“Orchids and Onions”

Ketika saya mendapat kesempatan meneruskan post graduate study di Computer Science Department, Indiana University at Bloomington tahun 1987-1989, perkembangan internet pada saat itu belum seperti internet yang anda ketahui sekarang. 

Internet di tahun-tahun itu baru menghubungkan antara universitas satu dengan universitas lain dengan domain .edu, antar unit-unit militer dengan domain .mil, antar lembaga milik pemerintah baik federal maupun state dengan domain .gov, antar organisasi-organisasi masyarakat dengan domain .org, dan antar anggota network dengan interest serupa dengan domain .net. 

Majalah online, ataupun koran online, pada waktu itu belum ada. Semuanya masih serba cetak. 

[ Quiz of the day, “Mengapa di tahun 2007 ini banyak majalah cetak Amerika yang diterbitkan di Indonesia ?” ]. 

Dengan sisa beasiswa yang ada saya berlangganan majalah Newsweek melalui Publisher’s clearing house (apakah begini namanya, I’m not so sure) sehingga uang berlanggananyapun sangat minim. Misalnya langganan Newsweek setahun hanya $ 24 bandingkan dengan cara berlangganan biasa yang sampai $ 52 setahun (52 issues). Kenapa bukan majalah Time yang saya pilih kalau hanya sekedar supaya lancar membaca bahasa Inggris ? Karena Time uang langganannya lebih mahal daripada Newsweek, dan I’ll tell you now..bahasa Time dengan bahasa Newsweek itu agak jauh berbeda style bahasanya. Time mungkin agak formal tapi Newsweek lebih banyak punya kosakata sendiri yang banyak slang-nya.  

Selain Newsweek, di sini saya harus mengakui bahwa sayapun berlangganan majalah dewasa “P” yang berlogo kelinci pakai dasi itu. Itupun gara-garanya saya punya teman dekat orang Surabaya yang mulai berpacaran dengan cewek bule Amerika. Jadi demi menjaga image (waktu itu, istilah “jaim” belum ada..he..he..), si cowok “mewariskan” langganan majalah “P” itu padaku. Apakah saya menolak ? He..he..wo..tidaklah.  

Setiap Selasa jam 11.00 am saya akan menerima majalah Newsweek langganan saya di locker saya No. 474 di lantai 1 Eigenmann Hall, persis di sebelah front office. Setiap harinya sekitar jam 10.00 am seorang cewek Amerika yang sedang “on duty” akan menyortir surat yang dikirim “Usmail” (pelesetan ala Pak Kadir teman saya, dalam menyebut pos Amerika “US MAIL”) dan memasukkannya ke alamat kamar masing-masing penghuni asrama saya, Eigenmann Hall.

Setiap Kamis jam 11.00 am, giliran majalah “P” saya yang datang. Bedanya, Newsweek akan dikirimkan seperti majalah yang anda kenal itu, tapi dengan ditempeli alamat saya “TDW, Eigenmall Hall #xxx, East 10th Street, Bloomington, IN 47404“. Sedangkan majalah “P” akan dikirimkan dalam amplop plastik berwarna hitam, dengan ditempeli alamat yang saya punya. 

Mungkin kegiatan mengintip locker apakah ada surat, majalah, atau junk mail yang datang, kemudian membuka locker dengan kunci kamar, dan mengambil surat atau majalah yang ada ini adalah salah satu kegiatan yang sangat mengesankan bagi saya yang tertanam dalam “long term memory” di otak saya. Buktinya, 20 tahun setelah saya keluar dari asrama di tahun 1989, saya masih sering bermimpi mengunjungi Amerika, menginap di Eigenmann dan pergi ke lantai 1 untuk mengecek apakah hari itu saya menerima mail…!! 

[ Salah satu kemudahan berkirim surat di asrama saya adalah adanya “chute mail” di setiap lantai di sebelah elevator, yaitu lubang untuk memasukkan surat dan surat itu akan meluncur ke bawah melalui lorong kecil yang transparan. Rasanya sangat senang melihat surat yang kita tulis meluncur ke bawah dengan cara yang cerdas seperti itu… ] 

Mail yang paling saya sukai, tentu saja kiriman surat dari Bank One yang memberitahu saya telah menerima beasiswa dari Indonesia sebesar $ 675 per bulan, $ 625 untuk beasiswa, dan $ 50 untuk book allowance. Surat kedua yang saya sukai adalah surat dari keluarga saya di Indonesia, yaitu isteri saya (anak saya di tahun 1989 masih berumur 6 dan 4 tahun, mana bisa menulis surat ? Paling mengirim kaset yang isinya Ditta nangis karena digodain mamanya dan kakaknya, Dessa. Tapi waktu umur 4 tahun Ditta sudah bisa menyangi “Nurlela” yang dinyanyikannya di kaset).

Mail yang paling dibenci tentu saja yang disebut “junk mail”, seperti undangan untuk ikut lotere yang disebut “sweep stake” dengan membayar $ 1 dan dijamin akan mendapat $ 10 juta. Mana mungkin, man ? 

Selain berlangganan majalah, di depan asrama dijual 8 jenis koran yang diletakkan di sebuah kotak dan bagi yang beli cukup membuka kotak itu dan memasukkan koin 25 cent ke “piggy bank” yang ada di samping kotak. Kalau anda nakal, anda bisa ambil korannya dan tidak bayar 25 cent. Tapi ini negara asing, lebih baik anda tidak aneh-aneh melanggar hukum apalagi demi menghemat 25 cent.

O ya, 8 jenis koran yang ada adalah The Herald Telephone yang merupakan koran lokal kota Bloomington (professor saya memelesetkannya menjadi “The Herarld Terrible”..he..he..), Indiana Daily Student yang merupakan koran kampus (professor saya memelesetkannya sebagai “Indiana Daily Stupid”…he..he..aya aya wae !), lalu Chicago Tribune yang merupakan koran Chicago sebagai kota terbesar di sekitar kota kecil saya, ada lagi The Indianapolis Star sebagai koran ibukota negara bagian saya Indiana (konon yang punya adalah bapaknya Dan Quayle, yang wajahnya ganteng dan wapresnya George Bush Sr. itu), masih ada lagi koran standar di seluruh dunia yaitu The New York Times yang font hurufnya mirip Kompas itu, lalu di sebelahnya ada koran bacaan anak-anak SOB (bukan Son-of-Bitch tapi School of Business) yaitu Wall Street Journal, dan ada koran konservatif aliran kanan yaitu Christian Science Monitor, serta yang terakhir koran satu-satunya yang berwarna yaitu USA Today.

Semua Koran itu berukuran lebar selebar Media Indonesia, kecuali Christian Science Monitor yang ukurannya sekecil Republika di Indonesia. Koran yang saya beli setiap hari biasanya adalah The Herarld Telephone. Tapi jika tim American Football kampus saya lagi menang, atau tim Basketball kampus saya lagi menang, saya akan membeli 7 koran yang ada tersebut dengan memasukkan 7 x 25 cent = $ 1.75. Yang tidak pernah saya beli hanya Wall Street Journal yang cuman muat berita saham NYSE dan tidak pernah memuat berita olahraga.  Mengapa saya harus beli koran sendiri padahal di library asrama saya koran-koran tersebut juga ada ? Wah, kalau tim football atau basketball universitas kita lagi menang kayaknya semua 1400 orang penghuni asrama akan menyerbu library untuk baca koran. Daripada antri, lebih baik beli koran sendiri dan bisa dibaca dengan tenang di dalam kamar… 

[ Itulah mengapa teman-teman kelompok transportasi BPPT hapal dengan setidaknya 6 koran Indonesia/Jakarta yang saya beli dan baca tiap hari yaitu Kompas, Media Indonesia, Republika, Rakyat Merdeka, IndoPos, Warta Kota dan akhir-akhir ini ditambah TopSkor… Habis, udah biasa baca banyak koran sih… ]  

Ada beberapa hal menarik yang sering dikupas oleh koran-koran Amerika seperti USA Today, yang berbeda dengan yang dikupas oleh koran-koran Indonesia/Jakarta. Misalnya, soal sakitnya hampir seluruh penduduk Amerika (termasuk saya) yaitu terkena flu. Maka koran itu akan menulis “Don’t worry if you catch a cold right now, it will go away in five days”. Jadi sebenarnya flu itu tidak perlu diobati, yang penting cuman minum vitamin untuk menguatkan tubuh, dan setelah beberapa hari penyakit flu itu akan pergi dengan sendirinya.

Yang menarik lagi adalah tentang weather forecast yang selalu 100% tepat, tidak seperti di Indonesia yang hampir selalu meleset sehingga ada joke “jika koran Indonesia bilang Jakarta akan hujan, jangan bawa payung karena yang bakalan terjadi adalah sebaliknya”

[weather forecast di Amerika tepat karena US Meteorological Survey mempunyai 4,500 titik pemantauan cuaca di seluruh Amerika dengan menggunakan super computer, sedangkan BMG Indonesia hanya mempunyai 50 titik pemantauan cuaca dengan menggunakan komputer…….PC !!! ] 

Judul tulisan di atas adalah salah satu kolom “Orchids and Onions” yang setiap hari hampir selalu muncul di halaman pertama kolom kiri bawah koran The Herarld Telephone. “Orchids” atau anggrek adalah menuliskan siapa yang hari kemarin perlu diberi acungan jempol karena telah berbuat baik dan berguna bagi masyarakat. Sedangkan sebaliknya “Onions” atau bawang merah adalah menuliskan siapa yang hari kemarin perlu diberi tanda jempol ke bawah karena telah berbuat mudharat bagi masyarakat. 

Wah, “Orchids and Onions” ini pasti sangat relevan ditulis oleh koran Indonesia atau Jakarta. Misalnya untuk masalah transportasi, “Orchids” adalah petugas penjaga palang kereta api di musim lebaran yang walaupun gajinya kecil tapi tetap menjalankan tugas dengan tanpa mengeluh. Sedangkan “Onions” diperuntukkan bagi pengendara bis antar kota yang ugal-ugalan sehingga membahayakan nyawa penumpang dan juga nyawa pengguna jalan lainnya. 

Selain locker surat di Eigenmann, ternyata “Orchids and Onions” ini membuat saya sangat terkesan, at least untuk sementara ini.. 

Sampai jumpa di cerita-cerita selanjutnya….  

7 Comments (+add yours?)

  1. simbah
    Mar 24, 2008 @ 18:06:08

    Diperlukan berapa Generasi lagi ya kira-2. . .?, utk dapat menyamai budaya tertib seperti di Amrik sana . . Dik Yon, . .gimana prediksi Anda..?

    Reply

  2. tridjoko
    Mar 25, 2008 @ 07:13:29

    –> Simbah : GOOD QUESTION mas !!! Saya sudah lama merenung untuk menjawab pertanyaan seperti ini. Waktu di tahun 2001 saya bertandang ke Korea, saya sempat menanyakan hal serupa kepada para pejabat penting Korea yang mengajar kelas saya waktu itu. Dan beliau-beliau itu harus garuk-garuk kepala beberapa kali sebelum bisa menjawab pertanyaan seperti ini…

    Untuk menjawab dengan jujur, masalah ini sangat sensitif mas ! Lebih baik nanti kita ngobrol sambil menikmati nasi pecel saja di Madiun, sambil mencari tahu jawaban pertanyaan ini…

    Jawaban sementara saya, kemajuan bangsa “ras kuning” (Jepang, Cina, Korea) karena mereka sangat menjunjung tinggi ajaran KONFUSIUS (menghormati orang tua, menghormati pakar (scholar), bekerja keras, rajin, jujur, malu jika berbuat salah)…

    Sedangkan kemajuan bangsa “kulit putih” (Amerika, Eropa) karena mereka punya moral yang disebut PURITAN, yang sangat menghormati kerja keras, menghormati para pakar dan para pemikir, dan rajin bekerja…

    Itu sebenarnya AKAR PERMASALAHAN (“root cause”) dari keterpurukan Indonesia dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain, even di level Asia Tenggara…

    Tapi itu kesimpulan sementara saya lho mas, jangan dianggap terlalu serius !

    Reply

  3. simbah
    Mar 25, 2008 @ 14:24:59

    Baik,. . .makasih banyak Dik Yon.
    Sebagai komparasi, generasi anak saya …sekarang sudah sangat jauh dgn kita zaman SMA dulu. Jujur saja, sopan santun dan perilaku kalah jauh dgn zaman kita dulu. Saya prihatin dgn kondisi ini, tapi kondisi lingkungan amat tidak mendukung terciptanya perilaku yg baik. Meski di Rumah kami sudah berusaha sekuat tenaga, supaya unggah-ungguh dijaga, tapi kalah kuat dgn pengaruh lingkungan. Gejala apa ini, saya belum paham benar. Dik Yon, di Mediyun sekarang lagi nge-trend orang pada suka minum dan mabuk. Minuman keras lokal (arjo) arak jowo, anjrah kemana-mana, meski pihak berwajib secara berkala menggerebek, toh lain waktu muncul lagi.
    Ada pameo para sepuh di seputar tempat tinggal saya, “anak2 Mediyun yg gak nerusin sekolah atau tidak segera keluar Mediyun, larinya bisa ditebak, mabuk-2 an.” Sering terjadi kecelakaan lalu lintas spd motor, yg ternyata setelah diperiksa berwajib, mereka mabuk, masya Allah.
    Utk sementara, rabaan saya, karena para orang-tua kurang komunikasi dgn putra-putri mereka sendiri. Rumah tinggal hanya sebagai tempat transit, masing2 kamar ada TV-nya. Interaksi antara anggota keluarga kurang intens.
    Kegemaran mabuk dan merokok sudah merambah anak2 SMA, saat ini saya juga lagi dipusingkang anakku yg bontot (cowok) klas satu SMA-I, naga2 nya terpengaruh pergaulan yg kurang pas, hingga Emaknya bolak-balik ke sekolah, buat consult dgn pihak Sekolah.
    Meski perasaan selalu berusaha dekat, baik sebagai Ayah maupun sahabat. Tapi pengaruh lingkungan jauh lebih kuat daripada Keluarga. Kondisi ini pernah diutarakan pakar Psikologi pada tayangan di TV, lupa TV mana. Saya dan Emaknya juga lagi cari rujukan, bagaimana supaya saya jangan sampai “kehilangan dia”.
    Apa benar, stigma mengurus anak perempuan relativ lebih mudah dibanding anak laki-2..?

    Reply

  4. tridjoko
    Mar 28, 2008 @ 09:34:48

    –> Simbah : wah..mas, kalau yang namanya ngebut dan mabuk-mabukan di Madiun itu sudah bukan berita lagi mas ! Di tahun 1973-1975 jaman saya SMA dulu kalau tetangga lagi meresmikan rumah barunya, pasti kita nyetel musik keras-keras (dari Koes Plus “Nusantara” sampai Ossibissa, Deep Purple, dan Led Zeppelin). Lalu rokokpun dihidangkan, ada Gudang Garam, ada Ji-Sam-Soe. Lha kita sebagai anak muda yang tidak gableg duwit, menyambut dengan baik uluran tangan itu.. Suasana agak malam, dan akhirnya Johnny Walker-pun dikeluarkan..dan masing-masing kita mencicipi bareng satu sisip sloki..Kalau saya tidak bisa minum melebihi satu sendok, karena bisa ngeliyer…

    Mengapa walaupun ngrokok dan sedikit minum, saya tidak “rusak” ? Ya karena waktu kita ngrokok dan minum itu, Bapaknya si tuan rumah juga hadir. Jadi beliau mengenalkan kita akan dunia yang “agak nakal” tapi di sisi lain dia juga mengontrol perilaku kita agar tidak keterusan… Alasan kedua, norma keluarga saya sangat kuat yang tidak mentolerir “delikuensi” (kenakalan) barang sekecilpun…

    Makanya di jaman saya SMA dulu mas, saya selalu “begadang” dengan teman-teman sekedar ngrokok sambil ngobrol di pinggir jalan, kadang-kadang sambil gitaran. Pulangnya paling cepat jam 12 malam.

    Kenapa Bapak Ibu saya mendiamkan saja ? Karena di rumah saya oleh Bapak tanahnya ditutupi dengan batu kerakal, yang kalau saya injak waktu saya pulang bakalan terdengar… Dan besoknya saya selalu masuk sekolah dengan semangat, dan tidak pernah “cutting class” (mbolos)….

    Makanya nilai SMA saya dulu nggak terlalu moncer. Karena selain pemalas, ikut lespun tidak mau. Makanya nilai saya pas-pasan dan tidak bisa nembus tes Teknik Sipil-Arsitektur ITB dan UGM..

    Saya kira cara mengasuh anak kita pak, jadikan keluarga kita itu “keluarga demokratis” dan bukan “keluarga otoriter”. Seringlah menanya anak-anak apa yang dia perlukan ? Uang ? Perhatian ? Dengarlah banyak keluhan mereka, dan beri saran yang “cespleng”. Kalau kita banyak memerintah, banyak membentak, banyak mengeluh, banyak menyalahkan anak, wah…hasilnya udah pasti : anak kita bakal menjauh dari kita ! Kalau sudah gitu, apa yang kita katakan tidak didengarkan, dan dia lebih suka mendengarkan dari orang lain..

    Hal lainnya yang perlu dilakukan ada men-“screen” teman-teman dia yang boleh digauli. Kalau sudah “rusak” pergaulannya dengan teman yang sudah “rusak” pula. Wah…susah ! Yah, ibaratnya menerapkan prinsip-prinsip “Risk Management” dalam keluarga kita kan boleh-boleh aja (kalau di Oilco, terapkan “Health & Safety”)…

    Mengasuh anak cowok lebih sulit daripada mengasuh anak cewek ? Ada benarnya, tapi juga ada salahnya. Kebetulan sejak anak saya kecil, kami sering bepergian naik mobil mengelilingi Jawa sambil jalan sambil ngobrol tentang “nilai-nilai kehidupan”. Jadi anak saya, seperti saya dulu mendapatkan dari orang tua saya, telah mendapatkan “nilai-nilai dasar” yang kudu dianut : mereka jadi tahu dengan sendirinya, mana yang “boleh dilakukan” dan mana yang “tidak boleh dilakukan”..

    Gitu lho mas !

    Reply

  5. simbah
    Mar 29, 2008 @ 20:50:31

    -> Saya renungkan,…benar juga penalaran Dik Yon. Utk itu, thanks much… memang ada beberapa ‘kebiasaan’ yg hilang, yaitu bepergian bareng rame2 keluar kota, atau mana saja. Yg dulu secara berkala saya lakukan selagi masih tinggal di Jkt.

    -> Kok pengalaman masa SMA hampir sama tho? Utk belajar rasanya berat sekali, sekarang menular ke anak saya yg bontot. Sebetulnya menyesal juga ya, waktu itu gak benar2 sinau. Rapotku kobong kabeh, maka Witono Basuki sampe geleng2 kepala.

    -> Anyway makasih sekali lagi, saya mau evaluasi lagi…

    Reply

  6. tridjoko
    Mar 29, 2008 @ 21:03:55

    –> Simbah : Ya mas, yang anda perlukan hanya sering berbicara dengan putra-putri anda sesering dan senyaman mungkin. Mungkin bisa sambil makan-makan bareng atau sambil piknik ke Yogya atau ke Malang…

    Santai saja, asal doa anda kuat, keluarga akan baik-baik saja. Semua anak pasti sudah ada rejekinya masing-masing…

    Ya, SMA saya dulu hampir nggak pernah belajar. Saya juga heran mengapa bisa lulus…he..he..he..

    Reply

  7. Vogel Medien Verlag
    Jul 04, 2014 @ 02:15:11

    Vogel Medien Verlag

    I really like reading through a post that will make people think.

    Also, many thanks for allowing me to comment!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: