Tahun Baruan Pertama di Amerika

[Sebenarnya saya ingin judul ini ada preceding title “Sejarah Binus :”, tapi setelah saya pikir-pikir kurang bijaksana menambahkan preceding title seperti itu sebab saya sulit untuk meng-claim saya yang paling ngerti tentang Sejarah Binus dan hanya mengetahui secuil informasi saja dari sudut pandang saya sendiri. Oleh karena itu, sejak posting ini preceding title tersebut akan saya hapus..]..

Kira-kira dua minggu sebelum kami ber-13 berangkat ke AS pada akhir Oktober 1986, kami baru tahu bahwa kota aklimitasi yang kita pilih adalah EF Miami dan akan tinggal di dormitory punya Florida International University di Bay Vista Campus. Sebelumnya, calon kuatnya adalah EF San Diego dan kita akan tinggal selama 2 bulan untuk aklimitasi di dormitory kepunyaan University of California at San Diego (UCSD). Ternyata last minute IIE (administrator atau kontraktor yang mengurusi education kita di AS) mengabarkan bahwa EF Miami yang paling siap..

Kitapun berdiskusi santai dengan Pak Norman Goodman, orang Amerika yang bertindak sebagai liasion officer IIE di Jakarta. “Bagaimana sih situasi dan kondisi Miami pak ?”. Yang digambarkan kepada kita waktu itu tentang Miami adalah yang seram-seram saja seolah mereka lupa bahwa yang kita harapkan adalah berita yang baik-baik..

Kira-kira beginilah yang digambarkan tentang Miami pada waktu itu, “Miami adalah kota di sebelah selatan negara bagian Florida jadi merupakan kota terbesar di sebelah tenggara Amerika Serikat. Penduduknya hampir separuh berkomunikasi dengan bahasa Spanyol (AS adalah sebuah “bilingual country” dengan bahasa resmi Inggris dan Spanyol) karena merupakan orang-orang Hispanic (keturunan Spanyol). Kebanyakan mereka datang dari Cuba di tahun 1962-1963 setelah kejadian “Bay of Pigs” yaitu hampir meletusnya Perang Dunia III antara USA dan USSR sewaktu pemerintahan John F. Kennedy. Miami menduduki peringkat ke-2 di AS dalam hal crime rate setelah Detroit, tapi hampir semuanya adalah drug-related crime. Bla..bla..bla…”

Kami semua bertiga belas yang menghadiri briefing itu serentak terdiam. Yang terdengar hanya tarikan nafas kita masing-masing. Otak ini dipenuhi pertanyaan, bisakah kita survive tinggal 2 bulan di Miami dengan segala “keseraman” yang digambarkan oleh pemberi briefing kita ini ?

[Saya tidak tahu, si pemberi briefing mengatakan ini apa karena saat itu di AS sedang diputar film seri “Miami Vice” di stasiun TV NBC, sehingga yang diceritakan kepada kita seolah kok cuman “copy cat” saja dari “Miami Vice” yang dibintangi oleh Don Johnson mantan suaminya Melanie Griffith sebagai polisi yang kesana kemari pakai sedan Ferrari Testarosa warna merah ngejreng itu..]

Setelah datang ke Miami, gambaran seram itu sebagian masih terlihat, yaitu sewaktu pada suatu hari kami berempat ingin membeli “majalah dewasa”. Ternyata majalah jenis ini di Miami sulit ditemukan, tidak seperti di Eropa dimana setiap stasiun KA atau bandara sekalipun penuh dengan toko yang menjual majalah seperti itu. Setelah kita cari dengan susah payah, kita ketemu sebuah toko kecil dengan penampilan agak seram, dan begitu masuk penampilan penjualnya lebih seram lagi yaitu wajah khas Latino dengan kumis besar dan beberapa codet di mukanya. Alamak !!! Kami ketakutan, dan segera meninggalkan tempat itu tanpa beli apa-apa. Tattuuuuttt…

Tetapi setelah di FIU Bay Vista bookstore saya beli 2 buku paperback yang pertama adalah “Lee Iacocca : An Autobiography” dan yang kedua adalah “John Lennon : An Autobiography”, maka gambaran kita tentang Miami agak tenang, malah cenderung mengagumi kota sepi yang sebagian besar gedungnya berarsitektur Art Deco warna putih gemilang ini. Mengapa ? Karena ternyata John Lennon di buku tersebut sangat cinta kepada Miami dan foto-foto di bukunya itu banyak terdapat foto semasa John Lennon sedang berlibur ke Miami, entah sendirian atau dengan isterinya, Yoko Onno. Beberapa bulan setelah beli buku Lee Iacocca yang pernah menjadi CEO Chrysler itu saya juga memperhatikan bahwa Iacocca banyak muncul selintas di film seri Miami Vice…

Hey..hey…semakin dicinta Miami semakin cool…

Sudah dua bulan kami tinggal di Miami dan tibalah Hari Natal atau “Holiday Seasons” in general. Kampus FIU sudah libur mulai pertengahan Desember, tapi EF tetap buka seperti biasa karena mereka punya banyak siswa-siswi mancanegara dari Jepang, Perancis, Belanda, Haiti, Swedia, Italia, dan sebagainya. Mereka itu biasanya belajar bahasa Inggris sekalian berlibur dengan cara murah. EF-lah tempatnya..

Sehari sebelum hari Natal, seorang guide dari EF membagikan kita kertas yang berisi lagu-lagu Natal atau yang biasa disebut Christmas Carrol. Kamipun diminta secara volunteer menyanyikannya. Jadi kami orang Indonesia ber-13 dan beberapa siswa mancanegara lainnya. Padahal di antara kami ber-13 hanya Jefferson Simamora yang orang Batak dan Simon Tandibua yang orang Toraja yang beragama Kristen, sedangkan 11 sisanya beragama muslim. Tapi niat kita hanya belajar bahasa Inggris, maka meluncurkan dari mulut kami, “Santa Claus is coming to tooowwwwwwnnn…..” ha..ha..ha..

Pada saat makan siang si guide (biasanya mahasiswa FIU yang ngambil kerjaan part time di EF) yang bertubuh subur dan ternyata beragama Yahudi itu (sayang saya lupa namanya, tapi sebut saja Steve) makan satu meja dengan saya yang beragama Muslim dan Jefferson Simamora yang beragama Kristen. Kami bertiga berdiskusi apa kesamaan dan perbedaan antara ketiga agama yang kita anut. Dari saat itu saya baru tahu, kalau orang Yahudi juga tidak makan daging babi (pork) seperti halnya orang Muslim, tapi mereka lebih ketat lagi dalam hal makanan. Misalnya, kata Steve, mereka tidak makan telur dan susu yang keduanya berwarna putih secara bersamaan. Tapi dari situ saya juga jadi agak tahu, kalau di dorm universitas di Amerika hanya sedikit terdapat pork karena besarnya jumlah mahasiswa Yahudi. Hanya ada beberapa makanan seperti bacon (daging asap) dan corn dog (semacam drumstick di Hoka Hoka Bento) yang mengandung pork. Sisanya, kalaupun ada, akan diumumkan dengan jelas dan terang bahwa makanan itu mengandung pork…

Selepas Hari Natal, kamipun menghadapi Tahun Baru 2007. Hanya teman kita Wahyuntari yang memenuhi undangan tahuan baruan di tempat guru bahasa Inggris kita Roy Luna yang beberapa hari sebelumnya mengundang kita dengan segenap kehebohannya ke rumahnya untuk berpesta dengan keenam saudara perempuannya yang kesemuanya sekolahnya hebat-hebat : Princeton, MIT, University of Miami…. Wow ! Tapi kami sisanya memutuskan untuk melihat pawai tahun baru di Miami yang disebut “Orange Bowl Parade” yang konon katanya merupakan parade tahun baru kedua termegah setelah “Rose Bowl Parade” di Pasadena, California..

Ceritanya acara sport paling populer di musim gugur di Amerika adalah Football (bukan Soccer). Dari 450 universitas besar di Amerika, mereka itu dibagi ke dalam beberapa kelompok yang disebut “conference” yang terdiri dari 8-12 universitas yang sama bagusnya dan sama ukuran universitasnya. Nah, di akhir tahun akan terdapat Top 25 ranking Football menurut AP, Sagarin Ranking, dan USA Today ranking. Bagi yang ngetop di akhir season, mereka akan diundang bertanding ke sekitar 18 bowl yang ada pada waktu itu..

Yang paling seru adalah “Orange Bowl” yang kalau nggak salah mempertemukan antara Oklahoma dan Nebraska pada waktu itu (sorry if I am wrong). Nah, malam tahun barunya jalanan Miami sudah dipenuhi dengan peserta pawai, ada drumband, cheer leader, mobil-mobil float. Musiknya berbagai warna berdentum keras, dari disko, reggae, sampai jazz dan dixie. Anehnya, cewek-cewek Amerika yang berdiri di depan saya selalu menari dengan spontan begitu mendengar musik yang beatnya bagus.. Termasuk cewek kecil-kecil yang diajak bapak dan ibunya untuk nonton pawai itu…

Selepas nonton “Orange Bowl Carnaval” kamipun ber-12 pulang naik bis kota yang khusus malam itu jalan sampai jam 2.00 pagi. Bayangkan naik bis sepanjang 151 blok kayak apa rasanya mungkin sejauh Kampung Rambutan ke Tanjung Priok. Itupun setelah kami turun di North 151st Street, kami harus jalan kaki menembus hutan pinus sepanjang 2 km yang serasa 20 km di malam Tahun Baru 2007 untuk menuju kamar kita masing-masing di FIU Bay Vista Campus…

Kamipun tidur dengan nyenyak. Besoknya tanggal 1 Januari 1987 sore hari, stadion Miami yang disebut “Orange Bowl”pun dipenuhi penonton dan disiarkan secara nasional melalui TV ABC untuk menjawab pertanyaan sebagian besar penduduk Amerika, yaitu mana yang paling hebat Football-nya se Amerika : Oklahoma atau Nebraska ???

Sayapun tidak bisa menjawabnya, karena tidur kecapekan….zzzz….zzzz….zzzz…..

[Bersambung]

7 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Mar 18, 2008 @ 10:59:51

    Sampai sekarang katanya Miami masih sepi…penuh wisatawan daerah tertentu saja…..tapi lebih menarik dibanding Iowa (yang dikenal sebagai kota Jagung, dimana-mana kebon Jagung)

    Reply

  2. tridjoko
    Mar 18, 2008 @ 12:51:45

    –> Ya memang Miami itu kota turis kayak Yogyakarta atau Anyer. Kalau lagi musim turis (Spring Break di Spring semester, dan Thankgiving di Fall semester) memang rame banget, hotel-hotel penuh. Tapi kalau bukan musim turis, ya banyak hotel dan penginapan pada kosong melompong..
    Dibandingkan Iowa dan Illinois yang kelopak jagung merekahpun bisa terdengar karena dimana-mana ladang jagung, ya Miami tergolong “kota” lah…

    Reply

  3. lukas
    Mar 19, 2008 @ 18:18:04

    amerika boo

    Reply

  4. tridjoko
    Mar 20, 2008 @ 19:58:07

    –> Lukas : Iya boo…

    Reply

  5. bethAwesome..
    Mar 21, 2008 @ 20:32:39

    waah enak bgt tuh ke miami..hehe
    jadi pengen..
    kapan ya??
    hehe

    Reply

  6. tridjoko
    Mar 24, 2008 @ 08:54:00

    –> Betha : yah…semuanya dimulai dari mimpi..jika anda bermimpi pengin ke Miami pasti pada suatu hari someway somehow anda akan sampai ke Miami…

    Tidak percaya ?

    Silahkan berdoa kepada yang di atas semoga pada suatu hari anda akan pergi ke Miami..

    Konon dengan USD 2000 (Rp 19 juta) anda bisa tinggal 1 bulan kursus bahasa Inggris di Miami sambil jalan-jalan. Itu kata seorang teman lho. Bisa dicek ke kantor kursus bahasa Inggris EF terdekat ke tempat anda…(atau cek di internet)..

    Reply

  7. Bachtiar Simamora
    Jan 10, 2013 @ 04:59:47

    Dear pak Tri, saya baru lihat ada tulisan sdbagian cerita perjuangan awal kita ke USA untuk tugas belajar hampir 27 tahun yl. Saya senang sekali membacanya, jadi teri gat dengan jelas semua waktu kita “diasramakan” tapi menyenangkan.. Terima kasih pak Joko, tapi nama saya adalah Bachtiar Simamora, he he heee…

    Kang Bachtiar,
    Iyaaa…cerita yang sering saya ingat…
    Sebenarnya ada foto-fotonya lho….tapi mungkin ada di Facebook saya, belum dipindah ke Blog saya ini…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: