Sejarah Binus : Miami yang sunyi

Seperti saya ceritakan di beberapa posting sebelumnya, saya meninggalkan Binus dan mohon izin untuk melanjutkan studi pascasarjana di bidang Ilmu Komputer di Amerika Serikat di akhir bulan Oktober 1986.

Persis di malam Halloween 1986 saya dan keduabelas teman lainnya dari BPPT dan LIPI tiba di Miami. Tak heran di Miami International Airport banyak orang yang menjemput tamu atau keluarganya dengan masih mengenakan kostum Halloween karena kita datang jam 12.30 malam. Ada yang berbaju tengkorak, ada yang berbaju pocong, dan sebagainya..

Dengan van merk Ford kami bertigabelas diantar menyusuri kota Miami yang “sudah tidur” di malam itu. Miami mempunyai jalan di atas tanah seperti tol Wiyoto Wiyono Cawang-Tanjung Priok. Kami masih sempat ngintip keluar jendela karena inilah kota pertama di Amerika Serikat yang kami datangi. Rumah-rumahnya banyak yang kecil-kecil beratap pendek seperti “rumah BTN” di Indonesia, kata beberapa teman. Hampir kebanyakan terbuat dari kayu beratap genteng keramik mirip sirap…

Sampailah kami di bagian utara kota Miami, tepatnya 151 blok di sebelah utara pusat kota Miami, makanya nama jalan yang kami lalui adalah 151st North Street. Di perempatan kami belok kanan dan menyusuri hutan pinus sekitar 2 km, maka sampailah kita di kampus Florida International University yang serba putih itu. Suasananya sepi sekali, bahkan pertugas jaga di dorm FIU Bay Vista campus sudah tidur. Sopir Van dari EF Miami yang menjemput kita tadi lalu menghubungi seorang cewek bule berbadan kecil, Angela, yang kelihatan kecapaian mungkin habis berpesta Halloween. Angelapun lalu menempatkan kita ke beberapa kamar. Satu pintu terdiri dari 2 kamar dan 1 living room dengan share bathroom. Setiap kamar ada 2 tempat tidur bersih dengan spreinya yang putih. Lemari pakaiannya model Amerika berwarna putih pula, dan “tertanam” di dinding. Kamar mandinya not bad dengan air panas, tapi wow…banyak kecoa juga di Miami ini, dan anak cucunya berkeliaran dengan bebas kesana kemari di kamar mandi (kepada anak saya Ditta : don’t ever come to Miami, I am TELLING YOU !!)..

Saya sekamar dengan Fuadi Rasyid (kemudian pernah menjadi pejabat penting istana kepresidenan di jaman Presiden B.J. Habibie). Fuadi ini kakak kelas saya di IPB cuman beda jurusan. Orangnya bersihan dan rapi, sebentar-sebentar sprei tempat tidur dirapiin. Saya tidak mau kalah ngerapiin sprei. Makanya kamar kita tidak kalah dengan kamar hotel bintang 4 di Indonesia, saking rapinya !!!

Di kamar lainnya, tinggal Atmaji Wiseso, anak alumni Elektro ITB terpandai yang pernah dilahirkan, dan pemenang ITB Jubelium Prize. Ia mendapat MSc dari Eindhoven Institute of Technology dengan sponsor Philips beberapa tahun yang lalu. Sekarang ia mau ngambil Ph.D in Electrical Engineering di Rice University, Houston (sekolah yang cukup sulit untuk dimasuki, coba saja !). Atmaji ini ketika itu kerja di LEN LIPI Bandung. Teman sekamar Atmaji adalah Supriyanto (pernah menjadi Direktur Pengawasan Otorita Batam), ia alumni Teknik Sipil ITB yang rumahnya di Depok, karena satu jemputan BPPT dengan saya, saya sudah kenal dekat dengan bapak ini. Bentuk badannya yang bulat dan kacamatanya yang tebal, adalah cirinya. Konon Atmaji ini nilai TOEFLnya adalah 667 alias sudah mentok ! Sedangkan Supriyanto adalah pembuat sejarah di BPPT karena dari TOEFL 400 ia bisa mencapai TOEFL 550 hanya dalam waktu 6 bulan.. O ya, Supriyanto ini mau ngambil Master in Civil Engineering dari New York Polytechnics..

Setiap pagi kami mandi lalu bersama-sama bertigabelas menuju tempat kursus kita yang berjarak sekitar 300 meter. O ya kamar kita semua di lantai 3 dan 2 dari dorm FIU Bay Vista Campus. Untuk menuju tempat kursus kita harus melewati hutan pinus yang lebat, dan laut dalam Miami yang biru. Setelah melewati Perpustakaan dan Toko Buku, sampailah kita di ruang kelas EF Miami, tempat kita akan tinggal di sini selama 8 minggu…

Suhu Miami mirip Puncak, yaitu sekitar 65 derajat Fahrenheit (16 derajat Celcius) di bulan Nopember-Desember. Direktur EF Miami waktu itu adalah Sue Ellen Cozzarelli, yang namanya mirip dengan tokoh film seri yang sedang diputar di TVRI (Bonanza ? atau Charlie Angels ? Saya lupa deh).

Guru pertama kita adalah seorang nenek bule yang saya lupa namanya. Kalau dia bertanya dan kita bercanda, si nenek ini suka marah-marah. Cara mengajarnya juga sama dengan cara ngajarin kita belajar bahasa Inggris di Indonesia yang membosankan itu. Karena itu teman-teman bosen dan menghadap Sue untuk dapat guru pengganti (wah…niru anak2 Binus ya…)..

Akhirnya kita dapat ganti guru bahasa Inggris bernama Roy Luna. Ia adalah Ph.D student yang tinggal nulis disertasi di jurusan Sastra Perancis, Princeton University (wow…universitas Ivy League !!! universitas tempat Albert Einstein ngajar !!). Kami semua senang Roy dan minta agar ia mengajar kita 2 bulan penuh. Kami pernah diajak pesta ke rumah Roy wah rumahnya bentuk town house dan rupanya ia punya kalau nggak salah 5 saudara perempuan yang semuanya pintar-pintar. Ada yang lulusan Civil Engineering MIT yang kerjanya di perusahaan minyak di Alaska. Dua minggu sekali ia “mudik” ke Eropa. Wah !!

Kita kursus bahasa Inggris dari jam 8.00 sampai 15.00 diselang seling dengan cari pustaka di perpustakaan yang arsitekturnya mirip Gedung Serbaguna ITB tapi besarnya 4 kali lipat itu..

O ya program EF memang benar-benar belajar sambil having fun ! Setiap Senin pagi kita dikasih brosur jadwal rekreasi minggu itu, misalnya ke Flea Market hari ini jam sekian, ke Miami Beach, nonton 99-Cent Movie, keliling Miami by night, ke Art Copo Deco Disco, melihat Miami ArtFountainbelau (lupa nulisnya, kayaknya niru yang di Paris ya ?)..dsb..

Pokoknya full fun lah !

Miami khususnya dan Florida umumnya di Amerika Serikat adalah tempat untuk orang-orang sepuh pensiunan. Makanya di sini banyak Elders Society alias perkumpulan para pinisepuh yang sudah pangsiun dari pekerjaannya…

Tapi Miami juga kota turis paling terkenal di dunia sejajar dengan Pantai Marseilles di Perancis atau Pantai Riviera di Mediteran Italia. Makanya amat banyak turis. Dan semuanya pakai baju renang. Makanya Miami bisa disamakan dengan bikini !! Semua orang tua, muda pakai bikini. Jangan heran jika melihat nenek sepuh umur 70 tahun pakai bikini jalan-jalan ke Flea Market. Mungkin film “Golden Girls” yang dulu populer itu dibuat di Miami…

Tapi Miami juga kota sunyi sepi, apalagi di waktu malam…

Untuk sementara, saya bisa melupakan Binus dan para mahasiswanya….

[Bersambung]

7 Comments (+add yours?)

  1. Agung
    Mar 15, 2008 @ 22:10:42

    Fountainebleau Pak.
    artinya air terjun kan yah?
    hehehehe..!!
    di sana “les” di EF juga toh?!?!!
    hebad pisan euy.
    hehehehe..!!

    Reply

  2. edratna
    Mar 18, 2008 @ 11:03:26

    O, iya Lis juga tinggal bersama grandma (orang Puerto Rico)….baik sekali seperti orang Indonesia, saling bertukar masakan.

    Reply

  3. tridjoko
    Mar 18, 2008 @ 12:56:46

    –> Bu Edratna : wah..asyik dong, masakan Mexico enak-enak dan pedas-pedas lho ! Tapi kesukaan saya Burito dengan Chicken Fajita…

    –> Agung : iya bener Fountainebleau..pokoknya niru yang ada di Paris atau dimana gitu lho… Kantor kami dulu milih EF sebagai kursus bahasa Inggris karena selain belajar bahasa Inggris juga diajak kesana kemari tidak bayar karena disediakan mobilnya (didrop di suatu tempat, dan dijemput 2 jam kemudian). Pokoknya asyik banget karena full acara dan kita tinggal ngikutin acara-acara tersebut. Asyiknya lagi ketemu dengan orang dari berbagai negara dari Swedia sampai Belanda, dari Puerto Rico sampai Haiti…

    Reply

  4. Agung
    Mar 18, 2008 @ 20:10:23

    iyah.
    emank enak les di EF.
    yg di indo aja enak apa lg di amrik.
    hehehehe..!!
    apa lagi kmrn ini saya dapet guru pengganti yg msh muda.
    br 23thn,dari Canada.
    hahahahahahahahahahahaha…!!!!

    Reply

  5. tridjoko
    Mar 19, 2008 @ 09:02:08

    –> Agung : kenapa nggak consider homestay EF di Canada atau Australia barang 2 minggu – 1 bulan ? Kabarnya murah lho. Malah di EF sana bisa jalan-jalan karena kemana-mana diantar mobil. Tinggal uang sangu aja yang dibanyakin…

    Reply

  6. Agung
    Mar 19, 2008 @ 18:32:34

    wew..!!
    mahal juga Pak.
    kalo ga salah sekitar US$2000an.
    saya pernah ditawarin,tp yah…..
    hehehehe..!!
    mending saya kumpulin buat S2 nti.
    lumayan US$2000,bisa beli tiket pul pergi,tes GMAT,ama bayar VISA kuliah.
    hehehehehehehehehe….!!!

    Reply

  7. tridjoko
    Mar 20, 2008 @ 19:59:45

    –> Agung : Wah..wise juga pemikirannya tuh !

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: