Ketika alam menangis, manusiapun menjerit

Pada saat saya mengajar skripsi jalur kelas pada hari Kamis, 13 Desember 2007, mbak yang menunggui rumah di Madiun menelpon di handphone saya, “Mas, apa ada rencana menengok rumah Madiun akhir tahun ini ?”. “Wah, belum tentu mbak, soalnya seminggu lagi ada acara keluarga di Jakarta”, kata saya. “Nanti deh kalau jadi ke Madiun saya nelpon lagi”…

Seminggu kemudian, di rumah ada acara keluarga yang sangat penting. Untungnya, acara berjalan lancer dalam arti kondisi cuaca tidak dalam keadaan hujan deras, dan sebagainya. Semuanya bahagia, beberapa saudara yang membantu acara itu besoknya saya antar pulang..

Rencana ke Madiunpun semakin jauh, saya telpon si mbak, “Mbak, kayaknya akhir tahun ini kami sekeluarga belum jadi ke Madiun deh karena takut di jalanan banyak banjir”, alasan saya kepada si mbak. Walaupun saya rasa Jakarta cuacanya agak bersahabat dan hanya gerimis sedikit, saya menjadikan cuaca sebagai alasan belum bisa pulang nengok rumah Madiun…

Selintas, saya ingat sebuah nyanyian Jawa jaman dulu (jadul) yang biasa dinyanyikan anak-anak sekolah seusia saya pada waktu itu atau oleh tukang-tukang becak yang banyak mangkal di sudut-sudut kota Madiun :

Mlaku panas-panas

Ora nggawa payung

Sandale diseret

Dlamakane mlenthung 

Surabaya geger

Ngungsi neng Madiun

Madiun – Jakarta

Janji rukun tetep merdeka 

(Jalan di cuaca panas/Walking under the hot sun


Tidak membawa payung/Forgot to bring my umbrella

Sandalnya diseret/Have to drag my trongs

Telapak kakinya bengkak/Until my feet swolen 

Surabaya rusuh/Surabaya’s  rioting

Mengungsi ke Madiun/Have to flee to Madiun

Madiun-Jakarta/Madiun-Jakarta

Asal rukun kita tetap merdeka/Together we free forever)  

Lagu itu sangat sederhana, dan biasanya dinyanyikan sesuai dengan bait-bait yang ada di lagu itu, yaitu dalam cuaca yang panas dan untuk lebih mendramatisir suasana lagi, lebih baik kita tidak memakai payung dan tidak mengenakan alas kaki apapun di jalanan yang panas itu…

Mungkin lagu itu dibuat oleh para pelajar pejuang dari Brigade 17 yang sementara mengungsi ke Madiun pada saat terjadi pertempuran yang paling sengit (the battle of the bulge) selama 12 hari yang berakhir pada tanggal 10 Nopember 1945, dimana semua rakyat Surabaya tidak peduli pangkat dan derajatnya semua memanggul senjata – baik senjata api laras panjang, pistol, pedang, keris, sampaipun bambu runcing ! Hanya satu alasan : we don’t wanna be the blood of any nation no more !

Lagu itu juga menceritakan bahwa kota kelahiran saya Madiun, yang berjarak 169 km dari Surabaya, adalah kota kecil yang tenang yang menjadi tumpuan orang-orang yang sedih atau kacau (a shoulder to cry on, begitulah kira-kira).

Madiun yang tingginya 63 meter dari permukaan laut memang kota yang sepi dan damai, sampai sekarang, a very livable city. Cocok untuk kota pensiunan, ibarat Floridanya Amerika. Cuaca cukup, tidak terlalu panas karena diapit oleh dua gunung tinggi, di sebelah timur Gunung Wilis dengan tinggi 2.700 meter d.p.l. dan di sebelah barat tidur dengan nyenyaknya Gunung Lawu dengan tinggi 3.700 meter d.p.l.

Pada masa saya masih kecil, Madiun juga diapit dengan hutan-hutan lebat. Di sebelah timur ada hutan Ndungus dan Saradan yang terkenal lebat. Saking lebatnya ada sebuah gudang peluru milik tentara di sana, yah mengingatkanku pada Naval Weapons Support Center di Crane, Indiana, yang berada di tengah-tengah hutan lebat di pedalaman Negara bagian Indiana. Tidak hanya hutan lebat, tapi banyak rusa berkeliaran di hutan itu yang tidak boleh diburu kecuali pada musim berburu… 

Di sebelah barat, juga terdapat hutan jati Ngawi yang sangat terkenal, tidak kalah terkenal dan tidak kalah lebat dengan alas Roban di sekitar Pemalang. Kalau kita nyopir, mata kita tidak boleh meleng mengikuti lika-liku curvy roadnya hutan jati Ngawi. Apalagi di malam hari dalam suasana hujan lebat pula. Kalau siang hari masih agak mendingan, dan kita bisa melihat beberapa orang menjajakan burung perkutut, anak monyet, kelapa muda, dan yang sudah lama hilang….enthung jati atau ulat pohon jati yang sangat kloget-kloget nan lezat itu….(baca posting saya : Kuliner Masa Kecil)..

Waktu saya pulang dari sekolah di Amerika awal tahun 1990, kalau pulang ke Madiun naik mobil dari Jakarta, saya sengaja tidak melalui jalan mulus nan lebar Semarang- Solo – Madiun, tapi saya lebih suka melewati hutan-hutan jati di Purwodadi, Blora, Cepu, dan Ngawi. Mengingatkanku pada masa kecil sering diajak Bapak berkeliling hutan mengunjungi nenek yang rumahnya di tengah-tengah hutan Randublatung.

Sebelum tahun 1998, hutan jati Purwodadi yang letaknya dekat dengan Waduk Kedungombo, adalah favorit saya. Pohon pinusnya dan hutan jatinya sangat indah. Mengingatkan saya pada pemandangan Negara bagian Colorado (di film-film lho, karena saya belum sempat mencicipi Colorado karena berbagai alasan, waktu Summer bagus tapi waktu Winter sangat slippery. Teman saya Pak Sablin Yusuf pernah mobil VW Golfnya melintir gara-gara salju yang licin….)..

Apa yang terjadi pada tahun 1998 ? Semua dari anda pasti sudah tahu: Orde Baru jatuh, Pak Harto lengser dari Presiden, rakyat berpesta pora dan kesannya boleh melakukan apa saja atas nama perut yang keroncongan, hutan-hutan jatipun dibabat dan pemilik hutan tersebut, Perum Perhutani, tidak bisa mengontrol sepenuhnya. Dan worse still, daripada hutannya habis dibabat rakyat, maka hutan jati yang rata-rata sudah berumur 30 tahun dan kayunya sangat mahal itupun “dipanen”. Akibatnya, hutanpun gundul, dan hutan yang baru ditanampun hanya sedikit seolah malas tumbuh…

Akibatnya ?

Andapun sudah tahu sendiri. Magetan, Ngawi, Madiunpun banjir. Konon banjir terbesar dalam 40 tahun terakhir seingat saya… 

Pada tahun 1967, setiap tahun Madiun selalu banjir karena kali Madiun yang merupakan anak Bengawan Solo sudah semakin mendangkal. Kali yang terletak di barat kota itupun kalau hujan deras berlangsung lama tanpa ampun mengirim seluruh banjirnya masuk kota, apalagi bila ada tanggul tanah yang jebol. Saya masih ingat, banjir terbesar di tahun 1967 airnya sampai Oro-Oro Ombo di depan markas Batalyon di Bosba Jalan Diponegoro (dulu ada Batalyon 501 dan 520 di Madiun, yang di Bosba adalah Batalyon Infanteri regular, sedangkan yang di Mangunharjo adalah Batalyon Raiders/Airborne/Pemukul Reaksi Cepat).

Kemudian datanglah Menteri PU Ir. Sutami ke Madiun pada waktu itu, dan dalam setahun dibangunlah jembatan Kali Madiun yang baru berbentuk melengkung, lalu tanggul beton setinggi 4 meter dan setebal 10 meter dibangun membentengi kota, kalau tidak salah sepanjang 4 km dari Loh Duwur di sebelah selatan sampai Nglames di sebelah utara..

Tanggul beton yang sangat disyukuri masyarakat Madiun karena bisa membendung banjir, juga saya sesali secara pribadi karena melenyapkan situs-situs penting di Madiun. Antara lain rumah teman saya Herry terpaksa digusur dan sebuah pemakaman Belanda yang disebut penduduk setempat sebagai “Kerkof”pun ikut digusur karena menjadi lokasi tanggul. Akibatnya, saya yang dulunya sering belajar sewaktu SMP di kuburan Belanda tersebut kehilangan “situs sejarah” dan tidak bisa menceritakan kepada anak isteri saya seperti apa sih Kerkof itu, karena waktu saya kesana tahun 2001 yang lalu, yang ada malah beberapa rumah penduduk !!! Lho, londo sing wis mati kok tangi meneh jadi melayu ireng ??

Hari Rabu tanggal 26 Desember 2007 kemarin sewaktu di TVRI saya lihat teman saya Edi Prasetyantoko yang bekerja di Ristek sedang jadi penyiar menyiarkan pandangan mata latihan tsunami di pantai Banten, ternyata Madiun dan sekitarnya sedang diguyur hujan lebat selama berjam-jam dan konon kabarnya hujan di Ngawi yang terlebat selama 100 tahun terakhir !!!

Di TVpun saya lihat jalanan depan Stasiun Madiun banjir sampai setinggi paha orang dewasa. Lalu jembatan di Desa Kebonsari di perbatasan antara Kecamatan Dagangan (?) dan Kecamatan Takeranpun roboh hanyut terkena air banjir yang seperti bah. Ceritanya, siang atau sore itu hujan sangat derasnya dan orang-orangpun pada menonton sapi yang hanyut terbawa banjir bersama satu rumpun bamboo yang nyangkut di bawah jembatan. Satu mobil Isuzu Panther dan beberapa sepeda motor bersama sekitar 20 orang penumpangnya turun menonton banjir di jembatan itu. Waktu jembatan mulai bergetar dan berbunyi “Reekkkkaaaatttaaaakkkk”, sepasang cewek perempuan lari meninggalkan motornya dan selamat tapi motornya ikut hanyut. Menurut photo terakhir yang diambil oleh seorang polisi melalui kamera HPnya, orang yang berada di atas jembatan waktu itu ada sekitar 20 orang.

Kata seorang saudara yang sedang pulang ke Madiun, banjir kali ini adalah yang paling massif dan parallel (menurut istilah distributed processing). Kota Ngawi dikepung banjir sampai Geneng (PG Soedhono) dan terminal Ngawi. Ngawi arah Caruban banjir sampai Pasar Karangjati. Madiun ke utara banjir sampai Balerejo yang ke arah Caruban itu.

Walaupun pemerintah sudah punya Satkorlak dan Korlak Bencana Alam,  tapi menurut saya pribadi hal tersebut masih belum mencukupi untuk mengantisipasi bencana-bencana di masa dating, karena itu barulah “tindakan setelah terjadinya bencana”…

Yang lebih penting adalah membentuk satu task force penelitian tingkat nasional, kalau perlu membentuk semacam Club of Rome tahun 1970an lalu, untuk membuat scenario pertumbuhan penduduk, pangan, energi dan kerusakan lingkungan di masa 10, 25 dan 50 tahun ke depan…

Di Binus waktu saya menjadi Dekan Fakultas Teknik di tahun 1999-2000an, pernah ada seorang bule (saya lupa dari Colorado State U. atau dari Curtin U.) mendemokan software simulasi banjir di kota Athena, jika beberapa konstrain diubah apa yang terjadi dengan banjir di Atherna. Seberapa luas dan seberapa lama ? Itulah mestinya tugas para ilmuwan ilmu kebumian dan ilmu computer untuk memberikan peringatan kepada siapa saja, bahwa sebenarnya bahaya lingkungan di Indonesia sudah mengetok-ngetok di depan pintu rumah kita, Indonesia….

  

Prolog : barusan saya telpon saudara yang bermukim di Ponorogo. Kelihatannya banjir kali ini adalah yang terbesar dalam 40 tahun terakhir. Dibandingkan banjir tahun 1967 yang banjirnya kea rah timur hanya sampai Jl. Dr. Sutomo, pada tahun 2007 ini banjirnya sampai 5-6 blok lebih ke timur sampai stadion Madiun.  Rumah saudara saya di Ponorogo yang dua blok di sebelah selatan Sate Pak Bagong, 200 meter di sebelah selatan rumahnya banjir sampai 2 meter. Banyak tanggul yang jebol, jalan dari Ponorogo ke Wonogiri, ke Pacitan, atau ke Trenggalek terendam sampai 2 meter. Madiun banjir juga karena air got tidak bisa terbuang ke Kali Madiun karena kali sudah penuh air dari arah selatan sehingga air dari got mental balik kearah barat dan timur dari Kali Madiun.

Ngejembreg

Judul tulisan ini bukan berasal dari bahasa Jerman, tapi berasal dari bahasa “Jerman” (jejere Kauman) yang artinya messy, untidy, dirty, pokoknya yang berhubungan dengan keadaan : tidak teratur, tidak terawat, tidak beraturan, dan tidak classy. Nah !!

Mungkin anda cukup lama mengamati orang-orang Amerika pada umumnya, whatever the race is, bisa yang kulit putih, kulit hitam, kulit merah, kulit coklat, atau kulit kuning ?

Kalau anda cukup jeli, rata-rata orang Amerika mempunyai gigi yang teratur rapi, a flashing smile !! Mengapa ? Konon kata seorang teman yang waktu itu ngambil Ph.D di Case Western Reserve University, Cleveland, Ohio, yang membawa serta isteri dan anak-anaknya, di SD Amerika (Primary School) setiap saat ada perawatan gigi bagi anak secara gratis.

Gigi anak yang bolong, copot atau perlu perawatan khusus akan diperhatikan dengan baik, gratis pula. Makanya kesimpulan saya tentang tokoh wayang orang atau wayang kulit satu ini, yaitu Buta Cakil, dia bukan lulusan Amerika karena giginya mrongos, tonggos, dan suka main keris pula (Jaka Sembung makan jahe, nggak ada hubungannya he..he..)..

Ciri kedua dari orang Amerika adalah rata-rata rumahnya dalam keadaan rapi, minimalis, dan bersih. Pokoknya tidy and clean-lah !

Saya mula-mula heran waktu mencoba mengambil kesimpulan itu, tapi dengan berdiskusi bareng beberapa teman Amerika di meja makan, baca Koran atau majalah, maka jawabanpun didapat..

Ternyata, 25% penduduk Amerika dalam 5 tahun akan pindah rumah !!! Baik pindah rumah di kota yang sama, di kota yang berbeda di negara bagian yang sama, atau di kota yang berbeda di negara bagian yang berbeda, ataupun malahan pindah ke kota di luar negeri. Akibatnya, waktu pindah rumah, apalagi bila jaraknya jauh, pasti sebagian besar barang : furniture, buku, baju, perlengkapan dapur, perlengkapan garasi mobil, akan dibuang ke tempat sampah, di taruh di tempat penampungan Bala Keselamatan (drop zone of Salvation Army), diberikan teman atau tetangga, ataupun dijual murah ke teman atau tetangga (yang terakhir ini biasanya peralatan elektronik: radio, tv, tape recorder).. 

Akibatnya lagi, rumah atau apartemen yang baru ditempati akan kelihatan minimalis dan rapi, tentu saja, karena jumlah barang-barangnya akan sedikit… 

Apa yang terjadi di rumah-rumah orang Indonesia termasuk rumah saya ?

Sebelum menikah, selama berpacaran dengan bekas pacar saya (isteri saya sekarang), saya bilang padanya “Aku nanti kalau menikah denganmu, harta saya tidak akan banyak, tapi buku-buku saya pasti akan banyak sekali, memenuhi segenap ruangan, memenuhi segenap meja dan kursi, lantai dan almari”, kata saya…

Bagi anda yang pernah datang ke rumah saya, “ramalan” saya itu sekarang telah menjadi kenyataan…

Saya punya banyak buku di rumah. Karena selama belajar di tingkat undergraduate maupun post graduate, saya banyak membeli buku. Saya juga banyak ikut club buku semacam LCIS (Library of Computer and Information Sciences) kalau tidak salah. Di klub ini, setiap bulan saya akan dikirimi buku yang tidak wajib kita beli. Kalau tidak kita beli, buku tersebut cukup dikirim lagi ke gudangnya. Tapi kalau kita beli, ya buku kita tahan, dan cek kita kirimkan ke mereka. Di klub ini ada juga tawaran “member gets member”, jadi selepas pertemuan Permias se Midwest saya akan mencatat nama teman-teman yang datang di pertemuan tersebut. Saya lapor ke LCIS tentang nama dan alamat mereka, LCIS mengirimkan tawaran ke mereka (tawaran pertama: 10 buku tentang Computer and Information Sciences dengan harga hanya US $1), dan kalau salah satu dari mereka memutuskan join dengan LCIS maka saya akan mendapat gratis 1 buku computer. Jadi, tidak heran di suatu bulan saya akan menerima “hadiah” dari program “member gets member” 10 sampai 15 buku per bulan…

Akhirnya, jumlah buku saya menjadi hampir tak terhitung. Sewaktu saya masih menjadi salah satu pejabat di Binus, ruangan saya selain dipenuhi lukisan juga dipenuhi buku-buku computer, copy skripsi mahasiswa, berkas-berkas ISO-9000, majalah-majalah computer, catalog-katalog Binus, brosur-brosur Binus, dan masih banyak lagi. Cukup untuk memenuhi 1 kamar kerja berukuran 3 x 3 m2….

Tapi pada suatu hari, sesuatu yang tidak diharapkan, tapi sudah diantisipasi, terjadi. Saya diputuskan tidak menjadi pejabat Binus lagi, dan konsekuensinya, dalam waktu 1 bulan saya harus mengosongkan ruang kerja saya berikut komputer yang ada, dengan bersih. Akhirnya buku saya yang berjumlah satu kamar saya muat ke 20 tas besar kecil dan saya masukkan ke mobil Espass saya.  Sampai di rumah, buku-buku tersebut saya pindahkan ke salah satu kamar di rumah yang berfungsi sebagai gudang buku…

Worse yet, beberapa bulan setelah saya “boyong kantor” ke rumah, kantor isteri saya oleh seorang Presiden RI pada masa itu, diperintahkan untuk dibubarkan dalam waktu 1 bulan karena “situasi sudah berubah dan itu hanyalah kantor lama warisan dari rejim lama yang sudah tidak sesuai lagi dengan situasi sekarang”. Padahal normalnya pembubaran kantor dilakukan dalam waktu 1 tahun, tapi ini hanya 1 bulan. Akibatnya, isteri sayapun terpaksa mengepak buku-buku yang ada di kantornya sebanyak satu mobil dan diboyong ke rumah.

Worse still, kalau buku-buku dan kertas-kertas saya sebagian bisa langsung dibuang ke tempat sampah, tapi kalau buku-buku dan kertas-kertas isteri saya sebagian besar bertuliskan “rahasia” yang tidak mungkin dimusnahkan kecuali dibakar atau dicincang dengan “paper shredder”. Tapi saya nggak mau membakarnya karena asapnya akan mengganggu tetangga, dan paper shredderpun saya tidak punya…

Akibatnya, salah satu kamar saya dihuni buku-buku yang berasal dari 2 kantor : kantor saya dan kantor isteri saya…

Buku-buku tersebut tidak saya apa-apakan, saya biarkan saja, dan kebanyakan disimpan dalam almari tripleks bikinan sendiri yang bersifat sementara…

Tapi Tuhan Maha Adil dan Maha Pencipta, termasuk menciptakan makhluk-makhluk super kecil yang hampir tidak bisa dilihat yang pekerjaannya adalah memakan buku, yaitu rayap !!

Lama kamar buku itu saya tak tengok, dan pada suatu hari setelah saya menengoknya, lebih dari 50 persen buku-buku saya sudah dimakan sama binatang kecil itu.

Sedihkah saya ?

At first, ya. Setelah itu, lama-lama saya sudah bisa menerimanya. By nature, ingatan saya akan sebuah kursi di Binus sudah terlupakan, dan dengan taktis kertas-kertas isteri saya yang berkualifikasi rahasiapun diubah oleh binatang kecil-kecil tadi menjadi bubur tanah, tak sebutir hurufpun yang tersisa…

Masih ngejembreg-kah rumah saya ? Apakah saya sekarang menjadi tidy and clean, seperti rumah-rumah orang Amerika ?

Saya ingat sebuah katalog Rice University waktu saya berniat melanjutkan studi saya ke program Ph.D bidang Computer Science. Di sebuah katalog ada foto faculty (dosen) dari Computer Science Department di Rice University, beliau duduk di kursi kerjanya, tersenyum, di latar belakangnya banyak buku-buku dan ada sebuah tulisan yang cukup mencolok berbunyi : “Clean desk is the sign of dirty mind”…

Dan, tulisan itulah yang sekarang menghiasi kantorku di BPPT.  Bagaimana dengan kantorku di Binus ? Hah, tadi belum baca ? Saya tidak mempunyainya, sejak 7 tahun yang lalu…. 

Bagaimana dengan rumah saya, apakah sekarang tidy and clean ?

Huh….it’s really a good question !!!

(typical jawaban professor Amerika kalau sulit menjawab atau tidak mau menjawab pertanyaan dengan segera…)…

Veal Parmigiana

Salah satu makanan favorit atau main course favorit saya selama tinggal di Eigenmann Hall adalah “veal parmigiana”, sejenis bistik yang dibuat dari daging domba muda (young lamb ?) yang amat sangat empuk. Makanan ini jika diiris pisau makan dengan lembutpun akan langsung terpotong… 

Veal dimakan bersama-sama dengan kentang goreng, irisan wortel, sedikit brocolli, dan cauliflower alias kembang kol. Hmmm…enaaaak… 

Hari ini Rabu tanggal 19 Desember 2007 Binus belum libur. Hari ini saya malahan harus ngajar 6 sks, mata kuliah PAA (Perancangan dan Analisis Algoritma) dimulai jam 11.20 sampai jam 15.00, dilanjutkan dengan mata kuliah IMK (Interaksi Manusia dan Komputer) dari jam 15.20 sampai jam 17.00. Semua mahasiswa hadir di kuliah PAA karena mahasiswa sendiri yang ingin kuliah di hari ini, supaya nanti tanggal 2 Januari tidak perlu masuk alias Off Class (OFC). Dengan demikian, mahasiswa dapat menikmati liburannya lebih panjang di kampung halamannya sana. Tapi di kelas IMK, dari 70 orang mahasiswa, 15 orang di antaranya tidak hadir kuliah. “Mungkin lagi cari kambing atau sapi“, pikirku positif.. 

Karena sehari menjelang Idul Adha, maka sudah banyak hewan kambing, domba dan sapi dijual di sekitar Binus kampus Syahdan. Mesjid di pojokan pertigaan sebelah kiri kampus Syahdan malahan sudah memasang tenda untuk acara besok paginya. Mesjid persis di depan kampus Syahdan juga disibukkan dengan Panitia yang mulai mendatangkan beberapa ekor kambing dan sapi untuk diinapkan. Saya lihat beberapa anak kecil dan anak tanggung (remaja) sedang membawa (lebih tepat “menarik“) seekor domba untuk dijadikan korban esok harinya. Ya, saya melihat rata-rata yang digeret oleh beberapa orang anak adalah domba dan bukan kambing, walaupun kambing juga banyak dijual di sekitar Binus… 

Keinginan tahu saya membesar, “Mengapa ya anak-anak kecil itu membawa seekor domba untuk dikorbankan, dan bukannya kambing ?“. Karena tidak ada jawaban, maka sayapun berusaha menjawabnya sendiri. Pertama, domba harganya lebih murah daripada kambing, mungkin sekitar Rp 100.000 sampai Rp 200.000 lebih murah. Tapi alasan kedua, mungkin penduduk Betawi lebih menyukai daging domba daripada daging sapi setelah dimasak menjadi sate, gule, ataupun tongseng… 

Karena veal yang saya sebut di atas adalah daging domba (lamb) dan bukannya daging kambing (goat), makanya saya lalu mengambil kesimpulan bahwa orang Amerikapun lebih menyukai daging domba daripada daging kambing, sama dan sejalan dengan orang Betawi yang lebih menyukai daging domba daripada daging kambing (Saya berhutang kesimpulan ini dari kawan baik sekantorku, Ibrahim Hubeis, yang hobinya “wisata kuliner“ dari ujung Jakarta yang satu ke ujung Jakarta yang lain)… 

Sekarang pertanyaannya, “Apa beda rasa daging domba dengan daging kambing ?“. Wah, ini pertanyaan yang sulit dijawab, mungkin Pak Bondan Winarnopun sulit menjawabnya. Tapi kalau pertanyaannya diubah, “Apa beda rasa daging sapi (beef) dengan daging kerbau (water buffalo meat) ? Saya mungkin bisa menjawabnya, karena daging kerbau mempunyai serat-serat yang lebih besar dan lebih kasar daripada daging sapi. Tapi saya dengar, orang-orang Betawipun di acara makan-makan Idul Fitri ataupun di hajatan lebih menyukai daging kerbau daripada daging sapi. 

Apakah benar ? Mungkin anda tahu jawabannya.. 

[Catatan : Pertama, korban hewan di hari Idul Adha berasal dari riwayat Nabi Ibrahim yang diharuskan Allah untuk menyembelih anak kesayangannya Ismail, padahal Nabi Ibrahim teramat sangat sayang dengan putranya ini. Setelah sebilah pisau yang tajam ditempelkan di leher Ismail dan mulai digeser, ternyata Nabi Ibrahim, atas kebesaran Allah, menyembelih seekor domba yang gemuk dan bukan menyembelih putranya Ismail. Kepercayaan ini diikuti oleh pemeluk agama Islam, Kristiani, dan Yahudi, tapi yang merayakan Idul Adha yang bersamaan dengan ibadah haji adalah pemeluk agama Islam. Kedua, apapun binatang yang dikorbankan oleh seseorang di hari Idul Adha: domba, kambing, sapi atau kerbau, yang sampai kepada Allah adalah taqwanya (his or her loyalty)] 

Asian Idol : and the winner is….

Muhammad Mirzahady bin Amir atau Hady Mirza dari Singapura akhirnya memenangkan the First Asial Idol dalam Asian Idol result show minggu malam lalu. Walaupun saya nonton result show itu di antara merem dan melek, sehingga tidak sempat nonton Taylor Hicks dan Guy Sebastian, tapi saya melek kembali pada saat pengumuman dibacakan Ata…

Menangnya Hady, saya sudah duga. Secara voice, Mike dari Indonesia dan Mau dari Filipina unggul. Tapi secara wajah, Hady Mirza dari Singapura dan Phuong Vy dari Vietnam unggul..

Dan sebelumnya, beberapa juri dari 6 juri yang ada sudah memberikan “clue” sebagai berikut..:

Paul Moss (Malaysia), “Hady, your voice is biasa-biasa saja, tapi kamu ganteng dan mungkin karena kegantenganmu itu kamu bakalan dapat suara dari the women voters…”.

Itu diucapkan kalau tidak salah oleh Paul Moss waktu Show hari Sabtunya…

Dan pada saat Result Show dan para juri diminta kasih komentar, kalau tidak salah Steven Lim dari Singapore bilang..

Steven Lim (Singapore) : “Saya mungkin pilih satu di antara Mike, Mau atau Jac…. Tapi di show besar seperti ini yang ditonton oleh banyak orang di 6 negara, mungkin saja terjadi upset….”

Pagi ini, sambil saya ngantar anak saya Dessa ke kantor saya tanya, “Dess, kamu tahu nggak apa yang disebut upset sama Steven Lim juri Asian Idol ?”.

“Nggak tahu”, kata Dessa tanpa rasa bersalah..

Saya terpaksa menjelaskan, “Upset itu pihak yang lemah mengalahkan pihak yang kuat. Misalnya David lawan Goliath, David kecil dan Goliath raksasa besar, maka secara odd Goliath mestinya menang, maka kalau akhirnya David akhirnya menang, atau istilahnya against all odds, itulah yang disebut upset….”

Mengapa Hady menang ? Mungkin penonton Asian Idol 55-60% nya adalah perempuan, mengikuti statistik populasi Indonesia dan juga di negara-negara lain.  Kegantengan Hady banyak menarik minat perempuan pemirsanya yang akhirnya memberikan vote kepada Hady. Apalagi, vote-nya memang dirancang untuk tidak merugikan peserta dari negara berpopulasi kecil macam Singapore, maka aturan “single sms, two votes” berlaku.

Maka seperti orang Indonesia yang banyak mendukung Mike, maka selain ia memilih INDO, dia harus memilih satu negara lain selain INDO, maka mungkin saja ia akan memilih INDO  SIN, karena selain Mike ia akan memilih Hady, yang pada akhirnya vote untuk Hady membengkak….

Apakah saya senang dengan kemenangan Hady ? Seperti komentar para juri, “Eventually Asia will win, no matter who will be the first Asian Idol…”, maka sayapun senang juga dong..

Apalagi, saya pernah 9 bulan penuh tinggal di Singapore. Di blog saya banyak masuk inquiry tentang “biodata Hady Mirza”. Maka kalau saya boleh menebak, Hady pasti tinggal di daerah Bedok, Eunos, atau Kembangan di Singapore sana..

Benar tak, Hady ?

p.s. :

Biodata Hady Mirza antara lain ada di http://ms.wikipedia.org/wiki/Hady_Mirza

Biodata Phuong Vy agak sulit dicari, kalaupun ada biasanya dalam bahasa Vietnam. Tapi coba link ini : http://asianidol2007.blogspot.com/2007/12/phuong-vy-and-hady-mirza-on-asian-idol.html

Mestikah Binus punya Fakultas Hukum ?

Kamis siang agak sore tanggal 13 Desember 2007, sehabis ngajar skripsi kelas di Kampus Kijang, seorang mahasiswa saya cerita bahwa ia pagi harinya dengan beberapa teman Binus lainnya pada lari terbirit-birit dari rumah kost mengungsi ke kampus Syahdan. Katanya ada OYK (Operasi Yustisi Kependudukan) dari para petugas Sudin Kependudukan dan Catatan Sipil Kantor Walikota Jakarta Barat.

 

Banyak mahasiswa yang “kejaring” karena tidak bawa KTP DKI Jakarta dan terpaksa “dibawa” ke Kelurahan Palmerah di Kompleks Sandang itu, dan diadili di tempat karena pelanggaran “tipiring” (tindak pidana ringan) dan diwajibkan membayar denda Rp 15.000,- per orang.

Sabtu paginya, saya membaca suatu berita di Warta Kota dengan headline “Mahasiswa Binus Protes OYK”.

Pertanyaan saya, “Apakah kampus-kampus lainnya di Jakarta Barat semacam Trisakti, Tarumanagara, dan Ukrida yang sama-sama terletak di Jakarta Barat juga terkena OYK para mahasiswanya yang tinggal di rumah-rumah kost ?”

Jawabannya tentu saja, bisa “ya” bisa “tidak”. Dan saya ingin tahu, dan keingintahuan saya sangatlah besar. Tapi mengingat di Koran Warta Kota tidak ada berita OYK di kampus-kampus lainnya di Jakarta Barat, asumsi saya : hanya Binus yang terkena OYK. Mengapa ?

Pertanyaan tambahan, “Apakah kampus-kampus lainnya yang terletak di daerah lain seperti Jakarta Pusat (UBK, UKI, UPI YAI, Gunadarma, Atmajaya), Jakarta Selatan (Al Azhar, UIN), Jakarta Timur (UKI, Jayabaya), dan Jakarta Utara (Untag), serta Depok (UI, Gunadarma) juga terkena OYK para mahasiswanya yang tinggal di rumah-rumah kost ?

Jawabannya, saya belum tahu. Nanti saya cek…

FYI, memang dua tahun lalu telah diundangkan UU baru, kalau tidak salah UU No. 23 Tahun 2006 tentang Kependudukan, yang paradigmanya sedikit berbeda dari peraturan yang lama. Di UU baru tersebut, pejabat yang berhak menandatangani KTP tidak lagi Lurah dan Camat, tetapi Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil di Pemda setempat. Mengurus KTPpun agak sedikit ribet, yaitu harus mengisi 3 macam formulir sebagai berikut :

1) Formulir Isian Biodata Penduduk untuk WNI (per Keluarga) – formulir ukuran kertas A3 (2 kali lebar A4)

2) Formulir F-1.06 tentang Formulir Permohonan Kartu Keluarga (KK) – ukuran A4

3) Formulir F-1.07 tentang Formulir Permohonan Kartu Tanpa Penduduk (KTP) – ukuran A4

Formulir-formulir tersebut diisi dan ditandatangani oleh Ketua RT dan Ketua RW setempat, tentunya disertai dengan Surat Pindah dari tempat yang lama, dan juga KTP asli yang lama. Setelah dikumpulkan di Kelurahan, KTP diproses awal, kemudian dibawa ke Kecamatan untuk diproses lanjut, dan akhirnya dibawa ke Sudin Kependudukan dan Catatan Sipil Pemda setempat untuk dibuatkan “KTP Nasional”-nya. Waktu proses adalah 4-5 hari kerja. Mengapa saya tahu ? Ya, karena selain sebagai dosen saya juga menjabat sebagai Ketua RT di lingkungan saya tinggal…

Tapi yang belum jelas, UU 23/2006 kan membahas tentang KK dan KTP untuk keluarga yang “menetap”: maksudnya ada suami, isteri, anak-anak, dan keluarga yang lain (adik,kakak, ibu, ibu mertua, misalnya). Tapi untuk anak kost bagaimana ? Karena anak kost kan penghuni sementara / musiman yang tinggal di suatu tempat hanya 3,5 tahun dan setelah wisuda ia akan berpindah lagi ke lain tempat ?

Selama 4 tahun sekolah di IPB (1976-1980), 3 tahun 2 bulan di Indiana-Amerika Serikat (1986-1989), dan 9 bulan di Singapura (1992-1993), polisi atau Pemda setempat tidak pernah menangkap saya dalam suatu OYK walaupun kemana-mana saya bawa passport, just in case terjadi apa-apa. Orang yang ditanya ID-nya hanyalah karena berurusan dengan  hukum yang secara eksplisit mensyaratkan ditunjukkannya ID (misalnya di bank, beli bir, atau masuk Kafe yang jual alkohol). Itupun Passport berlaku, Student ID berlaku, tapi kalau ID penduduk kita tidak harus punya, contohnya waktu saya tinggal di Amerika dan di Singapura !!!  Artinya, dalam kondisi normal, bila ada pertanyaan dari penegak hukum tentang jatidiri mahasiswa, cukup ditunjukkan ID mahasiswa, mestinya masalahnya sudah selesai, karena penegak hukum mestinya menghormati status mahasiswa sebagai insan intelektual…

Artinya apa ? Artinya, apakah OYK yang dilakukan oleh para petugas Sudin Kependudukan dan Catatan Sipil agak melampaui wewenangnya, atau sekurang-kurangnya bahasa halusnya, agak berlebihan ?

Mengapa berlebihan ? Karena mahasiswa dikejar sampai di rumah-rumah kost dan sampai lari terbirit-birit walaupun berita dilaksanakannya OYK sudah disebarkan oleh para mahasiswa yang telah mendengar berita tersebut ke teman-teman lewat HP.

En toch beberapa orang harus dibawa ke Kelurahan. Maksud saya, kalau operasinya dilaksanakan sekurangnya berjarak 1 km dari kampus, misalnya di Slipi Jaya, atau di bunderan Slipi, atau di Blok M, itu sih sah-sah saja….

Tapi kalau mengejar sampai rumah kost dan membawa mahasiswa ke kelurahan, termasuk mahasiswa yang sedang “bertamu” ke rumah temannya, itu agak berlebihan menurut saya… Tidak fair karena penunjukan ID sebagai mahasiswa Binus tidak dihargai tetapi tetap “digaruk” juga !!!

Akhirnya, ada beberapa point yang perlu saya catat di sini :

1. Sepeninggal almarhum Pak Sosro, mantan Purek III bidang Kemahasiswaan, urusan tentang kemahasiswaan menjadi agak terbengkalai, terutama urusan mahasiswa di luar pagar kampus. Jaman dulu sekitar tahun 1999-2000, mahasiswa yang mempunyai masalah hukum, apapun bentuknya, pasti mengadu ke Biro Kemahasiswaan atau Pak Sosro selaku Purek III, dan Pak Sosropun dengan tangkas akan mengurusnya ke pihak Pemerintahan setempat (Kelurahan, Kecamatan), Koramil setempat, atau Polsek setempat;

2. Biro Kemahasiswaan dalam struktur organisasi Binus yang baru ganti nama menjadi Center for Student Creativity kalau tidak salah, dan beralih tanggung jawab dari dulunya di bawah Warek II menjadi di bawah Warek III. (Komentar saya : boleh saja mahasiswa dibuat kreatif, tetapi kalau di rumah kostnya dikejar-kejar OYK, something must have gone wrong !)

3. Di Binus yang student body-nya sudah membesar dengan 26.500 mahasiswa dan 2.000 dosen itu, ternyata tidak mempunyai semacam Lembaga Bantuan Hukum yang menetap di kampus. Namanya Indonesia sebagai negara hukum, pasti pada suatu saat, 1 atau 2 mahasiswa akan terkena masalah hukum baik disengaja maupun tidak disengaja sertu perlu dibantu dan didampingi.

Jadi, pertanyaan saya akan saya pertajam, misalnya di Binus ada Fakultas Hukum, apakah OYK tetap mengejar mahasiswa sampai ke rumah-rumah kost ?

Asumsi saya : pasti tidak. Karena kalau hal itu terjadi, ada beberapa mahasiswa senior dari Fakultas Hukum yang melek hukum tata negara (public law) yang akan mendatangi Bapak-bapak yang sedang operasi OYK tadi dan menanyakan banyak hal, dari search warrant (surat tugas), pasal-pasal dalam UU yang dilanggar, pasal-pasal dalam PP yang dilanggar, termasuk juga kepatutan dalam penegakan hukum.

Menurut saya, mahasiswa Binus adalah warga negara yang terhormat, taat hukum, dan berjasa terhadap bangsa dan negara Indonesia. Termasuk dan tidak terbatas kepada : membagi-bagi sembako ke masyarakat yang tidak mampu sekitar tahun 1998 dan 1999 lalu, ikut menjadi Pemantau Pemilu Forum Rektor di Pemilu legislatif 1999 dan 2004 lalu, dan ikut membantu dan membina masyarakat sekitar kampus dalam mengembangkan usaha ekonomi mikro mereka…

Saya masih ingat, di tahun-tahun 1999 dan 2000, Bapak Walikota Jakarta Barat yang bernama Bapak Salamun yang berasal dari Tegal, sering berkunjung dan bersilaturahmi ke kampus Binus dengan segenap jajarannya, sambil berpesan, “Tolonglah masyarakat saya yang tinggal di sekitar Binus ini agar ekonomi mereka meningkat. Tolong kampus Binus membantu mereka”.

Itu dulu. Pemerintahan berganti, pemerintahan daerahpun berganti dengan punggawa yang baru. Pejabat Binuspun berganti. Masalah selalu ada, terutama masalah hukum yang menyangkut keamanan, kenyamanan, dan ketertiban kehidupan mahasiswa baik di dalam kampus maupun di luar kampus.

Walaupun ada sekurangnya 5 orang bergelar Sarjana Hukum di Binus yang bekerja sebagai staf dan juga dosen, saya cenderung mengusulkan Binus punya Fakultas Hukum sendiri mulai 2008 ini, agar Binus bisa selalu dijaga kehormatannya dengan cara-cara yang benar secara terhormat dan menghormati hukum..

Mengingat, Amerika Serikat yang merupakan negara maju itu ternyata kunci kemajuannya ada dua hal yaitu Statistik dan Hukum. Statistik akan mencatat perkembangan sosial ekonomi, dan Hukum akan menjamin semua warganegara mendapatkan perlindungan dengan sepatutnya. Kalau di Binus sudah ada jurusan Statistika, tapi Fakultas Hukum belum ada…

Mudah-mudahan curhat belum dilarang…..

  

Asian Idol: membuat RCTI No.1 lagi

Entah sudah berapa lama saya tidak pernah nonton saluran tv RCTI. Mungkin terakhir kali waktu babak 5 besar Indonesian Idol 2007 beberapa bulan yang lalu. Mestinya, sebagai tv swasta tertua di Indonesia, RCTI mendapat “berkah” sebagai stasiun tv terbaik. Tapi beberapa tahun atau beberapa bulan terakhir ini, that’s not the case !!

Saya masih ingat sepulang sekolah dari Amerika Desember 1989 yang lalu, nonton RCTI masih harus pakai decoder. Jadi sayapun antri panjang untuk mendapatkan decoder itu di suatu ruko di Jalan Raya Pasar Minggu. Tapi decoder habis dan kudu dipesan lagi. Kalau nggak salah waktu itu harga decoder adalah Rp 300 ribu (catatan: kalau Rp 2 juta di tahun 1990 sama dengan Rp 10 juta uang sekarang di tahun 2007, maka Rp 300 ribu setara dengan Rp 1,5 juta uang 2007…)..

Ternyata, beberapa bulan setelah saya antri panjang decoder itu, RCTI mengumumkan bahwa nonton RCTI tidak perlu pakai decoder lagi ! Beruntung, saya belum sempat beli decoder…

Horreeeee !!

Berarti saya bisa nonton Liga Italia sepuasnya ! Maka, sayapun mulai nonton pertandingan-pertandingan Juventus lagi, klub favorit saya sejak tragedi Heysel di Belgia tahun 1983 yang memakan nyawa 39 orang supporter Juve karena tembok ambruk dan final Liga Champions harus ditunda 1,5 jam.

Tapi di tahun 1990, pusat sepakbola Italia “de facto” adalah  Milan, dengan AC Milan dan Inter Milan yang waktu itu sama kuat. AC Milan masih diperkuat trio Belanda : Gullit – Rijkard – Van Basten, sedangkan Inter Milan diperkuat trio Jerman : Brehme-Voeller-Klinsmann. Padahal kedua pasang trio itu baru saja bertempur di Piala Eropa 1988 dengan kemenangan Belanda. Akibatnya, derbi Milan tahun 1990 ibarat Perang Dunia ke III. Saya masih ingat, Rudy Voeller meludahi muka Rijkard “Cuuuh…..” dan Riijkardpun ganti meludahi mulut Voeller “Cuuuh…..” dan saya yang muak dengan adegan ludah-meludah itu ganti meludahi lantai saya dengan rasa muak “Cuuuuhh…!!” dan….kena kucing saya !! Kucing saya, si Borneo, lari terbirit-birit sambil teriak “Meeeeeooooooooongggggg….”. Mungkin dalam hatinya ia bilang, “Emang gue kucing apaan ????”…

Sejak saat itu, saya mengikuti terus Liga Italia sampai sekarang di bulan Desember 2007 ini. Selain Juventus, pada awal-awal tahun 1990an saya juga terkesan dengan sepak terjang Parma yang dilatih oleh Zdenek Zeman yang asli Ceko itu, dengan tim yang disebut “Heart Breaking Parma” itu (saya akan cerita lebih lanjut di posting berikutnya, ingatin saya ya….)..

Tidak hanya Liga Italia, tapi juga Piala Dunia 1990 di Italia, PD 1994 di Amerika Serikat, PD 1998 di Perancis, PD 2002 di Korea, dan PD 2006 di Jerman, kalau tidak salah masih disiarin di RCTI. Begitu pula Piala Eropa 1992 dimana Denmark Juara, PE 1996 yang juara adalah Jerman, PE 2000 yang juara adalah Perancis lewat golden goalnya David “Trezegoal” Trezeguet di jala Fransesco Toldo, PE 2004 di Portugal, juga masih disiarin RCTI. Entah setelah itu, karena kelihatannya RCTI kalah bid melulu dengan stasiun tv lainnya…

Singkat cerita, RCTI dihujani dengan berton-ton sinetron : pagi, siang, sore, malam, sampai pagi lagi. Entah berapa ember muntahan saya melihat sinetron-sinetron tidak bermutu karena over exposure berkat kebanyakan cahaya berkat kebanyakan shootingnya malam itu….

Sayapun mulai melupakan RCTI, dan mulai berpindah ke lain hati…

Sampai pada suatu hari, American Idol dan Indonesian Idol mulai ditayangin di RCTI. Sayapun bilang pada diri sendiri, “Teklek kecemplung kalen, tinimbang golek aluwung balen” (My sandals were thrown to the gutter, it’s better to pick ‘em up rather than buy the new ones). Itu arti sebenarnya, arti kiasannya, “yah lebih baik balik lagi deh ke hati yang lama…..” (Mungkin lebih “hangat” dan “cocok ukurannya”, atau istilah teman saya Rahman Efendi si juragan kaos itu, “Kalau sudah bekas, mana bisa ditukar tambah ?”…he..he…)

Sayapun dengan anak-anak saya Dessa dan Ditta termasuk ibunya anak-anak, seneng lihat American Idol. Dengan catatan, kalau masih betah melek !! Temen saya di kantorpun, si Zamzam, juga ngefans berat sama American Idol. Setiap ketemu Senin pagi di kantor jelang rapat rutin, dia pasti nyanyi lagu terpopuler yang dinyanyikan oleh seorang peserta American Idol malam sebelumnya..

Begitu juga, Indonesian Idol mengajarkan banyak hal. Antara lain, lagu mana yang paling populer di Indonesia dan paling enak dinyanyikan di mobil, misalnya selama keluarga kami pulang ke Jawa. Dari tidak tahu Nidji, jadi tahu karena salah satu lagunya dinyanyikan oleh salah seorang kontestan Indonesian Idol.

Mengapa saya seneng dengan acara nyanyi-menyanyi begituan ? Lho, lo kagak tahu tho ? Saya dulu waktu SMP tidak pernah belajar karena setiap malam nyanyi dan diiringi gitar oleh teman saya Abel, orang Batak yang bahasa Jawanya lebih medok daripada saya itu. Walaupun dia bilang suara saya “fals”, saya tetep nyanyi saja kalau saya lagi suka (sekurangnya di kamar mandi, tapi waktu dibilang suara saya “fals” langsung saya mutung, karena waktu itu belum ada Iwan Fals dan Doel Soembang…he..he..).

Alasan kedua, I play a lot of musical instruments. From guitar, drum, piano, flute, harmonica (I can play as good as Taylor Hicks the American Idol, if only if….you believe I can fly. Haaa…haaa….). Jadi ingat mbahnya computer, Donald Knuth yang ngarang 7 seri buku Computer Algorithms itu, tapi baru selesai 3 dari tahun 1978 sampai hari ini karena keasyikan bikin software LateX dan keasyikan main musik dengan Ph.D students bimbingannya. No lah, I’m just kidding !!!

Kembali ke laptop !!! Saya seneng banget malam ini melihat Asian Idol show di RCTI Sabtu malam ini. Show ini benar-benar dihantamkan secara frontal dengan acara-acara bagus di tv-tv lainnya, semisal malam ulang tahun ke-6 TransTV dan Trans|7, show nyanyi di Indosiar, dan seabreg siaran lagi di tv lain. Tapi menurut saya Asian Idol terbaik, karena mempertemukan 6 Idol pilihan dari 6 negara Asia : India, Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, dan Vietnam. Entah kebetulan atau tidak, dari 6 kontestan Asian Idol itu ternyata 3 cowok dan 3 cewek..

Pengumuman pemenang The First Asian Idol (Asian Idol Result Show) akan dibacakan Minggu malam tanggal 16 Desember 2007. Karena posting ini saya buat Sabtu malam, hasilnya belum diketahui, tapi marilah kita membuat prediksi. Anggap saja saya ini si Simon Cowell yang super ketus itu…

Facewise, pemenangnya mungkin adalah Hady Mirza dari Singapura atau Phuong Vy dari Vietnam. Voice wise, pemenangnya kurang lebih adalah Mike Mohede dari Indonesia atau Mau Marcello dari Filipina. Jacklyn Victor dari Malaysia atau Abijeet Savant dari India lebih komplet sebagai satu paket.

Karena yang dinilai adalah “paket” kemampuan nyanyi, wajah dan penampilan, serta kemungkinan masa depan dapur rekaman yang sukses, maka : Abijeet Savant dari India akan gulung koper karena….ia telah beristri !!! Menurut saya, mana ada cewek yang memberikan vote pada dia ?

Jadi to tell you the truth, saya juga bingung memilih siapa yang menang sebagai The First Asian Idol nanti karena kelima-limanya sama bagusnya..

Pusing ach, puuuuusssssssiiiiingggggggg….!!!

Yang jelas, saya sudah mengirim 4 sms @ Rp 2000 dari Telkomsel pascabayar saya. Dan semuanya saya ketik INDO  PHIL dan dikirim ke 9288..

Tapi kalau jujur, saya akan memilih pilihan yang sama dengan si Daniel MC-nya Asian Idol dan Indonesian Idol itu, yaitu Phuong Vy dari Vietnam…karena….wajahnya bening banget. Mengingatkan saya pada VCD film Vietnam yang bagus sekali yang saya pinjam dari koperasi BPPT waktu itu. Kalau nggak salah judulnya, “The story of the Lotus”….

  

Dessa got her first digicam

My eldest daughter, Dessa, planned to have an outing a.k.a. picnic with her fellow officemate somewhere to Ciater, Lembang.

She badly needed a digicam to document the outing activity, e.g. swim in a hotspring water, play some tricks, and have a shot to fly in the air a.k.a flying fox.

Actually my family had a digital camera already, but the old digicam, Samsung DMAX 300 (3.2 megapixels) was brought by my youngest daughter – Ditta – to Bandung, to document her final project at Department of Geophysics and Meteorology – Bandung Institute of Technology. The time was short and there was no chance for Ditta to give the digicam to Dessa.

The solution has to be done in one day since Dessa is leaving for Bandung soon. So, I made a deal with Dessa to jointly bought a new digicam.

“But it has to be not exceed 1 million rupiahs in price”, said Dessa. “Ok, no problemo, amigo”, I answered in a usual manner, that is, jokingly.

In the said day, after teaching software engineering to a double degree class of IT-Statistics, I rushed to my favorite mall, Ambassador Mall in central Jakarta.

In short, I got the new digicam for Dessa. It’s an Olympus, Bargain price. The type is Olympus FE-15, the old digicam. I knew it coz when I checked it in the internet, the digicam was already in the market since 2001.

Consequently, the price is so cheap, that is Rp 960.000 (about US $ 100). Cheap enough for that “good” digicam, with 6.0 megapixels, 3x zoom, and a good quality an Olympus can guarantee.

The first shot from the camera is my face in the following picture. Do you want to buy any new digicam yourself ?

Previous Older Entries