Bab Epilog 4 – Enam bulan setelah dioperasi…
25 Jul 2011 5 Comments
Banyaknya pembaca tulisan-tulisan di Blog saya ini tentang sakit jantung yang saya alami, tentunya sangat membesarkan hati saya. Itu pertanda bahwa yang selama ini saya tulis dan saya share di Blog ini diapresiasi oleh pembaca, baik calon pasien jantung seperti mbak Rika ataupun calon dokter jantung yang sedang belajar di luar negeri seperti mas Fajar..dan masih banyak lagi pembaca Blog “silent” yang tidak pernah memberi komentar.
Untuk melanjutkan cerita-cerita saya sebelumnya, di sini saya akan cerita kepada pembaca apa-apa yang saya alami 6 bulan terakhir ini setelah dioperasi jantung. Untuk singkatnya, saya rekap apa-apa yang saya alami dari bulan 1 setelah operasi jantung sampai 6 bulan setelah operasi.
Bulan Pertama
Di bulan pertama ini pada minggu pertama saya masih berada di ruang ICU setelah habis dioperasi dan mengalami pendarahan 3 kali berturut-turut sebagai hasil operasi Bentall procedure yang saya alami – sebuah operasi yang lumayan berbahaya dibandingkan dengan operasi by pass (CABG) misalnya. Pada minggu kedua, saya dipindah dari ICU ke ruang perawatan yang disebut IWB (Intermediate Ward – Bedah) karena kondisi saya semakin membaik. Di IWB inilah nafsu makan saya hilang seiring sembuhnya luka hasil operasi saya dan berhentinya sisa-sisa pendarahan. Di IWB ini pula, 3 saluran di perut saya yang disebut “ducting” mulai dilepas karena dari perut saya sudah tidak keluar darah lagi. Setelah “ducting” di perut saya dilepas, sayapun agak leluasa tidur karena sekarang bisa posisi miring kiri atau miring kanan. Sayapun dipindahkan ke ruang Perawatan Bedah, di gedung II lantai 6 RSJHK. Begitu dipindah ke ruang perawatan di Gedung II, maka setiap pasien ex operasi jantung diwajibkan mengikuti program rehabilitasi dengan masih memakai baju pasien yang berwarna biru, yang programnya disebut Program Rehabilitasi Tahap I. Program rehabilitasinya lebih ditekankan kepada pasien agar bisa jalan dengan baik dan cepat. Pada hari ke-15 pasca operasi, sayapun diperbolehkan pulang (beberapa pasien boleh pulang pada hari ke-7, ke-10 atau ke-12, tergantung kondisi masing-masing). Sayapun pulang ke rumah namun hanya berlangsung 1 malam, karena besok paginya saya pingsan di kamar mandi karena pendarahan perut sampai HB saya tinggal 5,6 dan INR saya naik drastis ke 5,0 (darah super encer). Dua minggu saya harus tinggal di ruang perawatan IWM (Intermediate Ward – Medik) untuk memulihkan kondisi saya dan menghilangkan pendarahan saya di perut. Pada hari ke-30 sayapun akhirnya diperbolehkan pulang.
Bulan Kedua
Pada bulan kedua saya mengisi waktu saya dengan menjalani program rehabilitasi di RSJHK. Karena rehabilitasi di RSJHK dibayari oleh asuransi saya yaitu Askes, maka sayapun memutuskan untuk mengikuti 24 kali pertemuan terdiri dari 12 kali pertemuan Rehabilitasi Tahap II (disebut “ban merah”) dan 12 kali pertemuan Rehabilitasi Tahap III (disebut “ban biru”). Namun dengan kecepatan mengikuti program rehabilitasi 3 kali seminggu selama 12 kali pertemuan untuk rehabilitasi Tahap II, itu artinya bahwa bulan kedua ini saya habiskan untuk mengikutinya. Sayapun masih tinggal di rumah kakak saya di Cilandak dengan maksud agar lebih dekat ke RSJHK dibanding dengan rumah saya sendiri di Bekasi. Kalaupun harus naik taksi, ongkosnyapun hanya separuhnya. Rupanya program rehabilitasi Tahap II ini seru juga, setiap pasien berlomba-lomba agar dapat secepatnya pulih sebaik-baiknya. Banyak yang dengan cepat terlihat masa pemulihannya, tetapi beberapa di antaranya lambat sekali pemulihannya. Program rehabilitasi tahap II dimulai dengan naik sepeda statis 10 menit, dan jalan kaki 1000 meter di hari pertama (2 x 500 meter). Di hari kedua meningkat menjadi 1200 meter, di hari ketiga meningkat menjadi 1400 meter dan seterusnya. Kalau sudah mencapai 1800 meter, maka pasien boleh beralih ke treadmill dibandingkan jalan jauh. Pada pertemuan ke-13 pada program Rehabilitasi Tahap II, pasien harus mengikuti “ujian kenaikan tingkat” dari Ban Merah ke Ban Biru. Ujiannya ternyata seru juga, yaitu naik treadmill dan disetel dari super pelan sampai dengan super cepat dan elevasinya dinaikkan…rasanya persis seperti lari cepat mendaki gunung…dan kalau anda bisa treadmill selama 7 menit dengan “menu” sadis seperti ini, anda lulus ke Ban Biru !
Bulan Ketiga
Setelah kenaikan dari Ban Merah ke Ban Biru, kini setelah 2 bulan berlalu, baju olahraga bagian atas yang saya pakai berubah warna dari merah-putih ke biru-putih. Sebuah baju yang sangat berarti bagi saya yang sakit tapi berusaha sehat ini. Mengingat ujian kenaikan tingkat yang sangat menguras peluh dan terutama menguras keberanian. Bayangkan, pada ujian kenaikan tingkat dari “ban merah” ke “ban biru” ini pasien harus berdiri di atas treadmill, dengan lantai datar dan kecepatan sekitar 3.0 km/jam. Tapi “masa santai” ini segera berakhir ketika kecepatan diubah menjadi 5.0 km/jam oleh si mbak yang mengoperasikan mesin ini. Tak lama kemudian, kecepatan disetel 6.0 km/jam dengan elevasi 20 derajat. Jadi rasanya seperti mendaki bukit tapi dengan kecepatan yang tinggi, bahkan setengah berlari-lari kecil. Untunglah, saya kuat berada di atas treadmill sebelum saya tereak “Sudah….sudah…sudah…” dan treadmill-pun dihentikan oleh si mbak operator. Saya tahan 7 menit, padahal “passing grade”nya adalah kalau pasien tahan berada di atas treadmill selama 6 menit. Pada bulan ketiga ini saya masih tinggal di rumah kakak saya di Cilandak, dengan pertimbangan lebih dekat ke kantor dan ke rumah sakit. Sayapun sudah mulai “ngantor” walaupun hanya 1-2 jam saja. Saya juga sudah berani pergi ke rumah sakit untuk menjalani program rehabilitasi tanpa didampingi si mbak. Menurut saya, di ban biru ini kebanggaan sebagai pasien yang baru dioperasi sangatlah maksimal….gagah begitu deh….karena banyak pengikut program rehabilitasi lainnya yang baru pada level ban merah, bahkan masih memakai baju pasien. Dengan menu program rehabilitasi yang semakin meningkat, terutama menggunakan treadmill, maka kesehatan dan kebugaran sayapun dirasakan sangat meningkat. Kepercayaan diri juga semakin besar, sehingga lebih nyaman berada di kantor, di tempat umum macam rumah sakit, dan sebagainya. Hanya saja, saya tetap dibatasi kalau mau mengangkat sesuatu maksimal hanya 5 kg saja. Belum bisa lebih dari itu. Konon, pada usia 3 bulan setelah operasi, jantung pasien akan kembali ke posisi awal sebelum operasi, dalam arti bengkak jantung masih ada, tetapi hanya tinggal separuhnya saja. Di bulan ketiga ini saya juga sudah mencoba mengendarai mobil, walaupun keliling-keliling di lingkungan perumahan RW saya saja, dan memasukkan dan mengeluarkan mobil dari dan ke garasi.
Bulan Keempat
Setelah tiga bulan dioperasi, sayapun mengalami banyak kemajuan yang sangat berarti. Tidak hanya kekuatan kaki yang sudah “dibentuk” sejak ban merah, kinipun di ban biru sayapun mendapatkan kembali kekuatan tangan saya. Walaupun masih belum berani mengangkat barang yang beratnya lebih daripada 5 kg, tetapi menarik atau mendorong barang sampai 10 kg saya pernah lakukan (perhatikan, ini menarik atau mendorong, bukan mengangkat). Sayapun berbahagia dengan kemajuan fisik yang saya alami ini. Karena ingin “hidup normal” dan kembali ke rumah saya sendiri yang sudah 5 bulan tidak saya tempati, maka mulai bulan ke-empat alias bulan Mei 2011 sayapun berpamitan kepada kakak saya karena saya akan meninggalkan rumah kakak di Cilandak dan kembali ke rumah sendiri. Sebenarnya ada rasa ragu untuk memulai “hidup kedua” di rumah saya. Maklum, 5 bulan gak ninggalin rumah kecuali weekend, rumah saya sudah berbau apek, dan untuk menghilangkannya jendela dan pintu perlu dibuka lebar-lebar. Untungnya, mulai bulan keempat ini isteri saya sudah mengijinkan saya menyetir mobil kembali. Mula-mula saya belajar menyetir mobil kembali sampai ke mal dekat rumah saya, lalu menyetir mobil sampai ke Jalan Matraman Raya tempat kantor isteri saya berada, suatu jarak sekitar 20 km. Lumayan jauh, untuk saya yang masih dalam kondisi belum pulih sepenuhnya ini. Di bulan keempat ini saya juga sudah masuk kantor secara penuh, yaitu lima kali seminggu. Untungnya di sore hari ada bis jemputan kantor yang akan mengantarkan saya sampai di depan kompleks tempat saya tinggal. Jadi ini sangat memudahkan bagi saya. Sayapun mulai ngajar, walaupun bebannya hanya 4 sks, yaitu membimbing skripsi kelas. Tp ada rasa kehilangan sesuatu karena saya tidak bisa mengajar sebanyak yang saya inginkan. Walaupun ini sepenuhnya karena alasan kesehatan. Di bulan keempat ini saya sudah membuktikan saya sudah bisa nyetir mobil lagi, dan sayapun bisa mengendarai sepeda gunung yang saya punya. Yang belum bisa adalah mengendarai mobil, itupun setelah diingat-ingat karena saya masih kehilangan SIM C saya dan belum ketemu. Dan ternyata….motorpun saya tidak punya, karena Mio saya sudah dikirim ke Balikpapan untuk dipakai oleh anak saya….Di bulan keempat ini, saya tetap melakukan kontrol kepada dokter saya yaitu dr. Aryo Suryo, Sp.JP sebulan sekali, biasanya melaporkan kemajuan yang saya dapatkan, diperiksa, dan diberi obat yang cukup untuk 1 bulan….
Bulan Kelima
Blah..blah..blah
Bulan Keenam
Blah..blah..blah
[Sorry for the incovenience, under construction]
Jul 30, 2011 @ 18:36:28
Assalamualaikum Pak Tri,
Alhamdulilah opersai saya pada tanggal13 Juli berjalan lancar dan saya sekarang memakai katub mekanik ON-X 31/33. Sekarang saya sedang mengikuti rehab fase II, Terimakasih banyak untuk sharing pengalaman pak Tri selama proses operasi jantung tsb yang sangat bermanfaat untuk menguatkan dan meyakinkan saya untuk menjalani operasi tersebut. Sekarang saya sudah jauh lebih baik dan dalam masa recovery yang insyaallah segera saya akan lebih sehat dari sebelum saya operasi. BTW saya sekarang juga full music Pak,always with my rhyme.. click…click…click.
Bravo Pak Tri!
Mbak Rika,
Wallaikumsalam….
Wah senang sekali mendengarnya, operasi bedah jantung mb Rika berhasil. Skg mbak Rika menggunakan klep mekanis….jadinya saudara satu klep ama saya…
Selamat menjalani rehabilitasi fase II mbak Rika….kalau perlu sampai rehabilitasi fase III juga….soalnya ternyata program rehabilitasi itu sangat penting untuk pemulihan pasca operasi bedah jantung kita….
Sekali lagi mbak….selamat….
Jul 31, 2011 @ 15:24:51
Selamat buat mba Rika, yang dengan membaca posting pak Tri telah memantapkan niatnya untuk menjalani operasi bedah jantung. Semoga cepat sehat seperti sediakala.
Selamat menjalankan ibadah puasa, ya pak Tri. Maaf lahir dan batin. Salam.
Iyaaaa…selamat buat mbak Rika….semoga cepat sembuh dan bisa mengikuti program rehabilitasi fase II dan III dengan baik….supaya seperti saya sekarang, sudah 95% sehat. Dua minggu kemarin saya traveling ke Yogya, Solo dan Madiun naik pesawat. Akhir pekan kemarin saya malahan traveling ke Yogya dan Solo naik KA dengan backpack sekitar 20 kg…nyatanya kuat tidak ada halangan. Malahan selama di KA saya berdiri terus di dekat bordes…supaya bisa dengan jelas melihat dan menikmati pemandangan persawahan dan sebagainya….untuk merasakan bagaimana indahnya “hidup kedua” bagi saya….
Aug 09, 2011 @ 12:28:29
Terimakasih banyak untuk supportnya ya Pak, saya tidak sabar untuk bisa traveling seperti Bapak. Jadi, Bapak juga operasi yang sama seperti Pak Tri dan saya?
Mbak Rika,
Uda Alris ini masih sehat walafiat dan bukan pasien jantung seperti kita kok mbak…
Di usia 6 bulan setelah operasi, saya sudah bisa menyopir mobil (paling jauh 50 km), mengendarai sepeda motor, dan menaiki sepeda gunung saya. Saya juga sudah berani traveling ke Yogya, Solo dan Madiun naik KA selama 8 jam lebih, dan tidak ada kekhawatiran apa-apa….semuanya lancar-lancar saja…
Mudah-mudahan mbak Rika pada usia ke-6 bulan setelah operasi nanti juga bisa melakukan hampir semua kegiatan yang dulunya bisa dan biasa dilakukan oleh mbak Rika… Amien….
Sep 06, 2011 @ 02:24:41
Pak Tri, selamat hari raya idul fitri 1432 H, maaf lahir dan batin.
Uda Alris,
O iya….saya juga mengucapkan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1432 Hijriah dan mohon maaf lahir batin ya Uda….
Sep 28, 2011 @ 17:25:08
Semangat terus Kawan
Thanks !!