Daging angsa yang luezaat

Enaknya bekerja di BPPT di tahun 1980an manakala Indonesia masih kaya adalah adanya kesempatan untuk “pilgrimage” ke Jerman. Maklum bos kita, B.J. Habibie, adalah lulusan Jerman yang bahasa Jerman aksen Aachen-nya mulus seperti German native speaker. Maka di tahun 1984, sayapun berkesempatan untuk mengunjungi luar negeri, yaitu ke Jerman Barat (sebelum 1989, Jerman dibagi dua, Republik Federasi Jerman alias Jerman Barat dan Republik Demokrasi Jerman alias Jerman Timur). 

Akhirnya tibalah giliran saya dan teman saya Sudjud Suratri untuk berangkat ke Jerman, menyusul tiga teman lainnya yang saat ini sudah ada di Jerman, yaitu Hernowo, Sumanto, dan Jajang Hasyim.  

Saya dan Sudjud naik Garuda Indonesia dari bandara Halim Perdanakusuma menuju Frankfurt, lalu diteruskan dengan Lufthansa menuju Munchen. Di airport Munchen bakalan di jemput sama teman Jerman, kata kawan bertiga yang sudah ada di Jerman itu. Setelah melalui cek imigrasi yang cukup nyebelin di airport Halim, naiklah kami ke pesawat Boeing 747 di First Class alias di megatop-nya Boeing 747 yang waktu itu adalah pesawat terbang terbesar di dunia. Saya sempat melihat Gus Dur pakai sandal duduk di kelas ekonomi, waktu transit di Abu Dhabi.. 

Mengapa pegawai negeri, masih muda pula, duduk di First Class ngalahin businessman yang duduk di kelas Business dan politikus sekelas Gus Dur yang duduk di Economy Class. Ceritanya tahun 1984 adalah awal resesi di Indonesia dan Garuda Indonesia sebagai flag carrier lagi menderita rugi. Akhirnya oleh Setneg, setiap pegawai negeri yang pergi ke luar negeri harus naik Garuda Indonesia, itupun harus normal fare, alias ongkos tertinggi di tiket. Kalau tidak salah, Jakarta-Munchen sekali jalan waktu itu kita bayar USD 2,450 (bandingkan di tahun 2007 ini tiket China Airlines dari Indianapolis-Jakarta pp yang jaraknya lebih jauh harga tiket ekonomi hanya USD 1,500).. 

Enaknya duduk di First Class, ada pramugara khusus yang melayani kita berdua. Mau whiskey, cognac, skotch, wine merah, wine putih, yang manis, yang sepet, semuanya akan dikasih gratis. Untungnya, kita berdua tidak biasa minum sehingga saya minum coca-cola terus sedangkan Sudjud malahan cuman minta air mineral (di tahun 1984 belum ada Aqua di Indonesia).. 

Penerbangan jarak jauh yang berjam-jam ini transit masing-masing selama 45 menit di bandara Changi, bandara Don Muang, Bangkok, kemudian di bandara Bombay (waktu itu belum bernama Mumbai), lalu Abu Dhabi, Roma, dan akhirnya mendarat di Frankfurt. Dari Frankfurt kita ganti pesawat Boeing 737 ke Munchen. 

Karena penerbangannya malam, tidak banyak yang bisa kita lihat waktu mendarat di Singapore, kecuali kekaguman kita berdua melihat air mancur dan airport yang megah di Changi Terminal I (di tahun 1992-1993 saya berkunjung 9 bulan di Singapore dan ternyata Changi Terminal II jauh lebih hebat), di bandara Dong Muang tidak banyak yang dilihat kecuali petugas bandaranya yang pakai baju pramugari Thai Airways. Di Bombay, malah kondisinya menyedihkan. Airportnya sangat sederhana, bahkan bila dibandingkan dengan bandara Halim Perdanakusuma sekalipun, misalnya di toiletnya ada orang yang minta-minta !  

Mulai di Abu Dhabi mata kita berdua semakin melek. Di tahun 1984 itu bandaranya sudah megah. Tempat transit kita malahan berbentuk kubah raksasa bagaikan di film James Bond terbaru. Pelayan toko di bandara Abu Dhabi ini tidak ada satupun yang wanita Arab. Mereka kebanyakan adalah wanita Filipina yang fasih berbahasa Inggris. Di bandara Roma, keadaannya jauh lebih menyenangkan dengan warna bandara yang didominasi warna hijau, dari truk pengangkut bahan bakar sampai dengan warna taksinya (taksi di Italia disebut “Rampa”).Di seantero ruang transit banyak polisi Italia berbaju hitam yang disebut Carabineri sedang membawa senjata otomatis semacam Steuyr atau Uzi. Toko-toko sport yang ada di bandara Roma penuh dengan barang-barang branded, misalnya Ulysee. 

Akhirnya tepat jam 6.00 pagi kami mendarat di airport Frankfurt Main. Banyak hal yang mengesankan yang kita lihat di sini, misalnya adanya Sex Shop di dalam bandara !!! Hal kedua yang mengesankan, sebelum kita memasuki pesawat menuju Munchen, masing-masing penumpang diminta untuk mengambil snack dan minuman yang tergantung di depan pintu gate ! Mungkin efisiensi ala Jerman, semuanya serba self service dan menghemat tenaga kerja. 

Sejam kemudian kita sudah mendarat di bandara Munchen dan dijemput oleh Mr. Klaus Wickel, partner kerja sekaligus tuan rumah kita untuk joint study on air and sea transportation di IABG (lembaga litbang industri) yang terletak di kota Ottobrunn salah satu suburb dari Munchen. Setelah perjalanan dengan mobil selama 30 menit sampailah kita di Hotel Pacific, Ottobrunn yang hanya 5 blok jaraknya dari IABG, kantor tempat kita mengadakan joint study dengan pihak Jerman Barat selama 2 bulan ini. 

Tiba di Hotel ini ternyata ketiga teman sekantor yaitu Hernowo, Sumanto dan Jajang Hasyim telah kembali ke Jakarta dan hanya menyisakan surat bagi kita berdua untuk dibaca. Dan surat itu berbunyi, “Pak Tri Djoko dan Pak Sudjud, selamat datang di Jerman. Semoga sukses bekerja dan masih sempat jalan-jalan. Hati-hati kalau makan di restoran. Minggu kemarin kami bertiga di Marienplatz makan schwein fleiss. Kami bertiga menyangka itu adalah panggang daging angsa, karena sebelumnya kami sudah intens berdiskusi lama mau makan apa. Waktu makan, kami bertiga menyangka wah…daging angsa di Jerman renyah, gurih dan enak. Setelah besoknya di kantor kami menanyakan apa arti schwein fleiss, mereka menjawabnya itu pork alias babi…..“ 

Sudjud yang kebetulan beragama katholik dan boleh makan pork tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan, saya tersenyum kecut membayangkan makan schwein fleiss…. 

Oooh…daging angsa yang uenaaak tenan… 

Besoknya di toko buku sebelah hotel, saya bela-belain beli buku Kamus Pons German-English yang berwarna hijau itu agar lain kali tidak terjerumus “ranjau-ranjau“ makanan yang lain… 

Willkommen im Deutschland…!!! 

6 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Oct 25, 2007 @ 19:10:47

    Seperti pengalaman waktu pergi ke Hongkong, bahasa Inggrisnya aksen China, dan masih banyak pegawai restoran sulit berbahasa Inggris (dengan aksen yang dimengerti). Jadi kita dibekali tulisan China yang artinya no pork…..suatu ketika tulisan tadi hilang, temenku ga kurang akal, dia menggambar di kertas, hanya mau makan yang berkaki dua…hehehe

    Reply

  2. tridjoko
    Oct 29, 2007 @ 15:07:07

    Ya mbak, waktu saya ke Seoul dengan 43 teman lainnya dari BPPT, LIPI, BATAN dan LAPAN, kalau sore hari kita harus makan di warung seorang teman harus menggambar babi di kertas lalu diberi tanda coret, di lain hari di warung lainnya seorang teman bahkan harus menirukan suara seekor babi nguik…nguik…nguik…

    Sampai akhirnya “cerita aneh” itu terdengar oleh chaperon kita orang Korea yaitu Dr. Park Dong Bae yang akhirnya membuat tulisan “We cannot eat pork” dalam huruf Hang-guk (Korea) dan sejak itu kita aman-aman saja makannya, alias tidak kesandung babi lagi…he..he..

    Reply

  3. ditta
    Nov 04, 2007 @ 19:45:37

    hwahahahahaha..aku baru tau asal muasal kamus jerman-inggris yang ijo itu ternyata karena itu tho,,hehehehe..

    Reply

  4. tridjoko
    Nov 05, 2007 @ 15:30:11

    Iyalah…masak baru tahu seh ? Knapa gak pernah nanyak ?

    Reply

  5. ojobule
    Dec 28, 2009 @ 13:28:10

    ..lah berarti kawan moslem bpk Tri Djoko juga sempat makan schwein fleiss dong? Bagaimana rasanya itu pak..? hehe.. emang daging babi entah mau dinamain porkass atau schwein fleiss, tetap saja eunaaak tenannnn….

    Mas Ojobule,
    Lha…kawan saya itu terus menelan makanannya, dan setelah itu bilang “Alhamdulillah”….:)

    Reply

  6. sasono
    May 25, 2012 @ 20:54:10

    Mantap Om ceritanya…ini bisa jadi pembelajaran bg yg lain…cara penulisannya renyah gurih enak lagi 😀 😀

    Sasono,
    Makasih pujiannya Sas….hehehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: