Menyelesaikan masalah tanpa masalah

Saya mulai mengenal Pegadaian (Pawn Shop) ketika saya menemui masalah dengan isteri saya. Pada suatu hari saya perlu sekali uang untuk membayar rekening, saya lupa rekening apa. Isteri saya yang saya tahu punya duwit, waktu saya pinjam, dia malahan marah-marah. Akhirnya, dengan sangat terpaksa, saya pergi menggadaikan handphone Nokia saya ke Pegadaian Salemba yang terletak persis di ground floor dari Pasar Kenari itu. Tapi itu sudah lama sekali, sayapun sudah lupa kapannya…

Ternyata di Pegadaian Kenari itu banyak sekali mahasiswi UI yang bening-bening dan kelihatan well-educated sekaligus well-off itu, menggadaikan perhiasan emas untuk mendapatkan cash secara cepat. Beberapa pegawai pria menggoda mbak-mbak itu dan salah satunya dengan tersenyum berkata, “Iya saya suka ke sini karena katanya ini tempat menyelesaikan masalah tanpa masalah, seperti bunyi iklan itu”…

Jawaban yang cerdas, bukan ?

Sayapun menganggap Pegadaian itu masih sebuah tempat yang nyaman untuk menyelesaikan masalah tanpa masalah, sampai kejadian pagi ini…

Kemarin waktu saya pulang siang dari kantor dan seorang teman nanya, “Mau kemana ?”. “Ke pegadaian”, kata saya. “Lho, ngapain menggadaikan barang ?”. Saya jawab, “Iya terpaksa waktu itu ada keperluan mendadak dan kebetulan saya mendapat pin emas dari kampus tempat saya mengajar. Maka cara terbaik untuk menguji seberapa bagus pin itu, adalah menggadaikannya”. Kawan itupun manggut-manggut…

Pagi ini setelah antri yang sangat lama di Pegadaian yang rupanya menempati sebuah kantor baru, nama sayapun dipanggil setelah menunggu barang 45 menit. Waktu itu ada 3 orang yang berdiri di depan kasir: satu orang menggadaikan perhiasan dan baru menerima uang gadai, satu orang memperpanjang masa gadai dan menerima surat baru, dan yang terakhir saya yang akan menggambil perhiasan..

“Kalau mau ngambil barang harus menunjukkan KTP”, kata mbak kasir itu sambil memandang ke arah lain. Lama saya tidak sadar kalau ia bermaksud berbicara dengan saya. “Pak, mana KTP-nya ?”, tanya mbak kasir itu tetap tanpa memandang mata saya. “Lho mbak, apakah mbak berbicara dengan saya ? Mengapa mata mbak tidak menatap mata saya ?”, protes saya sambil mengingat briefing ke kami karyasiswa yang akan sekolah ke Amerika bahwa ngomong dengan orang itu harus melakukan eye contact

Mbak kasir itupun membela diri, “Pak, kasir memang tidak diperbolehkan memandang mata pelanggan. Di bank-pun demikian pak. Bahkan di Bank para kasirnya diajar khusus untuk bagaimana tidak menatap mata pelanggan”.

Sayapun mau tereak keras-keras dan mengatakan, “Whhhaaaaaaatttttt ?”

Dua orang pegawai lain yang mengapit kasir itupun menatap mata saya sambil meminta maaf, “Maaf pak, memang di sini kasir tidak boleh menatap mata pelanggan karena takut kena hipnotis”..

Sayapun tersenyum kecut sambil bilang, “Lha kalau takut dihipnotis nggak gitu lah caranya. Kan masih banyak cara lain : CCTV, berdoa doa yang mujarab untuk menghilangkan hipnotis, tanya kyai yang bisa, kan banyak kyai di luar sana ?”..

Sayapun mengelus dada dalam hati. Pegadaian bunyi iklannya adalah “Menyelesaikan masalah tanpa masalah”. Kemudian di dindingnya banyak ditempel penghargaan kategori ini, kategori itu, antara lain dari ICSA (Indonesian Customer’s Satisfaction Award) dari majalah Swa..

Tapi kalau menatap mata pelanggan aja nggak mau, apakah masih ada artinya iklan yang kata-katanya begitu semu, dan penghargaan semu dari ICSA itu ?

Sayapun pengin berkata keras, “B U L L S H I T !!!!!

[Untungnya semua barang saya sudah tertebus. Lain kali, kalau saya mau meminjam uang, saya lebih suka ke Koperasi kantor saya, sekali tanda tangan dan beberapa hari kemudian sudah masuk tabungan, dengan bunga kecil, dan yang paling penting…clerk yang nangani simpan-pinjam dengan sepenuh hati dan senyum simpul akan dengan ramahnya melayani saya…]

 

10 Comments (+add yours?)

  1. simbah
    Apr 20, 2008 @ 16:53:49

    Yang jadi Masalah,…tidak ada yg dapat kugadaikan. Rumah kredit, mobil (dulu) juga kredit. Masak baju bisa digadaikan..? Mas-2 an, berlian gak punya….lho..?
    Berbahagialah yg bisa menggadaikan….asal jangan ‘kugadaikan cintaku’, lagunya almarhum Gombloh…

    Reply

  2. tridjoko
    Apr 20, 2008 @ 22:33:23

    –> Simbah : istilahku bukan “menggadaikan” mas, soalnya kok seperti butuh duwit banget…malu aku. Aku lebih suka istilah “mencari tahu seberapa berharganya pin yang pernah diberikan oleh kampusku kepadaku”…

    Begitu lho mas !

    Maklum pegawai negeri, bulan April sudah mau selesai tapi uang proyek belum satu senpun keluar…

    He..he..he..

    Reply

  3. simbah
    Apr 21, 2008 @ 09:25:23

    He…he… sorry, tapi jangan kuwatir,…pensiunan PNS sekarang tidak seperti PNS taon 60-an. Ibuku saja sekarang yg pensiunan guru SD dgn ruang III-a saja sebulan bisa terima 1,5 juta hidup di Mediyun sejahtera. Lah Dik Yon…? sama dgn pensiunan panglima lho..! nanti..
    Mediyun kota pensiunan, tapi saya perhatikan pensiunan paling tinggi pangkatnya kalo tentara ya Brigjen AD gak tau kalo PNS dan kelihatannya sejahtera…kecuali kalau masih punya tanggungan, seperti anaknya sekolah belum selesai. Saya sih sebetulnya pengin pensiun saja…dah penat, tapi mengingat 2 anakku masih membutuhkan ragad ya.. tak bela-2in…he…he…

    Reply

  4. tridjoko
    Apr 21, 2008 @ 12:59:18

    –> Simbah : sebenarnya yang sering ngajari aku “menyelesaikan masalah tanpa masalah” adalah mbakku yang nomor dua, yaitu mbak Endang itu..

    Dia bilang, kalau ada uang lebih, cobalah beli sejumput perhiasan (3 gram maksudnya !). Nah kalau lagi “musim kemarau” perhiasan itu bisa “disekolahin”…ha..ha..ha…

    Ya mas, pantas saja pangkat pensiunan tertinggi yang tinggal di Madiun adalah Brigjen. Soalnya kalau Mayjen (setara Pangdam), sudah bisa beli rumah di Yogya, Jakarta, atau Bandung he..he..he.. Sedangkan kalau Letjen atau Jenderal, ya sudah berumah di kawasan Bambu Apus dekat rumah saya…ha..ha..ha.. (1 blok dari Mabes TNI)…

    I ya mas, uang pensiun Rp 1,5 juta cukup banyak lho, terutama kalau rumahnya nggak banyak listrik, nggak banyak nelpon, dan makannya pecel terus…he..he..he..

    Yang penting, apa yang kita dapat kita syukuri. Mengenai anak, saya selangkah lebih maju dari sampeyan, soalnya Juli 2008 ini anak saya yang bungsu sudah lulus dari ITB…

    Reply

  5. simbah
    Apr 22, 2008 @ 11:02:22

    Ehh.. sory Dik Yon, salah kutip, bukan rp.1,5 tapi 1,2 jut saja rupanya..tapi memang yah namanya pinisepuh, listrik paling kulkas sama tv saja yg mungkin tagihannya agak besar.
    Kalau menghadapi pensiun ini Aku agak ngeper juga Dik Yon. Kenapa ? menurut yg saya baca di tulisannya Evelyn G Massaya di Kompas. Umur 30-an seharusnya sudah mulai menabung utk persiapan pensiun nanti. Lah Aku nabung baru akhir2 ini saja. Itupun setelah tak-itung2 dhewe..lha artikelnya saja aku baru baca, coba kalau masih di 30-an itu, wah kayalah aku. Tapi nggak juga ding..waktu itu masih ngredit rumah, kendaraan…makan sehari-hari…ya..habis..jan mepet-pet..
    Kadang orang menemuli kesulitan karena ‘ketidak-tahuan’, makanya orang-tua saya dulu sangat marah kalau tahu aku gak sekolah, ‘nylenthet’ bin ‘mbolos’…wah aku disabeti pake ‘sulak’ sampai badanku merah2. Itu gunanya rupanya orang harus sekolah.
    Iya Dik Yon, umur 28 aku menikah, punya anak baru setelah umur 31, memang lambat ada kendala..isteriku waktu itu kerja di Jkt, naik turun bis kota, kecapean. Setelah keluar kerja baru dapat hamil. Lah adiknya menyusul 5th kemudian. Idealnya memang kalau pensiun sudah gak ngragadi sekolah lagi ya…

    Reply

  6. tridjoko
    Apr 22, 2008 @ 13:21:39

    –> Simbah : ya wis mas, gak usah disesali lah, yang lalu biarlah berlalu…;-)

    Emang termasuk saya sebelumnya kurang ngeh dengan apa yang dikatakan oleh para financial planner macam Elvynn G. Masyasya atau Safir Senduk. Dulu waktu jaya-jayanya, ya memang waktunya untuk berjaya : enjoy life, makan enak, tidur nyenyak, keliling Jawa, no worry…

    Saya sebenarnya salah ngetung dikit, kalau cuman send my daughters to college saya bisa lah membiayai seadanya. Tapi waktu mereka nanti sudah selesai, ternyata tidak ada yang bisa diwariskan kepada mereka. Karena saya tidak punya harta, punyanya buku-buku dan kucing-kucing…

    Ya wis, kalau gitu. No hurry, no worry. Saya bagi aja buku-buku saya jadi dua, satu bagian untuk anak yang gede, satu bagian lagi untuk anak yang kecil…

    Tidak itu saja. Saya punya dua mbok-mbokan kucing. Nanti biar si Mboke ikut Dessa, dan si Putih ikut Ditta….he..he..he…

    Empat tahun lagi aku wis pangsiun sebagai pangreh praja. Tapi sebagai Cikgu di Binus, aku masih luaaammmaaaa, ya sekuatnya lah. Till the end of time lah….;-)

    Reply

  7. simbah
    Apr 22, 2008 @ 18:05:41

    Iya…ya setuju…..nikmati saja seperti lagu yg diulang nyanyikan oleh pak Guru bahasa inggris kita dulu pak Slamet Sudibyo…quesera…serra it will be….will be…. hah bener gak ejaannya..??

    Reply

  8. tridjoko
    Apr 22, 2008 @ 21:03:55

    –> Simbah : yang bener….Que serra serra, que will be will be, will be….

    Artinya sama dengan seperti judul film “Kun Fa yakuun..waliyaddin….”

    Apa yang terjadi, terjadilah..

    Ya mengalir seperti air ini. Orang hidup itu kan sak derma nglakoni…lha nek dadi wong lanang kuwi, sak derma nglakeni….he..he…he…

    Reply

  9. simbah
    Apr 24, 2008 @ 11:57:22

    Ha…ha…,yang kalimat terakhir…. ini hasilnya kalau ditinggal mBak Susi kelamaan…..???

    Reply

  10. tridjoko
    Apr 24, 2008 @ 13:23:02

    –> Simbah : lha iya…ha..ha..ha..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: