Mahasiswa Binus berambut merah, biru, hijau

Pada suatu hari, Ibu Th. Widia (alm) memanggil saya secara mendadak ke dalam ruang kerja beliau. Yang meminta saya segera datang adalah sekretaris beliau. Sayapun segera tergopoh-gopoh keluar dari kamar kerja saya untuk segera masuk ke kamar kerja beliau, yang berjarak sekitar 25 meter jauhnya. Rupanya beliau sudah menunggu di dalam ruang beliau sejak lama, sayapun memasuki ruang beliau dengan tertib dan sedikit merasa tenang karena muka beliau memang selalu terlihat tenang, duduk di kantor yang dominan berwarna hijau tosca itu…

Sayapun segera duduk setelah mengucap salam ketika memasuki ruang beliau. Lalu terdengar beliau bertanya :
“Pak Tri Djoko, apakah mahasiswa yang berambut merah, biru, hijau itu mahasiswa Pak Tri Djoko ?”, tanya beliau. More

Bab Epilog 5 – Tatoo terindah…

Saya masih ingat, tanggal 9 Februari 2012 saya memasang status FB “Terima kasih kepada Yang Di Atas, kepada keluargaku, kepada keluarga besarku, serta teman-teman semua…hari ini saya merasa sangat bersyukur karena ternyata hari ini adalah tepat setahun saya menjalani operasi bedah jantung yang sukses…sehingga saya bisa menikmati setahun umur baruku dalam kehidupan baruku….”. Tak kurang dari 35 komentar well wishes pun saya terima di status FB itu, dan sekitar 130 orang yang me-Like status FB ku itu. Jari tanganpun cukup pegal untuk mengetik ucapan terima kasih satu per satu di bawah status FB itu….sebagai tanda betapa banyaknya teman-teman saya dan sebagai tanda betapa besarnya support mereka dulu baik secara moril (doa) dan materiil (darah, dan sebagainya).

Jadi rasanya hati ini sangat merasa berterima kasih, terutama kepada Tuhan saya yang telah memberi perkenan akan umur baru dan kehidupan baru ini. Hampir tidak dapat dibayangkan sesaat setelah saya sadar dari operasi dalam keadaan lemah, putus asa, dan hampir tanpa harapan. Melihat orang dipindahkan keluar dari ruang ICUpun rasaya sudah iri sekali, begitu pula orang dipindahkan dari ruang intermediate bedah ke ruang perawatan biasa juga sudah membuat iri sekali. Di ruang rehabilitasi melihat seorang bapak dengan pakaian bersepeda, rasanya juga sudah sangat tidak mungkin. Tapi hari itu, setelah setahun saya menjalani operasi bedah jantung yang sukses, ternyata semua itu bisa dialami sendiri : naik sepeda, naik motor, nyopir mobil, memperbaiki genteng di atap, memperbaiki lampu neon di tiang listrik di pinggir jalan, mengajar dengan beban “full” – bahkan semester lalu yang dimulai 7 bulan setelah saya operasi – saya mendapat beban mengajar sebanyak 22 sks di program S1 plus 6 sks di program S2. Suatu total sebanyak 28 sks atau 28 jam per minggu !! Bukan main, di masa paling sehatpun saya belum pernah mendapatkan beban seberat itu. Dan saya bisa melaksanakannya dengan sukses sampai di akhir semester ! More

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 167 other followers