Samgakji

Samgakji adalah nama sebuah tempat di Seoul, yang merupakan tempat istimewa bagi saya. Mengapa ?

Di buku leaflet untuk turis yang saya membaca, di setiap hari Jumat pagi di Samgakji ada pertunjukan drum band tentara wanita Korea (FYI, isteri saya adalah anggota tentara wanita).

Tapi karena setiap Jumat pagi saya mengikuti kelas Science and Technology Policy dari para pejabat penting dan professor penting Korea, maka sayapun tidak sempat ke Samgakji..

Pada minggu keenam masa tinggal saya di Seoul, saya merasa sudah melihat semuanya. Mall-mall yang megah, pertunjukan “Nanta” yang aduhai dan hampir bisa disamakan dengan pertunjukan “Stomp” di Broadway, sampai melihat toko-toko elektronik yang murah di Yongsan, dan tentu saja pusat belanja turis di Itaewon dan juga Namdaemun-Dongdaemun.

Maka pada suatu Sabtu pagi yang agak mendung, hujan rintik-rintik, seorang diri saya naik subway dan turun di Samgakji. Sayapun langsung menuju ke Museum Militer Korea.

Karena lapar, saya langsung memesan mie seduh di kantinnya dengan harga Won 1,000 (Rp 7,000). Saya merasa homy alias “di rumah sendiri” karena merasa di tengah-tengah keluarga tentara. Mungkin suasana kompleks KPAD Cimanggis teringat kembali..

Sayapun masuk ke gedungnya. Sebelum itu, di halaman dideretkan buku tebal panjang sekali. Saya lihat beberapa tentara Amerika melihat buku-buku tebal itu. Rupanya itu daftar korban Perang Korea 1950-1953 yang memakan korban sebanyak 75,000 orang tentara Amerika itu (korban 3 tahun perang Korea lebih banyak daripada korban 12 tahun perang Vietnam sebanyak 57,000 orang).

Secara instinct saya melihat daftar korban tentara Amerika yang berasal dari Indiana, tempat saya pernah tinggal 3 tahun waktu belajar di Indiana University at Bloomington. Ternyata banyak sekali korbannya G.I. dengan pangkat prajurit dan kopral yang tentunya waktu meninggal masih berusia muda.

Kemudian saya masuk ke gedung utamanya, yang ada patung-patung pahlawan Korea dengan berbagai sebab mengapa mereka disebut pahlawan. Di dekatnya ada diorama perang Korea, peta kemajuan dan kemunduran tentara Korea di perang yang singkat itu, baju dinas dan baju lapangan baik tentara Korea Selatan (ROK = Republic of Korea) maupun tentara Korea Utara (PDRK = People’s Democratic Republic of Korea). Sangat menarik melihat kesan kemewahan yang melekat ke seragam tentara Korea Selatan dibandingkan dengan seragam tentara Korea Utara yang jauh bersahaja..

Senapan-senapan ringan seperti pistol dan senapan serbu, serta pelontar mortir yang dipakai oleh kedua belah pihak juga ada. Yang paling menarik adalah multimedia yang memutar film Perang Korea yang merupakan film dokumenter.

Di film itu saya melihat “kegilaan” para pilot Amerika dengan pesawat tempur Mustang-nya yang walaupun ditembaki terus oleh artileri pertahanan udara dari bawah, namun bukannya lari tapi malah pesawat tempur diarahkan ke sumber tembakan itu !

Karena kontur tanah Korea Selatan itu berbukit-bukit, maka perang singkat itu banyak menggunakan artileri, howitzer dan roket yang tentunya banyak memakan korban. Di samping 75,000 orang korban di pihak tentara Amerika, konon perang Korea juga memakan korban 140,000 orang tentara Korea Selatan.

Tak terasa Museum Militer hampir tutup. Sayapun melenggang keluar menuju Taman Makam Pahlawan Korea Selatan. Di depan Museum ini ternyata terletak markas Departemen Pertahanan Korea Selatan. 

Di sebelah markas Dephan ini terletak TMP Korea Selatan yang selalu dijaga 2 orang anggota Polisi Militer Korea Selatan di depan gerbangnya..

Sejauh mata memandang, dari tanah datar hingga ke kaki bukit, terlihat nisan tentara berwarna putih dengan tulisan di masing-masing nisan. Konon jumlah nisan ini adalah 140,000 ! (Bandingkan dengan nisan di TMP Kalibata yang mungkin hanya sebanyak 10,000).

Sebenarnya maksud saya mendatangi TMP Korea Selatan ini mencari nisan prajurit Amerika yang gugur di perang Korea. Ternyata tidak ada. Sayapun lalu berpikir, mungkin mereka dimakamkan di Arlington, Virginia yang merupakan TMP Amerika Serikat, atau di TMP tanah kelahiran masing-masing..

Sangat mengesankan perjalanan seorang diri siang dan sore itu. Sayapun sempat membeli beberapa oleh-oleh kaos Marines dan Air Force Cadets di toko souvenirnya. Tidak lupa beberapa gantung kunci berbentuk peluru yang ternyata bisa berfungsi sebagai korek apipun saya beli untuk anak, isteri, kakak dan keponakan-keponakan..

Sayapun merasa lega, karena masih merasa sebagai keluarga tentara yang sederhana…

5 Comments (+add yours?)

  1. purwoko
    Feb 23, 2008 @ 14:14:50

    Pengalaman yg mengesankan, . . tidak banyak orang yg dapat kesempatan melihat lihat negeri orang sambil belajar . . .
    Lantas ingatanku seperti pernah membaca majalah ‘Intisari’ pada jeda tahun enampuluhan, yg sekarang jarang-2 orang menulis tentang perjalanannya ke negeri orang. Seperti majalah ‘intisari’ tempo dulu . . atau aku yang ketinggalan kereta . . gak tahu bukunya ??
    Sungguh menambah wacana, sekarang di tv, koran dan majalah selalu dibahas ekonomi, perang dan bencana . . .hiruk pikuk pilkada, bikin penat . . .

    Reply

  2. Tri Djoko
    Feb 23, 2008 @ 17:51:38

    Mas Purwoko : terima kasih mas. Mas benar, saya banyak terinspirasi majalah kecil Intisari (Kompas Gramedia) dan Mayasari (Kedaulatan Rakyat, Yogya) dalam membuat “laporan perjalanan” tidak resmi ini..

    Tulisan ini sebenarnya ingin saya tulis lamaaa sekali, tapi belum sempat-sempat. Eee..ternyata ada salah satu mahasiswa Korea di kelas saya barusan, sehingga nulis Samgakji ini merupakan keharusan. Just to show that Indonesian people appreciate everything about Korea, and vice versa..

    Di Intisari dulu, saya sangat menikmati laporan perjalanan Dr. H.O.K. Tanzil dan isterinya yang melanglang buana hanya menggunakan VW Combi.

    Juga Captain Gunarjo seorang pilot di Papua yang sering melaporkan keindahan tanah Papua dan sekaligus “bahayanya” tanah Papua bagi penerbangan (ingat, Rockefeller III cucu raja minyak AS sampai hilang pesawatnya di Papua dan sampai hari ini tidak pernah diketemukan)..

    Juga perjalanan seseorang lagi, sayang saya lupa namanya, ia bekerja sebagai pelaut, yang suatu hari menyusuri Yang Tse River di China sana, dan merasa amat sangat tegang memasuki sebuah negara komunis yang sangat tertutup, pada masa pemerintahan Mao Tse Dong..

    Sebenarnya di TV laporan perjalanan masih banyak mas. Ada Expedition di MetroTV, si Bolang di TV7, Catatan si Unyil di TV7, dan tentu saja top of the top adalah Jejak Petualang di TV7 dengan anchornya Riani Jangkaru (dulu) yang sekarang sudah digantikan sama si Upik Mediana (?) yang hampir hilang di Kepulauan Raja Empat, Papua itu…

    Jadi pandai-pandailah memilih saluran TV mas !

    Mas Purwoko yang kegiatannya ngrogoh-ngrogoh nyak minyak nyak juga bisa lho ditulis dalam blog pengalamannya.

    Blog ini sebenarnya salah satunya terinspirasi oleh blog teman anak saya yang kerja di oil service company nun jauh di Skotlandia sana (sayang dia cepat-cepat quit, and I just blame myself for losing such a good and interesting report on his daily activities…)..

    Reply

  3. simbah
    Feb 24, 2008 @ 13:59:01

    Walah, . . baca’an sampeyan juga ‘Intisari’, wah masih inget H.O.K. Tanzil segala . .aku wis lali jee . .Capt. Gunarjo lagi, . . weleh . . weleh . .apa yg sampeyan pernah baca aku baca juga . .dulu waktu SD aku suka tuker2 an baca’an sama Witono Basuki yg konon sudah jadi Doktor itu.

    Waktu aku di kelas 1 SMA, waktu itu kelas 1-A. Kalo gak salah Pak Mugiyono(Kimia) atau pak Drs. Pitanto(ekonomi) sehabis membagikan hasil ulangan anak2, yg rata2 hasilnya jeblog, trus banyak yg manyun wajahnya, termasuk aku. Melihat murid2-nya pada suntuk, gak tau pak Mugi ato pak Piet, memberi nasihat, bahwa supaya :” Kalian jangan berkecil hati, kesempatan utk belajar masih panjang, baru nanti 10 tahun lagi (waktu itu th 1973) nasibmu akan kelihatan secara samar2 baru kemudian terang, dan kamu jangan menyesali apa yg akan terjadi, karena Tuhan sudah menggariskan akan jadi apa kalian kelak.”

    Rupanya sekarang ucapan itu terbukti, setelah lebih dari 30 tahun. Macam2 profesi teman2 kita dulu, hanya saya belum pernah mendengar yg nasibnya buruk2 amat . . . semoga tidak adalah ya. . .Anda ingat Kikiek (Hermawan Sulistyo) mencalonkan diri sebagai Cagub Jawa-Timur, dia sudah bergelar Prof.ris di bawah naungan Partai Damai. Tapi kayaknya gaungnya kurang terdengar . . kurang kuat menghadapi partai yg sudah established . . P3 PDI dan Golkar. . .

    Dgn adanya blog ini saya merasa terhibur, sambil belajar lagi, semacam ada semangat utk ingin tahu lebih banyak lagi . . . dus kerjaku nun jauh di sana, kalau lagi tidak ada kegiatan pesawat-terbang dan supply boat . . yg berseliweran aku bisa membaca-baca blog ini . .
    Matur nuwun dik Yon, tlah membuka cakrawala baru . . . buwatku . .

    Reply

  4. kunderemp
    Feb 25, 2008 @ 23:53:28

    Mustang ini, mustang P-51 yang ada moncong hiunya itu, kah? Yang ada di Museum Satria Mandala itu?

    Reply

  5. Tri Djoko
    Feb 26, 2008 @ 09:52:32

    Mas Kunderemp : Yep, betul ! Di Indonesia terkenal dengan julukan “Mustang, si cocor merah”..

    Mustang itu nama resminya adalah “P-51 Mustang” yang adalah pesawat tempur tercanggih milik Amerika yang di masa Perang Dunia II di Eropa yang banyak merontokkan pesawat tempur Jerman (Messerschmidt) dan di Perang Dunia II Asia Pasifik banyak merontokkan pesawat tempurnya Jepang yaitu Mitsubishi “Zero”.

    Tidak hanya itu, Mustang juga banyak merontokkan bomber-bomber Jerman yang banyak mengebom London waktu itu, dan sekali boom…bomber jatuh dan akan menewaskan 6-10 orang awaknya..

    Kalau mau baca tentang kehebatan Mustang, mudah-mudahan saya masih punya buku paperback-nya “General Chuck Yeager : An Autobiography”. Dia itu pilot “Ace” Amerika di Eropa yang sudah merontokkan kalau tidak salah 24 pesawat Jerman. Setelah dari PD II Eropa, dia masih sempat bertugas di Perang Korea 1950-1953, dan setelah itu menjadi Duta Besar AS di Pakistan, dan pensiun..(siapa tahu “pilot gila” Amerika yang terekam film lagi menghajar artileri pertahanan udara itu Chuck Yeager ?)..

    Bahasa Inggrisnya sangat katrok dan ndeso mengingat ia berasal dari West Virginia. Oleh teman-temannya ia dipanggil “hilly billy” (= cah nggunung !)..

    O ya Mas, di blog Mas Ari perlu ditambahkan lagi My Uncle’s Wife Blog (rarely been updated since she is busy in pursuing her Ph.D) http://mjrsusi.wordpress.com/

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: