Cerita Tersisa dari Banjir Jakarta

Jakarta diguncang banjir hari Jumat, tanggal 1 Februari 2008 kemarin. Banjir yang magnitude-nya tidak kalah besar dengan banjir tanggal 26 Januari 2007 dan 17 Januari 2002. Bedanya, banjir kali ini kebetulan saya lagi ngaso di rumah..

Sehari sebelumnya di kantor saya BPPT ada acara Pra Rakor dari Pusat Audit Teknologi yang dibuka oleh Deputi PKT Dr. Utama Herawan Padmanegara (Pak Utama), disusul oleh Kepala Pusat Audit Teknologi Dr. Hasan Mustafa  Djajadiningrat (Pak Oce). Yang dibahas cukup banyak sehingga waktu 4 jam tidak terasa, dari masalah sertifikasi auditor teknologi sampai pertanyaan mendasar, yaitu apakah audit teknologi itu bersifat voluntary atau mandatory..

Capek berakor ria, besoknya saya off. Di rumah saja. Lagian ada tugas membuat CV Bahasa Indonesia agar saya dapat menjadi Perek. Eits…jangan cemberut dulu, Perek adalah singkatan anak2 BPPT dari Perekayasa, salah satu jenjang fungsional yang di-sanction oleh Kementerian Ristek dan dibantu oleh BPPT. Ya, artinya kalau jadi Perek, gaji jadi naik karena ditambah tunjangan Perek. Gitu aja kok repot..

Jumat pagi besoknya, pagi-pagi isteri sudah ngantor bawa Camry-un kita. Ikut pula anak sulung saya Dessa, yang kantornya sejurusan sama mamanya. Kalau kantor baru mamanya di sebelah Berlan (dari nama gang tahun 1970-an, “Bear Land”), maka kantor anak sulung saya di bilangan patung Pak Tani..

Pagi itu mendung alias awan hitam sudah menggelayut mau jatuh. Jadi ingat lagu Koes Plus “Awan Hitam” di album pertamanya itu. Ingat pula cerita si Kancil yang kecebur sumur kering dan ketemu si Gajah..

Jam 9.00 hujan mulai turun berupa gerimis. Jam 10.00 hujan menjadi amat sangat terlalu deras seolah air ditumpahkan dari langit. I mean, breesssssssss… sampai semua ember-ember yang ada di luar bunyi dang..dung, dang..dung, saking deresnya hujan..

Ee..ternyata hujan deras ini berlangsung 3 jam terus-menerus. Karena rumah saya bocor di sana-sini dan belum sempat nembel atap yang bocor, maka jadi kebiasaan kalau hujan deras mulai maka saya mulai melirik jam dinding. Karena kebiasaan dulu, hujan deras setengah jam akan membuat air masuk setengah garasi. Dan hujan deras satu jam penuh akan membuat air masuk rumah tanpa kulonuwun..

Untungnya (mind you : orang Jawa selalu beruntung !), seminggu sebelum hujan deras ini di kota Bekasi tempat rumahku berada ada Pilkada Walikota Bekasi. Dan beberapa hari sebelum Pilkada, kabarnya salah satu kontestan Pilkada berbuat baik dengan mengangkat lumpur dari saluran utama yang mengelilingi kompleks saya..

Ajaib, hujan hanya muntub-muntub di depan garasi, dan seolah nggak berani masuk. (Ingat muntub-muntub, ingat cerita “kembang mekrok pentile ceblok”, hayo apa itu ?). Artinya, got yang sudah diangkat lumpurnya telah work very very well, so well that the water was just flowing in the gutter and without stopping by in our housing complex. God Bless us..

Secara instink, begitu hujan lebat lebih dari 1 jam, saya buka situs www.detik.com yang bilang banyak jalan sudah tergenang air. Begitu pula TV saya nyalakan walau di tengah hujan dengan petir menyambar-nyambar. Saluran saya flip dari satu stasiun ke stasiun lain…

Bandara Soekarno-Hatta ditutup. Tapi saya worry dengan isteri saya yang bawa Camry-un dan anak saya yang masuk kantor (paginya ia telpon jam 9.30 baru sampai kantor setelah berjuang menerjang derasnya hujan).

Karena sangat derasnya hujan, sayapun urung pergi shalat Jumat, takut kalau air masuk rumah dan banyak benda menjadi korban, terutama buku-buku. Lemari baju di kamar sampai mlenthung dihajar air hujan 3 jam..

Jam 14.00 isteri saya dengan selamat membawa Camry-un pulang ke rumah. Mulanya saya ragu ia bisa membawa pulang itu mobil, mengingat Jakarta sudah dikepung “pulau-pulau banjir”..

Isteri bilang, di bilangan stasiun Jatinegara banyak Kijang (ia tidak bilang: Kijang doyok, Kijang kotak, Kijang kapsul, atau Kijang Innova) yang macet terjebak banjir. Tapi di antara Kijang yang lebih besar itu, mobil isteri saya Camry-un alias Karimun survive menerjang banjir. No wonder, “distributor” (tempat bertemunya 4 kabel busi untuk mesin 4 silinder) Karimun diletakkan sekitar 90-100 cm dari muka tanah, makanya nerjang banjir 50-60 cm mah ecel ecel sajah…

Namun hampir di dekat rumah, isteri saya mobilnya disetop banyak anak muda yang meminta mobil tidak menerjang banjir. Tapi angkot bisa tuh, kata isteri saya. Dan iapun membuntuti angkot itu dengan gas besar menerjang banjir, dan sampailah ke rumah…

Tetesan air hujan dari ataspun sudah setengah rantang di beberapa titik. Buku-buku dan kertas-kertas Paper One dan Bola Dunia terpaksa saya singkirkan ke tempat aman, supaya nggak basah..

Saya sms kakak saya memberitakan banjir. Ee..ternyata kakak sulung saya dengan salah seorang saudara yang keduanya perempuan, kejebak banjir di tol dalam kota di daerah Grogol (photonya ada di http://edratna.wordpress.com). Dan…kakak sayapun terpaksa mengerjakan “the nature call” di dalam mobil. Jijay ah…

Kata kakak saya, ia dari rumah jam 11.00 menumpang sedan menuju bandara mau njemput calon mantu yang baru datang dari Amrik. Eh bandara Soekarno-Hatta hujan deras dan bandara ditutup 5 jam dari jam 10.00-15.00, terpaksa deh pesawat Cathay Pacific yang ditumpangi balik lagi ke Changi..

Setelah mutar melalui tol pelabuhan karena saya sms tol ke bandara sudah digenangi air sekitar 70-100 cm, kakak saya dan si mbak akhirnya sampai di rumahnya jam 19.45. Very exhausted. Padahal besok paginya anak sulungnya diwisuda di Fasilkom UI.

Cerita belum selesai. Isteri saya nanya, do I have to do something to fix the Camry-un because it has been passing the flood ? I said, no. No way, Jose. Nothing. Leave it as it is…

(Besoknya, selama 3 hari mobil isteri saya baunya nggak ilang-ilang karena karpet basah bo !)

Rupanya anak sulung saya yang bekerja di bagian HRD (HR Services) di suatu perusahaan asuransi di bilangan Menteng, nyambi juga sebagai call-center alias help desk untuk masalah banjir. Akhirnya dia nongkrong terus di kantor nunggu kalau-kalau ada staf yang rumahnya kebanjiran dan perlu dievakuasi. Di kantornya sudah ada mobil pickup lengkap dengan perahu karet..

(Ia bilang, sesore itu ia dan team kantornya telah mengevakuasi sekitar 10 orang staf beserta keluarganya yang rumahnya kebanjiran, dan menempatkannya di sebuah hotel di dekat kantor) 

Jam 03.00 Sabtunya, anak saya baru pulang ke rumah. Jam 12.00 malam sebelumnya saya sms, nak..papa udah ngantuk, kamu masuk rumah dengan kuncimu ya…

Sabtu pagi, 2 Februari 2008, seharian saya nonton siaran banjir di 13 stasiun TV yang ada di Jakarta.

Yang menarik ada pengendara mobil Kijang tinggi berkumis yang ditanya apa pendapatnya dengan banjir kali ini. Ia menjawab, “Banjirnya sukses….banjirnya sukses….lha iya, sukses kan banjirnya…”

Yang lucu lagi, ada anak muda pria penyiar Antv dari sebelah gedung Sarinah Thamrin yang menyiarkan banjir di sebelahnya. Ia berkomentar, “Padahal, baru saja Indonesia mencanangkan Visit Indonesia Year 2008. Nyatanya acara dibuka dengan banjir besar seperti ini. Siapa tahu turis-turis mancanegara nanti datang ke Jakarta untuk melihat banjir sebesar ini. Buktinya, sekarangpun banyak orang yang menonton banjir ini”…

Minjem istilah Jarwo Kuat (JK), “Aya..aya…wae..!!!”

7 Comments (+add yours?)

  1. Tri Djoko
    Feb 08, 2008 @ 20:10:54

    Oops…ada cerita yang tertinggal. Selasa tanggal 5 Februari 2008 saya masuk kantor dan sempat numpang Bluebird dari Thamrin menuju Harmoni.

    Si sopir taksi Blue Bird cerita kalau sampai hari Minggu, ada 200 taksi Blue Bird dan 21 taksi Silver Bird (Mercedes Benz C200) belum pulang ke poolnya..

    Saya perhatikan dari tayangan TV, di sekitar jalan tol bandara banyak Mercedes Benz Silver Bird yang kelihatan cuman tulisannya doang. Artinya, tenggelam di banjir…

    Kasihan ya, perusahaan taksi. Atau kasihan, perusahaan asuransinya ?

    Reply

  2. resi bismo
    Feb 12, 2008 @ 17:43:58

    oo ibu enny itu mbakyu njenenengan toh mas.. wah dunia ini tak selebar daun kelor yach, muter2 aja disana.

    Reply

  3. Tri Djoko
    Feb 12, 2008 @ 21:45:26

    Mas Resi : Lho..bukannya anda udah tahu sejak lama ? He..he..he…

    Reply

  4. edratna
    Feb 14, 2008 @ 10:31:52

    Wahh ..kali ini saya mendapat pengalaman menerjang banjir…..hehehe…seru dan lucu…alhamdulillah akhirnya semua selamat…walau badan sakit semua…..

    Reply

  5. Agung
    Feb 22, 2008 @ 21:30:22

    bener2..!!
    banjirny sukses pak.
    tp sukur,tiap kali banjir,
    kota tangerang aman2 aja.
    hehehe..!!

    Reply

  6. Tri Djoko
    Feb 22, 2008 @ 23:11:49

    Bu Edratna dan Agung : Syukur juga rumah anda tidak terkena banjir..

    Rumah saya di Bekasi juga tidak terkena banjir lho… tapi sedih juga lihat orang-orang korban banjir di TV tuh !

    Reply

  7. Agung
    Feb 23, 2008 @ 21:23:32

    yah,klo liat aja sih kasihan.
    tapi tahun lalu saya secara tidak sengaja jadi relawan untuk bantu korban banjir.
    waktu itu saya ikut tim dari gereja.
    aduh2..!!
    kapok saya.
    selain ga cocok ama anggota tim yg lain.
    para korbannya itu lho.
    beberapa ga tau terima kasih.
    uda gt susah diatur ampe berebutan.
    ditambah msh sempet2ny malak.
    ampun deh.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: