Ceritaku Ceritamu Ceritakita

Entries categorized as ‘Uncategorized’

Makassar yang (mestinya) indah

June 16, 2008 · 10 Comments

(Prolog : Setelah dicari-cari, tulisan saya tentang Makassar rupanya belum terhapus sama WordPress, saya temukan di dalam kategori drafts. Selamat menikmati).

Saya sangat senang sekali mendapat tawaran seorang teman kantor saya unruk mengunjungi Makassar di akhir bulan Mei 2008 lalu, mengingat sebelumnya saya sudah pernah 4 kali ke Ujung Pandang (pada waktu itu) yaitu di tahun 1982, 1984, 1995 dan terakhir 1999. Tapi saya tidak ingat lagi kapan Makassar menjadi Ujung Pandang, dan akhirnya Ujung Pandang menjadi Makassar kembali. Yang jelas, saya sangat senang karena kunjungan terakhir ke Makassar sebelumnya pada tahun 1999 tidak terlampau sukses…

Akhirnya pada hari Selasa tanggal 27 Mei 2008 pagi saya bangun jam 3.30 langsung mandi, walau semalaman saya tidak berani tidur nyenyak karena takut kesiangan dan ketinggalan pesawat. Akhirnya pada pukul 4.00 saya sudah mengendarai mobil Camry-un saya menembus dinginnya jalan tol dalam kota Jakarta. Bila biasanya jarak Rumah-Stasiun Gambir bisa saya tempuh dalam waktu sekitar 30 menit, pada pagi itu saya tidak berani memacu mobil kencang-kencang karena rasa kantuk masih menghinggapi. Sayapun sampai Stasiun Gambir pukul 4.49 dan langsung memarkirkan mobil di tempat parkir inap. Sempat ke toilet sebentar dan sayapun ketinggalan bis jam 5.00 ke Bandara Sukarno-Hatta. Baru pukul 5.20 bis Damri berikutnya membawa saya ke Bandara…

Sampai Bandara pukul 6.00 namun karena di pagi itu lalu lintas di jalur bis sudah semrawut dengan taksi yang berseliweran kesana-kemari, akhirnya sayapun sampai di Terminal E sudah pukul 6.15. Saya dan teman-temanpun check in di counter Garuda. Rupanya dari ujung ke ujung, tidak ada counter yang bertuliskan Makassar !!! Saya tidak mengeluh, hal seperti ini sudah biasa untuk Garuda. Naik Garuda ke luar negeripun membuat kita bingung karena lambang Garuda seringkali tidak nampak !

Waktu untuk flight ke Makassar masih pukul 07.10. Dua teman yang suka merokokpun melihat peluang sekitar 30 menit untuk sekedar merokok dan ngopi di sebuah kafe dekat gerbang F2. Untung Garuda selalu on time, maka pada pukul 06.55 para penumpang sudah diminta boarding. Tidak ada belalai gajah di gerbang F2 dan kamipun dibawa dengan bis bandara ke pesawat yang akan membawa kami ke Makassar..

Singkat cerita, pesawat sudah mulai distarter mesinnya dengan GSE (Ground Support Equipment) sambil para pramugari memperagakan tatacara keselamatan sesuai peraturan FAR (Federal Aviation Regulation). Bagi kami berempat yang duduk di sekitar pintu darurat (di Malaysia dan Singapura disebut “pintu kecemasan”) sengaja di-drill oleh seorang pramugari bagaimana membuka pintu darurat bila diperlukan…

Pesawat Boeing 737-400pun membawa kami selama 2 jam mengarungi udara menuju Makassar. Pramugari Garuda cukup ramah-ramah, menawari kami permen, dan menyajikan makanan Omelet yang nikmat, orange juice yang dingin, tapi sayang tidak diakhiri dengan menawari kami dengan kopi atau teh. Rupanya itu special order dan diberikan hanya kepada yang minta saja.

Seorang bule laki-laki berbadan besar dan berwajah mirip suami Demi Moore yaitu Ashton Kutcher dari tadi gelisah melulu duduk di kursi kelas ekonomi Garuda yang memang sempit. Akhirnya waktu mau merogoh sesuatu tiba-tiba “Gedrobraaaak…” kursipun letoy ke belakang dan menghancurkan gelas berisi orange juice yang mau diminum oleh penumpang di belakangnya di barisan pintu darurat. Seorang purser (komandan pramugara/i)pun datang. Saya bilang kepadanya, “Mas, daripada Garuda di sue sama orang ini, beri saja dia kursi di kelas bisnis !”. “Wah, pak pesawat ini penuh sekali semua tempat duduk penuh sesak”. Rupanya kepergian kami ke Makassar tanggal 27-29 Mei 2008 memang bertepatan dengan Rakernas III PDI Perjuangan di Hotel Clarion Makassar, maka tidak heran lebih dari separuh tempat duduk diisi oleh orang-orang berbaju merah berlambang moncong putih, dengan logat mereka masing-masing : ada yang berlogat Batak, Padang, Sunda, Betawi, Jawa dan Bali..

Kamipun mendarat tepat pukul 10.15 di Bandara (Sultan) Hasanuddin Maros. Saya sengaja kurung kata “Sultan” karena memang resminya nama bandara ini cuman Hasanuddin, padahal di masa lalu seingat saya nama resminya adalah “Sultan Hasanuddin”. Bandara yang di tahun 1999 masih sempit ternyata sekarang runway-nya sudah diperpanjang menjadi 3.100 meter sehingga layak didarati oleh pesawat sekelas Boeing 747, dan bandarapun saya dengar sudah berkategori “Bandara Internasional” walau konon katanya tidak ada satupun penerbangan yang menuju ke luar negeri dari bandara ini. Ironis kan ?

Kami berempatpun ambil taksi menuju kota Makassar yang berjarak sekitar 22 km dari bandara. Jalan yang dipilih sopir taksi adalah “jalan tol” yang kira-kira selebar tol Cipularang, namun baru selesai kira-kira 50% nya saja. Baru di KM 4 jalanan tol sudah mulus terdiri dari 6 lajur..

Kamipun berhenti di jalan yang menyusur pantai Losari di ujung sebelah utaranya persis satu blok di sebelah utara MGH (Makassar Golden Hotel). Wah..jalan di tepi pelabuhan begini kalau di Chicago pasti sudah diberi nama “Losari Beach Drive”. Kamipun menginap di Hotel Pantai Gapura Makassar yang dari depan sepintas seperti sebuah losmen murahan, tetapi ternyata di dalamnya benar-benar berupa resort kelas atas yang kamar-kamarnya berbentuk cottage yang terletak persis di atas laut !!! Wow..benar-benar menakjubkan !!! Semboyan hotel ini “Truly Resort Within the City” sungguh cocok dengan harga sewa kamar yang sekitar Rp 850 ribu nett ini..(dengan kartu kredit ada diskon sehingga jatuhnya sekitar Rp 695 ribu per malam)…

Dari kami berempat, tiga orang mendapat kamar yang berpandangan langsung ke arah laut (ocean view), sedangkan saya sendiri mendapat kamar dengan pandangan ke arah kolam renang (pool view).

Tanpa diminta oleh siapapun, siang itu kami berjalan kaki menyusuri Jalan Somba Opu yang terkenal itu dari sisi paling utara menuju sisi paling selatan. Somba Opu masih menyimpan sejumlah toko souvenir yang pantas dikunjungi. Jika anda menaksir sesuatu, sebaiknya menanyakannya ke beberapa toko terlebih dahulu, membandingkan kualitas barang dan harganya, baru memutuskan membeli barang paling berkualitas dengan harga termurah. Souvenir seperti kain sutera, kerajinan khas Toraja, miniatur badik, dan gantungan kunci banyak bertebaran di Somba Opu..

Sayang trotoar Somba Opu tidak serata di Malioboro, sehingga kita mesti berhati-hati berjalan kalau tidak bisa terpeleset karena banyaknya permukaan trotoar yang tidak rata. Selain itu, banyak jalan masuk motor masuk ke pertokoan dan menjorok sampai aspal jalan. Jika di tahun 1982 mobil dan motor di Ujung Pandang jarang sekali membunyikan klakson, kelihatannya di tahun 2008 ini kebiasaan itu berubah 180 derajat, dan bila anda berjalan-jalan di Somba Opu atau di Pantai Losari, bersiap-siaplah untuk dikagetkan klakson sepeda motor atau mobil yang melintas dan menyuruh anda minggir. Oh my Gawd !

Perjalanan di Somba Opu ujung selatanpun sudah sampai ke Rumah Sakit Stella Marris. Kamipun belok kiri dan dua blok kemudian di sebelah kiri jalan di pojokan, kami menemukan tempat makan ikan yang konon paling nikmat dan paling segar ikannya di Makassar, Lae Lae ! Kamipun memesan seekor ikan ukuran 6-7 ons untuk setiap orang. Kebetulan semua orang memilih ikan baronang, walaupun di sini juga disediakan ikan cuwek, kakap merah, kembung, udang, dan juga cumi.

Setelah menunggu barang 15 menit sambil ditemani otak-otak yang juga excellent rasanya, maka ikan bakar pesanan kamipun datang. Kamipun makan dengan lahap sampai-sampai saya dan seorang teman minta nasi tambahan ! Dan itu ternyata jebakan yang kami buat sendiri, soalnya setelah itu perut ini rasanya amat sangat kenyang sekali. O ya, kami memilih minuman khas Lae Lae yaitu es kelapa muda dengan gula jawa ! Waktu kami makan siang itu, banyak kader PDIP dengan baju merah menyala atau hitam yang juga makan siang di Lae Lae. Dari wajah mereka saya bisa mengenali mereka datang dari seluruh penjuru tanah air..

Puas makan di Lae Lae, kamipun mencegat taksi yang lewat untuk mencari sutera di bilangan Kota Lama. Rumah bercat putih dengan arsitektur sederhana itu kami masuki, ternyata sudah ada 1 bus turis berhenti di depannya. Dan ternyata pula, jajaran kain sutera di dalam toko yang merangkap bengkel tenun tersebut sudah habis diborong sama turis yang datang ke Makassar dalam bulan-bulan belakangan ini. Mengingat banyak konperensi, rakernas, maupun seminar atau workshop yang mengambil tempat di Makassar..

Puas belanja sutera, kamipun naik taksi balik ke Hotel. Sambil berjanji siang itu kami akan melihat sunset di Pantai Losari sambil menikmati pisang goreng. Ternyata dari 4 orang, 3 orang dari kami tertidur pulas siang itu mengingat malam sebelumnya kurang tidur. Baru bangun sekitar pukul 7 malam. Setelah mandi, seorang teman yang asli Toraja mengajak kami makan Sop Konro di bilangan Karebosi. Konon yang paling enak Sop Konro ada di suatu jalan yang di sebelahnya dulu ada Bioskop Dewi. Benar saja, kami sampai ke sana naik taksi ternyata parkiran mobil sudah penuh. Di dalampun hampir tidak ada tempat duduk yang kosong. Kamipun sempat bingung mau makan Sop Konro rebus atau panggang. Saya memilih rebus, karena besok malamnya saya mau ke sini lagi milih yang panggang. Hehehe…

Lepas makan Sop Konro, saya sempat minta bantuan untuk dicarikan toko yang menjual kaos dalam pria. Maklum di Jakarta belum sempat beli. Dan anehnya, di sejumlah toko di Pantai Losari yang dijual hanya baju dalam wanita, sementara baju dalam pria tidak ada. Bila di Jakarta banyak toko sekelas Indomaret yang menjualnya, di Makassar tidak ada satupun Indomaret atau Alfamaret. Kawan tadi menyarankan kita mencarinya di Mall Karebosi. Ternyata di Mall yang mirip ITC itu benar ada yang menjual kaos dalam pria. Sayapun lega. Di sini rupanya jadi sentra penjualan HP di Makassar.

Selepas dari Mall Karebosi, kami cowok semua berempat berniat akan jalan kaki menuju hotel. “Ah, dekat saja”, kata teman yang berasal dari Toraja. Rupanya Makassar malam itu hujan deras ! Sederas ketika pesawat kami mendarat di Bandara (Sultan) Hasanuddin siang tadi. Kamipun berteduh di toko di depan Lapangan Karebosi yang sedang dibangun dan dipenuhi beton-beton. Kantor Kodam VII dan gedung penjara rupanya sudah tidak ada di samping Lapangan Karebosi, dan digantikan dengan jejeran Ruko-Ruko. Hujan tidak berhenti dan kamipun memutuskan memanggil taksi. Dengan ongkos Rp 10.000 kamipun sudah bisa sampai kembali ke Hotel Pantai Gapura Makassar..

Sesampai di hotel, kamipun menuju Bar ruang terbuka yang terletak di atas laut ! Pemandangan sungguh indah ! Bar yang dibangun dari jajaran kayu besi ini berdiri kokoh. Dan kamipun melewatkan malam itu dari jam 9 malam sampai jam 11.30 malam sambil menikmati hidangan pisang goreng berkeju. Dua kopi hitampun habis saya minum malam itu. Sekali lagi, beberapa tempat duduk dikuasai oleh peserta Rakernas PDIP yang berbaju merah. Walaupun tempat itu relatif temaram, tapi warna merah baju mereka masih kelihatan..

Malam itu saya tidur nyenyak dibuai dengan bunyi debur ombak karena kamar saya berbentuk cottage yang didirikan persis di atas laut. Walaupun kamar saya tidak persis terletak di pinggir laut, tapi debur ombak tetap berbunyi cukup keras, ibarat simfoni musik yang mendayu-dayu mengantarkanku tidur..

Bangun pagi langsung mandi, sayapun makan pagi di restoran yang berbentuk kapal pinisi dengan ukuran 100% atau malahan 200%. Wah, sungguh nikmat ! Makan pagi berupa nasi rames, minum susu dan orange juice sambil melihat kapal-kapal yang hilir mudik. Maklum, restoran pinisi ini hanya berjalan puluhan meter dari dermaga penumpang untuk kapal-kapal kecil yang melayani penduduk pulau-pulau kecil sekitar Makassar..

Siang sedikit, kamipun menyarter Avanza untuk mengantarkan ke kantor Gubernur. Setelah workshop yang cukup sukses, kamipun kembali ke hotel. Sorenya kami diajak mengunjungi sebuah waterfront city yang disebut Tanjung Bunga, yang terletak di sebelah selatan Pantai Losari yang pada tahun 1982 masih berupa hutan bakau..

Xenia Li Hitam baru milik seorang teman dari I.A.L.F. Makassar yang joknya masih dibungkus plastikpun mengantarkan kami berempat ke Pakarena, saya tidak tahu apa arti bahasa Makassarnya. Tapi bunyinya mirip “Park Arena” ya ? Di sana sudah dibangun sebuah waterfront resort dengan dermaga yang menjorok ke laut. Hanya sayang, pasir yang ada di pantai buatan ini kurang begitu lebar. Mungkin lebarnya hanya 20-an meter. Coba kalau dibuat 50-an meter dan pasirnya putih. Wah..tentu lebih indah. Kamipun melewatkan sisa siang itu melihat sunset di Pantai Losari dari sisi Tanjung Bunga. Dan mataharipun tenggelam menyambut malam, dengan warnanya yang jingga pelan berubah menjadi hitam pekat…

Kamipun ber-Xenia menuju ke sentra penjualan Pisang Epek di Makassar yang sore itu tidak terlalu ramai, maklum memang bukan pas malam minggu. Sayapun pesan pisang epek (banana split) satu porsi yang berisi tiga. Sambil pesan minuman sejenis bajigur tapi rasa agak pedas karena diberi jahe yang bernama…apa ya, lupa…Baranga atau Batanga ya ? Wah, perutpun langsung melembung kekenyangan. Oleh si Ibu yang membawa Xenia kamipun diantar ke Hotel, dan kamipun mengucapkan Good Bye..terima kasih Bu, sudah mau mengantar…

Malam terakhir di Makassar tentu tidak kami sia-siakan. Setelah beristirahat sejenak di Hotel, dan mandi, kamipun langsung ke Somba Opu lagi mensurvei oleh-oleh apa saja yang mau dibeli keesokan harinya. Kamipun menandai beberapa toko : di sini bagus gantungan kuncinya, di sana bagus badiknya, dan di ujung sana bagus kain suteranya. Setelah itu kamipun berjalan ke selatan lagi menuju…mana lagi kalau bukan Lae Lae ?

Malam itu Lae Lae begitu penuh, kamipun dapat tempat duduk dekat pembakaran ikan, sehingga rasanya panas sekali. Kami datang sekitar jam 8.30 malam. Hampir tidak ada kursi kosong sama sekali di restoran dengan 200+ pengunjung ini. Ruaaar biassaaa.. Ternyata tepat jam 9 malam orang-orang sudah selesai makan malam, dan separuh tempat duduk sudah kosong. Tahu gitu, kami datang jam 9 malam ! Tapi anyway, ikan bakar Lae Lae emang tidak ada duanya, terutama 3 macam sambelnya itu lho : sambel tomat, sambel cabe, dan sambel terasi..

Malam itu saya tidur nyenyak di kamar hotel saya. Sekali lagi bunyi deburan ombak mengantarkan saya lebih nyenyak tidur, ibarat simfoni “Eine Kleine Nacht Muzik” dari Mozart (atau Bethoven ya, kok lupa saya ?)..

Bangun pagi, makan di hotel sambil melihat anak-anak SMA dari pulau di luar kota Makassar bersekolah. Rasanya lucu, dibanding di kota saya dulu yang pergi sekolah naik sepeda…

Siang dikit, sayapun menyasar ke Somba Opu lagi. Langsung menuju toko-toko souvenir yang tadi malam sudah ditaksir. Sayapun beli sekitar 50 gantungan kunci buat teman-teman di kantor. Ada yang bergambar rumah tongkonan Toraja, bergambar pelaut Bugis, bergambar ikan bertuliskan “Makassar”, dan juga bergambar miniatur badik. Tidak lupa saya membeli miniatur badik untuk saya sendiri, dan 2 miniatur badik lagi yang lebih kecil untuk masing-masing calon mantu saya nanti (kalau mereka mau menerima lho !)..

Tepat jam 15.45 pesawat Garudapun membawa kami kembali ke Jakarta..

Selamat tinggal Makassar !

Dalam waktu dekat saya pasti ke sana lagi, buat makan ikan bakar !!!

Hahahaha…

 

 

(bersambung)

Categories: Uncategorized

Listrik mati

June 15, 2008 · 5 Comments

Sore ini tadi listrik di perumahan saya mati, dari jam 5 sore sampai jam 8 malam. Semua tetangga pada mencari lilin ke warung sebelah, termasuk saya. Maklum, lampu neon cadangan saya merk Kenmaster kelihatannya cuman bagus di 3 bulan pertama dan sekarang sudah tidak bisa nge-charge lagi..

Sayapun heran, apakah PLN masih kepanjangan dari Perusahaan Listrik Negara ? Menurut saya lebih tepat PLN disebut Perusahaan Lilin Negara karena listrik yang dipasoknya mati melulu dan telpon bantuan nomor 123 ditelpon ratusan kali tidak ada yang menjawab !

Waktu saya kecil dulu di Madiun sekitar tahun 1960an, listrik di kota saya juga sering mati yang oleh orang Jawa disebut sebagai “giliran”. Waktu itu listrik hanya nyala 2 malam, dan pada malam ketiga mati dari maghrib sampai subuh. Untuk sumur-sumur penduduk pada masa itu masih sumur timba jadi listrik mati atau tidak kami masih mudah untuk mendapat air bersih untuk mandi..

Bagaimana di luar negeri, apakah listrik juga suka mati ?

Saya pernah tinggal selama 3 tahun 2 bulan di Amerika Serikat, dan tidak sekalipun saya mengalami blackout alias listrik mati. Listrik di Amerika tidak pernah mati, mungkin karena bagusnya sistem interkoneksi di antara power plant di Amerika sana. Juga mungkin bagusnya kontrol pengendali tenaga listrik, sehingga kalau mau mati pasti sudah digantikan oleh power station yang lain. Kemungkinan lain, banyak power plant di Amerika dipasok dari PLTN yang jumlahnya puluhan..

Saya pernah tinggal 2 bulan di Korea Selatan, dan tidak sekalipun pernah terjadi listrik mati. Saya dengar, Korea Selatanpun sumber listriknya banyak dipasok dari PLTN yang jumlahnya sekitar 10..

Tapi ketika saya tinggal di Singapore selama 9 bulan, saya pernah mengalami listrik mati ketika dibawa bertamu oleh guide saya dari MFA ke PSA (Port of Singapore Authority). Waktu kita tiba di lantai dasar listrik masih hidup, tetapi ketika kita akan naik lift, listrikpun mati. Untung belum sempat masuk ke lift. Kalau listrik mati, wah…berabe ! Saya dengar Singapore belum punya 1 PLTN pun, dan power plant-nya kebanyakan adalah tenaga uap yang bahan bakarnya BBM..

Thailand mungkin sama dengan Indonesia, dan belum pernah mempunyai sumber listrik berupa PLTN. Saya di Thailand selama 2 minggu dan pada suatu malam listrik di Hotel AIT tempat saya menginap mati, dan sayapun terpaksa nongkrong di pinggir kolam teratai yang terletak di depan Hotel AIT. Di sana saya ketemu dengan bekas teman saya di IPB, tapi bukan dari satu jurusan. Jadi kamipun ngobrol ngalor ngidul di pinggir kolam teratai itu, dan cerita kamipun nyambung. Anehnya, saya tidak bisa mengenali wajahnya dan diapun tidak bisa mengenali wajah saya…maklum listrik lagi mati dan bulanpun lagi tanggal muda alias “bulan mati”…

Hehehehe…ngobrol di kegelapan di tepi kolam teratai…

Ada ada saja !

 

Categories: Uncategorized

Lagu musim liburan

June 14, 2008 · No Comments

Di musim jelang liburan seperti saat ini, dari sejak saya dulu SMA di tahun 1973-1975 sampai sekarang saya masih suka menyanyikan lagu yang sama, yaitu “School’s out for Summer” dari Alice Cooper…

Pada saat-saat seperti sekarang ini jika kita nyetel radio dari ujung ke ujung negara bagian Indiana, sering sekali lagu “School’s out” ini diputar..

Kalau anda mau, cobalah hidupin You Tube anda dan klik link berikut : http://ie.youtube.com/watch?v=H5h-ZN9GgHw

Maka, dijamin Alice Cooper-pun akan hadir di ruang belajar atau kamar anda…

School’s out for Summer/No more classes….

[Saya lagi ngepak koper buat ke Hawaii sama Bahama nih...hehehe...]

 

 

Categories: Uncategorized

Kampus Binus Anggrek rasa JWC

June 14, 2008 · 5 Comments

Pernahkan anda mengunjungi Kampus Binus University di Jakarta ? Binus University di Jakarta mempunyai 4 kampus, dari yang paling lama dibangun sampai yang paling baru dibangun adalah : Kampus Syahdan, Kampus Kijang, Kampus Anggrek, dan Kampus Hang Lekir (disebut juga Kampus JWC, yang resminya bernama “The Joseph Wibowo Center for Advance Learning”, dan Joseph Wibowo adalah nama pendiri Binus)..

Kampus Syahdan dibangun pada tahun 1984 diarsiteki oleh “Atelier 6″, sebuah firma arsitek papan atas pada masa itu. Arsitektur Kampus Syahdan bisa disebut sebagai joglo, yaitu rumah di Jawa yang atap-atapnya berbentuk “daun”. Tapi Kampus Syahdan dibangun secara bertahap, dan tanahnyapun dibeli secara bertahap. Tidak heran bila “gambar” arsitektur asli Kampus Syahdan setahu saya sempat terselip entah kemana, dan mencari “peta” saluran air kotor saja sempat bingung, pada waktu itu. Tapi saat ini di tahun 2008 kampus Syahdan sudah cukup modern, dengan setiap ruang kelas dilengkapi 2 buah AC, 1 infocus, 1 komputer desktop, dan 2 buah papan tulis “white board”..

Kampus Kijang dibangun sekitar tahun 1990 kalau tidak salah. Arsiteknya adalah Bapak Theo Salim, yang juga dosen Arsitektur Binus. Beliau alumni ITB dan University of Texas at Austin. Mulanya dipakai untuk perkuliahan Binus University, tetapi ketika kelas malam diadakan banyak penduduk sekitar yang waktu itu protes karena “bising”, maka kampus itu dipakai kuliah sampai jam 17.00 saja. Nggak tahu ya sekarang setelah semua ruang kelas dipasangi AC, mestinya penduduk tidak bisa mengeluh “bising” lagi. Ketika pada tahun 1995 kalau tidak salah Kampus Kijang dipakai untuk Binus High (SMA Binus), maka arsitektur aslinya diatur ulang oleh Arsitek Hendra, lulusan Tarumanagara. Arsitek Hendra ini terkenal dengan perhatiannya sampai ke detail, terutama untuk interiornya. Makanya Bung Hendra ini juga mengerjakan interior ruang Manajemen Binus di Kampus Syahdan, dan juga ruang Manajemen Binus Kampus Anggrek tempat Fakultas MIPA berada.

Kampus Anggrek mulai dibangun pada tahun 1996, namun belum sempat 1005 selesai ketika krisis ekonomi tahun 1997-1998 melanda Indonesia, makanya sempat terhenti. Kampus Anggrek dirancang oleh Firma Arsitek TOTAL, dan dibangun oleh TOTAL juga. Rencana awal Kampus Anggrek yang berbentuk persis seperti Mall itu dengan adanya “void” di tengah, jumlah lantainya ada 12, makanya di lift jumlah angkanya sampai 12. Tapi karena krisis ekonomi, dan mungkin untuk alasan keamanan, hanya dibangun sampai lantai 8 saja. Sebenarnya ada 2 tower dan 1 auditorium. Tapi ketika Tower 1 sedang dibangun, krisis ekonomi mendera sehingga Tower 2 dan Auditorium tidak sempat dibangun sewaktu dioperasikan pada bulan September 1998 lalu..

Kampus Hang Lekir atau Kampus JWC dibangun pada tahun 2000 dan selesai pada tahun 2001. Arsiteknya adalah dari TOTAL dan pembangunnya juga TOTAL. Kampus JWC dicirikan dengan banyaknya kaca-kaca, bentuk gedung minimalis, dan interiornya berkesan “hi tech” dilengkapi dengan lift yang tembus pandang sampai ke mesin-mesinnya ! Kampus JWC ini berwarna dominan abu-abu, warna minimalis masa kini. Binus International dan S2 menempati gedung JWC ini, dan juga program-program sertifikasi semacam CIA, CFA, CISA dan CISM..

Rupanya di tahun 2007 kemarin Binus sudah mempunyai cukup uang untuk meneruskan pembangunan Kampus Anggrek yang sempat terhenti pembangunannya tahun 1998 yang lalu. Seiring dengan diubahnya nama Binus dari “Universitas Bina Nusantara” menjadi “Binus University” sesuai Visi Binus 20|20, maka logo Binuspun berubah dari dulunya dominan berwarna kuning-oranye sekarang menjadi dominan biru-kuning. Maka kampus Binus Anggrek baru yaitu Tower  2 dan Auditoriumnyapun dominan berwarna biru tua dan kuning. Kalau mau “ngintip”, datang aja ke ruang dosen pura-puranya mau mencari Pak Tri Djoko…dan mendekatlah ke kaca di sebelah timur…kelihatan deh Tower 2 yang georgeous itu !!!

Ternyata dari desain awal Kampus Anggrek, yang berbeda adalah jumlah lantainya yang berkurang dari 12 menjadi 8 lantai. Selain itu, arsitektur Tower 2 dan Auditoriumpun agak berbeda dari konsep awalnya. Kalau anda berdiri dari samping Kampus Anggrek, akan kelihatan beda “kulit luar” Tower 1 dan Tower 2 serta Auditoriumnya. Warna Tower 1-pun sudah berubah dari Kuning-Oranye menjadi Abu-Abu, sewarna dari Tower 2 dan Auditorium yang Abu-Abu-Kuning..

Makanya saya sebut “Kampus Anggrek rasa JWC”..

Sebenarnya banyak gambar-gambar menarik dari Kampus Anggrek Tower 2 dan Auditoriumnya. Saya sebenarnya mau naruh gambar-gambar itu di sini, tapi ribet ah, makanya mendingan cerita aja…biar penasaran…

Last but not least, mesjid (tepatnya disebut “mushala”) kampus Anggrek akan digeser mendekati gedung Tower 1. Sekarang mushala yang baru berukuran 10 x 12 meter sudah dibangun dan selesai 65%, arsitekturnya berbentuk “limas terpancung” dengan nuansa hi-tech karena pilar-pilarnya didominasi struktur baja berwarna abu-abu, dengan atas plastik warna abu-abu juga. Sedangkan mushala lama akan dibongkar (tear down) karena di sana akan dibangun gedung parkir bertingkat untuk menampung mobil dan motor mahasiswa, cuman saya kurang jelas berapa jumlah tingkat gedung parkirnya. Mungkin 8 tingkat juga. Lantai 2 Tower 1 akan digunakan oleh perkantoran unit-unit kerja yang ada di Binus yang sampai sekarang masih tersebar di JWC dan Simprug (Binus High). Food court dan tempat ngeceng (”a place to see and to be seen”) tetap di lantai 1 di depan Bank BCA..

Konon September 2008 nanti gedung Tower 2 dan Auditorium sudah bisa digunakan. Kabarnya, lantai 5 saja akan terdiri dari 30 ruang kelas dari 501 sampai 530 !

Kebayang nggak ?

 

Categories: Uncategorized

Kampus UPH jadi sirkuit A1 GP 7-9 Nopember

June 14, 2008 · 1 Comment

Ada berita menarik di koran Warta Kota hari ini, Sabtu 14 Juni 2008 halaman 18, yaitu “Balap A1 GP di Tangerang”…

Bagi anda yang sempat tahu, A1 GP adalah sejenis balapan mobil “single seater” yang pertama kali digagas oleh Sheikh Al Makthoum dari Abu Dhabi. Kalau F1 GP adalah balapan mobil “single seater” atas nama Team, maka A1 GP adalah balapan mobil atas nama negara. Pada musim pertama dan kedua A1 GP, pembalap Indonesia adalah Ananda Mikola dan sirkuit Sentul sempat sekali (atau dua kali) sebagai host dari balapan A1 GP..

Pada musim ketiga, A1 GP tetap dipertandingkan tapi tanpa menyertakan sirkuit Sentul, dengan alasan memakan banyak biaya dan sulit untuk mendapatkan sponsorship, baik dari swasta atapun pemerintah. Sekali menyelenggarakan A1 GP, konon Indonesia harus menyetor ke Pemilik A1 GP uang sebanyak Rp 35 milyar ! Pada musim ketiga, pembalap A1 GP Indonesia adalah Satrio Hermanto, dengan manager kakak kandungnya Bagus Hermanto..

Kalau berita di Warta Kota hari ini benar adanya, berarti Kampus UPH di kawasan Karawaci Tangerang akan menjadi bising pada tanggal 7-9 Nopember 2008 nanti karena bersliwerannya mobil-mobil A1 GP dari sekitar 30 negara..

Berita selengkapnya dari Warta Kota hari ini adalah :

“Setelah absen semusim, balap mobil A1 GP kembali mendatangi Indonesia. Namun, tidak seperti balapan di musim perdana dan kedua yang digelar di Sirkuit Sentul, Bogor, A1 GP Indonesia musim depan (2008-2009) akan digelar di sirkuit jalan raya, di dalam perumahan Lippo Karawaci, Tangerang.

“Betul ! Lippo Karawaci akan jadi tempat penyelenggaraan A1 GP Indonesia, tepatnya pada tanggal 7-9 Nopember mendatang”, kata Danang Kemayan Jati, Head of Corporate Communication Lippo Karawaci, melalui telpon selulernya, Jumat (13/6).

Mengenai lokasinya, Danang menyebut jalan di depan Mal Lippo Karawaci sebagai lokasi start dan finis. Dari mal tersebut, peserta balapan akan diarahkan ke jalan di depan apartemen Lippo Karawaci. Dari apartemen itu, mobil-mobil peserta akan melaju ke depan Sekolah Pelita Harapan melalui jalan tembus yang sedang dibangun pengembang.

“Dari Pelita Harapan, mobil peserta akan berputar kembali ke depan mal, begitu seterusnya”, kata Danang.

Kepastian tentang digelarnya A1 GP Indonesia di sirkuit jalan raya juga diungkap oleh situs autosport.com. Namun, situs tersebut tidak mengungkapkan secara pasti lokasi sirkuit jalan raya itu. Mereka hanya menyebut, sirkuit jalan raya itu sedang dalam proses pembangunan dan terletak di Ibukota Indonesia.

Autosport.com melansir, selain Indonesia - tuan rumah seri ketiga - A1 GP 2008-2009 akan mengunjungi satu lokasi baru lainnya, yaitu Sirkuit Algarve, di Portugal.

Ketika kabar tentang digelarnya balap A1 GP di Tangerang ditanyakan kepada Ketua Umum IMI Ari Batubara, dia mengaku belum mengetahuinya dengan pasti”.

Itulah berita yang saya kutip dari koran Warta Kota pagi ini…

Anehnya, tahun 1999 lalu sewaktu F1 GP sedang ramai karena rivalitas antara Michael Schumacher dan juara dunia Mika Hakinen lagi marak, saya pernah mengusulkan adanya sirkuit jalan raya di Jakarta. Tapi waktu itu saya menyebut start dan stopnya di depan stasiun TV TPI di bilangan Taman Mini. Maklum pada waktu itu yang menyiarkan F1 GP adalah TPI. Saya usul start dari TPI ke arah utara, lalu belok ke kiri di depan asrama haji dan terus sampai di Tamini Square, belok kiri terus sampai Taman Mini Indonesia Indah pintu I (atau Pintu III sama saja), lalu memasuki TMII melingkar-lingkar di dalam, dan keluar TMII melalui Pintu II dan terus sampai finish di depan Stasiun TPI lagi. Melingkar-lingkarnya di TMII saya belum bisa usul, soalnya yang penting jarak tempuh minimal 4 km dan maksimal 5 km. Usul saya waktu itu saya tulis dalam tulisan rapi dan saya kirim via e-mail ke Majalah BOLA, tapi tidak ada tanggapan sama sekali…

Atau orang-orang BOLA yang memang tidak sensitif dengan usul “masa depan” saya itu…

Hahahahaha…

 

Categories: Uncategorized

Lucunya Rowan Atkinson

June 12, 2008 · No Comments

Rowan Atkinson yang bergelar Master di bidang Teknik Sipil itu seperti biasa anda kenal sebagai Mr. Bean, adalah orang yang lucu banget.. Orang-orang Indonesia lebih mengenalnya sebagai Mr. Bean yang videonya banyak terdapat di Indonesia seri 1 sampai 8 itu yang sering diputar di kereta api Indonesia kelas Argo Bromo itu…

Kalau anda mengatakan bahwa Rowan Atkinson di film seri Mr. Bean lucu, begitu pula di film layar lebar Mr. Bean lainnya, mungkin pendapat anda itu perlu segera diperbaiki…

Pada suatu hari sekitar 10 tahun yang lalu saya tanpa sengaja ingin meminjam VCD di Koperasi BPPT. Dari sekumpulan VCD yang ditawarkan, saya memilih beberapa VCD Mr. Bean dan salah satu diantaranya adalah pertunjukan Rowan Atkinson di Universitas Harvard. Ternyata, pertunjukan yang diberi judul “Welcome to Hell” itu amat sangat lucu sekali…bila anda bisa mengerti bahasa Inggris yang cukup…

Cobalah melihatnya di You Tube jika internet anda di rumah sudah dipasangi koneksi yang cepat semacam ADSL-nya Telkom Speedy itu.. Link untuk “Welcome to Hell” adalah ini : http://www.youtube.com/watch?v=XFGrQMD6Uqc

Banyak pertunjukan Rowan Atkinson di Universitas Harvard lainnya yang ada di You Tube. Masukkan saja string “You Tube Rowan Atkinson Harvard”, maka semua video yang anda inginkan akan ketemu seketika…

Selamat ketawa-ketiwi…

hahahahahahahahahaha….

hihihihihihihihihihihihiihihi….

 

 

Categories: Uncategorized

Lagu Kebangsaan

June 12, 2008 · No Comments

Akhir-akhir ini bila kita mendengarkan lagu-lagu wajib Indonesia, rasanya kurang “greng” lagi mengingat banyak kelompok dari masyarakat Indonesia yang saling berkelahi, ancam-mengancam, pukul-memukul, sangat terasa bagi yang bermukim di Jakarta..

Syukurlah, akhir-akhir ini banyak spanduk mulai bertebaran di Jakarta dari kelompok masyarakat “pemersatu” yang menyerukan “Kitorang Samua Basudara”, hal ini terlihat pagi ini tadi waktu saya melewati Matraman, Gambir, dan Tanah Abang..

Lagu-lagu wajib Indonesia yang dulu sering saya nyanyikan bersama teman-teman SMP 2 Madiun di tahun 1972-an, seperti “Syukur” ternyata di You Tube tidak ada…yang ada lagu dengan judul serupa tapi dinyanyikan oleh Rayhan.. Apalagi lagu-lagu wajib Indonesia lainnya…

Beda dengan lagu-lagu wajib Amerika, dari lagu kebangsaan mereka “Star Spangled Banner” ada banyak versinya di You Tube, yang dinyanyikan oleh Martina McBride, Jessica Simpson, dan beberapa pemenang kontes American Idol seperti Kelly Clarkson, Kerry Underwood, dan Jordin Sparks. Begitu pula lagu wajib lainnya seperti “God Bless America” jumlahnya ada puluhan di You Tube. Yang menarik, dari video di You Tube kelihatan betul kekhidmatan mereka dalam mendengarkan lagu kebangsaan. Yang berpakaian seragam militer atau polisi mendengarkan lagu sambil memberi tanda hormat, sedangkan yang berpakaian sipil mengepalkan tangan kanan di dada seolah merasakan betapa nikmatnya menjadi satu bangsa yang bersatu…

Lagu kebangsaan Singapura juga banyak versinya di You Tube, ditambah dengan lagu-lagu wajib lainnya. Lagu kebangsaan Singapura yang berbahasa Melayu itu bahkan pernah dinyanyikan oleh seorang cewek Jepang yang manis menjelang pertandingan sepakbola persahabatan antara kesebelasan Singapura dengan kesebelasan Jepang di Jepang sana. Betapa lancarnya si cewek menyanyikan lagu kebangsaan yang berbahasa Melayu itu ! Coba deh, si cewek menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, pasti iapun bisa…

Rasa kebangsaan kita mungkin akan semakin kita rasakan bila kita mendengarkan lagu kebangsaan dan lagu-lagu wajib lainnya yang dulu semasa kecil sering kita nyanyikan pada waktu Aubade, menjelang penurunan bendera merah putih di setiap sore hari tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan kita…

Sudahkah anda menyanyikan lagu kebangsaan atau lagu wajib Indonesia hari ini ?

Bernyanyilah !

 

Categories: Uncategorized

Warung Idaman Masa Kecil

June 11, 2008 · 8 Comments

“Warung” atau rumah makan pertama yang saya kenal adalah Warung Bu Djojo. Letaknya kira-kira satu blok di sebelah timur rumah saya di Madiun dulu di tahun 1960-an. Warung itu sangat sederhana, terbuat dari papan di bagian bawahnya, dan di sebelah atasnya ada yang terbuat dari “gedek” (anyaman bambu). Jadi bisa dimengerti kalau warung Bu Djojo ini sangat “isis” dengan hembusan angin semilir di antara sela-sela lubang anyaman bambunya sehingga serasa lebih dingin daripada dinginnya AC jaman sekarang…

Sebenarnya apa yang menarik dari Warung Bu Djojo ini saya juga nggak tahu persis. Yang jelas itu satu-satunya warung di sekitar tempat tinggal saya. Warung ini juga terletak di pinggir Jalan Pattirajawane yang berfungsi sebagai jalan utama dari pusat Kota Madiun menuju Pabrik Gula Kanigoro. Pada masa itu jalanan belum beraspal dan hanya ditumpuki batu-batu sebesar kepala kucing. Makanya hanya truk saja yang nyaman lewat di Jalan besar itu. Alasan lain mungkin pemandangan kereta tebu hilir-mudik di sebelah timur warung ini di musim giling (Juli-Oktober) serasa romantis dan seperti “wild wild west” jaman dulu.

Menu utama kesukaan saya dan teman-teman kalau mampir di warung ini adalah kolak pisang yang rasanya uueennaaak tenan, mungkin kolak pisang terenak di seluruh dunia ! Harganya juga murah, paling semangkuk harganya Rp 5,- saja (Rp 5000 “uang lama”). Saya dan sekitar 3 teman sering mampir di warung ini sekitar jam 10-11 setelah pulang dari Taman Kanak-Kanak. Yang menarik dari warung ini karena di sekitar warung banyak ditumbuhi tanaman “Uluk-Uluk” yaitu tanaman liar yang banyak dihinggapi oleh kumbang berbagai warna yang kita panggil “Samber Lilen” yang artinya kumbang dengan warna hijau, merah, kuning, dan biru metalik !!! Saya dan teman-teman suka menangkap kumbang-kumbang ini, tentunya dengan memilih warnanya terlebih dahulu. Kalau kita sudah punya kumbang berwarna kuning, dan hari ini kita akan menangkap yang berwarna biru, hijau atau merah. Cara menangkapnya juga cukup mudah. Kumbang-kumbang itu kami bawa pulang dan kami pandangi lama-lama sampai kami bosan atau sampai si kumbang mati kepanasan…

Pada suatu hari waktu saya dan kawan-kawan pergi ke Warung Bu Djojo ini kami ketemu Pak Tir, tukang andalan Bapak saya untuk membangun rumah. Pekerjaan Pak Tir memang sangat halus dan sulit tertandingi oleh tukang-tukang lainnya. Selain Pak Tir, beberapa tukang lainnya juga ikut Pak Tir makan di warung ini. Memang di jaman dulu kita kalau mengupah tukang hanya menyediakan minuman kopi atau teh saja tanpa menyediakan makan. Makanya Pak Tir dan para tukang lainnya makan di warung ini. Mungkin bagi orang tua seperti Pak Tir, nasi rames di warung ini enak rasanya, apalagi ditutup dengan kopi tubruk yang kental, manis, dan pahit sambil merokok kelobot. Wah, jan nikmat tenan ! Tapi saya yang waktu itu masih kecil sedikit curiga, jangan-jangan Pak Tir tidak tertarik dengan makanannya tapi dengan Bu Djojo yang waktu itu sudah menjanda. Maklum, kalau saya dan kawan-kawan makan di situ pasti cepat-cepat disuruh pulang. “Mas, ayo setelah kolak pisangnya habis cepet pulang, itu lho dicari Keng Rama”, katanya sopan…

Waktu saya SD kelas III, Warung Bu Djojo itu kelihatannya sudah tidak ada lagi karena dibeli oleh orang lain dan dibangun rumah yang baru. Menjelang peristiwa besar di Indonesia tahun 1965, setiap pagi jam 03.00 saya dibangunkan oleh Ibu, Bapak dan Kakak-kakak saya untuk melihat Lintang Kemukus (Bintang Berekor) yang nampak dengan jelas di ufuk timur di pagi hari itu. Kami menonton  Lintang Kemukus itu sekitar 30 menit. Bagi orang Jawa, Lintang Kemukus merupakan pertanda bahwa sebuah peristiwa besar akan terjadi…

Dan benar saja, di tahun 1965 terjadi sesuatu yang tidak mudah dilupakan oleh kita bangsa Indonesia semuanya…

Setelah saya besar, saya jarang melihat Lintang Kemukus seperti itu lagi. Mungkin memang tidak ada Lintang Kemukus atau kemungkinan lainnya adalah, lampu listrik sudah masuk ke desa-desa sehingga adanya Bintang Berekor yang redup sudah sulit dilihat lagi, apalagi bila langitnya sudah dipenuhi dengan partikel kecil hasil polusi (particulate matters)….

Sudah dulu ah, saya mau ngajar nih. Kapan-kapan disambung lagi dengan apa bedanya : Warteg, WarSun, WarCin, WarKor, dan WarMrik…

 

Categories: Uncategorized

NO IF a.k.a. “Jathukno”

June 8, 2008 · 8 Comments

Minggu-minggu ini dan minggu-minggu depan ini ada 3 kompetisi olahraga menarik yang menjadi tontonan saya. Pertama, Euro 2008 yang sudah mulai dipertandingkan di Swiss-Austria sana. Kedua, NBA Final yang sudah dimulai pertandingan pertamanya di Boston antara LA Lakers dan Boston Celtics. Ketiga, pertandingan olahraga antar RT di RW saya yang tidak kalah serunya dibandingkan kedua pertandingan pertama tadi…

Tadi pagi, barusan Team Volleyball putra RT saya dikalahkan 2 set langsung 25-22, 26-24 di babak semifinal oleh RT sebelah yang merupakan Juara Bertahan. RT saya sudah berjuang sekuat tenaga, tapi kayaknya setiap smash-smash maut yang dilancarkan oleh RT saya selalu dapat dikembalikan oleh RT lain sehingga angkapun kejar-mengejar sejak set pertama. Di level kompetisi yang “tinggi” seperti ini, kesalahan sekecil apapun tidak bisa ditolerir, apalagi pertandingan Volleyball-nya menggunakan rally point seperti yang sudah digunakan di level nasional ataupun internasional. Artinya, dalam rally point setiap kesalahan kita sekecil apapun akan menjadi point lawan, dan sebaliknya..

Team Volleyball saya kalah tipis. Tidak ada penyesalan dari diri saya selaku Ketua RT, tapi mungkin ada sedikit rasa penyesalan dari warga RT saya. Tapi, kalah adalah kalah. Jangan sampai ada yang bilang “Jika tadi si A bisa mengembalikan smash lawan, pasti deh team RT kita menang”. “Jika si B tidak datang terlambat ke lapangan, pasti deh kita bisa mengimbangi sejak menit-menit awal”. “Jika kostum kita tidak pakai yang berwarna merah tapi memakai yang berwarna biru, pasti deh kita menang”…

Hah, menang ?

Yang lebih utama sebenarnya adalah mempersiapkan diri dalam latihan yang serius dan terprogram, baik secara sendiri-sendiri latihan dengan teman kantor, ataupun latihan secara bersama-sama. Lebih baik pula mengetahui kekuatan diri dan juga kekuatan lawan, sehingga kita bisa mengukur kans menang dan kans kalahnya. Tapi sekali menang, semuanya mengelu-elukan kita. Kalau kalah, semuanya menyalahkan apa saja, dari kostum, jam pertandingan, sampai sorakan penonton…

Begitu juga di Euro 2008, banyak orang menjagokan teamnya masing-masing. Ada yang menjagokan Belanda, Italia, Jerman, Spanyol, Portugal ataupun Yunani. Pada akhirnya hanya ada 1 pemenang saja. Banyak yang menjagokan Belanda, padahal terakhir Belanda menjuarai Euro adalah di tahun 1988 - 20 tahun yang lalu ! Banyak yang menjagokan Spanyol karena dihuni pemain yang bagus-bagus, tapi mereka lupa Spanyol tidak pernah sekalipun memenangkan Euro. Lebih masuk akal menjagokan Italia dan Jerman, karena Italia sudah Juara Dunia 4 kali dan Jerman sudah 3 kali, tapi mereka lupa Piala Dunia dan Euro adalah 2 tipe kompetisi yang sama sekali berbeda..

Sebagai ahli Statistika (S1 saya bidang Statistika), kalau mau bertaruh peganglah Portugal. Selain dihuni dengan pemain-pemain bagus, pelatihpun pernah memenangkan Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang. Portugal adalah semifinalis Piala Dunia 2006 di Jerman, dan Portugal adalah Finalis Euro 2004 di Portugal. Kurang apalagi ?

Di Final NBA, bertemunya LA Lakers dan Boston Celtics mengingatkan saya akan melegendanya pertandingan antara kedua team ini dengan tokoh-tokohnya Karim Abdul Jabbar yang lulusan University of North Carolina-Chappel Hill dan akhirnya berlabuh di LA Lakers, melawan Larry Bird yang lulusan Indiana State University di Terre Haute, Indiana, yang akhirnya memperkuat Boston Celtics dan membantu Boston Celtics memperoleh Piala NBA di tahun awal 1980-an itu…

Apapun nanti yang terjadi, jangan pernah menyesal kalau team pujaan anda kalah. No if, tidak ada penyesalan, bumi dan jarum sejarah tidak bisa diputar balik kembali…

Kalau istilah bahasa Jawanya, “ora ono jathukno….”..

 

Categories: Uncategorized

Ceritaku Ceritamu Ceritakita meaning ?

June 8, 2008 · 4 Comments

There is an enquiry coming to my Blog asking what is the meaning of Ceritaku Ceritamu Ceritakita ?

Maybe from someone who doesn’t speak Bahasa Indonesia / Malay. “Ceritaku Ceritamu Ceritakita” literally means “My story Your story Our Story”..

When I began to  write this Blog, I remembered about the tagline of my High School magazine “Bima”, that is “Ceritaku Ceritamu Ceritakita”. I just picked it up for my Blog’s name..that simple and no apparent reasons why..

Beyond literal, I imagine my Blog will be a place where we can share story to each other as if we are in an ordinary coffee shop talking about anything without “deep” meaning and just for talk only..

That’s why this Blog writing is light or very light, in words, and in meaning…

Hope you can enjoy this Blog. Sorry for inconvenience if your understanding of Bahasa Indonesia / Malay is so so…but I wrote a lot of postings in english as well…

 

Categories: Uncategorized