ditemani otak-otak yang juga excellent rasanya, maka ikan bakar pesanan kamipun datang. Kamipun makan dengan lahap sampai-sampai saya dan seorang teman minta nasi tambahan ! Dan itu ternyata jebakan yang kami buat sendiri, soalnya setelah itu perut ini rasanya amat sangat kenyang sekali. O ya, kami memilih minuman khas Lae Lae yaitu es kelapa muda dengan gula jawa ! Waktu kami makan siang itu, banyak kader PDIP dengan baju merah menyala atau hitam yang juga makan siang di Lae Lae. Dari wajah mereka saya bisa mengenali mereka datang dari seluruh penjuru tanah air..
Puas makan di Lae Lae, kamipun mencegat taksi yang lewat untuk mencari sutera di bilangan Kota Lama. Rumah bercat putih dengan arsitektur sederhana itu kami masuki, ternyata sudah ada 1 bus turis berhenti di depannya. Dan ternyata pula, jajaran kain sutera di dalam toko yang merangkap bengkel tenun tersebut sudah habis diborong sama turis yang datang ke Makassar dalam bulan-bulan belakangan ini. Mengingat banyak konperensi, rakernas, maupun seminar atau workshop yang mengambil tempat di Makassar..
Puas belanja sutera, kamipun naik taksi balik ke Hotel. Sambil berjanji siang itu kami akan melihat sunset di Pantai Losari sambil menikmati pisang goreng. Ternyata dari 4 orang, 3 orang dari kami tertidur pulas siang itu mengingat malam sebelumnya kurang tidur. Baru bangun sekitar pukul 7 malam. Setelah mandi, seorang teman yang asli Toraja mengajak kami makan Sop Konro di bilangan Karebosi. Konon yang paling enak Sop Konro ada di suatu jalan yang di sebelahnya dulu ada Bioskop Dewi. Benar saja, kami sampai ke sana naik taksi ternyata parkiran mobil sudah penuh. Di dalampun hampir tidak ada tempat duduk yang kosong. Kamipun sempat bingung mau makan Sop Konro rebus atau panggang. Saya memilih rebus, karena besok malamnya saya mau ke sini lagi milih yang panggang. Hehehe…
Lepas makan Sop Konro, saya sempat minta bantuan untuk dicarikan toko yang menjual kaos dalam pria. Maklum di Jakarta belum sempat beli. Dan anehnya, di sejumlah toko di Pantai Losari yang dijual hanya baju dalam wanita, sementara baju dalam pria tidak ada. Bila di Jakarta banyak toko sekelas Indomaret yang menjualnya, di Makassar tidak ada satupun Indomaret atau Alfamaret. Kawan tadi menyarankan kita mencarinya di Mall Karebosi. Ternyata di Mall yang mirip ITC itu benar ada yang menjual kaos dalam pria. Sayapun lega. Di sini rupanya jadi sentra penjualan HP di Makassar.
Selepas dari Mall Karebosi, kami cowok semua berempat berniat akan jalan kaki menuju hotel. “Ah, dekat saja”, kata teman yang berasal dari Toraja. Rupanya Makassar malam itu hujan deras ! Sederas ketika pesawat kami mendarat di Bandara (Sultan) Hasanuddin siang tadi. Kamipun berteduh di toko di depan Lapangan Karebosi yang sedang dibangun dan dipenuhi beton-beton. Kantor Kodam VII dan gedung penjara rupanya sudah tidak ada di samping Lapangan Karebosi, dan digantikan dengan jejeran Ruko-Ruko. Hujan tidak berhenti dan kamipun memutuskan memanggil taksi. Dengan ongkos Rp 10.000 kamipun sudah bisa sampai kembali ke Hotel Pantai Gapura Makassar..
Sesampai di hotel, kamipun menuju Bar ruang terbuka yang terletak di atas laut ! Pemandangan sungguh indah ! Bar yang dibangun dari jajaran kayu besi ini berdiri kokoh. Dan kamipun melewatkan malam itu dari jam 9 malam sampai jam 11.30 malam sambil menikmati hidangan pisang goreng berkeju. Dua kopi hitampun habis saya minum malam itu. Sekali lagi, beberapa tempat duduk dikuasai oleh peserta Rakernas PDIP yang berbaju merah. Walaupun tempat itu relatif temaram, tapi warna merah baju mereka masih kelihatan..
Malam itu saya tidur nyenyak dibuai dengan bunyi debur ombak karena kamar saya berbentuk cottage yang didirikan persis di atas laut. Walaupun kamar saya tidak persis terletak di pinggir laut, tapi debur ombak tetap berbunyi cukup keras, ibarat simfoni musik yang mendayu-dayu mengantarkanku tidur..
Bangun pagi langsung mandi, sayapun makan pagi di restoran yang berbentuk kapal pinisi dengan ukuran 100% atau malahan 200%. Wah, sungguh nikmat ! Makan pagi berupa nasi rames, minum susu dan orange juice sambil melihat kapal-kapal yang hilir mudik. Maklum, restoran pinisi ini hanya berjalan puluhan meter dari dermaga penumpang untuk kapal-kapal kecil yang melayani penduduk pulau-pulau kecil sekitar Makassar..
Siang sedikit, kamipun menyarter Avanza untuk mengantarkan ke kantor Gubernur. Setelah workshop yang cukup sukses, kamipun kembali ke hotel. Sorenya kami diajak mengunjungi sebuah waterfront city yang disebut Tanjung Bunga, yang terletak di sebelah selatan Pantai Losari yang pada tahun 1982 masih berupa hutan bakau..
Xenia Li Hitam baru milik seorang teman dari I.A.L.F. Makassar yang joknya masih dibungkus plastikpun mengantarkan kami berempat ke Pakarena, saya tidak tahu apa arti bahasa Makassarnya. Tapi bunyinya mirip “Park Arena” ya ? Di sana sudah dibangun sebuah waterfront resort dengan dermaga yang menjorok ke laut. Hanya sayang, pasir yang ada di pantai buatan ini kurang begitu lebar. Mungkin lebarnya hanya 20-an meter. Coba kalau dibuat 50-an meter dan pasirnya putih. Wah..tentu lebih indah. Kamipun melewatkan sisa siang itu melihat sunset di Pantai Losari dari sisi Tanjung Bunga. Dan mataharipun tenggelam menyambut malam, dengan warnanya yang jingga pelan berubah menjadi hitam pekat…
Kamipun ber-Xenia menuju ke sentra penjualan Pisang Epek di Makassar yang sore itu tidak terlalu ramai, maklum memang bukan pas malam minggu. Sayapun pesan pisang epek (banana split) satu porsi yang berisi tiga. Sambil pesan minuman sejenis bajigur tapi rasa agak pedas karena diberi jahe yang bernama…apa ya, lupa…Baranga atau Batanga ya ? Wah, perutpun langsung melembung kekenyangan. Oleh si Ibu yang membawa Xenia kamipun diantar ke Hotel, dan kamipun mengucapkan Good Bye..terima kasih Bu, sudah mau mengantar…
Malam terakhir di Makassar tentu tidak kami sia-siakan. Setelah beristirahat sejenak di Hotel, dan mandi, kamipun langsung ke Somba Opu lagi mensurvei oleh-oleh apa saja yang mau dibeli keesokan harinya. Kamipun menandai beberapa toko : di sini bagus gantungan kuncinya, di sana bagus badiknya, dan di ujung sana bagus kain suteranya. Setelah itu kamipun berjalan ke selatan lagi menuju…mana lagi kalau bukan Lae Lae ?
Malam itu Lae Lae begitu penuh, kamipun dapat tempat duduk dekat pembakaran ikan, sehingga rasanya panas sekali. Kami datang sekitar jam 8.30 malam. Hampir tidak ada kursi kosong sama sekali di restoran dengan 200+ pengunjung ini. Ruaaar biassaaa.. Ternyata tepat jam 9 malam orang-orang sudah selesai makan malam, dan separuh tempat duduk sudah kosong. Tahu gitu, kami datang jam 9 malam ! Tapi anyway, ikan bakar Lae Lae emang tidak ada duanya, terutama 3 macam sambelnya itu lho : sambel tomat, sambel cabe, dan sambel terasi..
Malam itu saya tidur nyenyak di kamar hotel saya. Sekali lagi bunyi deburan ombak mengantarkan saya lebih nyenyak tidur, ibarat simfoni “Eine Kleine Nacht Muzik” dari Mozart (atau Bethoven ya, kok lupa saya ?)..
Bangun pagi, makan di hotel sambil melihat anak-anak SMA dari pulau di luar kota Makassar bersekolah. Rasanya lucu, dibanding di kota saya dulu yang pergi sekolah naik sepeda…
Siang dikit, sayapun menyasar ke Somba Opu lagi. Langsung menuju toko-toko souvenir yang tadi malam sudah ditaksir. Sayapun beli sekitar 50 gantungan kunci buat teman-teman di kantor. Ada yang bergambar rumah tongkonan Toraja, bergambar pelaut Bugis, bergambar ikan bertuliskan “Makassar”, dan juga bergambar miniatur badik. Tidak lupa saya membeli miniatur badik untuk saya sendiri, dan 2 miniatur badik lagi yang lebih kecil untuk masing-masing calon mantu saya nanti (kalau mereka mau menerima lho !)..
Tepat jam 15.45 pesawat Garudapun membawa kami kembali ke Jakarta..
Selamat tinggal Makassar !
Dalam waktu dekat saya pasti ke sana lagi, buat makan ikan bakar !!!
Hahahaha…
(bersambung)


Recent Comments