Grafiti di kamar mandi

Ketika ngajar di jurusan Teknik Informatika UBinus, saya sering ditanya oleh mahasiswa, “Pak, apa bedanya sih kuliah di Indonesia dengan di Amerika ?”

Wah, sulit ya ngejawabnya. “Maksud anda di beda apanya ?”. “Ya semuanyalah pak”, mahasiswa yang bersangkutan menjawab. Waduh, ternyata tetap sulit ya. Tapi kemudian kepada mahasiswa yang bersangkutan dan tentu kepada semua mahasiswa di kelas saya sampaikan. “Gini deh. Kalau anda kuliah di Binus, biasanya anda kuliah dengan peralatan seadanya”, saya berusaha membuka kata-kata. “Anda kadang-kadang tidak bawa tas, tapi hanya membawa ball point”, kata saya. “Tapi mahasiswa di Amerika biasanya membawa back pack yang diisi buku catatan berupa loose leaf lalu juga membawa 2-4 buah text book yang berat totalnya sekitar 10 kg”, saya berusaha menjelaskan. Most of the time, mahasiswa kurang puas dengan jawaban saya tapi mereka juga nggak bertanya lagi karena kemudian saya sambil menirukan Tukul Arwana bilang, “Kembali ke kuliah….!”…

Kali ini, detik ini, pas saya agak nganggur di kantor dan UBinus mahasiswanya sedang menjalani UTS, saya ingat bahwa beda kuliah di Indonesia dan di Amerika salah satunya adalah mahasiswa yang kuliah di universitas Amerika seringkali mendapatkan cerita-cerita bagus atau “wits and wisdom” dari …..restroom alias kamar mandi !!!

Bagaimana bisa ?

Kalau toilet-toilet di kampus Indonesia biasanya bersih temboknya hampir-hampir nggak ada tulisan di dindingnya, tapi toilet di kampus Amerika dindingnya dipenuhi tulisan-tulisan…

Apa saja tulisan-tulisannya ?

Yah, standar-lah. Sambil nongkrong modol, saya sering tersenyum-senyum membaca semua tulisan yang ada. Dari satu dinding yang saya perhatikan, hampir 25%-nya berisi kata-kata kasar atau kata makian yang umum disebut “four-letter word” (kata dengan 4 huruf). Kata “fuck”, “fucking” banyak sekali. Juga “suck”, “sucks”. Misalnya “mother fucker” (sesadis “pukimakkau”) ataupun “Purdue sucks” (Purdue payah, Purdue adalah universitas musuh universitas saya).

Banyak tulisan, tapi setidaknya saya ingat dua tulisan yang paling “berkesan”.

Tulisan pertama berisi singkatan, dengan membacanya saja saya udah senyum-senyum. Ditulis arti singkatan gelar akademis yang ditawarkan universitas, “B.S. = Bull Shit, M.S. = More Shit, Ph.D. = Piled harder and deeper”. Ha..ha.. B.S. di universitas Inggris disebut “B.Sc” dan di universitas terkenal seperti Harvard diucapkan kebalik menjadi “S.B.” singkatan dari “Science’s Bachelor”.

Tulisan kedua ditulis karena penulisnya bingung antara memilih cewek dengan wajah cakep atau bodi aduhai (maklum, saya bacanya di toilet cowok). Membacanya saja perasaan saya campur aduk antara kagum ama yang nulis, pengin ketawa, sekaligus empet. Ditulis di sana “There are a lot of beautiful bodies out there, with ugly faces. But remember, it is fuck you are facing and not face you are fucking !!!”.. ha..ha…ha…

Selera humor saya rendah ya ?

Petaka di Virginia Tech

Minggu lalu (17 April 2007) di kampus Virginia Tech telah terjadi drama paling berdarah dalam sejarah pendidikan di Amerika Serikat. Sebanyak 33 orang telah menjadi korban, dan satu di antaranya adalah mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Virginia Tech bernama Mora Lumbantoruan.

Sedikitnya ada empat alasan mengapa saya tertarik dengan berita itu dan ingin sedikit memberikan komentar tambahan.

Pertama, saya juga lulusan salah satu kampus di Amerika Serikat, tepatnya di kota kecil Bloomington, di negara bagian Indiana, sehingga saya sedikitnya mempunyai gambaran bagaimana peristiwa itu bisa terjadi.

Kedua, kebetulan mahasiswa yang menjadi tersangka penembakan berasal dan lahir di Korea Selatan walaupun sejak 12 tahun yang lalu ia telah tinggal bersama keluarganya di negara bagian Virginia. Sangat mengejutkan mengapa pelakunya orang Korea Selatan ! Bagi saya dan tentu bagi orang Amerika sendiri.

Ketiga, Virginia Tech adalah salah satu kampus idaman saya melanjutkan studi Computer Science dari 7 kampus yang di tahun 1985 saya lamari aplikasi untuk menjadi graduate student.

Keempat, Mora Lombantoruan ternyata berasal juga dari keluarga militer. Ayahnya pensiunan perwira menengah TNI-AD, ibu tirinya juga perwira menengah TNI-AD (corps Polisi Militer). Dengan isteri saya yang perwira menengah Korps Hukum TNI-AD tentu saja hubungannya agak dekat atau paling tidak saya bisa merasakan kesederhanaan keluarga tentara..

Baiklah, saya mau cerita satu per satu dari keempat alasan mengapa saya tertarik mengomentari petaka di Virginia Tech itu..

Alasan pertama, Virginia Tech adalah tipikal kampus di Amerika Serikat, walaupun agak berbeda dengan kampus Indiana University tempat saya belajar dulu yang terletak di Midwest. Virginia Tech mungkin 8 jam perjalanan dari Bloomington, Indiana ke arah timur melalui highway. Maksud saya sama adalah, pasti di tengah kampus ada landmark berupa Union Building. Union sebenarnya artinya mirip dengan “koperasi”, yah kurang lebih seperti “kopma” menurut istilah ITB atau UGM. Kata lain Union Building mungkin PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) kalau menurut istilah IPB dimana saya dulu kuliah. Selain landmark berupa Union Building, kampus-kampus di AS juga mengenal gedung kuliah umum atau GKU (istilah ITB), yaitu satu atau dua atau tiga gedung yang berisi ruang-ruang kuliah dan dipakai kuliah oleh berbagai jurusan/ department yang ada di kampus itu. Tentu di masing-masing department juga ada ruang kuliah tapi biasanya untuk yang kuliah di subject itu. Kalau di Indiana Univ, gedung kuliah umum terdapat di Ballantine Hall dan Sycamore Hall. O ya, nama gedung kuliah di kampus-kampus AS biasanya diakhiri dengan “Hall” yang artinya pasti “gedung” dan diawali dengan nama almarhum profesor di kampus itu yang dulu pasti sangat berjasa mengembangkan kampus itu. Kalau di Indiana Univ yang berdiri tahun 1820, Ballantine Hall sebagai gedung kuliah umum banyak dihadiri oleh mahasiswa berbagai jurusan. Apa maksudnya saya menyebut Ballantine Hall ? Pasti, 100% pasti, kalau ada seorang pembunuh yang agak psiko pengin membantai banyak orang, sudah tentu 99,41% dia akan menuju Ballantine Hall karena korbannya pasti seabrek ! Daripada kalau dia menuju ruang kuliah di department. Selain itu, publik atau media akan mem-boost terjadinya peristiwa massacre itu lebih dahsyat kalau dia membunuh di gedung kuliah umum !

Kedua, mahasiswa Korea Selatan yang akhirnya diketahui telah melakukan penembakan amat sangat tidak terduga, bahkan oleh polisi kampus sekalipun (mungkin nama korpsnya VTPD = Virgina Tech Police Department), makanya selama 2 jam sejak penembakan pertama yang makan 2 korban, polisi masih belum “ngeh” siapa yang melakukan penembakan. Mencurigai mahasiswa Korea ? Are you kidding ? That’s never happen. Tiga tahun tinggal di AS saya sudah bisa membaca bahwa AS memperlakukan bangsa-bangsa di dunia ini tidak sama. Yang dipilih-kasihi tentu nomor 1 Israel sebagai “anak emas”-nya Paman Sam. Kedua mungkin Irlandia, karena banyak nenek moyang orang AS adalah “Irish”. Ketiga pasti negara yang Amerika pernah jajah atau duduki misalnya Philippines. Keempat, negara yang pernah dibela mati-matian at all cost macam Korea Selatan. Seperti diketahui seingat saya, Perang Korea 1950-1953 selama 3 tahun jumlah tentara AS yang jadi korban di sana 75.000 orang, yang jauh lebih besar daripada Perang Vietnam 1964-1975 selama 11 tahun dengan jumlah korban tentara AS yang hanya 57.000 orang. Maksudnya apa, maksudnya orang Korea Selatan telah dianggap “friend” oleh bangsa AS karena mereka pernah bertempur berdampingan bertahan terhadap gempuran tentara Korea Utara dan RRC (Lain kali saya akan cerita tentang ini). Artinya pula, orang Korea Selatan jarang dicurigai di AS apapun yang mereka lakukan, daripada orang dengan wajah Timur Tengah atau orang yang berwajah Islam (dengan jenggot atau baju tertentu)..

Ketiga, yang cukup membuat saya shock adalah kenapa penembakan ini terjadi di Virginia Tech yang merupakan salah satu kampus tujuan saya ketika hendak melanjutkan post graduate study bidang Computer Science di tahun 1985 yang lalu. Setelah menerima tawaran beasiswa dari OFP (Overseas Fellowship Program) di tahun 1985, saya langsung search informasi di banyak buku (waktu itu internet belum seluas sekarang), terutama “Paterson’s Guide of the Graduate Studies” yang merupakan “buku babon” untuk cari universitas di AS. Oleh OFP yang waktu itu menunjuk Dr. Norman Goodman perwakilan IIE (Institute of International Education) di Jakarta, saya dipilihkan 3 universitas yaitu : Indiana University at Bloomington, Texas A&M dan The University of North Carolina. Untuk ketiga universitas ini application letter-nya dibuat oleh IIE. Lalu saya sendiri menambah 5 lamaran lagi ke : Virginia Tech (nama resminya panjang: Virginia Polytechnic Institute and State University), SUNY Binghamton, North Carolina State University, The University of California-Davis, dan Duke University. Nasib lamaran saya sudah tampak di tahun 1986. Saya diterima di Indiana University at Bloomington di bulan Juni 1986 dan pending diterima di Texas A&M Mei 1986. Tapi for some reason, fax dari Indiana Univ tidak sampai di BPPT karena mesin fax BPPT dimatikan karena bulan puasa dan Lebaran. Untung Indiana Univ kembali mengirimkan fax kedua dengan message yang agak jengkel dan nanya “Sebenarnya sih Tri Djoko ini mau sekolah di Indiana atau nggak sih ?”. Tepat 10 hari setelah Ibu saya wafat di bulan Oktober 1986, saya berangkat ke AS (nanti saya cerita tersendiri, sabar ya). Datang di Miami International Airport jam 12 malam tepat pada saat Halloween…!

Keempat, almarhum Mora Lombantoruan ternyata berasal dari keluarga militer. Ayahnya, Tohom Lombantoruan adalah perwira TNI-AD. Ibunya Rosa Sinaga sudah meninggal ketika Mora umur 3 tahun. Kemudian ayahnya menikah lagi dengan seorang perwira Kowad, Sugiarti. Dalam membesarkan anak rupanya Ibu Sugiarti menyayangi Mora seperti halnya ibu sendiri, malahan barangkali melebihi ibu sendiri mengingat pada umur yang sangat kecil Mora sudah ditinggal oleh ibunya sendiri untuk selamanya. Keluarga militer yang sederhana, bersahaja dan tidak muluk-muluk amat sangat mengingatkan dengan keluarga saya sendiri yang hidup sederhana.

Itu empat alasan mengapa peristiwa penembakan di Norris Hall, Virginia Tech, itu menarik perhatian saya..

Start ngeblog nih yee..

Wah..senang sekali akhirnya saya bisa menuliskan blog ini. Mungkin membuat blog baru bagi sementara orang itu mudah. Sebenarnya bagi saya mudah juga, tetapi keseriusan saya membuat blog mungkin cuman 35,41 % jadi ketika mentok dikit, saya sudah mundur, nggak jadi ! Terutama karena akses internet di kantor BPPT yang cenderung menurun seiring dengan bertambahnya staf yang berinternet-ria, yaitu setelah jam 8.30an. Kalaupun nyoba di rumah, TelkomNet instant yang saya pakai di rumah terus-terusan kick me out from the system alias putuuuussssss. Sebelumnya sih kagak begitu (sering putus), tetapi sejak Telkom gagal membujuk saya untuk beralih ke Speedy, maka Telkomnet jadi lambat dan sering putus…

Adakah pembaca blog ini yang berani menyarankan, sambungan internet di rumah yang PALING MURAH tapi PALING HANDAL dan PALING CEPET tuh apaan ? Speedy ? Esia ? IM2 ? StarOne ?
Tolong ya kasih komentar biar saya seneng..he..he..

Sebenarnya saya punya banyak perhatian di segala bidang yang mau saya omongin, dari musik, kampus (saya seorang dosen Teknik Informatika BINUS), politik, olahraga, travel, makanan, sampai mistik…ha..ha..

Sekian dulu. Keep in touch. Happy sharing

Hallo kawan!

Selamat datang di Blog saya