Sanitary Engineer

Dulu waktu saya pertama kali masuk ke BPPT di Direktorat Analisa Sistem di tahun 1980, banyak teman se direktorat yang alumni dari Departemen Teknik Penyehatan ITB. Ada sekitar 4 orang mereka itu, yang dengan bangga membuat kartu nama dengan namanya ditulis lengkap, misalnya Ir. bla bla bla, lalu ada garis, dan di bawah garis disebutkan profesinya yaitu “Sanitary Engineer” (insinyur teknik penyehatan)..

Alangkah terkejutnya saya ketika kursus bahasa Inggris di Florida International University Bay Vista Campus – Miami di tahun 1986 akhir. Menurut guru bahasa Inggris saya Roy Luna, “sanitary engineer” adalah sebutan halus untuk Janitor alias petugas kebersihan yang kalau di Indonesia disebut OB (Office Boy, walaupun cewek) seperti judul film seri konyol-konyolan yang diputar oleh RCTI..

Anehnya, salah seorang teman yang alumni Teknik Penyehatan ITB yang ikut di kelas saya tetap senyum-senyum saja. Entah bangga, entah nggak ngerti..

Sejak saat itu, saya selalu memperhatikan gerak-gerik Janitor atau petugas kebersihan yang ada di kampus-kampus Amerika. Mereka biasanya mulai bekerja jam 10 malam membersihkan semua ruangan di dalam kampus sampai pagi. Biasanya sambil nyetel radio keras-keras. Pokoknya super profesional lah..

Terus saya juga amati bagaimana mahasiswa berbicara dan memperlakukan para Janitor itu. Rupanya amat sangat akrab. Seorang “sanitary engineer” yang bertugas membersihkan satu lantai di asrama saya dulu adalah Becky, seorang wanita paruh baya yang selalu pakai baju ala cowboy cewek (he..he..mana ada ?) seperti yang ada di acara Going Country-nya Tantowi Yahya itu..

Dan ketika Becky bekerja, setiap tetangga saya yang orang Amerika selalu menyapa, “Hi Becky, how are you today ?”. Lalu Becky biasanya menjawab, “Not that bad, how’s about you ?”. Lalu mereka biasanya ngobrol barang 2-5 menit di hallway menuju kamar mandi. Obrolannya macam-macam : dari weather sampai basketball..

Rupanya mahasiswa di Indiana tidak hanya ramah terhadap para “sanitary engineer” ini, tetapi juga selalu ramah kepada sesama mahasiswa atau professor. Bila dua orang berpapasan di hallway di tengah kampus, pasti saling tatap pandang lalu bilang “Hi” sambil tersenyum. Saya alami berkali-kali, tidak hanya di lingkungan Computer Science Department, tetapi juga di Physics dan Math Department, di School of Business, di Biology Department, sampai ke “tempat netral” macam Indiana Memorial Union (IMU), yaitu Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) kampus Bloomington yang besarnya sama dengan dari mesjid di sebelah kiri kampus Syahdan sampai di ujung pertigaan Jalan Syahdan itu..

Pokoknya, dua orang atau beberapa orang yang berpapasan di hallway alias gang, pasti mereka saling sapa “Hi”..

Itulah keramahan orang Hoosiers, yaitu orang asli Indiana..

Di tahun 1992-1993 saya berkesempatan bersekolah gratis di Singapore dengan beasiswa dari ASEAN. Sering saya berpapasan dengan mahasiswa lain di hallway. Apa yang terjadi ? Tidak ada sapaan “Hi” atau senyuman barang sedikitpun seperti yang biasa saya alami jika berada di kampus Bloomington…

Alamak ? Mana tu keramahan yang diiklankan di koran-koran ? Itu memang masalah bangsa Singapore, yaitu sulit tersenyum. Dan itu sudah disadari oleh pemerintah Singapore sehingga meluncurkan kampanye yang berjudul “Singapore Courtesy”..

Sepulang dari Amerika, di kantor BPPT pun saya mulai mempraktekkan kedekatan dengan para “sanitary engineer” ini. Begitu juga di Kampus Binus. Rasanya tidak ada “sanitary engineer” yang tidak kenal dengan saya di kampus Binus. Kami biasa mengobrol ibaratnya seorang teman karib.

Alangkah indahnya dunia !

6 Comments (+add yours?)

  1. simbah
    Mar 30, 2008 @ 01:49:05

    Ha..ha…soal tegur sapa tidak ada yg ngalahin orang dari Desa…kabupaten Magetan/Madiun. Meskipun belum saling mengenal mereka sudah terbiasa berbincang, padahal mereka belum tahu nama. Malah di Warung makan, kalo ada yg dapat duluan, mesthi nawarin yg belum dapat giliran.: “Monggo Pak/Mas/Bu rumiyin”. sambil terus menyuap nasinya.

    Lain lagi waktu saya tinggal di Komplek di Bekasi. Saya diprotes anakku yg gede. “Pak jangan nduluin nyapa orang meskipun sudah kenal”. Ada apa gerangan? Rupanya ada suatu kebiasaan, bila mandahului menyapa, maka yg menyapa duluan itu dianggap lebih rendah status-sosialnya daripada yg disapa. Maka kadang-2 yg disapa cuek saja. Itu rupanya yg dirasakan anakku. Memang biasanya yg ramah itu orang2 ‘kecil’…?

    Reply

  2. tridjoko
    Mar 30, 2008 @ 07:29:10

    –> Simbah : ramah kepada orang itu menghilangkan energi negatif dan mendatangkan energi positif dari diri kita. Terutama kepada tetangga-tetangga..

    Waktu saya kecil digonceng sepeda sama Bapak, saya masih ingat Bapak selalu menyapa tetangga yang lagi berdiri, duduk atau nyapu halaman rumahnya. “Monggo”…lagi lagi “Monggo” dan “Monggo” lagi…sampai tidak ada rumah lagi atau sampai ke jarak yang terlalu jauh dari rumah..

    Itu di tahun 1960an. Nggak tahu apa orang Madiun sekarang masih seramah di tahun 1960an dulu ?

    Mungkin njenengan yang bisa njawab..

    Reply

  3. simbah
    Mar 30, 2008 @ 21:19:46

    Dik Yon,..di Madiun sekarang banyak orang pendatang. Lebih2 dalam komplek2 perumahan seperti Perumnas Manisrejo-1 dan 2, Taman Asri dll. Yg pendatang ini seperti orang2 Jkt acuh tak acuh.

    Nah, utk orang2 yg masih asli penduduk Madiun masih ramah…seperti swargi Pak Marsono, saya pantang utk diduluin soal menyapa. Menurut hadis Nabi yg mendahului menyapa, mendapat pahala lebih banyak, maka efeknya seperti Anda bilang membangkitkan energi positip. Hanya ada kelemahannya, saya suka capek kalau jalan dari Rumah lewat kampung2 yg padat rumahnya. Betapa tidak, mulut ini capek tersenyum mulu dan selalu bilang ‘monggo’. Maka kalo dah gitu aku cari jalan yg sepi lewat gang yg kiri kananya tembok atau yg sekitarnya masih tanah kosong. Tersenyum terus itu capek juga rupanya yah…

    Reply

  4. tridjoko
    Mar 30, 2008 @ 23:03:47

    –> Simbah : wah…ada kesan Mas Didiek ini lebih suka disebut orang Jakarta yang cuek sehingga menyapa orang aja malas ya mas ?

    He..he..he..mas sebenarnya aturannya nggak gitu. Sapalah orang yang lebih tua terlebih dahulu dan yang orangnya ramah, yang bila kita sapa akan menjawab juga. Kalau orang tua yang cuek juga, ngapain harus disapa ? Sedangkan kepada orang muda, tidak perlu menyapa lebih dulu, cukup tersenyum aja. Senyum sendiri juga nggak apa2. Nggak capek kan kalau tersenyum ?

    Di sebuah perempatan Semarang, saya lagi naik mobil sama anak isteri mau terbang balik ke Jakarta. Waktu lampu menyala merah, saya menyapa seorang penjualan koran “Eh..Hasan, bagaimana kabarmu sekarang ?”. Ternyata si Hasan tersipu-sipu dan nggak nyangka disapa orang naik mobil, diapun menjawab “Ba..ba..baiiik pak !” sambil matanya terus menyelidik siapa yang nyapa ini…

    Setelah lampu hijau dan mobil jalan, isteri saya dan anak-anak nanya “Bagaimana papah tahu itu tadi namanya Hasan ?”. Terus saya jawab kalem, “Lho..kan di kaosnya ada tulisannya Hasan”..

    Isteri saya dan anak2 saya langsung “Ooooo….”

    He..he..he..mas, percayalah pada saya “It doesn’t hurt to be friendly with people”…

    Reply

  5. simbah
    Mar 30, 2008 @ 23:09:59

    Ha..ha…Hasan…. lah kalo di Kausnya ada tulisan FBI, apa njur disapa hey . . FBI…?

    Reply

  6. tridjoko
    Mar 31, 2008 @ 21:20:01

    –> Simbah : Ya nggak no mas, kalau di kaosnya ada tulisan FBI paling akan saya panggil, “Pii..pii…sapii…ke sini ii….”..

    Hi..hi..hi..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: