Dua Em-Es-Ce

Seingat saya, di tahun 1984 Binus masih membuka 2 kampus secara paralel yaitu Kampus Kyai Tapa dan Kampus Syahdan. Kampus Kyai Tapa dipakai kuliah siang, dan Kampus Syahdan dipakai kuliah siang dan malam. Beberapa dosen termasuk saya, sering harus berpindah mengajar di dua kampus tersebut, dan bagi saya paling mudah adalah “nunut” mobil sesama dosen seperti Pak Marsudi, Pak Tri, ataupun Pak Muchsin.

Pada waktu itu kalau tidak salah ada 2 mobil pickup warna putih yang bertuliskan Akademi Tehnik Komputer. Satu yang memegang Pak Hans, dan satunya lagi Pak Berman Ali. Mobil yang dibawa Pak Berman Ali ini yang sering saya nunuti untuk pindah kampus dari Kampus Kyai Tapa ke Kampus Syahdan..

Di kurun waktu 1984-1986 seingat saya Kampus Syahdan hanya mempunyai Gedung L saja. Gedung-gedung lainnya yaitu Gedung M, J, K, dan H belum dibangun..

Sepulang dari Jerman di bulan Agustus 1984, ilmu dan kepercayaan diri saya bertambah. Saya sudah mendapatkan pelatihan mengenai TRANSCOM (Transportation Systems Cost Model) yang menghitung Biaya Life Cycle (biasanya 25 tahun) dari alat transportasi udara (pesawat terbang, helikopter) yang kita beli. Artinya, beli pesawat itu bukan hanya harga pesawat yang kita bayar jreng…dan sudah selesai, tapi harus dihitung hal-hal lainnya..

Kisah mengajar saya di tahun 1984-1986 datar-datar saja, saya hanya mengajar Statistika awalnya namun kemudian juga dibebani mengajar matakuliah FORTRAN Programming dan juga Matematika Diskrit. Untuk kedua mata kuliah yang disebut pertama yaitu Statistika dan FORTRAN Programming saya sudah pernah mendapatkan kuliah tersebut sewaktu di IPB, namun saya belum pernah mendapatkan mata kuliah Matematika Diskrit yang sebenarnya merupakan mata kuliah prerequisite di Computer Science.

Buku textbook Discrete Mathematics adalah yang ditulis oleh 2 orang professor dari UNC (University of North Carolina at Chapel Hill), seingat saya buku-buku itu dibawa oleh Pak Togar Napitupulu MSc yang mendapatkan gelar Master’s in Computer Science dari Iowa State University. Pak Togar ini tetangga rumah saya di Belitung Bogor dulu, jadi saya sudah kenal dekat. Masalah memahami Matematika Diskrit sih tidak terlalu sulit, tapi begitu mengajarnya di Binus jadi sulit. Waktu itu dosen Binus masing-masing bertanggung jawab menyiapkan bahan kuliah, soal ujian, dan sebagainya. Saya ambil saja topik yang mudah-mudah dari buku UNC ini, sedangkan sebagai tambahannya saya pakai bukunya Pak Andi Hakim Nasoetion yang lulusan NCSU (North Carolina State University, yang letaknya kira-kira 15 km dari UNC). Bagi saya tidak menjadi masalah, dan mahasiswa toh bisa mengikuti mata kuliah Matematika Diskrit itu dengan baik..

Nah, sebelum saya berangkat sekolah ke AS, di AMIK Binus habis ada UTS yang oleh orang Binus lebih nyaman diucapkan “Midtest”. Saya membuat soal Matematika Diskrit itu, dan telah mengujikannya ke Mahasiswa. Sampai di ruang dosen, ternyata ada dua orang dosen dengan gelar MSc dari Amerika (tapi bukan Pak Togar) sedang “membahas” soal Midtest Matematika Diskrit yang barusan saja ujikan tadi. Saya menjadi teramat deg-degan…

“Wah, siapa ini yang membuat soal Midtest Matematika Diskrit kok cuman dangkal kayak begini ?”, kata Em-Es-Ce yang satu..

“Iya nih, kok penerapan Matematika Diskrit kok di Logics seperti ini ? Ini nggak ada gunanya, mestinya kan untuk Digital Design ?”, kata Em-Es-Ce yang satu lagi yang mungkin agak ngeh dengan Computer Hardware.. (catatan : Logics ini nantinya banyak dipakai di Artificial Intelligence, sedangkan Digital Design banyak dipakai di Computer Architecture, jadi sebenarnya hanya masalah cara pandang yang berbeda saja, tapi jujur, waktu itu saya tidak bisa membela diri)..

Saya yang lagi mbaca koran semakin membenamkan wajah saya di koran, saking malunya…

Rupanya kedua dosen Em-Es-Ce tadi sangat berapi-api ngritiknya, dan mereka tidak tahu kalau saya yang membuat soalnya. Hal itu semakin memperbesar tekad saya untuk segera berangkat ke Amerika untuk mengambil Master’s in Computer Science..

Akan halnya di BPPT, sejak Pak Billy Joedono digantikan oleh Pak Wardiman Djojonegoro sebagai Direktur Analisa Sistem BPPT, banyak pakar dari Amerika, Jepang, dan Jerman yang datang untuk berdiskusi ke BPPT. Antara lain dari Nomura Research Center, East West Center-Hawaii, dan IABG..

Sepulang dari Jerman di Agustus 1984 saya juga banyak terlibat untuk membuat model simulasi transportasi udara dan laut di Indonesia, berdasarkan skenario tertentu, seperti : transmigrasi, fire fighting, illegal fishing, dan surveillance. Selain BPPT, pihak Indonesia yang terlibat adalah Nurtanio. Singkat kata, studi berjalan lancar dan partner kita dari Nurtanio juga sudah kami ajari bagaimana menghitung Life Cycle Cost Pesawat Terbang dan Helicopter dengan TRANSCOM yang waktu itu softwarenya sudah jalan di komputer HP-3000 milik BPPT..

Di tahun 1985, anak saya bertambah satu yaitu Ditta Ayu Mawardhani. Awalnya saya mengharapkan anak kedua ini lelaki karena anak pertama sudah perempuan. Bentuk kehamilan isteri saya juga lonjong ke depan yang menurut orang-orang itu pertanda bayi laki-laki. USG pada waktu itu belum terlalu biasa digunakan di Indonesia. Akhirnya lahirlah bayi perempuan kami yang kedua di RSPAD Gatot Subroto Jalan Kemiri Jakarta Pusat. Bobotnya 3,9 kg, panjangnya 52 cm, lebih besar dan lebih panjang daripada anak pertama. Ketika melihat bayi perempuan di ruang bayi RSPAD saya sempat kecewa kira-kira 15 detik, tapi melihat bayinya mempunyai muka yang sama dengan kakaknya, sayapun tidak kecewa. Dessa sekarang mempunyai teman, pikirku. Yang sulit adalah mencari nama perempuan, karena saya sudah siap nama lelaki yaitu Dinno (dari Dinno Zoff, kiper legendaris Italia yang memenangkan Piala Dunia 1982). Akhirnya ketemulah nama yang masih dekat-dekat dengan nama kakaknya. Ditta artinya adalah “anugerah yang terindah” (the great gift) mungkin hampir sama artinya dengan Chairunnissa. Ayu sama dengan nama kakaknya, dan Mawardhani adalah sedikit improvisasi dari Mahardhini. Ditta ini lahir waktu mamanya sedang menjalani UAS di Akademi Hukum khusus anggota militer dan kejaksaan..

Dan di akhir Desember 1984 sebelum anak saya Ditta lahir, saya sudah pindah rumah dari Pancoran menuju Kompleks Perumahan Angkatan Darat (KPAD) Cimanggis. Jadi, ngajar ke Binus semakin jauh, sekitar 40 km, tidak bisa naik motor lagi…

Di tahun 1985-1986 kerjasama studi transportasi udara dengan teman-teman Nurtanio semakin intensif dan menjelang Indonesian Air Show di tahun 1986, saya menerima sedikit honor dari studi ini dan langsung saya bayarkan sebagai DP untuk mobil saya yang pertama, Suzuki Carry…

Indonesian Air Show 1986 di Kemayoran cukup seru dan dihadiri oleh Presiden Suharto. Waktu itu Indonesia mau beli satu skuadron pesawat tempur canggih terbaru dan yang sempat melakukan demo di Kemayoran adalah F-16 Fighting Falcon buatan General Dynamics – Amerika Serikat dan Mirage-2000 buatan Aerospatialle dari Perancis. Mirage-2000 punya keunggulan kecepatan puncak tapi lelet di berbagai manuver sedangkan F-16 sangat lincah di berbagai manuver tapi top speed kurang.. dan akhir cerita anda sudah tahu semua yaitu F-16 yang dipilih oleh Indonesia..

Diledek dua Em-Es-Ce tadi membuat saya segera cabut dari Indonesia dan merambah Amerika. Di akhir Oktober 1986, sepuluh hari setelah meninggalnya Ibu saya karena mengidap penyakit lever, akhirnya saya berangkat ke Miami dari Bandara Cengkareng yang masih baru (waktu itu namanya belum Soekarno-Hatta). Dengan naik Garuda tujuan Tokyo, nyambung ANA (All Nippon Airways) tujuan Los Angeles, dan nyambung lagi PanAm tujuan Miami, akhirnya sampailah saya dengan beberapa teman lainnya (Jajang Hasyim, Simon Tandibua – keduanya juga ngajar di Binus; Siswanto Sewojo, Supriyanto, Gono Setiadi, Mimin Karmini, Wahyuntari, Tati Hernaningsih, Herdy, Atmaji Wiseso, Rosiwarna Anwar, Rosi Setiadji, dkk) di Miami International Airport tepat pada malam Halloween, sehingga sopir van yang menjemput saya memakai baju tengkorak !!!

Setelah melalui jalan utama Miami di malam itu yang mirip tol Cawang-Tanjung Priok itu dan melalui perumahan penduduk beratap rendah yang kita kira “rumah BTN”, sampailah kita di dormitory milik Florida International University di Bay Vista Campus yang terletak persis di tepi “laut dalam” (inner sea) Miami itu..

Dua bulan ini kita akan aklimitasi di suhu 65 derajat Fahrenheit yang hangat-hangat sejuk mirip Bandung ini..

Waktu saya berangkat sekolah Dessa umur 3 tahun dan Ditta umur 1 tahun dan isteri saya belum selesai sekolahnya di Akademi Hukum..

[Bersambung]

Anti Quiz : jangan pernah menebak siapa dua Em-Es-Ce itu, karena anda akan menyesal !!

5 Comments (+add yours?)

  1. liswari
    Mar 06, 2008 @ 23:18:48

    Wah weekend kemarin aku ke FIU yang di bay vista itu Oom, wuihhh aku suka banget kampusnya, asri banget dan kesannya luass.. banyak gazebo dan tempat2 yang “pewe” di taman asik bgt buat belajar, Ari tertarik ambil master ke sana sih but i dont know let see kalau kita bisa cari financial aid

    Reply

  2. tridjoko
    Mar 07, 2008 @ 09:31:00

    –> Mbak Lis : Wah..apa kabarnya Miami mbak ?

    Emang mbak, kampus FIU itu kampus yang PW banget buat belajar karena jauh dari mana-mana. Ukuran kampusnya kecil..

    Yang saya ingat, dari perempatan 151st Nort Street dengan Jalan apa itu saya lupa, terus ke arah timur sekitar 2,5 km. Ada bus kampus tapi jalannya hanya 30 menit atau 1 jam sekali, yang menghubungkan dengan kampus FIU satunya di …… (saya lupa nama tempatnya, tapi di tengah-tengah kota Miami, saya pernah ke Perpus kampus itu, tapi yang jelas bukan Coconut Grove yang kesohor itu he..he..he..).

    Kalau kita nggak naik bus, kita harus jalan kaki sekitar 2,5 km di tengah-tengah hutan pinus yang banyak ditulisi “No Trespassing”. Dan ternyata di hutan pinus itu banyak binatang Racoon yang lucu sekaligus menjengkelkan itu karena mereka juga makan makanan manusia seperti burger, dsb..

    Kita tinggal di Dorm FIU Bay Vista yang bentuknya kotak-kotak dan berwarna putih bersih itu. Kalau kita di dalam kamar dan jendela kita buka, kita banyak mendengar orang bicara berbahasa Spanyol. Makanya saya juga tahu apa arti “Olla…Que pasa amigo ?”. “Karamba…!”. “Gracias…!”. “Denada…!”..

    Jadi di sisi satunya kampus FIU Bay Vista itu hutan pinus yang banyak dihuni racoon. Tapi di sisi lainnya pemandangannya sangat indah karena menghadap Laut Dalam Miami yang panjang, yang banyak menarik tokoh-tokoh musik dan sport dunia untuk sering-sering mengunjungi Miami itu…

    Yang lucu, ruang kelas bahasa Inggris saya persis di pinggir laut. Jadi kalau ada dosen ngajar dan dengar suara mesin motorboat, maka mata teman-teman cowok saya langsung melirik keluar…dan sering melihat a bikini-clad beautiful girl sedang main ski !!! Asyik nggak tuh !! Selain itu, kami sering melihat burung Blue Herron yaitu burung bangau yang bulunya biru, sedang memakan ikan…

    Kalau kita keluar kelas dan merasa lapar, maka dari ruang kelas menuju Dining Room ada kolam renang. Karena Miami ini kota wisata, maka kampus Bay Vista banyak dikunjungi oleh mahasiswa2 universitas lain seperti dari University of Tennessee yang warna jaketnya oranje itu. Suatu waktu, cewek-cewek Tennessee sedang berenang dan bercanda ria di kolam renang, kamipun melewatinya dan menjuluki mereka “Tennessee Herron”. Ha..ha..ha.. Hopo Tumon ?

    Tempat parkir FIU juga maha luas dibandingkan dengan jumlah mobil yang setiap hari parkir di sini. Saya sering pinjam mobil teman (yang minjem mobil dari Hertz) untuk belajar nyopir di tempat parkir kampus ini. Muter-muter aja pakai sedan Chevrolet, tapi karena persenelingnya otomatis, jadinya agak susah juga ya…

    Yang terakhir, di ujung kampus FIU Bay Vista ini persis di sebelah Dining Room, ada Theater lho. Kalau nggak salah mainnya setiap weekend. Kami ber-15 pernah nonton suatu drama yang sangat interaktif dengan penonton…rasanya asyik banget gitu !!

    Last but not least, dulu BPPT dibantu IIE (Institute of International Education) dan EF (nama tempat kursus bahasa Inggris) memilih kampus FIU Bay Vista Campus Miami ini karena kampus USCD (University of California at San Diego) penuh…Miami dan San Diego dipilih untuk aklimitasi karena suhunya cukup hangat yaitu sekitar 65 derajat fahrenheit saja..

    Gitu lho mbak ceritanya…

    Mas Ari kalau mau datang ke Miami silahkan. Tapi di Miami ada 2 universitas besar lho, yang satu FIU dan satu lagi University of Miami di Coconut Grove yang terkenal dengan program American Footballnya dan dulu di akhir tahun 1980-an merupakan salah satu “Football Powerhouse” di Amerika..

    Reply

  3. Andreas Fernando
    Jan 04, 2009 @ 10:50:06

    2 dosen yg punya gelar MSc yg dimaksud bapak pasti dosen killer yah?

    Bapak kenal dengan pak Edy Legowo ngak?

    Iya, tentunya bagi mahasiswa yang takut kepada beliau-beliau itu, jarang masuk, dan tidak pernah belajar (kalau-kalau ditanya di depan kelas)… Tapi bagi mahasiswa yang baik-baik saja, beliau-beliau itu tidak termasuk killer…

    Pak Edi Legowo ? Tentu saya kenal, tapi Pak Edi tidak punya gelar MSc. karena setelah lulus dari ITB beliau melanjutkan studi ke Jerman dan dapat gelar Dr.Ing.

    Pak Edi juga bukan salah satu MSc yang saya maksud karena Pak Edi baru menjadi dosen Binus sekitar tahun 1993, sedangkan cerita tentang “2 MSc” ini terjadi sekitar tahun 1986, atau 7 tahun sebelumnya…

    Reply

  4. Andreas Fernando
    Jan 04, 2009 @ 10:52:47

    oh satu lagi pak crita bapak benar2 sangat menarik perhatian saya apalagi penerapan bahasa penulisan bapak yg tdk membosankan untuk dibaca !!

    Terima kasih…. 😉

    Reply

  5. Budiasih Wahyuntari Solichin
    Aug 28, 2014 @ 10:22:11

    Kok masih ingat siiiih…..detail lagi

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: