Kuliner Madiun : Restoran Pondok Jati

Kalau seorang teman saya tidak mengidam makan sup ikan, tentu saya dan teman-teman dari Jakarta tidak bakal menemukan restoran ini : Restoran Pondok Jati Madiun…

Awalnya, Pak Apo, Pak Muhammad dan Pak Bambang Kus yang datang ke hotel bertanya kepada kita, “Mau makan apa nih malam ini Bapak-bapak ? Apakah kita makan pecel lagi, atau makanan yang lain ?”. Dan seorang teman dari Jakarta yang mengidam tadi langsung menyahut, “Saya rasanya malam ini mau makan sup ikan”…

Pak Apo-pun menyahut, “Ya udah, kita makan di dekat tempatmu itu Herr” merefer ke Mas Herry yang mau mengantarkan kami-kami ini dengan mobil Avanza kantor..

Madiun kota kecil, jadi dalam waktu sekitar 10 menit melalui Jalan Pahlawan ke selatan, lampu merah Jalan Pahlawan ke kiri masuk Jalan Panglima Sudirman, lalu terus melalui Jalan Kolonel Marhadi melalui SMA 1 Madiun tempat saya 3 tahun menuntut ilmu, melalui lampu merah perempatan Klegen, terus ke timur melalui Jalan Setia Budi (nama jalan seperti nama jalan depan rumah saya di Madiun…hahaha…), melalui kompleks Brimob, terus ke timur sampai mentok, lalu belok kanan ke arah selatan melalui Gardu Induk PLN, sampai lampu merah perempatan Manisrejo (?) belok ke kiri ke arah Dungus, sampai melewati batas akhir desa Mojopurno, terus ke timur yang semakin lama rumah penduduk semakin jarang, dan tepat jam 07.45 malam kita sudah merapat ke sebelah kiri jalan ke sebuah pelataran parkir yang hanya diterangi dengan lampu temaram 25 Watt (bukan neon)..

Ingatan saya terlempar ke 3 bulan sebelumnya ketika saya mengunjungi restoran Rumah Kayu di kota Bandar Lampung yang kira-kira mempunyai setting serupa – yaitu “Restoran Taman”. Bedanya yang di Bandar Lampung setting daerahnya datar dan masih di tengah kota dikelilingi oleh kantor dan perumahan penduduk serta arsitekturnya kebanyakan dari kayu. Nah, kalau restoran Pondok Jati Madiun ini settingnya berbukit-bukit, di tengah hutan Jati Emas buatan, dengan arsitektur paduan antara kayu, batu, dan semen, dengan ornamen-ornamen keramik pecah berbagai warna menghiasi lantai restoran. Sangat eksotis, apalagi di waktu malam !

Mobil Avanza kamipun parkir, diikuti mobil Feroza merah Pak Bambang yang membawa Pak Muh. Kamipun say Hi ke pemilik sekaligus pelayan restoran yang masih muda. Pak Apo menawarkan dimana kami mau duduk, di kursi atau lesehan, di tempat datar, cekung, atau di atas bukit. Kami memilih lesehan yang paling atas yang berbatasan langsung dengan hutan Jati Emas di belakang restoran. Waktu itu belum kam 08.00 malam dan nyanyian cengkerik terdengar keras di belakang kami duduk. Wah…serasa kemah Pramuka ! Ini yang versi Bandar Lampung tidak punya ….

Kamipun lesehan mengelilingi meja pendek. Beberapa bantal tipis tersedia untuk diduduki. Suasana duduknya mirip di restoran Korea di Seoul sana, tapi bedanya ini mejanya sangat panjang, mungkin sekitar 4-5 meter. Kamipun order : sup bibir ikan untuk appetizer, main entries-nya cah kangkung, guramai goreng, ikan wader goreng, sapi lada hitam (beefstijk ?), cumi goreng, sambal terasi, lalapan ketimun, dan masih banyak lagi, minumannya saya pilih yang paling tradisional yaitu teh manis hangat (belakangan nanti saya order juga juice timur + seledri yang rasanya A++)…

Pada saat kami datang, band belum berbunyi, musik belum berbunyi, dan suasana restoran dihiasi dengan suara cengkerik bernyanyi nyanyian rimba. Pengunjung restoran juga hanya sepasang muda-mudi yang tidak memperhatikan siapa-siapa karena sedang asyik masyuk…

Lima belas menit kemudian, bowl sup bibir ikan datang sebanyak 3 bowl, masing-masing kami diberi satu mangkuk kecil untuk menaruh sup. Setelah dirasakan sup bibir ikan sebagai appetizer ini, “Hmmmm….mak nyuuussss”. Sepintas saya teringat Pak Bondan “Maknyus” Winarno di acara tv yang sering makan ditemani putrinya Gwen Winarno…

Sup bibir ikan belum kering dari mangkuk kami ketika main entries-nya datang. Suasana restoran yang temaram dengan lampu-lampunya yang hidup segan mati tak mau (tak satupun lampu neon !), segera dihangatkan oleh hadirnya cah kangkung seafood dan kawan-kawan yang segera mengisi tenggorokan kami yang sudah pengin makan…

Obrolanpun santai mengalir, dan Pak Bambang Kus-pun sempat tiduran sebentar mungkin ia teringat masa Pramuka dulu waktu berkemah (sayapun demikian…hehehe…). Kami ngobrol tentang ERP mana yang terbaik untuk diterapkan, produk mana yang kira-kira bisa memenuhi keinginan perusahaan client dan sebagainya…Pokoknya obrolan gayeng sekali dan tidak terasa pengunjung restoranpun semakin malam semakin banyak. Band restoranpun mengalunkan lagu-lagu masa kini dari Nidji, Ungu, D’Massiv, dan sebagainya…

Salah satu “bonus” malam itupun datang. Tiba-tiba seekor katak hijau kecil meloncat dari kolam yang berada 1 meter di bawah tempat kami makan. Dan katak kecil yang masih basah itupun meloncak tepat ke kepala Pak Herry dan Pak Satrio lalu menyenggol lengan saya dan akhirnya iapun mendarat di hutan Jati Emas di sebelah tempat kami makan. Seekor kucing putih yang lucupun dari tadi mengeong-ngeong meminta ikan wader. Sayapun ingat kucing di rumah sehingga kucing tadi sempat merasakan nikmatnya ikan wader yang saya lemparkan sekali-kali kepadanya…. ;-) 

Mungkin salah satu “drawback” dari restoran ini adalah pilihan warna musiknya yang terlalu ngepop dan terlalu keras pengeras suaranya jadi seolah-olah “merusak” suasana yang syahdu dan temaram. Saya dan kawan-kawan teringat diajak oleh Pak Amien ke daerah Yogya di sekitar Monumen Yogya kembali yang namanya “Rumah Mertua” yang merupakan gabungan antara Hotel dengan Restoran yang sangat diminati oleh para bule-bule mancanegara. Di sana musiknya justru musik Jawa klasik seperti Kodok Ngorek dan sebagainya…

Ataupun saya ingat restoran Singapura yang bernama Cafe Vienna di sekitar Orchard Road ujung Hotel Dinasti belok ke kanan (saya lupa jalannya) waktu diundang oleh sponsor kami Mrs. Agnes Ong untuk menikmati makan malam diiringi oleh alunan violin dengan lagu-lagu klasik yang kalem dari seorang violinist wanita yang jempolan…

Saya harap musik dari Restoran Pondok Jati seperti itu : lagu Jawa klasik seperti Kodok Ngorek ataupun musik klasik dengan alunan violin yang lembut. Yang terakhir ini pasti akan scare the customers away dari restoran, mengingat orang-orang Madiun belum terbiasa dengan musik klasik.

Komprominya begini, undang saja pemusik “unplugged” (akustik) dari Yogya seperti yang saya lihat di Gudeg Sagan dekat Wisma MM UGM yang saya lihat masih bermain sampai jam 00.30 pagi minggu kemarin itu !!

Pokoknya, malam itu di Restoran Pondok Jati, everything is almost perfect….except I have a little bit objection with the music…

Dan akhirnya, terima kasih Pak Apo, Pak Muhammad, Pak Bambang Kus dan juga pak Herry yang telah mengantarkan ke tempat makan yang asyik ini, dan dibayari pula …… hahaha…

9 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Sep 29, 2008 @ 07:03:15

    Waa….keren juga ya…kapan ya bisa pulang ke Madiun?

    Reply

  2. tridjoko
    Sep 29, 2008 @ 19:19:06

    –> Bu Edratna :

    Sekali-sekali pulang ke Madiun, doesn’t hurt !!!

    Kalau punya waktu santai, lebih baik terbang dengan Mandala ke Yogya dengan tiket hanya Rp 289.000,-. Datanglah pagi hari, maka masih ada kesempatan barang 3-4 jam strolling di Malioboro walk. Ngelirik sana ngelirik sini, bayangkan diri anda sebagai turis sejati. Dari Malioboro, pesan tiket Argo Wilis ke Madiun, dengan harga sekitar Rp 70.000. Turun stasiun Madiun, pakai becak bayar Rp 10.000 (jauh dekat) ke hotel paling terkenal di Madiun yang tarif kamarnya hanya Rp 200.000++ nett (sudah lumayan kelasnya). Lalu sorenya, bisa naik taksi ke restoran Pondok Jati dari depan hotel ini. Warna taksinya hijau dan pakai argo ! Kalau nggak pakai argo, ke Pondok Jati paling cuman Rp 20.000 taripnya. Kalau mau ditunggu, paling pulang pergi cuman Rp 50.000 (my bet is)…

    Balik ke hotel belum terlalu malam, masih sempat strolling di pusat pecel di Madiun yaitu di Jalan HOS Cokroaminoto. Besoknya siang hari bisa pulang ke Yogya naik Argo Wilis lagi. Kalau mau bermalam di Yogya bisa ke Wisma MM UGM dengan tarip Rp 225.000 nett per malam. Banyak bule dan turis ilmiah yang nginep di sini, bahkan beberapa pejabat pemerintah. Untuk keliling Yogya tinggal nyarter becak Rp 10.000 (jarak dekat) atau Rp 20.000 (jarak jauh). Besoknya terbang ke Jakarta dengan Mandala Rp 289.000 lagi (dari Yogya jam 07.10)..

    It must be a wonderful trip. Syaratnya jangan stress dan jangan mengeluh. Nikmati aja perjalanan ini dengan santai dan tidak terburu-buru…

    Duwit ? Jangan dipikirin. Ntar kalau pikiran kita sudah fresh…rejeki akan datang sendiri….

    Believe it or not….

    Reply

  3. yuka
    Sep 30, 2008 @ 15:01:31

    jadi pengen segera mudik ke madiun city

    Reply

  4. Agung
    Nov 14, 2008 @ 09:25:24

    Pak,uda coba pecel madiun BSD belom?!
    hehehehehe..!!

    Belum sempat Gung !
    In fact, malam ini nanti di rumah ada arisan dan isteri saya sudah akan masak : Pecel Madiun !
    Mudah-mudahan yang hadir pada mau dan tidak berkeberatan yang dihidangkan pecel…hehe..

    Reply

  5. rumahagung
    Nov 15, 2008 @ 16:05:45

    wahhh..!!
    pdhl ud ampir 1 smstr sejak Bapak ngiler pecel madiun BSD itu.
    hehehehehhe..!!
    dah,nti bareng2 aja Pak ama anak2.
    sekalian “farewell”.
    hehehehehhee..!!

    Reply

  6. Agung
    Nov 17, 2008 @ 17:18:40

    Ronald ud setuju tuh Pak,
    nti kita makan bareng di pecel madiun BSD.
    hehehehhe..!!

    Reply

  7. muin
    Jun 08, 2009 @ 20:31:20

    setahun lagi wa pulang omm…bisa nikmati pecel kesukaan gw…..

    Wah…masih lama ya…

    Reply

  8. Bondan
    Jul 16, 2009 @ 16:35:11

    Wah Saudara-saudara jangan tertipu dengan suasana nya saja. Tapi Citarasa masakannya juga harus diperhatikan. Apalagi harus disesuaikan juga dengan cost kita. .Kalau sol citarasa mendingan agak naik sedikit di daerah Dungus ada resto yang lebih murah cost nya dan citarasa Maaakkk Nyuuuuuuussssss…Tak Jamin…. Silahkan masuk ke Lesehan Cak Herry. Untuk seting suasananya tidak kalah yahuuud loh…

    Reply

  9. Bondan
    Jul 16, 2009 @ 16:38:39

    Nasi pecel yang enak di daerah Madiun ada di depan stasiun kota madiun. Disebelah timur kidul ndalan tempatnya pak Sus..Wahhh Maaak Nyuuusss pokok nya. Bisa makan sambil lesehan. Apalagi makanan pencuci mulutnya JADAH BAKAR…Wuuuihh…Maak Nyuuusss sambil nyruput kopi jahe cangkir….Hangat badan terasa…Silahkan mampir kesana. Dijamin cost nya murah meriah.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 326 other followers

%d bloggers like this: