Masa depan lulusan S2

Ada enquiry menarik yang masuk di Blog saya, yaitu seperti yang jadi judul postingan ini “Masa depan lulusan S2 bagaimana ?”

Here’s my two cents (ini saran saya) :

Kalau anda ingin menjadi “dosen” di sebuah universitas atau institut, atau menjadi “peneliti” di sebuah lembaga penelitian baik swasta atau pemerintah, maka mengambil pendidikan S2 adalah jalur yang benar..

Mengapa ?

Karena tanpa gelar S2, mana mungkin anda diterima sebagai dosen di sebuah universitas atau institut ? Karena hampir semua pelamar calon dosen semuanya mempunyai latar belakang pendidikan S2 atau S3, dan hampir nihil yang hanya bermodalkan pendidikan S1 (kecuali pelamar yang nekat !)..

Tapi kalau mau menimba karir yang mantap baik di lembaga swasta atau pemerintah, apalagi lembaga internasional, sebagai konsultan atau auditor, sebaiknya anda mengambil “sertifikasi”. Ingat sertifikasi yang anda miliki di lembaga konsultan jauh lebih dihargai daripada gelar S2. Jadi sebaiknya anda mempunyai sertifikasi salah satu dari yang berikut ini : CIA, CFA, CISA, CISM, CISSP, CEH, dan atau sertifikasi-sertifikasi lainnya..

[Sorry, saya lupa sertifikasi di bidang asuransi apa, sertifikasi di bidang project management apa, dan sebagainya]…

Ok, buddy ?

 

16 Comments (+add yours?)

  1. nunik
    Apr 17, 2008 @ 13:30:09

    Artikel di blog ini bagus-bagus dan berguna bagi para pembaca.Anda bisa lebih mempromosikan artikel anda di Infogue.com dan jadikan artikel anda topik yang terbaik bagi para pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersedia plugin/widget.Kirim artikel dan vote yang terintegrasi dengan instalasi mudah dan singkat.Salam Blogger!!

    http://www.infogue.com/
    http://www.infogue.com/pendidikan/masa_depan_lulusan_s2/

    Reply

  2. edratna
    Apr 17, 2008 @ 14:07:14

    Yup betul…ada surat dari Dirjen Dikti, kalau mau jadi dosen minimal S2.

    Sedang kalau mau bekerja di tempat lain, tergantung perusahaan yang dibidiknya, kalau Bank tak ada pengaruhnya S2, kecuali menunggu disekolahkan oleh perusahaan jika memang prestasi bagus dan lulus test…serta dalam karir yang menentukan adalah kinerjanya, tercapai target apa tidak.

    Reply

  3. tridjoko
    Apr 17, 2008 @ 17:29:38

    –> Mbak Nunik : thanks telah mengunjungi blog saya ini. Dan selama ini beberapa postingan di blog ini telah banyak di-link oleh forum, blog, atau website lain baik di dalam maupun di luar negeri. Misalnya semua postingan saya yang cerita tentang Amerika Serikat daerah Selatan (Mississipi, Arkansas, Florida) telah di-link oleh sebuah website yang mungkin milik mahasiswa dan pelajar Indonesia yang tinggal di Alabama, dengan nama website yang agak-agak aneh seperti http://www.nggakdehalabama.com yah semacam itulah…

    Tapi tawaran mengirim posting atau artikel saya ke website seperti yang mbak tunjukkan, ya baru kali ini..

    Reply

  4. tridjoko
    Apr 17, 2008 @ 17:34:08

    –> Bu Edratna : yah karena sekarang saya tidak menjabat lagi sebagai pejabar struktural di kampus, maka saya nggak tahu apa edaran Dirjen Dikti seperti itu ada. Maksudnya, apakah “keharusan” (yang nggak bisa ditawar) atau “disarankan” (yang masih bisa ditawar)..

    Soalnya kalau nggak salah di kampusku sekarang memang kalau pasang iklan yang dicari yang bergelar S2, tapi ketika ada lulusan S1 melamar masih bisa diterima tapi untuk mata kuliah “mekanistis” seperti Pemrograman Komputer dan sebagainya…

    Kalau mau kerja selain di kampus atau di lembaga penelitian milik pemerintah, sebaiknya punya sertifikasi seperti CISA misalnya. Di bank-pun kalau orang bergelar CISA pasti mudah masuknya, terutama bank-bank besar yang sudah menerapkan IT Governance yang baik..

    Reply

  5. edratna
    Apr 18, 2008 @ 17:21:56

    Surat Edaran dari Dirjen Dikti telah resmi, yang tanda tangan pak Prof Dr. Satryo Sumantri…kalau tak salah tahun 2007. Ani pernah ditunjukkan olh bapaknya dan kalau tak salah juga punya fotokopinya…makanya dia mau meneruskan S2 beasiswa nya.

    Reply

  6. arip1982
    Apr 18, 2008 @ 20:38:17

    terima kasih pak atas info dan sarannya…
    perkembangan jaman sudah pesat, kebutuhan akan peningkatan kemampuan dan daya saing SDM membuat hal ini terjadi.
    jaman dulu S1 sudah hebat,tp sekarang S1 sudah biasa dan minimal S2, jumlah lulusan S2 semakin banyak saat ini (trend mungkin), nanti lama2 S3…
    Tapi memang hanya sebuah gelar secara formal tanpa pengalaman dan daya saing seperti sertifikasi/keahlian dan keterampilan khusus lain yang dapat menunjang akan terasa kurang dan tidak bersaing/ istilah lain “competitive advantage” pada saat ini.
    Kemudian untuk dosen/pengajar, kalau tidak salah memiliki pendidikan setidaknya 1 tingkat diatas yang diajar..

    Sepertinya hanya itu pendapat saya

    Reply

  7. tridjoko
    Apr 19, 2008 @ 06:21:43

    –> Bu Edratna : memang sebenarnya secara logika sih sangat wajar sih, ada atau tidak adanya SK Mendiknas c.q. Dikjen Dikti itu..

    Wajarnya, dosen program S1 (undergraduate) itu minimal berlatar belakang S2. Dosen program S2 (graduate, Master’s) mestinya paling tidak berlatar belakang S3. Dan Dosen program S3 (graduate, Ph.D) mestinya paling tidak berlatar belakang professor..

    Tapi menurut keterangan yang saya dapat di Binus, seorang teman pejabat Binus mengatakan untuk mengajar program S2 MTI (Magister Teknik Informatika) di Binus nanti, memang ada sebagian yang harus berlatar belakang S3, tetapi yang berlatar belakang S2 juga tetap diperbolehkan, dengan catatan S2 tapi pengalamannya sudah senior. Kalau tidak salah, dosen tetap Program S2 MTI minimal 2 orang S3 dan 4 orang S2.

    Tidak hanya di Binus, saya lihat di website SGU (Swiss-German University) di program Master bidang Information Technology-nya ada beberapa dosen hanya berlatar belakang S2, dengan jumlah kira-kira 2/3 nya, sedangkan sisanya yang berlatar belakang S3 adalah 1/3 sisanya…

    Tapi bagi yang lulus S1-nya Cum Laude (di Aussie, UK dan US disebut “Honor”), sebaiknya dari S1 langsung ngambil S3 saja, toh sama-sama sulitnya. Saya dulu sudah mengambil semua mata kuliah S3, namun belum terdaftar di program S3 karena alasan terlalu lama di US..

    Reply

  8. tridjoko
    Apr 19, 2008 @ 06:29:46

    –> Arip1982 : wah..kayaknya ini anda yang statusnya masih mahasiswa Binus ya (waktu itu kalau nggak salah belum lulus)…

    Memang cita-cita harus digantung setinggi langit. Jika semua orang sudah bergelar S1, maka sebaiknya kita berusaha sedikit lebih tinggi daripada mereka, yaitu bergelar S2. Kalau semua orang sudah bergelar S2, sebaiknya kita mencoba bergelar S3..

    Tapi masalahnya adalah resources kita yang terbatas, yaitu “time” dan “money”. Mengambil S2 di Indonesia sekarang perlu dana sekitar Rp 35-40 juta sampai lulus (ini gambaran minimal dari survey kecil-kecilan yang saya lakukan). Untuk mengambil S3 perlu dana minimal Rp 100-150 juta (baik dengan sponsor, ataupun tanpa sponsor)…

    So, menurut saya, daripada anda invest “time” dan “money” yang sebesar itu, lebih baik anda mengambil sertifikasi yang bergengsi, and yet…pamornya tidak kalah dibanding dengan yang bergelar S2. Jika gelar S2 dapat didapat dari manapun (dari sumber yang bergengsi, atau sumber yang seadanya), tapi sertifikasi bertaraf internasional semacam CIA, CFA, CISA, CISM dan CISSP itu sudah pasti sangat bergengsi, mendapatkannya tidak mudah, dan harus tetap di-maintain terus walaupun sertifikasi sudah kita dapat (istilahnya, “active designation”)..

    Jadi selama anda mempunyai kelebihan daripada rata-rata orang lain, maka anda will be in a good shape atau istilah lainnya “be better off”..

    Enak kan ?

    Reply

  9. Adhi
    Apr 19, 2008 @ 17:13:47

    Menurut pengalaman saya di Eropa, terutama di Perancis sini, hampir semua posisi engineering/IT di Industri hanya diperuntukkan bagi lulusan Master (di Perancis istilahnya M2 Professional/Ingenieur) .

    Sami mawon di UK juga rata-rata untuk dapat kerja, mereka prefer master (M.Eng, bukan M.Sc atau M.Phil)

    Lulusan bachelor hanya untuk level teknisi disini.

    Tapi PhD juga ketinggian untuk di Industri. Rata-rata hanya Research and Development division yang butuh PhD .

    Jadi kalau mau kerja di Eropa, S2 udah biasa. So yang paling penting disini S2+pengalaman kerja+certification.

    Kalau di Indonesia belum sampai situ saya rasa. Yang paling penting S1+ pengalaman kerja + certification.

    Reply

  10. tridjoko
    Apr 19, 2008 @ 19:03:34

    –> Mas Adhi : wah..makasih atas infonya tentang Perancis dan Inggris (UK), soalnya Mas Adhi sekolah di Inggris tapi riset di Perancis ya…

    M.Eng itu gelar yang biasa terdengar di Jepang dan Perancis mas, kalau di Inggris kok rasanya saya jarang denger M.Eng ya (atau saya yang sok tahu, padahal belum pernah ke UK…hi..hi…)…

    Kalau di Amerika, negaranya cenderung berprinsip “what can you do” dan latar belakang pendidikan tidak terlalu penting : mau associate degree, mau bachelor, mau master, nggak masalah asal ia bisa melakukan yang diminta…

    Mengenai gelar, di Amerika tidak dikenal istilah B.Sc atau M.Sc. Mereka umumnya nyebutnya hanya B.S., B.A. atau M.S., M.A. Kecuali untuk universitas-universitas Ivy League macam Harvard, Princeton, Yale, Cornell dan sebagainya biasanya nyebut gelarnya terbalik, yaitu S.B., A.B. atau S.M., A.M.

    Jadi hati-hati mas, kalau gelarnya terbalik itu dia pasti…dari sekolah hebat !

    Emang gelar Ph.D. , Sc.D. biasanya hanya untuk bagian pengembangan (R&D) perusahaan..

    Di Amerika, Civil Engineer, Mechanical Engineer atau Industrial Engineer yang boleh menggambar teknik dan diakui desainnya, ia harus mengambil program P.E. (Professional Engineer) selama 2 tahun. Tanpa P.E. tidak ada gambar blue print !

    Yang penting mas, ternyata di Eropa sertifikasi juga dipakai ya ?

    Reply

  11. Adhi
    Apr 19, 2008 @ 19:28:05

    M.Eng di UK itu biasanya integrated 4 tahun.

    3 tahun bachelor+setahun M.Eng. Arahnya lebih ke profesional bukan riset.

    Iya mas Tri, sertifikasi disini ada banyak sekali dan macam2.

    P.E di US itu sama konsepnya seperti C.Eng (Chartered Engineer) di UK. Sehabis lulus kuliah (hons) , ambil C.Eng kalau mau jadi engineer.

    Kalau di Perancis istilahnya diplôme d’Ingénieur, yang diambil 2 tahun setelah lulus kuliah bachelor, gelar Ingenieur ini (disetarakan dengan master).

    Reply

  12. Adhi
    Apr 19, 2008 @ 19:43:16

    Oh ya mas Tri mungkin kenal om saya Pak Dwi Roosdianto yang sama2 kuliah di Bloomington ya hehe..

    Reply

  13. tridjoko
    Apr 19, 2008 @ 23:14:32

    –> Adhi : wah..mas terima kasih ya infonya tentang C.Eng dan Dipl. Ing…

    Iya mas, Mas Dwi (Pak Dwi Roosdianto) itu teman saya waktu di Bloomington, datangnya duluan saya setahun tapi pulangnya sama-sama di bulan Desember 1989. Ia pernah di TPI kan ?

    Salam ya buat Mas Dwi, sudah lama saya tidak ketemu (terakhir ketemu sekitar 2001, kalau tidak salah, dia naik motor BMW waktu itu)…

    Reply

  14. Adhi
    Apr 20, 2008 @ 04:10:22

    Oh mungkin juga pak Tri kenal pak Zainal Hasibuan (alias pak Ucok) dosen saya di Fasilkom UI yang lulusan Indiana Univ,Bloomington juga hehe..

    bener2 teori six degrees of separation selalu terbukti hehe…

    Iya dulu om Dwi di TPI. Terakhir ketemu tahun lalu waktu saya pulang ke Indonesia.

    Ya memang disini, di Europe, tingkat pendidikan sangat menentukan karir kita.

    Juga hampir mirip-mirip di Indonesia, almamater sangat menentukan.

    Kalau nggak punya gelar akademis minimal master dari institusi yang bagus, jangan harap bisa diterima kerja di sini, apalagi punya jenjang karir yang bagus.

    Di Perancis kalau bukan lulusan dari Ecole Polytechnique (MITnya Perancis), jangan harap bisa ke level-level setaraf CEO.

    Gaji aja di level yang sama saja bisa dibedakan berdasarkan almamater, konyol kan… di Indonesia inipun nggak sampai terjadi..kecuali di beberapa institusi tertentu.

    Mungkin Amerika lebih fleksibel dalam hal ini.

    Reply

  15. tridjoko
    Apr 20, 2008 @ 05:30:15

    –> Adhi : ya mas Adhi, saya kenal juga dengan Pak Ucok (Zaenal Arifin Hasibuan)…

    Kalau Mas Dwi itu teman saya main Volleyball setiap Rabu malam si HPER Hall, maka Mas Ucok itu teman saya main pingpong di ground floor dari Asrama saya, Eigenmann Hall…

    Malah Mas Ucok selalu ngajak saya main tennis, karena di Asrama saya ada 4 tennis court kalau nggak salah, dan jawaban saya selalu :

    “Ah enggak ah, saya mau tidur siang…!”

    Dan Mas Ucok ingat betul saya selalu tidur siang, sehingga setiap kali ketemu selalu nanya “Mas Djoko, bagaimana kabarnya ? Masih suka tidur siang ?”..

    Jawaban saya juga selalu standar, “Masih, lha wong Siesta je….!”

    O ya mas, pengaruh gelar dan almamater (lebih tepat almamater, karena gelar bisa apa saja) juga sangat ngaruh lah di negara manapun…

    Di Amerika, karir Jaksa Agung, Mahkamah Agung, dan Menteri Kehakiman selalu dari Yale atau Chicago.. Yang IT career-nya melejit pastilah kalau nggak Harvard, Stanford, CMU…kalau cuman Berkeley, UCLA, USC cuman Senior VP saja…

    Di Singapore, perdana menterinya selalu lulusan Oxford (Lee Kuan Yew, Goh Chok Tong), tapi saya nggak tahu ya B.G. Lee lulusan mana karena dia tentara (West Point ?)..

    Di Indonesia, “The Big 5” yaitu UI, ITB, IPB, UGM, Unair selalu angker dan lulusannya diterima di mana-mana. Hampir semua wartawan senior lulusan IPB (Institut Publisistik Bogor), begitu juga senior banker (Institut Perbankan Bogor). Itu jaman alm Prof Andi Hakim Nasoetion masih ada, tapi IPB sekarang gimana..walahuallam…

    Amerika memang jauh lebih fleksibel mas, untuk tataran technical staff dan juga Low and Middle Manager, kalau sudah CEO pasti juga dicari rekam jejaknya selain dari almamaternya juga dicari dia dulu sudah sukses di bidang apa ?

    Di Binus-pun sekarang, untuk memilih pejabat struktural (di PNS disebut “Baperjakat”) dilakukan oleh yang namanya TM (Talent Management)…

    Tapi mas, “look” juga penting. Walaupun lulusan Harvard kalau potongannya kayak “Sukrasana” (tokoh pewayangan jaman Ramayana yang berwajah jelek namun sakti) ya nggak bakalan naik ke puncak, yang dicari sebagai CEO biasanya adalah lulusan Harvard dan berwajah “Sumantri” (kakaknya Sukrasana, berwajah sangat tampan, tapi sebenarnya agak e’o…)…

    Wah…lain kali cerita “Sumantri-Sukrasana” ini saya refresh lagi sebagai posting saya…

    Iya mas, dunia tak selebar daun kelor…

    Reply

  16. reidha
    Oct 29, 2009 @ 18:13:34

    mau nanya…tolong balasan ke email mkriza@yahoo.com atau mkriza00@gail.com

    saya sakarang aktif mahasiswa s2 yg tinggal mengerjakan tesis, kalau saya ikut penerimaan CPNS dg gelar/pendidikan s1 saya, gmana dg pendidikan s2 saya..maksudnya apakah s2 saya tidak akan diakui dikemudaian hari apabila saya wisuda di tahun yg sama pada kelulusan CPNS saya (misal) atau gmana baiknya..terima kasih..mohon blasan. secepatnya

    Reidha,
    Prinsipnya….masuk sebagai PNS secepat-cepatnya. Nanti kalau sudah masuk, ijazah S2 kita juga bisa diurus kok….gak masalah…

    Mudah-mudahan nasehat ini bermanfaat…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: