Apa genre film kesukaan anda ?

Entah kenapa setiap orang mempunyai kesukaan tentang genre atau “aliran“ film tertentu dalam hidupnya. Apakah ini semata masalah selera, ataukah dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu, misalnya horoskop seseorang ? Buktinya, horoskop saya yang Sagitarius dengan lambang seorang laki-laki sedang memegang panah yang siap dilepaskan, biasanya diasosikan dengan sifat romantis. 

Ya, film romantis adalah salah satu genre film kesukaan saya, termasuk komedi romantis atau romantis komedi. Genre film lainnya yang saya suka adalah film perang, film western (cowboys, indian, US cavalry), film action, dan film kategori R/A (restricted, artistic)..

Film romantis yang saya paling suka dan paling sering nonton barangkali adalah “Gone with the Wind” dengan bintang Vivian Leigh dan Clark Gable itu. Total, saya sudah nonton GWTW sebanyak puluhan kali. Film romantis lainnya yang saya nonton berulang-ulang mungkin adalah “The Sound of Music” yang dibintangi Julie Andrews dan Christopher Plummer yang saya juga sudah tonton puluhan kali (baik di gedung bioskop maupun di VCD). Film romantis lainnya banyak sekali yang saya sudah tonton, dari yang klasik seperti “Love Story” yang dibintangi Ryan O’Neal dan Ali McGraw yang berlokasi syuting di Harvard University itu, sampai klasik lainnya seperti “Romeo and Juliet” yang dibintangi oleh Elizabeth Hussey, sampai “Pride and Prejudice” yang dibintangi Keira Knightley, sampai “When Harry Met Sally”, “You’ve Got Mail”, “Sleepless in Seattle” semuanya dibintangi Meg Ryan, berpasangan dengan Tom Hanks kadang dengan Billy Crystal.

Masih ada lagi film romantis yang saya suka tonton yang melibatkan Richard Gere macam “The Officer and The Gentleman” dan “Pretty Woman”. Film romantis ringan semacam “Before Sunset” yang dibintangi oleh Ethan Hawke dan berlokasi syuting di Paris itu saya juga suka, terutama dialognya yang mengalir deras selama 1,5 jam yang cocok untuk memperlancar English conversation itu..

Mengapa saya suka film romantis ? Yah, mungkin karena saya bintangnya Sagitarius. Why you ask anyway ?

Genre film kedua yang saya sukai adalah film perang. Mungkin bukan perangnya yang saya ingin tonton, tapi setiap film perang pasti menceritakan tentang sejarah dunia, utamanya Perang Dunia I dan Perang Dunia II. 

Daftar teratas dari film perang yang saya sukai mungkin “A Bridge Too Far“. Sayang saya menontonnya di salah satu stasiun TV swasta di Indonesia. Saya lupa siapa bintang filmnya dan saya tidak tahu apakah saya akan pernah menemukan copy VCD-nya walaupun di Carrefour M.T. Haryono sekalipun.  Film ini bercerita tentang seorang perwira tentara Amerika dan anak buahnya di Jerman yang sedang memburu sisa-sisa tentang Jerman dalam Perang Dunia II, namun usaha kerasnya dibatasi oleh tenaganya dan tenaga anak buahnya yang habis tepat di sisi sebuah jembatan, sementara sisa-sisa tentara Jerman yang ada juga susah payah memperjuangkan hidup di sisi jembatan yang satunya..

Film tentang Perang Dunia II di Eropa lainnya yang saya suka tentu saja adalah “Saving Private Ryan” yang dibintangi oleh Tom Hanks. Sebenarnya ada satu film lagi (tepatnya, FTV) tentang film Perang Dunia II Eropa yang dibintangi oleh Tom Hanks yang bagus, tapi saya belum mampu membelinya karena harga 6 VCD-nya sekitar Rp 285.000, yaitu “Band of Brothers” yang disutradarai oleh Steven Spielberg.

Ada lagi film tentang Perang Dunia II Eropa namun tidak membahas dar-der-dor tapi saya kira cukup memuaskan untuk ditonton, antara lain “Life is Beautiful” dari Benigno Beinini (?), “Schlinder’s List” yang disutradarai oleh Steven Spielberg, dan “The Pianist” yang saya lupa siapa bintang dan sutradaranya…

Daftar film perang yang saya sukai lainnya adalah “Platoon” yang dibintangi oleh Tom Berenger, Charlie Sheen, Sean Penn, dan lainnya yang bercerita tentang pertentangan psikologis antar teman seregu tentara Amerika yang sedang mengejar dan dikejar oleh VC atau tentara Vietnam Utara.

Film perang Vietnam lainnya yang saya sukai adalah “The Deer Hunter” dan “Apocalypse Now”, sedangkan film perang Vietnam klasik barangkali adalah “The Green Berets” yang dibintangi oleh John Wayne. Green Berets adalah pasukan khusus Amerika yang kalau di Indonesia baretnya berwarna merah, Kopassus.

Film tentang Perang Dunia II di Pacific antara Amerika dan Jepang juga sangat menarik perhatian saya, terutama konon karena sejarah ayah saya yang pernah jadi Heiho dan sempat berperang dengan Angkatan Laut Jepang sampai ke Tanjung Pinang, dekat Singapura sekitar tahun 1942 yang lalu.

Yang terbagus tentang Perang Dunia II Pasifik ini tentu saja “Tora..Tora..Tora…”.yang dibuat secara join program antara Jepang dan Amerika ini. Setelah itu cobalah tonton “Letters from Iwo Jima”, terutama karena film ini sangat Jepang sekali yang membahas perbedaan sikap antara AD dan AL Jepang dalam berperang dan menyikapi perang. Selain itu, masih ada “Between the Thin Line”.

Bagaimana dengan “Pearl Harbor” dan “The Wind Talker” apalagi “Flags of Our Fathers” ? Entah kenapa saya kurang tertarik dan perasaan saya biasa-biasa saja mungkin karena menceritakan kehebatan Amerika Serikat 100% seolah seng ada lawan !!!

Patut dicatat, ada beberapa film tentang Perang Teluk 1991 yang saya suka, yaitu “Courage Under Fire” yang dibintangi oleh Meg Ryan, yang bercerita tentang perdebatan apakah tindakan pilot pesawat Amerika yang diperankan Meg Ryan benar-benar pahlawan atau traitor.

Satu lagi film perang Somalia yang saya suka yaitu “The Black Hawk Down”. Malahan di film ini saya merasa benar-benar jadi tentara Amerika yang harus bisa keluar hidup-hidup dari situasi kacau di Somalia, apalagi ketika sebuah RPG (rocket-propelled grenade) meluncur ke arah kita…benar-benar sereeeemm….

Sebenarnya ada lagi “Medal of Honor” yang bercerita tentang Lieutenant Patterson yang dipercepat kelulusannya dari Military Academy dan langsung diterjunkan di Perang Eropa untuk melawan tentara Jerman dengan SS dan Gestapo-nya yang ganas. Sayangnya, MOH ini masih dalam bentuk game playstation. Tapi mengingat “Tomb Raider” dan “Residence Evil” telah diubah dari film playstation ke film sebenarnya, siapa tahu MOH bakal menyusul ?

Genre film selanjutnya yang saya suka adalah film western yang secara definitif bercerita tentang cowboys, Indian, dan tentara US cavalry. Mungkin yang paling saya suka adalah “Geronimo”, “Dances with Wolves”, “Butch Cassidy and the Sundance Kid”, “Chato’s Land” dari Charles Bronson, sampai film Cowboy-nya Clint Eastwood yang saya lupa judulnya (dan saya tidak punya copy VCD-nya)…

Dulu sebelum televisi swasta Indonesia dibom oleh sinetron, di setiap sore terutama Minggu sore, RCTI selalu menyiarkan film bersambung western yang sampai saat ini saya sangat terkenang-kenang dan ingin menontonnya lagi. Misalnya “The Paradise” yang cerita tentang seorang Cowboy yang sudah insyaf dan ingin tenang dengan kehidupan keluarganya, lalu ada “Bordertown” yang bercerita tentang seorang Marshall Amerika yang bajunya kumuh dan lusuh yang sangat kontras dengan polisi perbatasan Kanada yang berbaju merah cerah, celana licin diseterika, dan wajah yang klimis dicukur..(a very typical difference between the US and Canada, isn’t it ?)

Genre film lainnya yang saya suka adalah film action. Wow, bagaimana kita bisa membicarakan film action tanpa menyebutkan film-film James Bond yang novel aslinya ditulis oleh Ian Flemming itu ? Film James Bond pertama yang saya tonton sebenarnya adalah “On her Majesty’s Secret Service” yang dibintangi oleh George Lazenby dan Diana Rigg. Mungkin ini film James Bond seri ke 7 kalau tidak salah, dan satu-satunya yang dibintangi oleh George Lazenby. Saya menontonnya waktu SMP sekitar tahun 1972. Setelah itu baru saya mengejar habis film-film James Bond lainnya dari “Dr. No” (film JB pertama dengan Sean Connery dan Ursula Andress – konon Ursula ini suka bener membuka bajunya sehingga namanya diplesetkan sebagai Ursula Undress..he..he..), “Goldfinger”, “From Russia with Love”, “Diamonds are Forever”, “You Only Live Twice” dan film-film James Bond lainnya yang dibintangi bergantian antara Sean Connery, George Lazenby, Roger Moore, Sean Connery lagi, Timothy Dalton, dsb..

Tapi film action tidak hanya James Bond. Orang Amerikapun tidak kalah dengan Inggris karena mempunyai jagoannya sendiri yang diperankan oleh Vin Diesel dengan “XXX”, lalu Harrison Ford dengan serial “Indiana Jones”-nya. Tidak lupa pula film-film Action yang dibintangi Steven Seagal dengan “Near Miss” dan “Undersiege” serialnya, ataupun film-film Jean Claude Van Dam macam “The Quest”…

Tapi all in all, di antara film action yang saya paling suka adalah dua film yang diproduksi oleh United Artists, yaitu “The Transporter” yang bercerita tentang seorang pengirim barang-barang rahasia, dan juga “Ronin” yang bercerita tentang ex agent CIA dan KGB pensiunan yang masih suka nyambi kerja (“Ronin” adalah samurai yang sudah kehilangan pemimpinnya)..Kenapa suka ? Ya karena kedua film itu lokasi syutingnya di kota-kota Eropa yang jalannya kecil-kecil jadi kalau ada mobil-mobil ngebut di jalan-jalan kecil efeknya pasti lebih dramatis daripada mobil-mobil ngebut di jalan tol bukan ??? Do you see my point ?

Last but not least, genre film yang saya suka adalah film R/A singkatan dari Restricted/ Artistic yang artinya semacam soft porn atau film X. Kalau di Madiun dulu, kadang-kadang diputar di bioskop Lawu sebagai film second run, misalnya “Summer 1942” yang dibintangi oleh Susan George, di Lawu juga pernah dipertunjukkan “Emmanuelle IV” yang dibintangi oleh Edwige Fenech, seorang bintang film Italia. Sedangkan film “Emanuelle” asli saya pernah tonton di Ottobrunn-Munchen, Jerman, yang jika tengah malam bioskopnya akan nyetel film jenis beginian yang disebut dengan “Nacht Studio”. Kalau di Bloomington, film R/A ini tidak disetel di gedung bioskop biasa, tapi di kafe-kafe yang khusus mempertunjukkan film-film kategori “cult” misalnya kafe yang ada di sebelah selatan 3rd Street di depan School of Education tempat dimana saya pernah nonton “Blue Velvet” dari Isabella Rosellini.

Kalau di Singapore, gedung-gedung bioskop yang berjarak radius 2 km dari City Hall (pusat kota) biasanya mempertunjukkan film-film R/A ini. Misalnya bioskop City Hall, lalu bioskop di gedung Shaw Brothers Jalan Beach Road, ada lagi gedung bioskop dekat Chinatown di Bukit Merah. Di situlah saya nonton “Basic Instinct”-nya Sharon Stone (“Apakah kamu nggak rindu ?”, tanya Sharon Stone sambil endel-endel nggak pakai baju. “I’ve seen them before”, kata Michael Douglas sambil membelakangi Sharon dengan nade cuek, “them” artinya sesuatu yang jumlahnya dua, apakah itu ?).

Di Singapore ini saya juga nonton “Misterious Tibet”, dan film-film Elen Barkin, Jennifer Lange dan Sharon Stone lainnya yag saya sudah lupa judulnya. Lalu ada lagi “Zandalee” cerita cinta segitiga di pedalaman Louisiana. Film Mandarin-Perancispun ada yang R/A, misalnya “The Lover” (L’Amant) dari Jane Marsh dan Tony Leung (mungkin tidak masuk ke Indonesia ya ? Kasihan deh lu !).

Mengapa saya suka film R/A ?  Ya karena saya laki-laki, bintangnya Sagitarius pula. Why you ask anyway ?

Kalau di Indonesia, semasa VCD belum disensor oleh BSF dan yang beredar adalah Laser Disk 12 inch yang tidak disensor BSF, film-film Amerika yang masuk ke Indonesia praktis tanpa sensor.

Itulah, genre-genre film yang saya sukai. Asalkan tidak film horror semacam “The Exorcist”, “Amityville”, dan “The Night of The Elm Street”, genre-genre film lainnya macam komedi, science fiction, kartun, dokumenter, saya juga masih suka menontonnya…terutama film-film Mafia Italia macam sequel “The Godfather”, “Donny Brasco”, “Taxi Driver”, “The Scarface”, dan sebagainya..

Genre film kesukaan anak saya Dessa Ayu adalah science fiction atau film-filmnya Johny Depp terutama sequel “Pirates of the Carribean”, film kesukaan anak saya Ditta Ayu adalah film kartun macam “Finding Nemo” atau “Bart Simpsons” atau film Indonesia macam “Mengejar Matahari”, tapi isteri saya tidak punya preferensi tentang genre film karena satu-satunya film yang ia omongkan terus adalah “Best of The Best” yang kalau nggak salah dibintangi oleh Jet Li.

 Jadi, apa genre film kesukaan anda ? 

6 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Nov 05, 2007 @ 12:04:57

    Paling suka komedi romantis atau film yang happy ending (James Bond dsb nya).
    Lha nonton kok mikir yang sedih, kan penginnya untuk dapat hiburan.

    Gara-gara punya anak yang suka nonton film apa aja, kadang terpaksa juga menemani, dan ternyata bisa menikmati juga.

    Reply

  2. tridjoko
    Nov 05, 2007 @ 15:18:42

    Sekali-kali nonton yang sedih mungkin nggak apa-apa, terutama kalau mak mbejunjuk tiba-tiba kita nonton film tanpa membaca resensinya terlebih dahulu.

    Saya pernah nonton “An Officer and A Gentleman” dari Richard Gere yang dikira happy ending, nggak tahunya ceritanya sedih, karena si calon perwira gantung diri akibat ceweknya bercanda, ngakunya hamil ternyata kagak…

    Di Madiun dulu saya pernah mau nonton “Dracula AD 1972”, ternyata malah nonton “Bing Slamet Cowboy Cengeng” karena salah ngitung tanggal dan di sebelahku duduk cowok yang paling tinggi selera nontonnya. Eee…nggak tahunya ia juga seneng film-film Bing Slamet…

    Reply

  3. tridjoko
    Nov 24, 2007 @ 12:56:43

    Belakangan ini (akhir Nopember 2007) di Blogstat saya muncul pertanyaan dari Google yaitu “Film romantis terbaik” ?

    Wah…ini pertanyaan sulit, dan judul filmnya belum saya tulis di posting saya dulu.

    Tapi kalau saya boleh memilih, saya akan memilih “Cassablanca” sebagai film romantis terbaik. Ini film buatan tahun 1942 waktu Perang Dunia II terjadi, dengan bintangnya Ingrid Bergman yang sangat cantik itu..

    Reply

  4. kunderemp
    Nov 30, 2007 @ 12:51:46

    Flags of Our Father justru ceritanya tentang prajurit2 yang mendirikan bendera yang depresi karena menurut mereka, perbuatan mereka bukan perbuatan heroik melainkan perbuatan biasa-biasa saja. Dan mereka tertekan karena dianggap pahlawan.

    Ada yang sampai minta dikirim kembali ke medan perang.

    Reply

  5. tridjoko
    Nov 30, 2007 @ 21:27:53

    Mas Kunderemp: beda antara nonton film di bioskop dengan di rumah (VCD). Kalau nontonnya di gedung bioskop, pasti kita harus menontonnya sampai selesai karena kita sudah bayar. Sayapun begitu, kecuali waktu nonton “Fatal Attraction” saya keluar sebelum film selesai karena tidak tega melihatnya…

    Tapi kalau nonton di rumah melalui VCD, walaupun original VCD, mood kita akan tampak di 5 menit pertama. Jika filmnya menarik kita akan menontonnya sampai selesai, tapi kalau 5 menit pertama sudah membosankan, pasti kita akan segera mematikan VCD player. Itu yang saya lakukan dengan “Flags of our father”…

    Saya lebih suka “kembaran” dari “Flags of our father” yaitu “Letters from Iwo Jima” karena ada pertanyaan besar yang ingin saya jawab. Yaitu, bagaimana sih seragam AD dan AL Jepang di Perang Dunia II yang lalu ? Apa warnanya, apa tandanya, apa pangkatnya ?

    Karena, bapak dulu konon sempat jadi tentara Heiho yang ikut bertempur dengan AL Jepang sampai ke Tanjung Pinang (30 km sebelah selatan Singapura) pada tahun 1944-1945 kira-kira…

    Reply

  6. andi
    Oct 31, 2009 @ 10:15:20

    tolongin gua carikan judul film-film cowboy
    tapi pemeran lakonya Clint eastwood yang suka
    dar der dor. trim

    Andi,
    Yang paling saya sukai film cowboy yang pemeran sekaligus sutradaranya Clint Eastwood adalah “Unforgiven“…

    Belum ketemu judul-judul yang lain, kalaupun ada….produksinya sudah tahun lama sekali…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: