Mercon besar !!

Seberapa besar rumah orangtua saya dulu di Madiun ? Dapatkah anda mengira-ngira besarnya ruang dalam (living room) dari rumah saya di Madiun jika saya berikan data besarnya mercon yang pernah disulut oleh bapak saya yang diameternya saja 10 cm dan 15 cm ?

Dapatkah anda mengukur berapa besarnya suara “buuuuuummmm” yang menyertai mercon besar tersebut ? Setara TNT ? Setara Bom Atom Hiroshima ?

Santai dulu…jangan mikir yang nggak-nggak dulu… Waktu saya SD dulu sekitar kelas I sampai III SD saya memang suka menyalakan mercon terutama di waktu bulan puasa. Entah dorongan apa yang membuat saya begitu suka mercon…yang jelas bukan dorongan untuk mengganggu ketenangan orang, tapi semacam dorongan instingtif yang dipunyai oleh segenap anak lelaki terhadap mercon atau senapan angin…yaitu dorongan ingin tahu yang amat sangat, tapi yang jelas bukan dorongan untuk menyakiti sesamanya…

Sewaktu saya kecil dulu (kelas I-III SD), satu-satunya pabrik mercon yang ada di Madiun terletak di desa Munggut di sebelah utara pabrik gula Kanigoro (entah pabrik mercon itu masih ada atau tidak sekarang ini). Gedungnya semacam gudang bercat putih dengan arsitektur Belanda kuno, besarnya sedang dalam arti tidak kecil tapi juga tidak besar. Nah, di dalam rumah inilah dibuat mercon yang nantinya dipasarkan di seluruh kota Madiun. Waktu saya kecil, saya sering mengajak serombongan anak lelaki kecil yang seumuran berjumlah 4 sampai 7 orang untuk mendatangi dan membeli mercon di pabriknya di desa Munggut ini. Harganya cukup miring, kira-kira hanya 70%-nya daripada beli di pusat kota Madiun….

Maka dari kecil saya terbiasa membawa barang 5-10 mercon seukuran ibu jari orang dewasa untuk dinyalakan di rumah. Biasanya saya nyalakan waktu siang atau sore, tapi kebanyakan di waktu malam. Nah, karena bapak yang mendiami seberang rumah saya di depan berprofesi sebagai petani dan kebetulan mempunyai 2 ekor sapi, maka setiap kali saya atau teman2 saya menyalakan mercon, beliau langsung keluar rumah dan dengan suara lembut dan memelas berkata “Ayooo main mercon-nya sudah ya mas, itu sapi-sapi bapak pada takut mendengar suara mercon dan tidak mau makan dan minuh tuh”….

Biasanya setelah “himbauan” bapak tadi, saya dan teman2 langsung melakukan “detente” atau “cease fire” untuk tidak menyalakan mercon…

Tapi harus diakui, walaupun harganya murah tapi mercon buatan Munggut ini bukan kualitas mercon terbaik. Besarnya saja yang “anggegirisi” (nakut-nakutin) tapi bunyinya sebenarnya cuman “buuuummmm” seperti gentong dipukul alu…. masih kalah kerasnya dengan ledakan mercon buatan Kudus atau buatan Cina yang ukurannya kecil yang kita sebut mercon “lombok impling” (cabe rawit) itu… yang bunyinya “daaaarrrrr” yang dalam mitologi China kuno mercon bisa dipakai untuk mengusir makhluk-makhluk jahat (kalau anda sempat ke Singapura, cobalah lihat penyalaan mercon dalam bentuk massif dalam perayaan “Hungry Ghost”)….

Nah, entah kenapa asal muasalnya, mungkin karena merasa “tidak mau kalah” dengan anaknya yang suka membunyikan mercon, baik mercon lombok impling (cabe rawit) buatan Kudus, mercon sebesar ibu jari dibeli dari Pabrik Munggut, atau mercon bantingan buatan sendiri dari serpihan batang korek api, bapak saya pada suatu hari sampai ke rumah naik sepeda dari pusat kota Madiun (kita menyebutnya “kutha” yang mungkin maksudnya setara “downtown”). Wajah beliau berseri-seri sejak sepeda mendekati rumah dan rem sudah dipejet….lalu beliau mengeluarkan barang belanjaan dari tas kertas semen. Satu per satu barang belanjaannya dikeluarkan, ternyata…..mercon sebesar ibu jari, mercon diameter 3 cm, mercon diameter 5 cm, mercon diameter 10 cm, dan bahkan ada mercon yang diameternya 15 cm !!!!!

Siang itu walaupun puasa, tapi mata ini tak bisa dipejamkan untuk sekedar tidur siang. Yang saya nanti cuman satu, ingin tahu sekeras apa ya mercon-mercon yang dibeli bapak tadi, terutama mercon yang paling besar dengan diameter 15 cm ?

O ya, konon bapak saya dulu ikut sebagai tentara pejuang kemerdekaan di sekitar tahun 1945, makanya mendengar bunyi mercon bagi beliau seperti mendengar letusan senapan angin saja…

Akhirnya malampun tiba, setelah buka puasa, shalat maghrib dan menjelang shalat Isya, bapak saya pergi ke tengah rumah tempat “living room” kita, mengikat gorden yang ada di dekat pintu ruang tengah dan meletakkan mercon raksasa itu tepat di tengah ruangan !!!

Mengapa alasan bapak saya menyalakan mercon di dalam rumah juga kurang jelas, mungkin bapak saya sudah memperhatikan bahwa bapak petani yang tinggal di depan rumah (di seberang rumah) bakalan keberatan dengan bunyi mercon dikarenakan sapi-sapi beliau akan ikut terkejut !

Dan korekpun dinyalakan di sumbunya yang panjang….yang menonton saya, kedua kakak perempuan saya, ibu saya, dan mungkin saudara-saudara lain yang ikut tinggal di rumah saya….

Dan…

Sssssshh…ssshhhhh..sshhhhhh…sumbu yang terbakar semakin panjang, dan hasil bakarannya sudah hampir sampai ke tengah sumbu mercon buesssaaar itu…..

Tiba-tiba…jossssssss…shhhhs….joooosssssss….ssssshhhh….

Jebul, MERCONnya MEJEN…alias gagal meledak….dan cuman angin surga saja yang keluar berupa gumpalan asap hitam campur putih keluar dari tengah sumbunya….

BAPAK SAYA TELAH TERTIPU !!!!!

Oleh karena itu, saya, dan mungkin juga anda, masih belum berhasil menghitung rumus hubungan antar besarnya ruangan dengan besarnya diameter mercon !!!

Bapak saya terlihat kecewa, mungkin harga yang beliau bayar untuk “mercon raksasa” itu cukup mahal sekedar untuk menghibur saya dan keluarga. Ternyata yang keluar tidak jauh daripada bunyi kentut dari pantat yang sangat besar….buuuuummmm !

Tapi kami sekeluarga tertawa….menertawakan kesialan bapak saya dan ketakutan yang sempat menyergap jelang detik-detik mercon meledak, padahal kuping ini sudah merah padam warnanya karena dari tadi ditutup tangan dengan keras agar gendang telinga tidak jebol oleh dentuman mercon besar tadi !!!

Aya aya wae !!!

17 Comments (+add yours?)

  1. narpen
    Sep 06, 2008 @ 08:59:35

    YA AMPUUUUNNNN… nyalain mercon di duallem rumah?? ibu tau om?? nonton juga???

    mukegileee…. hahahahaha, parah pisaaan…

    -terheran2-

    Reply

  2. tridjoko
    Sep 06, 2008 @ 19:45:56

    –> Mbak Narpen :

    Seingat saya, ibu anda juga nonton, dari jarak sekitar 5 meter gitu…

    Tentunya telinga ditutup rapat-rapat, mata melotot nanar, dan bibir komat-kamit berdoa, serta jantung berdegup lebih cepat dari mesin jet…

    Untung semua itu berakhir karena merconnya mejen alias gagal nyala….hahahaha….

    Reply

  3. Kunderemp An-Narkaulipsiy
    Sep 06, 2008 @ 20:02:50

    Paman sekarang ketua RT lho….
    Ntar kalau ada anak-anak menyalakan petasan, bukannya menertibkan malah ikut main.. hehehe

    Reply

  4. edratna
    Sep 07, 2008 @ 06:12:04

    Kok aku udah lupa ya…..tapi bapak dulu memang suka bermain seperti anak-anak…..suka menyanyi kenceng-kenceng…..dan anaknya diajari menyanyi zaman Jepang tsb.

    Juga karena rumahnya besar, gemanya sangat kencang…konon saat rumah kemasukan maling yang mau mencuri sepeda…dan bapak teriak…. maliiiing…..gemanya sampai di perumahan dekat stadion…..yang jaraknya sekitar 3 km dari rumah….Dan saking kagetnya, sang maling meninggalkan sepedanya di persawahan (dulu rumah Ngrowo masih dikelilingi sawah dan ladang, rumahnya jarang-jarang).

    Reply

  5. tridjoko
    Sep 07, 2008 @ 06:53:30

    –> Mas Kunderemp :

    Eiiittts…ada orang Florida bicara ? Apa nggak terkena badai Gustav, Hanna, dan Evy mas ? Berita-berita di koran-koran Indonesia serem-serem nih….kesimpulannya, setelah nyerang Cuba pasti badainya nyerang Florida yang berjarak hanya 60 miles !!!

    Tapi untungnya, badai pasti berlalu ya mas….

    Ya nih, saya sebagai Ketua RT udah punya strategi ntar kalau ada anak-anak main mercon lalu nggak bisa dibilangin (nggak bisa dipenging), saya mau beli mercon yang lebih besar daripada punya mereka dan menyalakannya di depan rumah mereka….hahaha…

    Reply

  6. tridjoko
    Sep 07, 2008 @ 06:59:16

    –> Bu Edratna :

    Iya waktu itu sekeluarga lengkap menyaksikan Bapak menyalakan mercon buesssaaarr alias raksasa ! Malahan beberapa saudara yang tinggal di rumah kita juga menyaksikannya !!!

    Iya Bapak dulu suka bersikap seperti anak kecil, saya dibelikan pistol doblis (yang bisa bunyi tar..tar..tar…) waktu bapak pulang dari Jakarta, dibelikan Jaket plastik yang bisa menggembung di punggung. Dibelikan kambing, setiap kali gaji bapak berlebih….hehehehe….terpaksa deh kita kerjaannya angon kambing….

    Bapak dulu bisa nyanyinya bahasa Jawa alias nembang, dan bahasa Jepang (Hinomaru, Waskare), kalau nyanyi bahasa Indonesia malahan saya yang jagoan..hehehe…

    Oh kasihku
    Mengapa menangis
    tersedu
    Kutelah berkata
    padamu

    Terus dimarahi Mas Yo katanya “Hussssy….itu kan nyanyian anak gede !”…

    Reply

  7. woro
    Sep 07, 2008 @ 18:18:56

    masih kalah seru kalau d kampungku mercone pake bambu namanya mercon bumbung, disebul sebul, bar-barane sing nyebul mukanya ireng kabeh..salam kenal mas trijoko, bayangin ekspresi kecewa akibat mecon yang ngambek gak mau njedor dor dor……

    Reply

  8. tridjoko
    Sep 07, 2008 @ 23:28:30

    –> Woro :

    Wah…saya juga pernah lho pakai mercon bumbung, bunyinya memang menggelegar karena diberi larutan karbit yang membuatnya cepat menjadi gas di ruang tertutup. Begitu dinyalakan pakai bambu panjang yang dikasih api, langsung bunyi “jelegeeerrrrrrrr”…nggak kalah bunyinya sama Howitzer 105mm…

    Tapi mercon bumbung hanya seru di luar ruangan. Yang dinyalakan bapak saya adalah mercon besar dan di dalam ruangan…wah benar-benar mencekam persis di dalam film-film trailer atau suspense…untung akhirnya batal meledak…hahahaha….

    Reply

  9. yulism
    Sep 07, 2008 @ 23:50:44

    Kalau di daerah saya dulu dimarahi Pak Polisi Pak Tri karena pake bambu yang bunyinya menggelegar kemana mana. terimakasih

    Reply

  10. tridjoko
    Sep 07, 2008 @ 23:58:02

    –> Mbak Yulis :

    Hahaha…dimarahin polisi ya mbak ? Rasain deh…

    Kalau saya dulu waktu kecil, bagaimana dimarahin pak polisi, lha wong yang pertama mengajak kita main mercon bumbung tuh anaknya pak polisi….hehehe…

    Atau, polisi jaman dahulu lebih bijaksana mengingat jarak antar rumah masih sangat berjauhan ?

    Salam mbak, wah di sana masih siang hari ya mbak. Di sini sudah jelang tengah malam… ;-)

    Reply

  11. Agung
    Sep 09, 2008 @ 20:47:09

    wah,kalo dolo wkt kecil saya maen petasan ama kakek saya pas mlm sblom Imlek.
    itu lho pake petasan cabe rawit disusun ampe 5meter.
    digantung dr teras lt 3,rmh kakek buyut saya,
    terus,tar…ter…tar…dst..dst,
    ampe ampir 1 jam kalo ga salah.
    hhahahahahahha…!!

    Reply

  12. tridjoko
    Sep 10, 2008 @ 08:02:28

    –> Agung :

    Saya nggak tahu waktu anda kecil mercon buatan Kudus masih ada atau nggak. Tapi yang mau saya katakan, mercon buatan Kudus itu sama bagusnya dan “ganasnya” dengan mercon buatan China. Tapi kalau sekarang mungkin mercon buatan China yang masuk soalnya nggak ada yang ngalahin harga murahnya…

    Kalau di Singapore, mercon hanya dinyalakan selama “Hungry Ghost Festival” kira-kira beberapa minggu sebelum Imlek. Selebihnya illegal lho !

    Kalau di Betawi orang kawinan, kalau manten pria sudah mau datang ke rumah manten cewek maka mercon renteng seperti yang anda ceritakan itu baru dinyalakan…dor…der…dar…dung…tessss…blurp…. hehehe…soalnya di sekitar rumah saya masih banyak merayakan dengan cara seperti itu, yaitu nyulut mercon renteng…

    Reply

  13. hendry
    Sep 10, 2008 @ 20:23:41

    Wew… Pengetahuan Bapak luas yah.. Bisa tw ada Hungry Ghost. ^^

    Btw, saya lom pernah liad mercon.. Mercon kyk apa yach.?? hehehe..
    Tapi, beruntunglah mercon itu tidak meledak.. Itu khan sangat bahaya, menyalakan “kembang api” dalam rumah.. Daripada di dalem rumah, mending di binus aja Pakkk. (saran buruk) Huehuehuee…

    Reply

  14. Agung
    Sep 10, 2008 @ 22:11:13

    iyah2..!!
    kalo betawi pas kawinan gt.
    abis merconnya abis,
    br deh maen pantun.
    bawa roti buaya.
    hahahahahaha…!!

    kyknya wkt saya kecil itu buatan cina deh.
    karena kecil kemungkinana petasan Kudus msk tangerang.
    lbh mungkin petasan cina.
    hehehehehe…!!

    Reply

  15. tridjoko
    Sep 11, 2008 @ 07:10:32

    –> Hendry :

    Iya dong…pengetahuan saya tentang budaya chinese cukup luas lho…don’t undermind me, man ! Hehehe…becanda…

    Saya pernah tinggal 9 bulan di Singapore yang budaya chinese-nya masih di-maintain sama pemerintah sana. Karena hampir setahun, jadi “siklus” hari-hari besar chinese saya mengamati, seperti : Hungry Ghost Festival, Moon Cake Festival, XinCia (Gong Xi Fat Chai), dan Chingay Parade… Di hari-hari itu, bagian Chinatown dari Singapore juga dihiasi dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip di waktu malam…

    Seronok ke !!!!

    (kata Singapore untuk “Cool !” atau “Asyik deh !”)..

    Reply

  16. tridjoko
    Sep 11, 2008 @ 07:13:33

    –> Agung :

    Agak dibetulin dikit, di penganten Betawi mah pertama nyulut mercon pihak penganten wanita. Lalu penganten pria datang. Lalu bebalas pantun. Lalu pura-pura mau berkelahi. Lalu berdamai. Lalu nyerahin roti Buaya…dsb..dsb…

    Reply

  17. Agung
    Sep 11, 2008 @ 18:02:41

    nah..!!
    gt lah pokoknya.
    saya lupa.
    hehehehhee…!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 326 other followers

%d bloggers like this: