E’tair

“E’tair” adalah barangkali cara orang melayu Malaysia mengucapkan “attire” yang artinya “cara berpakaian”. Maklum, mereka kan mengucapkan “wayar” untuk “wire”, “basikal” untuk bicyle, dan “baucer” untuk “voucher”.. 

Saya tidak tahu persis, apakah “attire” dengan “dress code” sama persis. Yang jelas kalau dress code kan kesannya acaranya agak formal, sedangkan attire adalah cara berpakaian sehari-hari, misalnya naik bis, naik kereta, naik subway, atau pergi ke mall.

Cara berpakaian amat penting bagi seseorang, celakanya itu ditentukan oleh tuntutan masyarakat umum, bahwa kalau untuk acara tertentu maka cara berpakaiannya tertentu pula. Kalau cara berpakaian kita salah, kita akan segera merasa “not presentable” (menurut istilah seorang teman dari Filipina) atau menurut istilah saya “feel out of place” (FOOP). Soalnya saya pernah mengalaminya..

Pada suatu malam di bulan Desember yang dingin waktu Bloomington, teman baik saya Agus yang dijuluki Menteri Pariwisata oleh teman-teman lain, mengajak saya dan beberapa teman untuk pergi mencari suasana baru ke kota Cincinnati, Ohio, yang jaraknya tiga jam perjalanan dari Bloomington ke arah timur. Maka berangkatlah kami dengan mobil Ford subcompact ke Cincinnati malam itu. Ikut pula Andre yang pendiam dan baik hati, dan Ario yang nggak bisa diam. Kalau nggak salah kita berangkat dari Bloomington jam 10 malam waktu setempat dan diperkirakan sampai Cincinnati pukul 1.00 pagi. Yah, cukuplah waktu untuk menikmati kesenangan di tempat tujuan nanti..

Rupanya Ford subcompact pinjaman yang tarifnya 26 dollar sehari itu walaupun mobil baru tapi berjalan dengan lambat di jalanan yang agak basah karena turunnya “flurries” (butir-butir salju). Alasan lain karena kita melewati jalan country side berkode 465 ke arah timur melewati kota Nashville, Indiana yang terletak di tengah hutan Monroe County State Forest itu..

Ada satu hal yang kita lupa, bahwa Bloomington yang berada persis di tengah pedalaman Amerika tidak pernah mengalami “time adjustment” dari musim dingin ke musim panas dan sebaliknya, tidak seperti di 85% kota di Amerika yang 2 kali setahun harus melakukan “time adjustment” yaitu memajukan jam selama 1 jam di musim dingin, dan memundurkan jam selama 1 jam di musim panas…

Akibatnya…oh my Gawd !!! Kita sampai di Cincinnati sudah jam 02.00 pagi !!! Karena waktu Ohio ternyata 1 jam lebih awal daripada Bloomington !!! Di sepanjang jalan, waktu itu malam Minggu, kita melihat banyak pasangan muda-mudi berciuman di tepi sungai Ohio. Setelah mobil kita diparkirkan oleh Valet, maka masuklah kita ke club yang terletak di semacam boat yang mengapung di Sungai Ohio itu. Dentuman musik sangat kencang bassnya. Kami berempatpun masuk ke club itu. Wow…it’s worth it, man. Perjalanan 3 jam benar-benar worth it. Mbak-mbak yang jaga club ini rupanya dengan attire bugs bunny. Seingat saya, kami berempat cuman sempat putar-putar kesana – kemari dan hanya sempat pesan minuman cola doing mengingat jam 02.30 club udah tutup..

Kamipun mengucapkan…”Syaaauulll…”..

Sewaktu kami masih di Bloomington, sempat terjadi insiden kecil mengenai cara berpakaian saya. “Pak Djoko, punya baju lain nggak ?”, tanya Agus dan Andre yang attire-conscious, mengingat mereka kuliah di SOB (bukan Son of Bitch, tapi School of Business). Saya langsung jawab, “Wah, nggak ada tuh. Baju saya yang lain belum dicuci. Kalau saya nggak boleh ikut dengan baju gini, lebih baik saya nggak ikut deh…”. Mereka diam saja, tanda saya nggak perlu ganti pakaian. Waktu itu saya memang pakai baju GAP warna putih setrip biru kecil, celana Levi’s warna hitam, dan sepatu Adidas high heel warna biru navy. Wah, walaupun mereka akhirnya nggak mempermasalahkan cara berpakaian saya, saya cukup merasa FOOP dech !

Kejadian kedua, waktu saya sekolah di Singapore tahun 1992-1993 selama 9 bulan. Waktu itu saya lupa bawa pakaian santai dari Indonesia, dan yang saya bawa hanya pakaian kantor seperti umumnya orang yang berkantor di Jalan Thamrin, Jakarta. Yaitu baju Executive 99 kebanyakan warna putih atau cream, celana Executive 99 warna biru dan hitam, dan sepatu Bata warna hitam (beberapa tahun kemudian saya lebih suka sepatu merk CBDY, tebak singkatan apa ?)…

Kalau ke kampus banyak teman Singapur yang nanya, “Tri, dimana sih kamu beli baju biru cotton itu, kok bagus ?“, tanya mereka berbasa-basi. “Oh, baju ini saya beli waktu ke Thailand beberapa bulan yang lalu”, jawab saya. Saya perhatikan, ternyata hanya saya dan Swee Peng berdua yang suka berpakaian formal ke kampus, sedang yang lainnya pakai baju agak casual seperti yang dipakai anak-anak Binus kalau ke kampus. Wadooow…serasa FOOP deh !

O ya, itu beberapa bulan sebelum saya beli beberapa baju di “Second Chance”, nama took baju yang kalau beli baju diberi potongan 35% untuk baju kedua dan seterusnya, makanya diberi nama “kesempatan kedua”. Dan sebelum saya memenangkan lomba menebak menu di KFC Singapur yang hadiahnya Sin $ 100 yang akhirnya saya belikan celana Levi’s Dockers warna hitam dan kaos polo Levi’s warna biru yang melegenda itu..

Kejadian ketiga, waktu saya menjalani training tentang “R&D Management” di Seoul, Korea Selatan. Waktu itu kami mendapatkan training di waktu pagi dari jam 08.00 sampai jam 17.00, dan waktu malam kosong alias acara bebas unless otherwise stated (misalnya, kadang kalau malam kita diajak nonton pertunjukan “Nanta” yang terkenal dan pernah memenangkan prize di Edinburg Festival itu. O ya, mungkin “Nanta” sama bekennya dengan pertunjukan “Stomp” dari Broadway)…

Nah, karena waktu kosong kalau sore dan malam, sering saya gunakan untuk mengunjungi Jalan Itaewon yang mirip Malioboro di Yogya itu. Kadangkala cari-cari baju jacket German Army yang keren itu di Dongdaemun atau Nangdaemun. Kalau cari elektronik di Yongsan nggak lah, terlalu jauh karena dekat dengan Stadion Piala Dunia 2002.  Dalam “jalan-jalan sore-sore“ itu saya menggunakan subway Seoul yang jaringannya cukup luas itu, karena ada 13 warna rute dari merah, biru tua, biru muda, hijau tua, hijau muda, oranye, dan sebagainya. Attire saya adalah celana katun warna gelap, dan baju tartan kotak-kotak yang biasa dipakai oleh orang Amerika di bulan-bulan September-Oktober yang mulai dingin dengan angin kencang seperti ini..

Celakanya, orang Korea nih yang cowoknya seneng banget berpakaian jas rapi yang kebanyakan warna abu-abu seperti di film-film Korea itu. Well, mungkin mereka kerja di Samsung (Samseong), LG, atau Hyundai (perusahaan konglomerat Korea yang disebut Chaebol kebanyakan bermerk 3 itu, yang usahanya dari pompa bensin, elektronik, sampai mall).  Tengok kiri, cowok pakai jas. Tengok kanan, cowok pakai jas. Wah, saya bagaikan cowboy Texas kesorean nih dengan baju kotak-kotak tartan macam gini. Saya bener-bener merasa FOOP nih…. 

Mungkin lain kali, kalau saya mau pergi ke kota-kota luar negeri, lebih baik saya teman yang pernah pergi ke sana di musim begini, apa yang sebaiknya dipakai ? Biar lain kali saya tidak merasa FOOP… 

Tapi pengalaman keempat tentang attire ini, dan yang terburuk, terjadi di airport O’Hare Chicago tanggal 3 Januari 1987, tepat 21 tahun yang lalu..

Ceritanya, sebelum menuju Bloomington untuk ngambil Computer Science, kami ber-24 tinggal di Miami untuk aklimatisasi dan belajar bahasa Inggris yang gurunya Roy Luna dan Mimi Cozzarelli itu. Kalau Miami suhunya cukup hangat di akhir Desember yaitu 65 derajat Fahrenheit (sekitar 16 derajat Celcius), tapi saya nelpon temen di Bloomington katanya salju setinggi betis dan suhunya minus 10 derajat Celcius. Akhirnya saya beli jaket ski merk Ossi yang cukup mahal, yaitu $ 175. Sayapun beli celana Levi’s baru karena celana Levi’s yang dibeli di Indonesia dan ukuran 27 udah nggak muat…

Celakanya, di toko Woolworth Miami, kalau nggak salah di North 151st Street, saya tidak tahu kalau di Amerika berapa ukuran celana Levi’s saya. Seperti pengalaman di Jerman tahun 1984 sebelumnya, saya akhirnya mencarinya di bagian Kids alias bagian anak-anak. Dan karena malam itu saya dapati pipa celananya kepanjangan, terpaksa deh besoknya waktu berangkat ke Chicago bagian bawah dari pipa celana itu saya lipat..

Ceritanya, besoknya sampailah saya di airport O’Hare Chicago. Sayapun transfer pesawat United dari Miami, dan ganti dengan American Airlines dari Chicago menuju Bloomington. Waktu saya berjalan terseret-seret di suatu koridor, ada bapak-bapak di belakang saya yang bepergian dengan isteri dan 2 anaknya ngarasanin pakai bahasa Inggris, “Ih, kasihan sekali orang itu. Udah kecil, pakai baju ski, pakai celana Levi’s anak-anak, dilipatnya pula….”

Saya yang waktu itu bahasa Inggris saya sudah improve banyak, tahu dong apa yang dirasanin mereka. Leher ini rasanya guooondddoook banget ibarat dibebani dengan 2 bola volley di kiri dan di kanan leher saya. Sayapun memutuskan berhenti berjalan, duduk di bangku kosong yang ada, dan menunggu keluarga bawel itu berlalu…

FOOP banget banget banget deh…!

1 Comment (+add yours?)

  1. edratna
    Jan 09, 2008 @ 17:23:14

    Hahaha…memang kalau mau keluar negeri harus tahu kita mau ke acara apa, cuaca seperti apa….
    Sekarang kan ada model jaket mirip jas, jadi bisa dipakai santai maupun agak formal.
    Justru yang sulit cewek, waktu saya seminar bareng teman cowok, rasanya iri banget, dia cuma bawa celana dua, jeans satu, kaos, jas satu dan jaket…..padahal saya bawaannya banyak karena pas musim dingin.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: