LSF atau LKF (a.k.a. Diskusi Prambors pagi ini)

Sebenarnya saya agak segan dan malu mengakui, bahwa setiap pagi saya selalu mendengarkan acara PUTUSS di Radio Prambors yang penyiarnya 2 orang “gila” yaitu Ari Daging dan Desta (Deddy Mahendra Desta), dengan jam siar 06.00-10.00 tapi sebulan terakhir menjadi 07.00-11.00 di 102.2 FM itu…

Tidak itu saja, saya sudah mendengarkan PUTUSS tanpa terputus selama 5 tahun penuh !! Ringbacktone hape anak sulung sayapun adalah lagu PUTUSS yang tidak dapat diputus jadi harus bayar terussss (kaya lo jadinya Prambors !!)..

Alasan saya tidak malu lagi mengakui bahwa saya selalu mengikuti acara PUTUSS adalah karena saya baca sebuah buku tentang Blog yang ditulis oleh seorang anak muda dari Bogor (saya lupa judul buku dan nama pengarangnya), yang di dalam kata pengantarnya mengucapkan terima kasih kepada PUTUSS yang telah menemani selama ia mengetik menyusun buku tersebut. Hopo tumon ?

Selain PUTUSS, acara Prambors yang selalu saya dengerin adalah siaran sore oleh Darto dan Ocky. Imam Darto kebetulan adalah Sarjana Komputer lulusan SI Binus tahun 2007 kemarin…

Dengan mendengarkan Ari Daging, Desta, Darto, dan Ocky, maka saya juga ikutan “gila” dan kalau beberapa joke yang saya bisa tangkap dan ceritakan kembali di depan kelas di Binus pasti membuat mahasiswa terpingkal-pingkal. Minimal untuk kelas siang bisa dijadikan….Tombo Ngantuk !!

Nah, pagi ini yang dibahas adalah apakah Indonesia sebaiknya tetap mempertahankan LSF (Lembaga Sensor Film) ataukah mengubahnya menjadi LKF (Lembaga Klasifikasi Film)..

Banyak aktivis dari MFI (Masyarakat Film Indonesia) yang telah berjuang untuk terbentuknya LKF, dan beberapa hearing telah dibuka di depan MK (Mahkamah Konstitusi)..

Sejak SMP saya sudah aktif nonton film di bioskop di kota kecil saya, Madiun. Gunting sensor LSF memang kadang-kadang memotong habis hampir semua adegan, sehingga film 17 tahun ke atas serasa menjadi film 13 tahun ke atas, saking “tidak ada apa-apanya”. Tidak hanya film, tapi VCD original yang beredar di Indonesia tidak luput dari gunting sensor LSF sehingga nonton VCD original di Indonesia akan kehilangan banyak “adegan menarik”. Contohnya, film “Basic Instinct” yang saya tonton di Singapore tahun 1992 dahulu amat sangat jauh berbeda dengan VCD “Basic Instinct” versi yang beredar di Indonesia. Dan bedanya sekitar 20% !!! No kidding !!!  Alamak !!!!

Saya pribadi lebih suka jika LSF Indonesia diganti dengan LKF yaitu Lembaga Klasifikasi Film yang tugasnya tidak menyensor tapi mengklasifikasikan film-film yang beredar di Indonesia sesuai dengan usia penonton yang bakal nonton film-film tersebut yaitu : AA (All Ages) semua umur tanpa didampingi orangtua, misalnya film-film kartun semacam “Finding Nemo”. PG (Parental Guide) semua umur tapi harus didampingi orangtua, misalnya film kartun “Picahontas”. PG-13 (Parental Guide at least 13 years of age) minimal 13 tahun dan harus didampingi orangtua misalnya film-film horor semacam “Amytiville” atau “the Exorcist” atau “Rambo : First Blood”. R/A (Restricted Artistic) untuk film yang mempertontonkan aurat dari depan, misalnya film “Zandale”, “Basic Instinct”, “Misterious Tibet”. Yang terakhir film-film porno dari X (soft porn) untuk tampak aurat depan tanpa explicit genital, XX (soft-to-hard core porn) dan XXX (hard core porn).

Di Amerika Serikat dan Singapore yang menurut saya masyarakatnya adalah “masyarakat bebas yang konservatif” hanya di gedung-gedung bioskop tertentu bisa nonton film-film R/A, atau X-rated. Itupun secara ketat diawasi oleh Pemda tentang persyaratan penontonnya..

Yang saya tidak setuju adalah adanya anggapan di antara anggota MFI (bila ternyata ada), yaitu dengan diubahnya LSF menjadi LKF akan serta merta menaikkan jumlah penonton FILM INDONESIA ! That’s nonsense, karena orang hanya nonton film Indonesia yang bermutu. Jika insan film membuat film-film bermutu yang menurut versi saya adalah film-film yang ditangani Riri Reza dan Mira Lesmana semacam “AADC”, “Garasi” dan sebagainya, maka pasti penonton akan datang berbondong-bondong ke gedung bioskop…

Secara umum film Indonesia masih menderita bad script, bad scenario, bad casting, bad wardrobe, too dramatic, too good to be true, dan too shallow !!! Sorry man saya harus mengatakan ini…

Pada waktunya jika film-film Indonesia sudah digarap dengan serius, apalagi dengan diubahnya LSF menjadi LKF, maka penonton film akan berbondong-bondong ke bioskop atau beli VCD originalnya…

Tapi tidak sampai perlu memperhatikan saran “gila” dari Ari Daging dan Desta tentang adanya klasifikasi film PG-30, PG-50, dan PG-60 !! Wah, saya tersinggung nih, emang umur gua udah 50 tahun masak mau nonton aja perlu diikuti orangtua gua yang notabene sudah di alam baka sana yang damai sejahtera abadi selamanya ??

Yang bener aja loh !!

5 Comments (+add yours?)

  1. Agung
    Mar 12, 2008 @ 18:24:17

    HAHAHAAHAHA…!!!
    saya juga dengar tuh Pak siarannya tadi pagi.
    hehehehehe..!!
    yah,saya mah nonton film yang penting cerita,nilai2 dan artisnya.
    bodo amat kalo mao sensornya semana juga.
    yang penting dapet jalan cerita dan nilai2nya.
    hehehehe..!!

    Reply

  2. tridjoko
    Mar 13, 2008 @ 15:32:33

    –> Apa Gung, cerita ? Beberapa kategori film nggak ada ceritanya dan langsung ke ……… wah !!!

    Reply

  3. Agung
    Mar 13, 2008 @ 18:44:18

    oooo..!!
    yg itu mksd Bapak…!!!
    hahahahahahahahahahahaha…!!!
    yah,itu juga kan cerita Pak.
    kan ada alur dan setting.
    juga ekspresi dan lain2.
    hahahahahahaha..!!

    Reply

  4. andrew
    Sep 22, 2008 @ 15:24:49

    tombo ngantuk!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Reply

  5. andrew
    Sep 22, 2008 @ 15:26:05

    ngantuk!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: