Kuliner Madiun

Banyaaak sekali enquiry masuk ke blog saya tentang “kuliner Madiun”. Mungkin ditanyakan oleh orang yang berasal dari Madiun, atau mungkin orang yang mau berkunjung ke Madiun..

Inilah saran saya, catat baik-baik…

Kalau anda punya waktu hanya 1-2 jam melintasi kota Madiun, jangan lupa merasakan nikmatnya makan siang dengan nasi pecel. Cluster warung pecel ada di Jalan H.O.S. Cokroaminoto, sebelah selatan bang-jo di ujung Jalan Pahlawan, dan satu blok di sebelah selatan Klenteng/Vihara..

Ada beberapa warung pecel, semuanya bumbunya hampir sama. Yah, mirip semuanya MacDonald atau KFC-lah, kan rasanya sama saja. Pilih saja warung yang parkirnya mudah, dan warungnya tidak terlalu penuh. Kesenangan saya, warung yang ada kere bambunya. Enak. Teduh. Bisa sembunyi. Siapa tahu ada yang ngelihat..he..he..

Jangan lupa sambil mesen pecel, nanya “Bu, apa ada kembang turinya ?”. Kalau ada, itu ibarat Jackpot !!! Anda sangat beruntung, karena turi hanya kembang sekitar bulan Juli sampai September di musim yang paling kemarau. Wah, pokoknya pecel sama kembang turi itu mak nyusss banget. Abalone soup di Westin Hotel di City Hall Singapore-pun serasa kalah (padahal semangkok abalone soup harganya mahal sekali)…

Kalau waktu anda singkat, setelah ma’em atau dahar pecel, silahkan balik muter melewati Sleko alias Sleko-slovakia. Wah, serasa sudah di Eropa dan mendekati Jerman ha..ha.. Pusat oleh-oleh adalah di ujung jalan Pahlawan dekat bang-jo tadi, persis di sebelah baratnya. Jangan lupa: brem seruling gading, jeruk nambangan, dan ceker ayam gurih…

Kalau waktu anda agak panjang, anda bisa merasakan bakso Simo di sebelah timur Bioskop Arjuna yang posisinya di utara alun-alun Madiun. Atau sama enaknya, bakso Tambir di pertigaan Jalan Gajah Mada dengan Jalan Raya Maospati, persis di sebelah barat jembatan Kali Madiun. Kalau makan bakso, jangan lupa minumnya “Mbak, saya milih minumannya Gatotkaca…” (jadi ingat iklan C*c*-C*l* oleh Jamie Aditya yang lucu pisan tea…)…

Menjelang malam, kalau masih nginep di Madiun, datanglah ke Jalan Suronatan. Posisinya di sebelah utara alun-alun, tapi di ujung baratnya. Warungnya sederhana, persis warung pecel di TMII yang banyak didatangi oleh orang Jepang di hari Sabtu-Minggu itu. O ya di Jalan Suronatan dijual es dawet Suronatan, plus bothok dan masih banyak makanan nyamikan lain…

Malamnya, acara bebas. Anda boleh makan apa saja, mau balik ke “junk food” macam McD atau KFC boleh lah. Atau makan chinese food asli Madiun yang banyak ada di Jalan Pahlawan..

Besok paginya, back to square one. Alias mecel lagi. Jangan lupa, kalau pagi makan pecel enaknya belum mandi, belum sikatan, dan belum sisiran. Jadi dengan daster atau celana monyet, gigi kuning, dan mulut masih bau serta rambut awut-awutan enaknya mesen pecel yang pakai “pincuk” (daun pisang yang dibentuk mirip “piring”). Kalau mau “double dare”, jangan pakai sendok, mintalah “suru” (daun pisang yang dibentuk seperti “sendok”). Jadilah anda makhluk jadi-jadian saingannya Fred Flinstone…ya ba ya ba dooooooo !!!

Untuk makan siang, pergilah ke sate gule di Pasar Kawak. Mind you, ini sate gule paling enak di seluruh dunia dan cara penyajiannyapun khas. Gulenya sangat panas, bisa membuat lidah anda membara bersuhu 600 derajat C (No, I’m just kidding !). Satenya setelah dibakar, eh..tusuknya sama tukangnya dicopot, jadilah bongkahan daging bakar yang mak nyuss ibarat Bul-Go-Gi di tanah Korea sana !! Pokoknya, kalau mertua atau calon mertua lewat, kita nggak bakalan ngenal dia deh !! O ya, jangan lupa saking enaknya lidah anda bisa kegigit. Bayangkan, 30 meter di sebelah selatan warung sate gule ini adalah SMP saya yaitu SMP 2 Madiun yang penuh kenangan…(saya siswa teladan tahun 1972)..

Malamnya, anda bisa cari soto Kudus Pak Kardi, yang waktu saya kecil jualannya di atas rel sepur dekat Proliman. Tapi kabarnya sekarang pindah ke dekat pasar Sleko, dekat terminal bis yang lama. Soto Kudus Pak Kardi ini juga paling enak, setidaknya di luar kota Kudus..he..he.. 

Itulah kuliner Madiun tahun 1970-an. D tahun 2008 sekarang, beberapa situasi masih seperti itu, beberapa lagi sudah berubah setting dan tempatnya…

Bon Appetite !!

14 Comments (+add yours?)

  1. purwoko
    Feb 10, 2008 @ 22:06:57

    mas Tri, aku juga lulusan SMP 2 tahun 1972
    klas 1-nya di 1-c kemudian naik ke kelas 2-c
    dan terakhir kelas 3-b baru kemudian lanjut
    ke sma satu madiun, anda di kelas mana waktu
    itu, cerita donK!!! aku ada e-mail di atas.
    salam,
    makasih

    Reply

  2. Tri Djoko
    Feb 10, 2008 @ 23:52:45

    Mas Purwoko : Injih mas, wah sebelumnya saya lupa lho siapa sampeyan. Soalnya temanku sekelas di IA SMP2 dulu juga ada yang namanya Purwoko, tapi kurus, yang juga masih jadi teman sekelas saya waktu di IIIA SMP 2.

    Kayaknya njenengan yang agak gemuk tapi lincah kayak bola bekel itu tho ?

    Kalau nggak salah, selain teman nari Jawa di rumah saya, anda juga teman se angkatan di SH Terate saya waktu di Tanggung sampai ban Jambon, 1972-1973 bersama dengan Joni dan Ar yang keduanya juga masuk SMA 1

    Reply

  3. poppy
    Feb 11, 2008 @ 17:48:42

    lho…kok oleh2 “Brem madiunnya” kelewat? 😀
    Om Djoko winarno hehehehe….

    Reply

  4. Tri Djoko
    Feb 12, 2008 @ 03:02:31

    Mbak Poppy : sudah disebut tuh…sebagai “brem Suling Gading”…ya brem Madiun juga (bremnya buatan Madiun, tapi packagenya di Salatiga, konon)…

    Djoko Winarno ? Hmm…I like that idea. Anak2 saya juga bilang muka saya sudah mirip Pak Bondan Winarno (cuman beda keberuntungan aja he..he..)..

    Reply

  5. edratna
    Feb 14, 2008 @ 10:27:37

    Dawet Catur masih adakah? Terus yang jualan pagi-pagi, dawet dan teman-emannya di pojok pasar Kelegen…dan kalau malem menjadi jualan sate?…Satenya terkenal enak lho…

    Kalau tak sempat ke jembatan Catur…dawet Suronatan memang hueenaaak….

    Reply

  6. Agung
    Feb 23, 2008 @ 21:20:15

    wah..!!
    saya jd ngiler pak.
    hahaha..!!
    dan jg terinspirasi buat bikin topik “kuliner Tangerang”
    hehehe..!!
    cm saya malas buat blogny.
    hehehehe..!!

    Reply

  7. tridjoko
    Feb 23, 2008 @ 23:06:58

    Agung : cepet buat blognya, banyak anak Binus yang sudah buat blog, nggak cowok nggak cewek. Buktinya yang sudah saya blogroll saja buannyyaaakkk…

    Ntar keburu “Kuliner Tangerang” anda kelupaan..

    Reply

  8. Djoko Winarno
    Feb 26, 2008 @ 17:57:37

    Yen eling pecel aku dadi luwe banget.

    Mas Tri , Lam kenal yach…?

    Reply

  9. Tri Djoko
    Feb 26, 2008 @ 18:57:14

    Mas Djoko Winarno : injih mas, salam kenal kembali..

    Wah..aku sempat deg-degan, tak kiro Pak Bondan Winarno, jebule adine sing metu..he..he..

    Reply

  10. Tri Djoko
    Feb 26, 2008 @ 19:01:44

    Bu Edratna : Sorry lama nggak mbalas commentnya…

    Saya nggak tahu ya apakah dawet Catur (sebelah selatan sungai Catur, sebelah barat jalan) masih ada ataukah tidak. Kebetulan kalau saya pulang ke Madiun, saya jarang mengarah ke selatan. Paling sering mengarah ke utara dan barat..

    Tapi kalau dawet Kertobanyon pernah masuk TV, dan masih tetap seperti dulu: ada cendol, janggelan, kembang kemangi, bubur sumsum, campur jadi satu….pancen Mak Nyus (TM) tenan he..he.. !

    Sate Klegen itu masih ada apa tidak saya juga nggak tahu atau nggak memperhatikan. Kayaknya sih udah lama tidak ada..

    Kalau dawet Suronatan masih ada. Beberapa tahun yang lalu sempat ngrasain…

    Mungkin Mas Purwoko “Simbah” Didiek bisa mengomentari soale beliau selain “jualan minyak” juga tinggal di Madiun menunggu ibunya di usia senja, yaitu Ibu Kartini (Kepsek SD Mojorejo II sebelah SD Bhakti tempat Ibu dulu, masih ingat ?)..

    Reply

  11. simbah
    Mar 02, 2008 @ 01:35:01

    Dawet Catur, . . kayaknya sudah tidak ada Bu Edratna, . . itukan sudah sejak tahun 60-an memang terkenal, baru disusul Dawet Ponorogonya pak Karni, dulu jualan di halaman Stadion Wilis Madiun.

    Kebetulan saya punya pak Guru, mengajar kewarganegaraan di SMA-1 namanya juga pak Karni, pas jam pelajaran beliau kosong, maka anak2 (teman2) suka iseng, Pak Karni lagi meres santen nggo dodol dawet. . .Sekarang yg lagi ngetren namanya dawet jabung, dari asalnya desa Jabung di Ponorogo.

    Kalau nanti bila ada kesempatan Bu Edratna, diundang resepsi pengantin di Mediyun, bila suguhan prasmanan, biasanya ada itu ‘dawet Jabung’, . . enak juga sih .. . .suwegeer. . .dulu di President Plaza, etan aloon-2 ada . . .

    Reply

  12. tridjoko
    Mar 02, 2008 @ 20:16:06

    -> Simbah : terima kasih atas jawaban pertanyaan Bu Edratna..

    Nanti deh kalau pulang ke Madiun saya ngrasain “dawet Jabung”… Wah, enaknya makannya siang-siang pas panas-panas ya..

    Reply

  13. bian
    Sep 19, 2010 @ 07:07:54

    sekedar info kuliner tambahan, sgpc mbok de Parmi super2 pedas lan wis misuur , wonten ing jl Hayamwuruk arah ke gorang-gareng ora ono papan reklame/spanduk, tapi akeh wong sing ngerti, wooooke banget pedese, hayoo yen wani cobanen

    Mas Subiantoro,
    Terima kasih infonya….tapi perlu lebih jelas tetengere, kalau dari arah Jembatan Madiun, terus belok kiri ke Jalan Gorang-Gareng….berapa meter jauhnya dari Jalan Raya Solo ?

    Reply

  14. tuti sri widayanti
    Jun 21, 2015 @ 08:59:47

    Saya numpang lahir aja di madiun, di rumah bidan sugiri, di jalan cokroaminoto, tahun 1967 silam. Pekan depan tgl 23-26 juni 2015 saya akan ke madiun dalam rangka tugas kantor, kunjungan pertama saya setelah lahir. Untuk itu saya perlu banyak informasi tentang madiun. Alhamdulillah ada info dari dik Tridjoko. InsyaAllah saya akan coba kuliner yang diceritakan oleh dik Tri.

    Mbak Tuti,
    Silahkan mbak….monggo….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: