Ketika alam menangis, manusiapun menjerit

Pada saat saya mengajar skripsi jalur kelas pada hari Kamis, 13 Desember 2007, mbak yang menunggui rumah di Madiun menelpon di handphone saya, “Mas, apa ada rencana menengok rumah Madiun akhir tahun ini ?”. “Wah, belum tentu mbak, soalnya seminggu lagi ada acara keluarga di Jakarta”, kata saya. “Nanti deh kalau jadi ke Madiun saya nelpon lagi”…

Seminggu kemudian, di rumah ada acara keluarga yang sangat penting. Untungnya, acara berjalan lancer dalam arti kondisi cuaca tidak dalam keadaan hujan deras, dan sebagainya. Semuanya bahagia, beberapa saudara yang membantu acara itu besoknya saya antar pulang..

Rencana ke Madiunpun semakin jauh, saya telpon si mbak, “Mbak, kayaknya akhir tahun ini kami sekeluarga belum jadi ke Madiun deh karena takut di jalanan banyak banjir”, alasan saya kepada si mbak. Walaupun saya rasa Jakarta cuacanya agak bersahabat dan hanya gerimis sedikit, saya menjadikan cuaca sebagai alasan belum bisa pulang nengok rumah Madiun…

Selintas, saya ingat sebuah nyanyian Jawa jaman dulu (jadul) yang biasa dinyanyikan anak-anak sekolah seusia saya pada waktu itu atau oleh tukang-tukang becak yang banyak mangkal di sudut-sudut kota Madiun :

Mlaku panas-panas

Ora nggawa payung

Sandale diseret

Dlamakane mlenthung 

Surabaya geger

Ngungsi neng Madiun

Madiun – Jakarta

Janji rukun tetep merdeka 

(Jalan di cuaca panas/Walking under the hot sun


Tidak membawa payung/Forgot to bring my umbrella

Sandalnya diseret/Have to drag my trongs

Telapak kakinya bengkak/Until my feet swolen 

Surabaya rusuh/Surabaya’s  rioting

Mengungsi ke Madiun/Have to flee to Madiun

Madiun-Jakarta/Madiun-Jakarta

Asal rukun kita tetap merdeka/Together we free forever)  

Lagu itu sangat sederhana, dan biasanya dinyanyikan sesuai dengan bait-bait yang ada di lagu itu, yaitu dalam cuaca yang panas dan untuk lebih mendramatisir suasana lagi, lebih baik kita tidak memakai payung dan tidak mengenakan alas kaki apapun di jalanan yang panas itu…

Mungkin lagu itu dibuat oleh para pelajar pejuang dari Brigade 17 yang sementara mengungsi ke Madiun pada saat terjadi pertempuran yang paling sengit (the battle of the bulge) selama 12 hari yang berakhir pada tanggal 10 Nopember 1945, dimana semua rakyat Surabaya tidak peduli pangkat dan derajatnya semua memanggul senjata – baik senjata api laras panjang, pistol, pedang, keris, sampaipun bambu runcing ! Hanya satu alasan : we don’t wanna be the blood of any nation no more !

Lagu itu juga menceritakan bahwa kota kelahiran saya Madiun, yang berjarak 169 km dari Surabaya, adalah kota kecil yang tenang yang menjadi tumpuan orang-orang yang sedih atau kacau (a shoulder to cry on, begitulah kira-kira).

Madiun yang tingginya 63 meter dari permukaan laut memang kota yang sepi dan damai, sampai sekarang, a very livable city. Cocok untuk kota pensiunan, ibarat Floridanya Amerika. Cuaca cukup, tidak terlalu panas karena diapit oleh dua gunung tinggi, di sebelah timur Gunung Wilis dengan tinggi 2.700 meter d.p.l. dan di sebelah barat tidur dengan nyenyaknya Gunung Lawu dengan tinggi 3.700 meter d.p.l.

Pada masa saya masih kecil, Madiun juga diapit dengan hutan-hutan lebat. Di sebelah timur ada hutan Ndungus dan Saradan yang terkenal lebat. Saking lebatnya ada sebuah gudang peluru milik tentara di sana, yah mengingatkanku pada Naval Weapons Support Center di Crane, Indiana, yang berada di tengah-tengah hutan lebat di pedalaman Negara bagian Indiana. Tidak hanya hutan lebat, tapi banyak rusa berkeliaran di hutan itu yang tidak boleh diburu kecuali pada musim berburu… 

Di sebelah barat, juga terdapat hutan jati Ngawi yang sangat terkenal, tidak kalah terkenal dan tidak kalah lebat dengan alas Roban di sekitar Pemalang. Kalau kita nyopir, mata kita tidak boleh meleng mengikuti lika-liku curvy roadnya hutan jati Ngawi. Apalagi di malam hari dalam suasana hujan lebat pula. Kalau siang hari masih agak mendingan, dan kita bisa melihat beberapa orang menjajakan burung perkutut, anak monyet, kelapa muda, dan yang sudah lama hilang….enthung jati atau ulat pohon jati yang sangat kloget-kloget nan lezat itu….(baca posting saya : Kuliner Masa Kecil)..

Waktu saya pulang dari sekolah di Amerika awal tahun 1990, kalau pulang ke Madiun naik mobil dari Jakarta, saya sengaja tidak melalui jalan mulus nan lebar Semarang- Solo – Madiun, tapi saya lebih suka melewati hutan-hutan jati di Purwodadi, Blora, Cepu, dan Ngawi. Mengingatkanku pada masa kecil sering diajak Bapak berkeliling hutan mengunjungi nenek yang rumahnya di tengah-tengah hutan Randublatung.

Sebelum tahun 1998, hutan jati Purwodadi yang letaknya dekat dengan Waduk Kedungombo, adalah favorit saya. Pohon pinusnya dan hutan jatinya sangat indah. Mengingatkan saya pada pemandangan Negara bagian Colorado (di film-film lho, karena saya belum sempat mencicipi Colorado karena berbagai alasan, waktu Summer bagus tapi waktu Winter sangat slippery. Teman saya Pak Sablin Yusuf pernah mobil VW Golfnya melintir gara-gara salju yang licin….)..

Apa yang terjadi pada tahun 1998 ? Semua dari anda pasti sudah tahu: Orde Baru jatuh, Pak Harto lengser dari Presiden, rakyat berpesta pora dan kesannya boleh melakukan apa saja atas nama perut yang keroncongan, hutan-hutan jatipun dibabat dan pemilik hutan tersebut, Perum Perhutani, tidak bisa mengontrol sepenuhnya. Dan worse still, daripada hutannya habis dibabat rakyat, maka hutan jati yang rata-rata sudah berumur 30 tahun dan kayunya sangat mahal itupun “dipanen”. Akibatnya, hutanpun gundul, dan hutan yang baru ditanampun hanya sedikit seolah malas tumbuh…

Akibatnya ?

Andapun sudah tahu sendiri. Magetan, Ngawi, Madiunpun banjir. Konon banjir terbesar dalam 40 tahun terakhir seingat saya… 

Pada tahun 1967, setiap tahun Madiun selalu banjir karena kali Madiun yang merupakan anak Bengawan Solo sudah semakin mendangkal. Kali yang terletak di barat kota itupun kalau hujan deras berlangsung lama tanpa ampun mengirim seluruh banjirnya masuk kota, apalagi bila ada tanggul tanah yang jebol. Saya masih ingat, banjir terbesar di tahun 1967 airnya sampai Oro-Oro Ombo di depan markas Batalyon di Bosba Jalan Diponegoro (dulu ada Batalyon 501 dan 520 di Madiun, yang di Bosba adalah Batalyon Infanteri regular, sedangkan yang di Mangunharjo adalah Batalyon Raiders/Airborne/Pemukul Reaksi Cepat).

Kemudian datanglah Menteri PU Ir. Sutami ke Madiun pada waktu itu, dan dalam setahun dibangunlah jembatan Kali Madiun yang baru berbentuk melengkung, lalu tanggul beton setinggi 4 meter dan setebal 10 meter dibangun membentengi kota, kalau tidak salah sepanjang 4 km dari Loh Duwur di sebelah selatan sampai Nglames di sebelah utara..

Tanggul beton yang sangat disyukuri masyarakat Madiun karena bisa membendung banjir, juga saya sesali secara pribadi karena melenyapkan situs-situs penting di Madiun. Antara lain rumah teman saya Herry terpaksa digusur dan sebuah pemakaman Belanda yang disebut penduduk setempat sebagai “Kerkof”pun ikut digusur karena menjadi lokasi tanggul. Akibatnya, saya yang dulunya sering belajar sewaktu SMP di kuburan Belanda tersebut kehilangan “situs sejarah” dan tidak bisa menceritakan kepada anak isteri saya seperti apa sih Kerkof itu, karena waktu saya kesana tahun 2001 yang lalu, yang ada malah beberapa rumah penduduk !!! Lho, londo sing wis mati kok tangi meneh jadi melayu ireng ??

Hari Rabu tanggal 26 Desember 2007 kemarin sewaktu di TVRI saya lihat teman saya Edi Prasetyantoko yang bekerja di Ristek sedang jadi penyiar menyiarkan pandangan mata latihan tsunami di pantai Banten, ternyata Madiun dan sekitarnya sedang diguyur hujan lebat selama berjam-jam dan konon kabarnya hujan di Ngawi yang terlebat selama 100 tahun terakhir !!!

Di TVpun saya lihat jalanan depan Stasiun Madiun banjir sampai setinggi paha orang dewasa. Lalu jembatan di Desa Kebonsari di perbatasan antara Kecamatan Dagangan (?) dan Kecamatan Takeranpun roboh hanyut terkena air banjir yang seperti bah. Ceritanya, siang atau sore itu hujan sangat derasnya dan orang-orangpun pada menonton sapi yang hanyut terbawa banjir bersama satu rumpun bamboo yang nyangkut di bawah jembatan. Satu mobil Isuzu Panther dan beberapa sepeda motor bersama sekitar 20 orang penumpangnya turun menonton banjir di jembatan itu. Waktu jembatan mulai bergetar dan berbunyi “Reekkkkaaaatttaaaakkkk”, sepasang cewek perempuan lari meninggalkan motornya dan selamat tapi motornya ikut hanyut. Menurut photo terakhir yang diambil oleh seorang polisi melalui kamera HPnya, orang yang berada di atas jembatan waktu itu ada sekitar 20 orang.

Kata seorang saudara yang sedang pulang ke Madiun, banjir kali ini adalah yang paling massif dan parallel (menurut istilah distributed processing). Kota Ngawi dikepung banjir sampai Geneng (PG Soedhono) dan terminal Ngawi. Ngawi arah Caruban banjir sampai Pasar Karangjati. Madiun ke utara banjir sampai Balerejo yang ke arah Caruban itu.

Walaupun pemerintah sudah punya Satkorlak dan Korlak Bencana Alam,  tapi menurut saya pribadi hal tersebut masih belum mencukupi untuk mengantisipasi bencana-bencana di masa dating, karena itu barulah “tindakan setelah terjadinya bencana”…

Yang lebih penting adalah membentuk satu task force penelitian tingkat nasional, kalau perlu membentuk semacam Club of Rome tahun 1970an lalu, untuk membuat scenario pertumbuhan penduduk, pangan, energi dan kerusakan lingkungan di masa 10, 25 dan 50 tahun ke depan…

Di Binus waktu saya menjadi Dekan Fakultas Teknik di tahun 1999-2000an, pernah ada seorang bule (saya lupa dari Colorado State U. atau dari Curtin U.) mendemokan software simulasi banjir di kota Athena, jika beberapa konstrain diubah apa yang terjadi dengan banjir di Atherna. Seberapa luas dan seberapa lama ? Itulah mestinya tugas para ilmuwan ilmu kebumian dan ilmu computer untuk memberikan peringatan kepada siapa saja, bahwa sebenarnya bahaya lingkungan di Indonesia sudah mengetok-ngetok di depan pintu rumah kita, Indonesia….

  

Prolog : barusan saya telpon saudara yang bermukim di Ponorogo. Kelihatannya banjir kali ini adalah yang terbesar dalam 40 tahun terakhir. Dibandingkan banjir tahun 1967 yang banjirnya kea rah timur hanya sampai Jl. Dr. Sutomo, pada tahun 2007 ini banjirnya sampai 5-6 blok lebih ke timur sampai stadion Madiun.  Rumah saudara saya di Ponorogo yang dua blok di sebelah selatan Sate Pak Bagong, 200 meter di sebelah selatan rumahnya banjir sampai 2 meter. Banyak tanggul yang jebol, jalan dari Ponorogo ke Wonogiri, ke Pacitan, atau ke Trenggalek terendam sampai 2 meter. Madiun banjir juga karena air got tidak bisa terbuang ke Kali Madiun karena kali sudah penuh air dari arah selatan sehingga air dari got mental balik kearah barat dan timur dari Kali Madiun.

3 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Jan 01, 2008 @ 01:05:30

    Memang sedih sekali, jadi malam tahun baru ini memang harus diisi dengan lebih mendekatkan diri ke Allah swt.

    Reply

  2. simbah
    Mar 01, 2008 @ 01:18:44

    Ya, . . benar itu pas tgl. 26 Dec 2007, rabu pagi setelah malamnya hujan dari maghrib sampe subuh brenti sebentar. . .hujan . .berenti bentar . .hujan lagi, dan ba’da subuh penuhlah bengawan Mediyun . . aku keliling numpak sepeda onthel . . .ndelok banjir . .

    Reply

  3. Tri Djoko
    Mar 01, 2008 @ 09:14:27

    -> Simbah : wah..njenengan beruntung bisa melihat banjir Madiun lagi, 40 tahun setelah banjir terbesar di tahun 1967 sebelum Ir. Sutami membendung kali Madiun dengan beton setinggi 4 meter dari permukaan jalan..

    Saya waktu itu pas pengin pulang ke Madiun, tapi feeling saya mengatakan tunda dulu, mengingat berita koran banyak pohon roboh di sekitar Ngawi. Eee…jebulnya malah banjir..njir..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: