Mississipi Burning

Waktu saya sedang nulis tulisan ini, saya sedang nonton film “Mississipi Burning” di saluran TV Trans7. Trans7 adalah salah satu stasiun TV yang saya sukai karena tidak ikut-ikutan dengan “arus besar” menayangkan sinetron yang tidak ada gunanya kecuali memamerkan kemewahan. Bintang film yang membintangi “Mississipi Burning” antara lain Gene Hackman si aktor watak, dan juga William Dafoe.

“Mississipi Burning” adalah salah satu film yang membahas masalah rasial di Amerika Serikat, terutama di daerah selatan seperti Mississipi, Arkansas dan Alabama. Masih banyak film lain dengan genre serupa yang semuanya serba sedih, misalnya “In the Heat of The Night” yang dibintangi oleh Sidney Poitier (mmm…correct me if I am wrong). Selain di daerah selatan, film-film yang membahas rasial itu mengambil waktu sekitar akhir tahun 1950an sampai awal 1960an dimana masalah rasial masih sangat kental di Amerika Serikat.

Saya jadi ingat tahun 1985 akhir ketika saya mulai mengikuti les TOEFL dan GRE secara intensif di American Language Training (ALT) di Jalan Cideng yang guru-guru native speakernya antara lain Michael Cummings (mantan pelatih sepakbola sukses dari Perseman Manokwari), dan suami isteri Steve dan Beth Kupper-Herr.

Di akhir tahun 1985 itu, tahukah anda universitas apa yang pertama kali ada di ingatan saya untuk melanjutkan post graduate study di bidang Computer Science ? You bet. Ya, University of Tennessee at Knoxville. Mengapa, ya karena UTenn terletak persis di jantung Amerika Serikat. Pasti asyik sekolah di sana, pikirku waktu itu. Sampai pada waktu paginya, koran KOMPAS memberitakan satu photo tentang ketegangan rasial di Knoxville, Tennessee, yang baru terjadi, disertai dengan gambar tiga orang berjubah putih pakai topi bentuk prisma dengan mata bolong. Semua orang sedunia juga tahu, itu Klu Klux Klan, suatu organisasi supremasi kulit putih !! 

Wah, gawat nich, pikir saya. Tidak ada hal lain yang kulakukan selain mencoret pilihan sekolah di University of Tennessee at Knoxville (di bulan Desember 1986 ketika saya sudah mendarat di Amerika Serikat dan menjalani kursus bahasa Inggris di Florida International University at Bay Vista Campus, Miami, saya melihat serombongan atlet cewek dari UTenn sedang berlatih renang persis di sebelah ruang kelas bahasa Inggris saya. Saya melirik sebentar atlet-atlet cewek yang rata-rata berwajah cakep dan pakai baju oranye – warna khas UTenn itu. Saya jadi agak menyesal mencoret UTenn..he..he..) 

Sebulan dua bulan di Miami, saya masih belum ngeh apakah benar di Amerika Serikat kini (tahun 1986) masih ada masalah rasial. Sepengamatan saya, Miami kotanya fine-fine aja. Kota yang 48% penduduknya adalah Latino dari Cuba ini terlihat sangat damai antara ras-ras yang ada. Tapi memang ada daerah-daerah khusus untuk masing-masing ras (atau lebih tepat, golongan ekonomi, ngkali ya ?). Di sebelah selatan Miami dimana Coconut Grove ada, dan dimana University of Miami yang sangat terkenal sebagai American Football Powerhouse ini kampusnya terletak, suasananya sangat high class, ya mirip dengan daerah Menteng atau Pondok Indahlah kalau di Jakarta. Tapi di sebelah barat laut kotanya penuh dengan pemukiman kumuh (belakangan, setelah saya tinggal satu dua tahun di Amerika Serikat, di setiap kota pasti punya pembagian wilayah kemakmuran ekonomi seperti itu, dan itu sudah merupakan hal yang biasa).. 

Akhirnya pada tanggal 3 Januari 1987 saya terbang menuju Bloomington, Indiana, dimana saya akan melanjutkan studi Computer Science saya. Dari 24 teman yang kursus bahasa Inggris di FIU, semuanya menyebar ke universitas tujuan yang berlainan. Atmaji Wiseso anak EL ITB pemenang Jubelium Prize itu menuju ke Rice University di Houston Texas untuk program Ph.D. in EE. Fuadi Rasyid yang pernah 3,5 tahun sekolah di Jerman itu menuju ke Ohio State University untuk ngambil Ph.D in Food Science. Yang lainnya pada ngambil Master’s : Jajang dan Simamora ke George Washington University, Washington D.C untuk ngambil Operations Research. Yuni ke University of Illinois Urbana-Champaign untuk ngambil Food Science. Mimin ke Colorado State untuk ngambil Astrophysics. Tati ke Humbold University untuk ngambil Environment Engineering. Siswanto ke University of Wisconsin at Madison untuk ngambil Urban Planning. Rosiwarna ke University of California at Santa Barbara untuk ngambil Economics. Rosi Setiaji dan Gono ke University of Texas at El Paso untuk ngambil Animal Husbandry. Herdi ke New York Polytechnics untuk ngambil Computer Science. Prianto ke Universitas yang sama tapi ngambil Civil Engineering. Simon ke Lehigh University di New Jersey untuk ngambil Computer Science, dan last but not least saya sendiri ngambil Computer Science di Indiana University at Bloomington.  Siapa ya yang lainnya ?

Setelah satu tahun tinggal di Bloomington saya merasakan bahwa di kota ini alhamdulillah tidak ada masalah rasial yang besar karena kotanya sangat internasional. Banyak mahasiswa yang berasal dari berbagai negara di seluruh dunia, kebanyakan ngambil program Master’s dan Ph.D. Sedang orang Amerika  sendiri banyak yang ngambil program undergraduate. Hanya ada hal-hal kecil misalnya ada teman se asrama orang Afrika yang suka berolahraga lari pagi dan sukanya masuk hutan-hutan yang ada di kampus. Katanya ia sudah beberapa kali mengalami pelecehan atau harassment yang bersifat rasial. Bentuknya seperti apa ya nggak terlalu jelas, mungkin disiulin atau diludahin, nggak ada yang tahu kecuali dianya sendiri.

Saya sendiri yang pernah malah mengalami “sweet teasing”. Misalnya pas saya jalan kaki sendiri di trotoar malam-malam dekat Library Building, tiba-tiba serombongan cewek yang pakai mobil convertible warna putih berhenti dan salah satu cewek mengeluarkan kepalanya dari mobil sambil nanya, “Excuse me, which way to College Mall is ?” (kamana teh arah ke College Mall kitu). Saya lalu dengan seriusnya ngejelasin karena nyangka mereka orang yang baru datang ke Bloomington. “Thank you”, katanya setelah penjelasan yang panjang lebar. Eh, nggak tahunya 10 meter setelah mobil mereka jalan semua cewek yang ada di mobil pada ketawa terbahak-bahak. Sialan lu, ngerjain saya saja, umpat saya ! Apakah saya marah ? No way, Jose !

Dari omong-omong antar orang Indonesia yang sering makan bareng di kantin Eigenmann, saya tahu bahwa ada kota kecil yang letaknya sekitar setengah jam di sebelah utara Bloomington yang katanya agak rasialis penduduk-penduduknya. Kalau lagi lewat kota itu, sekali-kali jangan berhenti untuk makan di restoran atau ngisi bensin di gas station, wanti-wanti teman itu.

Kota itu yang bernama Martinsville, emang kelihatannya agak serem kalau nggak bisa dibilang kota yang dingin. Banyak dindingnya berwarna putih atau merah bata. Jarang sekali penduduk yang berkeliaran untuk jalan-jalan. Dan saya ataupun teman-teman lainnya berdiri bulu kuduk jika lewat kota itu.. 

Sikap rasialis memang tidak pernah kelihatan, tapi kamu bisa merasakannya. 

Pada suatu hari di departemen saya kedatangan seorang assistant professor baru orang kulit hitam. Ia lulusan universitas yang sangat terkenal dengan program Computer Science-nya, yaitu universitas yang sama dengan Onno Purbo, pakar komputer mantan dosen ITB itu.  

Waktu itu saya lagi di perpustakaan departemen mau pinjam buku. Si profesor itu datang juga ke perpustakaan untuk pinjam buku, dan ia pergi dengan seorang sekretaris departemen yang kebetulan berkulit putih. Penjaga perpustakaan yang cewek kulit putih bilang, “Pak, kalau anda mau pinjem buku reserved di perpustakaan ini, anda harus seorang dosen“, kata si cewek sambil menatap mata profesor yang kulit hitam itu dengan nada menyelidik sambil tidak percaya kok ada profesor di universitas sebagus ini kok berkulit hitam. 

Si profesor lalu manggil si sekretaris, “He sekretaris ke sinilah, jawab si mbak ini apakah saya seorang profesor ?“. Si sekretaris datang sambil bilang, “Yes, of course, why ?“. Akhirnya si mbak penjaga perpustakaan itu tersipu malu….

Dan saya mengambil nafas, lega rasanya…..

2 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Nov 16, 2007 @ 07:29:05

    Masalah2 di atas mungkin tak hanya di Amerika, namun dimanapun berada pasti ada sisi manis dan sisi nggak enaknya.

    Saat saya sempat jalan-jalan ke London, karena ga ada yang wanti2 rasanya nyaman aja, dan orang bule di London sangat helpful.
    Saat ke Paris, yang kebetulan ada teman dari Indonesia yang menikah dengan bule Perancis, selalu cerita yang bikin kita seram. Kalau lihat stasiun metro (kereta api bawah tanah), di Perancis memang lebih kotor dan sepi dibanding di Inggris…tapi saat saya ke Bandara Charles de Gaulle, sopir taksinya bule muslim, malah ramahnya nggak karuwan. Sayang kami udah harus ngejar pesawat pulang ke Jakarta.

    Reply

  2. tridjoko
    Nov 17, 2007 @ 00:42:06

    Yah emang itu pointnya. Kalau ada orang item satu, kita sudah merasa terancam. Tapi kalau ada orang bule seribu, kita tenang-tenang aja.

    To tell you the truth, di Singapore kalau ada muka melayu satu saja saya merasa tidak aman (padahal saya muka melayu), tapi kalau ada muka chinese sepuluh saya ok ok saja (harus kuakui perasaan ini sangat aneh, tapi itulah yang kurasa waktu itu)..

    Waktu itu saya tinggal di hotel di wilayah melayu. Pas pagi hari saya mau nyetop taksi, eh satu..dua..sampai lima taksi nggak mau berenti padahal semuanya kosong. Baru taksi keenam berhenti. Ketika saya nanya ke sopir taksi kenapa sudah lima taksi saya setop mereka tak mau berenti ? Si sopir taksi dengan enteng ngejawab “sibuk ngkali…”. O gundulmu amoh !

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: