Club of Rome 1975 vs Indonesia 2008

Saya teringat ketika Ketua LIPI Prof. Bachtiar Rivai pada tahun 1976 memberikan Studium Generale di mahasiswa tingkat I IPB yang bertempat di Aula IPB Kampus Baranangsiang..

Yang dibawakan adalah Studi Skenario Perkembangan Penduduk, Energi, dan Pangan dunia yang dilakukan oleh sekelompok pakar dari berbagai bidang dan diketuai oleh mantan Kanselir Jerman Barat Willy Brandt. Kelompok ini karena berpusat di Roma, mereka menamakan dirinya “Club of Rome” yang melakukan studi tersebut dalam jangka waktu mungkin 1-2 tahun. Karena berpusat di Roma, mungkin kelompok ini dibiayai atau minimal difasilitasi oleh FAO, lembaga PBB yang memang berkantor di Roma..

Apa yang dibawakan oleh Prof. Bahtiar Rivai waktu itu sangat menarik, semacam “a wake up call” bagi siapa saja di dunia ini, terutama para pengambil kebijakan, yaitu agar berhati-hati mengamati perkembangan penduduk (!!!), energi (!!!!), dan pangan (!!!!!!!)..

Kira-kira setahun setelah ceramah Studium Generale of Prof. Bahtiar Rivai itu saya membeli buku setebal sekitar 100 halaman yang merupakan rumusan Club of Rome itu. Judul bukunya adalah “Batas-Batas Pertumbuhan(The Limits to Growth)” dengan kata pengantar yang sangat ciamik dan menggugah oleh seorang profesor ITB yang paling pintar menulis, yaitu Prof. M.T. Zen. Penerbitnya kalau tidak salah adalah Yayasan Obor, Jakarta.

Nah, di buku tersebut terlihat hasil simulasi pertumbuhan penduduk sampai 25 tahun ke depan (1975-2000), begitu juga simulasi pertumbuhan produksi pangan dunia 25 tahun ke depan, dan yang paling “anggegirisi” (frightening) adalah pertumbuhan energi 25 tahun ke depan. Software yang digunakan untuk mensimulasikan pertumbuhan itu adalah software kelas dunia yaitu DYNAMO yang digagas oleh Prof. J.W. Forrester dari Massachussetts Institute of Technology itu…

Di buku itu sebenarnya sudah terjadi kekhawatiran (ingat ini di tahun 1975), bahwa pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali akan menyebabkan kekurangan pangan dan energi, dua hal pokok yang paling penting untuk kehidupan dan penghidupan manusia. Menurut buku itu, sebelum tahun 2000 jika pertumbuhan penduduk tinggi, sudah terjadi kekurangan pasokan pangan dan energi…

Rupanya pemerintah Indonesia waktu itu sadar betul tentang “wake up call” yang dikemukakan oleh Club of Rome itu, makanya ada kampanye “2 anak saja cukup” dan pertumbuhan penduduk Indonesia bisa ditekan ke level 2,34 % per tahun…

Rupanya pemerintahan Indonesia berikutnya agak longgar, dan lupa mengingatkan penduduknya agar mempunyai anak 2 saja maksimal. Makanya saat ini kita lihat banyak keluarga muda yang punya anak 3,4 atau 5 atau 6. Mungkin prinsip mereka “banyak anak banyak rejeki” dan “rejeki di tangan Tuhan”. Apakah betul prinsip seperti itu ?

Yang belum ditangani atau di-address Club of Rome waktu itu, adalah adanya interaksi antara pangan dan energi. Artinya, pertumbuhan pangan dianggap independent terhadap pertumbuhan energi, begitupun sebaliknya. A simple hypothesis !

Tapi apa yang terjadi di tahun 2007-2008 saat ini ? Dengan langkanya energi fossil (minyak bumi dan turunannya) dan mahalnya “cost of recovery” atau biaya untuk menaikkan minyak dari tambang di bawah tanah ke permukaan, ditambah dengan “gilanya” para pedagang komoditas minyak di New York (atau Chicago ?) sana, maka harga minyakpun “menggila” dan “ora tinemu nalar” (tidak bisa dipahami sama akal)…

Mengapa ?

Karena harga minyak bumi yang mahal, maka hukum pasar berkata carilah substitusi dari non minyak bumi. Maka ditanamlah pohon jarak yang dipakai untuk biofuel atau biodiesel. Kalau masih tanaman jarak masih mending, karena jarak tidak dimakan manusia. Tapi ternyata bahan pangan : jagung, CPO (bahan minyak goreng), tebu, ketela rambat (sweet potatoes) juga bisa “diembat” untuk dijadikan biofuel atau biodiesel..

Akibatnya, harga pangan membubung karena bahan pangan dijadikan energi untuk kendaraan, mesin, kapal, dan sebagainya…

Akibat lanjutannya, rakyat miskin menjerit harga pangan mahal..

Saya enggan meneruskan sinyalemen ini karena mengingat sistem pemerintahan Indonesia yang mengambil bentuk “di antara” sistem presidensial dan sistem parlementer secara de facto, akan menyulitkan pengambilan keputusan di bidang pangan atau energi..

Walau presidennya seorang professor doktor, insinyur, master, kyai, ustadz sekalipun..

Ya saya sudahi saja deh posting ini. O ya, ini pertama kalinya saya menulis hal yang serius di blog ini.

A     W A K E    U P    C A L L   F O R   Y O U

Hope you just get wake up !

 

10 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Apr 13, 2008 @ 05:27:24

    Penanaman jarak, selama tak mengambil alih lahan pertanian, hal ini tak masalah. Namun jika menanamnya ditanah pertanian, juga akan mengurangi lahan yang ditanami tanaman pertanian.

    Kita mestinya tak hanya menyalahkan hal ini, tapi di satu sisi adalah menggalakkan Keluarga Berencana, keluarga yang sehat dan sejahtera. Jika melihat terjadinya ledakan penduduk, terlihat bahwa perkembangan penduduk di negara berkembang melaju dengan pesat tanpa diimbangi dengan kecukupan peningkatan bahan pangan.

    Perbaikan, perencanaan dari kedua sisi ini yang harus digalakkan, serta mengelola kehidupan agar hemat energi.

    Reply

  2. tridjoko
    Apr 13, 2008 @ 07:45:45

    –> Bu Edratna : ya saya setuju, tanaman Jarak masih bisa ditanam di lahan kritis, tidak produktif, dan tanah marjinal. Kalau begitu caranya, malahan membantu petani atau buruh tani yang selama ini sulit bekerja..

    Yang saya tidak setuju adalah konversi lahan hutan produksi atau hutan lindung ke lahan perkebunan kelapa sawit. Soalnya kalau konversinya terlalu banyak (mestinya hanya 5-10%, kenyataannya 30-50%) maka akan menyebabkan pemanasan global karena jumlah hutan sebagai paru-paru dunia menjadi kurang persentasenya (harusnya minimal 35% area harus tetap berfungsi sebagai hutan, seperti yang terjadi di negara-negara maju)..

    O ya saya jadi ingat. Kelemahan analisis Club of Rome selain “belum melihat” adanya interaksi/ kompetisi antara pangan dan energi, juga belum meng-address Global Warming dan Emisi Dunia dari COx, NOx, dan SOx, yang menyebabkan Gas Rumah Kaca (GRK) atau Green House Gas (GHG)..

    Seingat saya, pihak pertama yang meng-address Global Warming secara serius dan terus-menerus adalah Al Gore, mantan wapresnya Bill Clinton dengan meluncurkan film berjudul “An Inconvenient Truth” sehingga malahan dapat Academy Awards tahun 2007 lalu…

    Artinya, jika pihak Indonesia (pemerintah, DPR, LSM, mahasiswa, kampus) sangat concern tentang hasil-hasil Club of Rome dulu ditambah concern tentang apa yang disuarakan oleh Al Gore, tentunya keadaan Indonesia tidak seburuk sekarang ini di tahun 2008…

    Reply

  3. Agung
    Apr 13, 2008 @ 14:01:37

    sebenarnya ga perlu CPO buat jadi bahan bakar.
    kan minyak goreng bekas pakai (dari McD,KFC,bahkan ayam goreng Ny. Suharti,dll) pun bisa dipakai (asal ada proses penyaringannya dulu).
    yang parahnya,karena penduduk uda kebanyakan,
    ga cuma energi dan pangan aja yang dibutuhkan.
    tapi juga tempat tinggal dan pekerjaan.
    maka skrg2 ini byk “hutan” yang ditebang buat jd perumahan,Mall,Pabrik,ruko2,jalan raya,dll.
    yang seharusnya mungkin lebih baik kalo jadi sawah,kebun,ato ladang.
    yah,lingkaran SETAN yg ga bisa kita putus dari 1 ato 2 arah.
    kalo pake istilah Bapak dan Ade Rai,harus di hajar dari semua arah.
    hehehehehehehehehehhe…!!!
    mungkin ada baiknya juga pake “gayanya Bush”.
    buat ngurangin penduduk,bikin aja perang.
    hehehehehehehehe…!!

    NB:
    selamat yah Pak,Juve menang lawan Milan.
    mohon dukungannya,supaya MU bisa menang lawan Arsenal nanti mlm.
    hehehehehehehe..!!

    Reply

  4. tridjoko
    Apr 14, 2008 @ 00:18:32

    –> Agung : he..he..mau mbikin biofuel atau biodiesel dari minyak jelantah ? wah…mana banyak, soalnya minyak bekas resto2 itu sudah banyak yang nungguin..ha..ha..

    Pointnya adalah, di Indonesia ini peraturan serba lemah. Harusnya jalur hijau, tiba2 dibangun gedung. Harusnya hutan, dibangun sawah, harusnya sawah, eh dibangun pabrik..dst.

    Iya deh saya doain MU menang lawan Arsenal, tapi kadang Arsenal bagus lho…

    Saya tadi malam puas, nggak tidur tapi akhirnya Juve menang…

    Reply

  5. Agung
    Apr 14, 2008 @ 12:30:47

    ooo..iya..!!
    saya lupa soal minyak bekas itu,byk yg menadah untuk diolah dan dijual jadi minyak goreng palsu.
    susah juga yah?!?!
    saya pikir,ini semua sudah salah sejak awalnya.
    orang indonesia ga bisa kendalikan terlalu banyak orang dan wilayah yang terlalu besar.
    karena kalo saya liat,orang indonesia itu jauh lebih egois daripada orang negara lain yg pernah saya kunjungi.
    sebenernya bener Belanda dulu,bikin indonesia jadi RIS.
    dengan kekuasaan RI yang lebih kecil,mungkin kendali atas negara secara politik,ekonomi,dan kesejahteraan rakyat akan lebih baik.
    kalo uda gini mau gimana?!
    mau ga mau cuma bisa terima,tanpa bisa melakukan hal nyata yang signifikan buat memperbaiki.

    NB:
    untung MU menang Pak.
    dengan cara yang sangat heroic dan dramatis.
    saya bela2in nonton lewat internet.
    kyknya speedy saya bakal jebol bulan ini.
    hehehehhe..!!

    Reply

  6. simbah
    Apr 19, 2008 @ 16:55:57

    Betul juga tuh mas Agung…perlu pemimpin yg keras atau kayak negara tetangga kita S’pore. Soalnya orang kita diberi kebebasan, malah sakkarepe dhewe…
    Yg saya prihatinken, trus anak cucu saya gimana nasibnya nanti….kalo terus-2 an begini?? apa mau pasrah saja Dik Yon..?? ya sambil ‘ndonga’ mudah2 an cepet berlalu jaman ‘kalabendhu’ beralih ke jaman ‘kalasubha’ menurut pujangga kita Ki Ranggawarsita…amien..

    Reply

  7. tridjoko
    Apr 19, 2008 @ 18:44:26

    –> Simbah : menurut saya mas, “mesin” yang bernama “negara Indonesia” ini masih perlu di-tune-up dulu, baru segalanya bener, hopefully…

    Pertama, UUD harus jelas dan tegas memilih “bentuk pemerintahan” apakah sistem presidensial atau parlementer. Tentunya dengan plus dan minus masing-masing. Sekarang ini di tahun 2008, DPR terlalu kuat sehingga ada sedikit kesan Indonesia bersistem parlementer. Padahal secara UUD mestinya presiden lebih kuat atau sejajar dengan DPR. Pemilihan Presiden secara langsung mestinya membuat kedudukannya kuat, tapi karena berasal dari partai yang tidak terlalu besar, di DPR suaranya kalah…

    Pengambilan keputusan jadi terkendala, jumlah partai juga sangat banyak. Idealnya jumlah partai di Indonesia adalah 3, atau maksimalnya 5 lah. Dengan jumlah partai seabreg, komunikasi politik jadi banyak sekali (bicara dengan 2 orang dan bicara dengan 4 orang untuk mengambil kesimpulan, tentu berbeda)…

    Apakah masa depan lebih baik, tergantung si “tuner” mesin yang bernama Indonesia tadi. Kalau tuner-nya baik, dan mesinnya manut, tentu masa depan kita bisa diharap lebih baik. Kalau tidak ya, walahuallam…

    Singapore kadang tidak bisa dijadikan bahan perbandingan, karena ukuran fisik negaranya kecil (650 km persegi, sebesar DKI) dan jumlah rakyatnya kecil (hanya 2,5 juta jiwa). Artinya sistem yang berlaku di Singapore tidak bisa serta merta “di-copy” ke Indonesia, dan berjalan dengan baik di sini…

    Ya mas, marilah kita berdoa..semoga masa depan lebih baik…

    Reply

  8. simbah
    Apr 20, 2008 @ 16:16:34

    Iya…betul, aku inget pelajaran civic yg diajarkan Bu Iswuri dulu. Jadi kesimpulannya, sekarang tidak sesuai lagi dgn yg kita pelajari di SMA dulu itu ya…..

    Reply

  9. tridjoko
    Apr 20, 2008 @ 22:25:50

    –> Simbah : iya mas…dibandingkan mata pelajaran Civic yang diberikan Bu Iswuri di SMA dulu, sekarang Hukum di Indonesia ini sudah jauuuuuh sekali bedanya. Saking jauhnya, Hukum kita mirip hukumnya Amerika…

    Betapa tidak, UUD kita sudah diamandemen 4 kali (?). Pemilihan Presiden langsung. Dewan Perwakilannya bi-kameral, yaitu ada DPR dan ada DPD (walau pembagian kerjanya belum pas)..

    Pemilihan Gub, Walikota, Bupati juga langsung. Otonomi daerah di tingkat II (di Amerika, otonomi di tingkat State atau Provinsi-lah kalau di Indonesia)…

    Jadi mau kemana negara kita tercinta ini ?

    Nobody knows…. Tanyalah pada rumput yang bergoyang…

    Reply

  10. Arif
    May 07, 2009 @ 21:45:18

    wah ternyata bagus. penelitian tentang club of rome yang mencoba memperingati kita akan bahaya laju penduduk terhadap pangan dan energi.

    makasih ya pak
    wawasan saya jadi bertambah 🙂

    Arif,
    Good for you….;-)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: