Salju yang Membuat Haru

Malam pertama saya di Bloomington adalah tidur di ruang tamu trailernya Pak Amin Zarkasi yang sofanya bisa “ditarik” sehingga menjadi tempat tidur itu. Di luar suhu cukup dingin, sekitar 35 derajat Fahrenheit (1,5 derajat Celcius), tapi salju belum turun, hanya rasa dinginnya menggigit tulang. Tapi karena trailer ini juga diberi pemanas berbahan bakar gas (LPJ), maka sayapun bisa tidur dengan nyenyak dan hangat..

Besoknya saya bangun pagi-pagi dan melewati jendela trailer saya melihat trailer-trailer lainnya yang berwarna biru muda kehijauan. Jumlahnya ada sekitar 100 trailer. Di sebelah kiri Pak Amin ada trailernya Pak Abdul Kadir, lalu di sebelah kiri trailernya Pak Abdul Kadir ada trailernya Pak Chaedar Alwasilah..

Konon ceritanya trailer ini mulai dibangun di awal tahun 1950an ketika banyak serdadu G.I. (General Insurance) Amerika pada pulang dari pertempuran Perang Dunia II, baik yang di Eropa ataupun yang di Pasifik. Nah, dengan biaya tentara (disebut G.I. Bill) para eks tentara ini mengambil mata kuliah di Indiana University agar mereka bisa jadi sarjana dan bekerja sebagai orang sipil..

Karena usianya yang sudah lebih dari 30 tahun, maka trailer ini juga sudah terlihat berusia tua, namun masih terawat.

Saya pernah melihat suatu Tabel yang dikeluarkan oleh USIS (United States Information Services) bahwa Indiana University menduduki peringkat ke-2 di Amerika mengenai banyaknya daya tampung asrama yang total dapat menampung 23,000 orang !!! (termasuk Fraternity dan Sorority, yang umumnya tidak disebut sebagai “dorm”). Padahal jumlah mahasiswa (student body) Indiana University hanyalah 35,000 orang…

Daya tampung asrama terbesar di Amerika dipunyai oleh Michigan State University yang bisa menampung 35,000 orang dari 48,000 orang mahasiswanya. O ya kampus terbesar di Amerika adalah University of Minnesota di Minneapolis-St.Paul (twin cities) dengan jumlah mahasiswa sebanyak 55,000 orang..

Beberapa hari tinggal di trailer, sekitar tanggal 5 Januari 1987 di suatu sore yang sendu saljupun turun. Kalau sebelumnya saya sudah pernah melihat dan memegang “flurries” (anakan salju), maka sore itu saya keluar trailer sebentar dan merasakan bagaimana sih berada di bawah hujan salju. Sayapun memegang-megang salju yang mirip “biang es” di kulkas itu. Tentu saja dengan sarung tangan kulit, bukan dengan telapak tangan biasa. Wah..bisa kena frost-bite (daging beku/mati karena kedinginan) ntar…

Esok paginya, saya diantar Pak Amin Zarkasi berkeliling kampus. Di mana-mana salju tebal menghalangi jalan. Tebalnya salju di kota Bloomington biasanya sekitar 30 cm, tetapi di kota-kota yang lebih utara daripada Bloomington macam di Iowa atau Wisconsin, tebal salju bisa 50-70 cm..

Sayapun memakai long john alias “celana Hanoman” di balik jeans Levi’s saya. Kaos kaki sayapun cotton tebal, sepatu saya kan high heel jadi cukup hangat. Di luar long john saya memakai sweat shirt, dan di luar sweat shirt saya menggunakan jaket ski yang bisa di-zip sampai leher. Kepala sayapun saya tutupi dengan balaclava berwarna hitam. Tak lupa telapak tangan dikasih sarung tangan kulit yang ada bulunya…

Kami berjalan tertatih-tatih di antara salju yang menggunung, terutama di rerumputan. Karena salju yang di jalan raya pada jam 03.00 pagi tadi sama Dinas PU Kampus sudah diguyur garam sama pasir biar meleleh saljunya plus jalan menjadi agak kasar sehingga aman dilewati mobil..

Akhirnya sampailah kami berdua di depan kampus Indiana tempat jam besar Indiana diletakkan. Konon gedung yang ada lonceng besarnya itu disebut Maxwell House (bisa dilihat di foto Friendster saya). Di dekat Maxwell House ada gedung yang disebut Registrar, yaitu tempat mahasiswa melakukan registrasi ke mata kuliah yang diminati. Dan di sebelah Registrar ada Bursar, yaitu tempat mahasiswa membayar biaya kuliah, bayaran asrama, dan sebagainya.

Pada tanggal 7 Januari 1987, tepat seminggu sebelum kuliah Spring Semester dimulai, saya diantar Pak Amin ke Registrar untuk mendaftar mata kuliah. Sebelumnya di Computer Science Dept yang terletak di Lindley Hall saya berkonsultasi dengan Advisor untuk mendapat masukan mengenai mata kuliah apa saja yang akan saya ambil di Spring Semester 1987 ini..

O ya, dua hari yang lalu saya harus menjalani test bahasa Inggris di Ballentine Hall. Wah..sialan, ternyata testnya mirip TOEFL tapi lebih sulit karena di bagian Listening misalnya, kalau di TOEFL suaranya clear, di sini ada suara orang ngomong di tengah bisingnya pasar dan kita disuruh nebak dia ngomong apa ? Beberapa teman Indonesia yang S1-nya di Amerika macam Andre Purnawan yang dari University of Evansville dan Purwati yang dari UCLA langsung lulus. Maklum mereka kan sudah biasa mendengar orang ngomong di pasar. Sayapun diputuskan harus ngambil mata kuliah English Writing dan English Reading. Wah.. saya dianggap sebagai “buta huruf” bahasa Inggris karena nggak bisa mbaca dan nulis…

Jadi, di Registrar saya mendaftar mata kuliah Spring Semester sbb : English Reading, English Writing, Foundations of Digital Design (semacam Discrete Mathematics), dan Data Structures. Setelah mata kuliah yang saya inginkan didaftarkan di komputer Registrar dan statusnya ok, saya diberi satu slip Class Confirmation untuk dibawa ke Bursar. Sayapun lalu pergi ke Bursar yang terletak di lantai lower ground dan mengantri. Setelah tiba giliran saya, Class Confirmation saya serahkan kepada clerk yang menjaga dan saya bilang, “I am a sponsored student, and my sponsor is Institute of International Education (IIE)”. Dan si clerkpun menjawab, “It’s Ok”. Wah..sebentar saja sudah selesai. No question asked, itulah yang saya sukai tentang Amerika ini…

Ada yang lucu waktu saya tadi mendaftar di Registrar. Waktu duduk menunggu Class Confirmation saya selesai, ada ibu-ibu yang tereak “Mister trai-di-we-jo-no ?”. Dia ngulangi lagi, “Mister dabelyu-e-its-je-oh-en-oh ?”. Saya diam aja, nggak terasa apa-apa. Setelah dipikir-pikir, ternyata Ibu tadi memanggil nama saya. Sayapun lalu berdiri dan bilang, “Yes..mam !!”. Dan sayapun dapat Class Confirmation dari ibu tadi..

Sebelum pulang kembali ke trailer, Pak Amin mengajak saya ke Indiana Bookstore yang menjual semua buku yang bakal dipakai di Spring Semester ini. Sayapun membeli buku yang dipakai di English Reading dan English Writing (sudah ada kodenya, sesuai kode di Class Confirmation), dan juga buku Aho, Hopcroft dan Ullman “Data Structures and Algorithms” dan yang terakhir buku karangan Mitchell Wand, “Recursion, Induction, and Programming”..

Siang itu, saya ditraktir makan sandwich di Indiana Memorial Union yang besarnya audzubillah karena di dalamnya ada restoran, hotel, toko buku, toko baju, tempat bilyar, dan gedung pertemuan, serta pusat kegiatan mahasiswa macam Students’ Union (Dewan Mahasiswa)..

Saya tidak bisa menunggu lagi untuk mengalami kuliah saya yang pertama di Amerika..

O ya, sayapun beli kaset di Indiana Bookstore untuk merekam suara saya yang bercerita tentang suasana Amerika yang akan saya kirim via pos ke isteri saya Susi yang lagi sekolah di Indonesia, dan kedua anak saya Dessa (3 tahun) dan Ditta (1 tahun)..

Tak terasa, salju yang mestinya membuat saya berbahagia ini membuat saya terharu karena “I miss my family so much”..

[Bersambung]

DKNY vs CBDY

Di suatu forum internet yang banyak bertebaran yang berisi penilaian atau komentar mengenai dosen, oleh seorang mahasiswi Binus saya diberi komentar “Tri Djoko nilainya cukup lumayan, tetapi siap-siap saja mendengar cerita tentang berbagai merk sepatu terkenal tepat setelah ia menerangkan tentang metode search Simulated Annealing di mata kuliah AI”

Bagaimana anda menilai penilaian mahasiswi tadi : nada positif, nada negatif, atau nada netral ?

Saya pribadi menilai ada kesan rasa jengkel sedikit dari si mahasiswi walaupun ia sudah diberi nilai “lumayan”. Tapi itu tidak mengherankan. Di tahun 1990 saya masih ingat, di akhir semester saya menyebarkan angket kepada para mahasiswa saya bagaimana pendapatnya tentang cara saya mengajar dsb. Separuh kelas terutama mahasiswa, mengatakan mereka sangat puas mengikuti kelas saya, antara lain karena terhibur dengan banyak cerita saya di sela-sela penjelasan saya tentang suatu topik. Sebaliknya, kebanyakan mahasiswi merasa “terganggu” dengan banyaknya cerita yang saya sampaikan..

Sebenarnya cerita saya di kelas adalah tentang sepatu. Sewaktu saya pergi ke Jerman, di toko-toko “upscale” Munchen di kawasan Marinplatz banyak dijual sepatu keren merk Florsheim, yang konon asli bikinan Jerman karena ada tulisannya “leder warren” (original leather ?). Saya dan teman saya Sudjud Suratri setiap melihat “show case” di toko itu selalu ngiler nggak karuan. Beli sih bisa, tapi masak nanti di Jakarta kita bergelantungan di bis kota dengan sepatu mahal merk Florsheim ?

Waktu saya sekolah di Amerika, di College Mall Bloomington banyak toko-toko upscale macam “Lazarus” yang banyak menjual sepatu-sepatu upscale juga, misalnya yang bermerk Rockport. Sekali lagi, saya cuman bisa ngiler saja dan belum punya duwit atau niat yang kuat buat membelinya. Yang ada hanya berharap besok pagi atau kapan-kapan sepatu Rockport itu didiskon barang 50% dan saya adalah pembeli pertamanya, jadi bisa milih yang bagus…ha..ha..mimpi kan belum dilarang tho ?

Di kawasan Itaewon pusat belanja dan hang-out turis di kota Seoul yang saya kunjungi tujuh tahun lalu, ada sebuah toko exclusive yang menjual sepatu Rockport. Saya nanya pakai bahasa Inggris, dan yang menjagapun dengan bahasa Inggris yang sangat halus dan sopan melayani saya dengan ramah. Sayapun lama memegang-megang sepatu Rockport yang saya taksir. Ternyata harga termurah adalah USD 165 (Rp 1,5 juta). Beli..nggak beli..beli..nggak beli..beli… wah otak saya jadi “hang” kalau nggak ada tokek nih…

Akhirnya saya memutuskan tidak membeli sepatu itu, mengingat saya membayangkan naik mikrolet M11 atau M24 menuju kampus Binus dengan sepatu seharga cetiau lebih bisa disebut “profanitas sejati”..

Di Lotte Mall yang amat sangat mega besar itu, lagi-lagi saya hunting sepatu upscale, dan ternyata hasilnya cukup mengilerkan ini punya mulut. Gila man, di sana ada Kickers yang cool..cool..semua. Di sini ada Rockport..yang macho..macho… Di sebelah seberang ada Florsheim pula..

Akhirnya sayapun menyanyikan lagu dangdut keras-keras “Bingung..bingung..aku bingung…tet..tet..tet..tet..”

[Waktu itu belum ada lagu Agnes Monica “Tiada Logika”, kalau sudah ada, pasti saya nyanyi yang Agmon punya…]

Sayapun mengelus dada dan menyebut nama Tuhan. Ya Tuhan, saya ini kan cuman pegawai negeri sederhana yang secara kebetulan sedang diberi rejeki jalan-jalan ke negeri orang. Ya Tuhan, saya ini kan cuman seorang dosen sederhana, yang gajinya amat sangat minim sehingga cukup untuk masuk ke Indomaret satu kali saja. Berikan kekuatan kepada diriku Ya Tuhan..

Akhirnya, saya beli sepatu, tapi merk lokal Korea yang menurut saya cukup keren juga. Kalau nggak salah, harganya cuman Won 50,000 (Rp 350.000). Not bad lah…

Sayapun mendarat di Jakarta setelah 8 minggu di negeri Ginseng. Di sebuah Mal dekat tempat saya tinggal, sayapun membeli “tiruan” dari Rockport dan Florsheim tapi bikinan Bandung, merknya kalau tidak salah CBDY..

Kalau DKNY anda semua pasti sudah tahu yaitu “Donna Karan of New York”, maka CBDYpun (si-bi-di-wai) pasti anda bisa nebak yaitu “CiBaDuYut”..

Dan sepatu CBDY sayapun masih ngerock (istilah Mas Resi) sampai sekarang, walaupun kulit depannya sudah bocel-bocel..

Nilai UTS Sistem Pakar U. Paramadina

KODE KELAS  : 072IF605
MATA KULIAH : SISTEM PAKAR UNIV. PARAMADINA
RUANG      : A204
UJIAN     : SENIN, 07.00-09.30
DOSEN       : Tri Djoko Wahjono, Ir, MSc

202000016  Mulya Kusumah        85
202000030  Dwi Wartanto         85
202000068  Herwindo Prakoso     90
202000091  Adi Aris Usman       85
203000026  Adhiprakoso          85
203000203  Resky Wiwoho         80
203000245  Ugroseno             90
204000034  Gerald Sammy Supit   75
204000155  Nadia                90
204000175  Rony Widyantoro      90
204000196  Efran Arieza         75
204000238  Ikrar Infantrie Soemaga  75
204000248  Adi Kristianto       75
204000353  Wiza Wardana         90
205000079  Fahani Wahyu K.       90
205000097  Halim Wahab           90
205000104  Ibrahim Ghanie        90
205000107  Ilman Prasetyo        90
205000113  Insan Pratama         80
205000146  Mogi Rayhansa         90
205000156  Nandya Asril Wardhono    95
205000206  Sandy Cahyo Arsanto    90
205000223  Tety Suksmawati       90
205000244  Aditia Wahyu Permana     95
205000267  Hafiz Nuraldin Benjamin  85
205000275  Muhammad Reza Fadrizal   90

Welcome to Indiana

Setelah tahun baruan 1987 di Miami, besoknya saya dan teman-teman pada nyerbu Mall Miami untuk beli baju, celana dan sepatu yang lebih cocok untuk tinggal di daerah yang lebih dingin..

Teman saya ex ALT yaitu Pak Amin Zarkasi yang orang Batan Yogya itu, sudah enam bulan ini tinggal di Bloomington, Indiana. Jadi via surat Pak Amin menyarankan baju macam apa saja yang harus dibawa.

Turun dari Van Ford yang dimiliki EF Miami, sayapun langsung menuju Woolworth suatu toko baju yang kelihatannya paling ramai. Sayapun memborong jaket ski OSSI seharga $ 150, sepatu Adidas biru high-heel seharga $ 75, sarung tangan kulit seharga $ 15, dan syal dari wool seharga $ 10.

Yang belum terbeli tinggal celana jeans, karena tas backpack saya sudah dapat dari EF yang berwarna biru itu. Saya agak sulit mencari celana Levi’s di sini karena nggak tahu ukurannya. Dengan pengalaman di Jerman beberapa tahun sebelumnya, sayapun memperhatikan beberapa anak kecil tanggung sedang memilih-milih celana jeans Levi’s. Sayapun menuju kesana, dan setelah beberapa kali mencoba, sayapun memilih satu jeans dengan harga $ 45. Wah belanjaan saya di Woolworth hari ini sudah melebihi $ 300 nih. Cukup banyak sih, tapi ok..

Sebelumnya saya ingin bercerita mengapa saya memilih melanjutkan studi di Computer Science Dept Indiana University yang menurut Gourman ranking menduduki peringkat ke-37 di Amerika. Karena universitas Ivy League (Harvard, Yale, Princeton, Columbia, Cornell, Brown, Darmouth, Williams & Mary) tidak mungkin saya masuki. Begitu juga beberapa universitas pantai timur, pantai barat dan midwest seperti North Carolina, Duke, Carnegie Mellon, Maryland, U. California Berkeley, Stanford, U. California Los Angeles, U. Southern California, Michigan, Illinois, Purdue – tidak mungkin saya masuki karena persyaratan TOEFL yang di atas 600 dan GRE General Test di atas 2000 dan GRE Computer Science Test di atas 800.

Saya sebenarnya pengin ke Purdue, karena di sana sudah ada teman saya Amril Aman yang ngambil Ph.D in Industrial Engineering. Tapi persyaratan masuk Purdue “sangat gila” akhirnya Indiana adalah pilihan saya. Rankingnya adalah 37 tapi jauh lebih bagus daripada beberapa universitas terkenal lainnya seperti Texas A&M, Missouri-Rolla, dan Louisiana State misalnya.

Dalam suratnya kepada saya, Pak Amin Zarkasi sudah mewanti-wanti agar saya mendarat di Bloomington, Indiana dan bukan di Bloomington, Illinois ataupun Bloomington, Minnesota. Oleh karena itu, saya pesan kepada Angela si cewek staf administrasi EF untuk mencari tiket ke Bloomington, Indiana.

Kami bertiga belas teman-teman Indonesia yang dibiayai oleh Overseas Fellowship Program II, berangkat ke kota tempat universitas masing-masing. Atmaji Wiseso ke Rice – Houston. Rosiwarna Anwar ke U. California-Santa Barbara. Taty Hernaningsih ke Humboldt University California. Rosi Setiaji dan Gono Setiadi ke Texas El Paso. Mimin Karmini ke Colorado State. Herdy dan Supriyanto ke New York Polytechnics, Siswanto Sewojo ke Wisconsin Madison, Fuadi Rasyid ke Ohio State Columbus, Jajang dan Simamora ke George Washington, Simon ke Lehigh, Wahyuntari ke Illinois Urbana-Champaign, dan saya sendiri ke Indiana Bloomington.

Hari berangkat kami berbeda-beda, saya sendiri berangkat dari Miami tanggal 3 Januari 2007 diantarkan dengan Van Ford-nya EF sampai Miami International Airport dan naik Northwest Airlines menuju Chicago. Saya ingat suhu Miami waktu itu sekitar 65 derajat Fahrenheit (16 derajat Celcius).

Penerbangan Miami-Chicago makan waktu sekitar 2 jam. Kamipun mendarat di Chicago O’Hare Airport. Kelihatannya agak sunny hari itu di Chicago. Turun dari Boeing 737 Northwest, kamipun transfer ke pesawat DeHavilland yang muat 9 orang saja.

Sebelumnya di gang airport, saya jalan pelan sambil menenteng jaket ski yang saya beli di Miami. Seorang Bapak yang bepergian dengan isteri dan anaknya ngrasanin saya dari belakang, “Eh lucu sekali orang itu, pakai celana jeans punya anak kecil, bawahnya dilipat pula”..

Saya lalu merasa sangat tersinggung dan segera duduk menunggu keluarga bawel tadi lewat. Rupanya ada rasa bersalah di wajah mereka. Sayapun terus memelototi capitalist pigs gendut itu sampai mereka hilang di tikungan..

Sayapun sekarang sudah di dalam pesawat DeHavilland. Saya nanya ke pilotnya, “Is this plane going to Bloomington, Indiana ?”, tanya saya. “Yep, why asking ?”, tanyanya. “I am afraid it is going to Bloomington, Illinois or Bloomington, Minnesota”, kata saya. “No, you are in correct plane”, jelasnya. Lalu si pilotpun menyelaskan prosedur penyelematan diri jika pesawat kecelakaan sesuai standar FAA yang sering kita lihat..

Rupanya pesawat baling-baling dua ini hanya diisi 8 penumpang, jadi ada 1 bangku kosong. Pesawat inipun mulai menembus mega menuju ke selatan dengan waktu penerbangan 1 jam. Kami banyak menembus awan dan tidak jauh-jauh amat dari tanah. Suara baling-baling pesawatpun terdengar jelas tanda jenis pesawat ini tidak dilengkapi dengan pressurized cabin..

Saya mulai agak tenang karena sudah menulis surat ke Pak Amin yang katanya mau menjemput di airport Bloomington. Pesawatpun mulai terbang agak rendah tanda akan segera mendarat. Pemandangan di bawah penuh dengan rumah-rumah kayu atau rumah gaya dusun Indiana. Sejauh mata memandang tanah berwarna putih tanda salju dan semua pohon daunnya meranggas. Diam-diam bulu kuduk saya berdiri mengingat pemandangan itu adalah pemandangan yang biasa terlihat di film-film horror semacam “Amityville”..

Pesawatpun mendarat dengan mulus di Airport Bloomington, Indiana. A soft landing. Setelah mengambil bagasi sayapun menuju pintu keluar. Rupanya Pak Amin dengan beberapa teman sudah menjemput..

Saya dijemput dengan sedan Honda Civic Long Chassis milik Ari Sidharta Akmam yang lagi pulang ke Indonesia. Yang menyopiri Civic ini adalah Daniel Indro, lulusan Petra yang lagi ngambil Ph.D Finance. Selain Pak Amin yang ngambil Master’s in Physics, ada lagi Pak Suwito lulusan Fisipol UGM yang ngambil Master’s in Public Administration, lalu ada Pak Abdul Kadir yang ngambil Ph.D in Library Information Science.

Kamipun mampir di toko grocery yang cukup besar untuk memborong ayam, daging, bumbu, dan lainnya. Teman-teman mau membayar tapi saya cegah, akhirnya belanjaan $ 32 itu saya yang membayari..

Jarak dari Airport Bloomington ke kampus Indiana University sekitar 7 km. Rupanya Pak Amin tinggal di sebuah trailer, yaitu semacam van yang terdiri dari 1 kamar tidur, kamar mandi, dan kamar tamu yang kursinya bisa diurai menjadi tempat tidur..

Sore itu Pak Amin yang bertindak sebagai tukang masak. Kamipun makan-makan sambil ngobrol, setelah teman-teman yang tadi mengundang juga 2 teman lainnya yaitu Pak Chaedar Alwasilah lulusan IKIP Bandung yang ngambil Master’s in Linguistics dan Pranyoto alumni IKIP Jakarta yang ngambil Master’s in Education..

Obrolan kami semakin lama semakin gayeng. Kosakata pertama yang saya dapat dari teman-teman ini adalah istilah “unfurnished” untuk menyebut cewek yang badannya kurus, dan “furnished” untuk menyebut cewek yang badannya semlohai…

Wah..kayak apartemen saja !

[Bersambung]

Kapan merokok pertama ?

Wah..cerita ini sangat sensitif, yang sebenarnya nggak mau saya ceritakan karena akan banyak orang akan terkejut karenanya !

Saya pertama kali merokok pada saat Taman Kanak-Kanak !

Ceritanya, pada suatu hari Bapak saya menerima tamu dari suami-isteri yang datang dari kampung sekitar Madiun, entah dari Sewulan atau dari Munggut, tempat saudara-saudara Bapak banyak tinggal..

Rupanya tamu satu ini sangat istimewa, selain suaranya keras dan ketawanya ngakak, dari tadi nglepus terus, merokok ! Saya yang masih TK dari tadi mengintip Bapak tamu yang sangat macho itu ! Wah..bagaikan melihat The Marlboro Man !

Rupanya Bapak tadi masih tetap merokok sambung-menyambung. Saya tidak tahu mengapa Bapak saya kerasan tamunya merokok. O ya saya lupa, walaupun Bapak saya tidak merokok tapi kadang-kadang beliau merokok kalau ditawarin sama temannya..

Dari balik gorden kulihat Bapak tamu tadi masih punya satu pak rokok berwarna merah. Lalu tibalah saatnya Bapak dan Ibu tamu tadi mohon pamit. Bapak dan Ibu saya mengantar sampai ke gerbang yang berjarak sekitar 10 meter. Saya lihat rokok berwarna merah masih di atas meja. Saya langsung lari cepat buat “menyelamatkan” itu rokok. Ternyata mereknya “Tokek” dan masih utuh. Cepat saja rokok itu saya taruh di laci lemari buffet yang ada di ruang tengah. Dan sayapun lalu bersembunyi…

Rupanya Bapak tadi sadar bahwa rokoknya ketinggalan. Lalu ia balik ke rumah. Bapak saya nanya, “Wonten punapa Pak ?” (Ada apa pak ?). “Anu, rokok dalem kentun” (Rokok saya ketinggalan). “Lha mangga dipun pirsani” (Lha silahkan dilihat)..

Tentu saja Bapak tadi tidak bisa menemukan rokoknya yang sudah saya sembunyikan di laci. Dengan santai, Bapak tamu tadi pamit lagi untuk kedua kali..

Dan sayapun tereak “Party time !!!!”

Besoknya, ketika Bapak dan Ibu sudah berangkat kerja, dan saya sudah pulang dari sekolah TK yang berjarak sekitar 1 km, saya segera memanggil beberapa teman karib saya seperti Dik Dibyo dan Dik Edy Suprayitno. Dengan bisik-bisik ala anak kecil saya ceritakan bahwa kemarin saya menemukan “harta karun” yaitu satu pak rokok merk Tokek. “Mau nggak ngrasain ?”, tanya saya. Mereka tidak menjawab, tapi dari mata mereka yang berbinar-binar saya tahu merekapun ingin segera merasakan “daun surga” itu..

Kamipun menuju ke pavilyun sebelah rumah, tepatnya ke sebelah pavilyun dimana kandang ayam terletak. Ayam saya si Manis yang lagi bertelur dan mengerami telurnyapun kaget karena ada tamu-tamu kecil “The Little Rascals” pada datang ke tempat pertapaannya. Iapun berkokok keras sekali tanda terkejut..

Rokokpun kami buka, satu orang satu rokok. Korekpun kami ambil dari dapur di sebelah kandang ayam, dan rokokpun kami nyalakan..

Kamipun mengisap rokok untuk pertama kalinya, “Sreeeeep…”

Dan kamipun terbatuk-batuk sambil ketawa-ketawa. Setelah beberapa kali batuk, rokokpun kami matikan apinya dan dibuang jauh-jauh ke tengah ladang jagung di sebelah kandang ayam..

Sisa rokok saya simpan lagi di laci lemari buffet di ruang tengah. Karena kalau siang rumah sepi Bapak Ibu kerja, maka tidak ada seorangpun yang tahu kalau saya barusan merokok.

Sampai hari ini, ketika blog ini saya tulis..

Bagaimana dengan anda ?

Sanitary Engineer

Dulu waktu saya pertama kali masuk ke BPPT di Direktorat Analisa Sistem di tahun 1980, banyak teman se direktorat yang alumni dari Departemen Teknik Penyehatan ITB. Ada sekitar 4 orang mereka itu, yang dengan bangga membuat kartu nama dengan namanya ditulis lengkap, misalnya Ir. bla bla bla, lalu ada garis, dan di bawah garis disebutkan profesinya yaitu “Sanitary Engineer” (insinyur teknik penyehatan)..

Alangkah terkejutnya saya ketika kursus bahasa Inggris di Florida International University Bay Vista Campus – Miami di tahun 1986 akhir. Menurut guru bahasa Inggris saya Roy Luna, “sanitary engineer” adalah sebutan halus untuk Janitor alias petugas kebersihan yang kalau di Indonesia disebut OB (Office Boy, walaupun cewek) seperti judul film seri konyol-konyolan yang diputar oleh RCTI..

Anehnya, salah seorang teman yang alumni Teknik Penyehatan ITB yang ikut di kelas saya tetap senyum-senyum saja. Entah bangga, entah nggak ngerti..

Sejak saat itu, saya selalu memperhatikan gerak-gerik Janitor atau petugas kebersihan yang ada di kampus-kampus Amerika. Mereka biasanya mulai bekerja jam 10 malam membersihkan semua ruangan di dalam kampus sampai pagi. Biasanya sambil nyetel radio keras-keras. Pokoknya super profesional lah..

Terus saya juga amati bagaimana mahasiswa berbicara dan memperlakukan para Janitor itu. Rupanya amat sangat akrab. Seorang “sanitary engineer” yang bertugas membersihkan satu lantai di asrama saya dulu adalah Becky, seorang wanita paruh baya yang selalu pakai baju ala cowboy cewek (he..he..mana ada ?) seperti yang ada di acara Going Country-nya Tantowi Yahya itu..

Dan ketika Becky bekerja, setiap tetangga saya yang orang Amerika selalu menyapa, “Hi Becky, how are you today ?”. Lalu Becky biasanya menjawab, “Not that bad, how’s about you ?”. Lalu mereka biasanya ngobrol barang 2-5 menit di hallway menuju kamar mandi. Obrolannya macam-macam : dari weather sampai basketball..

Rupanya mahasiswa di Indiana tidak hanya ramah terhadap para “sanitary engineer” ini, tetapi juga selalu ramah kepada sesama mahasiswa atau professor. Bila dua orang berpapasan di hallway di tengah kampus, pasti saling tatap pandang lalu bilang “Hi” sambil tersenyum. Saya alami berkali-kali, tidak hanya di lingkungan Computer Science Department, tetapi juga di Physics dan Math Department, di School of Business, di Biology Department, sampai ke “tempat netral” macam Indiana Memorial Union (IMU), yaitu Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) kampus Bloomington yang besarnya sama dengan dari mesjid di sebelah kiri kampus Syahdan sampai di ujung pertigaan Jalan Syahdan itu..

Pokoknya, dua orang atau beberapa orang yang berpapasan di hallway alias gang, pasti mereka saling sapa “Hi”..

Itulah keramahan orang Hoosiers, yaitu orang asli Indiana..

Di tahun 1992-1993 saya berkesempatan bersekolah gratis di Singapore dengan beasiswa dari ASEAN. Sering saya berpapasan dengan mahasiswa lain di hallway. Apa yang terjadi ? Tidak ada sapaan “Hi” atau senyuman barang sedikitpun seperti yang biasa saya alami jika berada di kampus Bloomington…

Alamak ? Mana tu keramahan yang diiklankan di koran-koran ? Itu memang masalah bangsa Singapore, yaitu sulit tersenyum. Dan itu sudah disadari oleh pemerintah Singapore sehingga meluncurkan kampanye yang berjudul “Singapore Courtesy”..

Sepulang dari Amerika, di kantor BPPT pun saya mulai mempraktekkan kedekatan dengan para “sanitary engineer” ini. Begitu juga di Kampus Binus. Rasanya tidak ada “sanitary engineer” yang tidak kenal dengan saya di kampus Binus. Kami biasa mengobrol ibaratnya seorang teman karib.

Alangkah indahnya dunia !

File PDF di Binus

Selain sebagai dosen di Binus saya juga berkarir sebagai peneliti. Belakangan ini saya kebanjiran order meneliti tentang masalah transportasi, salah satu core kemampuan saya. Ada yang mengevaluasi pengurangan emisi transportasi yang dihubungkan dengan global warming yang dibiayai dengan dana luar negeri, ada yang mengevaluasi keselamatan kereta api dengan dana dalam negeri, dan ada yang mengevaluasi teknologi informasi di beberapa perusahaan atas permintaan client…

Banjir order, he ? Cool man  * mode membetulkan dasi kupu-kupu sambil tersenyum on *

Dalam perjalanan saya turne ke beberapa kota di Indonesia alias njajah desa milang kori, saya menemukan bahwa di setiap kota besar sudah berdiri STMIK yang cukup ternama yang barangkali 5-10 tahun kemudian akan berubah menjadi universitas, seperti yang Binus alami dulu..

Brarti, banyak mahasiswa Teknik Informatika atau Sistem Informatika atau Sistem Komputer di luar sana yang sangat haus akan informasi, terutama informasi mengenai topik skripsi, judul skripsi, atau contoh skripsi di bidang komputer..

Masih untung Binus masih mempunyai program “Sarjana + skripsi = Oke”, coba universitas lain yang lebih mapan daripada Binus (you know who I am talking about) sudah lama tidak mengharuskan mahasiswa tingkat akhirnya nulis skripsi. Mereka itu tinggal mbludus, mbrobos keluar pintu tanpa skripsi, sudah bisa jadi Sarjana Komputer.

Di Binus ? Semua mahasiswa-mahasiswi di pantatnya harus sudah dicap “SUDAH MENULIS SKRIPSI” baru bisa diwisuda di Jakarta Convention Center sebagai Sarjana Komputer. Tidak ada pertanyaan, tidak ada tawar-menawar, take it or leave it. Siapa suruh milih Binus ?

Malahan beberapa mahasiswa tingkat akhir mengeluh “Binus lebih kejam dari ibu tiri”

Saya bilang, “Sebodo teuing !!”

Karena Binus punya banyak mahasiswa dari luar kota, dan di Jakarta sudah ada pemeo “ibukota lebih kejam dari ibu tiri” dan mengingat pemeo di atas “Binus lebih kejam dari ibu tiri”, maka bagi mahasiswa yang dari luar kota, memutuskan sekolah di Binus bagaikan mempunyai 2 ibu tiri !!! Ya tho ?

Kembali ke file PDF. Saya banyak menerima e-mail permohonan sangat dari mahasiswa komputer di luar kota (Palembang, Yogya, Pekanbaru) yang memohon “mbok yao, Binus itu menaruh beberapa contoh skripsi terbaik dalam bentuk PDF yang bisa diakses oleh mahasiswa luar kota”..

Setahu saya, sebagai dosen dan mahasiswa, kita bisa melihat file PDF itu. Masalahnya, itu hanya bisa dilihat oleh you and me, and that’s the secret between us…

Tapi, di beberapa posting yang lalu saya menyatakan tentang ranking Binus sebagai universitas swasta No.4 di Indonesia menurut Webometrics. Mengapa kok belum No.1 ? Ya karena belum banyak menyediakan file PDF yang bisa diakses oleh orang luar itu..

Karena saya dosen biasa yang tugas dan wewenangnya hanya “show-and-go” (ngajar, selesai, pulang), maka saya nggak berwenang memerintahkan seseorang untuk menaruh file PDF di website Binus, terutama file skripsi…

Di tahun 2008 ini, saya telah melihat banyak universitas di Amerika yang menaruh “apa saja informasi tentang mereka” dalam file PDF..

Pertanyaannya, apakah “kepintaran” Binus bakal luntur bila beberapa skripsi terbaiknya ditampilkan di website Binus sebagai file PDF ?

Ada pro dan kontra tentang hal ini. Bagi yang pro, sebagian skripsi di-download oleh orang, maka mahasiswa dan dosen pembimbing bisa menulis lagi tentang skripsi yang lebih advance dan state-of-the-art lagi, sehingga Binus tetap di depan !!! (Bukan cuman Yamaha doang !). Sedangkan bagi yang kon, semakin banyak orang men-download skripsi Binus maka “kepakaran” dan “kejeniusan” Binus bakal hilang terserap oleh orang lain…

Biarlah orang lain menjawab pertanyaan ini, yang jelas saya sudah lapar, mau membuat mie rebus dulu….

Gitu aja kok repot !

Previous Older Entries