Salah satu lakon wayang kulit yang paling disukai orang Jawa adalah “Wahyu Makutoromo”. Ceritanya tentang turunnya wahyu dari langit (Dewa) yang meng-endorse Prabu Yudhistira dari Pandawa agar menduduki kursi kerajaan Amartapura…
Di dunia pewayangan, raja bukan dipilih langsung oleh rakyat, melainkan calon raja akan menjadi raja pada waktunya jika sudah ada tanda-tanda wahyu telah turun kepada calon raja tersebut. Di kalangan masyarakat Jawa kebanyakan, turunnya wahyu ditandai dengan meluncurnya “ndaru” (meteor) di langit pada waktu yang diharapkan. Sesaat kemudian biasanya calon raja yang telah menerima wahyu berupa “ndaru” akan menduduki tahta kerajaan, sampai pada suatu saat ada calon raja baru yang juga menerima wahyu untuk menduduki tahta kerajaan…
Dilihat dari konteks sekarang, “raja” menduduki tahtanya selama waktu yang telah ditentukan. Lalu akan muncul raja baru, atau raja yang lama tetap meneruskan tahtanya bila wahyu tetap berada di tangannya. Bila wahyu yang dulu telah terlepas (expired), maka tiba waktunya bagi raja baru memerintah….yang akan memerintah selama waktu tertentu pula, demikian seterusnya….
2 responses so far ↓
selvy // July 10, 2009 at 9:30 pm |
lagi terinspirasi pemilu presiden yah pak
Selvy,
Iya Selv…soalnya sebagai Statistician saya benar-benar bingung menebak Pilres (Pemilu Presiden-Wakil Presiden) kemarin itu berlangsung 2 putaran atau tidak ? Peluangnya sih 50-50…
Lalu saya gunakan Ilmu Komputer yang saya hubungkan dengan Ilmu Kejawen. Di dalam ilmu komputer kan setiap subprogram selalu ada “binding” ke suatu main program kan ? Dan “binding” itu sangat ketat dilaksanakan, dengan message passing harus dengan variable yang tipenya sangat tertentu. Begitu juga, Presiden kalau masih dikehendaki rakyat, pasti “binding” masih berlaku. Tapi kalau sudah tidak dikehendaki, pasti “binding” akan lepas….dan subprogram itu menjadi “orphane subprogram” yang kalau di-compile pakai “Make” pasti akan ketahuan dia itu “liar”…
Supaya bahasanya lebih halus, saya pakai cerita “Wahyu Makutoromo” itu….yang mungkin bagi anak sekarang termasuk anda Selv…pasti membingungkan…
Jadi, Selvy juga ikut Pilpres kemarin di KBRI Chatsworth Road ? Nyontreng siapa ?
simbah // July 19, 2009 at 10:31 am |
Dik Yon, saya masih mempercayai…itu, kalo dikampung saya namanya ‘Pulung’, semalam sebelum pemungutan suara, orang sak ndeso keluar rumah dan melihat langit sampai cakrawala, mencari pulung yang akan jatuh ke arah rumah si Calon Lurah yang akan jadi…aneh…ning nyoto….
Mas Didiek,
Iyo mas…jenenge nek neng omahku “ndaru”….kata lainnya “pulung”. Tapi bedane, yen ndaru iku konotasine selalu positif seperti “ketiban ndaru”….ning nek pulung konotasine iso elek misale “ketiban pulung”,…hehehe…
Mbiyen yo ono cerito utowo legenda yen arep pilihan lurah kuwi wong sak ndeso podho ndelok langit kabeh…guna mengetahui “ndaru”ne ceblok neng omahe calon lurah A, B utowo C…..Sing omahe onok cahayane kuwi sing sesuke arep dicoblos karo wong-wong ndeso jaman biyen…..nek jaman saiki mungkin ora ngono yo ?