Play the hard ball

Kemarin waktu naik mobil mau ke kantor, di sekitar daerah Cikini-Gondangdia mobil saya dipepet berkali-kali sama taksi yang merknya sama dengan yang dipakai di acara “Taksi Selebriti”-nya Oom Farhan itu..

Kalau taksi sudah merk lama dan cukup terkenal mestinya perilaku pengemudinya sudah sangat predictable, baik oleh yang menumpang taksi itu maupun bagi pengendara mobil lainnya..

Jadi ceritanya di jalan belok setelah stasiun Cikini arah Menteng, saya mau belok kiri tapi akan langsung ngambil lajur kanan karena 30 meter lagi akan langsung belok kanan, lalu 10 meter lagi belok kiri dan 100 meter lagi belok kanan..

Nah ini taksi mepet terus, saya mau belok kiri langsung kanan tidak bisa karena dia tetap melajukan taksinya persis di samping mobil saya. Saya mengalah sebentar dan ambil lajur kanan setelah belok kiri. Begitu mau belok kanan lagi, ini taksi juga menghalangi jalan mobil saya. Begitu pula kali yang ketiga, saya mau belok kiri dihalangi lagi. Jadi total taksi ini telah memblok jalan saya tiga kali !

Menurut peraturan F1, pembalap di depan hanya boleh melakukan 1 single move, baru disebut “fair”. Kalau seorang pembalap di depan melakukan move berkali-kali di depan pembalap lainnya, maka ia oleh marshall atau steward pertandingan bisa dipanggil dengan radio, “Car No. 11 illegally blocked another car, 10 second drive thru penalty”..

Nah, karena ini bukan di area F1 tapi di jalanan biasa, yang saya lakukan adalah melesat cepat dan mengejar taksi itu, memotongnya dengan keras di suatu jalan lurus, dan menempatkan mobil saya persis di depan taksi itu. Jika pengemudi taksi itu mengira ia satu-satunya murid Lewis Hamilton di Jakarta, ia pasti salah. Saya adalah murid resmi Michael Schumacher di jalanan Jakarta !

If you play a hard ball, then I’ll play the hard ball too !!

Itu rumus yang saya anut dari dulu…

Sebagai orang yang ditakdirkan punya fisik tidak meyakinkan, alangkah malangnya jika jiwa saya tidak meyakinkan juga. Jakarta adalah kota yang besar, dengan “clock rate” yang jauh lebih kencang daripada kota-kota lainnya di Indonesia, sehingga akan banyak masalah ditemui jika kita jalan dari rumah, ke kampus atau kantor, dan balik ke rumah lagi..

Motto saya untuk menutup kekurangan fisik saya adalah, “Takut adalah sama dengan mati !”. Oleh karena itu, dalam situasi apapun saya berusaha tidak takut dengan apapun, karena rasa takut sebenarnya hanyalah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa..

Bukan berarti kita akan hidup secara “brangasan” dan “ugal-ugalan”, tapi sebenarnya kita harus bisa hidup di suasana macam apapun..

Kembali ke si sopir berusia 45 tahun dengan kulit hitam legam, perawakan kecil itu. Mestinya ia sadar, membawa taksi untuk mencari makan, apalagi menggunakan taksi yang dipakai Oom Farhan dalam acara “TV Selebriti” harus agak hati-hati. Jangan disamakan dengan nyopir taksi lain yang “kurang bermerk”…

Alangkah sedihnya jika pemilik taksi itu tahu kalau taksinya yang sudah bermerk dipakai mengemudi secara ugal-ugalan. Dalam Manajemen Resiko kita tahu, berarti perusahaan taksi itu tidak melakukan rekrutmen sopir dengan benar, dan bila ada masyarakat komplain akan sangat merugikan “nama” perusahaan taksi tersebut..

Makanya di Jakarta ini kalau terpaksa naik taksi, saya akan memilih dua warna taksi saja. Yang berwarna biru muda, atau yang berwarna putih dengan tanda taksi kuning dengan tulisan “taksi” berwarna biru. Pengemudinya ramah-ramah dan di jalanan jarang kita temui pengemudi taksi dari kedua perusahaan taksi itu mengemudi dengan ugal-ugalan..

Hhhmmm…sudah lama saya tidak punya rasa marah seperti ini…

 

31 Comments (+add yours?)

  1. Agung
    Apr 05, 2008 @ 16:37:34

    wah….!!!!
    ga nyangka deh.
    berarti bener donk Pak,yang Bapak bilang,kalo nyetir selalu di atas 120?!
    hahahahahahahha..!!
    ternyata orang “pendendam bringas” di jalanan ga cuma saya dan Papa saya.
    ternyata Bapak juga.
    hehehehehehehehehe….!!!!

    Reply

  2. simbah
    Apr 05, 2008 @ 18:46:40

    Coba…, sekali-kali bawa Gaz Dik Yon. Inget kan? Jeep agak panjang bikinan Rusia itu. Gak ada yg berani ngalingin….dah….he..he..

    Reply

  3. tridjoko
    Apr 05, 2008 @ 21:38:40

    –> Agung : makanya di kelas saya selalu bilang kepada mahasiswa saya, jangan sekali-sekali nelpon langsung ke hp saya, kalau cuman sms sih boleh. Alasannya, siapa tahu saya sedang nyopir di jalan tol yang most likely tidak bisa berlambat-lambat ria karena sudah mau telat masuk kantor atau ngajar, alias geber habis terutama kalau sedang menuju kantor. Kalau pulang sih agak santai lah, kan nggak ada lagi yang perlu dikejar…

    –> Simbah : iya mas..saya masih ingat Jeep Gaz bikinan Rusia yang dulu banyak dipakai tentara kita itu. Tapi kalau sekarang pakai Gaz, ya disalipin orang terus, kecuali mesinnya sudah diganti mesin Lexus 4000 cc turbo charger inter cooler..he..he.. Waktu saya masih pakai Jip Suzuki dulu, jarang sekali orang yang “mau persoalan dengan saya” di jalanan. Entah setelah saya nggak pakai Jip lagi, kok langsung orang suka motong depan mobil saya. Mobil saya yang kelihatannya ora ndayani sebenarnya bisa lari 140 km/jam lho !

    Untung saya dulu sekolah di Indiana, kalau sekolah di Texas motto mereka, “Don’t mess with Texas” (jangan bikin persoalan dengan Texas bung !!)..wah pasti sudah tambah ngaruh sama sikap saya sehari-hari (ada dosen di jurusan lain lulusan Texas, bawaannya ya masih seperti cowboy…hi..hi..hi…)..

    Reply

  4. simbah
    Apr 06, 2008 @ 21:12:52

    Di Jkt justru saya kira masih ada, karena termasuk mobil yg dilindungi, apa itu kepunyaan yg hobiest ngoleksi mobil2 antik. Dan mesinnya diganti mesin Kijang. Cuman orang-2 pada ngeri, karena katanya kalo sampe nyenggol kemungkianan kena tetanus lebih besar, besinya masih tebal dan asli, anti penyok, kecuali dimartil….he..he..

    Reply

  5. tridjoko
    Apr 06, 2008 @ 23:21:48

    –> Simbah : beberapa tahun yang lalu saya masih suka melihat Bung Krisbiantoro mengendarai Jip Gaz-nya yang berwarna hijau di jalan tol. Jip-nya ada tulisannya “Kebo Ijo”. Kira-kira 2 tahun yang lalu saya juga masih suka lihat mobil Jip Gaz dijual di Jalan Jatiwaringin. Saya pernah iseng-iseng nanya, wah harganya Rp 52 juta nggak kurang lagi !!!

    Wah, kalau mahal segitu, kalau saya punya duwit, aku lebih suka beli mobil Soluna ex Blue Bird yang cuman Rp 47 juta..

    Itu kalau punya duwit lho ! Yang jelas, duwit nggak punya, utang yang bejibun….”sampai buntet” menurut istilah Basiyo..

    Ha..ha..ha..

    Reply

  6. simbah
    Apr 10, 2008 @ 20:25:13

    Ha…ha….’Kirain’ yg naksir used car ex Bluebird Saya sendiri…rupanya ada tho? Iyah Dik Yon, saya lagi ngumpul2-in nih. Gerobak Saya dulu Suzuki Carry futura (mobil rakyat) th 92 dah dilego buat beli gubuk di Madiun, buat ngerayu anak2, saya kursusin nyopir. Hari-2 ini mereka nagih melulu:”Pak kapan beli boilnya kan dah punya SIM?”. Maklum dah 6 tahun gak punya mobil. Kemana-mana ya kendaraan umum kalo gak sewa. Mau kredit sayang, bentar lagi pensiun, takut susah nantinya. Ex Bluebird, kalo gak salah Nissan Cedric sekarang dapat ditebus Rp.12 juta saja. Dan Nissan Sunny juga sekitar itu, cuman iklannya sudah lama. Kira-2 masih ada stock gak ya..? Lama juga nih duit gak ngumpul-2…he…he..

    Reply

  7. tridjoko
    Apr 10, 2008 @ 21:18:36

    –> Simbah : iya mas Didiek, saya waktu itu ikut temen naksir Toyota Soluna ex Blue Bird, tapi kayaknya uang belum nyampai dan ada keperluan yang lain nih kebetulan..

    Nissan Cedric tuh Diesel lho mas..apa nggak susah ngerawatnya ?

    Sedangkan Nissan Sunny itu automatic, punya teman saya pernah mogok di tengah jalan dan nggak bisa didorong atau diapain. Akhirnya terpaksa manggil dereknya Nissan..

    Kalau untuk jalan-jalan di Madiun, mobil apa yang enak ? Bagaimana kalau Timor harga Rp 27 jutaan ex Blue Bird ? Body lebar, interior lebar juga, cuman kelemahan mesin cepat panas..

    Reply

  8. Agung
    Apr 11, 2008 @ 08:49:02

    kalo mobil murah.
    coba aja mazda interplay (thn 90-92) kira2 20jtan.
    mazda vantrend juga kira2 segitu.
    panther thn 94 juga kira2 35jutaan.
    paling ga merek2 seperti mazda dan isuzu itu perawatan lebih mudah,dan kualitas mesin uda terjamin.
    kalo tertarik bisa hubungi saya.
    hehehehehehehehehhehehehe…!!!!

    Reply

  9. tridjoko
    Apr 11, 2008 @ 10:01:38

    –> Agung : trims infonya, biar bisa dibaca sama Simbah di Madiun, yang mungkin mau beli “kereta Jepang” …ha..ha..

    Selain Agung, di kantor saya juga ada teman yang hobbynya mensupply mobil tipe apapun bagi yang perlu. Mengenai harga kira-kira, mungkin Pos Kota tempat yang tepat untuk bertanya. Kalau mobil agak baru (1-5 tahun) patokan harganya bisa juga dilihat di majalah Auto Bild…

    Reply

  10. Agung
    Apr 13, 2008 @ 09:32:35

    soalnya keponakan saya (padahal dia lebih tua,tapi statusnya keponakan. aneh kan??) punya showroom mobil bekas gitu.
    dan saya punya banyak kenalan “makelar” mobil bekas.
    jadi kalo ada yang berminat,bisa hubungi saya.
    hehehehehehhehehehe…!!!

    i tell you the truth.
    mobil bekas taksi itu biasanya kondisinya uda ga bagus.
    soalnya perawatannya minim banget,dan yang pake (sopir taksinya) ga sayang2nya ama mobil itu.
    kalo saya bole saran sih,mending jangan beli mobil bekas taksi deh.

    Reply

  11. tridjoko
    Apr 14, 2008 @ 00:01:54

    –> Agung : ya..saya denger banyak yang saran jangan beli mobil ex taksi, tapi ini ex perusahaan taksi terkenal yang berwarna biru itu lho…mestinya ya agak bagusan…

    Emang petuah orang tua jaman dulu2, kalau beli mobil bekas, belilah mobil ex dokter yg msh sgt mls…

    Ha..ha..

    Reply

  12. Agung
    Apr 14, 2008 @ 12:35:49

    salah Pak.
    Papa saya punya pengalaman beli honda civic bekas dokter yang tinggal di lippo karawaci.
    duh,pakenya jorok dan mesinnya uda amburadul.
    yang baik tuh beli mobil bekas orang kaya yang mobilnya banyak dan ga butuh duit.
    pertama,
    karena dia ga butuh duit,negosiasi soal harga lebih enak.
    dan karena mobilnya banyak,biasanya mobil itu jarang dipakai,jadi kondisinya lebih baik.
    dan karena dia kaya banget,biasanya mobilnya dirawat dengan baik,walopun jarang dipake.
    hehehehehehehhee…!!!
    dulu Papa pernah beli toyota great corolla dari orang pondok indah.
    masih bagus dan harganya juga bagus buat kita.
    heheehhehehehe..!!

    mungkin kalo bekas taksi burung biru itu lebih OK lah dari taksi2 lain.

    Reply

  13. tridjoko
    Apr 14, 2008 @ 18:39:14

    –> Agung : yah…membeli mobil bekas itu kayak untung-untungan. Kalau kita nyari info di Pos Kota dan dari rumah berangkat jam 6.00 dan sampai tempat yang menjual mobil jam 8.00, biasanya atau sering-sering mobilnya udah laku…

    Kalau beli dr showroom (Mobil 88 misalnya) barang bagus, ada jaminan, tapi harga mahal..

    Kalau saya masih muda sih penginnya saya M5 (M Lima) aja : Makan Minum Mobil Melu Mertua….ha..ha..ha…

    [tanya papamu apa arti “melu”…he..he..]

    Reply

  14. Agung
    Apr 15, 2008 @ 18:39:12

    kalo bisa mah,beli mobil bekas dari orang yang kita kenal Pak.
    mungkin barangnya lebih terawat,dan bisa pinjam KTP,jadi ga perlu ganti nama.
    hehehehehehe…!!!
    melu??
    mksdny “dapet dari” yah Pak?

    Reply

  15. tridjoko
    Apr 15, 2008 @ 19:48:35

    –> Agung : ya sebaiknya beli mobil bekas dari saudara, kakak, adik, paman, Pak De, atau dari teman sekantor atau sekampus, pasti siipp dech..

    “Melu” artinya ikut. Jadi M5 = Makan Minum Mobil Melu Mertua (makan minum dan mobilnya ikut mertua, alias gratis tis tis…he..he..)

    Reply

  16. Agung
    Apr 17, 2008 @ 09:32:47

    yah,Pak.
    mana bisa mertua jaman sekarang diikutin menantu lelaki kyk gitu.
    kan kyk di topik yang lalu2,kita uda sepakat.
    kalo calon mertua jama sekarang ga rela kalo anak perempuannya pacaran ama cowo yang ga punya gelar S1.
    hehehehehehheehhe..!!!
    dalam kenyataannya,ga cuma gelar S1 aja yang dibutuhin.
    tapi mobil,rumah,dan penghasilan yg layak.
    hehehehehehehehehe…!!
    nah,kan anak Bapak perempuan.
    Bapak mao dapet menantu yang makan,minum,n mobil melu Bapak???
    hehehehehehhee..!!!
    peace,Sir..!!

    Reply

  17. tridjoko
    Apr 17, 2008 @ 13:02:52

    –> Agung : kalau saya kaya raya sekali sehingga harta saya cukup untuk 7 turunan, maka saya dengan senang hati akan diikuti oleh menantu laki-laki yang ber-5M di rumah saya (Makan Minum Mobil Melu Mertua)…

    Tapi karena saya dosen biasa, rakyat jelata istilahnya, ya mana cukup gajinya kalau harus membelikan mobil untuk menantu saya ? Mobil saya saja sudah 7 tahun belon ada gantinya…ha..ha..ha..(bapaknya temenmu itu belum membelikan mobil saya..ha..ha..ha..)

    Tapi saya punya teman di kantor : ganteng, pinter, world-class educated, russian and english speaking, humble, dan semanak (artikulasinya sangat bagus), ternyata dia di bis kota ketemu dengan seorang cewek mahasiswi sebuah universitas swasta terkenal di Jakarta Barat, yang lalu dipacarinya. Ternyata mertuanya itu wah..hartanya segudang dan isterinya itu ternyata anak perempuan satu-satunya. Mertuanya tinggal di kota kecil yang setiap hari masuk berita infotainment (you know where I am talking about !)..

    Sehingga ia dibelikan rumah gede di kawasan elit (elit beneran, bukan elit “Ekonomi suLIT”), diberi mobil, dan sebagainya, sehingga penampilannya wangi, bajunya setrikaan halus, dan kemana-mana tersenyum kepada siapa saja…ha..ha..

    It happens, man !

    And I hope it happens to you too, my man !!

    Reply

  18. Agung
    Apr 17, 2008 @ 20:53:56

    hahahahahahaha…!!!
    i hope so.
    yah,tapi saya sebagai lelaki sejati.
    hehehehehehhee..!!
    kalo bisa semua itu berasal dari saya sendiri.
    yah,minimal dari Papa ato Kakek saya.
    hehehehehehehe…!!

    Reply

  19. tridjoko
    Apr 17, 2008 @ 21:12:15

    –> Agung : ah..jangan malu gitu dong ! Menerima sesuatu dari mertua kan juga gak apa-apa. Orang mertuanya juga mau ngasih, kok ditolak. Rejeki Gung, kalau ditolak ntar rejeki lainnya gak mau mampir…

    Reply

  20. Agung
    Apr 17, 2008 @ 21:20:34

    yah,yg jelas saya ga mao minta.
    kalo dikasih yah saya terima.
    hehehehehehehe…!!
    cowo harus punya harga diri Pak.
    yah,lagi pula akan susah ada calon mertua yg kyk gitu kalo posisinya kyk saya.
    hehehehehehe…!!!

    Reply

  21. tridjoko
    Apr 17, 2008 @ 21:30:48

    –> Agung : harga diri cowok tuh cuman ada di Indonesia. Kalau ngapelin pacar di malam Minggu, maka cowok yang mbayarin makan, nonton, belanja, dsb…

    Kalau di Amrik sana, cowok gak terlalu ada gengsinya. Kalau makan, ya BSS (bayar sendiri sendiri). Kalau nonton, BSS. Kalau belanja, BSS.

    Makanya ikatan cowok ke cewek dan sebaliknya di Amrik hanya “singly linked-list” yang agak loose…gitu. Kalau di Indonesia, ikatan cowok ke cewek adalah “doubly linked-list”…ha..ha..ha..

    Reply

  22. Agung
    Apr 17, 2008 @ 21:40:22

    gituh yah Pak?!
    hehehehehehhee..!!
    yah,itu uda prinsip saya Pak.
    mungkin harga diri saya bisa jadi “daya tarik” buat cewe2 di suatu saat nanti.
    hehehehehehehe…!!

    Reply

  23. tridjoko
    Apr 17, 2008 @ 21:50:50

    –> Agung : jenis cewek yang tertarik dengan “harga diri” anda seperti itu disebut “hicks”…

    Hicks adalah cewek desa yang mau keluar dari desanya dan dia maunya hanya jadi penjaga pom bensin dan melayani pembeli, dengan daster dan kaki tak bersandal…

    He…he..he..sorry man, kayaknya jenis hicks seperti itu di Indonesia sudah semakin langka saja…

    Cewek sekarang maunya dijadikan partner for progress: berat sama dipikul, ringan sama dijinjing…

    Reply

  24. Agung
    Apr 18, 2008 @ 16:12:23

    ooo..gitu yah Pak.
    hahahahahaha..!!
    kalo gitu saya akan membuat harga diri saya terselubung.
    hahahahahahahha…!!!

    Reply

  25. simbah
    Apr 19, 2008 @ 17:06:09

    Sebetulnya mencari Mobil second itu sama saja berkesenian lho….betapa tidak, dapat harga miring tapi kendaraan masih prima. Ingat teman kita dulu Dik Yon, namanya Heri Purnomo dari PAS-3. yg sekarang tinggal di Jatibening-2. Memang awalnya sering terkecoh, tapi sekarang dia pakarnya. Cuman mau minta tolong malu juga seh..disamping dana belum ngumpul..

    Reply

  26. tridjoko
    Apr 19, 2008 @ 18:49:39

    –> Simbah : ooo…Heri Purnomo yang dulu tinggalnya di Jalan Ahmad Yani dan rumahnya terkena “ganti untung” karena dibikin tanggul Kali Madiun itu ya ?

    Wah Jatibening-2 mestinya deket dengan rumah saya. Yah beli mobil bekas untung-untungan mas, kalau saya nggak bisa melihara mobil bekas karena nggak ngerti mesinnya. Mungkin kalau beli mobil baru saya akan nunggu Tata Nano 500 cc bikinan India yang harganya konon hanya USD 2,500 itu (Rp 23 juta)…

    Lumayan untuk jalan-jalan di kota Jakarta yang sudah macet ini…

    Reply

  27. simbah
    Apr 20, 2008 @ 16:47:04

    Bukan Dik Yon,…dia dulu III-pas-3 rumahnya di depan kolam renang Purboyo, juga dari SMP pasar kawak. Yg memberikan ke saya referensi masuk ke pabrik minyak, ya dia itu. Dia juga pekerja minyak namanya Conoco Phillips, cuman di kantor Jkt.

    Reply

  28. tridjoko
    Apr 20, 2008 @ 22:30:17

    –> Simbah : Ooo…Heri yang itu. Aku ngerti. Soale mbiyen sebelum ujian SMA, semua teman-teman pada pergi ke rumah Heri itu karena katanya “ia dapat bocoran soal”, sehingga yang di rumah saya cuman tinggal saya sendiri dan Agus Ardiyanto (III IPA-3) karena kami nggak percaya ada bocoran soal babar blas, jadi percaya usaha sendiri aja…

    Terus kakaknya Heri kan Sonya kan ? Lha Sonya itu katanya ke LPPU ? Dan pesawatnya jatuh ? Apa bener ? Soalnya Sonya angkatan kakakku Endang di III IPA-1 SMA 1 tahun 1973 dulu…

    Reply

  29. simbah
    Apr 21, 2008 @ 09:41:01

    Benar..Dik Yon, yg ngajak aku masuk Curug dulu ya si Poeng itu karena Sonya sudah berhasil jadi Pilot. Waktu masih bujangan yg suka nungguin mess Pilotnya ya si Kikiek juga. Sepindah aku dari Makassar ke Jkt, jadi satu Rumah dgn Almarhum Sonya, karena juga disuruh nungguin kontrakannya, kalo lagi ditinggal terbang. Jadi saya lebih dekat dg almarhum daripada dgn si Poeng-nya. Sewaktu mau terbang dan jatuh itu saya diberi firasat. Yaitu kalao ngobrol selu menatap mataku dalam-2, tapi keanehan itu tak bathin saja. Karena biasanya tidak seperti itu. Baru setelah kejadian, aku baru bisa menerjemahkan….

    Reply

  30. tridjoko
    Apr 21, 2008 @ 13:05:00

    –> Simbah : ya kan…saya jadi ingat dulu mess pilotnya Sonya adalah di kawasan Penas (Penerbangan Nasional) Halim PK ya. Saya juga ingat dulu Kikiek waktu tingkat I Fisika UI suka tidur di sana…

    Saya cuman me-recall ulang memory lama saya, soalnya sekarang kalau mbakyu saya Reuni III-PAS-1 Sonya sudah nggak ada. Sering lho mereka reuni, kebanyakan di daerah Jawa Tengah dan JawaTimur, orangnya aktif-aktif nggak seperti angkatan kita…

    Reply

  31. donny
    Oct 10, 2009 @ 16:43:46

    wow mobil gaz,saya punya di rumah,mesinnya mau di hidupkan lagi,emang benar itu mobil ga sampe 100 km/h larinya pak,di jaticempaka saya,wah 52 juta,mahal juga pak

    Mas Donny,
    Wah…pasti anda adalah salah satu pria yang beruntung di dunia ini karena di garasi anda ada mobil vintage, collectible item…yaitu mobil Gaz...

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: