Lulus S1 Ngambil S2 atau Langsung S3

Ini merupakan penggalan e-mail yang saya tulis untuk salah satu keponakan saya yang baru lulus sarjana dari sebuah perguruan tinggi terkenal di kota Bandung….

 

…….Pertanyaannya kembali sama dengan sebelumnya, kalau kita bisa sekolah S2/S3 di Luar Negeri, mengapa kita harus sekolah di Dalam Negeri ?

 

Sebenarnya ada perbedaan yang besar antara sekolah S2/S3 di dalam negeri dengan di luar negeri. Sekolah di dalam negeri tentu tidak perlu persiapan khusus di bidang bahasa asing. Sekolah di dalam negeri juga tidak memerlukan penyesuaian tentang culture, language, manner, attitude, lifestyle, termasuk juga weather dan clothing. Sementara sekolah di luar negeri sebaliknya, kita harus siap mulai jauh-jauh hari, minimal 6 bulan sebelumnya mengenai hal-hal semua itu. Kecuali bagi orang yang sangat cepat menyesuaikan, mungkin ia hanya perlu 3 bulan (terutama bagi orang yang pernah pergi ke luar negeri sebelumnya). Tapi bagi kebanyakan teman di BPPT dulu, persiapan mereka untuk belajar ke luar negeri biasanya 1 tahun.

 

Master’s dulu atau langsung Ph.D ? 

Waktu saya mendaftar untuk melanjutkan program Master di USA tahun 1986 dulu, saya melamar ke 8 universitas (3 pilihan saya + 3 pilihan IIE = 6 pilihan dilamarkan oleh IIE + 2 saya nglamar sendiri = 8 pilihan) yaitu Univ. of California-Davis, Univ. of North Carolina, Indiana Univ., Texas A&M Univ, North Carolina State Univ., Duke Univ, State Univ of New York – Binghamton, dan Louisiana State Univ. Tapi hampir semuanya ditolak, kecuali Texas A&M yang diterima “pending” dan Indiana Univ. yang full menerima saya.

 

Mengapa ? Beberapa tahun setelah itu saya sadar bahwa dari 8 lamaran tersebut semuanya saya lamar ke program Master’s, dan tidak satupun yang melamar ke program Ph.D. Sementara teman-teman BPPT, LIPI, dan BATAN yang banyak diterima di universitas berbagai macam mereka langsung melamar ke program Ph.D.

 

Mengenai hal ini saya tanyakan ke teman S1 Statistics saya di IPB yang saat itu ngambil Ph.D. in Industrial Engineering di Purdue University, West Lafayette, Indiana. Dia menjawab, “Soalnya Admission Director di universitas yang anda lamari akan memandang tinggi cita-cita anda jika anda melamar lansung ke Ph.D. Jika program Ph.D. tidak langsung diterimapun, anda dipersilahkan untuk mengambil program Master’s terlebih dahulu. Sedangkan kalau anda melamar hanya ke Program Master’s maka sebagian universitas akan ogah-ogahan menerima karena anda bukan dalam kelas “the shining intellect”…”

Apa yang perlu dipersiapkan ? 

Kalau sempat ngecek di internet tentang persyaratan sekolah di luar negeri khususnya U.S. maka hal itu tak jauh-jauh amat dari :

1. Ijazah asli dan terjemahannya

2. Transkrip asli dan terjemahannya

3. Skor TOEFL international minimal 550, kecuali Computer Science dan Chemistry

    (minimal 570) dan Law (minimal 600).

    Kalau tahun 2007 sekarang itu disebut PBT (Paper-Based Test) yang ujiannya

    Di Jakarta kalau tidak salah 6 bulan sekali. Kalau mau yang kapan saja bisa test

    Namanya CBT (Computer-Based Test), tapi skalanya beda, kalau tidak salah CBT skor   

    145 sama dengan PBT skor 550.

4. Skor Graduate Record Examination (GRE) – General minimal 1800 (ada 3 kategori –

     Quantitative, Qualitative, dan Verbal. Untuk typical orang Indonesia Quantitative bisa

     750, Qualitative 700, dan Verbal sekitar 300).

    Selain itu, bila mbak Ani dari Elektro maka juga harus ngambil GRE – Subject Test

    Dan pilih Subject Test-nya yang Electrical Engineering.

5. Surat Rekomendasi dari 3 Professor, 1 di antaranya Dosen Pembimbing Skripsi,

    Menggunakan formulir standar dari universitas bersangkutan (biasanya downloadable)

6. Surat Keterangan Sehat dari Dokter Rumah Sakit (kalau untuk US agak simple, tapi

    Untuk Negara Commonwealth testnya lengkap dari darah, urine, gula, roentgen)

7. Affidavit – atau surat pernyataan menjadi sponsor, kalau bayar sendiri maka

    Affidavitnya berupa bank garansi selama 2 tahun untuk program Master’s dan 4 tahun

    Untuk program Ph.D. (kalau di Indiana 1 tahun USD 17,500, maka bank garansi untuk

    Program Master’s adalah punya duwit 2 x USD 17,500 = USD 35,000).

8. Curriculum Vitae – tapi untuk US biasanya berupa essay 2 halaman kira-kira 9

    Paragraph. Tiga paragraph pertama ceritakan latar belakang anda (lahir dimana, orang

    Tua pendidikan dan pekerjaannya apa, apa yang anda ambil di S1). Tiga paragraph

    Kedua ceritakan pekerjaan anda sekarang setelah lulus, apakah jadi dosen atau pegawai

    Pemerintah. What are you doing, apa yang anda kerjakan sekarang dan apakah ada

    Kaitannya dengan subject / major yang akan anda ambil nanti di universitas US.

    Paragraf ketiga ceritakan apa yang akan anda lakukan setelah anda menyelesaikan

    Studi di US.

 

Dari 8 syarat tersebut yang paling sulit adalah TOEFL score, GRE score (General + Subject Test) dan Affidavit. Tapi sebenarnya yang terakhir bisa diakali, pinjam aja duwit USD 35,000 dan masukkan tabungan kita, dan minta bank tulis surat keterangan (Bank Garansi) bahwa kita punya duwit USD 35,000 dan kirimkan ke US pasti beres.

Milih universitas mana ? 

Bagi rata-rata orang Indonesia, universitas di US yang terkenal atau dikenal kebanyakan yang berada di East Coast (Harvard, Boston) atau West Coast (UC Berkeley, Stanford, USC, UCLA). Tapi sebenarnya, biaya hidup di East Coast dan West Coast itu dua kali lipat daripada biaya hidup di universitas pedalaman macam di Midwest (Iowa, Minnesota, Indiana, Wisconsin, Illinois, Michigan, Ohio).

 

Saya pernah nanya Amanda Niode Katili (anak perempuannya Pak J.A. Katili), “Nda, gimana sih saya harus milih universitas di AS ?”. Dia jawab, “O baca aja buku Patterson’s Guide of The Graduate Study yang 5 jilid itu, atau pilih universitas berdasarkan Conference-nya”.

 

Buku Patterson’s jaman dulu ada di Perpus BPPT dan USIS (United States Information Services), nggak tahu sekarang.

 

Conference adalah kumpulan universitas yang sama hebat namanya dan sama jumlah mahasiswanya, yang biasanya saling bertanding di bidang olahraga atau disebut juga NCAA – basketball, football, soccer, athletic.

 

Kalau saya akan memulai studi lagi di US saya akan memilih satu di antara Conference berikut :

1. Ivy League – paling sulit dimasukin karena univ tertua sebelum USA merdeka

2. Atlantic Coast Conference – ada di pantai timur tapi agak selatan

3. Big Ten Conference – ada di Midwest agak timur

4. Big Eight Conference – ada di Midwest agak barat

5. Southwest Conference – ada di Selatan barat

6. Pacific 10 Conference – ada di pantai barat

 

Kalau mau cari informasi, mulailah nyari dari 6 conference tersebut, total ada 50-60 universitas (dari sekitar 500 universitas di US yang menawarkan program Master’s dan Ph.D. in Electrical Engineering). Ini contoh universitasnya :

IVY LEAGUE

1. Harvard  (www.harvard.edu)

2. Brown

3. Yale

4. Princeton

5. Columbia

6. Cornell

7. Darmouth

8. William & Marry

 ACC

1. North Carolina State (www.ncsu.edu)

2. North Carolina

3. Duke

4. Clemson

5. Virginia

6. Georgetown

7. West Virginia

8. Syracuse

 BIG TEN

1. Indiana (www.indiana.edu)

2. Purdue (www.purdue.edu)

3. Ohio State (www.osu.edu)

4. Michigan

5. Michigan State

6. Illinois

7. Northwestern

8. Wisconsin

9. Iowa

10. Minnesota

11. Penn State (www. penstate.edu)

 BIG EIGHT

1. Iowa State (www.iastate.edu)

2. Oklahoma

3. Oklahoma State

4. Kansas State

5. Kansas

6. Missouri

7. Colorado

8. Nebraska

 SOUTHWEST

1. Texas (www.utexas.edu)

2. Texas A&M

3. Houston

4. Dallas

5. Arkansas

6. Arkansas State

7. Southern Methodist

8. Mississipi

 PAC 10

1. Arizona (www.arizona.edu)

2. Arizona State (www.asu.edu)

3. Oregon

4. Oregon State

5. USC

6. UCLA

7. UC Berkeley

8. Stanford

9. Washington    (di Seattle)

10. Washington State  (di Tacoma)

Beasiswa 

Kalau mau full scholarship yang udah pasti ada, coba cek Nanyang Technological University – Singapore (www.ntu.ac.sg). Yang disebut “full scholarship” adalah yang mengcover : tuition fees (SPP), stipend (biaya hidup), book allowance (biaya buku), research allowance (untuk Ph.D), dan health insurance (biasanya gak termasuk mata dan gigi). Kalau nggak termasuk itu semua namanya scholarship aja atau bahkan partial scholarship. Kalau di NTU, mungkin kita akan terikat 2n+2 (mis. 2 tahun diberi beasiswa, maka setelah lulus kita harus kerja 6 tahun di Singapore untuk “bayar utang”).

 

Kalau di universitas US fulltime scholarship saya cek di internet semakin jarang, bahkan orang Amrikpun akan kesulitan mendapatkannya. Paling ada scholarship yang cumin USD 500 – USD 1000 per tahun. Tapi di masa lalu (1986-1989) di US banyak scholarship yang biasanya ada 2 jenis : TA (Teaching Assistant) dan RA (Research Assistant). Tapi itupun bisa kita minta jika KITA SUDAH SEKURANGNYA TINGGAL 1 TAHUN DI US DENGAN BIAYA SENDIRI. Kalau tidak punya biaya sama sekali dan mau berangkat ke US akan ngantri dan panjang waiting listnya dan bisa-bisa kita nggak bisa berangkat. Tapi di US sekarang juga banyak student loan yang bisa biayai kita kuliah tapi nanti harus dikembalikan setelah kita lulus, cuman mesti pintar-pintar cari yang bunganya murah dan syaratnya mudah.

Apa yang perlu dilakukan sekarang ? 

Datang ke LIA Slipi, sebelah barat Hotel Ibis Slipi. Setiap Senin pagi jam 07.00 – 13.00 ada test TOEFL. Tahun 2005 kemarin bayarnya cuman Rp 100.000 (paper-based, tanpa oral test) dan Rp 125.000 (dengan oral test). Selasa siang jam 13.00 hasil sudah bisa diambil dan berlaku untuk nglamar kerjaan di Jakarta. Pendaftaran terakhir setiap hari Kamis siang, jangan lupa bawa KTP atau copy KTP untuk data pendaftaran. Beli buku-buku TOEFL. Kalau punya duwit, beli semua buku TOEFL yang ada di Jakarta. Kalau saya dulu pinjam, dan saya tulis kembali bagian USAGE-nya, saya ketik dengan mesin ketik sampai 3000-5000 soal. Biasanya munculnya di TOEFL ya sekitar itu-itu saja. Sayang koleksi saya sudah hilang saya kasihkan teman dan lupa siapa temannya. 

Buku-buku GRE juga perlu dibeli. Cuman saya nggak tahu apa di LIA Slipi juga ada kursus intensif GRE. Sebenarnya kursus TOEFL dan GRE itu buang-buang duwit aja. Yang penting adalah ikut ujiannya sesering mungkin, lama-lama nilai kita akan bertambah (nggak ding, mungkin juga gak nambah-nambah, bagi sementara orang). Ini untuk GRE General Test. Untuk Subject Test susah cari bukunya, saya dulu order langsung ke GRE Amrik. Kalau jaman sekarang mungkin ada di amazon.com

  Epilog 

Sekian dulu, selamat membaca dan mengerti apa yang saya maksudkan. Kalau masih nggak ngerti boleh kita diskusi, ntar saya jawab via email. Boleh di-share dengan teman-teman lain kok.

 

Kalau sempat jalan-jalan di Gramed, coba cari buku karangan Arief Budiman, “Belajar di USA” atau Hermawan Sulistyo (teman saya yang dulu kos di SB 22 Madiun) dengan judul yang hamper sama. Keduanya buku saku dengan harga sekitar 15 ribuan.

24 Comments (+add yours?)

  1. Edo
    Jan 28, 2008 @ 13:21:07

    Oom Tri Djoko Wahjono,

    Saya mau tanya ttg GRE nih … Di IIEF ada les GRE ga ya? Saya buka websitenya kok ga ada infonya ya? Kalo ga ada, di mana ya? Apa di EEC Slipi itu?

    Kalo menurut Oom, di bawah ini minta berapa ya GRE-nya?

    Starting October 2002, there have been some changes in the GRE test. For students who registered for GRE after that date, we require a minimum total score of 1100 for the verbal and quantitative sections. There is no minimum for the new analytical writing section for students applying for the 2006-07 academic year. Students who took GRE prior to October 2002, are required to have a minimum total score of 1800.

    Kayaknya dia minta 1100 untuk total verbal dan quantitative .. Kalo gitu, mungkin yang lain ga diperhatiin ya, kayak Qualitative. Kalo ngeliat blog-nya Oom, berarti 750+300 = 1050 … Wah sedikit lagi bisa ya?

    Hehe thanks in advance …

    Reply

  2. tridjoko
    Jan 29, 2008 @ 10:06:00

    Hallo Edo: Wah..seneng sekali saya dapat pertanyaan sulit…

    Mengenai les GRE, sebaiknya nggak usah aja. Selain biayanya sangat mahal, sebenarnya GRE itu bisa belajar sendiri. Caranya : kumpulin (beli atau salin) buku-buku GRE yang ada dan pelajari berdasarkan kategorinya, misalnya Quantitative sendiri, Qualitative sendiri, dan Verbal sendiri.

    Waktu saya ngambil GRE dulu (berarti sebelum Oktober 2002), nilai maksimum untuk Quantitative, Qualitative, dan Verbal masing-masing adalah 800, jadi total nilai 3 x 800 = 2400.

    Untuk orang Indonesia, Quantitative “bisa digeber” sehingga 730-800. Begitu pula Qualitative yang sebenarnya agak lebih sulit daripada Quantitatve, masih “bisa digeber” sampai dapat skor 730-790. Jadi dari Quantitative dan Qualitative saya, mestinya anak ITB atau UI bisa dapat skor 750 + 750 = 1500.

    Nah, yang menjadi masalah adalah Verbal, yang amat sangat terlalu sulit dan 100x lebih sulit dari TOEFL. Orang Amerika sendiripun ampun-ampun, apalagi orang asing. Ibaratnya saya yang sudah 3 tahun di Amerikapun akan sulit mengerti semua kosakata bahasa Inggris yang amat jarang digunakan di koran, majalah atau percakapan sehari-hari. Kecuali bagi yang ngambil Sastra/Literature misalnya. Jadi dapat nilai 200 – 300 di Verbal itu sudah beruntung banget buat orang Indonesia. Saya dulu dapat skor antara 260-340 (saya ambil GRE beberapa kali).

    Jadi skor Quantitative, Qualitative, dan Verbal rata-rata anak UI dan ITB mungkin = 750 + 750 + 300 = 1800 (ini untuk versi GRE sebelum September 2002 lho)…

    Terus menurut GRE versi setelah September 2002, katanya yang dihitung cuman Quantitative dan Verbal saja. Jadi menurut perkiraan saya skor rata-rata anak ITB dan UI adalah = 750 + 300 = 1050. Benar sih perhitungan Edo di atas…

    Tapi ingat, menambah skor 50 untuk Verbal itu susah setengah mati. Kalau mau Quantitative-nya saja yang “digeber” sehingga skor-nya pol menjadi 800. Sehingga total skor sekarang = 800 + 300 = 1100. Pas !!!!

    Buku-buku GRE banyak di Perpustakaan BPPT (Jl. M.H. Thamrin 8 Gedung II Lantai 4, Jakarta 10340). Datang aja ke sana. Pinjam, atau halaman sekian sekian perlu disalinkan dengan bayar ke Perpus.

    Saya masih punya bukunya di rumah, karena udah lama nggak lihat, coba nanti saya cek masih ada nggak. Soalnya di rumah banyak rayap dan sudah ratusan buku saya jadi bubuk karena rayap..

    Ok Edo ? Kalau belum jelas, bisa nanya lagi. Jangan segen-segen lho..

    Reply

  3. tridjoko
    Jan 29, 2008 @ 10:15:12

    O ya, saya lupa info lainnya. Khusus untuk Master’s atau Ph.D. in Law, minimum TOEFL score adalah 600. Khusus untuk Computer Science dan Chemistry, minimum TOEFL score adalah 570. Untuk bidang science dan engineerining lainnya cukup 550.

    Tapi untuk universitas bagus macam Ivy League, TOEFL harus diatas 650. Untuk universitas bagus macam U. of North Carolina atau U. of Michigan, perlu 600.

    Sebelum September 2002, untuk Ivy League perlu GRE (Quan, Qual, Verb) minimum 2200, sedangkan untuk U. of North Carolina dan U. of Michigan GRE minimum 2000.

    Saya dulu masuk ke Indiana University at Bloomington yang ranking Computer Science-nya 37 (menurut Dr. Gourman’s ranking).

    Cukup bagus, mengingat ranking 1-30 dihuni sekolah Ivy League, Michigan, Purdue dan Illinois (dari Big Ten), dan UC Berkeley dan Stanford (dari Pac Ten) dan sekolah super bagus Computer Sciencenya macam Carnegie Mellon U atau U. of Maryland..

    Di bawah Indiana masih ada Texas A&M dan U. of Missouri-Rolla yang saya dulu malah nggak diterima di sana…

    Reply

  4. Threeas
    Mar 26, 2008 @ 08:53:09

    Boleh tahu ga pak, bagaimana caranya ambil apply Phd tanpa harus apply master terlebih dahulu? Tolong kasih tahu via email ya pak. Terimakasih..

    Reply

  5. nuruzzaman
    Apr 21, 2008 @ 11:30:45

    Om, saya mau nanya niy..

    Di BPPT itu ada kursus GRE gak ya? Klo ada, om tahu no telp yg bisa dihubungi gak?

    Satu lagi om, buku GRE yang bagus itu keluaran penerbit apa ya?

    Reply

  6. tridjoko
    Apr 21, 2008 @ 12:29:55

    –> Nuruzzaman : Hallo…setahu saya di BPPT tidak ada kursus GRE. Jaman dulu sih pernah ada kursus TOEFL dan Ujian TOEFL Prediction..

    Tapi setahu saya, dari internet juga, kursus GRE yang bagus adalah di EEC Slipi yang di tahun 2005 biaya kursusnya Rp 5 juta (!!!). Saya pernah lewat depan EEC ini, tapi terus terang saya lupa dimana ya persisnya gedungnya terletak..

    Buku GRE yang bagus, setahu saya yang dikeluarkan oleh Baron’s. Di Perpus BPPT juga ada beberapa buku GRE (kalau lagi tidak dipinjam orang), tapi yang perlu dicatat sejak 2 September 2006 “menu” GRE berubah sekarang menjadi Quantitative dan Verbal doang (coba cek posting saya “Lulus S1 milih S2 dulu atau langsung S3” yang ditanya oleh Edo…Skornyapun sekarang berubah…)…

    Kalau saya pribadi, beli aja buku GRE yang banyak, dari amazon.com kek, dari Singapore kek (beli kesana langsung atau titip temen), lalu belajar sendiri. Terus ambil test itu 1 kali (bayar $ 150 kalau nggak salah) sekedar untuk “testing the water”. Nah, nanti di ujian GRE yang kedua, anda bisa geber sehingga nilai GRE anda maksimal (GRE versi lama untuk ndaftar di Comp Sci perlu 1,800; versi baru harus minimal 1,100)..

    Ok selamat mencoba, dan semoga sukses !

    Reply

  7. tridjoko
    Apr 21, 2008 @ 12:35:32

    –> Threeas : Caranya apply langsung ke Ph.D tanpa melalui Master dulu ya gampang, di dalam formulir application centrang (check mark) box Ph.D dan jangan di-check mark Master-nya…

    Gampang toh ?

    Tapi ada unspoken rule, bahwa lulusan S1 yang boleh langsung ke Ph.D adalah kalau dia lulus dengan predikat “Honor” (“Honour” kalau istilah Aussie atau UK-nya). Yah persamaannya kalau di Indonesia ya predikat “Cum Laude” lah, yaitu IPK >= 3.50 dan tidak ada nilai C…

    Tapi kalau anda punya IPK >=3.30 juga boleh dicoba, TAPI INGAT skor pendukung anda harus top banget, yaitu TOEFL >= 625 (paper-based test) atau 175 (computer-based test) dan GRE >= 1800 (versi lama) atau 1100 (versi baru)..

    Tapi agar jelas dan tidak malu-maluin nantinya, anda bisa kirim e-mail ke Director of Admission di masing-masing Universitas atau Department. Syukur-syukur kalau mau langsung ke Ph.D anda sudah membuat “kontak” dengan salah seorang Professor di universitas itu yang research interestnya sama dengan anda…

    Selamat mencoba dan semoga sukses !

    Reply

  8. satriya
    Aug 20, 2008 @ 09:57:09

    Pak Tridjoko,

    terimakasih atas sharingnya, hal seperti ini sangatlah berguna terutama untuk mereka yang tidak tinggal di Jakarta dan informasi hanya bisa didapat lewat internet 🙂

    Saya hendak melanjutkan kuliah master international programme, tetapi universitas bersangkutan tidak mencantumkan nilai minimal GRE (jadi hanya semacam sertifikat tambahan).

    Saya jadi berpikir ulang, apakah lebih baik saya hanya mengambil GRE yang general, ataukah GRE yang subject? Mengingat effort (terutama biaya) yang harus dikeluarkan tidak sedikit apabila saya mengambil kedua tes tersebut.

    Mungkin Bapak dapat memberi sedikit informasi, mengenai pertanyaan tersebut ..

    Terimakasih 🙂

    Reply

  9. tridjoko
    Aug 20, 2008 @ 17:11:26

    –> Mas Satriya :

    Perlu TOEFL atau GRE atau tidak perlu dua-duanya itu tergantung kepada Department masing-masing di universitas yang anda lamari..

    Kalau nilai GRE minimal tidak dicantumkan, berarti dia perlu sertifikat GRE tapi tidak peduli nilai yang anda peroleh. Istilah GRE di sini sebaiknya dibaca “GRE General Test”..

    Sedangkan “GRE Subject Test” sebaiknya anda mengambil jika (1) department/universitas yang anda lamari mensyaratkan GRE Subject Test (2) Program Studi yang anda lamari – S2 atau S3 – PERSIS SAMA dengan S1 yang anda jalani, jika tidak sama maka “GRE Subject Test” tidak perlu diambil karena GRE Subject Test harusnya untuk bidang studi S1 yang dulu anda pernah ambil…

    Memang mas, ujian GRE General Test dan GRE Subject Test sangat muahaaaal, apalagi kalau kedua test itu anda bayar sendiri. Lain soal kalau dibayari kantor..

    Sekian, mudah-mudahan sukses….

    (P.S. : Kalau anda ambil program MSCS sambil bekerja di USA, anda malahan tidak perlu sertifikat TOEFL atau GRE sama sekali. Cukup kemampuan anda di bidang programming. Lihat website mereka : http://www.mum.edu/ Kalau anda bukan dari Teknik Informatika/Ilmu Komputer, anda juga bisa ngambil program MBA di MUM sambil bekerja di USA. Selamat mencoba)…

    Reply

  10. Pungky
    Oct 20, 2008 @ 14:13:14

    Trimakasih banyak pak Tri…
    cerita anda sangat berguna buat saya…
    Kalau boleh tanya, dulu bapak ambil PhD nya apa? Saya ingin ambil civil engineering/transportation system. Ada saran, baiknya di universitas mana pak??

    Trimakasih banyak
    Salam.

    Reply

  11. tridjoko
    Oct 20, 2008 @ 23:30:57

    –> Pungky :

    Wah…suatu kehormatan bagi saya kalau cerita berguna… 😉

    Dulu ambil Ph.D dimana ? Apakah saya menyebutkan saya pernah ambil Ph.D ? Rasanya tidak…nggak tahu kalau pembaca “imply” seperti itu….

    Saya dulu tidak pernah ambil Ph.D dimanapun, atau jelasnya saya tidak pernah melamar ke program Ph.D atau terdaftar di suatu program Ph.D. Tapi di tahun 1988-1989 dulu saya sudah mengambil semua mata kuliah Ph.D di Indiana University, walaupun saya terdaftar di program Master saja (malahan, beberapa undergraduate students yang mau juga bisa ikutan). Teman2 sekelas saya sudah pada lulus Ph.D dan kini kebanyakan menjadi Professor di beberapa universitas baik di AS maupun negara lain (Korea, Indonesia)..

    Kalau mau ambil Ph.D in Civil Engineering dengan peminatan Transportation System setahu saya yang paling kuat ada di M.I.T dan University of California-Berkeley. Tapi kedua universitas itu adalah “universitas kelas berat” yang mensyaratkan TOEFL > 625 (paper-based) atau 175 (computer-based) plus GRE > 1300 (versi setelah Sept 2006)…

    Saran saya, pilih program Ph.D in Civil Engineering yang sesuai dengan profil GPA (IPK) anda, TOEFL anda, dan GRE anda. Gampangnya, lamar 2 universitas di atas kemampuan anda (mis. MIT dan UC Berkeley), 2 universitas rata-rata yang bagus (mis. Purdue dan Illinois), dan 2 universitas bawah rata-rata tapi cukup mudah lulusnya (mis. U. New Mexico – Albuquerque dan U. Ohio-Athens)…

    Selanjutnya terserah anda sih mau mendaftar kemana dan nantinya diterima di mana…

    Good luck !

    Reply

  12. alrisblog
    Jan 11, 2009 @ 03:00:22

    Postingan kali ini bagi saya sedikit puyeng abis mbacanya. Saya kalo ditest TOEFL mungkin dapat nilai di bawah sepuluh, apalagi GRE bisa-bisa gak ada nilainya, wakakakaka…(nangis sambil guling-guling)

    Hwekekkekkek…

    Reply

  13. di2xt
    May 13, 2009 @ 13:50:55

    Pak kalo medical/health/bio informatics itu sebaiknya univ yg mana? GRE bwt jurusan itu blum tentu diperlukan yo? denger2 susee naujubile niy GRE
    GPA-nya…, PMDK-> pers.mhs.dua.koma ^^
    TOEFL msiy 500-an
    Niy pingin aja loh pak, boleh kan…? hehe

    Adit,
    Di universitas saya dulu, Indiana University at Bloomington, di bawah School of Informatics juga sudah ada Department of Bio-informatics kok. Bisa dicek di internet kok universitas mana aja yang nawarin. Cek di Google dengan memasukkan string pencarian “bioinformatics school”..

    Kalau anda S1 nya Computer Science, ngambil GRE nya ada 2 yaitu “GRE General” dan “GRE Computer Science”. Terus TOEFL juga harus ngambil. Untuk jurusan Chemistry dan Computer Science minimum nilai TOEFL (paper based) adalah 570, sedangkan untuk jurusan Law minimum TOEFL adalah 600..

    Reply

  14. lovely
    Oct 21, 2009 @ 08:59:06

    Pak Tri,
    Mohon info/pendapat kalau kebetulan mengetahui:
    Saya sudah lulus master dari NYU, 2001-2003, Economic program. Saat ini ingin mendaftar untuk PhD program, mungkin ke NYU lagi atau lainnya.
    Pertanyaannya, apakah saya tetap harus ikut test GRE lagi?
    Kalau TOEFL, saya baca dengan jelas di admission beberapa universitas, sudah tidak perlu lagi karena sudah pernah lulus dari uni sana.
    Bagaimana dengan GRE? Apakah ikut peraturan expire nilainya 5 tahun, sehingga berarti saya harus ambil tes lagi?

    Tks sharing info dan advisenya.
    Regards.

    Mbak Lovely,
    Wah..kalau mbak sudah lulus Master’s in Economics dari NYU terus mau mendaftar ke Ph.D ini mungkin yang terjadi :
    – Jika mbak ambil Ph.D nya di NYU lagi, aku pikir nggak perlu lah mbak ambil GRE lagi
    – Jika mbak ambil Ph.D nya di non NYU, lah itu mungkin masih disuruh ambil GRE lagi..

    Tapi detail rulenya, bisa langsung ditanyakan ke Admission Director yang mbak tuju. Karena setahu saya rule antar Dept di univ yang sama itu kadang tidak sama diterapkannya..

    Jadi kuncinya, just ask mbak…

    Hehehe…good luck mbak…:-)

    Reply

  15. wdu (w.dewi umara)
    Nov 13, 2009 @ 15:09:38

    Pak,
    Terima kasih atas informasinya .
    Saya ingin nanya nih….
    Apakah jika saya sudah memiliki gelar S2, tapi IPK ga nyampe 3, boleh ngambil S2 lagi?
    Saya tertarik ambil beasiswa ke amerika, mungkin arizona.
    Terima kasih

    Dewi,
    Wah…pertanyaan anda kurang jelas…:-)

    Saya ulang lagi, bagaimana IPK S2 kok kurang dari 3.00 ? Bukankah syarat lulus S2 adalah IPK minimal 3.00 ? Mau ngambil S2 lagi (yang kedua), terus buat apa ?

    Ngambil beasiswa di Amerika sulit lho, kecuali anda berangkat dulu dan sekolah dulu di Amerika dengan biaya sendiri minimal 1 tahun, maka selanjutnya beasiswa lebih mudah didapat…

    Reply

  16. ikhsan
    Dec 12, 2010 @ 09:59:30

    Pak tri,

    Kondisi saya adalah lulusan s1, membaca postingan bpk saya mungkin tertarik langsung PhD syukur2 kalo ga keterima masih dimasukkan ke program master.

    Saya mau tanya, apakah saya tetap harus membuat proposal research untuk PhD sedangkan gap ilmunya masih kurang pak untuk tulis minat research? Atau bapak ada saran?
    Kalo kelas akselerasi begitu memakan waktu berpa tahun ya pak? Rekomendasi untuk top university yg ada akselerasinya seperti ini dimana saja?
    Terima kasih atas infonya, selain itu saya mau improve nilai2 tes, dan kemampuan bahasa karena pengalaman dosen saya (yg sngat jenius dulu waktu kuliah di bandung) bilang walaupun nilai toeflnya dulu (mungkin masuk master taun 86 atau 87) almost perfect, tp dia msh ga ngerti apa yg dibilang profesornya kalo ngajar di kelas. Sampe2 dia sangat stress pd taun2 awalnya kuliah.( Mungkin bpk ada saran gimana secara insting kemampuan bhs inggris kita bisa sangat fluent)

    Salam hormat,
    Ikhsan

    Mas Ikhsan,
    Perlu saya ingatkan sekali lagi, bahwa praktek yang umum terjadi di universitas-universitas Amerika (atau Australia), yaitu lulusan S1 yang langsung bisa melanjutkan ke jenjang S3 adalah yang lulus S1 dengan predikat “Honor” (cum laude) yaitu IPK >= 3.50.

    Jadi rule-nya (baik di univ AS atau Aussie) : jika IPK anda waktu lulus S1 >= 3.50 –> maka anda berhak lanjut langsung ke S3, selain itu anda harus melalui program Master terlebih dahulu.

    Nah kalau syarat IPK min 3.50 ini terpenuhi –> anda bisa langsung melamar ke Ph.D program, tentu dengan membuat cerita (essay) anda tertarik dengan riset di bidang bla bla bla, dan setelah lulus anda ingin jadi bla bla bla dsb. Kalau masih ada gap, ya gap itu yang ditutup. Style yakin aja bahwa anda dari S1 bisa langsung ke program Ph.D.

    Kalau IPK anda waktu lulus dari S1 masih di bawah 3.50 –> ya mau tidak mau anda harus melalui program Master dulu.

    Setahu saya semua universitas di Amerika Serikat punya rule seperti ini, jika ada lulusan undergraduate (S1) yang lulus dengan predikat Honor (IPK/GPA min 3.50) maka ybs bisa langsung melamar ke program Ph.D, kalau IPK/GPA kurang dari 3.50 ya harus melalui program Master dulu. Jadi list universitas yang menurut anda “menawarkan program akselerasi” gak ada, karena semua univ rulenya seperti itu..

    Terus mengenai apakah kita mengerti yang diomongkan profesor di kelas nanti, pengalaman saya pribadi orang Indonesia yang baru datang ke AS perlu waktu minimal 6 bulan agar ia bisa mengerti apa yang diomongkan profesor dan sebaliknya agar kalau orang Indonesia itu ngomong pakai American English maka si pendengarnya akan bisa mengerti apa yang dikatakannya (menurut teman saya orang Indonesia yang ngambil S1 dan S2 di Amerika tapi ngambil S3 di Inggris, orang Amerika itu tidak mudah mengerti apa yang kita katakan, kalau cara pengucapan kita tekanan ke syllable nya tidak sesuai yang dimaui orang Amerika itu ya akhirnya mereka tidak mengerti apa yang kita katakan. Sebaliknya, orang Inggris akan segera mengerti apa yang kita katakan dalam bahasa Inggris betapapun jeleknya pronouncation yang kita ucapkan)…. jadi batas waktunya 6 bulan itu mas…

    Reply

  17. ikhsan
    Dec 12, 2010 @ 10:29:29

    Oh iya pak, satu lg pertanyaan
    Misalkan saya apply ke universitas A dan pd program B tp dinyatakan ditolak apakah saya langsung di-ban untuk kuliah disana? Atau saya bisa apply lg ke kampus trsebut setelah jangka waktu tertentu (misal 6 bln, ato setaun)? Dan bisakah secara bersamaan saya apply kekampus yg sana tetapi untuk 2 atau lebih program saat yg bersamaan?

    Salam,
    Ikhsan

    Mas Ikhsan,
    Jawabannya : bisa. Jadi anda bisa dalam waktu yang bersamaan melamar ke 2-3 program yang ada di universitas X (misalnya 1 lamaran untuk Master in Computer Science, 1 lamaran untuk Master of Business Administration, dan 1 lamaran untuk Ph.D in Education). Tapi kayaknya tidak bisa atau aneh kalau untuk 1 Department yang sama (mis Department of Computer Science) anda mengajukan 2 lamaran yang berbeda untuk mulai kuliah Fall 2011, yaitu 1 lamaran untuk Master in Computer Science dan 1 lamaran untuk Ph.D in Computer Science, soalnya nanti mereka berpikir bagaimana bisa dalam waktu yang sama seseorang mengambil program Master sekaligus Ph.D ?

    Terus tentang pertanyaan, apakah kita akan di”ban” untuk melamar lagi ke universitas tertentu ? Di AS ada sekitar 450 universitas yang bagus-bagus, jadi kayaknya it is likely kalau anda bakal melamar ke universitas lain jika lamaran anda ke Universitas X tidak terlalu sukses…

    Reply

    • ikhsan
      Dec 14, 2010 @ 11:39:48

      Pak, apakah bisa juga kalo saya mengajukan aplikasi ke lebih dari satu profesor pd departemen yg sama di suatu universitas?
      Dengan harapan, saya mngkin tidak diterima pada profesor A tetapi diterima oleh prof. B

      Selain itu untuk melamar jd graduate student, sebaiknya apakah saya langsung menghubungi profesor di departemen tsb, dan jika beliau menyatakan bersedia jd supervisor kita barulah persyaratan aplikasi di departemen tersebut dilengkapi dan dikirim? Atau sebalikya, yaitu saya menghubungi admission officer dan jika ada acceptance letter baru saya kontak profesor yg sesuai?

      Terima kasih banyak pak atas penjelasnnya.

      Salam,
      Ikhsan

      Mas Ikhsan,
      Kayaknya urutan yang benar begini :
      1. Hubungi salah seorang profesor di Department yang anda minati, biasa cara memilih profesor adalah yang minatnya (bidang keahliannya) sama dengan anda, misalnya kalau di Department of Computer Science, hubungi profesor yang minatnya Artificial Intelligence jika anda juga berminat di bidang Artificial Intelligence. Hubungi SATU PROFESOR saja, pilih yang paling senior. Jika profesor tersebut sudah membalas e-mail anda, apalagi jika nadanya positif, catat nama dan email profesor ini.
      2. Hubungi/apply via ADMISSION DIRECTOR di masing-masing department (jika di Comp Sci, hubungi Admission Director di Comp Sci Department), di dalam surat pengantar (cover letter) anda boleh sebutkan nama profesor yang sudah anda hubungi pada butir 1) tadi terutama jika tanggapan profesor itu positif. Lengkapi pula semua persyaratan yang ada (Essay, Reference dari professor yang lama, nilai TOEFL, nilai GRE General Test, nilai GRE Subject Test)

      Demikian, semoga cukup jelas…

      Reply

      • ikhsan
        Dec 14, 2010 @ 13:56:53

        Saya sudah coba tahap awal kontak profesor di sana, tp respon email beliau bilang kalo saya harus melalui prosedur umum daftar sekolah melalui admission office dept nya.

        Dan dia bilang dia tdk punya kapabilitas untuk menerima student trsebut. Di email trsbut saya mencantumkan kemungkinan dan kesediaan beliau untuk menjadi academic supervisor saya.

        Mohon bimbingannya pak, saya bingung apa yg harus saya lakukan.

        Salam,
        Ikhsan

        Saya sudah jawab di komentar anda sebelumnya mas, mohon dibaca kembali…

  18. ikhsan
    Dec 12, 2010 @ 10:33:30

    Oh iya pak satu lg pertanyaan, misalkan saya apply ke universitas A dan program B akan tetapi saya dinyatakan ditolak, apakah saya masih bisa apply di program tersbut ? Dan kalopun di-ban, berapa lama rata2 waktu untuk dapat apply lagi? (Misalnya 6 bulan, atau setahun)
    Selain itu, bisakah saya apply ke lebih dari satu program pada universitas yang sama pada saat bersamaan? (Misalnya program B, C, dan E)

    Salam,
    Ikhsan

    Reply

  19. Aulia
    Jan 19, 2011 @ 14:24:47

    Salam kenal mas tridjoko, saya Aulia. Boleh tahu info kursus GRE yang masih ada skrg dimana?coz dari bbrp tempat yg mas sebutkan di atas sudah tidak buka. Bisa dikatakan sulit sekali mencari tempat les GRE, makasih

    Mbak Aulia,
    Memang “tempat kursus GRE” yang saya sebutkan di Blog ini seperti di American Language Training (ALT) Jalan Cideng atau IST di Jalan Sunda dulunya juga ada karena ada program penyekolahan pegawai negeri bidang riset dan teknologi yang disponsori oleh (salah satunya) Overseas Fellowship Program (OFP) BPPT di tahun 1980an (1985- 1990). Jadi mungkin saja sekarang ini tempat kursus GRE tadi sudah tidak ada lagi…

    Untuk belajar GRE mbak, sebenarnya tidak perlu-perlu amat kursus. Tempat kursus hanyalah menyediakan soal dan waktu untuk nge-drill kita agar skor GRE nya bagus. Tapi sebenarnya kalau tersedia soal-soalnya, mbak bisa kok belajar sendiri di kamar atau di kantor, seperti yang dulu saya lakukan sebelum saya ikut kursus GRE. Jadi mbak, skor TOEFL saya waktu itu (1980) 507 adalah karena saya belajar sendiri. Dan skor GRE saya waktu itu 1320 (1981) juga karena saya belajar sendiri. Nah, setelah saya ikut kursus ALT dalam 3 bulan skor TOEFL saya menjadi 573 (1986) dan skor GRE menjadi 1560 kalau tidak salah (1986), jadi naiknya tidak seberapa dan bisa seperti itu karena sebelumnya basic skor TOEFL dan GRE saya sudah kuat karena saya selalu belajar di tempat kost saya di Bogor dan di kantor saya BPPT waktu itu…

    Banyak kok buku-buku GRE di Google, buka aja http://books.google.com dan masukkan string pencarian “graduate record examination”…maka mbak akan nemu banyak buku tentang GRE.

    Salah satunya ada di link ini : http://books.google.co.id/books?id=8Edbg0mhqIAC&printsec=frontcover&dq=graduate+record+examination&hl=id&ei=19o2TbbdPJCcvgO-8eT4Aw&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CCYQ6AEwAA#v=onepage&q&f=false

    Demikian mbak info dari saya…..good luck !

    Belajar GRE sendiri saja : save time, and of course, money…:)

    Reply

  20. Zaidil Firza
    Apr 29, 2013 @ 16:59:23

    Permisi mas mas sekalian..
    Kalau rule di eropa, tetep mesti minimal GPA 3,50 dan tidak boleh ada C ya?
    Spesifiknya ingin ke Georg-August-Universität…

    Zaidil,
    Anda mau lanjut ke S3 ya ?
    Setiap jurusan, dan setiap universitas, mempunyai rule masing-masing mengenai GPA ini, mungkin tidak harus setinggi 3,50.
    Kalau di Amrik GPA boleh berapa saja, tapi skor TOEFL dan skor GRE-nya harus maksimal, itu yang lebih dinilai oleh mereka universitas dan jurusan yang akan menerima anda itu.

    Tentang George-August University di Gottingen, Germany, bisa dilihat-lihat di sini kok : http://www.google.co.id/#hl=id&gs_rn=11&gs_ri=psy-ab&cp=11&gs_id=rv&xhr=t&q=george-august-university+goettingen+germany&es_nrs=true&pf=p&output=search&sclient=psy-ab&oq=george-augu&gs_l=&pbx=1&bav=on.2,or.r_qf.&bvm=bv.45921128,d.bmk&fp=ad595f020d47a3b9&biw=1920&bih=915&bs=1

    Reply

  21. izza
    Nov 19, 2013 @ 10:44:39

    Dear Pak Jono (kalau boleh disapa begitu),

    Pak, saya ada tawaran PhD di City University of New York. Saya berhubungan langsung dengan Prof. bersangkutan.
    Beliau memberi informasi sbb:
    The PhD programs at CUNY allow approximately 25,000 to 26,000 dollars of support for living support for each student. Tuition is also covered by CUNY.

    Saya juga dianjurkan mengambil TOEFL dan GRE, tapi di email lainnya beliau merespon “I see that you already took the TOEFL.”, padahal saya kirim skor yang sudah kadaluarsa.

    Saya ingin tahu pendapat Bapak, lagipula saya juga kurang jelas mengenai allowance itu untuk pertahun atau apa. Mohon saran dan masukannya ya Pak. Terima kasih sebelumnya.

    Izza,
    Wah…selamat anda dapat tawaran Ph.D full scholarship dari CUNY…
    Iya Prof bisa mengecek apakah anda sudah (pernah) ambil Toefl atau belum, walaupun itu score lama.
    Terus GRE itu untuk orang Indonesia : Quantitative Analysis-nya gampang, belajar aja math yang sederhana. Terus Qualitatite analysis-nya masih agak lumayan mudah. Yang sulit adalah Verbal Analysis, yang sulitnya melebihin bahan reading di Toefl. Tapi orang Amerika sudah maklum kok, kalau orang Indonesia itu rata-rata “payah” di verbal, maklum kita bukan english speaking nation seperti Singapore atau Malaysia.
    Saya kira selain Tuition Fee-nya sudah dibayari penuh untuk program Ph.D ini, yang USD 25,000-USD 26,000 itu adalah untuk Allowance per tahun ? Kenapa saya tahu, ya karena orang Amerika biasa menghitung segala sesuatu sebagai per tahun, misalnya gaji Professor adalah USD 100,000 (per tahun). Jadi anda akan menerima sekitar USD 2,100 per bulan….ya kelihatannya banyak, tetapi sebenarnya ini juga “angka garis kemiskinan” di New York City, bukannya CUNY letaknya di kota New York kan ? Jadi angka cost of living-nya sudah pasti tinggi, karena CUNY dekat dengan Fifth Avenue tokonya orang-orang kaya ya ?

    Reply

  22. Ali
    Aug 08, 2014 @ 17:41:09

    Dear Pak Ikhsan..

    Perkenalkan saya Ali, saya baru “melek” mengenai studi luar negeri dan sedang mencari-cari referensi, walaupun begitu saya memiliki cita-cita yang kuat untuk itu. Di blog bapak ini, pertama saya temukan mengenai peluang S1 lanjut S3, sangat bermanfaat sekali Infonya. Terimakasih.

    Setelah saya membaca postingan bapak, dan beberapa tanya jawab dalam komentar. Ada informasi untuk mengambil Ph.D perlu IPK diatas 3.5 (cum laude) dan tidak ada nilai C. Saya memiliki 1 mata kuliah bernilai C dengan IPK 3.67 namun tidak cumlaude (karena ada 1 mata kuliah yang pernah mengulang). Apakah nilai C dan ke-tidak-cumlaudan tersebut akan mempengaruhi aplikasi yang akan diajukan ? Terima kasih.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: