Welcome to Indiana

Setelah tahun baruan 1987 di Miami, besoknya saya dan teman-teman pada nyerbu Mall Miami untuk beli baju, celana dan sepatu yang lebih cocok untuk tinggal di daerah yang lebih dingin..

Teman saya ex ALT yaitu Pak Amin Zarkasi yang orang Batan Yogya itu, sudah enam bulan ini tinggal di Bloomington, Indiana. Jadi via surat Pak Amin menyarankan baju macam apa saja yang harus dibawa.

Turun dari Van Ford yang dimiliki EF Miami, sayapun langsung menuju Woolworth suatu toko baju yang kelihatannya paling ramai. Sayapun memborong jaket ski OSSI seharga $ 150, sepatu Adidas biru high-heel seharga $ 75, sarung tangan kulit seharga $ 15, dan syal dari wool seharga $ 10.

Yang belum terbeli tinggal celana jeans, karena tas backpack saya sudah dapat dari EF yang berwarna biru itu. Saya agak sulit mencari celana Levi’s di sini karena nggak tahu ukurannya. Dengan pengalaman di Jerman beberapa tahun sebelumnya, sayapun memperhatikan beberapa anak kecil tanggung sedang memilih-milih celana jeans Levi’s. Sayapun menuju kesana, dan setelah beberapa kali mencoba, sayapun memilih satu jeans dengan harga $ 45. Wah belanjaan saya di Woolworth hari ini sudah melebihi $ 300 nih. Cukup banyak sih, tapi ok..

Sebelumnya saya ingin bercerita mengapa saya memilih melanjutkan studi di Computer Science Dept Indiana University yang menurut Gourman ranking menduduki peringkat ke-37 di Amerika. Karena universitas Ivy League (Harvard, Yale, Princeton, Columbia, Cornell, Brown, Darmouth, Williams & Mary) tidak mungkin saya masuki. Begitu juga beberapa universitas pantai timur, pantai barat dan midwest seperti North Carolina, Duke, Carnegie Mellon, Maryland, U. California Berkeley, Stanford, U. California Los Angeles, U. Southern California, Michigan, Illinois, Purdue – tidak mungkin saya masuki karena persyaratan TOEFL yang di atas 600 dan GRE General Test di atas 2000 dan GRE Computer Science Test di atas 800.

Saya sebenarnya pengin ke Purdue, karena di sana sudah ada teman saya Amril Aman yang ngambil Ph.D in Industrial Engineering. Tapi persyaratan masuk Purdue “sangat gila” akhirnya Indiana adalah pilihan saya. Rankingnya adalah 37 tapi jauh lebih bagus daripada beberapa universitas terkenal lainnya seperti Texas A&M, Missouri-Rolla, dan Louisiana State misalnya.

Dalam suratnya kepada saya, Pak Amin Zarkasi sudah mewanti-wanti agar saya mendarat di Bloomington, Indiana dan bukan di Bloomington, Illinois ataupun Bloomington, Minnesota. Oleh karena itu, saya pesan kepada Angela si cewek staf administrasi EF untuk mencari tiket ke Bloomington, Indiana.

Kami bertiga belas teman-teman Indonesia yang dibiayai oleh Overseas Fellowship Program II, berangkat ke kota tempat universitas masing-masing. Atmaji Wiseso ke Rice – Houston. Rosiwarna Anwar ke U. California-Santa Barbara. Taty Hernaningsih ke Humboldt University California. Rosi Setiaji dan Gono Setiadi ke Texas El Paso. Mimin Karmini ke Colorado State. Herdy dan Supriyanto ke New York Polytechnics, Siswanto Sewojo ke Wisconsin Madison, Fuadi Rasyid ke Ohio State Columbus, Jajang dan Simamora ke George Washington, Simon ke Lehigh, Wahyuntari ke Illinois Urbana-Champaign, dan saya sendiri ke Indiana Bloomington.

Hari berangkat kami berbeda-beda, saya sendiri berangkat dari Miami tanggal 3 Januari 2007 diantarkan dengan Van Ford-nya EF sampai Miami International Airport dan naik Northwest Airlines menuju Chicago. Saya ingat suhu Miami waktu itu sekitar 65 derajat Fahrenheit (16 derajat Celcius).

Penerbangan Miami-Chicago makan waktu sekitar 2 jam. Kamipun mendarat di Chicago O’Hare Airport. Kelihatannya agak sunny hari itu di Chicago. Turun dari Boeing 737 Northwest, kamipun transfer ke pesawat DeHavilland yang muat 9 orang saja.

Sebelumnya di gang airport, saya jalan pelan sambil menenteng jaket ski yang saya beli di Miami. Seorang Bapak yang bepergian dengan isteri dan anaknya ngrasanin saya dari belakang, “Eh lucu sekali orang itu, pakai celana jeans punya anak kecil, bawahnya dilipat pula”..

Saya lalu merasa sangat tersinggung dan segera duduk menunggu keluarga bawel tadi lewat. Rupanya ada rasa bersalah di wajah mereka. Sayapun terus memelototi capitalist pigs gendut itu sampai mereka hilang di tikungan..

Sayapun sekarang sudah di dalam pesawat DeHavilland. Saya nanya ke pilotnya, “Is this plane going to Bloomington, Indiana ?”, tanya saya. “Yep, why asking ?”, tanyanya. “I am afraid it is going to Bloomington, Illinois or Bloomington, Minnesota”, kata saya. “No, you are in correct plane”, jelasnya. Lalu si pilotpun menyelaskan prosedur penyelematan diri jika pesawat kecelakaan sesuai standar FAA yang sering kita lihat..

Rupanya pesawat baling-baling dua ini hanya diisi 8 penumpang, jadi ada 1 bangku kosong. Pesawat inipun mulai menembus mega menuju ke selatan dengan waktu penerbangan 1 jam. Kami banyak menembus awan dan tidak jauh-jauh amat dari tanah. Suara baling-baling pesawatpun terdengar jelas tanda jenis pesawat ini tidak dilengkapi dengan pressurized cabin..

Saya mulai agak tenang karena sudah menulis surat ke Pak Amin yang katanya mau menjemput di airport Bloomington. Pesawatpun mulai terbang agak rendah tanda akan segera mendarat. Pemandangan di bawah penuh dengan rumah-rumah kayu atau rumah gaya dusun Indiana. Sejauh mata memandang tanah berwarna putih tanda salju dan semua pohon daunnya meranggas. Diam-diam bulu kuduk saya berdiri mengingat pemandangan itu adalah pemandangan yang biasa terlihat di film-film horror semacam “Amityville”..

Pesawatpun mendarat dengan mulus di Airport Bloomington, Indiana. A soft landing. Setelah mengambil bagasi sayapun menuju pintu keluar. Rupanya Pak Amin dengan beberapa teman sudah menjemput..

Saya dijemput dengan sedan Honda Civic Long Chassis milik Ari Sidharta Akmam yang lagi pulang ke Indonesia. Yang menyopiri Civic ini adalah Daniel Indro, lulusan Petra yang lagi ngambil Ph.D Finance. Selain Pak Amin yang ngambil Master’s in Physics, ada lagi Pak Suwito lulusan Fisipol UGM yang ngambil Master’s in Public Administration, lalu ada Pak Abdul Kadir yang ngambil Ph.D in Library Information Science.

Kamipun mampir di toko grocery yang cukup besar untuk memborong ayam, daging, bumbu, dan lainnya. Teman-teman mau membayar tapi saya cegah, akhirnya belanjaan $ 32 itu saya yang membayari..

Jarak dari Airport Bloomington ke kampus Indiana University sekitar 7 km. Rupanya Pak Amin tinggal di sebuah trailer, yaitu semacam van yang terdiri dari 1 kamar tidur, kamar mandi, dan kamar tamu yang kursinya bisa diurai menjadi tempat tidur..

Sore itu Pak Amin yang bertindak sebagai tukang masak. Kamipun makan-makan sambil ngobrol, setelah teman-teman yang tadi mengundang juga 2 teman lainnya yaitu Pak Chaedar Alwasilah lulusan IKIP Bandung yang ngambil Master’s in Linguistics dan Pranyoto alumni IKIP Jakarta yang ngambil Master’s in Education..

Obrolan kami semakin lama semakin gayeng. Kosakata pertama yang saya dapat dari teman-teman ini adalah istilah “unfurnished” untuk menyebut cewek yang badannya kurus, dan “furnished” untuk menyebut cewek yang badannya semlohai…

Wah..kayak apartemen saja !

[Bersambung]

2 Comments (+add yours?)

  1. simbah
    Mar 30, 2008 @ 01:11:12

    Ngomong2 soal celana Jean (Levi’s), waktu SMA saya minta Ibu supaya dibelikan. Anak2 ABG waktu itu gak mikir, orangtuanya punya duit apa gak, yg penting ‘gaya’. Akhirnya Ibuku jual Sapi di kampung buat beli celana Levi’s. Belinya di Toko Kamajaya, samping Toko Bandung. Gak tahunya setelah beberapa hari baru ketahuan, bahwa itu Levi’s palsu….alamak….

    Reply

  2. tridjoko
    Mar 30, 2008 @ 07:11:35

    –> Simbah : Wah..mas Didiek agak beruntung bisa beli jeans Levi’s waktu SMA yang waktu itu harganya memang sangat mahal. Hanya roommate saya Kikiek yang bisa beli celana Levi’s dan jaket Levi’s. Saya sendiri terpaksa “menurunkan standar” dan beli celana jeans Lea, bikinan Bandung. Saya masih ingat Lea saya itu berwarna coklat agak keunguan, harganya kira-kira separuh Levi’s..

    Akhirnya saya bisa beli celana Levi’s dan baju Levi’s setelah dapat beasiswa Supersemar di tahun 1977. Beasiswa sebulan adalah Rp 15.000, dan celana dan baju Levi’s harganya Rp 12.500. Jadi masih susuk (ada kembalian)…

    O ya waktu SMA saya sempat beli kaos (t-shirt) Levi’s warna biru terbuat dari katun yang sangat saya cintai. Tapi rupanya lengannya agak kecil dan pendek. Dengan lengan saya yang mirip sepirnya gede, saya sering diledek temen-temen sebagai “tukang angkut beras di pasar”..

    Wah, temen-temen itu memang agak keterlaluan. But I like them all…

    Iya mas, saya belinya juga di sebelah Toko Bandung..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: