Pasar Kawak

Manakah salah satu tempat yang paling berkesan di masa kecil saya di kota kecil Madiun ? Pasar Kawak adalah jawabnya. Pasar kawak adalah istilah bahasa Jawa untuk “pasar loak” atau “flea market”, yaitu sejenis pasar yang menjual barang-barang bekas dari tool kit bekas (obeng +, obeng -, palu, kunci inggris, dsb) sampai buku-buku bekas (majalah “back issues”, komik-komik, sampai primbon). 

Di Madiun tahun 1970-an dulu, Pasar Kawak terletak di Jalan Haji Agus Salim persis di sebelah SMP saya yaitu SMP Negeri 2. Pasar yang selalu ramai di sebelah tembok sekolah SMP saya itu kalau siang ramainya mencapai puncak dari suara ibu-ibu dan bapak-bapak yang saling tawar menawar barang bekas sampai ramainya nyanyian “kenyo wandu” (banci alias bencong) yang ngamen pakai kotak sabun yang diberi 4 senar terbuat dari karet yang kalau dibetot bunyinya bakalan seperti ini…cetak dendang dung…cetak dendang dung…Lagu yang paling popular dinyanyikan pengamen kenyo wandu waktu itu antara lain “Hitam Manis”.  

“Hitam manis…hitam manis…pandang tak jemu…pandaaaang tak jemuuuu….cetak dendang dung…cetak dendang dung..”. 

Mungkin tidak ada di antara pembaca yang seberuntung saya waktu sekolah SMP, yaitu selama saya sekolah 3 tahun di SMP Negeri 2 Madiun, guru saya tua muda laki atau perempuan, semuanya tidak pernah marah sewaktu mengajar. Bagaimana mau marah ? Ada Pak Sugijanto guru ilmu ukur yang pada suatu hari mau marah dan mau menempeleng dua orang temen sekelas karena ngobrol melulu…e…e…pada waktu tangan sudah mau menempeleng, tiba-tiba terdengar suara “Hitam manis..hitam manis…cetak dendang dung..cetak dendang dung….“. Akhirnya Pak Sugijanto bukannya marah tapi malahan ikut nyanyi….Hopo tumon ? 

Begitu pula guru yang paling killer dan ditakuti oleh seantero murid SMP Negeri 2 bernama Pak Probo yang mengajar Sejarah Dunia akhirnya tidak pernah marah, walaupun suara semakin meninggi dan meninggi….pada akhirnya merendah lagi karena ada suara “cetak..dendang dung…cetak dendang dung….“ 

Uniknya yang terjadi di Madiun pada sekitar tahun 1970 itu, Pasar Kawak ada dua versi. Pasar Kawak siang bertempat di dekat Proliman Jalan Haji Agus Salim, yaitu di dalam pasar yang memang sudah disediakan oleh pemerintah. Tapi Pasar Kawak malam berpindah ke jalan di depan pasar, saya lupa namanya, tapi yang jelas namanya nama sebuah sungai (apakah Jalan Brantas ? kayaknya sih bukan). 

Hobbi saya waktu itu adalah mengunjungi Pasar Kawak malam ini. Dengan naik sepeda dari rumah saya yang berjarak sekitar 3 km, biasanya sendiri, di suatu hari saya menyusur Pasar Kawak malam ini dari ujung jalan yang satu menuju ujung jalan yang lain sepanjang kira-kira 300 meter. Yang paling saya buru adalah komik-komik bekas yang pada waktu itu sangat digandrungi oleh anak SD, SMP dan SMA di seluruh kota, yaitu komik barat karangan Yan Mintaraga (“Sebuah Noda Hitam“ dsb) sampai komik silat klasik karangan Ganes Th. (“Si Buta dari Gua Hantu“, “Si Pitung“, “Nilam dan Kesuma“, dsb), komik silat “agak jorok“ karangan Jair Warniponakanda (“Jaka Sembung“ dsb yang banyak menggambarkan secara vulgar prajurit Jepang memerkosa wanita pribumi), sampai komik Wiro si anak rimba (cerita anak rimba yang berkawan dengan seekor monyet yang mengembara dari Sumatera sampai Irian Jaya, tapi saya kira komik ini bukan karangan orang Indonesia)… 

Tujuan saya waktu itu berburu komik bekas di Pasar Kawak tidak lain tidak bukan adalah untuk mengkoleksi secara lengkap karya-karya komik dari Ganes Th, Jair Warniponakanda, dan Yan Mintaraga…yang akhirnya setelah berburu selama 1 tahun penuh, maka lemari saya penuh dengan buku komik bekas yang setiap bukunya waktu itu kalau tidak salah harganya Rp 10 sampai Rp 50 (sekitar Rp 1000 sampai Rp 5000 kalau pakai uang sekarang tahun 2007). Saya ingat uang yang diberikan ayah saya waktu saya SMP sebulan adalah sekitar Rp 500 (sekitar Rp 50.000 setara uang tahun 2007).. 

Ternyata 16 tahun kemudian yaitu pada tahun 1986, sewaktu saya tinggal selama 2 bulan di Kampus Bay Vista dari Florida International University di Miami, Florida untuk kursus bahasa Inggris di EF, kegiatan mengunjungi pasar kawak yang di Amrik disebut “Flea Market“ itu ternyata masih tetap berlangsung. Malahan piknik ke Flea Market ini dijadikan acara andalan oleh EF selain mengunjungi pantai Miami Beach, mengunjungi gedung-gedung Art Deco, mengunjungi Art Copo Deco Disco, sampai nonton 99-cent movie. Bedanya dengan pasar kawak di Madiun, flea market di Miami ini selain menjual barang-barang bekas juga menjual barang-barang baru berharga murah. Misalnya seorang teman membeli raket tennis baru merk Bard seharga $ 25 saja, sedangkan kalau di toko mungkin harganya dua kali lipat… 

Cerita sedihnya, seorang teman yaitu Jajang Hasyim pernah “hilang“ di flea market yang berlokasi di kota Fort Lauderdale ini selama berjam-jam mungkin saking asyiknya menawar barang dan karena luasnya flea market yang ada. Dari hilang jam 1 pm dan baru kembali ke Bay Vista yang jaraknya sekitar 10 km pada jam 11 pm !! 

Kedudukan Flea Market bagi orang Amerika tidak bisa disepelekan. Tidak hanya orang tidak punya, orang berkantong tebalpun banyak berburu barang bekas di flea market. Tidak kurang dari seniman perupa kondang Andy Warhol, sukanya mengumpulkan barang-barang antik murah dari flea market ini (kalau anda tinggal di Jakarta, mungkin jenis barang yang ditawarkan persis seperti yang ditawarkan oleh pasar barang bekas di Jalan Surabaya, Jakarta)..  

Ternyata 31 tahun kemudian yaitu di tahun 2001 waktu saya dan 42 teman lainnya dari BPPT, LIPI, BATAN dan LAPAN berkesempatan mengunjungi Seoul, kegiatan mengunjungi pasar loak ini tetap berlangsung..walau tanpa sengaja pada awalnya… 

Sesuai standar pegawai negeri, jika kita pergi ke luar negeri seperti Korea, maka setiap hari kita akan menerima uang lumpsum sebesar US $ 150,- yang nantinya sebagian besar dibayarkan biaya hotel dan sisanya masih dapat dibelikan oleh-oleh. Pada minggu-minggu pertama kita masih agak gede rasa dan memborong jaket-jaket wind breaker hitam atau biru tua bermerk Ossi atau Prada dengan kisaran harga 120.000 Won sampai 200.000 Won (Rp 840.000 sampai Rp 1,4 juta). Itupun di mal-mal besar seperti Samseong Mall atau setidaknya di toko-toko turis terkenal di kawasan Itaewon.. 

Tapi apa yang terjadi pada minggu keempat ? Beberapa di antara kita yang berbakat jadi intel ternyata telah menemukan pasar loak yang menjual barang-barang berharga murah, antara 5.000 Won sampai 10.000 Won (Rp 35.000 sampai Rp 70.000).. 

Karena suka memborong barang-barang serba murah dari baju sampai tas keren tapi dengan harga 5.000 Won saja dan kata “lima ribu” di bahasa Hang-Guk (bahasa Korea) adalah “O-con”, maka kelompok kita yang berjumlah 43 orang ini menamakan diri “Kelompok Ocon”… 

Ocon…ocon…ocon… 

Bedanya pasar loak di Amrik dan Korea tidak pakai “cetak…dendang dung…cetak dendang dung….”…seperti di Pasar Kawak Madiun dulu… 

Lulus S1 ngambil S2 atau ngambil Sertifikasi

Pertanyaan di atas diajukan oleh Handoko, seorang alumni Binus angkatan 1998 dari jurusan ganda Teknik Informatika dan Matematika kepada saya melalui salah satu blog saya. 

Rupanya Handoko membaca beberapa posting saya berupa komentar terhadap sebuah posting di blog Bung Anjar (priandoyo.wordpress.com ) yang membahas masalah sertifikasi CIA, CISA, CISM, CISSP dan CEH…                                                                                         

Sebenarnya tidak ada “patokan halus” (hard and fast rule) untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, adanya adalah “patokan kasar” (rule of thumb).. 

Pertanyaan itu penting dijawab, tidak hanya untuk Handoko seorang, tapi juga untuk seluruh mahasiswa Binus, bahkan untuk semua lulusan Teknik Informatika/ Ilmu Komputer, Sistem Informasi/ Komputerisasi Akuntansi, dan Sistem Komputer di seluruh Indonesia. 

Jawaban singkat saya adalah sebagai berikut, jika belum puas atau masih ada pertanyaan lagi, silahkan tulis komentar di posting ini, atau melalui japri ke saya di tridjokoeta@yahoo.com (Sorry, sebenarnya saya bukan ahli SDM seperti Bung Riri Satria www.ririsatria.net jadi sekali lagi, jawaban saya hanya sekedarnya dan belum tentu benar).. 

Jika anda lulus S1 dari jurusan-jurusan yang saya sebutkan tadi (IF/Ilkom, SI/KA, dan SK) dengan IPK minimal 3.00, sebaiknya anda langsung mencari kerja karena dengan IPK seperti ini mudah bagi anda untuk masuk sebagai fresh graduate (First Year Professional atau FYP) di perusahaan-perusahaan yang diinginkan. Begitu pula jika IPK anda di antara 2.75 sampai 2.99, anda juga bisa langsung mencari kerja, walaupun jumlah perusahaan yang anda masuki sangat terbatas.  Jika anda memutuskan ingin langsung kerja, andapun harus mempelajari beberapa contoh soal Aptitude Test yang banyak dijual di Gramedia (Matraman yang terlengkap, juga PIM). Selain itu, bahasa Inggris anda juga harus memenuhi syarat minimal, misalnya dengan TOEFL score 500 (anda bisa menghubungi LIA Slipi, samping Hotel Ibis, test TOEFL dilaksanakan setiap hari Senin jam 07.00-13.00, pendaftaran paling lambat hari Kamis sebelum test,biaya Rp 100 ribu Listening, Usage, dan Reading, serta Rp 125 ribu jika ditambah dengan Oral test). 

Nah, bila anda bukan termasuk sarjana dengan kategori “sexy” seperti yang saya sebutkan di atas (IPK min 3.00, TOEFL score min 550, Aptitude Test min 450), jangan segera berpikir bahwa masa depan anda sangat kelam, karena anda termasuk dalam 80% dari populasi lulusan IF/Ilkom, SI/KA, dan SK yang ada.  Setidaknya ada 3 jalur “jalan keluar” bagi anda untuk menuju dunia kerja yang diinginkan, yang akan saya terangkan satu demi satu berikut ini : 

Pertama, jika saya sekarang ini baru lulus dengan IPK di bawah 2.75 (2.00-2.74), maka saya akan memutuskan untuk mengambil S2 baik di bidang Teknik Informatika, Ilmu Komputer atau Sistem Informasi seperti yang ada di UI ataupun ITB. Itupun kalau saya punya biaya. Kalau tidak punya biaya, ya coba usahakan mencari utangan kanan kiri dari saudara, tetangga, atau kalau berani cobalah berutang di bank, tentu saja cari yang tingkat bunganya rendah (apa ada ya ?). 

Saat ini (Oktober 2007), biaya yang diperlukan untuk mengambil S2 bidang Teknik Informatika, Ilmu Komputer atau Sistem Informasi mungkin antara Rp 30 juta – Rp 40 juta untuk SPP saja, jika ditambah dengan biaya hidup Rp 1,1 juta per bulan, maka selama 2 tahun total biaya yang anda perlukan untuk mengambil S2 adalah antara Rp 56,4 juta sampai Rp 66,4 juta. Ya katakanlah dibulatkan menjadi Rp 70 juta (apakah angka-angka ini terlihat di website www.cs.ui.ac.id ?). 

Kedua, daripada mengambil S2 agar tampak “sexy” di mata calon employer namun dengan biaya yang mahal (Rp 60 juta – Rp 70 juta) dan waktu yang lama (minimal 2 tahun), maka kalau saya jadi anda saya lebih suka untuk mengambil sertifikasi professional bagi lulusan Teknik Informatika, Ilmu Komputer, Sistem Informasi/Komputerisasi Akuntansi dan Sistem Komputer. Hal ini sejalan dengan pemikiran pakar IT terkemuka Indonesia misalnya Dr. Jos F.P. Luhukay yang mengatakan bahwa “Sarjana S1 plus sertifikasi lebih disukai bagi employer daripada S1 plus S2”… 

Sertifikasi yang paling simple mungkin adalah MSNE (Microsoft Network Engineer) yang anda bisa ambil online di Jakarta dengan biaya test kalau tidak salah US $ 150 (Rp 1,5 juta). Keuntungannya, biaya cukup murah. Kekurangannya, bisa dibayangkan nggak perasaan anda setelah menjawab soal-soal ujian MSNE dan pencet tombol “confirm” dan beberapa detik kemudian anda dinyatakan gagal ??.. 

Sertifikasi paling simple lainnya adalah CCNA (Certified Cisco Network Analyst ??) yang biaya test online-nya mungkin sama dengan MSNE. Tapi walaupun sertifikasi MSNE dan CCNA ini cukup murah, tapi agar jangan buang-buang uang yaitu ikut test sertifikasi tapi tidak lulus, sebaiknya anda mempersiapkan diri dengan cara membaca buku-buku yang berkaitan dengan Microsoft certification dan Cisco certification. Buku-buku tersebut bisa anda baca di perpustakaan Binus Anggrek maupun Binus Hang Lekir, atau di Perpustakaan BPPT Jl. M.H. Thamrin 8 Jakpus, Gd. II lantai 4 (tepat di seberang Hotel Sari Pan Pacific).. 

Bedanya dengan sertifikasi yang lain seperti CISA, MSNE dan CCNA ini lebih spesifik ke merk peralatan tertentu (MSNE serba Microsoft, CCNA serba Cisco), sedangkan sertifikasi lainnya seperti CISA tidak terkait dengan merk peralatan/system tertentu. Sertifikasi selanjutnya yang bisa anda coba saya sarankan adalah CIA (Certified Internal Auditor), namun bagi orang yang background-nya bukan Accounting mungkin agak kesulitan mengambil test CIA yang pertama kali, kecuali belajar keras. Salah satu kemudahan sertifikasi CIA adalah bahan test-nya yang dicicil sedikit demi sedikit. 

Tapi jika IT adalah background anda, anda bisa langsung ngambil sertifikasi CISA (Certified Information Systems Auditor – belakangan kata “auditor” lebih diarahkan ke “assurance”). Coba cek informasinya di www.isaca.org. Biayanya kalau tidak salah sekitar US $ 420 (jika anda bukan anggota ISACA) atau US $ 370 (jika anda anggota ISACA). Untuk pendaftaran dini (early bird), biaya tersebut masih dipotong $ 35. Pada saat mengambil ujian sertifikasi yang biasanya bertempat di Jakarta International School (JIS) Tarogong, Cilandak, waktu yang diperlukan adalah 4 jam (09.00 – 13.00) dengan 200 pertanyaan dalam bahasa Inggris (multiple choice, 4 pilihan). Jika anda dapat menjawab 75% dari pertanyaan dengan benar, maka anda sudah selangkah menuju ke sertifikasi CISA. Untuk jelasnya, baca di website tadi. 

Kalau anda lebih cenderung menjadi Information Security Manager, maka sertifikasi yang anda ambil sebaiknya CISM (Certified Informations Security Manager). CISA dan CISM sertifikasinya dilaksanakan oleh ISACA, biaya kedua sertifikasi ini juga sama. 

Ada lagi CISSP (Certified Information Systems Security Professional). Dua atau tiga tahun yang lalu bila anda mau ambil sertifikasi CISSP, anda harus pergi ke Singapore, tapi saya dengar mulai tahun 2007 ini anda bisa ngambil sertifikasi CISSP di Indonesia. Kalau mau, anda bisa langsung nanya ke Dr. Eng Sarwono Sutikno, CISA, CISM, CISSP dari Dept Elektro ITB (email beliau kalau tidak salah ssarwono@yahoo.com ). 

Yang paling unik adalah yang terakhir ini yaitu CEH (Certified Ethical Hacker). Jika anda akan mengambil sertifikasi CEH ini, anda akan menjadi “hacker golongan putih” (sebagai lawan “hacker golongan hitam”). Ada beberapa orang Indonesia yang mendapat sertifikasi CEH ini, tapi biasanya ybs juga punya sertifikasi CISA. 

Untuk sertifikasi CIA, CISA dan CISM, anda bisa mengambil “C*** Preparation Course” yang dilaksanakan oleh Binus International University di Jalan Hang Lekir (websitenya kalau tidak salah jwc.binus.ac.id – jwc singkatan dari The Joseph Wibowo Center, beliau adalah pemilik Binus yang sudah almarhum). 

Ketiga, jika anda tidak mau mengambil salah satu dari dua kemungkinan yang saya sebutkan tadi, anda bisa memilih pilihan berikut. Dengan modal uang sekitar Rp 70 juta, anda bisa ngambil opsi sekolah S2 di luar negeri sambil bekerja. Ada dua pilihan, ke Jerman (lihat www.daau.de ) atau ke Amerika Serikat (lihat www.mum.edu ). Anda cukup mengajukan aplikasi online dilengkapi dengan persyaratan administrative (ijazah, transkrip, TOEFL score, sertifikat bahasa pemrogram seperti Java, dsb). Pada waktunya, anda akan ditest melalui telpon (kalau dari Amrik, biasanya pagi hari sekitar pukul 03.00 pagi di Indonesia – atau pukul 3 pm di Amrik). Anda akan ditest konversasi bahasa Inggris dan kemampuan pemrograman. Dari hasil wawancara melalui telpon ini, mereka akan memutuskan untuk memberikan “pinjaman” uang sekolah kepada anda yang anda harus bayar sambil “bekerja” (kalau di Amrik, “bekerja” tidak disebut “working” tapi “professional training course” atau PTC, ini hanya istilah imigrasi AS saja, so don’t worry so much). 

Ok, apapun pilihan anda, andalah yang menentukan. Sayangnya, informasinya sangat banyak walaupun ini saya juga sudah menulis sangat banyak, 4 pages euy…. 

Salam dari Bekasi,

Tri Djoko Wahjono 

Uji Kebahagiaan menurut Oprah

Pada  posting yang lalu yang berjudul “El Camino” saya sudah membahas tentang uji kebahagiaan.

Tapi berhubung yang saya sampaikan waktu itu kurang tepat, berikut ini saya tuliskan lagi 5 pertanyaan yang harus dijawab dalam uji kebahagiaan yang sebenarnya merupakan disertasi doktor di Universitas Oxford itu (untuk jelasnya silahkan lihat di www.oprah.com). 

1. In most way, my life is close to ideal (Pada umumnya, kehidupan saya mendekati ideal)

2. The conditions of my life are excellent    (Kondisi kehidupan saya sangat baik)

3. I’m satisfied with my life     (Saya puas dengan kehidupan saya)

4. So far I’ve gotten the important things I want in my life    (Sejauh ini saya telah mendapatkan hal-hal penting yang saya inginkan di kehidupan saya)

5. If I could live my life over, I would change almost nothing    (Jika saya dapat hidup kembali, saya ingin dilahirkan menjadi “saya” yang sekarang ini) 

Berilah skor 1 sampai 7 di masing-masing pertanyaan tersebut. Skor 1 artinya “tidak setuju” dan skor 7 artinya “sangat setuju”. Jumlahkan skor jawaban dari 5 pertanyaan tersebut. Nilai skor minimum adalah 5 dan nilai skor maksimum adalah 35. 

Menurut Dr. John Newton (?) yang diundang Oprah Winfrey di suatu show-nya itu, skor 5-10 berarti orang tersebut amat sangat tidak bahagia dalam kehidupannya, dan beberapa di antaranya ada kecenderungan ingin bunuh diri.

Sedangkan skor 31-35 berarti orang tersebut amat sangat puas akan kehidupannya selama ini.

Konon, 10% dari orang yang disurvai memperoleh skor 5-10, 10% orang memperoleh skor 31-35, dan 80% orang yang menjawab survai memperoleh skor di antara 11 sampai 30 (ya normally distributed-lah…)… 

Menurut Dr. John Newton selanjutnya, kebahagiaan sangat berhubungan dengan apa yang kita punya di dalam diri kita (what is inside) dan bukan berhubungan dengan apa yang di luar kita (what is outside). 

Kalau saya mengartikan, kebahagiaan itu berasal dari diri kita. Jika perasaan kita “nerimo ing pandum“ (bisa menerima apapun yang diberikan Tuhan kepada kita), pasti kita orang yang berbahagia.

Sebaliknya, bila kita selalu mengukur apa-apa yang ada pada diri kita menurut “standar“ yang dimiliki oleh orang lain, maka niscaya kita bukan termasuk orang yang berbahagia.  

Misalnya, kita merasa tidak punya mobil bagus seperi Alphard atau Harrier, tidak punya rumah bagus di Pondok Indah, tidak punya isteri secantik Dian Sastro, tidak punya kucing secakep kucingnya Dian Nitami, dan tidak punya perusahaan sebesar perusahaan Bob Sadino, maka celakalah kita, karena kita akan termasuk orang yang tidak berbahagia karena “memakai baju“ punya orang lain yang mungkin kekecilan atau kedodoran, dan bukan “baju“ yang seharusnya cocok dengan diri kita.. 

Nah, kini giliran anda menjawab 5 pertanyaan tersebut. Jika skor anda belum sampai mencapai 31-35 jangan khawatir, masih ada waktu untuk memperbaiki diri anda sendiri menjadi orang yang berbahagia, dengan cara mencari kebahagiaan itu di dalam hati kita sendiri. 

Tapi awas, jika skor anda antara 5-10, sebaiknya anda segera ketemu dengan seseorang yang bisa menasehati anda sehingga anda menjadi orang bahagia.. 

Salam dari Jatiwarna,-Tri Djoko Wahjono 

p.s. : Please comment di posting ini tentang skor anda. Ditunggu ya… 

Daging angsa yang luezaat

Enaknya bekerja di BPPT di tahun 1980an manakala Indonesia masih kaya adalah adanya kesempatan untuk “pilgrimage” ke Jerman. Maklum bos kita, B.J. Habibie, adalah lulusan Jerman yang bahasa Jerman aksen Aachen-nya mulus seperti German native speaker. Maka di tahun 1984, sayapun berkesempatan untuk mengunjungi luar negeri, yaitu ke Jerman Barat (sebelum 1989, Jerman dibagi dua, Republik Federasi Jerman alias Jerman Barat dan Republik Demokrasi Jerman alias Jerman Timur). 

Akhirnya tibalah giliran saya dan teman saya Sudjud Suratri untuk berangkat ke Jerman, menyusul tiga teman lainnya yang saat ini sudah ada di Jerman, yaitu Hernowo, Sumanto, dan Jajang Hasyim.  

Saya dan Sudjud naik Garuda Indonesia dari bandara Halim Perdanakusuma menuju Frankfurt, lalu diteruskan dengan Lufthansa menuju Munchen. Di airport Munchen bakalan di jemput sama teman Jerman, kata kawan bertiga yang sudah ada di Jerman itu. Setelah melalui cek imigrasi yang cukup nyebelin di airport Halim, naiklah kami ke pesawat Boeing 747 di First Class alias di megatop-nya Boeing 747 yang waktu itu adalah pesawat terbang terbesar di dunia. Saya sempat melihat Gus Dur pakai sandal duduk di kelas ekonomi, waktu transit di Abu Dhabi.. 

Mengapa pegawai negeri, masih muda pula, duduk di First Class ngalahin businessman yang duduk di kelas Business dan politikus sekelas Gus Dur yang duduk di Economy Class. Ceritanya tahun 1984 adalah awal resesi di Indonesia dan Garuda Indonesia sebagai flag carrier lagi menderita rugi. Akhirnya oleh Setneg, setiap pegawai negeri yang pergi ke luar negeri harus naik Garuda Indonesia, itupun harus normal fare, alias ongkos tertinggi di tiket. Kalau tidak salah, Jakarta-Munchen sekali jalan waktu itu kita bayar USD 2,450 (bandingkan di tahun 2007 ini tiket China Airlines dari Indianapolis-Jakarta pp yang jaraknya lebih jauh harga tiket ekonomi hanya USD 1,500).. 

Enaknya duduk di First Class, ada pramugara khusus yang melayani kita berdua. Mau whiskey, cognac, skotch, wine merah, wine putih, yang manis, yang sepet, semuanya akan dikasih gratis. Untungnya, kita berdua tidak biasa minum sehingga saya minum coca-cola terus sedangkan Sudjud malahan cuman minta air mineral (di tahun 1984 belum ada Aqua di Indonesia).. 

Penerbangan jarak jauh yang berjam-jam ini transit masing-masing selama 45 menit di bandara Changi, bandara Don Muang, Bangkok, kemudian di bandara Bombay (waktu itu belum bernama Mumbai), lalu Abu Dhabi, Roma, dan akhirnya mendarat di Frankfurt. Dari Frankfurt kita ganti pesawat Boeing 737 ke Munchen. 

Karena penerbangannya malam, tidak banyak yang bisa kita lihat waktu mendarat di Singapore, kecuali kekaguman kita berdua melihat air mancur dan airport yang megah di Changi Terminal I (di tahun 1992-1993 saya berkunjung 9 bulan di Singapore dan ternyata Changi Terminal II jauh lebih hebat), di bandara Dong Muang tidak banyak yang dilihat kecuali petugas bandaranya yang pakai baju pramugari Thai Airways. Di Bombay, malah kondisinya menyedihkan. Airportnya sangat sederhana, bahkan bila dibandingkan dengan bandara Halim Perdanakusuma sekalipun, misalnya di toiletnya ada orang yang minta-minta !  

Mulai di Abu Dhabi mata kita berdua semakin melek. Di tahun 1984 itu bandaranya sudah megah. Tempat transit kita malahan berbentuk kubah raksasa bagaikan di film James Bond terbaru. Pelayan toko di bandara Abu Dhabi ini tidak ada satupun yang wanita Arab. Mereka kebanyakan adalah wanita Filipina yang fasih berbahasa Inggris. Di bandara Roma, keadaannya jauh lebih menyenangkan dengan warna bandara yang didominasi warna hijau, dari truk pengangkut bahan bakar sampai dengan warna taksinya (taksi di Italia disebut “Rampa”).Di seantero ruang transit banyak polisi Italia berbaju hitam yang disebut Carabineri sedang membawa senjata otomatis semacam Steuyr atau Uzi. Toko-toko sport yang ada di bandara Roma penuh dengan barang-barang branded, misalnya Ulysee. 

Akhirnya tepat jam 6.00 pagi kami mendarat di airport Frankfurt Main. Banyak hal yang mengesankan yang kita lihat di sini, misalnya adanya Sex Shop di dalam bandara !!! Hal kedua yang mengesankan, sebelum kita memasuki pesawat menuju Munchen, masing-masing penumpang diminta untuk mengambil snack dan minuman yang tergantung di depan pintu gate ! Mungkin efisiensi ala Jerman, semuanya serba self service dan menghemat tenaga kerja. 

Sejam kemudian kita sudah mendarat di bandara Munchen dan dijemput oleh Mr. Klaus Wickel, partner kerja sekaligus tuan rumah kita untuk joint study on air and sea transportation di IABG (lembaga litbang industri) yang terletak di kota Ottobrunn salah satu suburb dari Munchen. Setelah perjalanan dengan mobil selama 30 menit sampailah kita di Hotel Pacific, Ottobrunn yang hanya 5 blok jaraknya dari IABG, kantor tempat kita mengadakan joint study dengan pihak Jerman Barat selama 2 bulan ini. 

Tiba di Hotel ini ternyata ketiga teman sekantor yaitu Hernowo, Sumanto dan Jajang Hasyim telah kembali ke Jakarta dan hanya menyisakan surat bagi kita berdua untuk dibaca. Dan surat itu berbunyi, “Pak Tri Djoko dan Pak Sudjud, selamat datang di Jerman. Semoga sukses bekerja dan masih sempat jalan-jalan. Hati-hati kalau makan di restoran. Minggu kemarin kami bertiga di Marienplatz makan schwein fleiss. Kami bertiga menyangka itu adalah panggang daging angsa, karena sebelumnya kami sudah intens berdiskusi lama mau makan apa. Waktu makan, kami bertiga menyangka wah…daging angsa di Jerman renyah, gurih dan enak. Setelah besoknya di kantor kami menanyakan apa arti schwein fleiss, mereka menjawabnya itu pork alias babi…..“ 

Sudjud yang kebetulan beragama katholik dan boleh makan pork tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan, saya tersenyum kecut membayangkan makan schwein fleiss…. 

Oooh…daging angsa yang uenaaak tenan… 

Besoknya di toko buku sebelah hotel, saya bela-belain beli buku Kamus Pons German-English yang berwarna hijau itu agar lain kali tidak terjerumus “ranjau-ranjau“ makanan yang lain… 

Willkommen im Deutschland…!!! 

Segao

Sewaktu tinggal di Eigenmann Hall, Bloomington, Indiana di tahun 1987-1989, saya bergaul dengan sebuah komunitas internasional berjumlah 1400 orang yang terdiri dari berbagai bangsa yang ada di dunia ini. Walaupun 50% dari penghuni asrama ini adalah orang Amerika, namun jumlah orang Indonesia juga cukup banyak yaitu 50 orang, dimana 70% di antaranya adalah karyasiswa (sebutan untuk PNS penerima beasiswa) yang mengambil postgraduate studies (Master’s dan Ph.D) dan sisanya 30% adalah undergrad yang sekolah di sini dengan biaya sendiri… 

[ Syarat masuk asrama bagi undergrad adalah sudah berusia 21 tahun atau level senior – sebutan untuk mahasiswa Bachelor’s tingkat 4. Alasannya, mahasiswa senior pasti sudah tahu manner kalau harus tinggal di asrama graduate yang menganut 24-hour quiet policy, sedangkan mahasiswa undergrad level freshman, sophomore dan junior, mungkin masih suka party dengan musik sangat keras…]. 

Kebangsaan warga asrama lainnya adalah Asia dan Amerika Latin yang membentuk sebagian besar orang non-Amerika, dan sisanya adalah dari Eropa dan Afrika… 

Biasanya di saat makan malam atau dinner, orang-orang Indonesia akan “mengundang” beberapa teman dari negara lain. Mereka itu bisa 1-2 orang Amerika, 1 orang Spanyol, 1 orang Hong Kong, 2-3 orang Filipina, 1 orang Jepang, 1 orang Thailand, dan sisanya orang Indonesia. Kalau tidak salah, setiap meja berkapasitas 12 tempat duduk, 6 di sebelah kiri dan 6 di sebelah sana… 

Salah satu di antara teman orang-orang Indonesia yang menarik ceritanya adalah tentang teman Jepang yang dipanggil Segao. Itu adalah first name-nya, sedangkan last name-nya tidak satupun di antara kita yang tahu, kecuali jika satu department di kampus atau satu lantai tinggalnya di asrama dengan Segao. Mungkin last name-nya Watanabe, atau Suzuki, who knows ? 

“My father owns a restaurant in New York”, katanya suatu hari. Tapi ciri yang paling menarik dari Segao adalah kekuatannya dalam melahap makanan. Atau tepatnya, kekuatannya dalam melahap makanan yang disukainya. Jika asrama kita menghidangkan spaghetti with meat sauce atau spaghetti with tomato sauce, Segao pasti berkali-kali minta nambah ke pelayan makanan.Biasanya ia bisa habis antara 11 sampai 13 piring spaghetti sekali dinner ! 

Pada suatu hari, sehabis dinner di ground floor tempat dining hall kita berada, saya bertemu Segao di elevator… “Hi, Segao. You must be the happiest man today”, kata saya berbasa-basi. “Why ?”, tanyanya. “Because dining hall served spaghetti, your favorit food”, jawab saya. “Oh..oh…today…I was not in a good mood, I stopped eating in the seventh plate…”, jawabnya enteng…. 

Segao yang berperawakan bulky, berkulit putih, muka bulat, kumis tipis dan selalu tersenyum, biasanya juga membawa “cangklong” (pipa rokok) jika mau pergi kuliah ke kampus. Pada suatu hari, saya naik bis kampus bersama Segao (abonemen bis kampus adalah $ 65 setahun). Tapi mendadak sopir bis menghentikan bisnya dan melalui kaca spion ia melihat ke belakang sambil berkata, “I don’t want somebody breaking rule by smoking in my bus..“, katanya sambil melirik Segao melalui kaca spion bisnya.

Saat itu, Segao memang ketangkap basah “mengemut” cangklong di mulutnya. “I don’t smoke….it’s only pipe”, sanggah Segao.

Rupanya sang sopir bis Pak Tua dengan rambut abu-abu tidak terlalu percaya dengan yang dikatakan Segao, ia barangkali mengharapkan ada asap yang keluar dari pipa rokok Segao… 

Akhirnya bis kampus berangkat lagi, tanda si sopir sudah yakin bahwa Segao hanya “ngemut” cangklong dan tidak merokok… 

“Orchids and Onions”

Ketika saya mendapat kesempatan meneruskan post graduate study di Computer Science Department, Indiana University at Bloomington tahun 1987-1989, perkembangan internet pada saat itu belum seperti internet yang anda ketahui sekarang. 

Internet di tahun-tahun itu baru menghubungkan antara universitas satu dengan universitas lain dengan domain .edu, antar unit-unit militer dengan domain .mil, antar lembaga milik pemerintah baik federal maupun state dengan domain .gov, antar organisasi-organisasi masyarakat dengan domain .org, dan antar anggota network dengan interest serupa dengan domain .net. 

Majalah online, ataupun koran online, pada waktu itu belum ada. Semuanya masih serba cetak. 

[ Quiz of the day, “Mengapa di tahun 2007 ini banyak majalah cetak Amerika yang diterbitkan di Indonesia ?” ]. 

Dengan sisa beasiswa yang ada saya berlangganan majalah Newsweek melalui Publisher’s clearing house (apakah begini namanya, I’m not so sure) sehingga uang berlanggananyapun sangat minim. Misalnya langganan Newsweek setahun hanya $ 24 bandingkan dengan cara berlangganan biasa yang sampai $ 52 setahun (52 issues). Kenapa bukan majalah Time yang saya pilih kalau hanya sekedar supaya lancar membaca bahasa Inggris ? Karena Time uang langganannya lebih mahal daripada Newsweek, dan I’ll tell you now..bahasa Time dengan bahasa Newsweek itu agak jauh berbeda style bahasanya. Time mungkin agak formal tapi Newsweek lebih banyak punya kosakata sendiri yang banyak slang-nya.  

Selain Newsweek, di sini saya harus mengakui bahwa sayapun berlangganan majalah dewasa “P” yang berlogo kelinci pakai dasi itu. Itupun gara-garanya saya punya teman dekat orang Surabaya yang mulai berpacaran dengan cewek bule Amerika. Jadi demi menjaga image (waktu itu, istilah “jaim” belum ada..he..he..), si cowok “mewariskan” langganan majalah “P” itu padaku. Apakah saya menolak ? He..he..wo..tidaklah.  

Setiap Selasa jam 11.00 am saya akan menerima majalah Newsweek langganan saya di locker saya No. 474 di lantai 1 Eigenmann Hall, persis di sebelah front office. Setiap harinya sekitar jam 10.00 am seorang cewek Amerika yang sedang “on duty” akan menyortir surat yang dikirim “Usmail” (pelesetan ala Pak Kadir teman saya, dalam menyebut pos Amerika “US MAIL”) dan memasukkannya ke alamat kamar masing-masing penghuni asrama saya, Eigenmann Hall.

Setiap Kamis jam 11.00 am, giliran majalah “P” saya yang datang. Bedanya, Newsweek akan dikirimkan seperti majalah yang anda kenal itu, tapi dengan ditempeli alamat saya “TDW, Eigenmall Hall #xxx, East 10th Street, Bloomington, IN 47404“. Sedangkan majalah “P” akan dikirimkan dalam amplop plastik berwarna hitam, dengan ditempeli alamat yang saya punya. 

Mungkin kegiatan mengintip locker apakah ada surat, majalah, atau junk mail yang datang, kemudian membuka locker dengan kunci kamar, dan mengambil surat atau majalah yang ada ini adalah salah satu kegiatan yang sangat mengesankan bagi saya yang tertanam dalam “long term memory” di otak saya. Buktinya, 20 tahun setelah saya keluar dari asrama di tahun 1989, saya masih sering bermimpi mengunjungi Amerika, menginap di Eigenmann dan pergi ke lantai 1 untuk mengecek apakah hari itu saya menerima mail…!! 

[ Salah satu kemudahan berkirim surat di asrama saya adalah adanya “chute mail” di setiap lantai di sebelah elevator, yaitu lubang untuk memasukkan surat dan surat itu akan meluncur ke bawah melalui lorong kecil yang transparan. Rasanya sangat senang melihat surat yang kita tulis meluncur ke bawah dengan cara yang cerdas seperti itu… ] 

Mail yang paling saya sukai, tentu saja kiriman surat dari Bank One yang memberitahu saya telah menerima beasiswa dari Indonesia sebesar $ 675 per bulan, $ 625 untuk beasiswa, dan $ 50 untuk book allowance. Surat kedua yang saya sukai adalah surat dari keluarga saya di Indonesia, yaitu isteri saya (anak saya di tahun 1989 masih berumur 6 dan 4 tahun, mana bisa menulis surat ? Paling mengirim kaset yang isinya Ditta nangis karena digodain mamanya dan kakaknya, Dessa. Tapi waktu umur 4 tahun Ditta sudah bisa menyangi “Nurlela” yang dinyanyikannya di kaset).

Mail yang paling dibenci tentu saja yang disebut “junk mail”, seperti undangan untuk ikut lotere yang disebut “sweep stake” dengan membayar $ 1 dan dijamin akan mendapat $ 10 juta. Mana mungkin, man ? 

Selain berlangganan majalah, di depan asrama dijual 8 jenis koran yang diletakkan di sebuah kotak dan bagi yang beli cukup membuka kotak itu dan memasukkan koin 25 cent ke “piggy bank” yang ada di samping kotak. Kalau anda nakal, anda bisa ambil korannya dan tidak bayar 25 cent. Tapi ini negara asing, lebih baik anda tidak aneh-aneh melanggar hukum apalagi demi menghemat 25 cent.

O ya, 8 jenis koran yang ada adalah The Herald Telephone yang merupakan koran lokal kota Bloomington (professor saya memelesetkannya menjadi “The Herarld Terrible”..he..he..), Indiana Daily Student yang merupakan koran kampus (professor saya memelesetkannya sebagai “Indiana Daily Stupid”…he..he..aya aya wae !), lalu Chicago Tribune yang merupakan koran Chicago sebagai kota terbesar di sekitar kota kecil saya, ada lagi The Indianapolis Star sebagai koran ibukota negara bagian saya Indiana (konon yang punya adalah bapaknya Dan Quayle, yang wajahnya ganteng dan wapresnya George Bush Sr. itu), masih ada lagi koran standar di seluruh dunia yaitu The New York Times yang font hurufnya mirip Kompas itu, lalu di sebelahnya ada koran bacaan anak-anak SOB (bukan Son-of-Bitch tapi School of Business) yaitu Wall Street Journal, dan ada koran konservatif aliran kanan yaitu Christian Science Monitor, serta yang terakhir koran satu-satunya yang berwarna yaitu USA Today.

Semua Koran itu berukuran lebar selebar Media Indonesia, kecuali Christian Science Monitor yang ukurannya sekecil Republika di Indonesia. Koran yang saya beli setiap hari biasanya adalah The Herarld Telephone. Tapi jika tim American Football kampus saya lagi menang, atau tim Basketball kampus saya lagi menang, saya akan membeli 7 koran yang ada tersebut dengan memasukkan 7 x 25 cent = $ 1.75. Yang tidak pernah saya beli hanya Wall Street Journal yang cuman muat berita saham NYSE dan tidak pernah memuat berita olahraga.  Mengapa saya harus beli koran sendiri padahal di library asrama saya koran-koran tersebut juga ada ? Wah, kalau tim football atau basketball universitas kita lagi menang kayaknya semua 1400 orang penghuni asrama akan menyerbu library untuk baca koran. Daripada antri, lebih baik beli koran sendiri dan bisa dibaca dengan tenang di dalam kamar… 

[ Itulah mengapa teman-teman kelompok transportasi BPPT hapal dengan setidaknya 6 koran Indonesia/Jakarta yang saya beli dan baca tiap hari yaitu Kompas, Media Indonesia, Republika, Rakyat Merdeka, IndoPos, Warta Kota dan akhir-akhir ini ditambah TopSkor… Habis, udah biasa baca banyak koran sih… ]  

Ada beberapa hal menarik yang sering dikupas oleh koran-koran Amerika seperti USA Today, yang berbeda dengan yang dikupas oleh koran-koran Indonesia/Jakarta. Misalnya, soal sakitnya hampir seluruh penduduk Amerika (termasuk saya) yaitu terkena flu. Maka koran itu akan menulis “Don’t worry if you catch a cold right now, it will go away in five days”. Jadi sebenarnya flu itu tidak perlu diobati, yang penting cuman minum vitamin untuk menguatkan tubuh, dan setelah beberapa hari penyakit flu itu akan pergi dengan sendirinya.

Yang menarik lagi adalah tentang weather forecast yang selalu 100% tepat, tidak seperti di Indonesia yang hampir selalu meleset sehingga ada joke “jika koran Indonesia bilang Jakarta akan hujan, jangan bawa payung karena yang bakalan terjadi adalah sebaliknya”

[weather forecast di Amerika tepat karena US Meteorological Survey mempunyai 4,500 titik pemantauan cuaca di seluruh Amerika dengan menggunakan super computer, sedangkan BMG Indonesia hanya mempunyai 50 titik pemantauan cuaca dengan menggunakan komputer…….PC !!! ] 

Judul tulisan di atas adalah salah satu kolom “Orchids and Onions” yang setiap hari hampir selalu muncul di halaman pertama kolom kiri bawah koran The Herarld Telephone. “Orchids” atau anggrek adalah menuliskan siapa yang hari kemarin perlu diberi acungan jempol karena telah berbuat baik dan berguna bagi masyarakat. Sedangkan sebaliknya “Onions” atau bawang merah adalah menuliskan siapa yang hari kemarin perlu diberi tanda jempol ke bawah karena telah berbuat mudharat bagi masyarakat. 

Wah, “Orchids and Onions” ini pasti sangat relevan ditulis oleh koran Indonesia atau Jakarta. Misalnya untuk masalah transportasi, “Orchids” adalah petugas penjaga palang kereta api di musim lebaran yang walaupun gajinya kecil tapi tetap menjalankan tugas dengan tanpa mengeluh. Sedangkan “Onions” diperuntukkan bagi pengendara bis antar kota yang ugal-ugalan sehingga membahayakan nyawa penumpang dan juga nyawa pengguna jalan lainnya. 

Selain locker surat di Eigenmann, ternyata “Orchids and Onions” ini membuat saya sangat terkesan, at least untuk sementara ini.. 

Sampai jumpa di cerita-cerita selanjutnya….  

“El Camino”

Luwih becik aku

mikul dawet karo uro-uro

tinimbang

numpak mercy ning  karo mbrebes mili 

[ I’d rather be a food peddler singing 

than driving a mercy car crying ] 

Petuah berbahasa Jawa tersebut pertama saya dengar dari Luhut Panjaitan, Menteri Perindustrian di masa lalu. Karena Luhut bukan orang Jawa melainkan orang Batak, maka saya duga nasehat itu didapatkannya waktu sekolah di akademi militer dulu, yang banyak gumilnya berasal dari suku Jawa.. 

“Are you kidding ? 

Chasing that bad guy with this Chevy ? 

I’d rather take this El Camino….” 

[  Penggalan dialog lucu di atas saya ambil dari sebuah film Hollywood yang dibintangi Brad Pitt tapi saya lupa judulnya dan berlokasi di perbatasan Mexico, mungkin California, New Mexico, atau Nevada, ketika Brad Pitt mau meminjam mobil Chevy, sebutan lain dari Chevrolet yang terkenal sebagai mobil murah di Amerika, dari sebuah persewaan mobil di bandara (Hertz, Avis, Dollar). Tapi teman barunya yang berwajah Latino sangar menyarankan Brad untuk jangan menyewa Chevy tapi menyewa mobil-mobil Cadillac kuno bermesin 8V 4000 cc di halaman parkir bandara agar dapat mengejar si penjahat yang melarikan mobilnya dengan amat sangat kencang. Oleh orang Latino itu, Cadillac diberi panggilan “El Camino” yang artinya “Si Raja”. Dengan tersenyum, saya menerjemahkan sendiri El Camino itu sebagai “Si Mobil Bobrok”….] 

Sebagai orang yang sudah berumur 50 tahun, apalagi bagi anak muda Yuppies (Young, Urban, Professional), mengendarai sebuah mobil Mercedes Benz (mercy) S600 di jalanan Jakarta di suatu siang yang sangat macet dengan chauver yang berseragam wool berwarna abu-abu, tentu dianggap sebuah kepuasan yang sangat tinggi (ultimate pleasure) dan tentu saja suatu kebahagiaan yang absolut (absolute happiness)… 

I did, but not lately…. 

Pulang dari ngajar ilmu komputer di Binus pada suatu siang yang mendung, tanggal tua pula, dengan beberapa mahasiswa yang ngobrol terus ketika diajar, saya pulang dari kampus dengan perasaan galau lalu menumpang Mikrolet M11 menuju Slipi. Tepat menjelang perempatan Slipi, hujan turun sangat derasnya, yang menghasilkan hawa dingin yang lumayan mampu menghapus panas dan pengapnya Jakarta pada siang itu. 

Seturun dari M11, di depan halte Jakarta Design Center saya langsung mau nyambung menuju Cawang dengan Patas P6 yang biasanya jumlahnya sangat banyak. Tapi entah kenapa, saya menunggu di dalam hujan deras di bawah payung lipat tiga yang kecil, tapi P6 tidak segera muncul. Baru setelah menunggu 15 menit, akhirnya Patas P6-pun datang. Saya segera naik dan mencari tempat duduk dekat jendela.

Rupanya bis kota Jakarta yang satu ini kondisinya sudah sangat menyedihkan karena mestinya 5 tahun yang lalu sudah masuk museum..(jangan bandingkan dengan bis kota Singapore yang aduhai mewahnya….) 

Bis kota yang banyak bocor di sana-sini itu ternyata mempunyai beberapa jendela yang tidak bisa ditutup ! Tingkapnyapun dua-duanya bocor. Akhirnya air hujan menerobos masuk tanpa permisi. Baju-baju penumpang pada basah, termasuk baju dan tas backpack saya. Tapi anehnya, siang itu perasaan saya berbahagia sekali. Tanggal tua, duwit di dompetpun tinggal tak seberapa. Naik taxi pasti tak cukup uangnya. Tapi guyuran tetesan air hujan di wajah saya justru membuat saya semakin bahagia.. 

Di luar bis kota, mobil-mobil pada macet karena genangan air hujan di Jalan Gatot Subroto dari depan kantor BPK sampai depan hotel Crowne Plaza di Semanggi.  Saya lihat beberapa mobil mewahpun pada macet. Walaupun tuan-tuan di mobil mercy (MB) dan beemers (BMW) dapat membaca koran di dalam mobilnya yang dingin karena AC, saya masih bisa melihat wajah-wajah kecewa tuan-tuan itu karena saking macetnya lalu lintas. Di dalam bis kota bobrok yang saya sebut “El Camino” ini, saya terus tersenyum, tersenyum, dan tersenyum, sambil mengingat Brad Pitt dan si Latino yang ngebut pakai El Camino…..Yeee…haaaaa….! 

Beberapa hari yang lalu, dua anak saya tumben pagi-pagi sudah megangin remote dua TV yang ada. “Mau lihat Oprah”, kata Ditta Ayu, anak yang kecil. “Saya juga”, kata Dessa Ayu, anak yang besar. Mama kedua anak yang biasanya selalu addicted melihat “si Entong”-pun kelihatannya pengin lihat Oprah, buktinya dia tidak segera menuju TV ketiga yang ada.  Pagi itu, Oprah Winfrey si Ratu Talkshow terkaya sejagat itu membahas topik yang menarik, yaitu Kebahagiaan alias Happines. Dia mengundang seorang doktor psikologi yang disertasinya di Oxford adalah tentang “Bagaimana Mencapai Kebahagiaan”.. 

Singkat cerita, si Oprah membawa 5 orang di panggung, 4 wanita dan 1 pria. Kelima orang yang dibawa Oprah itu semuanya tersenyum. Dan Oprahpun mulai bertanya kepada audience, “Who do you think the most happy one among these 5 people ?”. “Choose one by pressing number 1 until 5 in your button”, tambahnya.  

Ternyata semua audience salah, seorang cewek muda berbaju merah berkulit hitam manis yang bernama Charlotte yang dikira paling bahagia ternyata menduduki peringkat 3 paling bahagia. Kenyataannya, satu-satunya pria berumur 50 tahun berambut putih yang dari tadi tersenyum ternyata adalah orang yang paling bahagia, walaupun pekerjaannya sebagai Funeral Director dengan pengalaman 30 tahun yang kerjanya cuman mengantarkan orang mati ke kubur !! 

Oprah dan crewnya menanyakan kepada setiap orang yang hadir di studio untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana mengukur kebahagiaan” yang terdiri dari lima pertanyaan sebagai berikut (saya hanya mengingatnya dan tidak menuliskannya, sorry kalau saya salah, tapi kalau mau tepat bisa dilihat di www.oprah.com) : 

1. Apakah anda merasa diri anda orang bahagia ?

2. Apakah keinginan anda selama ini sudah terkabul ?

3. Apakah kalau anda dilahirkan kembali, anda ingin menjadi orang yang sama ?

4. Apakah orang lain menganggap anda orang yang berbahagia ?

5. Apakah menurut anda seharusnya anda memperoleh yang lebih baik dari sekarang ? 

Isi setiap pertanyaan tersebut dengan skor 1 sampai 7. Sehingga skor terendah di antara hadirin di Oprah show adalah 5 (1+1+1+1+1) dan skor tertinggi adalah 35 (7+7+7+7+7).  Skor 5 berarti orang itu sangat tidak bahagia, sangat merasa tidak berguna, bahkan beberapa di antaranya ingin bunuh diri.  Skor 31 sampai 35 mencerminkan rasa sangat bahagia. Di show itu, Oprah juga menanyai kelima orang yang dibawanya ke panggung mengapa mereka memperoleh angka sedemikian. Yang memperoleh angka rendah mengaku sangat depresi karena mempunyai anak 6 dan sulit untuk menghidupi mereka. Yang paling berbahagia ternyata mempunyai keluarga yang baik dan pekerjaan yang berguna bagi orang lain. Iseng-iseng saya mengisi setiap pertanyaan Oprah tersebut dengan angka 1 sampai 7. Setelah dijumlahkan, saya sangat terkejut, ternyata jumlah angka saya 35 !!! Apa artinya ? Artinya, saya amat teramat sangat berbahagia saudara-saudara !!! 

Kemudian saya menganalisis mengapa saya sangat berbahagia ? Ternyata saya mempunyai keluarga yang solid, isteri yang sederhana dan tidak macam-macam. Anak-anak manis yang sekolahnya dan pekerjaannya lancar. Kesehatan kamipun alhamdulillah baik-baik saja. Walaupun sebagai PNS, yang secara stereotype gajinya kecil, saya tetap merasa berbahagia karena gaji kecil kalau kita nerimo, ya itupun sudah cukup. Apalagi saya bisa bekerja sampingan sebagai dosen yang sangat saya nikmati dan syukuri. Sayapun mempunyai beberapa hewan peliharaan dari kucing, ikan, bahkan sampai kodok, dan semut, yang membuat saya merasa damai hanya dengan memandang tingkah laku mereka. Belum termasuk burung prenjak (honeybee) yang mecier-mecier (singing) di pohon belimbing saya…

Semuanya membuat saya merasa bahagia… 

Luwih becik aku

mikul dawet karo uro-uro

tinimbang

numpak mercy ning karo mbrebes mili 

Bagaimana dengan anda ?    

Salam,

-Tri Djoko Wahjono

Previous Older Entries