Fillet-o-catfish ala Mississipi

Hari ini di TransTV ditayangkan acara favorit “Wisata Kuliner” yang menampilkan si pembawa acara Ivo yang berbadan kecil sedang membawa ikan lele (catfish) yang panjangnya hampir seukuran pinggang si Ivo, alias panjang banget ! Kalau nggak salah, lokasinya adalah di daerah Binjai, Sumatera Utara.

Entah kemana perginya Pak Bondan “Maknyus” Winarno di hari Kamis pagi ini, karena biasanya Pak Bondan yang membawakan acara ini. Sedangkan Ivo si pembawa acara kecil itu, saya selalu mengingatnya sejak ia berani menantang pegulat sumo anak laki-laki remaja di tepian Danau Toba yang pemandangannya nan indah itu. Singkat kata, lele besar tadi kemudian dimasak ala Binjai yang bernama “lele goreng tepung saput telur” yang iris-irisan gorengannya mirip nugget. Kata si Ivo, “Mmmmm…mak nyus”.  

Saya jadi ingat kurang lebih 20 tahun yang lalu saya biasa makan lele sejenis tapi dengan cara mengolah dan memasak yang sama sekali berbeda. Selama tiga tahun saya tinggal di Eigenmann Hall, sebuah graduate dorm untuk singles yang ada di kampus saya, Indiana University at Bloomington.

Eigenmann Hall tingginya setinggi gedung Sarinah di Jalan Thamrin Jakarta, yaitu 14 lantai. Tapi bedanya, Eigenmann Hall berbentuk huruf “plus” yang setiap lantainya dihuni 4 wing x 25 orang = 100 orang, 2 wing dihuni female graduate students dan 2 wing lainnya khusus male graduate students. Jadi total penghuni di Eigenmann Hall sekitar 1400 orang (student body di Indiana University adalah 35.000 orang untuk undergrad dan grad, sedangkan total daya tampung dorm-nya adalah 23.000 orang – terbesar kedua di universitas Amerika setelah Michigan State yang mempunyai dorm dengan daya tampung 35.000 orang !!).

Seperti kebanyakan dormitory di universitas-universitas Amerika, Eigenmann Hall juga menyediakan makan sebanyak 20 kali seminggu, kecuali Minggu malam. Jadi setiap hari disediakan breakfast dari jam 06.00 – 10.00, lunch dari jam 11.00 – 14.30 dan dinner dari jam 16.30 – 19.30. All you can eat, all you can drink, dan all you can chew. Jadi apa saja boleh kita ambil sekenyangnya, kecuali main entries. Jadi boleh ambil soda sekenyangnya, atau salad sekenyangnya, atau dessert sekenyangnya. Tapi main entry, hanya dibolehkan ngambil sekali. 

Mengenai main entry ini, berbagai macam masakan dunia pernah dihadirkan. Mostly makanan American, European, Mexican, Greece, atau Chinese. Bagi teman-teman Indonesia yang berjumlah hampir 50 orang di Eigenmann, yang berat adalah nasi disediakan sebagai “salad”, dan itupun tidak selalu ada. Tahu mentah yang disebut “tofu” juga sering disediakan sebagai salad, walaupun munculnya tidak terlalu sering karena lebih mahal daripada daging ayam atau daging sapi.  

Untuk occasion tertentu, cara menyajikannya dikemas sesuai “tema” hari-hari besar yang ada. Misalnya waktu Halloween, lampu dining hall sengaja dimatikan dan diganti dengan lilin yang ditaruh di dalam buah pumpkin yang telah dibolongi membentuk ”kepala hantu”. Di hari-hari lainnya tiba-tiba dining hall disulap seolah kita sedang makan di Mexico, ataupun di Yunani. 

Cerita makanan ini bakalan panjang, soalnya saya telah tinggal di asrama ini selama 3 tahun. Tapi in general, menu di dining hall tidak akan ketemu lagi dalam 1 bulan berjalan. Jadi menu yang sama baru muncul bulan depannya lagi. 

Untuk menyingkat cerita, saya hanya bercerita tentang main entry atau menu utama yang berbahan ikan. Yang paling saya suka tentu saja panggang ikan lele yang ditangkap di Sungai Mississipi. Makanya disebut Mississipi cat fish.

Sungai Mississipi adalah sungai terpanjang ketiga di dunia setelah sungai Nil dan sungai Amazon. Konon mata airnya ada di sekitar Minnesota, dan mengalir melalui belasan negara bagian sepanjang 2000 meter dan bermuara di teluk Mexico di negara bagian Lousiana (wah…kalau saya salah, maapin ya, ini ditulis nggak pakai referensi apa-apa). Yang jelas Sungai Mississipi ini lebarnya jauh lebih lebar daripada sungai Musi, sungai Mahakam, ataupun sungai Barito. 

Cara memasak cat fish di sini, atau mungkin di semua negara bule, berbeda dengan di Indonesia. Tidak ada kepala, tidak ada ekor, tidak ada tulang, yang ada hanya daging yang diiris memanjang berukuran sekitar 1x 8 x 20 cm yang disebut “fillet” (diucapkan fi-le). Fillet dari cat fish tadi lalu dibumbui dengan sejenis rempah-rempah yang aduhai rasanya, lalu dipanggang di atas grill dengan bentuk kawat tertentu sehingga setelah matang, fillet-o-catfish akan terlihat gosong kotak-kotak bekas kawat pemanggangan. Rasanya ? Wah, Pak Bondan-pun pasti lupa mengatakan “Mak…nyusss” karena “It’s sooooo good…”… 

Sayangnya, Eigenmann jarang-jarang menyajikan cat fish untuk 1.400 piring sekali makan. Mungkin hanya 3 bulan atau 6 bulan sekali, mungkin cat fish hanya bisa ditangkap di musim panas saja waktu air sungai masih hangat dan ketika air sungai Mississipi mulai dingin, cat fish akan sembunyi di lumpur biar hangat….ngkali ! 

Selain fillet-o-catfish ala Mississipi, banyak masakan ikan lainnya yang disajikan di Eigenmann. Yang paling sering adalah ikan disajikan dalam bentuk goreng dan diiris sebesar fish nugget. Dari rasanya, mungkin itu ikan laut sejenis carper (kakap), trout atau bash. Yang jelas bukan salmon, karena daging salmon berwarna merah dan harganya amat sangat mahal. Tuna juga sering disajikan, tapi karena harganya mahal, kita cuman dikasih ”tetelannya” saja dalam bentuk tuna salad atau tuna sandwich. 

Tapi ada satu masakan ikan yang awalnya saya benci banget, tapi setelah lama tidak makan, jadi agak sedikit rindu. Yaitu daging ikan ”hatdog” (I am not sure about the spelling though.). Irisan ikan hatdog berukuran 4 x 4 x 8 cm direbus sampai matang, lalu penyajiannya diguyur dengan mayoinasse yang berwarna putih itu, daging ikan juga berwarna putih, lalu di atasnya dibubuhi dengan irisan kecil-kecil daun peterseli (sejenis daun kocai).

Rasanya ? Serupa tak sama dengan rasa minyak ikan yang dulu sering dicekokin ke mulut kita oleh ibu kita waktu kita masih kecil ….alias anyirrrrr….banget. Tapi karena itu ikan segar, rasa anyirnya bukan karena bakteri, tapi karena sudah rasa ikan dari sononya…he..he.. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: