Tiga hari di Madiun

Sudah satu setengah tahun ini saya tidak pulang ke Madiun. Kemarin ini pas ada kesempatan dinas ke Madiun, sayapun senang karena sambil nyambangin rumah yang masih ada di Madiun, sama nyekar ke makam kedua ortu..

Flight saya hari Selasa kemarin pakai Mandala MZ250 dari bandara Soekarno-Hatta menuju bandara Adisumarmo, Solo. Sebuah perjalanan 55 menit yang sangat menyenangkan, maklum Mandala Air ternyata salah satu maskapai penerbangan yang sangat profesional. Walaupun jumlah penunpang hanya 1/4 dari kapasitas pesawat Airbus 320 yang berjumlah 130 orang, tapi pesawat berangkat on-time !!! Two tumbs up for Mandala !!! Cheers !!!

Itu membuktikan bahwa Mandala tidak hanya memburu untung. Mbak-mbak pramugarinya juga ramah-ramah, cuman sayangnya tidak dihidangkan snack sama sekali, walau sebungkus permen sekalipun. Oh my Gawd !!!

Waktu dua minggu lalu saya pergi ke Bandar Lampung menggunakan Merpati, kita masih diberikan satu bungkus snack yang ngambil sendiri sebelum boarding. Jadi lumayanlah untuk mengganjal perut. Padahal penerbangan Jakarta-Lampung hanya 20 menit saja !!

Turun di airport Adisumarmo Solo, pesawat Mandala mendarat agak hard landing, persis kejadian mendarat di bandara Radin Inten Lampung yang juga hard landing. Alasannya jelas, supaya pilot hanya memakai panjang landasan yang agak pendek dan bisa langsung belok ke taxiway. Atau saya curiga jangan2 pilot pesawat Merpati dan Mandala yang barusan kunaiki menganggap diri mereka pilot pesawat militer yang diperbolehkan mendarat dengan sudut mendarat 30 derajat !! Maybe. Who knows ?

Di bandara Adisumarmo kami sempat nunggu 5 menit sampai akhirnya kendaraan Kijang Innova dari client menjemput. Kamipun dibawa ke Madiun melalui rute bandara-outer ringroad-Jalan Raya Sragen..

Sebelumnya saya sudah dapat bocoran dari kakak saya bahwa jalan Sragen-Ngawi agak rusak parah karena barusan ketimpa banjir. Ternyata memang pernah rusak, tapi sudah agak lumayan karena sudah ditembel aspal di sana-sini. Untungnya pula, Innova G yang saya naiki punya shock absorber yang cukup empuk sehingga jalan sedikit rusak tidak terasa…

Yang agak menyedihkan adalah pemandangan antara Mantingan-Ngawi yang dulunya adalah hutan jati yang sangat anggun karena pohon jatinya yang berumur rata-rata 25 tahun menjulang tinggi ke angkasa. Yang ada sekarang pohon jati jadi-jadian yang pendek, panas, gundul, dan sama sekali tidak berkelas…

Sampai Ngawi oleh pak sopir yang menjemput kami diceritai, daerah ini bekas banjir, dalamnya sekian. Sungguh menyedihkan karena lama saya tinggal di Madiun dulunya Ngawi tidak pernah banjir. Apa hutan sebagai penopang lingkungan sudah dimakan Batara Kala sehingga gundul dan tidak mampu menyerap tetesan air hujan ?

Sampai di sebuah pom bensin di Jiwan, kami berhenti sekedar ke peturasan dan untuk saya pribadi, ganti kostum. Karena sejak tadi saya salah kostum hanya memakai polo shirt, padahal tiga teman yang lain pakai baju resmi lengan panjang…

Sampai di kantor client jam 11.30 kami sudah disambut Pak Dirut. Setelah perkenalan dan memaparkan maksud kedatangan kami, Pak Dirutpun memberi sambutan. Intinya, kedatangan kami sebagai team IT Auditor (dua teman sudah bergelar CISA, sedangkan saya kebetulan belum lulus CISA) disambut dengan tangan terbuka dan beliau menginginkan kami mengawal perusahaan ini untuk menerapkan IT Governance yang sesuai dengan standar internasional…

Pertemuan selesai jam 15.00 dan kamipun diantar ke Hotel yang merupakan salah satu landmark kota Madiun. Setelah istirahat sebentar, teman-teman usul kami jalan-jalan mengelilingi kota Madiun naik becak. Akhirnya kami berempat naik 2 beca ke rumah saya yang jauhnya dari hotel sekitar 4 km.

Si mbak penunggu rumah rupanya sudah menunggu kami dari tadi. Kamipun sempat ngobrol beberapa menit, dan kami berempat jalan kaki menuju makam kedua orang tua saya. Tanpa bunga, sayapun mengirim doa untuk kedua orang tua saya almarhum. Kamipun balik ke rumah, dan sempat tour sebentar ke sekeliling rumah. Keadaan rumah saya tidak terlalu tidy and clean, tapi cukup bersihlah..

Kamipun pulang kembali naik becak. Si Mbak sempat memberi saya oleh-oleh satu besek besar berisi berbagai macam snack khas Madiun, seperti biasanya. Saya usul kami turun di alun-alun Madiun. Sambil menunggu maghrib, kamipun makan tahu petis lesehan di salah satu stall yang banyak bertebaran di sekitar alun-alun. Wedang sekotengpun menemani tahu petis itu…

Kamipun berempat shalat Maghrib di mesjid Madiun. Bergiliran memang, karena rupanya di mesjid ini tidak disediakan penitipan sandal sepatu. Karena takut kehilangan sepatu CBDY yang saya punya, kamipun shalat bergantian dua-dua…

Tukang becak yang tadi sudah menunggu, kamipun kembali ke hotel. Istirahat sebentar, kamipun keluar lagi mencari warnet. Rupanya warnet di Jalan Kalimantan cukup ramai hampir2 nggak bisa nemu bangku kosong. Setelah kami masuk, rupanya speed-nya warnet speedy ini nggak terlalu speedy…hi..hi..hi…

Perut sudah mulai lapar dan kami berempatpun makan di hotel. Makanan tidak terlalu great, tapi rawon dan nasipun masuk ke perut dengan lancar. Teh manis hangat menemani. Kamipun sempat ngobrol selama 1,5 jam sambil makan. Setelah semuanya ngantuk, semuanya masuk kamar masing-masing karena nanti malam di ESPN ada pertandingan semifinal Liga Champions antara AS Roma versus Manchester United. Saya sempat melek malamnya, tapi begitu Roma ketinggalan 0-1 TVpun saya matikan…

Bangun pagi-pagi, kamipun makan di kantin. Ada beberapa pilihan: nasi goreng, mie goreng, bubur ayam atau roti panggang. Saya milih mie goreng. Setelah kenyang kami diskusi sebentar di kamar untuk membicarakan agenda IT Audit hari ini dan unit-unit kerja mana saja yang perlu dikunjungi untuk mendapatkan informasi tentang IT Audit Scan..

Hari kedua tadi, berlangsung sangat hectic. Diskusi sangat intens, kami sebagai IT Auditor sangat antusias dan sebaliknya auditee kamipun sangat antusias. Kamipun merasa “fire up” dan sebagai orang Madiun sayapun berjanji dalam hati agar perusahaan ini semakin maju IT Governance-nya supaya menjadi perusahaan yang semakin baik di masa yang akan datang sampai cukup baik untuk dilakukan IPO..

Hari ketiga besok, ada empat divisi yang perlu kami kunjungi lagi. Acara besok akan berakhir pukul 12.00 setelah paginya kami check out dari hotel. Setelah makan siang dan shalat Dzuhur besok, kami akan diantar kembali ke bandara Adisumarmo Solo yang berjarak 114 km dari Madiun. Kami akan naik pesawat Air Asia flight jam 16.35..

Hari ini perut sudah kenyang, oleh-oleh sudah dibeli. Malam ini saya tinggal ngepak barang dan besok sudah check out dari hotel…

Saya baru tahu kalau di Madiun sudah 4 tahun ini ada taksi berargo, dengan warna hijau. Kabarnya kalau yang berwarna putih adalah taksi borongan, jauh dekat Rp 25.000. Tapi yang warnanya hijau dari ujung ke ujung lain kota Madiun taripnya hanya sekitar Rp 15.000. Naik beca jauh dekat taripnya Rp 10.000, bahkan kalau anda minta diantar dari satu ujung ke ujung kota yang lainnya. Begitu juga ojek sepeda motor menawarkan tarip Rp 10.000 jauh dekat..

Madiun agak sepi, walaupun sekarang lagi tanggal muda. Mall Sri Ratu yang ada di depan hotel tempat saya menginappun hanya ada pengunjung yang dapat dihitung dengan jari. Begitupun Mall baru yaitu Mall Timbul Jaya yang tepat di sebelah selatan hotel kami, juga sepi pengunjung. Apakah ini tanda krisis daya beli masyarakat ?

Mungkin…

Hanya saya senang karena selama ada di Madiun, cuaca cerah-cerah saja. Kata beberapa orang yang pernah saya temui, hari-hari kemarinnya Madiun selalu diguyur hujan di setiap sore…

O ya ada satu surprise. Rupanya salah seorang pejabat perusahaan client yang kami audit adalah kakak kelas saya di SMP 2 dan rumahnya hanya 2 blok dari rumah saya di Madiun….

What a small world !!!

44 Comments (+add yours?)

  1. simbah
    Apr 04, 2008 @ 00:36:14

    Maaf,…kelupaan menginfokan. Coba Dik Yon, minta sama pengemudi Kijang, utk lewat jalan tembus Cemorosewu-Sarangan. Lebih lebar dan mulus, tanjakannya gak begitu curam. Hanya saja masih belum rampung dibeberapa titik ruas jalan.

    Reply

  2. tridjoko
    Apr 04, 2008 @ 11:02:28

    –> Simbah : iya mas…saya sudah memberitahu sopir client saya tentang jalan baru di Sarangan-Tawangmangu itu (saya pertama dapat kabar dari mbak saya Endang yang barusan pulang ke Madiun), tapi karena tidak ada waktu jadi belum sempat mas…

    Reply

  3. nandya
    Apr 06, 2008 @ 16:59:30

    menginapnya di hotel merdeka ya pak?
    hotel mulianya madiun…
    tapi di madiun kota nya damai sekali ya pak…apalagi kalo sore menjelang maghrib…
    uenak tenan…

    Reply

  4. tridjoko
    Apr 06, 2008 @ 23:35:35

    –> Nandya : Yo’i nginepnya di Hotel Merdeka, karena oleh client di-booking-in di situ. Hotel Merdeka menurut saya not bad-lah. Saya malah ditanya teman-teman yang non-Madiun mengapa banyak orang nginep di Hotel Merdeka ?

    Sulit juga menjawabnya. Tapi saya katakan, bahwa mereka para tamu itu lebih merasa “homy” bila tinggal di Hotel Merdeka yang letaknya memang paling strategis di Madiun. Kalau malam malah tempat parkir mobilnya sampai habis !

    Walau secara fisik Hotel Merdeka punya banyak kelemahan, misalnya “plumbing”-nya payah, kadang-kadang toilet macet nggak bisa tersentor. Begitu pula restorannya masakan terlalu hambar dan kurang “spicy”. Sedangkan lounge-nya terlalu sempit, berisik, dan semua tamu merokok !!!

    Reply

  5. Lulus L G Hidajat
    Apr 08, 2008 @ 15:27:10

    mas, rumahnya di madiun di mana?
    kapan ke madiun nya itu ? kayaknya baru-baru saja yaa…
    kok sampeyan ndak nyinggung ‘sego pecel’ babar blas. The best food in the world.. saya makan sego pecel sejak SD sampe SMA, trus sekarang kalo makan lagi ndak pernah bosen..selalu kangen teruss.. Coba trade mark nya madiun di blow up..ya , banyak juga khan hal yang khas dr madiun, yang men dunia.

    Reply

  6. tridjoko
    Apr 08, 2008 @ 20:45:57

    –> Mas Lulus : rumah saya di Madiun di desa mas, yaitu dusun Ngrowo, desa Mojorejo, di sebelah timurnya lapangan Ledeng yang tempat untuk pompa air minum itu…

    Sego pecel ? Wah..rasanya saya sudah menyinggung mas, yaitu walau tidak makan di Sego Pecel Pojok tapi di tempat client saya di suatu makan siang saya disuguhin sego pecel lengkap dengan kembang turi-nya…

    Pulangnya saya juga sempat mbawa sambel pecel, terus pas dimakan di Jakarta dengan nasi putih anget kedul-kedul…wah…ueeennnaaakk tenan, sampai-sampai kalau ada mertua saya lewat, saya pasti cuek !!!! he..he..

    Mengenai berita tentang Madiun, tunggu tanggal mainnya nanti. Soalnya kalau client saya senang dengan pekerjaan saya dan kawan-kawan pasti 2 minggu sekali atau sebulan sekali pasti saya ke Madiun lagi…

    Reply

  7. Agung
    Apr 08, 2008 @ 20:51:25

    oohh..iya Pak.
    di blog saya,saya uda tulis ada tmp makan pecel Madiun di daerah BSD.
    Bapak uda tau??
    ato malah jangan2 uda coba.
    hehehehehehehehe…!!
    saya sih ga tau yah,pecel MAdiun yang asli kyk gimana.
    tapi sapa tau aja,yang di BSD bs ngbantu BApak,kalo lagi kangen MAdiun,.
    hehehehehehe…!!

    Reply

  8. tridjoko
    Apr 08, 2008 @ 20:59:14

    –> Agung : saya pernah denger tuh kayaknya ada pecel Madiun yang enak di daerah BSD. Bahkan pernah masuk Kompas, yang punya orang Jakarta yang tinggal di Kebayoran. Tapi posisinya kira-kira dari BSD ke arah Serpong, dengan tempat tersendiri yang agak luas. Itukah yang anda maksud pecel BSD Gung ?

    Kalau berbeda, ya deh ntar aku cobain ke sana. Selama ini pecel di Jakarta yang paling “pecel Madiun” yang enak dan banyak dikunjungi turis-turis asing dari Jepang adalah yang terletak di dalam TMII. Masuk Pintu I, belok kiri, mentok, kanan lagi kira-kira 100 m, di bawah jalur kereta gantung. Itu sudah top banget untuk ukuran Jakarta, apalagi diiringi gending Jawa yang Madiun banget…

    Sayang masuk ke TMII 1 orang Rp 10 ribu dan mobil Rp 5 ribu.

    Expensive, man !!

    Reply

  9. Agung
    Apr 08, 2008 @ 21:08:11

    iyah,betul.
    saya pernah 3 ato 4 kali ke pecel madiun yang di bsd itu.
    di blog saya sudah saya jelaskan sedikit.
    hehehehehehehehe…!!
    kalo kata orang2 sih,yg di bsd itu enak dan Madiun banget.
    yah,kalo saya sih,karena belom pernah ke Madiun dan ga tll pilih2 makanan,buat saya enak2 aja.
    hehehehehehehehe…!!

    Reply

  10. tridjoko
    Apr 08, 2008 @ 21:16:35

    –> Agung : Wah..kalau gitu kapan2 saya akan ke Pecel BSD itu Gung sama keluarga saya !

    Kapan-kapan piknik Gung, ke Yogya-Solo-Madiun. Itu kota-kota yang Jawa banget deh. Di Madiun ada telaga Sarangan, miniatur dari Danau Toba tapi terletak di tempat yang agak tinggi. Banyak speed boat disewakan, hampir semuanya pakai “warna & insignia” ala F1. Jangan heran kalau ada speed boat dengan cat merah Ferrari, silver McLaren, biru Redbull, sama putih Sauber-Petronas. Lengkap dengan nama-nama pembalapnya !!

    Di luar telaga, ada banyak kuda disewakan. Bedanya dengan kuda sewa di Bandung misalnya, kuda sewa di Telaga Sarangan ini ada namanya : Polo, Pony, Samsung, Bejo, Susan, dsb…

    Selain itu, kalau lapar sudah menyerbak perut, di tepi telaga banyak “sate ayam” dijual. Enak, murah dan mengenyangkan. Tapi kalau anda sudah makan, si penjualnya akan bilang, “Sorry ya mas, itu tadi bukan sate ayam, tapi sate kelinci !”.

    Hi..hi..hi…

    Terbang dengan Air Asia ke Solo cuman Rp 250 ribu, nyambung taksi 114 km ke Madiun, per km-nya tarifnya Rp 2.500..

    Reply

  11. Agung
    Apr 09, 2008 @ 18:32:36

    saya sih uda 3kali ke Jogja.
    tapi kalo Solo dan Madiun cuma lewat aja,karena waktu itu mao ke Bali naik mobil.
    tapi uda lama sekali.
    waktu SMA dulu saya pernah live in seminggu di gunung kidul (wonosari).
    yah,jadi ke jawa tengah dan timur sih uda ga asing lah.
    hehehehehehe..!!
    tapi kyknya asik tuh yah Pak.
    tapi saya harus kumpulin duit dolo kalo mao pergi.
    soalnya ortu saya kyknya uda malas ke jawa tengah n jawa timur.
    soalnya Papa dolo SMA di Jogja.
    hehehehehehehehehe…!!!

    bole Pak,kalo wisata kuliner emank plg maknyus sekeluarga.
    nanti kalo butuh tour guide berwisata kuliner di Tangerang,bisa hub saya.
    hehehehehehehehehehe…!!
    pokoknya maknyus….!!!!

    Reply

  12. tridjoko
    Apr 10, 2008 @ 00:33:34

    –> Agung : “mudik ke Jawa” masih asyik lho Gung. Paling asyik justru menjelang Hari Raya Idul Fitri, jadi macet dimana-mana..

    Kalau anda bawa Toyota Alphard atau Nissan Serena atau Hyundai H-1 yang di dalamnya ada layar lebar buat nonton film, wah..macet berjam-jam juga nggak terasa. Asal sopirnya asyik punya…

    Di rumah masih hujan deras terus, saya khawatir rumah kemasukan air banjir (it happened twice in 2002 and 2007), jadi masih belum sempat mencicipi “kuliner Tangerang” he..he..he..

    Reply

  13. Agung
    Apr 10, 2008 @ 07:56:55

    nah,itu dia Pak.
    kalo mao “mudik je Jawa”mending jangan lebaran.
    dulu tuh 2x ke Jawa pas lebaran.
    astaga….!!!!
    pegel pisan Pak.
    hahahahahahaha..!!!
    masalahnya saya ga ada alphard ato serena tuh Pak.
    cuma mobil2 biasa aja.
    paling kalo mao ke jawa pake airasia aja.
    hehehehehehehehehhee….!!!

    masih takut banjir Pak?
    hehehehehehe..!!
    makanya tinggal di Tangerang Pak.
    (*pdhl Tangerang juga masih ada daerah yang banjir*)
    nanti kalo uda sempet aja lah.
    heheheheheheheh…!!

    Reply

  14. tridjoko
    Apr 10, 2008 @ 16:00:06

    –> Agung : makanya tinggal dekat lapangan golf latihan golf Gung !

    Lumayan tuh, kalau ada Indonesia Open anda bisa “5 di bawah par” maka prize moneynya udah bisa buat beli Nissan Serena…

    Itu lho maksud saya !

    Reply

  15. Agung
    Apr 11, 2008 @ 08:39:22

    aduh Bapak..!
    saya dua tanya ke sport club deket rumah saya itu.
    katanya kalo mao join yang bisa main golf (khusus penghuni perumahan Modernland).
    harus daftar dan bayar 50juta di muka (deposit).
    dan tiap bulannya 5juta.
    trus kalo mao maen,sewa mobil n tip buat caddynya kita tanggung.
    trus alat2 harus bawa sendiri,ato sewa (saya lupa harga sewanya).
    pokoknya maen golf itu cuma buat orang2 yang gajinya di atas 20juta Pak.
    hahahahahahahahaahhahaa……!!!!

    Reply

  16. tridjoko
    Apr 11, 2008 @ 09:47:43

    –> Agung : you salah, man…

    Yang serba mahal itu memang untuk pegolf amatir (di bawah PGI = Persatuan Golf Indonesia) emang tarifnya segitu. Membership fee-nya saja amat mahal, belum yang lain2nya. Makanya orang Jepang di Jepang sana lebih murah pergi ke Thailand, Malaysia atau Indonesia lalu main golf di negara lain, daripada bayar buat main golf di tanah Jepang…

    Justru di situ maksud saya. Kalau kita sudah pegolf professional (di bawah PGPI = Persatuan Golf Professional Indonesia) itu membership fee sudah gratis, dan segalanya gratis. Main golf bukannya mbayar, tapi malah dibayar karena kita harus lawan CEO dari perusahaan2 papan atas Indonesia. Tapi kalau itu handicap anda sudah sangat bagus, misalnya 6 di bawah par untuk 18-hole !!

    Makanya, lebih baik usul ke Binus buat mbangun lapangan golf untuk dosen, karyawan, dan mahasiswa. Di mana kek, yang penting bisa main dengan biaya murah. Wah..kalau Binus punya lapangan golf, UPH-pun pasti kalah fasilitasnya ha..ha..

    Kemarin saya barusan cek ke Pak Besar di ex Biro Kemahasiswaan, katanya dulu pernah ada UKM Golf dan UKM Catur di Binus, tapi lalu mati. Nah, saya ingin menghidupkan kedua UKM itu. Ketua UKM Golf-nya lebih baik Agung, ntar Ketua UKM Catur saya tunjuk salah satu mahasiswa saya dari Sumatera Utara yang gemar catur di kelas 04PKT..

    O ya, kalau lapangan golf 9 hole atau 18 hole Binus belum punya, boleh dah membuat Shooting Range-nya dulu. Saya dulu di Korea tinggal di sebelah shooting range yang tidak pernah tidur 24 jam, jadi rame terus…

    Reply

  17. Agung
    Apr 11, 2008 @ 20:08:25

    wah,kalo yang organisasi gitu,saya ga ngerti Pak.
    cuma kalo member sport club di deket rumah saya emank segitu.
    lagian saya ga suka2 amat ama golf.
    hahahahahahahaha….!!!!

    Binus bikin lapangan golf??
    mimpi kali yey…!!!
    hahahahahahaha..!!
    UPh msh punya 10hektar kebelakang yang masih kosong dan siap bangun.
    toh,yg punya msh Group Lippo juga.
    jadi di mana aja bisa bikin,kalo mereka mao.
    tapi kalo Binus??
    dari pada bikin lapangan golf,mending bikin tempat parkir mobil yang luas dan taman yang pohon2nya gede2 biar adem.
    hehehehehehehehehehehe….!!!
    no offense Binus.

    wah,jangan saya Pak ketua UKM golfnya.
    wah…..!!!!
    emank ketua UKM ga bole seorang dosen yah??
    hahahahahahahahahha…!!!
    saya dolo pernah diajar ama Pak Besar,mata kuliah CB II.
    hehehehehhehehehe…!!

    Reply

  18. tridjoko
    Apr 12, 2008 @ 07:14:05

    –> Agung : don’t take it seriously. Kalau kita di Binus tidak bisa membuat UKM Golf….so pasti kita masih bisa membuat UKM Microsoft Golf dengan sponsor dari Mr. William Gates langsung…he..he…

    Kita tinggal cari computer cluster di kampus yang “nganggur” lalu kita pasang Microsoft Golf di situ. Kita set, mau main di Sleepy Hollow atau di Banff. Nah, mainlah kita. Siapa nilainya paling besar di bawah par untuk 18 hole, dia menang dan berhak dapat prize money untuk mengunjungi kantor Microsoft di Seatlle, Washington sono…

    Tapi kalau di Binus nggak ada computer cluster yang bisa dipakai, don’t have to worry too, ask Empo to build the 4th floor, dan itu akan menjadi “homebase” buat UKM Microsoft Golf kita..ha..ha..ha..

    UPH ? Let them play the real golf….they deserve it…

    Reply

  19. Agung
    Apr 13, 2008 @ 09:29:13

    wew…!!!
    UKM DotA aja ga jadi2,yang pemainnya ribuan di Binus.
    padahal pernah ada yang usulin dan nekad mao daftar.
    (denger2 kabarnya sih gitu).
    gimana Microsoft Golf??
    hehehehhehehehehhehe…!!
    agak pesimis saya Pak.

    kalo ide saya,dari pada Microsoft Golf,
    mending mini golf aja Pak.
    kayak PutPut Golf itu lho.
    hehehehhehehe..!!!
    kalo gitu kan,di aula juga bisa.
    hehehehhehehehehehe….!!!!
    tapi jangan saya ketua UKMnya yah Pak.
    hehehehehhehee…!!

    Reply

  20. tridjoko
    Apr 13, 2008 @ 23:59:02

    –> Agung : kalau saya maunya jadi Ketua UKD (Unit Kegiatan Dosen, bukan UKM Unit Kegiatan Mahasiswa). Yah…UKD Enthik atau UKD Gobak Sodor…boleh juga…

    I know you’re wondering what is Enthik or Gobak Sodor, ask your father who has stayed in Yogya for a long time during his study or ask Mr. F.X. – he must know them…

    Jika mbuat UKD, pasti nggak perlu lapor ke Pak Besar atau Pak Paulus…ha..ha..ha…

    Reply

  21. Agung
    Apr 14, 2008 @ 12:55:45

    hehehehehehehe…!!!
    hrsny namanya jgn cm UKM donk.
    tapi ada jg UKMD yg bisa juga buat dosen n mahasiswa.
    nanti saya tanya Papa saya ato Mr. FX deh.
    hehehehehehe..!!
    Pak,pas hr minggu kemaren saya makan di pecel madiun yg di BSD.
    asik tenan.
    hehehehehehhee..!!
    ternyata yah Pak,
    kalo ke sana hari minggu harus pagi2.
    paling siang jam 11 (pecel madiun buka jam 10).
    kalo ga,bisa antri panjang.
    dan kalo uda rame gitu,jam 2 juga uda habis makanannya.
    kalo hari biasa sih lebih santai.

    Reply

  22. tridjoko
    Apr 14, 2008 @ 18:34:29

    –> Agung : Wah…pecel Madiun di BSD emang toppp bangetttt ya ? Kok sampai antri panjang kayak gitu ?

    Jangan-jangan mending anda jualan pecel aja yang laris manis, daripada berbisnis biofuel yang belum pasti laris…he..he..he..

    Lokasi tepatnya dimana sih, ntar aku bisa coba sama keluarga. Dari rumah saya ke BSD kalau ngebut..ya paling cuman 45 menit, kalau santai yah 55 menit lah..

    Emang Agung makan pecel BSD itu sengaja untuk melengkapi laporan “Kuliner Tangerang” ya ?

    Reply

  23. Agung
    Apr 15, 2008 @ 18:44:15

    kalo dari tol,Bapak ambil exit yang paling terakhir di BSD.
    soalnya di BSD ada 2exit tol.
    jadi ambil yang ampe mentok.
    hehehehehehe..!!
    nah,abis keluar tol Bapak ambil arah pamulang/ciputat/puspitek.
    nah,nti ada di sebelah kanan tulisan pecel Madiun.
    nanti kalo saya sempat,saya antar deh Pak.
    just send me an SMS.
    hehehehehheeh…!!

    semua yang saya tulis itu,sebelomnya saya “cobain” dulu.
    hehehehehehe..!!!
    makanya lama tuh jadinya post ttg kuliner di tangerang.
    hehehehehehehe…!!

    Reply

  24. Agung
    Apr 15, 2008 @ 18:46:15

    kalo dari tol,Bapak ambil exit yang paling terakhir di BSD.
    soalnya di BSD ada 2exit tol.
    jadi ambil yang ampe mentok.
    hehehehehehe..!!
    nah,abis keluar tol Bapak ambil arah pamulang/ciputat/puspitek.
    nah,nti ada di sebelah kanan tulisan pecel Madiun.
    nanti kalo saya sempat,saya antar deh Pak.
    just send me an SMS.
    hehehehehheeh…!!

    semua yang saya tulis itu,sebelomnya saya “cobain” dulu.
    hehehehehehe..!!!
    makanya lama tuh jadinya post ttg kuliner di tangerang.
    hehehehehehehe…!!

    Reply

  25. tridjoko
    Apr 15, 2008 @ 19:53:48

    –> Agung : Ya deh..ntar aku cobain.

    Nggak usah repot-repot nganter, biasanya saya sama keluarga kalau mau makan spontanitas kok. Yuk kita makan, dimana ? Di sana, lalu starter mobil…hrrrrmmmm…kita berangkat..

    Kalau pakai dirancang-rancang malah berantem, yang satu mandi dulu kek, yang lain motong rambut dulu kek, yang satunya lagi ngasih makan kucing dulu kek, yang satunya lagi perlu ngelap mobil dulu kek…dsb…

    Jadi, thanks infonya. Berarti persis dengan arahan yang pernah diberikan oleh Kompas dulu…

    Reply

  26. Agung
    Apr 15, 2008 @ 21:03:12

    ooo..!!
    ok..!!
    selamat mencoba deh.
    tapi gampang lah Pak,ke situnya.
    kalo hari minggu mending berangkat sekitar jam 9an.
    jadi kira2 jam 10 uda sampe.
    jadi ga ngantri deh,dan bisa parkir di dalam.
    kalo soal rasa sih,Bapak cobain aja deh.
    saya kurang ngerti pecel yang maknyus ama ngga bedanya apa.
    hehehehehehehe..!!!
    tapi kalo ternyata pecelnya ga tll madiun dan ga maknyus,jgn protes ke saya yah Pak..!!
    hahahahahahhaa…!!

    Reply

  27. simbah
    Apr 21, 2008 @ 10:03:34

    Dik Yon,…di Mediyun sebetulnya warung makan sangat-2 banyak dan rata2 enak. Cuman yg agak disayangkan adalah soal kebersihan. Istri saya suka mengkritisi hal ini dan protes sama saya. Katanya aku suka komplain soal kebersihan cara mengolah makanan di rumah tapi kok suka marung di luar yg kebersihannya diragukan. Kalo kupikir-pikir, benar juga ya…istriku ini. Nah ini juga…meski di setiap ruas jalan terdapat warung makan, tapi yg namanya Toko buku, sangat-2 kurang. Kadang aku berpikir gimana ya kalau aku mendirikan Toko Buku saja, dijamin pasti laris..maniss..paling tidak sekelas sama Gramedia gitu..Dik Yon, berminatkah…?

    Reply

  28. tridjoko
    Apr 21, 2008 @ 13:11:48

    –> Simbah : ya brarti bukan restorannya yang kurang bersih, tapi anda yang sering komplain ke istri…ha..ha..

    Kalau isteri saya masaknya enak, tapi saya lebih suka beli makanan dari luar soalnya kalau isteri saya masak, seluruh peralatan dapur (piring, panci, mangkok, sendok, irus, dsb) dipakai semua. Pada akhirnya karena isteri sudah capek masak, aku yang disuruh nyuci piring. Lha ini…yang tidak enak !!

    Toko Buku di Madiun memang kurang mas, tapi kemarin waktu ke Madiun saya sempat bertamasya naik becak lewat toko buku “Amien” yang ternyata rupanya masih kayak jaman baheula.

    Gramedia perlu ada di Madiun ? Kalau memang perlu, pasti Gramedia atau Gunung Agung atau Kharisma sudah datang ke Madiun. Tapi karena “permintaan kurang”, mereka belum buka di Madiun…

    Sebenarnya yang paling saya keluhkan adalah kurang Perpustakaan di Madiun. Dulu waktu SMP dan SMA, kalau saya lagi kesepian dan tidak tahu apa nak dibuat, aku membenamkan diri di Perpustakaan Kotamadya Madiun yang terletak di sebelah sayap utara Bioskop Lawu. Sayang “situs sejarah” itu sekarang sudah disapu sama yang namanya Sri Ratu….

    O ya, kalau malam di teras Sri Ratu banyak anak-anak muda cowok main Breakdance ya….

    Reply

  29. simbah
    Apr 22, 2008 @ 11:27:11

    He..he…! aku jadi inget waktu masih nganten anyar, belum punya asisten..sama, habis masak ya repot ‘ngisahi’ peralatan. Makannya memang enak, tapi ‘ngisahinya’ lebih lama dari pada makannya…selain itu aku juga kebagian nyuci baju, lha yg ‘nyetrika’ baru beliaunya…
    Perpustakaan,..yg ada sekarang cuman perpus buat anak2 kecil, isinya ya komik2. Kalau perpus Kotamadya sekarang pindah di belakang stadion wilis, persis disampig GOR, saya belum pernah masuk, kalau dilihat dari luar kayaknya kurang menarik, lagian sepiii…gak tau koleksi buku2-nya gimana….coba nanti tak iseng-2 singgah Dik Yon.
    Iya di Sri Ratu memang sering ada acara seperti itu, sponsornya ya ganti2 yg paling sering dari Telkomsel, Indosat atau XL gitu..kalau di Stadion sering dari bakul sepeda motor…

    Reply

  30. tridjoko
    Apr 22, 2008 @ 13:30:37

    –> Simbah : ya udah mas, cek aja ke Perpustakaan Kota Madiun yang ada di dekat stadion itu. Ya nggak usah disiapkan waktu khusus, pas iseng-iseng aja sambil jalan beli makanan..mampir sebentar..

    Siapa tahu situasi Perpus itu cukup cozy dengan ruangan yang lapang, apalagi kalau ada AC-nya. Kalau masalah buku yang kurang, gampang lah. Tinggal kita menghubungi penerbit buku “Ayat Ayat Cinta” sama “Laskar Pelangi” minta copy buku barang 5 buah masing-masing masak nggak dikasih. Orang ini untuk kepentingan masyarakat luas. Kan mereka sudah make profit buaaaanyaaak sekali…

    Kalau nggak kita hubungi aja http://www.kickandy.com minta buku buat Perpus Kota Madiun itu.

    Setuju nggak mas ?

    Saya makelarnya, anda yang jadi Pimpronya..

    Ok ?

    Reply

  31. simbah
    Apr 22, 2008 @ 18:08:32

    Oce….oce…..

    Reply

  32. tridjoko
    Apr 22, 2008 @ 21:07:45

    –> Simbah : ya mas, ditunggu kabarnya ya…

    O ya, besok Kamis ini client saya dari Madiun datang ke Jakarta. Jika everything is ok, dan kita bisa deal, maka mungkin sebentar lagi saya akan ke Madiun lagi. Kemungkinan besar bulan Mei nanti….

    Seminggu lalu aku wis ketemu Prihadi di Jakarta, mudah-mudahan nanti di Madiun sampeyan pas libur ke darat alias dadi buaya darat…ha..ha..ha..aku bisa ketemu. Yah, sekedar makan-makan tahu petis di warung tenda sekitar alun-alun…hi..hi…

    Reply

  33. simbah
    Apr 23, 2008 @ 14:27:46

    Iya Dik Yon,…tempo hari saya dapat SMS

    Reply

  34. simbah
    Apr 23, 2008 @ 14:46:09

    Iya Dik Yon,…tempo hari saya dapat SMS dari dr. Heman Prasetyo, III-pas-3. Bahwa ikatan alumni SMASA-75, singkatan dari SMA satu membutuhkan donasi sekitar 6 jeti utk disetorkan ke SMASA, sudah terkumpul 5 jeti. Aku ikutan nyumbang dikit. Ditujukan ke rekeningnya Reni Anggraini yg jadi dosen di Malang, juga isterinya Haris Pamuncar, III-pas-1 yg juga Dosen di Malang. Atau rekeningnya Hermin Istiawati yg jadi Guru di SMASA juga, Ibu Gurunya anakku, pegang pelajaran Kimia. Ketua alumni 75 adalah si Kenyung yg jadi juragan semen di Kediri. Kenyung yg nama aslinya Purwanto kalo gak salah dari III-pas-2 sekelas dgn andakah..?
    Dan yg jadi penghubung dan selalu ikut rapat komite adiknya Djoko Priyono, Toko Mitro. Namanya lali….
    Aku di Madiun insyaAllah tgl.3 -13 Mei dan tgl 14 berangkat lagi ke Laut…

    Reply

  35. tridjoko
    Apr 23, 2008 @ 20:12:59

    –> Simbah : ya masalah jeti-jetian sayang mas tidak njelaskan apa maksud SMASA 75 nyumbang ke SMASA. Njur duwite nggo opo ? Opo dienggo membantu mahasiswa yang tidak mampu ? Opo priye ?

    Ya mas, aku ingat si Purwanto. Tapi sayange neng III IPA-2 ada 2 Purwanto, yang satu dipanggil Othok (anak SMP 2) dan satu dipanggil Kenyung ya ?

    Adike Djoko Priyono Toko Mitro apa sing jenenge Susi ? Tapi dia kan angkatan 76 atau 77…

    Aku rung jelas kapan ke Madiun, lha wong rapate lagi sesuk esuk (Kamis 24 April). Nanti aku beritahu lagi…

    Ya tolong mas, jeti jeti mau dienggo apa. Kudu jelas ndisik. Neng mung 1 jeti, pas dokter Herman kan tinggal nyuntik beberapa pasien…jusss….jusss….wis oleh 5 jeti…hi..hi..hi…

    Reply

  36. simbah
    Apr 26, 2008 @ 08:35:05

    Iya….yah…adike Djoko Priyono, Toko Mitro nek gak salah angkatan 80-an Cah Lanang, sing ditunjuk sebagi perwakilan Alumni SMASA. Kalo yg saya tahu waktu ikut rapat komite penerimaan siswa baru tahun lalu, donasi itu digunakan utk membantu siswa ‘smasa’ yg pinter tapi dana dari orangtua siMurid tidak mencukupi. Seperti mau masuk PT guna membayar uang pangkal atau uang gedung dsb.
    Sewaktu reuni th 2006 dulu, dari alumni terkumpul 7buah computer dan beberapa rupiah utk mengecat gedung sekolah ‘smasa’.
    Memang waktu itu undangan tidak disebar per orang, tapi woro-2 lewat radio ‘suara-madiun’ dan ketua panityanya pak Bambang Blandong, juragan minyak yg punya SPBU, alumni th-1969. Pak kepala sekolahnya sebenarnya tidak mau menerima ‘uang-tunai’, yg diharapkan sudah berupa ‘barang’. Katanya utk menghindarkan penyimpangan. Nah peruntukkannya itu saya belum jelas benar, wong katanya yg diminta seluruh alumni 75. Wektu iku aku nyumbang rong atus repis, yo…nggo ngguyupi. Mengko coba tak tlesih2 maneh. Memang segalanya kudu jelas, bener njenengan…

    Reply

  37. tridjoko
    Apr 26, 2008 @ 09:54:03

    –> Simbah : wooo…tak kira adike Djoko Prijono sing jenenge Susi (SMASA 76 atau 77), yen iku aku isih ngweruhi…

    Yo wis nek ngono sing penting Proposalnya bagaimana, pengeluarannya seperti apa, semuanya harus transparan. Asal transparan dan penggunaannya jelas, mau kok kita melakukan ASR (Alumni Social Responsibility) ha..ha..ha…

    Lha kalau perlu proposalnya ditulis di website, atau minimal di Blog saya ini. Nha, nanti penggunaan uangnya juga ditaruh di website atau di Blog. Soalnya biar semuanya jelas, dan nanti sebaiknya juga nyumbang ke SMASA-nya berupa “natura” saja…

    Di Jakarta, sing aku sering ketemu saiki Mas Pri (Prihadi Setyo D.) dan kadang-kadang Witono Basuki..

    O ya mas, bulan Mei kayaknya aku pasti ke Madiun. Tanggal pasti durung jelas, masih dirundingkan. Yang jelas tanggal 27-29 Mei aku mau ke Makassar karena dimintai tolong untuk mengadakan FGD (Forum Group Discussion) tentang “Transportasi Perkotaan” dengan seluruh stakeholders yang ada di Makassar sana…

    Reply

  38. simbah
    Apr 26, 2008 @ 15:11:23

    Ya…matur nuwun, kalo ketemu sama Prihadi salam saja…wajahnya aku inget lamat2. Kalo Witono Basuki, juga nitip salam. Ketemu terakhir kalo gak salah th-89 waktu dia menikah.
    Yo…..wis nanti kalau proposalnya dah dapat tak nunutkan di sini …..dan mudah-2 an pas neng Mediyun, aku neng ngomah…

    Reply

  39. Yulis
    Jul 18, 2008 @ 03:46:18

    Maaf nich ikutan nimbrung. Sebenarnya saya lagi browsing tentang pecel Madiun yang paling enak. Saya pribadi penggemar pecel sejak kecil sampai sekarang. cuma masalahnya karena saya tinggal di US saya beli pecelnya online yang mereknya karangsari dari Blitar itu trus suami saya tidak suka pecel padahal dia doyan dan demen banget sama soto, rawon, gule, kare, nasgor pokoknya semua makanan jawa dan indo dia lahap. Tapi sayang dia tidak suka nasi pecel yang menjadi makanan favoritku. Kalo ada info dimana ya di daerah Madiun, Surabaya, Malang, Jogja ato mungkin Bali yang terkenal nasi pecelnya. Karena insya Allah bulan Desember mo berkunjung ke kampung halaman di Bendo dan sekalin jalan jalan ke semua tempat yang saya sebutin di atas. Jadi mohon deh kalo ada info boleh dong saya dibantu biar suamiku doyang pelcel juga.

    Thanks

    Reply

  40. tridjoko
    Jul 18, 2008 @ 10:18:07

    –> Yulis :

    Bilang aja ke suami, “Pecel is the healthiest vegetarian food which prolongs your life by 50%”. Pasti deh suami si mbak jadi seneng makan pecel…hehe… (Buktinya, orang Madiun jarang sekali yang meninggal muda, kebanyakan bisa bertahan sampai kakek-nenek)…

    Atau, bikin sambel pecel sendiri ala Amerika yang dulu saya dan teman2 sering buat yaitu : peanut butter diberi tabasco sama soya sauce, rasanya pasti masih “Amerika” dan tidak ada alasan nolak “makanan Amerika” ya nggak ?

    Nasi pecel paling enak so pasti di Madiun, apalagi pas musim panen “kembang turi” di bulan-bulan Maret sampai Agustus. Di luar musim kembang turi, rasa pecel tidak terlalu pas…

    Kalau di Madiun, pusat pecel yang enak di sepanjang Jalan Cokroaminoto 1-2 blok di sebelah selatan Kelenteng Madiun. Yang paling terkenal disebut “Pecel Pojok” tapi anehnya tidak ada tulisan “Pojok”-nya dan letaknyapun tidak di pojok !

    Kalau di daerah Jakarta pecel Madiun yang rasanya pas dengan rasa asli pecel Madiun ada di Taman Mini (di sebelah kiri dengan stasiun kereta gantung), dekat dengan Pintu II yang kalau hari Minggu banyak didatangi oleh orang2 Jepang (selain pecel juga ada soto, rawon, bothok, dan garang asem). Atau di Serpong, dari Tol JORR Rambutan-Serpong, exit di Serpong (ujung tol) lalu belok kiri sekitar 2-3 km, warungnya ada di sebelah kanan (kalau weekend dijamin nggak bakal dapat tempat duduk)…

    Reply

  41. Yulis
    Jul 18, 2008 @ 22:10:36

    Pak Tri trima kasih ya informasinya soal pecel, Jadi bulan Desember- Jauari susah ya Pak cari kembang turi. Waduh … Kembang turi itu yang paling nganenin ee. Yah mungkin lain kesempatan pulangnya antara bualn Maret – Agustus nyari kembang turi he he. Baik Pak Tri terima kasih banyak atas semuanya dan take care and wish you and your love one the best.

    Reply

  42. dhani dian
    Mar 31, 2009 @ 18:10:38

    mas, sekarang di madiun ada yoko buku baru loch! namanya TOGAMAS. sekarang togamas udah masuk di madiun. tepatnya di jalan mastrip no 54. bekasnya supermarket orriza itu.

    Dhani Dian,
    Wah..seneng denger kabar Toko Buku Togamas sudah masuk Madiun. Kabarnya waktu itu, justru Gramedia duluan yang bakalan masuk. Ternyata kalah sama Togamas ya…
    Ntar deh kalau saya pulang kampung saya akan ke Togamas yang di Jalan Mastrip. Tapi, sebelah mana itu ? Saya tahunya Jalan Dr. Sutomo, Jl. Kolonel Marhadi, Mojopurno, Nglames, Njoyo…hehe..

    Reply

  43. Dhani Dian
    Apr 11, 2009 @ 00:59:33

    togamas sekarang udah di jl. mastrip dekatnya stadion wilis. depannya kantor diknas madiun. ga terlalu besar sih. buku juga masih dalam tahap pengisian. tapi sekarang lagi obral. setidaknya warga masiun ga usah jauh2 cari buku dengan harga murah. thanks’s to togamas

    Dhani Dian,
    Trims infonya tentang Togamas di Madiun. Eh..dulu jalan di depan Stadion Wilis itu namanya Jalan Panglima Sudirman waktu saya SD. Pas saya SMA jalan depan Stadion Wilis itu diganti menjadi Jalan Kolonel Marhadi, tapi pas pulang ke Madiun beberapa tahun yang lalu sudah diganti lagi menjadi Jalan Mas Trip…saya heran lho…

    Kalau Jl.M.T. Haryono sebelah timur SMA 1 menuju Ponorogo itu dulu waktu saya SD namanya Jalan Pattirajawane. Ketika ada korban G30S yang orangtuanya tinggal di jalan itu, akhirnya diganti menjadi Jalan M.T. Haryono…

    Reply

  44. Rina
    Jun 02, 2009 @ 11:16:04

    kangen juga dengan kehidupan madiun. sudah hampir 9 tahun aku tinggalkan. Walau kadang pulang tapi hanya sekedar “endang”.
    Semoga saja bisa kembali ke kehidupan tenang dan nyaman jauh dari problema dan masalah di kota besar

    Mbak Rina,
    Monggo mawon mbak….yen wonten wekdal nggih Mediyunipun disambangi….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 302 other followers

%d bloggers like this: