Hopo tumon..blogku banyak yang nonton

Awal membuat Blog saya ini karena iseng-iseng saja. Mau membuat Blog yang berbicara serius dan berbusa-busa, rasanya sudah amat terlalu sangat banyak Blog semacam itu yang ada di dunia maya. Blog yang membuat kening berkerut, kepala digaruk, mata dipicingkan, dan mulut dicibirkan !

Makanya “demi amannya” Blog ini saya khususkan membahas hal yang amat sangat ringan, tidak seringan kapas memang, tapi yah..cukup ringan, yaitu tentang “makanan” !!!

Mumpung orang-orang lagi kesengsem ama acara Kulinernya Pak Bondan Winarno (yang wajahnya konon mirip saya) bersama putrinya Gwendolin (yang konon wajahnya mirip anak saya), walaupun akhir-akhir ini sudah banyak diganti dan diselingi dengan Benu Belo yang item itu..he..he..

Ternyata iseng-iseng jadi keterusan, banyak rupanya yang nonton Blogku ini. “Banyak” memang mengandung pengertian yang sangat “fuzzy” karena sebagai orang Jawa “banyak” itu bisa berarti tiga, lima, sembilan atau lima belas..

Jadi, thanks God, alhamdulillah, as of hari ini pengunjung Blogku sudah mendekati 14,000 !

Hopo tumon ! Blog iseng-iseng kok pengunjungnya ada. Banyak lagi ! Apalagi ya kalau saya punya Blog yang membahas Current Affairs, Sepakbola, Politik ataupun Agama !!!

[ Don’t take it seriously, punya Blog satu aja hampir-hampir nggak kuat ngerawatnya, terutama dalam hal ragat (ongkos)..ha..ha.. ]

Anyway, thanks for visiting my blog !!!

Hatur nuhun, matur nuwun, thanks, gracias, arigato gosaimas !!

11 Comments (+add yours?)

  1. simbah
    Mar 25, 2008 @ 15:32:54

    Sersan, serius tapi santai. Seperti judul sinetron di RCTI th 1989 dulu. Apalagi diselingi gurauan kocak, bahasanya gak terlalu formal. Bercanda tapi dapat pencerahan, kira-2 gitu. Barangkali . . .
    Tapi yen tak pikir-2 bisa nyandu juga ya baca “Blog”. Seperti makan, pagi sarapan nasi, siang nasi dan sore/malam nasi lagi. . . hah . .

    Reply

  2. edratna
    Mar 25, 2008 @ 19:24:24

    Komentar terbanyak biasanya untuk postingan ringan, tapi menyentuh semua orang. Postingan berat, biasanya hanya dikunjungi tanpa meninggalkan jejak. Lama-lama pengunjung juga akan tersegmentasi dengan sendirinya.

    Reply

  3. Resi Bismo
    Mar 27, 2008 @ 19:55:44

    untuk mas tri postingannya memang lebih abnyak bercerita ttg pengalaman, dan itu banyak sekali menjadi masukan buat saya. pokokne rocks deh.

    Reply

  4. tridjoko
    Mar 28, 2008 @ 18:31:03

    –> Simbah : wah terima kasih ya atas komentarnya bahwa Blog saya ini menghibur… Paling tidak ada 1 orang yang merasa terhibur, itu sudah cukup bagi saya..ha..ha..ha.. Mas, aku tanggal 1-2-3 ini ke Madiun lho, mungkin tinggalnya di mess Jalan Salak, dekat rumah njenengan. Jika lagi tidak melaut, pls call me, nanti kita bisa ketemuan dimana gitu….

    –> Bu Edratna : yah..memang saya baru belajar nih membuat blog yang baik dan benar (ceileh…kayak Yus Badudu aja !). Awalnya nggak ngerti, mungkin lama-lama bakal ngerti juga bahwa postingan yang 1) santai 2) penuh info 3) melawak 4) rada-rada aneh, itu banyak menarik pembaca. Selainnya, yah dilewatin tanpa ngasih komentar aja. O ya, blognya Bu Edratna sekarang kalau dikasih komentar nggak otomatis muncul lho ! Saya cuman mau mengingatkan, itu nggak menarik bagi pengunjung lho ! Lebih menarik kalau kasih komentar langsung….bleng, masuk. Masalah kalau ada komentar yang tidak patut ditulis, itu mudah dihapusnya lewat “Edit-Comments”..

    –> Mas Resi : Iya mas, pengalaman masa lalu, tepatnya. Soalnya jalan-jalan ke luar negeri dsb itu kan masa muda dulu, sekarang setelah “senja” ya di rumah saja. Blognya mas Resi juga asyik lho, bahasanya mengalir seperti air dan banyak gambar-gambar Jerman yang memang cuantik-cuantik..he..he..

    Reply

  5. simbah
    Mar 28, 2008 @ 23:15:50

    Terimakasih dik Yon, ….wah…mungkin Gusti Allah belum mengizinkan, saya tgl -5 April pagi baru tiba di Madiun, sekarang masih melaut. Tapi gak apa2 Dik Yon, mudah-2an masih diberi panjang umur, di Jl. Salak, mess-nya sebelah mana? supaya tahu ancer-2 nya. Dari Jl. Salak ke tempat tinggal saya cuman 100 meter saja. Dan kalau Dik Yon bisa memperpajang kunjungan, kenapa tidak?

    Reply

  6. tridjoko
    Mar 29, 2008 @ 11:59:14

    –> Simbah : Saya dibilangin ama temen yang pernah nginep di mess Jalan Salak, tapi lupa ancer-ancernya mas. Habis semua rumah di Jalan Salak bentuknya hampir sama semua. Tapi perkiraan saya, persis di depan kantor bendahara negara itu.

    Saya tidak bisa memperpanjang kunjungan mas, banyak tugas ngajar, ntar terbengkalai. Ya pokoknya di sini senang, di sana senang. Lagian saya harus nunggu rumah mas, karena di rumah cuman berdua dengan anak sulung saya, kalau isteri saya pas di Malang (lagi ngambil S3 FH di Unibraw) dan anak bungsu masih di Bandung (lagi nulis TA di ITB)..

    Ya lain waktu masih banyak acara ke Madiun, karena ada “pihak lain” juga akan mengajak saya ke Madiun lagi dalam waktu dekat, tapi dengan tema berbeda : yang pertama Audit Teknologi Informasi dan yang kedua Audit Keselamatan KA..

    Reply

  7. nandya
    Apr 06, 2008 @ 16:40:52

    udah pak di bikin buku aja…..
    kan bagus tuh pak…..
    tapi ngomong2..” Hopo Tumon ” itu apa sih pak?
    saya cari2 gak pernah tau artinya…
    bahasa apa sih?

    Reply

  8. tridjoko
    Apr 06, 2008 @ 20:13:55

    –> Nandya : mbikin bukunya gampang, tinggal print dan binding, selesai. Tapi apakah ada yang mau baca bukunya nanti dan beli…that’s a good question !

    Hopo tumon ? Dulu banyak orang-orang Madiun sering mengucapkan itu meniru dari komik “Pak Klombrot” di majalah Panyebar Semangat..

    Kira-kira artinya sama dengan, “What a weird world !”

    Reply

  9. simbah
    Apr 06, 2008 @ 21:28:04

    Yah,…mas Nandya asing sama ‘hopo-tumon’ sama persis sama anakku. Yg satu lahir di Jkt, yg bontot lahir di Bekasi. Maka waktu baru pindah ke Madiun, mereka agak kesulitan. Benar juga, bahasa daerah di Indonesia dikawatirkan punah. Setelah beberapa tahun tinggal di Madiun, anak2 kecil di sekitar, bukannya menuturkan bahasa daerah/bhs Ibu, malahan menggunakan bahasa Indonesia kalau tak boleh dibilang bahasa Betawi. Penyiar radio swasta di Madiun juga kiblatnya bahasa Betawi. Sepertinya mereka bangga menuturkan bahasa tsb. Maka sebetulnya aku masih bersyukur masih bisa bertutur dgn bahasa jawa ngoko, krama madya, hingga kromo inggil. Gejala apa ini Dik Yon..?

    Reply

  10. tridjoko
    Apr 06, 2008 @ 23:25:50

    –> Simbah : menurut saya itu gejala “Prambors-ism”..

    Saya kalau pulang kampung naik mobil bersama keluarga, sepanjang jalan selalu menyetel radio yang stasiunnya tergantung dimana kota yang kami lewati…

    Ternyata dari pantura Indramayu sampai Ngawi, semua penyiar radio gaya ngomongnya pakai “Lu..gua..lu..gua…” padahal itu di Tegal atau Ngawi. Ya persis cara penyiar radio Prambors Jakarta ngomong…

    Makanya, saya sebut “Prambors-ism”…

    Aneh kan ? Hopo tumon..he..he..

    Reply

  11. Misterouw
    Dec 28, 2009 @ 19:49:10

    Maturnuwun balik maz

    Oke deh…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: