Selamat jalan pak..

Siang ini saya lihat di TV beritamu. Tekanan darahmu tinggal 60/30. Sistolik 60 dan diastolik 30 berarti jantungmu sudah berdetak dengan lemah sekali dan tidak bisa memompa darah ke sekujur tubuhmu..

Doktermu ditanya kondisimu, hanya menjawab “sangat kritis”. Kemudian, aku pergi ke Tempat Pemungutan Suara di kompleksku untuk mengikuti penghitungan suara Pilkada Walikota Bekasi..

Tiba-tiba handie-talkie seorang Linmas berbunyi, dan aku tahu engkau telah meninggal..

Padahal, 21 tahun yang lalu, engkau telah berikan aku beasiswa supersemar selama 3 tahun untuk belajar Statistika di IPB. Sebuah jumlah 15 ribu rupiah per bulan, yang waktu itu cukup untuk kost dengan 3 kali makan enak sehari. Ya, mungkin untuk ukuran duwit di tahun 2008, itu ibarat sejumlah 1,5 juta rupiah. Cukup besar, bukan ?

Bagaimana aku tidak berterima kasih kepadamu karenanya ?

Oleh karena itu, Bapak, selamat jalan. Mudah-mudahan jalanmu menuju kepadaNya diterangi sejuta lampu, sebanyak kebaikan-kebaikan yang telah engkau tanamkan kepada kami, rakyatmu..

Sugeng tindak dateng alam kelanggengan, pak…

12 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Jan 29, 2008 @ 09:52:26

    Apapun peran beliau tak dapat dihilangkan…Keluarga Berencana…dan yang jelas suka dengan pertanian. Saat IPB ultah ke 10 tahun, beliau hadir, saya jadi penerima tamu, saat itu pakai kain panjang yang zaman dulu belum dijahit…alhasil temenku cowok setiap kali harus jongkok untuk menarik kainnya agar tak nyincing…hehhe…dan keduanya (yg suka bantuin narik kain tadi), udah pada jadi Direktur BUMN..hahaha

    Selamat jalan…semoga amal baikmu diterima Allah swt. Amien.

    Reply

  2. tridjoko
    Jan 29, 2008 @ 10:21:04

    Amien…

    Reply

  3. Muammil
    Jan 29, 2008 @ 10:39:11

    wah bapak ada kenangan yg tidak terlupakan dengan Eyang Harto….hahahahaa…..
    menurut bapak gimana siy dia org nya….?
    pasti ada penilaian positif & negatif dr setiap indevidu..?
    tapi di tahun 2008 ini bukan saatnya melihat kejelakan & kelemahan org…
    mari sama” kita rubah untuk yg lebih baik.

    Reply

  4. Tri Djoko
    Jan 29, 2008 @ 23:24:57

    Muzammil : Beliau yang memberi beasiswa sehingga saya bisa menjadi sarjana. Ayah saya dulu pejuang kemerdekaan, makanya saya bisa dapat beasiswa Supersemar.

    Setiap orang pasti punya jasa, tapi juga punya salah. Bahkan konon Nabi-pun punya salah, karena nabi juga manusia. Yang tidak punya salah, mungkin, adalah malaikat…

    Beliau adalah keluarga tentara, isteri saya juga dari tentara. Jadi kami adalah keluarga tentara. Keluarga tentara cenderung hidup sederhana, seperti halnya dosen, guru.

    Dan sebagai keluarga tentara, kita punya semacam rasa solidaritas. Tidak hanya antara tentara Indonesia saja, tapi juga tentara di seluruh dunia..

    Begitu juga keluarga marinir di seluruh dunia, mereka selalu bantu membantu. Konon, keluarga pegawai kereta api seluruh dunia juga harus saling membantu..

    Itulah indahnya dunia. Bukankah begitu ?

    Bagi yang sudah wafat, kita doakan jalannya menuju keabadian lancar. Berarti kita memaafkan semua kesalahannya, pada detik dimana beliau wafat..

    Mikul dhuwur, mendhem jero (dipikul yang tinggi, ditanam yang dalam), itu kata pepatahnya..

    Reply

  5. Muzammil
    Jan 30, 2008 @ 21:43:28

    wah itu benar pak…
    sebenarnya rasa kebersamaan itu sekarang yg kurang pak.apalagi dikota besar seperti dijakarta ini…

    saya juga sedikit mengerti tentang keluarga tentara pak..
    masalahnya kakek saya juga dari angkatan…kesatuan & solidaritasnya tinggi….

    iya pak emang selayaknya maaf itu kita beri ke beliau yg telah wafat….
    makasih pak atas sedikit ilmu yg bapak berikan tapi maknanya besar…
    dan pepatah yg diatas bukan sekedar diketahui saja…tapi mudah”an bisa terlaksana bagi kita semua…

    wass.
    Muzammil

    Reply

  6. tridjoko
    Jan 31, 2008 @ 13:16:27

    Hallo Muzammil: Wah..syukur, kalau sekarang anda sudah lebih mengerti..

    Hal tersulit sewaktu mendengar beliau wafat adalah: apakah benar saya atau kita bisa memaafkan segala dosa-dosa beliau ?

    Setelah berpikir lama, akhirnya saya jawab: “Bisa !”

    Hal kedua terberat adalah memutuskan, apakah kita akan memasang bendera merah putih setengah tiang untuk menghormati kepergian beliau sesuai anjuran pemerintah ?

    Itupun sulit, sayapun di rumah merupakan orang atau keluarga kedua yang memasang bendera setengah tiang. Keduluan sama tetangga di depan rumah.

    Malam itu, yang memasang bendera setengah tiang hanya 2 keluarga di jalan depan rumah saya. Sebagai Ketua RT, saya sedih rasanya. Tapi, tidak mungkin menyuruh setiap orang melakukan hal yang sama…

    Ternyata esok paginya, hampir semua keluarga di jalan depan rumah saya memasang bendera setengah tiang !!! Yang tidak hanya 2-3 keluarga, yang saya duga alasannya “benderanya sedang ketlisut” dan bukan karena tidak mau memasang bendera setengah tiang..

    Itulah yang dinamakan “gut”. Alhamdulillah, ternyata kami adalah keluarga yang masih mempunyai “hati nurani”…

    Reply

  7. Resi Bismo
    Jan 31, 2008 @ 16:40:10

    tutup lembaran lama tapi jangan lupa kembalikan harta rakyat yang telah diangkut anak dan kroninya. Dan jangan sampai ada suharto2 muda di bumi indonesia ini.

    Reply

  8. Tri Djoko
    Jan 31, 2008 @ 22:15:01

    Mas Resi : Amien…

    Reply

  9. hendy
    Feb 02, 2008 @ 17:17:45

    lalu menurut bapak bagaimana sebaiknya dengan kasusnya??
    Apa di-iklaskan saja atau tetap di teruskan sampai tuntas??

    Reply

  10. Tri Djoko
    Feb 02, 2008 @ 18:15:17

    Hendy : wah…saya bukan ahli hukum, jadi susah ngejawabnya nih…

    Setahu saya, tuntutan pidana terhadap beliau sudah ada SP3-nya (Surat Penghentian Penyidikan) dari Jaksa Agung pada tahun 1999 yang lalu..

    Jadi yang masih ada adalah tuntutan perdata, dan katanya waktu beliau sakit Jaksa Agung sudah bertemu pihak keluarga dan penasehat hukumnya untuk mengadakan “mediasi” (penyelesaian di luar pengadilan)..

    Yang terakhir, kata penasehat hukumnya, proses “mediasi” sudah berlalu (dan mesti diselesaikan di pengadilan) dan kini beliau wafat (orang meninggal tidak bisa “hadir” di pengadilan). So, ……

    Kalau saya sih sebagai manusia biasa, misalnya saya punya masalah dengan seseorang. Lalu orang itu meninggal dunia. Apakah saya harus menggali kuburnya, memberdirikannya, dan menanyainya apakah ia bisa menyelesaikan masalahnya dengan saya ?

    Tapi itu analogi yang naif ya. Tapi sebagai orang beragama, sebaiknya kita segera memaafkan dosa-dosa orang yang meninggal sehingga jalannya ke hadapanNya menjadi lapang..

    Sebaliknya, kita yang masih hidup ini juga melepaskan diri dari rasa marah dan rasa dendam yang hanya membangkitkan aura negatif dari diri kita..

    Bukankah begitu ?

    Reply

  11. Hendi
    Feb 05, 2008 @ 00:18:52

    Setuju pak.
    Aura & pikiran negatif hanya akan menimbulkan efek balik pada diri sendiri.

    ada banyak pro dan kontranya tentang kasus Mantan orang No.1 ini, mengenai diteruskan atau tidaknya.

    Tetapi sepengetahuan saya…butuh beberapa tahun untuk mem-“peti es”-kan suatu kasus.
    contoh: Edi Tansil yang sudah tak ada kabar lagi.

    Kalau saya sieh lebih memilih tuk mengikhlaskannya saja…
    Sebab masih banyak masalah yang harus di selesaikan…bener tidak, Pak??

    Tapi kalau begitu, takutnya akan makin banyak kriminal-kriminal lain yang terus berkelit dan berharap kasusnya juga di-ikhlaskan begitu aja.

    Jadi dilemma gini ya…..,kita serahkan pada ahli hukumnya aja deh.

    biar ahlinya yang mengurusnya, semoga cepat terselesaikan.

    amiin..

    Reply

  12. Tri Djoko
    Feb 05, 2008 @ 14:02:34

    Hendi : wah…ini masalah hukum, atau masalah senengnya orang Indonesia menyalahkan orang lain terutama orang yang sudah tidak berkuasa lagi alias mantan ?

    Saya lebih respect terhadap orang yang berani mengkritik semasa orangnya menjabat. Contohnya, hayo kalau berani kritiklah pemerintah sekarang ini ! Kebanyakan tidak berani, alias “chicken” !

    Beraninya, kalau orangnya sudah mantan, wah..semua kesalahannya diutak-atik. Tidak hanya mantan Presiden, tapi juga mantan Gubernur, mantan Walikota, sampai mantan Lurah, mantan RW, dan mantan RT !!

    Wah..wah..wah..gawat kalau begini..

    Saya selalu bilang, janganlah kita melihat para mantan itu dari sisi jeleknya saja. Mereka kan pernah juga berjasa. Cobalah hargai apa hasil kerja mereka yang baik…

    Soalnya saya sekarang menjabat Pak RT. Sudah cape kerja, stress, tidak digaji pula. Kalau sudah turun, nanti orang main nyalahin aja. Enak aja ! Saya lebih suka mereka mengkritik secara terbuka sekarang ini (dan..beberapa orang sudah pinter ngritik, tapi biasanya orang yang kontribusinya nihil…sedangkan yang mau kerja keras demi kebaikan lingkungan, tidak pernah ngritik…)..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: