“El Camino”

Luwih becik aku

mikul dawet karo uro-uro

tinimbang

numpak mercy ning  karo mbrebes mili 

[ I’d rather be a food peddler singing 

than driving a mercy car crying ] 

Petuah berbahasa Jawa tersebut pertama saya dengar dari Luhut Panjaitan, Menteri Perindustrian di masa lalu. Karena Luhut bukan orang Jawa melainkan orang Batak, maka saya duga nasehat itu didapatkannya waktu sekolah di akademi militer dulu, yang banyak gumilnya berasal dari suku Jawa.. 

“Are you kidding ? 

Chasing that bad guy with this Chevy ? 

I’d rather take this El Camino….” 

[  Penggalan dialog lucu di atas saya ambil dari sebuah film Hollywood yang dibintangi Brad Pitt tapi saya lupa judulnya dan berlokasi di perbatasan Mexico, mungkin California, New Mexico, atau Nevada, ketika Brad Pitt mau meminjam mobil Chevy, sebutan lain dari Chevrolet yang terkenal sebagai mobil murah di Amerika, dari sebuah persewaan mobil di bandara (Hertz, Avis, Dollar). Tapi teman barunya yang berwajah Latino sangar menyarankan Brad untuk jangan menyewa Chevy tapi menyewa mobil-mobil Cadillac kuno bermesin 8V 4000 cc di halaman parkir bandara agar dapat mengejar si penjahat yang melarikan mobilnya dengan amat sangat kencang. Oleh orang Latino itu, Cadillac diberi panggilan “El Camino” yang artinya “Si Raja”. Dengan tersenyum, saya menerjemahkan sendiri El Camino itu sebagai “Si Mobil Bobrok”….] 

Sebagai orang yang sudah berumur 50 tahun, apalagi bagi anak muda Yuppies (Young, Urban, Professional), mengendarai sebuah mobil Mercedes Benz (mercy) S600 di jalanan Jakarta di suatu siang yang sangat macet dengan chauver yang berseragam wool berwarna abu-abu, tentu dianggap sebuah kepuasan yang sangat tinggi (ultimate pleasure) dan tentu saja suatu kebahagiaan yang absolut (absolute happiness)… 

I did, but not lately…. 

Pulang dari ngajar ilmu komputer di Binus pada suatu siang yang mendung, tanggal tua pula, dengan beberapa mahasiswa yang ngobrol terus ketika diajar, saya pulang dari kampus dengan perasaan galau lalu menumpang Mikrolet M11 menuju Slipi. Tepat menjelang perempatan Slipi, hujan turun sangat derasnya, yang menghasilkan hawa dingin yang lumayan mampu menghapus panas dan pengapnya Jakarta pada siang itu. 

Seturun dari M11, di depan halte Jakarta Design Center saya langsung mau nyambung menuju Cawang dengan Patas P6 yang biasanya jumlahnya sangat banyak. Tapi entah kenapa, saya menunggu di dalam hujan deras di bawah payung lipat tiga yang kecil, tapi P6 tidak segera muncul. Baru setelah menunggu 15 menit, akhirnya Patas P6-pun datang. Saya segera naik dan mencari tempat duduk dekat jendela.

Rupanya bis kota Jakarta yang satu ini kondisinya sudah sangat menyedihkan karena mestinya 5 tahun yang lalu sudah masuk museum..(jangan bandingkan dengan bis kota Singapore yang aduhai mewahnya….) 

Bis kota yang banyak bocor di sana-sini itu ternyata mempunyai beberapa jendela yang tidak bisa ditutup ! Tingkapnyapun dua-duanya bocor. Akhirnya air hujan menerobos masuk tanpa permisi. Baju-baju penumpang pada basah, termasuk baju dan tas backpack saya. Tapi anehnya, siang itu perasaan saya berbahagia sekali. Tanggal tua, duwit di dompetpun tinggal tak seberapa. Naik taxi pasti tak cukup uangnya. Tapi guyuran tetesan air hujan di wajah saya justru membuat saya semakin bahagia.. 

Di luar bis kota, mobil-mobil pada macet karena genangan air hujan di Jalan Gatot Subroto dari depan kantor BPK sampai depan hotel Crowne Plaza di Semanggi.  Saya lihat beberapa mobil mewahpun pada macet. Walaupun tuan-tuan di mobil mercy (MB) dan beemers (BMW) dapat membaca koran di dalam mobilnya yang dingin karena AC, saya masih bisa melihat wajah-wajah kecewa tuan-tuan itu karena saking macetnya lalu lintas. Di dalam bis kota bobrok yang saya sebut “El Camino” ini, saya terus tersenyum, tersenyum, dan tersenyum, sambil mengingat Brad Pitt dan si Latino yang ngebut pakai El Camino…..Yeee…haaaaa….! 

Beberapa hari yang lalu, dua anak saya tumben pagi-pagi sudah megangin remote dua TV yang ada. “Mau lihat Oprah”, kata Ditta Ayu, anak yang kecil. “Saya juga”, kata Dessa Ayu, anak yang besar. Mama kedua anak yang biasanya selalu addicted melihat “si Entong”-pun kelihatannya pengin lihat Oprah, buktinya dia tidak segera menuju TV ketiga yang ada.  Pagi itu, Oprah Winfrey si Ratu Talkshow terkaya sejagat itu membahas topik yang menarik, yaitu Kebahagiaan alias Happines. Dia mengundang seorang doktor psikologi yang disertasinya di Oxford adalah tentang “Bagaimana Mencapai Kebahagiaan”.. 

Singkat cerita, si Oprah membawa 5 orang di panggung, 4 wanita dan 1 pria. Kelima orang yang dibawa Oprah itu semuanya tersenyum. Dan Oprahpun mulai bertanya kepada audience, “Who do you think the most happy one among these 5 people ?”. “Choose one by pressing number 1 until 5 in your button”, tambahnya.  

Ternyata semua audience salah, seorang cewek muda berbaju merah berkulit hitam manis yang bernama Charlotte yang dikira paling bahagia ternyata menduduki peringkat 3 paling bahagia. Kenyataannya, satu-satunya pria berumur 50 tahun berambut putih yang dari tadi tersenyum ternyata adalah orang yang paling bahagia, walaupun pekerjaannya sebagai Funeral Director dengan pengalaman 30 tahun yang kerjanya cuman mengantarkan orang mati ke kubur !! 

Oprah dan crewnya menanyakan kepada setiap orang yang hadir di studio untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana mengukur kebahagiaan” yang terdiri dari lima pertanyaan sebagai berikut (saya hanya mengingatnya dan tidak menuliskannya, sorry kalau saya salah, tapi kalau mau tepat bisa dilihat di www.oprah.com) : 

1. Apakah anda merasa diri anda orang bahagia ?

2. Apakah keinginan anda selama ini sudah terkabul ?

3. Apakah kalau anda dilahirkan kembali, anda ingin menjadi orang yang sama ?

4. Apakah orang lain menganggap anda orang yang berbahagia ?

5. Apakah menurut anda seharusnya anda memperoleh yang lebih baik dari sekarang ? 

Isi setiap pertanyaan tersebut dengan skor 1 sampai 7. Sehingga skor terendah di antara hadirin di Oprah show adalah 5 (1+1+1+1+1) dan skor tertinggi adalah 35 (7+7+7+7+7).  Skor 5 berarti orang itu sangat tidak bahagia, sangat merasa tidak berguna, bahkan beberapa di antaranya ingin bunuh diri.  Skor 31 sampai 35 mencerminkan rasa sangat bahagia. Di show itu, Oprah juga menanyai kelima orang yang dibawanya ke panggung mengapa mereka memperoleh angka sedemikian. Yang memperoleh angka rendah mengaku sangat depresi karena mempunyai anak 6 dan sulit untuk menghidupi mereka. Yang paling berbahagia ternyata mempunyai keluarga yang baik dan pekerjaan yang berguna bagi orang lain. Iseng-iseng saya mengisi setiap pertanyaan Oprah tersebut dengan angka 1 sampai 7. Setelah dijumlahkan, saya sangat terkejut, ternyata jumlah angka saya 35 !!! Apa artinya ? Artinya, saya amat teramat sangat berbahagia saudara-saudara !!! 

Kemudian saya menganalisis mengapa saya sangat berbahagia ? Ternyata saya mempunyai keluarga yang solid, isteri yang sederhana dan tidak macam-macam. Anak-anak manis yang sekolahnya dan pekerjaannya lancar. Kesehatan kamipun alhamdulillah baik-baik saja. Walaupun sebagai PNS, yang secara stereotype gajinya kecil, saya tetap merasa berbahagia karena gaji kecil kalau kita nerimo, ya itupun sudah cukup. Apalagi saya bisa bekerja sampingan sebagai dosen yang sangat saya nikmati dan syukuri. Sayapun mempunyai beberapa hewan peliharaan dari kucing, ikan, bahkan sampai kodok, dan semut, yang membuat saya merasa damai hanya dengan memandang tingkah laku mereka. Belum termasuk burung prenjak (honeybee) yang mecier-mecier (singing) di pohon belimbing saya…

Semuanya membuat saya merasa bahagia… 

Luwih becik aku

mikul dawet karo uro-uro

tinimbang

numpak mercy ning karo mbrebes mili 

Bagaimana dengan anda ?    

Salam,

-Tri Djoko Wahjono

3 Comments (+add yours?)

  1. tridjoko
    Oct 29, 2007 @ 15:29:47

    Ini koreksi pertanyaan Happiness Test versi Oprah (www.oprah.com) yang dikirim via sms oleh anak saya Ditta Ayu :

    1. In most ways, my life is close to ideal
    2. The conditions of my life are excellent
    3. I’m satisfied with my life
    4. So far I’ve gotten the important things I want in life
    5. If I could live my life over, I would change almost nothing

    Please answer in scale 1 to 7 (1=disagree, 7=agree)

    Terima kasih Ditta Ayu !

    Reply

  2. simbah
    Feb 29, 2008 @ 23:57:55

    Wah, . . baru ketemu nih . . .nanti saya coba jawab dah . . apakah bahagia pa belon thanks. . .Dik Yon . . .

    Reply

  3. Tri Djoko
    Mar 01, 2008 @ 09:01:44

    -> Simbah : ya mas, pelan-pelan aja ngejawabnya, yang penting berikan jawaban yang sejujurnya…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: