Segao

Sewaktu tinggal di Eigenmann Hall, Bloomington, Indiana di tahun 1987-1989, saya bergaul dengan sebuah komunitas internasional berjumlah 1400 orang yang terdiri dari berbagai bangsa yang ada di dunia ini. Walaupun 50% dari penghuni asrama ini adalah orang Amerika, namun jumlah orang Indonesia juga cukup banyak yaitu 50 orang, dimana 70% di antaranya adalah karyasiswa (sebutan untuk PNS penerima beasiswa) yang mengambil postgraduate studies (Master’s dan Ph.D) dan sisanya 30% adalah undergrad yang sekolah di sini dengan biaya sendiri… 

[ Syarat masuk asrama bagi undergrad adalah sudah berusia 21 tahun atau level senior – sebutan untuk mahasiswa Bachelor’s tingkat 4. Alasannya, mahasiswa senior pasti sudah tahu manner kalau harus tinggal di asrama graduate yang menganut 24-hour quiet policy, sedangkan mahasiswa undergrad level freshman, sophomore dan junior, mungkin masih suka party dengan musik sangat keras…]. 

Kebangsaan warga asrama lainnya adalah Asia dan Amerika Latin yang membentuk sebagian besar orang non-Amerika, dan sisanya adalah dari Eropa dan Afrika… 

Biasanya di saat makan malam atau dinner, orang-orang Indonesia akan “mengundang” beberapa teman dari negara lain. Mereka itu bisa 1-2 orang Amerika, 1 orang Spanyol, 1 orang Hong Kong, 2-3 orang Filipina, 1 orang Jepang, 1 orang Thailand, dan sisanya orang Indonesia. Kalau tidak salah, setiap meja berkapasitas 12 tempat duduk, 6 di sebelah kiri dan 6 di sebelah sana… 

Salah satu di antara teman orang-orang Indonesia yang menarik ceritanya adalah tentang teman Jepang yang dipanggil Segao. Itu adalah first name-nya, sedangkan last name-nya tidak satupun di antara kita yang tahu, kecuali jika satu department di kampus atau satu lantai tinggalnya di asrama dengan Segao. Mungkin last name-nya Watanabe, atau Suzuki, who knows ? 

“My father owns a restaurant in New York”, katanya suatu hari. Tapi ciri yang paling menarik dari Segao adalah kekuatannya dalam melahap makanan. Atau tepatnya, kekuatannya dalam melahap makanan yang disukainya. Jika asrama kita menghidangkan spaghetti with meat sauce atau spaghetti with tomato sauce, Segao pasti berkali-kali minta nambah ke pelayan makanan.Biasanya ia bisa habis antara 11 sampai 13 piring spaghetti sekali dinner ! 

Pada suatu hari, sehabis dinner di ground floor tempat dining hall kita berada, saya bertemu Segao di elevator… “Hi, Segao. You must be the happiest man today”, kata saya berbasa-basi. “Why ?”, tanyanya. “Because dining hall served spaghetti, your favorit food”, jawab saya. “Oh..oh…today…I was not in a good mood, I stopped eating in the seventh plate…”, jawabnya enteng…. 

Segao yang berperawakan bulky, berkulit putih, muka bulat, kumis tipis dan selalu tersenyum, biasanya juga membawa “cangklong” (pipa rokok) jika mau pergi kuliah ke kampus. Pada suatu hari, saya naik bis kampus bersama Segao (abonemen bis kampus adalah $ 65 setahun). Tapi mendadak sopir bis menghentikan bisnya dan melalui kaca spion ia melihat ke belakang sambil berkata, “I don’t want somebody breaking rule by smoking in my bus..“, katanya sambil melirik Segao melalui kaca spion bisnya.

Saat itu, Segao memang ketangkap basah “mengemut” cangklong di mulutnya. “I don’t smoke….it’s only pipe”, sanggah Segao.

Rupanya sang sopir bis Pak Tua dengan rambut abu-abu tidak terlalu percaya dengan yang dikatakan Segao, ia barangkali mengharapkan ada asap yang keluar dari pipa rokok Segao… 

Akhirnya bis kampus berangkat lagi, tanda si sopir sudah yakin bahwa Segao hanya “ngemut” cangklong dan tidak merokok… 

2 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Oct 25, 2007 @ 19:13:50

    Kenapa ya orang yang merokok pakai cangkong, senang mengemut cangklongnya? Atau mungkin kayak anak kecil yang ngemut jarinya???

    Reply

  2. tridjoko
    Oct 29, 2007 @ 16:56:14

    Kan tembakau itu nyandu. Jadi orang yang merokok klobot, rokok linting, rokok beli, ataupun orang yang suka merokok cangklong (pipa) akan merasa tersiksa jika tidak bisa merokok, makanya kalau terpaksa mereka akan “ngemut” rokok yang tidak dinyalakan, ataupun “ngemut” pipa tanpa tembakau…

    Di Korea yang saya lihat, setiap 1 jam seminar selalu ada break supaya orang-orang yang nyandu merokok akan mempunyai waktu untuk merokok.

    Tapi hati-hati bila bepergian ke Amerika atau Singapore, karena merokok di ruang publik cenderung dilarang. Bahkan di SIngapore, dendanya sangat besar kalau ketangkap merokok, kalau tidak salah Sin $ 300 (Rp 1,8 juta)..

    Moral of the story, ikutin aturan di negara kita berada. Selain, tentunya, bawa passport kemana saja kita pergi. Supaya kalau terjadi apa-apa, kita bisa selamat…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: