Melamar (lagi) menjadi dosen

Posting ini sebagai kelanjutan dari posting-posting saya tentang “Sejarah Binus” yang di awal-awal saya memulai menulis blog ini sering saya tuliskan…

Di Fall semester 1989, sampailah saatnya saya menyelesaikan semua persyaratan untuk memperoleh gelar master dari sekolah saya, Indiana University at Bloomington. Saya berharap gelar master in Computer Science ini segera saya dapatkan di akhir Fall semester ini..

Sayapun tidak menyangka bahwa masa studi yang saya rancang hanya 2 tahun atau maksimal 2,5 tahun ternyata molor menjadi 3 tahun alias 6 semester. Mungkin adanya rasa “dekat dengan pemberi beasiswa yang notabene kantor saya sendiri” yang menyebabkan saya kerasan sekolah di Amerika. Soalnya, tinggal nulis surat “Boss, saya mau sekolah 1 semester lagi” dan dalam waktu seminggu jawabannya sudah datang “Ok”. Enak kan ?

Karena saya akan pulang ke Indonesia, maka selain bekerja di kantor lama saya, sayapun bersiap untuk kembali mengabdikan diri saya sebagai dosen karena tujuan negara kita menurut UUD 1945 kan “mencerdaskan kehidupan bangsa”…

Tapi, ternyata memilih universitas mana yang bisa saja ajar nanti setiba kembali di Indonesia dengan ilmu baru saya sebagai master of science in computer science itu ternyata tidak mudah. Walaupun saya pernah ngajar di STMIK Bina Nusantara, tapi nggak ada keharusan saya kembali ke sekolah itu lagi untuk mengajar karena yang mengirim saya sekolah ke Amerika bukan kampus saya, tapi kantor saya..

Dengan bantuan majalah Gatra yang dikirim seorang teman yang sekolah di University of Texas at Austin, sayapun mulai mencatat 5 alamat universitas yang akan saya kirimi surat lamaran sebagai dosen, yaitu Universitas Kristen Indonesia, Universitas Trisakti, Universitas Tarumanegara, Universitas Atmajaya, dan STMIK Bina Nusantara..

Surat lamaranpun saya ketik rapi dengan format cover letter yang saya dapatkan dari seorang teman saya yang sekolah di Purdue, dan format CV yang saya dapatkan dari seorang teman yang sekolah di Texas-Austin. Suratpun saya print dengan Laser Printer di departemen saya, yang saya kirim dari kamar asrama saya (dari asrama saya, di tahun 1989 itu saya bisa “melihat” printer mana yang masih banyak kertasnya dan printer mana yang habis kertasnya). Setelah lima copy surat lamaran tercetak, sayapun naik bis Indiana University yang berwarna putih merah itu menuju kampus…

Sesampai di asrama, kelima surat itu saya kirimkan ke 5 universitas yang saya sebutkan tadi. Waktu itu kira-kira bulan Oktober 1989. Kira-kira sebulan kemudian (pos kilat Bloomington-Jakarta memakan waktu 10-14 hari), datanglah satu-satunya jawaban, yaitu dari Ketua STMIK Bina Nusantara yaitu Ibu Ir. Th. Widia S. yang saya tahu dari sampul suratnya..

Sampul surat yang berwarna biru muda itupun saya buka pelan-pelan dengan mail opener yang saya punya. Ternyata di dalamnya kertasnyapun berwarna biru muda, ditulis tangan dengan tinta biru. Isinya sebagai berikut :

“Yth. Pak Tri Djoko Wahjono. Apa kabar pak ? Dua minggu yang lalu saya menerima surat lamaran dari Bapak untuk bekerja sebagai dosen paruh waktu di STMIK Bina Nusantara. Sayapun berpikir, kelihatannya saya kenal ya dengan nama ini ? Setelah saya pikir beberapa lama, oh..ini ternyata Pak Tri Djoko itu ya ? Yang pernah mengajar di STMIK Bina Nusantara sebelumnya ?

Silahkan pak, kalau bapak ingin kembali mengajar di STMIK Bina Nusantara. Sekembalinya bapak di Jakarta, silahkan datang ke kampus di Jalan K.H. Syahdan dan pasti kami akan menerima bapak dengan senang hati. Silahkan menghubungi bagian akademis.
Salam, Th. Widia S. (dengan paraf yang sudah sangat saya kenal)”

Sayapun merasa lega, senang dan terharu menerima surat itu. Surat itupun saya dekap di dada saya, dan dengan mata terpejam sayapun seolah melambung meninggalkan Bloomington yang dingin ini untuk terbang sejenak ke Jl. K.H. Syahdan di bilangan Kemanggisan..

Sesampai di Jakarta, beberapa hari kemudian saya dengan naik angkot pergi ke kampus STMIK Bina Nusantara di Jalan K.H. Syahdan. Sayapun segera menemui Ketua STMIK Binus Ibu Ir. Th. Widia S. yang waktu itu kantornya masih di Gedung M Lantai 1. Begitu masuk ke kantor beliau, sayapun disambut dengan senyum ramah dan ucapan selamat datang yang tulus. Setelah mengobrol sekitar 15 menit, sayapun diminta untuk menghubungi bagian akademis…

Siang itu, saya masih sempat bertemu dengan “friend” lama saya Pak Wikaria Gazali, Pak Budi Suryatmaji (alm), Pak Christanto, Pak Rudi dari jajaran dosen dan Pak Suradi di Bagian Akademis. Sayapun minta agar kode dosen saya lama saya yang dimulai dengan huruf D02xx segera diaktifkan kembali..

“Tidak masalah, pak !”, kata kawan-kawan di Akademis..

Dan sejak itu sekitar tanggal 1 Februari 1990 sayapun mulai mengajar kembali di Binus setelah bersekolah di Amerika selama 3 tahun 2 bulan termasuk kursus bahasa Inggris dan program aklimitasinya…

Saya mendapat kelas “Arsitektur Komputer” yang ditinggalkan oleh seorang kawan dosen, Pak Yosafati Hulu, yang berhalangan mengajar karena sesuatu hal. Di kelas saya ada mahasiswa saya yang bernama Suryadiputra Liawatimena dan Yurike Moniaga…

12 Comments (+add yours?)

  1. liswari
    Mar 31, 2009 @ 21:35:38

    Wah Om, s2 ku juga kayaknya lama nich… bakalan 3.5 tahun :-p… sama kayak aku menyelesaikan bachelor ku gini.. :p .. weleh weleh… nanti mempengaruhi gak ya kalau aku mau ambil PhD…

    Tapi aku proud sama cita2 nya Om kembali ke Indonesia dan kemudian mengajar.. Aku pernah cerita ke temen2ku disini kalau Om pernah kuliah disini dan memutuskan kembali ke Indonesia setelah selesai trus aku bilang ‘I may do the same’… mereka kaget loh om, mungkin di pikirnya ‘kok mau?’ karena kebanyakan orang belain mati2an untuk bisa tetep stay disini…

    Mbak Lis,
    Lama tidaknya ngambil Master tidak akan mempengaruhi diterima tidaknya waktu melamar masuk program Ph.D mbak. Yang sangat disukai oleh Admission Director untuk program Ph.D adalah anak2 muda yang lulus dengan predikat “Honor” (GPA > 3.50). Selain itu, ya diterima dengan perasaan biasa-biasa saja…

    Truss, kalau melamar masuk program Ph.D nya dengan “embel-embel” saya mau juga melamar untuk mendapatkan Full Scholarship, itu juga membuat Admission Director dan Admission Committee nya agak “segan” untuk menerima permintaan seperti itu. Tapi kalau tahun pertama tuition fees dibayar sendiri, saya kira tidak masalah. Nah, baru tahun kedua nanti melamar agar dapat Scholarship berupa TA (Teaching Assistant) atau RA (Research Assistant), kalau begini caranya…lebih mudah bagi pihak universitas menerimanya…

    Sebaiknya juga, program Ph.D dijalani di universitas yang duwit risetnya banyak. Kata Assistant Prof saya dulu, di East Coast dan West Coast univ lebih mudah mendapat research grant dari NSF, Office of Naval Research, dsb daripada yang terletak di tengah (midwest). Setahu saya, universitas macam Georgia Tech dan Caltech itu banyak sekali dana risetnya, makanya mendapatkan full scholarship di situ akan lebih mudah daripada di tempat lain, tapi credentials kita juga harus “sexy” biar terlihat berbeda dengan calon pelamar yang lain..

    Mengenai cita-cita saya “kembali ke Indonesia setelah sekolah di Amerika” itu memang kelihatan silly di mata orang Amerika. Tahu nggak mbak, saya dulu setiap hari mendapat pertanyaan dari teman2 Amerika saya “Tri, have you gotten a job here ?”. Waktu saya jawab “No, I haven’t coz I didn’t apply”. Merekapun pada terkejut “Why ?”. Dan saya jawab “Because I have a job in Indonesia”. Mereka masih tetap bingung dan besoknya nanya lagi nanya lagi, orang yang sama !!! Dan saya jawab lagi, jawab lagi, jawaban yang sama !!! Silly nggak tuh, mbak…

    Mungkin yang membuat saya waktu itu memutuskan kembali ke Indonesia karena faktor cinta isteri, cinta anak, dan cinta keluarga (isteri tidak bisa ikut ke Amerika karena ia tentara). Dengan pulang ke Indonesia saya juga blew a chance untuk bekerja di Amerika dan juga untuk mengambil Ph.D soalnya boss saya dulu di BPPT melarang anak buahnya dari Master langsung ke Ph.D, karena diharapkan pulang dulu. Eh..di unit lain yang boss nya baik, langsung ngambil Ph.D juga boleh…

    Mungkin itu sudah jalan hidup dan “destiny” saya…..

    Reply

  2. rumahagung
    Mar 31, 2009 @ 21:57:05

    wow…
    mantab Pak.
    saya belom pernah ketemu ama Ibu Widia,
    tp menurut pendengaran saya,
    saya tidak bisa membayangkan betapa luar biasanya Ibu Widia.

    btw,Pak Rudi yg dimksd di atas,
    Pak Rudi Tjiptadi yg lulusan Jerman itu bkn Pak?

    Agung,
    Bukan Pak Rudi Tjiptadi yang lulusan Jerman itu, tapi Pak Rudi yang lain, saya lupa nama belakangnya…tapi wajahnya saya masih ingat…

    Reply

  3. rumahagung
    Apr 01, 2009 @ 13:43:23

    ooo…
    kirain Pak Rudi Tjiptadi.
    soalnya beliau satu2nya dosen yg ngajar saya,
    yg uda cukup berumur dan “cuma” lulusan S1.
    gelarnya cm Dipl.Ing.
    tapi sakti beliau assembly languagenya.
    hahahahahhahaha..!!

    Gung,
    Iya…Pak Rudi Tjiptadi itu salah satu dosen Binus yang paling “maut” ilmunya…hahaha…

    Gung,
    Ya..Pak Rudy Tjiptadi itu salah satu dosen paling “maut” ilmunya di Binus…

    Reply

  4. adhiguna
    Apr 01, 2009 @ 18:14:15

    Sekedar informasi Dipl.Ing Jerman itu bukan S1, tapi setaraf S2 dan bisa melanjutkan ke jenjang doktoral.

    Mas Adhiguna,
    Terima kasih telah mengingatkan komentarnya Agung bahwa Dipl.Ing. dari Jerman itu setara dengan program Sarjana 6 tahun di Indonesia jaman dulu (sebelum 1974) dan biasanya berhak langsung melanjutkan ke studi Doktor (Dr. Ing)..

    Tapi perlu diingat juga mas, bahwa sistem pendidikan Jerman adalah yang paling complicated di seluruh dunia ini (saya pernah membaca brosur yang dikeluarkan USIS tahun 1985 yang lalu). Jadi ada 2 macam Dipl. Ing. di Jerman, yang satu lulusan Universitaet (mis. Universitaet Muenchen) atau lulusan Institut (mis. Aachen Technische Hoogeschule…saya lupa nama resminya, tapi bukan ini) dan satu lagi Dipl. Ing. lulusan Fachuschule. Dulu jaman BPPT masih salah satu Divisi di bawah Pertamina (dengan nama Divisi Advanced Technology) Dipl. Ing. lulusan universitaet/institut mendapat golongan 6, dan Dipl. Ing. lulusan Fachuschule mendapat golongan 7 yang setingkat lebih rendah…

    Jadi rupanya Jerman itu, selain cinta cewek Jerman yang sulit dimengerti….ternyata sistem pendidikannya juga sulit dimengerti….

    Bukankah begitu mas ?

    Reply

  5. rumahagung
    Apr 01, 2009 @ 22:50:10

    benar….
    luar biasa dosen itu.
    lulusan Jerman emank luar biasa.

    Reply

  6. adhiguna mahendra
    Apr 02, 2009 @ 13:58:40

    Iya betul pak Tri, lulusan Fachoschule gelarnya Dipl.Ing(FH) dan bukan Dipl.Ing. Dan belum setara dengan master.

    Pemegang Dipl.Ing(FH) untuk melanjutkan gelar doktor perlu mengambil master dulu.

    Sebenarnya sistem pendidikan Jerman cukup jelas dan relative simple, cuman memang agak berbeda dengan negara-negara Anglo-Saxon.

    Yang benar-benar rumit adalah sistem pendidikan Perancis. Ada Grande Ecole, ada Université, ada Université de Technologie, ada IUT, masing-masing memiliki ruang lingkup yang sangat berbeda.

    Mas Adhiguna,
    Wah..ternyata sistem pendidikan di Perancis ribet juga ya ? Saya diceritain ada Universitas Paris I, II, III dan IV aja udah bingung membayangkannya (sebingung saya berbahasa Perancis, kecuali parlez vouz Francais ? eh..bener nggak ngucapinnya ?)..

    Kalau di Amerika nama universitas kan selalu melekat ada nama kotanya. Kalau di negara bagian New York, ada SUNY Albany, SUNY Stoneybrook, SUNY Binghamton, dsb.. Atau kalau di negara bagian California ada UC Davis, UCLA, UC San Diego, UC Santa Barbara, UC Berkeley, dsb..

    Reply

  7. liswari
    Apr 04, 2009 @ 03:00:48

    Ohh..aku ngira nya karena s2 ku lama nanti dicap “ini anak bodoh kali ya s2 lama banget” hehehe

    Mbak Lis,
    Enggaklah mbak, kalau lulus S2 nya lama berarti “kurang pinter”….

    Who cares anyway ?

    Hehehe….;-)

    Reply

  8. Willy Gunawan
    Apr 25, 2009 @ 23:56:26

    Dear Pak Djoko,

    Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih, karena bapak pernah ‘mampir’ ke kelas saya sebagai dosen pengganti, walaupun hanya 1x saja tapi kehadiran bapak sungguh berkesan bagi saya dan teman-teman kala itu.

    Sungguh tak disangka, bisa melihat tulisan-tulisan bapak dalam blog@wordpress.com ini, tulisan bapak begitu sederhana tapi penuh makna. Dan saat saya membaca tulisan bapak di postingan yang satu ini, begitu terasa sekali betapa luar biasanya perjalanan bapak dari Bloomington kembali ke Bina Nusantara. Mulai dari saat mendapat surat balasan dari (alm) Ibu Widia yang sangat saya hormati, hingga akhir postingan bapak yang menyebutkan 2 nama murid bapak yang kini telah menjadi dosen dan salah satu nya telah berkiprah di IT Directorate Bina Nusantara.

    Ternyata… Dunia yang luas ini seakan begitu sempit ketika saya membaca postingan-postingan bapak, karena bapak memiliki banyak hubungan dengan orang-orang yang saya tahu/kenal. Pak Djoko telah membawa banyak pengaruh bagi orang-orang disekelilingnya, tidak hanya bagi rekan-rekan bapak, namun juga bagi kami para mahasiswa didikan bapak. Sungguh luar biasa!

    Semoga Tuhan selalu memberkati bapak sekeluarga, semoga sukses dan sehat selalu :)

    Salam,

    Willy Gunawan
    -Binusian 2007-

    Willy,
    Wah…anda Binusian 2007 ? Berarti sudah 2 tahun lulus ya ? Anda sekarang kerja dimana, apa di Binus juga kok anda bilang “Bapak kenal orang2 di sekeliling saya” ?

    Sebenarnya saya itu bukan orang yang pinter, cuman “menang tua” karena jadi salah satu dosen Binus yang tertua. Malahan untuk dosen khusus Teknik Informatika saya yang tertua (angkatan tertua), karena angkatan pertama (angkatan 1981) biasanya dosen matematika (seperti Pak Gerald Polla, pak Rektor), dosen Pancasila (seperti Pak Menara Simanjuntak dan Pak Suprapto), dosen Etika (seperti Pak Winokan almarhum), dan dosen bahasa Inggris (seperti Ibu Inneke dan Ibu Devi Pitono – isteri dr. Pitono dokter “resmi” di Binus).

    Bisa disebutkan juga bahwa hampir semua dosen Binus itu ex mahasiswa saya, kecuali beberapa orang yang S1 nya bukan dari Binus. Terus saya juga dosen PNS pertama di Binus, yang lainnya biasanya masuk Binus karena kenal saya atau kenal teman saya. Yang terakhir, ternyata blog ini juga banyak dibaca oleh alumni Binus, mahasiswa Binus, dosen Binus, anggota yayasan Binus, bahkan putra-putri dan cucu-cicit pendiri Yayasan Binus juga membaca blog ini..

    Lha yang terakhir itu yang saya juga sangat surprise…

    Ok Willy, selamat bekerja semoga sukses buat anda juga..

    Reply

  9. strategi bisnis internet
    May 10, 2009 @ 16:56:06

    pak mau miinta contoh surat lamaran menjadi dosen ada gak?????

    kalau ada, mohn kirim dong atau kasih tau aku dimana saya bisa mendownlaod atau mendapatkannya…

    kirim ke blogku ya pak…..

    matur suwun….

    Cak Suni,
    Wah…sebenarnya surat lamaran menjadi dosen itu sama dengan “cover letter” lamaran lainnya. Hanya bedanya di surat lamaran dosen perlu dituliskan background pelamar, dan mata kuliah yang dikuasai.. Contohnya saya tulis di bawah ini :

    Kepada Yth.
    Bapak Prof. Dr. Ingkang Terhormat
    Di Universitas Ngendi Wae
    Di Jakarta

    Dengan hormat,
    Dengan ini saya yang bernama Cak Suni, ST, MT adalah lulusan Sarjana Teknik Informatika dari Universitas Kono Kae, dan lulusan Pasca Sarjana Magister Teknik Informatika dari Universitas Kene Wae, mengajukan permohonan untuk menjadi dosen jurusan Teknik Informatika di Universitas Ngendi Wae yang Bapak pimpin.

    Mata kuliah yang saya kuasai dengan baik dan sesuai dengan latar belakang pendidikan saya antara lain : Inteligensia Semu, Struktur Data, Sistem Informasi, Sistem Pakar, dan Analisis Algoritma.

    Saya berharap dengan sangat untuk menjadi dosen di Universitas Ngendi Wae, dan untuk itu sangat mengharapkan datangnya undangan untuk wawancara.

    Atas perhatian Bapak saya ucapkan terima kasih.

    Hormat kami,

    ttd
    Cak Suni, ST, MT

    Reply

  10. forlan
    Jan 24, 2010 @ 20:38:58

    semoga berhasil

    Reply

  11. yanti
    Dec 02, 2010 @ 15:47:34

    Salam kenal Pak,,

    Wah cerita bapak menginspirasi saya mulai mengajar juga (karna saya lulusan Magister Ekonomi) Tadinya ga kepikiran untuk mengabdikan diri saya didunia pendidikan,,namun cerita bapak membuat saya berfikir kenapa saya tidak membagi ilmu yang saya dapat..

    Terima Kasih Pak..

    Yanti,
    Percayalah….dengan menjadi dosen dalam jangka pendek seolah-olah tidak ada pengaruhnya bagi anda, baik finansial maupun teknikal. Namun di dalam jangka panjang, secara teknikal anda akan merasakan manfaatnya…..begitu juga secara finansial….seperti yang saya alami sendiri sekarang….

    Reply

  12. david
    Jul 10, 2011 @ 15:52:44

    wahh, benar2 menginspirasi, semuanya, termasuk dengan komen2nya… saya baru saja lu2s s1 pendidikan matematika, sekarang mengajar di SMP RSBI dan salah satu univ swasta di kota saya , jadi lebih bersemangat lagi untuk belajar dan belajar lagi biar lebih banyak yang akan dtransfer…

    David,
    Seneng mendengar tekad anda….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 326 other followers

%d bloggers like this: